Archive for September, 2010 | Monthly archive page

Membangun Budaya Mitigasi Bencana Berbasis Potensi Kearifan Lokal Nias

Tuesday, September 21st, 2010

Tiba-tiba saja Gunung Sinabung meletus. Siapa yang menyangka karena gunung itu tertidur sejak tahun 1600. Masyarakat setempat pun hampir tidak sempat bersiap, sebab tanda-tanda alam absen untuk diantisipasi. Aba-aba dini dari pemda minim, karena gejala hampir tidak terprediksi secara teknologi dan berlangsung dengan begitu cepat. Sekali lagi, terjadi fenomena alam yang menjatuhkan korban jiwa dan pengungsi dimana-mana. Duka terasa, kehidupan pun terusik, baik yang menjadi korban langsung maupun yang tidak. Dari kejadian ini timbul pertanyaan, apakah petugas kita yang lalai memantau? Ataukah masyarakat lokal yang kental pengetahuan lokalnya sepertinya sudah tidak mampu menalar gejala alam ? Atau ada perilaku alam yang sudah tidak dikenal lagi, sampai akhirnya terjadi bencana letusan terjadi tiba-tiba tanpa bisa diantisipasi lebih dini.

Sesungguhnya masyarakat Indonesia diwarisi dengan pengetahuan dari berbagai peristiwa alam yang kerap terjadi. Karena posisi geografis dan geologisnya yang tepat di atas pertemuan tiga lempeng samudra yang terus bergerak dan sering bertumbukan, menyebabkan gempa dan tsunami kerap terjadi. Kondisi wilayah Indonesia dengan banyaknya gunung api baik yang aktif maupun yang sedang tertidur, memberikan banyak pengalaman empiris kejadian letusan yang membawa korban. Dari pengalaman ini masyarakat lokal umumnya memiliki pengetahuan lokal dan kearifan ekologi dalam memprediksi dan melakukan mitigasi bencana alam di daerahnya. Pengetahuan lokal tersebut diperoleh dari pengalaman yang kaya akibat berinteraksi dengan ekosistemnya. Sebagai contoh, masyarakat yang bermukim di lereng Gunung Merapi, di Jawa Tengah, telah mempunyai kemampuan untuk memprediksi kemungkinan terjadinya letusan. Selain masih kuatnya keyakinan spiritual, masyarakat disana biasanya membaca tanda-tanda alam melalui perilaku hewan, seperti turunnya hewan-hewan dari puncak atau keluar dari rimbun hutan, burung-burung atau hewan lainnya mengeluarkan bunyi suara yang tidak biasa, atau adanya pohon-pohon di sekeliling kawah yang kering dan mati layu.

Kita tentu belum lupa dengan kejadian tsunami dan gempa bumi tahun 2004 yang melanda Aceh dan Nias serta berdampak pada kehancuran massif. Semong adalah kearifan lokal masyarakat di Pulau Simeulue dalam membaca fenomena alam pantai telah menyelamatkan banyak masyarakat dari bencana tsunami. Teriakan semong merupakan peringatan dini yang diartikan adanya situasi dimana air laut surut dan masyarakat harus lari ke bukit. Ini adalah pengetahuan yang diperoleh dari leluhur belajar dari kejadian bencana yang pernah terjadi puluhan tahun lalu. Semong ini yang menyelamatkan masyarakat di pulau Simeulue padahal secara geografis letaknya sangat dekat dengan pusat gempa. Semong bagi masyarakat pulau Simeulue disosialisasikan turun temurun melalui dongeng dan legenda oleh tokoh masyarakat sehingga istilah ini jadi melekat dan membudaya di hati masyarakat pulau itu. Dengan pengetahuan ini yang dimiliki orang Simeulue banyak masyarakat pesisir pantai lainnya di Aceh terselamatkan saat tsunami terjadi. Mereka memaksa orang untuk lari ke gunung. Berbeda dengan di Simeulue, ketika fenomena alam ini terjadi di Pantai Pangandaran Jawa Barat, masyarakat di sekitar justru lari ke laut karena air surut untuk memungut ikan dan kerang. Akibatnya banyak korban jiwa ketika gelombang laut yang tinggi datang tiba-tiba. Fenomena alam dimana letusan yang minim tanda-tanda sebelumnya juga pernah terjadi saat Gunung Kelud akan meletus beberapa tahun yang lalu. Hewan tidak menunjukkan gejala apapun, sekeliling kawah tetap hijau, walau batuk-batuk gunung sudah terasa, makanya masyarakat adem ayem saja. Kemampuan masyarakat sekitar gunung tersebut memahami tanda-tanda alam yang tidak terlihat pada gunung membuat mereka enggan di evakuasi dan terpaksa dilakukan dengan cara tertentu. Demikian pula dengan perilaku gempa yang akhir-akhir ini semakin kerap terjadi, seperti menjadi trend di mana goncangan gempa terjadi di suatu tempat biasanya akan disusul dengan gempa yang lebih besar yang sulit diprediksi terjadi kapan dan dimana.

