Archive for April, 2011 | Monthly archive page

Gatot lantik Bupati Nias Barat dan Gunungsitoli

Thursday, April 14th, 2011

GUNUNG SITOLI – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujonugroho, atas nama Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia melantik dan mengambil sumpah janji Bupati dan Wakil Bupati Nias Barat serta Walikota dan Wakil Walikota Gunungsitoli pada waktu dan tempat berbeda, Rabu (13/4).

Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Nias Barat, Aroziduhu Adrianus Gulö, SH, MH dan Hermit Hia, SIP oleh Plt. Gubsu, Gatot Pujonugroho, ST ditandai dengan penyematan tanda jabatan dilaksanakan di Aula Serba Guna Kantor Bupati, Kecamatan Lahomi Nias Barat dalam rapat paripurna istimewa DPRD Kabupaten Nias Barat, Rabu pagi (13/4).

Rapat paripurna istimewa DPRD Nias Barat dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Nias Barat, Tolosökhi Halawa, S.Pd didampingi para wakil ketua dan seluruh Anggota DPRD Nias Barat. Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Nias Barat dihadiri Wakil Ketua DPRD Sumut, Chaidir Ritonga, Pj. Bupati Nias Barat, drs. Sudirman Waruwu,  unsur Muspida, para Pimpinan SKPD Lingkup Pemkab Nias Barat, Ketua dan Pengurus Ormas Salom, para tokoh masyarakat serta ratusan undangan lainnya.

Usai melantik Bupati dan Wakil Bupati Nias Barat, Plt. Gubsu dan rombongan langsung menuju Gunungsitoli untuk melaksanakan pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Gunungsitoli. Pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Gunungsitoli, Drs. Marthinus Lase, M.SP dan Drs. Aroni Zendratö dilaksanakan dalam rapat paripurna istimewa DPRD Kota Gunungsitoli, dipimpin Ketua DPRD Kota Gunungsitoli, Sowa’a Laoli, SE didampingi Wakil Ketua Armansyah Harefa, SE dan Hadirat ST Gea serta para Anggota DPRD Gunungsitoli disaksikan para unsur Muspida, Pj. Walikota Gunungsitoli, Ir. Lakhömizaro Zebua, para pimpinan SKPD dan ratusan undangan.

Plt. Gubsu, Gatot Pujonugroho dalam sambutannya menyampaikan kepada para Bupati/Walikota yang dilantik untuk segera menghilangkan ekses yang terjadi pada pelaksanaan Pilkada lalu. Mulai saat ini mengajak semua pihak termasuk legislatif untuk bergandengan tangan membangun daerah otonom yang baru ini dan Kepulauan Nias secara menyeluruh.

Pada bagian lain Gatot menghimbau semua pejabat yang dilantik untuk dapat segera membentuk satu Forum Bersama Kepala Daerah se Kepualauan Nias guna menyatukan pemahaman dalam menyusun RPMJD dengan mempedomani RPMJD Nasional dan Provinsi Sumatera Utara, disesuaikan dengan visi misi Bupati/Walikota terpilih sehingga saling bersinergi dalam melakukan pembangunan.

Sumber: Waspada, Rabu – 13 April 2011

Pdt. Foluaha Bidaya: ”Karena Kesempatan Ada di Pak Ideal, Ya Kita Dukung”

Tuesday, April 12th, 2011

Pdt Foluaha Bidaya, S. Th, M. Div (diolah dari Akun FB)

Ada hal yang unik pada pelantikan bupati dan wakil bupati Nias Selatan Idealisman Dachi dan Hukuasa Ndruru hari ini (Selasa, 12/4/2011) di Kantor DPRD Nias Selatan. Dari empat pasangan calon yang kalah pada Pilkada pada akhir Desember 2010 lalu, hanya Pdt Foluaha Bidaya, S. Th, M. Div, yang hadir pada acara pelantikan itu.

Ketua Tim Sukses pasangan Idealisman Dachi-Hukuasa Ndruru, Arisman Zagötö, tidak bisa menutupi kekecewaannya dengan ketidakhadiran para kompetitor pasangan mereka. Padahal, harusnya hari ini menjadi momen yang secara simbolik memberi pesan kepada masyarakat bahwa ‘ini saatnya bersatu” untuk membangun Nias Selatan.

Dia juga mengapresiasi sikap kebesaran hati calon wakil bupati pasangan Temafol (Temazisokhi Halawa-Foluaha Bidaya) tersebut. Menurut dia, itulah sikap kenegarawanan yang seharusnya dimiliki oleh semua pihak. Kehadiran Pdt Foluaha Bidaya itu, juga mendapat apresiasi dari Plt Gubsu Gatot Pujonugroho. Sebab, selain dia, semua pasangan lain tidak ada yang hadir, termasuk mantan bupati Fahuwusa Laia dan mantan wakil bupati Daniel Duha yang hari ini resmi digantikan oleh pasangan Idealisman Dachi-Hukuasa Ndruru.

