Posts Tagged ‘Sumut’

Dari Rp 16 Milyar, Hanya Rp 600 Juta Pembiayaan Investasi UMKM Sumut

Sunday, April 4th, 2010

Medan- Sejumlah rencana kerja bidang usaha kecil menengah dan koperasi (UMKM) Sumut yang terungkap dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) bidang ekonomi rakyat pada Selasa di aula Balai Duta Tiara Convention, dinilai belum mencerminkan misi dan keberpihakan pada rakyat kalangan UKM, karena rencana biaya kerja yang bersifat ‘acara-acara’ atas nama berbagai kegiatan dan pelatihan atau peningkatan dan pengembangan, ternyata jauh lebih besar dibanding alokasi biaya untuk hal-hal yang bersifat ril pembiayaan.

Data prioritas kegiatan bidang Ekonomi Kerakyatan pada Dinas Koperasi & UKM Propinsi Sumut untuk tahun anggaran 2011, menunjukkan enam program kerja yang meliputi 41 sub-kegiatan dengan total biaya Rp16,386 miliar. Tapi dari jumlah itu, hanya Rp600 juta yang dinilai akan ril atau nyata teralokasi sebagai sumber pembiayaan sebagai skim kredit investasi bagi usaha koperasi dan UMKM di daerah ini.

“Prioritas program kerja atau rencana proyek sektor UMKM yang diajukan untuk agenda ekonomi kerakyatan Sumut ini tampaknya belum ‘pas’ karena ajuan biaya yang berpotensi atau rawan korupsi tampak lebih besar dari ajuan biaya ril untuk rakyat ekolem. Ini perlu diperbaharui sebelum difinalisasi sebagai anggaran di APBD,” ujar Sopar Siburian SH dan Mangaliat Simarmata SH, kepada pers di Medan, Selasa.

Sopar Siburian adalah anggota DPRDSU dari Komisi E yang ikut rapat salah satu bidang (sosial dan pendidikan) di Musrenbang tersebut, dan Mangaliat adalah salah satu peninjau dari kalangan LSM/NGO yang memang banyak hadir di acara tersebut. Secara terpisah mereka menanggapi kondisi dan nasib para pelaku bisnis UKM di daerah ini yang terbilang belum juga menunjukkan perkembangan atas peranan pemerintah maupun dunia usaha terkait di daerah ini.

Dalam rapat bidang Ekonomi Rakyat yang dipandu pejabat Dinas Koperasi & UKM Sumut plus moderator Dr Drs Layari Sinukaban (anggota DPRD Sumut yang juga Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia–HIPPI Sumut), sejumlah peserta rapat dari beberapa daerah, khususnya dari Nias (Nias Barat dan Nias Utara) menyatakan komplin dan protes atas materi rapat yang dinilai belum mengakomodir kebutuhan prioritas ekonomi rakyat di daerahnya.

“Kami kecewa, jauh-jauh kami datang dari Nias dengan ongkos yang tak sedikit untuk 49 orang, tahu-tahu kami hanya dapat Rp95 juta dari APBD Propinsi untuk biaya pengadaan peralatan pengolahan produk batu-batuan. Padahal, angka-angka untuk berbagai kegiatan lain yang sifatnya non teknis, kan bisa ditambahkan untuk hal-hal yang lebih penting bagi rakyat,” ujar pejabat dari salah satu instansi Pemkab Nias Selatan kepada para pemimpin rapat, disaksikan kepala Bappeda Nias Selatan Herman Hezatulo Laiya SH MHum.

Para peserta rapat baru tampak lega dan tenang sembari bertepuk tangan ketika mendengar paparan Layari Sinukaban yang menyatakan kesediaannya untuk memfasilitasi (sebagai anggota DPRD maupun sebagai pengusaha) antara pihak UKM di daerah ini dengan pejabat instansi terkait untuk memperoleh solusi dan saran tindak yang cepat dan aspiratif. Semula dijadwalkan, rapat bidang Ekonomi Rakyat itu dipandu oleh pakar ekonomi USU Drs John Tafbu Ritonga sebagai moderator. Tapi hingga sesi-kedua, pemandu rapat tetap didampingi Layari Sinukaban.