Nias pasca gempa
Lima tahun sudah berlalu pasca gempa Nias tahun 2005, proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang sarat dengan pembangunan fisik pun sudah berlangsung. Hampir semua kerusakan sudah direkonstruksi kembali. Bagi yang belum pernah menjejak ke wilayah ini, mungkin sulit percaya bahwa pernah ada bencana besar pernah terjadi. Saat ini hampir tidak tersisa lagi gambaran kehancuran itu karena sudah tergantikan dengan bangunan baru berupa jalan yang lebih bagus dan mulus, gedung dan rumah dari beton dan berbagai fasilitas fisik lainnya. Kini terlihat bangunan perkantoran yang megah, pasar dan pertokoan baru. Bahkan, kalau kita telusuri perkampungan adat, banyak rumah adat tradisionil sudah ikut berubah dengan bangunan baru dari beton. Aktifitas kehidupan masyarakatnya sudah menggeliat kembali seperti semula. Agaknya seperti sudah melupakan dan ingatan tentang kejadian memilukan itu mulai pupus. Anak-anak dan remaja mungkin sudah hampir tidak mengingat lagi bahwa lima tahun yang lalu mereka nyaris menjadi korban gempa. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi sudah menghadirkan kehidupan baru kepada masyarakat. Tentu kita bersyukur bahwa kepulauan Nias telah melewati masa sulit dan kini melompat ke dalam kehidupan yang lebih baru. Tetapi sesungguhnya, yang dibutuhkan bukan saja rekonstruksi sarana yang rusak pasca bencana, yang lebih mendasar adalah menyiapkan seluruh komponen masyarakat untuk melanjutkan rekonstruksi kehidupannya dengan mengambil hikmah dari bencana alam yang terjadi.

Nias memiliki sejarah panjang kejadian gempa dengan skala besar dan gelombang tsunami yang tinggi yang berdampak massif hampir ke seluruh wilayah. Catatan penting dari kejadian bencana ini bahwa masyarakat di Kepulauan Nias harus menyadari bahwa mereka hidup di kawasan rawan bencana sehingga fenomena alam harus dikenali dan diakrabi. Periode waktu terjadinya bencana kian pendek, dari ratusan ke puluhan tahun. Para ahli mengatakan terdapat gerakan geologis lempengan yang terus terjadi menyebabkan wilayah ini rentan dengan gempa. Realitas ini tidak perlu membuat kita berpikir untuk meninggalkan kepulauan Nias. Hal ini justru menegaskan bahwa perlunya seluruh komponen masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama membangun kepulauan ini dengan tatanan yang tepat serta mengambil hikmah pembelajaran dari pengalaman bencana yang pernah melandanya. Penguatan masyarakat dan pemerintah untuk siapsiaga menghadapi bencana alam adalah kunci dari upaya menyeluruh ini. Tujuannya tentu adalah keberlanjutan kehidupan dan mitigasi korban, sebab setiap masyarakat memiliki naluri untuk hidup berkelanjutan dan tidak ada yang ingin menjadi korban sia-sia.

Budaya Mitigasi
Bencana alam beserta dampaknya harus disikapi secara bijak dan tepat. Bencana tidak saja sebagai akibat fenomena alam tetapi juga oleh tangan manusia yang lalai dalam memelihara lingkungan atau gabungan dari keduanya. Jenis bencana alam utama di kepulauan Nias adalah gempa bumi, gelombang tsunami, tanah longsor, dan banjir. Seluruh wilayah kepulauan ini merupakan daerah rawan gempa bumi dan termasuk dalam wilayah zona 6, yang artinya paling rawan terhadap gempa bumi dan tidak mungkin dicegah. Akibat seringnya terjadi gempa bumi maka wilayah ini juga sangat potensial terjadinya gelombang tsunami karena dikelilingi oleh lautan bebas. Kawasan-kawasan yang potensial terkena gelombang tsunami adalah kawasan disepanjang pantai disekeliling Pulau Nias. Keadaan topografi berbukit-bukit terjal serta pegunungan dimana tingginya bervariasi antara 0-800 m dari permukaan air laut. Topografi terdiri dari dataran rendah, dataran bergelombang, berbukit-bukit dan pegunungan. Curah hujan yang tinggi dan sifat tanahnya maka wilayah ini rentan kelongsoran. Daerah potensil terjadi kelongsoran adalah daerah perbukitan dengan kemiringan diatas 40% seperti di bagian tengah Pulau Nias. Kita tentu masih ingat banjir yang melanda wilayah Lahusa yang berdampak luas. Ada ratusan sungai dan anak sungai yang mengairi kepulauan ini yang berpotensi menyebabkan banjir bila tidak terkelola dengan baik. Bencana ini telah menimbulkan kerugian baik korban jiwa, harta benda, rasa traumatik bagi masyarakat yang telah mengalaminya.