Peristiwa bersejarah ini, bukanlah yang pertama. Sehari setelah Mahkamah Konstitusi (MK) pada 3 Februari 2011, yang mengukuhkan kemenangan pasangan Idealisman-Hukuasa, bersama sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda Nisel, pasangan Temafol sebagai peraih suara terbanyak kedua, bergabung dalam kebersamaan dengan pasangan Idealisman-Hukuasa di satu tempat di Jakarta.

Saat itu, baik Temazisokhi maupun Pdt Foluaha Bidaya menyatakan penerimaan mereka atas kemenangan pasangan Idealisman-Hukuasa. Tidak selesai sampai di situ, mereka juga menyatakan dukungannya untuk menyukseskan kepemimpinan pemimpin baru itu. Saat itu juga, Idealisman menyatakan sikap terbukanya yang mengapresiasi sikap pasangan Temafol itu. Juga ajakan untuk bergandeng tangan, demi memajukan Nisel bersama-sama.

Ketika dikonfirmasi mengenai alasan kehadirannya pada acara pelantikan itu, Pdt Foluaha Bidaya mengatakan, terutama untuk menunjukkan kepada masyarakat Nisel tentang jiwa besarnya. Bahwa dalam Pilkada itu, ada yang menang ada yang kalah. “Dan siapa pun yang menang itu, itu adalah kemenangan kita semua,” ujar dia.

Kedua, kata dia, kehadirannya ingin memberi pendidikan politik bagi masyarakat Nisel. Sebagai politisi relijius, begitulah seharusnya yang dilakukan. Dia juga ingin menunjukkan kepada semua pihak, melalui kehadiran itu, bahwa motivasinya mencalonkan diri beberapa waktu lalu semata-mata untuk membangun Nisel, bukan mencari kedudukan
.
“Kalau masyarakat memberi kesempatan kami terpilih, ya kita akan bangun Nisel yang lebih baik. Good government dan clean government. Karena kesempatan itu ada di Pak Ideal, ya kita dukung (mereka),” tegas dia.

Tidak lupa, dia kembali mengingatkan harapan pada kedua figur terbaik ini. Yakni, bagaimana upaya konkrit, agar ke depan Nisel bisa maju. Harus ada perubahan yang lebih baik di semua bidang. Pemerintah baru ini juga diharapkan melakukan terobosan-terobosan baru dan menggiring investor ke Nisel. Tanpa investor, kata dia, Nisel akan sulit membangun.

Kemudian, dia juga minta Idealisman dan Hukuasa agar menggalang persatuan dan kesatuan di semua lapisan dan elemen masyarakat. Menurut dia, sudah saatnya semua bentuk pertikaian dihentikan di Nisel. “Kalau mau membangun tapi terus bertikai tidak akan tercapai tujuannya. Kita dukung sepenuhnya ke arah yang lebih baik. Tapi, kalau dibawa ke arah lebih buruk, pasti tidak akan didukung,” tandas dia. Semoga pelajaran berharga ini, berguna!

‘Harus’ Bekerjasama

Baliho Kampanye Pasangan Idealisman Dachi-Hukuasa Ndruru di desa Bawomataluo. Diambil pada 13 November 2010 oleh Etis Nehe

Diakui atau tidak, Idealisman dan Hukuasa memang harus bekerjsama dengan semua pihak. Setidaknya, karena dua alasan. Pertama, secara hitung-hitungan politik, pada pilkada langsung pada 29 Desember 2010 lalu, pasangan itu tidaklah menang mutlak. Mereka hanya meraih 27.874 suara atau sedikit di atas 30% dari total suara. Terpaut sekitar lima ribu suara saja dari pasangan Temafol. Sedangkan pasangan Fauduasa Hulu-Alfred Laia meraih 22.080 suara, pasangan Daniel Duha-Kamarudin Laia 9.181 suara dan pasangan Sobamböwö Bu’ulölö-To’ölö Bago 6.857 suara.

Dengan demikian, bila semua suara pasangan yang kalah ditotal, maka sebenarnya mayoritas warga Nisel tidak memilih pasangan Ideal. Namun kini, keduanya menjadi pemimpin bagi mayoritas masyarakat yang tidak memilih mereka. Mau atau tidak mau, akan dipaksa bekerjasama.

