Posts Tagged ‘Sumut’

Hakim di Sumut Terbanyak Ketiga Dilaporkan ke Komisi Yudisial

Tuesday, June 11th, 2013

Ilustrasi Palu Hakim | voa-islam.com

Ilustrasi Palu Hakim | voa-islam.com

NIASONLINE, MEDAN – Hakim-hakim di Sumatera Utara (Sumut) menempati peringkat ketiga terbanyak yang diadukan ke Komisi Yudisial (KY) pada triwulan I-2013. Di peringkat pertama dan kedua adalah DKI Jakarta dan Jawa Timur. (more…)

Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias Terhambat Rekomendasi Gubsu

Friday, June 7th, 2013

Anggota Komisi II DPR RI Yasonna H. Laoly (Foto: Pribadi di Facebook)

Anggota Komisi II DPR RI Yasonna H. Laoly | Koleksi Pribadi/FB)

NIASONLINE, JAKARTA – Usulan pemekaran Provinsi Kepulauan Nias tampaknya masih membentur tembok. Pasalnya, ternyata masih banyak persyaratan yang belum terpenuhi. (more…)

Parah, Separuh Ketidaklulusan Nasional Ada di Sumut

Friday, May 24th, 2013

Ilustrasi | kaltimtoday.com

Ilustrasi | kaltimtoday.com

NIASONLINE, JAKARTA – Sebanyak 4.564 siswa SMU dan sederajat yang mengikuti Ujian Nasional (UN) di Sumatera Utara (Sumut) dinyatakan tidak lulus.

Yang lebih mencengangkan, meski dari sisi tingkat ketidaklulusan bukan yang terburuk, namun dari sisi jumlah total ketidaklulusan, jumlah itu mencapai separuh dari total ketidaklulusan nasional. (more…)

4.564 Siswa di Sumut Tidak Lulus UN 2013

Friday, May 24th, 2013

Ilustrasi | indonesiarayanews.com

Ilustrasi | indonesiarayanews.com

NIASONLINE, JAKARTA – Pengumuman hasil Ujian Nasional 2013 secara resmi dilakukan hari ini, Jum’at (24/5/2013).

Khusus untuk wilayah Sumatera Utara (Sumut) sebanyak 4.564 siswa SMU dan sederajat dinyatakan tidak lulus. (more…)

Sumut Masuk Lima Besar Terindikasi Korupsi Dana Pendidikan

Thursday, January 3rd, 2013

Ilustrasi Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang paling sering dikorupsi (Foto: Yustisi.com)

NIASONLINE, JAKARTA – Pusat Pelaporan Analisis dan Transkasi Keuangan merilis data terbaru temuan transaksi keuangan mencurigkan yang terindikasi korupsi selama 2012. (more…)

Hatta Rajasa Serahkan Government Award 2012 Kepada 9 Kepala Daerah di Sumut

Friday, May 11th, 2012

Menko Perekonomian Menyerahkan Apresiasi Government Award 2012 kepada Bupati Nias Idealisman Dachi (Foto: Rahmat Yan Putra Lase)

NIASONLINE, JAKARTA – Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyerahkan penghargaan Government Award kepada sembilan kepala daerah di Sumatera Utara. Acara tersebut digelar di Hotel Santika Premiere Dyandra, Medan, Sumatera Utara. (more…)

Menakar Daya Tawar Masyarakat Nias Pada Pilgubsu 2013

Monday, January 16th, 2012

Logo Provinsi Sumatera Utara (Wikimedia.org)

Konstelasi politik lokal tingkat Provinsi Sumatera Utara, selama berpuluh tahun ini, cenderung menganggap tak penting potensi suara warga Nias. Kalaupun pun masih dianggap, biasanya untuk sekedar bantalan saja. Sekedar menambah rasa aman. Bahkan, cenderung diperlakukan sebagai penggembira saja. (more…)

Mafia Pupuk Semakin Merajalela di Sumut

Sunday, April 25th, 2010

MEDAN – Kelangkaan pupuk yang terus terjadi di sejumlah daerah Sumatera Utara,  diyakini karena ulah mafia atau spekulan. Hal ini semakin menguat mengingat pasokan pupuk dari distributor seperti PT Pupuk Sriwijaya dan PT Petro Kimia Gresik ke petani terus terserap sangat signifikan.