Dari berbagai bencana tersebut, diperlukan langkah penanganan yang menyeluruh dan efektif. Dalam konteks penanggulangan bencana sampai saat ini, upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dan para pemangku kepentingan belum optimal dan lebih banyak berupa pemberian bantuan pada era tanggap darurat dan rehabilitasi fisik pasca bencana. Adapun upaya efektif pada tahap pra bencana belum dilakukan dengan baik. Padahal yang juga sangat diperlukan adalah paradigma mitigasi melalui antisipasi bencana untuk tujuan meminimalisir korban dan mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana. Paradigma mitigasi dalam penanggulangan bencana diartikan upaya pengenalan daerah rentan bencana dan dan membekali kesiapsiagaan masyarakat. Dalam konteks pengurangan risiko bencana, mitigasi bencana juga dipahami sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat yang berada pada kawasan rawan bencana untuk menghilangkan atau mengurangi akibat dari ancaman dan tingkat bencana. Mitigasi terhadap ancaman bencana dapat dilakukan misalnya melalui perobahan perilaku yang rentan, melalui penataan pemukiman, peraturan-peraturan bangunan, pengaturan struktur bangunan tahan gempa dan penataan ruang dengan mitigasi bencana sebagai salah satu perspektifnya. Untuk konteks daerah yang rawan bencana seperti wilayah kepulauan Nias, hal ini nampaknya belum diposisikan sebagai kebutuhan. Kesadaran ini perlu dibangun dan diberdayakan, sehingga kelak masyarakat tidak lagi hanya menjadi korban bencana tetapi lebih menjadi sumberdaya penolong bagi dirinya sendiri dan lingkungan dalam keadaan bencana. Kesadaran masyarakat yang terbangun merupakan kesadaran sosial yang meliputi aspek sosial bencana yaitu sistem peringatan dini, antisipasi bencana dan respon saat terjadi bencana, serta kemampuan penanganan pasca bencana. Kesadaran ini merupakan modal sosial untuk membangun budaya mitigasi di dalam kehidupan setiap elemen masyarakat Nias. Langkah perubahan pertama yang diperlukan di tingkat masyarakat dan para pemangku kepentingan adalah adanya transformasi paradigma dari paradigma bantuan/tanggap darurat ke paradigma mitigasi.

Kita menyadari bahwa sistem peringatan dini yang dimiliki negeri ini belum terselenggara dengan baik dan optimal. Namun masing-masing daerah sebenarnya memiliki pengetahuan dan kearifan lokal yang beragam dan berbeda bentuknya. Walaupun istilah yang digunakan berbeda dan cara-cara yang sudah mentradisi tidak sama, semua ini merupakan potensi dalam membangun mitigasi bencana yang berbasis pada potensi kearifan lokal. Kita mengetahui masyarakat Nias memiliki kearifan lokal seperti ini. Konstruksi rumah adat (omo hada) yang tahan gempa, merupakan salah satu bentuk kearifan tersebut. Kemampuan masyarakat tradisionil membaca arah angin, bintang di langit dan memahami gerak gelombang laut merupakan kearifan para pelaut dan nelayan Nias. Waktu menanam saat tesa’a dan cara menanam yang tepat adalah pengetahuan lokal yang dimiliki oleh para petani tradisionil. Seperti di Jawa kita mengenal keguyuban, maka masyarakat Nias memiliki falulusa dan fabanuasa sebagai pilar sosial kebersamaan dan kegotongroyongan. Nias juga memiliki kearifan dalam mengelola partisipasi masyarakat seperti forum fondrakö atau orahu. Tentunya, masih banyak lagi kearifan dan pengetahuan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Nias yang belum disadari dan digali sebagai potensi dalam menata dan mengawal kehidupannya. Kearifan dalam membaca fenomena alam salah satunya, semestinya terus digali dan ditularkan, diinformasikan secara efektif kepada masyarakat sebagai salah satu bentuk upaya mitigasi bencana.