Kedua, pasangan Idealisman-Hukuasa mengusung jargon ‘serba gratis’ saat kampanye dengan nama “3 Program Cerdas & Berani” (lihat gambar). Ada tiga program mereka. Pertama, pemberantasan korupsi. Untuk hal ini, dalam suatu kesempatan bertemu dengan para tokoh masyarakat Nisel di Jakarta, Idealisman bahkan menyatakan “berjanji di hadapan Tuhan” bahwa di era mereka, menempati jabatan apa pun dan masuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Nisel “gak pake bayar’. Dua program lainnya adalah sekolah/kuliah dan pelayanan kesehatan dasar gratis.

Itu adalah program ideal, fantastis dan sedikit terkesan utopis. Program itu tentu saja menyimpan risiko lebih besar dibanding program lainnya. Sebab, ketiga program itu sangat mudah untuk dinilai realisasinya di lapangan. Ketika kenyataannya berbeda, saat itu, keduanya akan segera memanen kritikan, dan kehilangan kepercayaan publik. Dengan mudah, semua sorak sorai kemenangan, akan berganti menjadi cemoohan dan sikap antipati. Sikap yang seharusnya harus dihindari, akibat pengalaman ketidakpuasan atas kepemimpinan di Nisel sejak pemekaran hingga kini.

Dalam beberapa kesempatan berbincang dengan warga Nisel, ada rasa penasaran ingin segera melihat kepemimpinan Idealisman-Hukuasa. Ingin segera melihat realisasi janji-janji pada masa kampanye itu. Namun, pada sebagian orang, rasa penasaran itu juga disertai dengan ekspresi-ekspresi ironik dan pesimistik. Misalnya, “Tafaigi manö dania. Na ya’ia manö niwaö-waöraendre na tena sui bua mbio“. Kita lihat saja nanti, apakah yang mereka janjikan/omongkan itu nanti benar (dilaksanakan) atau sebenarnya hanya omong kosong juga.

Pak Bupati dan Wakil Bupati kami yang baru, masyarakat yang akan Anda berdua pimpin adalah masyarakat yang menyimpan banyak ekspektasi tinggi. Masyarakat yang telah jenuh dengan ketidakpuasan atas kepemipinan selama ini. Juga masyarakat yang karenanya sangat kritis dan dengan mudah akan ‘menghakimi.’ Sebab, mereka ingin perubahan yang nyata. Nisel menjadi lebih baik. Kini, harapan dan tanggungjawab itu ada di pundak Pak Bupati dan Wakil Bupati yang baru.

Selamat melayani, selamat mengabdi. Semoga Tuhan Yesus menyertai. (Etis Nehe)

Gondok Bapak Dalisökhi Gea Berhasil Dioperasi

Tuesday, April 12th, 2011

Pak Dalisökhi sebelum dioperasi

JAKARTA, Nias Online – Operasi pengangkatan gondok yang diderita Bapak Dalisökhi Gea di RS Atmajaya, Pluit, Jakarta, akhirnya tuntas. Pengoperasian yang membutuhkan waktu beberapa jam itu berhasil mengeluarkan gondok sebesar 5 kg yang selama ini menggelayut bahkan hingga pinggangnya. (more…)

Warga Nisel Rayakan Pelantikan Bupati-Wakil Bupati Nisel

Tuesday, April 12th, 2011

JAKARTA, Nias Online – Ribuan warga Nias Selatan (Nisel) dari 18 kecamatan memenuhi kota Teluk Dalam dan sepanjang jalan dari Kantor DPRD Nisel hingga kota Teluk Dalam. Semuanya beramai-ramai menyaksikan dan merayakan pelantikan Idealisman Dachi dan Hukuasa Ndruru sebagai Bupati dan Wakil Bupati Nisel periode 2011-2016. (more…)

Bupati-Wakil Bupati Nisel Dilantik Pagi Ini

Tuesday, April 12th, 2011

JAKARTA, Nias Online – Setelah tertunda sekitar dua minggu, pagi ini bupati dan wakil bupati terpilih Nias Selatan (Nisel) akan dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Nisel untuk periode 2011-2016. Pelantikan akan dilakukan oleh pelaksana tugas Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho atas nama Menteri Dalam Negeri (Mendagri) di Kantor DPRD Nisel, Teluk Dalam, Nisel. (more…)

Tarian “Famadaya Harimao” Diminati Turis

Tuesday, April 12th, 2011

MEDAN – Tarian kolosal berupa tari “Famadaya Harimao” dari Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, diminati para turis mancanegara yang berkunjung ke daerah tersebut. (more…)

Selamat Berbahagia

Sunday, April 10th, 2011

Tim Redaksi Nias Online mengucapkan “Selamat” dan ikut berbahagia atas Pernikahan Suci Sdr. Serius Nehe (Putra ke-2 dari Bapak/Ibu Ama/Ina Etis Nehe dan adik dari Bapak Etis Nehe anggota Tim Redaksi Nias Online) dengan Liriani Daeli (Putri ke-3 dari Bapak/Ibu Ama Mareti (+) dan Ina Mareti Daeli (+).