Anggota Komisi B DPRD Sumut, Bustami, mengaku  dirinya merasa heran mengapa stok pupuk di tingkat petani terus krisis, padahal dari pengakuan distributor pupuk, bahwa serapan petani daerah cukup signifikan.

“Kalau seperti ini, sudah pasti ada keterlibatan mafia atau spekulan,” tegasnya, tadi sore.

Keheranan itu muncul setelah Asisten II Pemko Binjai, Walubi, dan Asisten II Pemko Nias, Syaiful,  membeberkan bahwa di daerahnya masing-masing hingga kini pupuk merupakan barang yang sangat langka bagi petani.

Menurut pihak PT Petro Kimia Gresik Medan, serapan pupuk bersubsidi di kedua daerah cukup signifikan. Bahkan trennya dari tahun ke tahun terus meningkat.

Hal ini dibuktikan capaian serapan hingga 20 April 2010 untuk pupuk jenis ZA mencapai 12.990 ton dari alokasi setahun 61.735 ton. Kemudian serapan pupuk jenis Superphos/SP-36 mencapai 14.112 ton dari alokasi setahun 48.000 ton, serapan pupuk NPK sebesar 31.660 ton dari alokasi setahun 110.000 ton, dan serapan pupuk organik sebesar 9.166 ton dari alokasi setahun 50.864 ton.

Diakui, jika serapan yang cukup signifikan ini masih membuat petani di Sumut mengalami kelangkaan pupuk menjadi sebuah keheranan. “Serapan pupuk dari kami juga cukup signifikan. Jadi aneh juga, kalau masih ada petani yang tak kebagian pupuk,” kata, Herder Tambunan, dari PT Pusri Medan.

Dijelaskan, tren serapan pupuk yang terus melonjak dari tahun ke tahun, adalah jenis organik. Kendati produk pupuk jenis ini masih tergolong baru bagi petani Sumut, namun Herder melihat perkembangannya cukup menggembirakan.

“Tahun 2008 lalu, serapan pupuk organik mencapai 3.155 ton. Namun tahun 2009, serapannya meningkat empat kali lipat hingga mencapai 14.607 ton, dan sampai 20 April 2010, serapannya sudah mencapai 8.300 ton,” bebernya.

Menyiasati persoalan kelangkaan pupuk karena campur tanggan mafia/spekulan ini, seluruh peserta rapat sepakat untuk meminta bantuan aparat kepolisian.

“Bantuan aparat Polda Sumut untuk mengatasi praktik mafia pupuk ini, sangat perlu. Karena, pasokan yang sudah mencukupi, ternyata tak sampai ke tingkat petani akibat diselewengkan para mafia/spekulan,” kata Asisten Pemprovsu, Djaili Azwar.

(waspada, pakarpangan)

30 Daerah di Sumut Utang Raskin Rp14,3 M

Sunday, April 25th, 2010

MEDAN – 30 bupati/walikota di provinsi Sumatera Utara diultimatum untuk segera menagih Rp14,3 miliar lebih utang tunggakan beras miskin (raskin) mulai tahun 1998 sampai 31 Maret 2010 di wilayah masing-masing.

“Bila tidak, maka aparat kejaksaanlah yang menagihnya, dan distribusi raskin tahun 2011 dipastikasn akan di stop pihak Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional Sumut,” kata  Asisten Ekbang Pemprov Sumut, Djaili Azwar, tadi pagi.

Seluruh bupati dan walikota di 30 daerah itu diultimatum segera melunasi tunggakan sampai akhir 2010. Bila tidak, tahun 2011 distribusi raskin akan di stop.

Djaili meminta daerah memokuskan penyelesaian penagihan ini. Karena raskin yang sudah didistribusikan Bulog Divre Sumut ke daerah dengan sistem konsinyasi itu, bila tidak kembali uangnya, maka bisa menyulitkan pengadaan tahun berikutnya.

“Bila kondisi ini masih terus berlangsung, kita sarankan pihak Bulog Divre Sumut memanfaatkan pihak kejaksaaan untuk mengingatkan para bupati dan walikota agar segera melunasi utang tunggakan raskinnya,” tegas Djaili.

Menurut kepala Bulog Divre Sumut, Muchtar Saad, tunggakan utang raskin dari 30 kabupaten dan kota itu, awalnya bernilai Rp25 miliar. Namun dalam delapan bulan terakhir, pihak Bulog berhasil menagih piutang sebesar Rp10,7 miliar.

