Ketua Tim Sukses pasangan Idealisman Dachi-Hukuasa Ndruru, Arisman Zagötö, tidak bisa menutupi kekecewaannya dengan ketidakhadiran para kompetitor pasangan mereka. Padahal, harusnya hari ini menjadi momen yang secara simbolik memberi pesan kepada masyarakat bahwa ‘ini saatnya bersatu†untuk membangun Nias Selatan.
Dia juga mengapresiasi sikap kebesaran hati calon wakil bupati pasangan Temafol (Temazisokhi Halawa-Foluaha Bidaya) tersebut. Menurut dia, itulah sikap kenegarawanan yang seharusnya dimiliki oleh semua pihak. Kehadiran Pdt Foluaha Bidaya itu, juga mendapat apresiasi dari Plt Gubsu Gatot Pujonugroho. Sebab, selain dia, semua pasangan lain tidak ada yang hadir, termasuk mantan bupati Fahuwusa Laia dan mantan wakil bupati Daniel Duha yang hari ini resmi digantikan oleh pasangan Idealisman Dachi-Hukuasa Ndruru.
Peristiwa bersejarah ini, bukanlah yang pertama. Sehari setelah Mahkamah Konstitusi (MK) pada 3 Februari 2011, yang mengukuhkan kemenangan pasangan Idealisman-Hukuasa, bersama sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda Nisel, pasangan Temafol sebagai peraih suara terbanyak kedua, bergabung dalam kebersamaan dengan pasangan Idealisman-Hukuasa di satu tempat di Jakarta.
Saat itu, baik Temazisokhi maupun Pdt Foluaha Bidaya menyatakan penerimaan mereka atas kemenangan pasangan Idealisman-Hukuasa. Tidak selesai sampai di situ, mereka juga menyatakan dukungannya untuk menyukseskan kepemimpinan pemimpin baru itu. Saat itu juga, Idealisman menyatakan sikap terbukanya yang mengapresiasi sikap pasangan Temafol itu. Juga ajakan untuk bergandeng tangan, demi memajukan Nisel bersama-sama.
Ketika dikonfirmasi mengenai alasan kehadirannya pada acara pelantikan itu, Pdt Foluaha Bidaya mengatakan, terutama untuk menunjukkan kepada masyarakat Nisel tentang jiwa besarnya. Bahwa dalam Pilkada itu, ada yang menang ada yang kalah. “Dan siapa pun yang menang itu, itu adalah kemenangan kita semua,†ujar dia.
Kedua, kata dia, kehadirannya ingin memberi pendidikan politik bagi masyarakat Nisel. Sebagai politisi relijius, begitulah seharusnya yang dilakukan. Dia juga ingin menunjukkan kepada semua pihak, melalui kehadiran itu, bahwa motivasinya mencalonkan diri beberapa waktu lalu semata-mata untuk membangun Nisel, bukan mencari kedudukan
.
“Kalau masyarakat memberi kesempatan kami terpilih, ya kita akan bangun Nisel yang lebih baik. Good government dan clean government. Karena kesempatan itu ada di Pak Ideal, ya kita dukung (mereka),†tegas dia.
Tidak lupa, dia kembali mengingatkan harapan pada kedua figur terbaik ini. Yakni, bagaimana upaya konkrit, agar ke depan Nisel bisa maju. Harus ada perubahan yang lebih baik di semua bidang. Pemerintah baru ini juga diharapkan melakukan terobosan-terobosan baru dan menggiring investor ke Nisel. Tanpa investor, kata dia, Nisel akan sulit membangun.
Kemudian, dia juga minta Idealisman dan Hukuasa agar menggalang persatuan dan kesatuan di semua lapisan dan elemen masyarakat. Menurut dia, sudah saatnya semua bentuk pertikaian dihentikan di Nisel. “Kalau mau membangun tapi terus bertikai tidak akan tercapai tujuannya. Kita dukung sepenuhnya ke arah yang lebih baik. Tapi, kalau dibawa ke arah lebih buruk, pasti tidak akan didukung,†tandas dia. Semoga pelajaran berharga ini, berguna!
‘Harus’ Bekerjasama

Baliho Kampanye Pasangan Idealisman Dachi-Hukuasa Ndruru di desa Bawomataluo. Diambil pada 13 November 2010 oleh Etis Nehe
Dengan demikian, bila semua suara pasangan yang kalah ditotal, maka sebenarnya mayoritas warga Nisel tidak memilih pasangan Ideal. Namun kini, keduanya menjadi pemimpin bagi mayoritas masyarakat yang tidak memilih mereka. Mau atau tidak mau, akan dipaksa bekerjasama.
Kedua, pasangan Idealisman-Hukuasa mengusung jargon ‘serba gratis’ saat kampanye dengan nama “3 Program Cerdas & Berani” (lihat gambar). Ada tiga program mereka. Pertama, pemberantasan korupsi. Untuk hal ini, dalam suatu kesempatan bertemu dengan para tokoh masyarakat Nisel di Jakarta, Idealisman bahkan menyatakan “berjanji di hadapan Tuhan” bahwa di era mereka, menempati jabatan apa pun dan masuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Nisel “gak pake bayar’. Dua program lainnya adalah sekolah/kuliah dan pelayanan kesehatan dasar gratis.
Itu adalah program ideal, fantastis dan sedikit terkesan utopis. Program itu tentu saja menyimpan risiko lebih besar dibanding program lainnya. Sebab, ketiga program itu sangat mudah untuk dinilai realisasinya di lapangan. Ketika kenyataannya berbeda, saat itu, keduanya akan segera memanen kritikan, dan kehilangan kepercayaan publik. Dengan mudah, semua sorak sorai kemenangan, akan berganti menjadi cemoohan dan sikap antipati. Sikap yang seharusnya harus dihindari, akibat pengalaman ketidakpuasan atas kepemimpinan di Nisel sejak pemekaran hingga kini.
Dalam beberapa kesempatan berbincang dengan warga Nisel, ada rasa penasaran ingin segera melihat kepemimpinan Idealisman-Hukuasa. Ingin segera melihat realisasi janji-janji pada masa kampanye itu. Namun, pada sebagian orang, rasa penasaran itu juga disertai dengan ekspresi-ekspresi ironik dan pesimistik. Misalnya, “Tafaigi manö dania. Na ya’ia manö niwaö-waöraendre na tena sui bua mbio“. Kita lihat saja nanti, apakah yang mereka janjikan/omongkan itu nanti benar (dilaksanakan) atau sebenarnya hanya omong kosong juga.
Pak Bupati dan Wakil Bupati kami yang baru, masyarakat yang akan Anda berdua pimpin adalah masyarakat yang menyimpan banyak ekspektasi tinggi. Masyarakat yang telah jenuh dengan ketidakpuasan atas kepemipinan selama ini. Juga masyarakat yang karenanya sangat kritis dan dengan mudah akan ‘menghakimi.’ Sebab, mereka ingin perubahan yang nyata. Nisel menjadi lebih baik. Kini, harapan dan tanggungjawab itu ada di pundak Pak Bupati dan Wakil Bupati yang baru.
Selamat melayani, selamat mengabdi. Semoga Tuhan Yesus menyertai. (Etis Nehe)