Acara Pernikahan berlangsung pada hari ini, Minggu, 10 April 2011, di Jakarta.

Semoga pasangan yang berbahagia ini selalu mendapat limpahan rahmat dan berkat Tuhan. Amen.

Kami yang ikut berbahagia:

Tim Redaksi Nias Online (www.niasonline.net)

Empat Daerah di Pulau Nias Belum Salurkan Dana BOS

Friday, April 8th, 2011

Medan, (Analisa) – Kadis Pendidikan Sumut Drs. Syaiful Syafri MM mengungkapkan, akan segera membicarakan kepada Gubsu untuk mengambil langkah terbaik kepada daerah yang belum juga menyalurkan dana BOS ke sekolah-sekolah khususnya Triwulan I. (more…)

Indonesia Miliki 13.466 Pulau

Friday, April 8th, 2011

Jakarta, Kompas – Survei nama-nama pulau di Indonesia yang dilakukan Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi sejak tahun 2007 hingga akhir 2010 menunjukkan jumlah pulau di Indonesia 13.466 pulau. Meski ini masih laporan sementara, jumlah pulau di Nusantara tidak lebih dari itu. (more…)

Memahami Perkawinan Adat Nias Daerah Öri Moro’ö

Friday, April 8th, 2011

Oleh Postinus Gulö

Adat merupakan produk zaman yang terbangun lewat interaksi sosial. Adat merupakan produk kesadaran manusia untuk mengatur dirinya agar berlaku etis dan tertata, agar manusia semakin manusiawi. Adat tidak sekadar mengandung aturan tetapi menorehkan nilai kearifan lokal (local wisdom) yang tinggi. Melalui adat, kita bisa melihat character primordial (karakter berdasarkan kesukuan, kekhasan) dan character building (karakter yang terus berkembang) dari manusia suatu suku tertentu. Sistem perkawinan Nias merupakan bagian dari adat Nias yang dari hari ke hari berkembang dan sekaligus mengalami erosi. Inilah kalimat-kalimat yang spontan muncul ketika saya melakukan penelitian lapangan di daerah kelahiran saya, daerah Öri Moro’ö, sebelah barat Pulau Nias (1 Maret s/d 30 Maret 2011). Saya melakukan penelitian terhadap umat Katolik dari 18 Gereja Stasi (Katolik) yang tersebar di wilayah Öri Moro’ö.

Hasil penelitian ini menjadi bahan tesis saya dalam merampungkan studi S-2 (pascasarjana) di Universitas Katolik Parahyangan. Saya meneliti seputar perkawinan Nias daerah Öri Moro’ö dan efek penerapan böwö-nya (jujurannya) terhadap masyarakat Öri Moro’ö itu sendiri. Dalam tulisan ini, saya ingin membagikan sebagian dari apa yang saya alami dan sekaligus gagasan yang muncul setelah melakukan observasi, penelitian dan wawancara terhadap responden. Gagasan-gagasan yang saya torehkan dalam tulisan ini tentu saja boleh disanggah dan dikoreksi, karena hasil observasi dan penelitian ibarat potongan puzzle yang yang harus dilengkapi oleh yang lain.

Esensi dan Tujuan Perkawinan Nias
Bagi masyarakat Nias daerah Öri Moro’ö (dan masyarakat Nias umumnya), esensi perkawinan bukan hanya persekutuan seluruh hidup (consortium vitae) antara kedua mempelai (KHK 1055) melainkan persekutuan kekeluargaan (fambambatösa) antara keluarga pihak laki-laki dengan keluarga pihak perempuan. Bahkan persekutuan antarkampung dan antarmarga. Perkawinan merupakan sarana untuk membangun relasi kekeluargaan (famangakhai sitenga bö’ö). Tujuan perkawinan Nias bukan hanya untuk (1) melahirkan manusia baru, (2) kesejahteraan suami-istri dan (3) pendidikan anak tetapi pertama-tama untuk (4) membangun relasi kekeluargaan dan kekerabatan antarkeluarga, marga dan kampung (fasitenga bö’ösa).