“Masih ada sisa piutang sebesar Rp14,3 miliar lagi. Karenanya, kami berharap bantuan Pemprov Sumut. Bila tidak, terpaksa penagihannya melalui pihak kejaksaan. Karena antara Bulog dan Kejati Sumut sudah menjalin nota kerja sama penagihan piutang raskin,” jelasnya.

Piutang sebesar Rp14.317.482.660 itu terdiri atas tiga kelompok. Pertama terjadi antara tahun  1998-2008 di delapan daerah dengan piutang sebesar Rp624.880.500. Kemudian tahun 2009 di 11 daerah sebesar Rp847.389.800, dan tahun 2010 di 28 daerah sebesar Rp12.845.212.360.

Rincian tunggakan utang raskin tahun 1998-2008, tahun 2009, dan tahun 2010 di 30 kabupaten dan kota itu meliputi Deli Serdang (Rp1.144.990.000), Serdang Bedagai (Rp664.571.000), Langkat (Rp1.372.141.000), Karo (Rp785.765.000), Dairi (Rp704.376.500), Pakpak Bharat (Rp196.227.000), Medan (Rp720.963.000).

Binjai (Rp112.239.000), Tebing Tinggi (Rp107.280.000), Simalungun (Rp729.435.000), Taput (Rp616.272.000), Humbahas (Rp26.472.000), Pematang Siantar (Rp83.590.000), Tobasa (Rp616.736.000), Samosir (Rp350.975.000), Asahan (Rp538.516.000), dan Batubara (Rp502.473.000).

Kemudian Tanjung Balai (Rp264.047.000), Labusel (Rp185.214.000), Labura (Rp459.613.000), Labuhanbatu (Rp520.245.000), Madina (Rp1.037.357.300), Tapsel (Rp795.898.000), Tapteng (Rp418.584.360),

Nias (Rp57.053.000), Nisel (Rp40.083.000),

Padang Sidimpuan (Rp160.740.000), Sibolga (Rp61.684.000), Palas (Rp585.636.000), dan Paluta (Rp456.286.000).

Diarankan agar Pemprovsu mengalokasikan dana pendamping kepada daerah yang sangat minim/kecil APBD-nya, terutama untuk enam daerah di Nias.

“Kesulitan selama ini, distribusi raskin dari entry poin ke titik distribusi hanya mampu ditanggulangi Bulog dengan dana yang sudah pas-pasan. Sehingga masih butuh bantuan pendanaan dari Pemprovsu. Karena dari titik distribusi ke Rumah Tangga Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM), pembiayaannya oleh daerah masih juga belum maksimal dilakukan,” jelasnya.

Ketua Komisi B DPRD Sumut, Layari Sinukaban, mengaku setuju dengan saran Bulog itu. Karena tunggakan piutang raskin dari 30 daerah ini bisa berdampak pada tak tercapainya upaya pengentasan rakyat tidak lapar.

“Prinsipnya, kami mendukung segala upaya untuk perbaikan distribusi dan penagihan dana raskin ini. Sebab, ke depan kami juga akan ikut membuat laporan ke Polri bila tunggakan raskin sampai akhir 2010, tak juga mampu dilunasi kabupaten dan kota ,” katanya.

(Waspada)

DPRD: Kredit Bank Sumut tetap ditagih

Tuesday, April 20th, 2010

MEDAN – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan mempertanyakan soal write off (penghapus bukuan-red) kredit oleh Bank Sumut yang sempat dilontarkan oleh pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Utara (DPRDSU) menyusul hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Bank Sumut, beberapa waktu lalu.

Menurut ketua komisi C DPRD Kota Medan, Aripay Tambunan, penghapusbukuan itu bukan dibiarkan, tapi tetap ditagih dan jumlahnya menurut Bank Sumut sudah mencapai 60% lebih.

“Nasabah di Nias sulit ditagih, karena banyak yang jadi korban gempa, beberapa waktu lalu,” jelasnya kepada Waspada Online, malam ini.

Pihaknya juga telah melihat dan mendengar penjelasan dari paparan Bank Sumut, di mana kriteria perbankan yang sehat sudah terpenuhi.

