Oleh Ari Perdana*
Namun hukum penawaran mengatakan, kalau penawaran sedikit, harga akan naik. Kalau laporan mengatakan jumlah produksi berlimpah tapi harga beras tidak turun, bahkan naik, tentu ada masalah dalam angka-angka yang dilaporkan. Sebagai Ketua Bappenas, Widjojo menginstruksikan bawahannya untuk menggunakan ‘harga beras pada musim panen’ sebagai indikator tinggi-rendahnya produksi beras, bukan perkiraan pejabat daerah (hal. xix-xx). (more…)Archive for the ‘Berita Lain Lain’ Category
Hekinus Manaö Pimpin Kelompok Kerja Seleksi Presiden Bank Dunia
Thursday, March 8th, 2012Hekinus Manaö Lolos Seleksi Tahap II Dewan Komisaris OJK
Wednesday, March 7th, 2012Kenaikan Tarif Dasar Pengobatan di RSUD Gunungsitoli Dikecam
Wednesday, March 7th, 2012Masih Banyak PNS Bermental “Kalau Bisa Dipersulit, Kenapa Dipermudahâ€
Monday, March 5th, 2012Polandia Minati Investasi Wind Turbine di Pulau Nias
Friday, March 2nd, 2012Mobil Esemka Belum Lulus Uji Tipe Mobil Baru
Thursday, March 1st, 2012Menpan: Hanya 5% PNS Kompeten di Bidangnya
Thursday, March 1st, 2012Kini, Pelaku Tindak Pidana Ringan Tidak Perlu Ditahan
Wednesday, February 29th, 2012Kabupaten Nias Menuju Kemandirian Energi Listrik
Tuesday, February 28th, 2012Krisis energi yang terus membayangi dan membatasi gerak pembangunan adalah sebuah fenomena yang tidak akan dapat dihindari. Krisis energi nyata berimbas pada daerah atau wilayah terisolir dan atau daerah pinggiran. Krisis yang sama juga memastikan sebuah daerah akan tetap dianggap tertinggal dan tidak tersentuh pembangunan.
Kabupaten Nias, Propinsi Sumatera Utara, menjawab tantangan ini dengan menempatkan isu energi listrik sebagai hal penting, sebagai prioritas dalam pembangunan. Hingga kini, masih terdapat daerah-daerah yang baru saja dimekarkan sebagai kecamatan baru yang belum tersentuh oleh listrik negara.
Setidaknya tiga kecamatan yaitu Kecamatan Ma’u, Kecamatan Ulugawo dan Kecamatan Somolo-molo serta puluhan desa yang tersebar di seluruh Kabupaten Nias yang masih menanti realisasi adanya listrik negara di wilayah mereka.
Krisis energi tidak terjadi di sana melainkan realisasi pembangunan belumlah maksimal menjangkau masyarakat di wilayah ini. Akan tetapi, krisis energi semakin mempersulit daerah-daerah ini untuk mengejar ketertinggalan mereka, sekalipun telah dimekarkan.
Diperlukan sebuah langkah konkrit untuk mendukung kemajuan pembangunan di wilayah tersebut di atas.
Namun, sebuah langkah perubahan tidak bisa dipaksakan terjadi pada daerah-daerah baru tersebut bila infrastruktur dasar bagi kesejahteraan masyarakatnya belumlah tersedia.
Menjadi sebuah daerah baru/daerah pemekaran dapat dilihat sebagai langkah plus. Yakni, daerah terisolir seperti Ma’u, Ulugawo dan Somölö-mölö segera beranjak dan difasilitasi dengan komponen infrastruktur yang setara untuk statusnya sebagai kecamatan pemekaran baru. Di antaranya, berupa pembangunan jalan, instalasi listrik, pendidikan dan kesehatan sebagai perhatian utama di sana.
Salah satu upaya yang tetap terus direalisasikan di Kabupaten Nias adalah terjangkaunya masyarakat dengan fasilitas listrik terbarukan. Sebagai contoh realisasi, pada tahun 2010 dan tahun 2011 melalui Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Tersebar telah dinikmati oleh masyarakat Desa Sifaoro’asi Uluhou Kecamatan Bawolato dan Desa Hili’otalua Kecamatan Gidö.
Pada tahun 2011 juga telah dilaksanakan pendataan ulang masyarakat Kabupaten Nias yang telah menerima bantuan PLTS Tersebar di tahun-tahun sebelumnya. Melihat kondisi di lapangan, Kecamatan Ma’u, Kecamatan Ulugawo dan Kecamatan Somölö-mölö, adalah tiga kecamatan yang layak untuk segera difasilitasi oleh listrik negara. Baik berupa Bantuan PLTS Tersebar atau Terpusat yang direalisasikan secara bertahap oleh KPDT dan oleh Pemkab Nias, maupun listrik yang difasilitasi oleh PLN.Kemandirian energi untuk pembangunan di Kabupaten Nias terus diupayakan oleh Bupati Nias dan Wakil Bupati Nias dengan cepat. Hal itu dilakukan melalui pendekatan-pendekatan ilmiah, konsultasi tenaga ahli dan realistis yang bisa dicapai melalui pemanfaatan maksimal semua sumber-sumber energi terbarukan seperti aliran DAS, tenaga angin, tenaga surya dan tenaga air hujan yang dikombinasikan dengan sistem rain water harvesting (tadah air hujan).
Strategi pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan ini layak untuk dimasyarakatkan di Kabupaten Nias sehingga memberikan sebuah kesempatan bagi masyarakat lokal untuk melakukan terobosan dan inovasi teknologi tepat guna dan murah demi menjawab tantangan akan kemandirian energi listrik.
*) N. Telaumbanua, ST. M.Sc. adalah Pemerhati dan Penulis Perencanaan Wilayah Kepulauan Nias.
Warga Kepulauan Batu Desak Pemerintah Sediakan Transportasi Yang Layak
Monday, February 27th, 2012Harga BBM Naik, Kenaikan Tarif Angkutan Umum Menanti
Friday, February 24th, 2012Konversi Tanaman Karet ke Sawit di Pulau Nias Dipertanyakan
Wednesday, February 22nd, 2012Konversi Gas 3 Kg Tak Juga Menyentuh Kepulauan Nias
Wednesday, February 22nd, 2012Asisstant Customer Relation PT Pertamina Marketing dan Trading Sumatera Bagian Utara Sonny Mirath seperti dikutip dari situs isuenergi.com, mengatakan, sampai memasuki bulan kedua tahun ini, pihaknya belum menerima penugasan dari pemerintah.
“Hingga saat ini, kami belum menerima penugasan dari pemerintah untuk menjalankan konversi di lima daerah tersebut. Yakni, Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Nias Selatan, Nias Utara dan Nias Barat,†ujar dia Medan, akhir pekan lalu.
Sonny juga mengaku belum tahu apakah akan ada penugasan dari pemerintah untuk melakukan program konversi di lima daerah tersebut. Dia mengakui, infrastruktur di kepulauan Nias belum mendukung untuk program itu. Namun, bila pemerintah memberikan penugasan, fasilitas yang dibutuhkan, dapati diadakan. (EN/*)