Di dalam perkawinan Nias, orangtua mewujudkan kewajiban dan tanggung jawabnya kepada anaknya. ”Ahono sibai dödögu, he matedo sa’ae börö meno awai halöwögu, no’ufangowalu nonogu.” Kalimat yang sering diucapkan oleh orangtua di Nias daerah Öri Moro’ö ini, kalau diartikan kurang lebih begini: ’Tenanglah hatiku, biarpun kematian menjemputku, sebab sudah selesailah kewajiban-tanggung jawabku, sudah kunikahkan anakku laki-laki.’ Dengan kata lain, perkawinan merupakan tanggung jawab orangtua terhadap anaknya. Oleh karena itulah, ”intervensi” orangtua dalam menentukan pasangan hidup anaknya mesti dipahami dalam kerangka berpikir ”tanggung jawab orangtua” ini.

Dalam tradisi masyarakat Nias Öri Moro’ö, jika seseorang hendak menikah maka yang menentukan pasangan hidupnya adalah orangtuanya. Tradisi semacam ini ternyata masih sering terjadi di daerah Öri Moro’ö. Walaupun demikian, sudah banyak yang tidak lagi mempraktekkannya. Tradisi semacam ini terbangun sebagai implementasi dari tanggung jawab orangtua terhadap anaknya.

Jujuran (Böwö) Perkawinan Nias
Dalam tradisi Nias Öri Moro’ö ada tiga hal yang menentukan terjadinya suatu perkawinan. Pertama, kesepakatan kedua orangtua, baik dari pihak mempelai laki-laki maupun orangtua mempelai perempuan. Kedua, pihak mempelai laki-laki sanggup membayar böwö (jujuran) yang diminta pihak mempelai perempuan. Itu sebabnya, ada kalimat ”ada böwö ada istri”. Ketiga, dipestakan secara adat (fangowalu-famasao). Tradisi pertama dan kedua sudah mulai ditinggalkan, walau masih ada yang mempraktekkannya. Dewasa ini, ada banyak masyarakat Nias yang sadar bahwa kesepakatan mestinya dibuat oleh mereka yang melangsungkan perkawinan (lih.KHK 1057). Dengan demikian, pasangan suami-istri (pasutri) menyadari tanggung jawabnya secara sadar, penuh, konsisten dalam membangun keluarga sejahtera (bonum coniugum). Kesepakatan merupakan ungkapan komitmen bahwa calon pasutri saling menyerahkan diri dan saling menerima dalam membentuk persekutuan hidup untuk seumur hidup. Tidak hanya itu, banyak generasi muda Nias yang sudah mulai menyadari bahwa perkawinan mestinya dijiwai oleh cinta. Oleh karena itulah mereka mulai berani mengungkapkan cintanya kepada lawan jenis, sesuatu yang dulunya dilarang di Nias. Tidak heran jika pada zaman sekarang, banyak masyarakat Nias yang melangsungkan perkawinan bukan karena inisiatif orangtua melainkan karena kesadaran mereka sendiri.

Masyarakat Nias perlu memahami makna terdalam seputar istilah böwö itu sendiri. Sebab, pengetahuan sangat menentukan tindakan seseorang. Jika pengetahuan baik dan benar maka besar kemungkinan bahwa tindakan dilakukan secara baik dan benar pula. Jika masyarakat Nias memahami sungguh makna böwö maka penerapan böwö dilakukan secara baik dan benar pula.

Dalam bahasa Nias, böwö sebagai kata benda dapat diartikan sebagai hadiah, pemberian karena kasih (fa’omasi, masi-masi). Kata sifat dari böwö yakni oböwö yang berarti: murah hati, penuh belas kasih, pemurah, suka memberi, penderma. Pastor Romanus Daeli, OFMCap pernah mengatakan bahwa sebenarnya böwö memiliki arti yang sangat baik dan Kristiani. Menurutnya, böwö adalah masi-masi (bukti kasih). Jauh sebelum Romanus Daeli, tokoh masyarakat Nias Heseli Zebua pernah menulis bahwa böwö adalah masi-masi, pemberian/derma kepada seseorang- yang miskin – tanpa menuntut jasa/balasan (HS Zebua: 1996). Sejalan dengan Romanus dan Heseli, Simon Waruwu, seorang katekis, mengatakan kepada saya bahwa böwö merupakan masi-masi, nibe’e si’oroi dödö, tenga ni’andrö ba tenga siso sulö (bukti kasih, pemberian dari hati, bukan diminta dan tanpa menuntut balasan). Dalam wawancara dengan penulis, Simon sangat yakin bahwa böwö merupakan sikap saling menghormati melalui kata dan perbuatan (fasumangeta li ba amuata sisökhi) dan bukan materi (emas, babi, beras, perak).