Dari data Bank Sumut, sejak 2000–2008 jumlah kredit yang di write off oleh bank tersebut bernilai Rp397,1 miliar. Dari jumlah itu yang sudah ditagih hingga Maret 2010 mencapai Rp251,3 miliar. “Jadi tersisa Rp145,8 miliar lagi yang sedang ditagih,” katanya.

Sebelumnya, terkait write off, Gubernur Sumut Syamsul Arifin secara terpisah menyatakan, tidak benar ada kredit macet senilai Rp918 miliar di Bank Sumut yang disebut BPK terjadi pada 2005, 2006, dan 2007.

Menurut Gubsu, jumlahnya hanya Rp190 miliar dan 60% telah ditagih. “Publikasi bahwa kredit macet PT Bank Sumut tahun 2005-2007 sebesar Rp918,5 miliar berdasarkan data BPK RI Perwakilan Medan tidak benar,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Gubernur membantah kredit macet hampir Rp1 triliun di bank milik daerah tersebut. “Yang benar hanya sekitar Rp190 miliar lebih, itu pun 60 persen di antaranya sudah ditagih dan sisanya dalam proses penagihan,” ujarnya.

Gubernur juga memastikan nilai kredit macet Rp190 miliar lebih itu setelah sehari sebelumnya melakukan pertemuan tertutup dengan dewan komisaris dan dirut PT Bank Sumut, Gus Irawan Pasaribu.

Gubsu mengakui seyogianya pertemuan dengan Dirut PT Bank Sumut itu dilakukan pekan lalu, namun karena kesibukan dan padatnya jadwal kerjanya pertemuan baru bisa dilakukan Selasa (13/4).

Dari pertemuan itu, gubernur mendapat penjelasan rinci bahwa nilai kredit macet PT Bank Sumut yang diwrite off (dihapusbukukan) tidak sampai Rp918,5 miliar, melainkan hanya Rp190 miliar. (Waspada – www.waspada.co.id – 19 April 2010)

Menneg PPPA Sambut Baik Forum P5A Sumut

Sunday, April 11th, 2010

Medan –

Kehadiran Forum Pemerhati dan Penulis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Forum P5A) di Provinsi Sumatera Utara, disambut baik oleh Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Linda Amalia Sari Gumelar SIP.

Hal itu dikemukakannya sesaat setelah Ketua Forum P5A Saurma MGP Siahaan didampingi Kabiro Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatera Utara Vita Lestari Nasution melaporkan kegiatan yang sudah dilaksanakan forum tersebut selama ini di Sumut dan programnya ke depan.

“Ini merupakan langkah yang tepat dan sangat bermanfaat. Kami sangat berterima kasih atas kerjasama yang sudah terjalin baik selama ini. Semoga ke depan semakin banyak yang dapat dilakukan Forum P5A Sumut untuk pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, khususnya di daerah ini. Termasuk menyangkut peraturan-peraturan yang ada terkait anak dan perempuan,” ujar Linda Gumelar beberapa waktu lalu di Medan.

Dijelaskan Saurma, selama ini pihaknya sudah melakukan kegiatan yang sinergis terkait berbagai hal. Misalnya, dalam penanganan kasus Anak Nias, melakukan pemberitaan yang bersifat informatif dan edukatif dengan juga bersinergi dengan Ibu Gubernur Sumatera Utara/Ketua TP PKK Sumut Ny Hj Fatimah Habibie Syamsul Arifin dalam memberikan himbauan terkait meningkatkan perhatian pada anak dan perempuan. Hal tersebut dilakukan melalui pemberitaan di media massa di Sumut.

Juga menyangkut program kerja dan kegiatan yang dilaksanakan Biro PP, Anak dan KB Setdaprovsu. Misalnya, tentang pembentukan Lembaga Pemberdayaan Perempuan Lanjut Usia (LPPLU) Sumut, kegiatan Seminar tentang Implementasi Perda Sumut Nomor 5 Tahun 2004 yang dianggap belum maksimal. Kemudian Pelatihan Sistem Informasi Manajemen Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (SIM PKK), kegiatan Supervisi TP PKK Sumut, pencanangan Desa PRIMA di Desa Cinta Tanah Air Kec Perbaungan Kab Serdang Bedagai, keikutsertaan Biro PP, Anak dan KB dalam Pekan Raya Sumatera Utara, kegiatan Pengembangan Cakupan dan Kualitas Kelompok Bina Keluarga dan Lansia, dan lain-lain.