Penataan dan pemanfaatan ruang
Perencanaan dan perancangan pembangunan kabupatan/kota merupakan salah satu langkah strategis dalam rangka mengawal proses pengembangan wilayah yang mampu mengantisipasi dampak bencana. Nias adalah sebuah wilayah tinggal atau rumah bersama berbentuk kepulauan, yang dikelilingi oleh lautan yang sering tidak bersahabat. Dahulu, Nias merupakan subsistem, bagian sistem yang lebih luas yaitu propinsi Sumatera Utara. Nias secara bertahap berkembang dan memuncak dengan pemekaran wilayah dan terbentuknya lima daerah otonom kabupaten-kota yang sudah banrang tentu ingin mengembangkan darehanya masing-masing. Ini adalah sebuah fakta dimana dari sebuah subsistem, Nias berubah menjadi sebuah sistem baru yang terdiri dari lima subsistem yaitu Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunung Sitoli. Walaupun secara administratif tiap subsistem ini otonom namun secara genealogis Nias sejak dahulu kala merupakan satu lingkungan budaya, dan secara geografis menghuni kepulauan yang satu dan sama dan tidak berubah luasnya. Kelima daerah otonom ini memiliki kedekatan alamiah-sosial dimana tiap subsistem dengan subsistem lainnya dalam sistem yang sama. Kelimanya menggunakan ruang hidup yang sama, dengan sumberdaya, infrastruktur, fasilitas yang sangat terbatas dan dayadukung yang semakin lemah karena telah terbagi-bagi, disertai laju pertumbuhan penduduk yang relatif cukup tinggi. Laju pertumbuhan penduduk sudah pasti akan diikuti pengembangan pemukiman, pembangunan sarana fisik, serta terjadinya ekspolitasi terhadap sumberdaya alam yang ada untuk berbagai aktifitas pembangunan. Kemajuan pembangunan yang dilakukan bisa memberi dampak positif berbeda pada tiap wilayah namun penataan pembangunan yang tidak mempertimbangkan keadaan sekitar akan membawa dampak pengaruh negatif yang sama bagi wilayah lainnya. Karena itu harus dihindari keegoisan wilayah diganti dengan komitmen bersama untuk menata ruang kehidupan secara bersama-sama dan secara bertanggungjawab. Rencana penataan ruang dalam pengembangan wilayah kabupaten/kota harus dilengkapi dengan perencanaan mitigasi bencana sebagai bentuk tanggungjawab kepada masyarakat dengan substansi yang memuat aspek-aspek perlindungan terhadap bencana alam, desain arsitektur merancang bangunan dan konstruksi bangunan berwawasan bencana, diiringi peraturan-peraturan dalam melakukan pembangunan dan pengawasan terhadap ketaatan implementasinya, serta kesiapan sosial masyarakat dengan membangun budaya mitigasi. Untuk kepentingan bersama harus menghindari pemanfaatan kawasan yang rawan bencana untuk dikembangkan sebagai kawasan aktivitas dan melakukan upaya mitigasi pemanfaat ruang dengan tidak mengubah zona lingkungan alam yang dapat melindungi terhadap bencana seperti karang pantai, pasir pantai, hutan, lahan vegetatif, kawasan perbukitan dan unsur geologi lainnya yang dapat meredam dan mengurangi dampak bencana. Tujuan esensial dari semua ini adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat untuk mengurangi korban jiwa dan harta benda, kerusakan lingkungan, dan masalah sosial ekonomi akibat bencana.

Wilayah Kepulauan Nias adalah kumpulan pulau-pulau kecil yang berada pada zona 6 didasarkan atas jenis litologi dan jumlah bangunan yang ada. Zona kegempaan yang ekstrim ini membutuhkan perlakuan mitigasi yang khusus tidak hanya dari sisi fisik namun juga kesiapan manusianya. Aspek keberlanjutan lingkungan harus diperhatikan terutama dalam konteks menjawab kebutuhan pengurangan resiko bencana dan eksploitasi sumberdaya alam untuk pembangunan fisik dan program pembangunan. Dalam penataan wilayah kepulauan Nias perlu memperhatikan faktor keamanan serta efisiensi pemanfaatan ruang dan infrastruktur untuk mewadahi seluruh kehidupan masyarakat yang hidup di dalamnya. Perlu pula diperhatikan potensi dan prospek perkembangan kabupaten/kota dengan memberdayakan partisipasi masyarakat dalam seluruh prosesnya. Gempa bumi tahun 2005 mencatat bahwa korban jiwa terbanyak adalah pada wilayah pemukiman padat yang sarat dengan bangunan berbahan beton. Korban jiwa semakin banyak karena tanpa kesiapsiagaan, diperparah dengan keterbatasan peralatan dan kelambanan penanganan. Karena posisi geografisnya jauh terpencil, bantuan tambahan dari wilayah lain terlambat tiba. Karena itu, masyarakat perlu dilibatkan dalam upaya penanggulangan bencana karena merekalah jiwa-jiwa yang berkepentingan untuk selamat dari bencana, mereka pula yang mengenal secara geografis wilayah pemukimannya dan memahami berbagai berbagai konteks sosial kehidupannya. Dalam kaitan ini, diperlukan sebuah sitem penataan ruang wilayah Kepulauan Nias sebagai sebuah payung yang menaungi setiap levelnya, yang mampu menjamin terwujudnya bukan saja lingkungan wilayah yang indah dan nyaman, tetapi juga aman bagi seluruh masyarakat serta memberikan keuntungan jangka panjang bagi setiap wilayah melalui pengembangan sosio-kultural masyarakat dan keterjaminan keseimbangan ekologi. Dalam konteks ini, potensi kearifan lokal melalui pemahaman pengetahuan lokal, teknologi lokal, budaya dan tradisi lokal yang telah terbukti dan teruji dikonstribusikan dalam perencanaan mitigasi bencana. Cukup banyak kearifan lokal yang telah mentradisi dan teruji mampu mengatasi masalah-masalah lingkungan berbasis mitigasi bencana. Salah satu contoh adalah sistem ‘subak’ di Bali yang dikenal sebagai pola pengelolaan tanah pertanian dan sistem tata kelola air yang mampu mengelola lingkungan lereng gunung rawan longsor untuk tetap terjaga stabilitas tanahnya. Pola ini bukan hanya mengurangi dampak longsor tetapi juga yang secara sosio-kultural mampu menjaga keharmonisan masyarakat petani.