Wujud böwö adalah emas, babi dan perak serta padi. Namun, wujud böwö ini hanya sekadar simbol dari sikap saling menghormati dengan kata dan perbuatan. Penulis sangat setuju pada pendapat Simon Waruwu ini. Sebab fasumangeta li ba amuata sisökhi inilah yang disampaikan tetua adat dalam acara fanika era-era (pemberitahuan utang böwö) di dalam pesta perkawinan terhadap mempelai laki-laki. Para tetua adat berpesan agar mempelai pria berlaku sopan santun ketika bertemu di mana dan kapanpun dengan siapapun dari pihak keluarga istrinya. Setiap kali dia berbuat demikian maka utangnya sebatang emas (1 pau emas) dan seekor babi telah lunas. Akan tetapi, jika dia tidak sopan-tidak menghormati, maka dia mesti membayar utangnya sebatang emas (1 pau emas) dan seekor babi. Marilah kita memahami nasehat tetua adat terhadap mempelai laki-laki dalam ritual fanika era-era berikut ini.

”Namamasi ndra’ugö, mangowuru’ö, manamakheö, ahulu ndra’ugö utu ndru’u, ba na momböi ndra’ugö, batebai lö öbe’e zumange, öturiaigö khö namau matuau ba bazifakhai khönia. Na’öwuwu ndra’ugö ba mbawa duwu-tuwu/sandela ba zara-zara na’ö’ila wala’osau/zitenga bö’öu, ba bazifakhai fefu, ba no abu’a gömöu sara mbawi ba sara gana’a. Nalö ö’owai na falukha ba lala ba’asoso gömöu sadaha-daha, sara mbawi ba sara gana’a.”

Nasehat tetua adat Nias daerah Öri Moro’ö ini sangat formatif dan edukatif-etis dan menuntut mempelai laki-laki untuk membangun relasi yang baik dengan pihak keluarga dan kerabat istrinya lewat kata dan perbuatan yang baik. Arti nasehat tersebut yakni: ”jika engkau memanen padimu, menyembelih babi, menangkap ikan, berhasil memburu babi hutan, dan jika engkau melakukan apapun, tidak boleh tidak engkau memberi penghormatan, engkau mesti mengabarkannya kepada ayah istrimu dan kepada semua kerabatnya. Jika engkau membungkuk terhadap keluarga dan kerabat istrimu dan kerabatnya pada saat engkau bertemu dengan mereka, maka utangmu telah berkurang seekor babi dan 1 pau emas. Akan tetapi, jika engkau tidak menghormati mereka, maka utang böwö yang mesti Anda bayar bertambah seekor babi dan 1 pau emas.”

Nilai yang terungkap dalam pemberian böwö adalah nilai etis bukan nilai material. Hanya saja dalam kenyataannya, ada sebagian masyarakat Nias Öri Moro’ö yang lebih menekankan nilai material dari penerapan böwö perkawinan tersebut. Tidak heran jika banyak orangtua yang meminta böwö yang besar jika ada yang mau menikahi anak perempuannya. Oleh karena itu, sangat masuk akal jika lebih 90 % dari 443 keluarga yang menjadi responden penelitian ini menyatakan bahwa böwö perkawinan Nias menjadi beban hidup (tobali abula dödö) yang membuat masyarakat Nias tidak mampu membangun keluarga sejahtera. Besarnya böwö perkawinan di daerah Öri Moro’ö telah menimbulkan kesan asosiatif bahwa perkawinan Nias itu seperti sistem jual-beli. Ada banyak orangtua yang punya pandangan ambigu atau contradictio intereminis. ”Da’ö wa uhalö mböwö sebua khö nonogu alawe börö me omasido sibai ia” (Itu sebabnya saya menuntut böwö yang besar atas anak perempuanku karena cintaku padanya). Pernyataan ini contradictio interminis. Orangtua yang mengungkapkan itu sebenarnya tidak mencintai anaknya melainkan menenggelamkannnya dalam samudera utang. Orangtua itu tidak sadar bahwa yang membayar utang böwö itu nantinya adalah anak perempuannya bersama suaminya. Tidak heran jika muncul syair tarian maena: ”Hadia hareu ama hadia hareu ina nano öhalö mböwö sebua, onou tobali lumana” (Apalah keutungan Anda Papa-Mama jika engkau mengambil jujuran yang besar, anaknda justru menjadi miskin).