Kegiatan tersebut tambah Saurma, sesuai dengan visi dan misi Forum P5A. Dimana visinya mendorong partisipasi aparat dan publik untuk meningkatkan kualitas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Sumut.

Menyinggung banyaknya kasus yang terjadi menimpa perempuan dan anak, Menteri mengharapkan peran serta masyarakat dalam memberikan informasi sehingga dapat dengan segera disikapi dan diambilkan solusi. Sehingga dengan demikian, ke depan, keperdulian atas masyarakat sekitar yang semakin tinggi akan memperkecil persoalan yang menimpa anak dan perempuan.

“Karena itu, Forum P5A Sumut dapat berperan untuk mendesak munculnya peraturan daerah untuk melindungi anak dan perempuan,” ujarnya sepakat dengan visi dan misi Forum P5A Sumut.

(analisa, pkpa)

Anggota DPRD: Laporan Keuangan Pemda Sumut Memalukan

Friday, April 9th, 2010

Medan – Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Pemprov/Pemkab/Pemkot di Sumatra Utara dinilai memalukan karena tidak ada yang mampu meraih predikat tertinggi yakni Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).
“Kita patut malu,” kata anggota DPRD Sumut, Fadly Nurzal yang dihubungi ANTARA Medan, Sabtu.
Memang, kata Fadly, sejumlah daerah di Sumut ada yang mengalami peningkatan dalam penilaian LKPD yang awalnya berstatus “disclaimer” atau tidak menyatakan pendapat tapi kini naik menjadi Wajar Dengan Pengecualian (WDP).
Namun kenaikan predikat dalam penilaian LKPD tersebut dinilai tidak membanggakan karena belum mampu mencapai status WTP.
“WDP itu peringkat kelas dua,” kata Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD Sumut tersebut.
Selain itu, kata Fadly, penilaian LKPD dengan predikat WDP itu juga memalukan karena masih kalah dengan provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang sejumlah daerahnya mampu meraih WTP.
Padahal, semua rakyat Indonesia telah mengetahui bahwa NAD adalah daerah yang selalu mengalami konflik namun tetap mampu membuat LKPD dengan baik.
“Bahkan ada dua daerah yang tingkat konfilknya sangat tinggi tapi mampu meraih WTP. Jadi, Sumut memalukan,” katanya tanpa menyebutkan dua daerah di NAD tersebut.
Ia menjelaskan, LKPD sangat erat kaitannya dengan tata kelola pemerintahan dan pelayanan masyarakat yang dilaksanakan di suatu daerah.
Jika LKPD Pemprov/Pemkab/Pemkot di Sumut yang disampaikan ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dinilai buruk karena tidak mampu meraih WTP, maka tata kelola pemerintahan dan pelayanan masyarakat di daerah itu juga patut dianggap buruk.
“Bagaimana mungkin Pemprov/Pemkab/Pemkot di Sumut dapat mengaku telah memberikan pelayanan masyarakat yang baik jika laporan pertanggungjawabannya saja buruk,” katanya.
Kemudian, kata dia, buruknya LKPD tersebut juga dapat memunculkan indikasi terjadinya dugaan korupsi dalam penggunaan keuangan negara di daerah tersebut.
“Bukan tidak mungkin hal itu terjadi,” kata Fadly.
Sebelumnya, Kepala BPK Perwakilan Sumut, Widodo Pasetyo Hadi menyebutkan seluruh LKPD di Sumut belum ada yang mampu meraih predikat WTP.
Ketika menerima LKPD Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut pada 25 Maret 2010, Widodo Pasetyo Hadi menyatakan, Sumut masih kalah jauh dari tetangganya NAD dalam membuat LKPD yang tujuh daerahnya mampu meraih WTP dalam LKPD.
Kondisi itu dapat dilihat dari LKPD yang disampaikan 27 pemerintah kabupaten (pemkab)/pemerintah kota (pemkot) di Sumut pada tahun 2008 sebagai laporan tentang pengelolaan keuangan pada tahun 2007.
Dari 27 Pemkab/Pemkot di Sumut yang menyerahkan LKPD itu, 14 di antaranya hanya mampu meraih predikat WDP. Sedangkan 13 daerah lainnya malah meraih predikat terendah dalam penilaian LKPD yakni “disclaimer” atau tidak mendapatkan pendapat dari BPK karena dianggap buruk.
Selain itu, Pemprov/Pemkab/Pemko di provinsi itu juga sering terlambat dalam menyampaikan LKPD ke BPK Perwakilan Sumut.
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, seluruh lembaga pemerintahan itu harus telah menyerahkan LKPD paling lama pada 31 Maret atau tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir.
Pada tahun 2009 sebagai waktu penyerahan LKPD tahun anggaran 2008, hanya empat instansi yang menyampaikannya sebelum batas akhir, yakni Pemkab Asahan, Pemkab Tanah Karo, Pemko Tebing Tinggi dan Pemprov Sumut.
Sedangkan hingga 25 Maret 2010 untuk penyerahan LKPD tahun anggaran 2009, baru empat instansi juga yang menyerahkan laporannya Pemkab Asahan, Pemkab Tanah Karo, Pemkab Langkat dan Pemprov Sumut.
“Tahun anggaran 2008, Pemko Tebing Tinggi cepat menyampaikan laporannya. Tapi tahun 1ni, belum diserahkan,” katanya.
Dalam catatan BPK Perwakilan Sumut terdapat beberapa pemkab/pemkot yang selalu terlambat menyerahkan LKPD, di antaranya Pemko Medan dan Pemkot Pematang Siantar.
“Mereka (Pemkot Medan dan Pemkot Pematang Siantar) ‘langganan’ terlambat,” katanya.
Meski dalam Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara tidak disebutkan mengenai sanksi, tapi keterlambatan dalam menyerahkan LKPD itu akan menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan dari auditor BPK.
“Pasti ada sesuatu,” kata Widodo Pasetyo Hadi.
Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, kata dia, BPK Perwakilan Sumut sering menemukan temuan-temuan mengenai ketidakberesan dalam pengelolaan keuangan negara yang dilakukan Pemkab/Pemko di Sumut.
Namun jenis temuan itu bervariasi, ada yang bersifat merugikan keuangan negara, pemborosan atau kesalahan administratif semata.
Untuk temuan yang yang bersifat merugikan keuangan negara, pihaknya akan menyampaikannya ke BPK pusat untuk dilaporkan ke unsur penegak hukum guna diusut sesuai ketentuan yang berlaku.
Beberapa temuan yang merugikan negara itu telah diproses secara hukum seperti di Dinas Kesehatan dan Dinas Perhubungan Kota Medan serta di Pemkab Nias.
“Semua temuan itu sudah diproses secara hukum,” katanya.