Pendidikan dini mitigasi
Dalam UU No. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana mitigasi bencana didefinisikan sebagai sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Namun dalam implementasinya ke masyarakat masih sangat minim akibatnya masyarakat terutama di wilayah rawan bencana belum memiliki pengetahuan memadai akan kebencanaan dan tidak mempunyai kemampuan adaptif dengan keadaan dan proses pemulihan pasca bencana. Pengetahuan masyarakat tentang kearifan lokal terasa semakin menurun karena kurang sosialisasi dan pembinaan. Karena itu peningkatan kesadaran dan pemberdayaan masyarakat sangat mutlak diperlukan. Seiring dengan itu, penggalian terhadap kearifan lokal sangat diperlukan karena memberikan pemahaman dan panduan dalam lingkup tradisi lokal bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk pengetahuan ciri-ciri bencana dan larangan melakukan kegiatan yang merusak lingkungan atau keseimbangan ekosistem. Menggali potensi kearifan lokal yang ada di dalam masyarakat Nias dapat dilakukan dengan melalui pendekatan partisipatif serta melibatkan dukungan banyak pihak seperti budayawan, sosiolog, tokoh masyarakat dan pendidik. Kearifan lokal yang mulai kurang dikenal dan dihayati dapat diformat dalam bahasa publik, bahasa sehari-hari yang mudah dipahami. Budaya mitigasi berbasis kearifan lokal perlu dibangun sejak dini dalam diri setiap elemen masyarakat untuk mewujudkan masyarakat yang berdaya sehingga dapat meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh bencana. Dalam hal ini, mitigasi dibangun bukan pula hanya sebagai sistem peringatan dini tetapi ia menjadi sebuah budaya dalam perilaku masyarakat. Langkah efektif yang bisa dilakukan antara lain adalah melalui pembekalan kepada masyarakat baik melalui pendidikan di bangku sekolah maupun pelatihan kepada masyarakat umum. Pengetahuan tentang kebencanaan seyogianya menjadi muatan lokal di wilayah yang paling rawan gempa. Pendidikan di sekolah bagi siswa sangat strategis untuk menanamkan pengetahuan tentang kebencanaan sejak usia dini dan sosialisasi tentang kearifan lokal yang dimiliki daerah tersebut. Sekolah adalah sarana yang efektif, dimana dengan peran guru terhadap murid mampu mendorong terbangunnya budaya mitigasi dalam lingkup sekolah dan keluarga.

Sesungguhnya banyak cara kreatif untuk melakukan sosialisasi, diantaranya melalui pelatihan, penyuluhan dan simulasi. Materi yang disosialisasikan berupa panduan yang sifatnya sederhana sehingga mudah dipahami, mudah dibuat, dan dikemas menarik perhatian sesuai dengan daya tangkap masyarakat. Mengembangkan kemampuan masyarakat dalam pengetahuan dan teknologi lokal, serta kelembagaan lokal yang mereka miliki akan lebih mudah bila dapat dikomunikasikan dengan bahasa yang mereka pahami. Upaya lainnya dalam penguatan peran pemangku kepentingan lainnya seperti pemda dalam penanggulangan bencana dapat dilakukan melalui pemberian pelatihan kepada aparatnya yang mencakup pemahaman mengenai kebijakan yang mengatur tentang pengelolaan kebencanaan saat dan pasca bencana, memberikan pelatihan menggunakan perangkat-perangkat sistem peringatan dini, atau mendukung usaha preventif kebencanaan lainnya. Membangun kesiapsiagaan dalam menghadapi dan pengurangan risiko bencana harus dilakukan secara menyeluruh dan terus menerus dengan komitmen penuh. Sudah saatnya pula kita pula belajar menghargai, itikad baik untuk memelihara lingkungan dan upaya positif masyarakat dalam mitigasi dapat diberi perhatian dan dukungan karena telah berkontribusi bagi kepentingan banyak orang. Ini sangat efektif dalam membangun budaya mitigasi, dan disinilah kebersamaan itu memiliki arti yang sesungguhnya.

Tulisan ini sangat jauh dari sempurna, tujuannya sederhana sebagai pembuka wawasan dan guna mengingatkan semua pihak agar jangan menunda dan jangan terlupa. Upaya membangun budaya mitigasi harus dimulai dari sekarang dan tidak perlu menunggu sampai bencana yang lebih besar datang tiba-tiba tanpa diduga. Ya’ahowu! /egnt

* Penulis adalah pemerhati budaya dan pariwisata Nias, dan Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit.

Pembukaan Jalur Laut Singkil-Gunung Sitoli Disambut Positif

Monday, September 20th, 2010

Warga yang berdomisili dan yang kini menetap di Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam menyambut baik dibukanya jalur transportasi laut Singkil-Gunung Sitoli Sumatera Utara.

Tokoh masyarakat Nias di Subulussalam Daniel Lase mengaku dengan dibukanya transportasi laut Singkil-Gunung Sitoli, diperkirakan jalur itu akan ramai mengingat banyaknya warga Nias yang selama ini jarang pulang ke kampung halaman untuk menjenguk sanak famili karena biaya yang terlalu mahal.