Praktek Tarian Maena Memudar
Dalam tradisi perkawinan Nias, tarian maena merupakan tarian yang memiliki nilai budaya tinggi. Tarian ini ditarikan secara kolosal, melibatkan banyak orang. Dalam tarian ini terbangun kebersamaan dan semangat persaudaraan. Syair tarian maena ini mengandung komunikasi interaktif-dialogal antara keluarga mempelai laki-laki dengan mempelai perempuan. Dengan kata lain, tarian maena ini merupakan sarana komunikasi kedua keluarga. ”Ha börö wa’atabö mbawimi, ha börö wa’ebua gana’ami, ba mi fabali zalukhö faröi ba mi faröi zalukhö fabali (karena tambunnya babi kalian, karena besarnya emas kalian, maka kalian memisahkan yang tak pernah berpisah, dan menjauhkan yang tak pernah berpisah). Inilah salah satu syair maena yang dinyanyikan pihak keluarga perempuan. Syair maena ini merupakan pujian terhadap pihak mempelai laki-laki. Pihak mempelai laki-laki membalasnya: ”Ndrundrumö haga luo, ogömi tou danö me tohare’öono nihalö” [matahari meredup, dunia gelap gulita ketika engkau tiba mempelai perempuan” (karena banyaknya emas yang engkau bawa)]. Inilah sebagian saja dari syair maena yang dikomunikasikan saat berlangsungnya perkawinan di Nias.

Akan tetapi, pada zaman sekarang tarian maena itu sudah jarang ditarikan dalam pesta perkawinan. Tarian maena diganti dengan bernnyi di panggung dengan diiringi keyboard, suatu kebisaan yang datang dari luar Nias. Komunikasi dua arah yang terbangun dalam tarian maena telah diganti oleh kebiasaan keyboard yang hanya menekankan hiburan.

Perkawinan ”Handphone”
Kenyataan lain yang tak luput dari observasi saya yakni perkawinan ”handphone”. Selama saya tinggal di lokasi penelitian, kurang lebih sudah ada 19 pasang kaum muda Nias yang menikah hanya gara-gara ”handphone”. Seorang lelaki mendapat nomor handphone seorang gadis. Lelaki itu lalu menjalin komunikasi dengan sang gadis. Dengan bujuk rayuan akhirnya mereka sepakat bertemu. Pertemuan mereka diakhiri dengan kawin lari. Begitu sebaliknya. Seorang gadis mendapat nomor handphone seorang lelaki. Tanpa pernah kenal sebelumnya dia menjalin komunikasi yang intens. Akhirnya mereka sepakat ketemu dan berujung pada kawin lari. Kisah inilah yang terjadi terhadap 19 pasang kamu muda Nias tersebut. Melihat realitas ini, saya teringat yang pernah terjadi di Pulau Jawa: seorang gadis dibawa kabur seorang lelaki setelah menjalin komunikasi intens via facebook!

Rasa penasaran terus menyelimuti hati sanubariku. Lalu saya berusaha mencari tahu alasan terjadinya perilaku kaum muda Nias ini yang dalam kerangka berpikir tradisi, telah melanggar aturan adat Nias. Saya menemukan 2 alasan. Kedua alasan ini tentu saja perlu diteliti lagi keabsahannya.

Pertama, ”handphone” mampu menerobos tembok-tembok yang membatasi mereka yang berlawanan jenis melakukan interaksi. Perlu diketahui bahwa tradisi Nias tidak mengenal ”courtship” (masa pacaran/masa saling kenal) antara laki-laki dan perempuan (Bambowo Laiya: 1983). Seorang laki-laki mengerdipkan mata terhadap perempuan saja dihukum secara adat, apalagi menjalin cinta. Kita harus sadari bahwa tujuan dari larangan ini adalah untuk melindungi perempuan dari kekerasan seksual laki-laki. Hanya saja, larangan ini telah menjadi tembok yang membatasi ruang gerak manusia Nias. Nah, handphone telah meruntuhkan tembok larangan itu. Sekarang, mereka bebas, handphone pun dijadikan dewa cinta yang mampu mempertemukan dua hati anak manusia Nias.

Kedua, setelah gempa 2005 yang memporak-porandakan Pulau Nias, perekonomian Nias relatif semakin membaik. Sarana televisi sudah bisa dibeli masyarakat. Banyak kaum muda terkagum-kagum dengan sinetron yang sebagian besar mengisahkan pergulatan cinta. Sinetron inilah lamban-laun membentuk opini kaum muda bahwa berpegangan-berpelukan, mengerdipkan mata, dan pacaran adalah hal yang wajar. Mereka lalu mempraktekkannya. Sebelum gempa, sarana seperti handphone dan televisi sangat sedikit di Nias, maka jarang sekali terdengar ”kawin lari”.

Pastoral Formatif dan Transformatif
Membaca realitas yang telah saya kisahkan di atas, maka pertanyaan yang perlu kita jawab adalah pastoral seperti apakah yang mestinya dilakukan oleh Gereja Katolik di Nias daerah Öri Moro’ö? Pastoral yang cocok di Nias Öri Moro’ö yakni: pastoral formatif dan transformatif bukan sekadar pastoral karikatif.