(sib)

Gempa 7,7 SR Tak Akibatkan Korban Jiwa

Thursday, April 8th, 2010

Gempa Rabu (7/4) berkekuatan 7,7 Skala Richter di perairan pulau Banyak, antara Pulau Nias dengan dan Pulau Simeleu memicu gempa-gempa susulan. Gempa susulan yang terjadi dicatat oleh Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) terjadi di Simeleu sebesar 4,9 Skala Richter pada 7 April 2010 pukul 11.22 WIB.

Akibat Gempa di Sumut

Gempa tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan yang berarti di Sumut, ungkap Gubsu Syamsul Arifin. “Saya dan Sekdaprovsu RE Nainggolan sudah mengecek ke daerah daerah. Alhamdulilah dari laporan yang kita terima tidak ada korban jiwa maupun kerusakan yang berarti hanya ada yang retak retak”, ujarnya.

Namun demikian gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR) Rabu (7/4) pukul 05.15 WIB menyebabkan 90 persen pembangkit PLN yang berada di sektor Pembangkitan Belawan mengalami gangguan.

“Akibatnya sebagian besar wilayah Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam padam pascabencana alam tersebut karena berkurangnya kemampuan pasokan. Tidak terjadi kerusakan pada pembangkit, kecuali gangguan pada sistem,” jelas GM PT PLN (Persero) Regional Sumatera Utara, Denny Pranoto. Meskipun 10 dari 11 mesin pembangkit dengan kapasitas sekitar 1.000 MW sempat drop ke daya 160 MW saat terjadi getaran, namun secara berangsur-angsur kondisinya terus membaik. Denny mengakui akibat gangguan pada sejumlah mesin pembangkit, PLN mengalami kerugian mencapai Rp2 miliar untuk memulihkan kembali ke-10 mesin pembangkit tadi.

Padamnya listrik memicu masyarakat memakai lilin. Kelalaian pemakaian lilin telah menyebabkan 14 rumah di kelurahan Anggrung Medan terbakar.