“Kalau kita melalui darat selain memakan waktu cukup lama, juga harus mengeluarkan uang banyak. Tapi kalau melalui jalur laut dari Singkil, waktunya singkat dan biaya juga sedikit,” ujar Lase.

Hal senada diungkapkan Aristo Hulu. Pria yang juga pengurus salah satu LSM di Subulussalam ini memberi apresiasi positif kepada Bupati Aceh Singkil yang telah menggagas dibukanya jalur transportasi laut tersebut.

“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah Aceh Singkil khususnya kepada Bakap Bupati Aceh Singkil Makmur Putra SH MM dan Walikota Gunung Sitoli yang telah sepakat membuka jalur laut. Intinya kita sampaikan Sauhagõlõ-lah (terimakasih-red),” katanya.

Menurut Aristo, selain dapat mempererat hubungan antara Singkil-Subulussalam dengan Nias, juga ia yakin warga non Nias yang ada di daerah Singkil dan Subulussalam juga akan tertarik berkunjung ke Nias, mengingat di sana banyak obyek-obyek wisata yang sangat menarik, yang selama ini memang belum banyak dikenal masyarakat luar Nias, khususnya warga Subulussalam.

Masruman Telaumbanua salah seorang tokoh masyarakat Nias di Singkil yang juga anggota DPRK setempat mengaku bersyukur kepada Allah SWT karena hal ini sudah merupakan aspirasi dari seluruh masyarakat Nias yang ada di bumi Syakh Abdul Rauf itu dan dapat direspon pemerintah Aceh Singkil.

Untuk itu ia juga menyampaikan terima kasih kepada Ketua DPRK Putra Arianto SH dan Bupati Aceh Singkil H Makmursyah Putra SH MM serta jajaran Pemko Gunung Sitoli yang telah dapat bekerja sama membuka jalur transportasi laut itu.

Saat ditanya keuntungannya dibukanya jalur trasnportasi laut antara Singkil-Gunung Sitoli, Masruman mengatakan sangat besar manfaatnya. “Bila melalui darat apalagi via Medan ke Singkil akan memakan waktu hingga 24 jam, sementara bila melalui jalur laut hanya berkisar 5 atau 6 jam saja. Jadi sangat jauh perbedaannya. Jadi sangat sangat banyak keuntungannya bilamana kita melalui laut,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui jalur laut Singkil-Gunung Sitoli resmi dibuka, Rabu (15/9) lalu yang ditandai dengan pelayaran perdana sekaligus kunjungan kerja Wakil Bupati Aceh Singkil Drs H Khazali Bahar didampingi Asisten I Drs H M Yakub KS MM, Asisten II Drs Azmi, sejumlah kepala SKPD termasuk kepala cabang ASDP Singkil Agus Priyanto, serta beberapa anggota DPRK ke Gunung Sitoli, yang diterima Sekdako Gunung Sitoli Drs Kemurnian Zebua BE dan pejabat setempat di pelabuhan Gunung Sitoli.

Pelayaran ini sendiri akan dilakukan sekali seminggu setiap Selasa malam dengan menggunakan kapal Fery KM Teluk Singkil dengan tarif Rp 51.000 per-orang. (www.harian-global.com – 20 Sep 2010)

Enam Calon Penumpang Wings Air Mengamuk

Monday, September 20th, 2010

Gunungsitoli: Enam calon penumpang Wings Air mengamuk di counter check Bandar Udara Binaka, Gunungsitoli, Nias, Sumatra Utara, Jumat (17/9). Tiket mereka dibatalkan petugas kala check in.

Keenamnya calon penumpang ke Bandara Polonia, Medan. Menurut petugas, pembatalan tiket enam calon dikarenakan nama mereka tak terdaftar. Identitas mereka berbeda dari calon penumpang yang hendak diberangkatkan. Penumpang berang. Mereka merasa diperlakukan tidak adil.

Seorang calon penumpang marah hingga tercipta perdebatan dengan petugas. Soalnya, ada penumpang lain diloloskan masuk pesawat padahal identitasnya juga tidak sama. Petugas mengatakan kebijakan tersebut beralasan semakin banyaknya calo di Bandara Binaka. Itu dirasa bisa memperburuk citra Wings Air.

Enam penumpang itu mengaku sepekan belakangan kesusahan mendapat tiket. Mereka mendapat tiket dari calo dengan harga Rp750 ribu hingga Rp850 ribu. Padahal di tiket tertera Rp550 ribu. (www.metrotvnews.com – 17 Sep 2010)

Pemko Gunungsitoli-Aceh Singkil Jalin Kerjasama Bangun Daerah

Monday, September 20th, 2010

Gunungsitoli – Kerjasama yang dijalin antara Pemerintah Kota Gunungsitoli dengan pemerintah Kabupaten Aceh Singkil cukup menjanjikan dan saling menguntungkan kedua daerah. Hal ini dilakukan sebagai upaya menerobos keterisoliran dan memperlancar arus transportasi kepulauan Nias dengan daratan Sumatera.