Pastoral formatif artinya pastoral yang berusaha membentuk, mendidik, mengarahkan dan menyadarkan masyarakat pada nilai-nilai budayanya sendiri sekaligus pada ajaran Gereja. Oleh karena itulah, tenaga pastoral harus mengerti sungguh budaya daerah Nias. Tenaga pastoral perlu menghindari tindakan yang hanya mengkritik tanpa berusaha menyelami makna terdalam dari buadaya Nias yang dalam perkembangan zaman sudah mengalami kepudaran di dalam praktek keseharian masyarakat Nias.

Pastoral formatif tidak lengkap jika tidak didukung dengan pastoral transforamatif. Gereja perlu melakukan terobosan-terobosan baru untuk menciptakan perubahan hidup masyarakat Nias menjadi lebih sejahtera, selektif terhadap kecanggihan teknologi dan budaya modern macam keyboard. Penerapan böwö yang cenderung material perlu diubah dan dikembalikan ke makna asali yakni böwö merupakan nilai etis, sikap saling menghormati dengan kata dan perbuatan. Misi Gereja di Pulau Nias kurang berhasil jika tenaga pastoral dan misionaris tidak memahami adat setempat. Tenaga pastoral dan para misionaris tidak akan berhasil melakukan perubahan jika tidak mampu memahami budaya Nias.

Oleh karena itu, yang sangat dituntut dari para tenaga pastoral yang berkarya di Nias adalah kesediaan dan pengorbanan yang tulus serta kreatif. Mereka mampu menerima keadaan dan juga berusaha menorehkan yang berguna bagi kelangsungan hidup umat. Pastoral yang penuh belas-kasih (karikatif) memang dibutuhkan, tetapi yang lebih penting adalah pastoral formatif dan transformatif. ***

Postinus Gulö adalah mahasiswa S-2,Universitas Katolik Parahyangan Bandung; sedang menulis tesis seputar perkawinan Nias daerah Öri Moro’ö.

Lowongan Kerja di LSM Forniha

Thursday, April 7th, 2011

Redaksi Nias Online mendapatkan informasi lowongan kerja ini melalui email dari LSM Forum Peduli Tanö Niha (FORNIHA). Lowongan kerja yang dibuka adalah untuk posisi Entry Data dan Cleaning Services. (more…)

Penanganan Lala’aro Gulö Masih Menunggu Dokter

Thursday, April 7th, 2011

JAKARTA, Nias Online – Bapak Lala’aro Gulö yang menderita luka bolong pada pipi sebelah kirinya, saat ini masih menjalani perawatan di Balai Pengobatan Santa Margaretha Gunungsitoli, Nias. Saat ini, luka bolong tersebut mulai mengering dan tidak berbau karena dibersihkan setiap hari. (more…)

Dalisökhi Gea Ditangani Lima Dokter RS Atmajaya

Thursday, April 7th, 2011

JAKARTA, Nias Online – Bapak Dalisökhi Gea, penderita tumor/gondok pada lehernya saat ini sudah berada di Rumah Sakit Atmajaya Jakarta. Bapak Dalisökhi tiba di Jakarta di antar oleh Suster Klara Duha. Pengoperasiannya akan ditangani oleh lima dokter spesialis dari RS Atmajaya. (more…)

Gempa Berkekuatan 5.9 SR Mengguncang Nias

Thursday, April 7th, 2011

Nias Online – Gempa berkekuatan 5.9 pada skala Richter terjadi Rabu malam (6/4) pada pukul 21.01 WIB. Informasi situs Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menyebutkan pusat gempa berjarak 67 km arah barat laut Kota Gunungsitoli pada kedalaman 15 km.

Sumber Nias Online di Gunungsitoli menghubungi beberapa saat setelah terjadinya gempa. Seperti biasa masyarakat langsung keluar dari rumah masing-masing menuju tempat terbuka. Sumber itu meminta Nias Online untuk memantau berita kalau-kalau ada peringatan tsunami dan mengharapkan informasi dikirimkan ke Nias. Sedemikian jauh tidak ada peringatan tsunami yang dikeluarkan.

Sementara itu situs Malay Mail melaporkan bahwa getaran gempa itu dirasakan juga di daerah pantai barat semenanjung Malaysia seperti di Westport di Port Klang. Namun Badan Meteorologi Malaysia tidak mengeluarkan peringatan tsunami (brk/*) 

Pasangan Saro dan Faigiaro bersaing ketat

Wednesday, April 6th, 2011

GUNUNGSITOLI – Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Nias Periode 2011-2016 yang diikuti empat pasangan calon bupati dan wakil bupati berlangsung aman dan lancar. Antusias masyarakat untuk mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) guna menggunakan hak pilihnya mencapai 60 persen lebih. (more…)