Akibat Gempa di Nias

Pantauan Analisa di sekitar wilayah Nias, Kabupaten Nias Utara tepatnya di Kecamatan Lotu 2 dilaporkan 2 lokal bangunan SMPN 1 hancur. Seluruh dinding Gereja BNKP Orahua Daso Resort 34 hancur. 2 unit rumah di Desa Lawira milik Sidibero Nazara dan milik Anwar juga hancur dan kantor Bupati Nias Utara juga mengalami kerusakan seperti lantai keramik dan dinding rusak.

Selanjutnya, letak Jembatan Nalua Desa Nalua turun dari kondisi semula sekitar 20 cm dan Jembatan Ehau juga dikhabarkan warga setempat retak-retak. Kemudian, Jembatan Fino Desa Hiliduruwa Kecamatan Sawo Kabupaten Nias Utara dilaporkan turun sekitar 30 cm, hingga 2 orang pengendara sepeda motor yang melintas sesaat setelah terjadi gempa di jembatan itu mengalami kecelakaan karena tidak tahu situasi jembatan telah berubah.

Akibat Gempa di Aceh

Hingga Rabu (7/4) sore jumlah korban luka akibat gempa mencapai 21 orang, tiga di antaranya menderita luka parah. Diperkirakan jumlah korban luka akan terus bertambah. Sejumlah korban luka tersebut kini dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Sinabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Menurut Humas Kabupaten Simeulue Abdul Karim, koraban luka parah umumnya terkena reruntuhan bangunan di bagian kepala, tangan, dan kaki. Sedangkan korban luka ringan hanya mengalami luka lecet saat mencoba melarikan diri ketika gempa terjadi. “Semuanya korban gempa telah ditangani pihak rumah sakit,” katanya.

Gempa tersebut telah menyebabkan Bandar Udara Lasikin dan Pelabuhan Simeulue rusak parah.  Meski demikian, hal ini tidak mempengaruhi jadwal penerbangan ke Pulau Simeuleu. Tercatat 13 perkantoran pemerintah mengalami rusak ringan dan parah. Kerusakan terparah terjadi pada kantor Dinas Pendidikan. Sebagian atap gedung roboh dan dinding retak.

Hingga kini data sementara dari pemerintah Kabupaten Simeulue, kerusakan akibat gempa meliputi, 10 sarana kesehatan, 1 sarana pendidikan, 32 perumahan penduduk, 2 rumah ibadah dan 25 tiang listrik tumbang.

Penyaluran BBM Paska Gempa

Sementara itu Rustam Aji, Asisstant Customer Relation Pemasaran BBM Retail Region I Pertamina di tempat terpisah melaporkan kondisi lembaga penyaluran pascagempa di Sinabang khususnya di pantai Barat NAD maupun di Sumut dalam kondisi aman. Dia menyebutkan berdasarkan hasil koordinasi dengan Depot Sabang, Simeulue, Meulaboh, Sibolga dan Nias tidak terjadi kerusakan maupun gangguan terhadap penyaluran BBM.

(usgs, analisadaily, mediaindonesia)

Sensus Penduduk Bertepatan dengan Pilkada

Wednesday, April 7th, 2010

Medan – Untuk keenam kalinya pascakemerdekaan, tahun ini, tepatnya selama Mei 2010, Badan Pusat Statistik menggelar sensus penduduk di seluruh Indonesia. Di Sumatera Utara, BPS Sumut menurunkan 28.955 petugas untuk mencacah seluruh warga Sumut tanpa terkecuali.

Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin SE mengharapkan masyarakat Sumatera Utara proaktif pada sensus penduduk yang akan dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mulai tanggal 1 sampai 30 Mei tahun ini. Pemprovsu akan membackup sensus, karena pentingnya hasil sensus untuk mengetahui bagaimana persisnya Sumut bisa dibangun untuk sepuluh tahun ke depan.

Sebanyak 20.539 orang merupakan petugas pencacah lapangan, 6.845 pengawas lapangan, 1.290 koordinator lapangan, dan 285 petugas satuan tugas.

Pelaksanaan sensus pada 1 Mei hingga 31 Mei bertepatan dengan pelaksanaan pilkada di Kota Medan dan beberapa daerah lainnya.

Petugas pencacah tidak boleh dimanfaatkan sebagai tim sukses pasangan calon. Petugas datang ke rumah penduduk murni untuk pendataan.