Hal itu diungkapkan Walikota Gunungsitoli, Drs Martinus Lase, M.SP kepada Analisa usai melakukan pertemuan dengan Wakil Bupati Aceh Singkil Drs H Khazali Rabu malam, (15/9) di Wisma Soliga Gunungsitoli.

“Kita yakin hubungan kerjasama yang dilakukan ini cukup menjanjikan dan saling menguntungkan kedua daerah. Dari disisi transportasi untuk menuju Kota Provinsi Sumatera Utara di Medan waktu tempuh relatif lebih dekat bila dibandingkan bila melalui jalur Sibolga. Terlebih dari sisi ekonomi kita yakin hal ini cukup menjanjikan”, kata Walikota Gunungsitoli.

Lebih lanjut Walikota menjelaskan, dengan masuknya arus trasportasi laut melalui Aceh Singkil ini pihaknya akan segera mensosialisasikannya kepada masyarakat.

Dengan terbukanya jalur trasportasi melalui Aceh Singkil banyak manfaatnya bagi masyarakat Nias.

Contoh bila dibandingkan transportasi laut Gunungsitoli-Sibolga memakan waktu 10 hingga 11 jam dalam pelayaran. Sibolga-Medan dengan perjalan darat memakan waktu 9 hingga 10 jam.

Sementara bila melalui Aceh Singkil secara ekonomis waktu tersebut bisa terpotong yakni dalam pelayaran Gunungsitoli-Aceh Singkil hanya memakan waktu 5 hingga 6 jam dan perjalan darat dari Aceh Singkil ke Medan Kota Provinsi Sumatera Utara hanya memakan waktu 6 hingga 7 jam.

Ekonomi

Kemudian, disisi ekonomi hal ini ke depan akan lebih dipertajam lagi, sehingga hasil bumi dari Gunungsitoli atau Nias seperti pertanian, sayur-sayuran buah-buahan dan lainya dapat dipasarkan di Aceh Singkil.

Sebaliknya produk-produk dan hasil bumi dari Aceh Singkil juga dapat dipasarkan di Gunungsitoli.

Untuk lebih mempererat hubungan tersebut ke depan, pihaknya akan merencanakan pertemuan berkala antara kedua daerah untul lebih mengetahui apa hal-hal yang dapat dikerjasamakan lebih lanjut, serta pihaknya akan mencoba menyampaikan hal itu dalam pertemuan berkala dengan empat daerah otonom yang ada di wilayah Pulau Nias.

Sementara itu, Wakil Bupati Aceh Singkil Drs H Khazali saat ditanya Analisa motivasi Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kota Gunungsitoli Drs H Khazali mengatakan, secara histori Aceh Singkil dengan Nias ratusan tahun lalu telah ada hubungan emosional, terbukti di Aceh Singkil hampir 40 persen masyarakat Nias.

Selanjutnya, dalam sisi ekonomi banyak hal-hal yang dapat dikerjasamakan untuk mensejahterakan masyarakat kedua daerah baik Aceh Singkil maupun Gunungsitoli.

“Tadi saya dengan yang lain jalan-jalan ke pasar Gunungsitoli, contoh kecil harga pisang di Gunungsitoli relatif lebih murah dibanding di Aceh Singkil. Satu tandan pisang ambon di Gunungsitoli hanya Rp10 ribu, sementara bila di Aceh Singkil bisa mencapai Rp. 40 ribu pertandan. Tentunya dengan dibukanya hubungan kerjasama ini kedepan tidak tertup kemungkinan harga satu tanda pisang ambon di Aceh singkil bisa turun”, katanya.

Kedatangan sekitar 100 orang rombongan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil yang di pimpinan oleh Wakil Bupati Aceh Singkil di Kota Gungsitoli disambut oleh Sekda Kota Gunungsitoli di Aula Samaeri Kantor Walikota Gunungsitoli. (Analisa, 16 September 2010)

Jepang Dukung Situs Bawömataluo Jadi Nominasi Warisan Dunia

Saturday, September 11th, 2010

POZNAN, POLANDIA – Pemerintah Jepang menyatakan minatnya untuk mendukung peninggalan budaya berupa rumah adat tradisional di Desa Bawömataluo (Bawömataluo site), menjadi nominasi warisan dunia (world heritage). Selain dukungan terhadap daerah kunjungan wisata andalan di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara tersebut, Jepang juga memberikan dukungan yang sama untuk Tana Toraja, Sulawesi Selatan. (more…)

Anggota KPU Sumut Diancam Bunuh

Tuesday, September 7th, 2010

Medan, (Analisa) — Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut, Turunan B Gulo menerima ancaman bunuh dari orang tak dikenal. Ancaman itu disampaikan melalui pesan singkat.