Disela-sela rehat acara rapat, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan dan Kelautan Kabupaten Nias Utara, Yusman Zega API MSi, bersama Kepala Bappeda Nias Utara Toloni Waruwu dan Sekretaris Bappeda Rozaman Gea, sangat menyesalkan sistem penyaluran pupuk organik maupun pupuk bersubsidi yang selalu kurang volumenya ke daerah itu. Dari sekira 5 juta ton yang dibutuhkan setiap musim tanam, hanya 2 juta hingga 3 juta ton yang tersalur.

“Sampai sekarang, pupuk urea dan pupuk NPK dsb yang merupakan kebutuhan primer para petani padi, belum pernah terpenuhi. Pihak pemerintah propinsi hendaknya memperhatikan hal ini secara serius, paling tidak bisa difinalisasi pada Musrenbang ini,” katanya berharap sembari menggambarkan secara ringkas kondisi dan prospek pertanian Nias Utara sebagai Kabupaten baru setelah mekar dari Nias.

Sembari itu, Sekretaris Umum Forum Komunikasi Masyarakat Kabupaten Nias Utara (FKM Kanira) Drs Temazaro Zega yang hadir meninjau acara itu, juga menyesalkan sinyalemen ‘kurang tanggap’ sejumlah pihak mulai dari tingkat pemerintah pusat maupun propinsi terhadap kondisi Kepulauan Nias selama ini.

“Dari data rancangan program kerja di sektor ekonomi daerah (koperasi & UKM) ini saja sudah menunjukkan sinyal kesenjangan itu. Jangankan dari segi alokasi, segi porsi yang mencantumkan Nias saja pun tampak sangat minus di antara semua tabel daerah-daerah itu,” katanya kepada SIB ketika mengamati data prioritas rencana kerja (Renja) itu.

Data itu menunjukkan, dari 13,386 miliar alokasi yang direncanakan, antara lain tertabulasi untuk hal-hal yang bersifat ‘acara ke acara’, misalnya pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif (biasanya hanya berupa seminar dsb) dengan biaya Rp2,27 miliar dengan enam bentuk kegiatan dan hanya disini terdapat paker riel berupa perluasan pembiayaan investasi. UKM & Koperasi yang senilai hanya Rp600 juta itu, pengembangan sistem pendukung UMKM dengan enam bentuk kegiatan senilai Rp2,45 miliar, peningkatan kualitas kelembagaan (biasanya bentuk pelatihan atau semi workshop) dengan 10 paket kegiatan Rp4,16 miliar, penciptaan iklim usaha UMKM dengan 8 paket kegiatan (tak jelas apa bentuk kerjanya, Rp1,59), pemberdayaan usaha skala mikro dengan 9 paket kerja senilai Rp5,9 miliar.

(hariansib, kontan)