”Petugas dilarang melakukan pungutan berbentuk apa pun kepada warga,” kata Kepala Badan Pusat Statistik Sumut Alimuddin Sidabalok, Kamis (1/3).

Dilengkapi identitas

Karena kekurangan tenaga pencacah, setiap kelurahan di Sumut akan ikut membantu melakukan pencacahan. Ada 5.942 desa dan kelurahan serta 417 kecamatan di Sumut yang menjadi sasaran pencacahan.

Ia mengatakan, petugas yang mendata warga dilengkapi identitas lengkap, surat tugas, mengenakan rompi, dan topi.

”Petugas sudah mendapatkan pelatihan. Mereka terjun ke lapangan dalam tim,” kata Alimuddin.

Selain untuk mendata seluruh penduduk Indonesia, sensus penduduk juga dilakukan untuk memotret dinamika dan mobilitas penduduk dan kemajemukan masyarakat Indonesia. Khusus warga yang tidak tinggal menetap, seperti anak buah kapal dan tunawisma, pendataan dilakukan pada tanggal 15 Mei malam.

Dari cacah jiwa bisa diketahui jumlah penduduk, potensi angkatan kerja, berapa jumlah masyarakat yang melek huruf, yang menggunakan sanitasi yang baik. Atau berapa masyarakat yang sudah bisa mengakses teknologi internet, dan sebagainya.

Dibandingkan dengan sensus penduduk tahun 2000, banyak variabel baru yang ditanyakan kepada warga terkait parameter Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs). Variabel itu di antaranya sumber penerangan, luas lantai, fasilitas buang air, tempat pembuangan tinja, sumber air minum, bahan bakar memasak, kepemilikan telepon, akses internet, kemampuan baca tulis, kemampuan berbahasa Indonesia, hingga kematian ibu waktu hamil, melahirkan, dan nifas.

Honor

Untuk sensus keenam ini, pemerintah mengalokasikan dana Rp 3,3 triliun. BPS Sumut mendapat alokasi dana APBN Rp 14,95 miliar.

Setiap kabupaten juga mengalokasikan dananya. Sebagian besar dana habis untuk honor petugas.

Untuk petugas pencacah, misalnya, mereka mendapat honor sekitar Rp 2,5 juta selama bertugas mencacah plus biaya transportasi Rp 200.000. Honor didistribusikan kepada petugas lewat PT Pos Indonesia.

(kompas, medantalk)

Gempa Guncang Nias, Sumatra

Wednesday, April 7th, 2010

Gempa berkekuatan 7,7 Skala Richter (SR) mengguncang Sumatra bagian Utara pada 7 April 2010 pukul 5.15 WIB. Pusat gempa diduga terletak di perairan Pulau Banyak, antara Pulau Nias dan Pulau Simeleu dengan kedalaman 31 km dari permukaan bumi. Guncangan gempa menyebabkan kepanikan di Simaleu, Meulaboh, daerah Aceh lainnya, Nias, Sibolga, Padang Sidempuan, Medan, Tarutung dan Samosir. Penduduk segera berlarian ke tempat yang lebih tinggi, namun gempa ini tidak berpotensi Tsunami.
Belum dilaporkan adanya korban jiwa akibat gempa ini. Gubernur NAD Irwandi Yusuf menginformasikan, “Setelah saya pantau, sejauh ini belum ada laporan korban jiwa di Aceh.” Kepanikan masyarakat akibat gempa ini bertambah karena matinya listrik secara serentak. Hingga sekarang di beberapa titik listrik belum menyala.

Gempa ini terjadi karena pergerakan lempeng Australia-India yang setiap tahunnya mendesak lempeng Sunda dengan kecepatan 60-65 mm per tahun. Karena mekanisme informasi yang tidak lengkap, diduga bahwa sebenarnya pusat gempa tidak terletak di satu titik melainkan di sepanjang pertemuan kedua lempeng tersebut.
Pertemuan kedua lempeng telah menyebabkan gempa besar 8,6 SR pada Maret 2005 di Nias, gempa besar 9,1 SR di perairan Aceh tahun 2004, gempa di Sumatra Selatan 8,4 tahun 2007, gempa di Simeleu pada tahun 2008 dengan kekuatan 7,3 SR, dan gempa Padang 7,5 SR tahun 2009.

(usgs, reuters, metrotv)