IKUT KB, PRIA DIBAYAR RP. 100.000,-

Saturday, April 3rd, 2010

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Utara menyediakan Rp. 350 juta untuk biaya vasektomi atau Medis Operasi Pria ( MOP). Biaya tersebut sebagai uang pengganti tidak bekerja selama 2 hari kepada akseptor yang mengikuti program vasektomi dari BKKBN, dan juga untuk penggarap atau petugas lapangan.
Salah satu program BKKBN dalam menekan angka kelahiran bayi adalah dengan vasektomi, yaitu pemutusan sambungan/aliran (pasdeperen) sperma yang mengandung benih agar tidak terjadi kehamilan . Pengoperasian itu dengan cara diikat bagian kiri dan kanan , kemudian diputus.
Setiap akseptor yang mengikuti program ini akan mendapatkan Rp. 100.000,- sebagai pengganti biaya tidak bekerja selama 2 (dua) hari agar tidak terjadi infeksi atau luka bekas pada bekas operasi.
Selain akseptor, petugas lapangan atau penggarap juga akan mendapatkan uang pengganti sebesar Rp. 75.000,- . Jumlah akseptor vasektomi terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Tahun 2008 ada 491 akseptor dari 400 target yang diberikan pusat yang diberikan Pusat. Tahun 2009 meningkat tajam menjadi 1.356 akseptor dari 870 akseptor target yang ditetapkan pusat atau naik 155,86%.
Dan di tahun 2010 ini, hingga Februari ada 173 akseptor dari 2000 target yang diberikan hingga akhir tahun nanti. Untuk menekan angka kelahiran bayi, KB untuk pria sangat membantu. Meskipun secara medis vasektomi adalah kontrasepsi permanen, sehingga tidak bisa membuahi lagi, namun banyak manfaat didapat pria dengan vasektomi ini, Antara lain meningkatklan vitalitas seksual, perkasa / tahan lama, dan libido tinggi, sebab sperma yang mengandung benih kembali lagi kedalam darah yang menimbulkan libido.
Selain itu , KB pria dengan vasektomi ini tingkat keberhasilannya jauh lebih tinggi. Jika menggunakan kondom persentasenya hanya 50-50, maka vasektomi tingkat keberhasilannya mencapai 100%.
Pun demikian bukan berarti pria yang sudah mengikuti vasektomi tidak bisa lagi memiliki anak. “Bisa disambung kembali atau rekenalisasi (penyambungan kembali. Namun BKKBN tidak ada program itu. Kalau Operasi itu di Rumah Sakit dam biayanya sangat mahal bisa mencapai Rp. 10 jutaan”

(Posmetro Medan)

Hari Film Nasional 2010 Bangkitkan Perfilman Sumut

Wednesday, March 31st, 2010

MEDAN – Memperingati Hari Film Nasional 2010, Forum Komunikasi Insan Film (FKIF) menayangkan 2 film dokumenter di Gedung Kensington Institute Medan, Selasa (30/3).

Pemutaran 2 film karya Onny Kresnawan yakni “Pantang Dijaring Halus” dan “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan” diharapkan mampu membangkitkan perfilman Sumut yang tidak mengalami perkembangan sejak 4 dekade lalu. “Pantang Dijaring Halus” adalah sebuah film dokumenter berdurasi 20 menit yang menceritakan upacara jamu laut di jaring halus. Film ini mendapat predikat terbaik I di Festival Jawa Timur 2007.

Film kedua yang diputar yakni “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan”. Film ini tampak lebih menarik perhatian penonton. Film dengan durasi kurang dari 35 menit ini mengangkat tentang upaya dan perjuangan perempuan Nias menuju kesetaraan gender. “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan” terpilih menjadi film Campaign favorit versi radio Deutsche Welle Germany, film ini juga menjadi icon medium campaign di Konferensi International Child Sex Touristm (CST) di Sanur Bali tahun 2009.

Barani Nasution, tokoh teater nasional yang menjadi pembicara pada diskusi yang digelar usai pemutaran film mengatakan, perfilman Sumut tidak mengalami perkembangan yang signifikan sejak 1970 meski sudah banyak upaya-upaya yang dilakukan seperti produksi film, ceramah, diskusi, studi film, hingga pembangunan studio film di Sunggal tahun 1976.

Barani mengatakan, hal ini disebabkan produksi film di Sumut hanya mengambil materi, lokasi, dan pemeran-pemeran pembantu dan figuran, tanpa meninggalkan/menghasilkan potensi film yang kreatif dan produktif. Akhir-akhir ini tampak adanya keinginan menumbuhkan kegiatan dan produksi film di Medan. Hal ini terlihat dengan adanya pembuatan film-film dokumenter dalam rangka mengikuti berbagai event festival di Sumut maupun Indonesia.

Namun, Barani menilai ada baiknya insan film dan sineas Sumut memperbaharui tekad dan cara-cara pengembangan dunia film masa depan dengan menyadari kekurangan dan kegagalan di masa lampau. Di samping perlu juga unsur-unsur dan potensi film yang ada dihimpun dan diberdayakan  untuk mendorong terciptanya proses pertumbuhan perfilman yang produktif, kreatif, dan dinamis.

(DNA)