“Ancaman ini ada kaitannya dengan penetapan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan,” kata Ketua KPU Sumut, Irham Buanan Nasution SH MHum didampingi Turunan B Gulo, kepada wartawan, Rabu (1/9) di gedung KPU Sumut Jalan Perintis Kemerdekaan Medan. (more…)

Terkait Dugaan Pengganti Ijazah Palsu, Bupati Nias Selatan Lapor Polisi

Tuesday, September 7th, 2010

Gunungsitoli, (Analisa) : Karena menganggap para kepala sekolah memberikan keterangan palsu, Bupati Nias Selatan Fahuwusa Laia SH MH yang merupakan salah satu kandidat yang telah mendaftar diri di Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Nias Selatan pada Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan Periode 2011-2016 melapor ke Polres Nias, Minggu, (5/9). (more…)

Drs Nasman Manaõ Gugat Warga, Camat dan BPN Nisel Rp 1,7 M

Friday, September 3rd, 2010

Medan – Drs Nasman Manaõ (41),warga Teluk Dalam Nisel(Nias Selatan), melalui kuasa hukumnya Edi Suprasetio SH dan Budi Utomo SH menggugat 5 warga setempat, serta Camat Teluk Dalam dan Kepala Kantor Pertanahan Kab Nisel, memohon supaya dinyatakan tidak sah pengalihan (jual beli) tanah miliknya berulang kali dengan objek yang sama,di Sungai BOI Desa Pasar Teluk Dalam Nisel.

“Gugatan yang kita ajukan di PN Gunungsitoli sejak 16 Agustus 2010 lalu kini sedang proses sidang tahap mediasi oleh majelis hakim diketuai Bangun Sagita Rambe SH dibantu panitera pengganti Z Harefa,” kata Edi Suprasetio SH, Rabu (1/9) di Medan. Diinformasikannya, Nasman Manaõ yang juga dikenal sebagai Ketua KNPI di daerah itu, menuntut kerugian materil/moril Rp 1,7 miliar.

Diuraikan dalam gugatan, Nasman Manaõ ada memiliki tanah seluas 6.853 M2 yang dibelinya dari secara jual beli dari Rosiami Manaõ (isteri Alm Khistof Akaoladodo Gaho) sesuai akta jual beli 12 April 2010.

Ternyata sebelum dijual ke Nasman Manaõ, tanah itu pernah dijual Khistof Akaoladodo Gaho (Tergugat I dalam perkara ini diwakili ahli warisnya) kepada Maehaena Harita di bawah tangan, sesuai surat 16 Agustus 1983. Kemudian, Maehaena Harita mengalih kannya lagi ke Rosiami Manaõ (isteri alm Khistof Akaoladodo Gaho) di bawah tangan tertanggal 4 Agustus 2002.

Ternyata tahun 1996, tanah yang pernah dijual Tergugat I (Khistof Akaoladodo Gaho) itu kepada Maehaena Harita itu, juga dijual Tergugat I kepada Faluazisokhi Fau (Tergugat II). Lalu Tergugat II menjualnya lagi ke Tergugat III (Idealisman Dachi) yang mantan anggota DPR-RI, sebagaimana dalam surat 24 Mei 2002.

Selanjutnya Tergugat III menjual lagi ke Tergugat IV (Famuata Dachi) sesuai akta jual beli dibuat Camat/PPAT Teluk Dalam (Tergugat V) 29 September 2003 dan sertifikat No 534 diterbitkan Kepala Pertanahan Nisel (Tergugat VI).

Tapi menurut Edi Suprasetio dalam gugatannya, ditemukan ketidak-sesuaian sebab dalam akta jual beli luas tanah disebut 2.515M2 sedang di sertifikat atas nama Tergugat IV luasnya disebut lebih kurang 5.725M2.

Edi menambahkan, selain menempuh perdata, kliennya juga menuntut secara pidana di Pol Nisel dengan tuduhan pemalsuan tandatangan Nasman Manaõ untuk proses penerbitan sertifikat atas nama Tergugat IV. (SIB, 3 September 2010)

Tersangka Korupsi Dilepas

Thursday, September 2nd, 2010

GUNUNGSITOLI – Polres Nias yang menangani kasus dugaan korupsi Dana Desa Siaga Kabupaten Nias Barat Tahun Anggaran 2009 senilai Rp. Rp. 140.250.000, dengan tersangka Kadis Kesehatan Nias Barat berinisial dr. BS. Namun setelah dua minggu dijebloskan dalam tahanan, pihak Polres Nias menangguhkan penahanan tersangka dengan alasan sakit.

Tersangka korupsi Dana Desa Siaga, dr. BS dikeluarkan dari tahanan pada akhir Juli 2010 lalu. Namun sangat disayangkan tersangka diduga hanya menderita penyakit biasa dan tidak pernah menjalani rawat inap di RSU Gunungsitoli. Informasi lainnya menyebutkan tersangka pernah menjalani pemeriksaan di RSU Gunungsitoli namun penyakit yang dideritanya hanya penyakit biasa. Tersangka juga pernah meminta kepada pihak RSU Gunungsitoli surat rujukan untuk berobat ke luar Nias namun tidak diberikan tersangka tidak menderita penyakit parah.

Tersangka ditahan terkait kasus dugaan korupsi dana bantuan program 100 hari kerja Menkes RI untuk operasional desa siaga pos kesehatan desa TA 2009. Dalam kasus ini diperkirakan negara dirugikan Rp140.250.000.

Dikonfirmasi, Kapolres Nias, AKBP Wawan Munawar membenarkan hal itu. (www.hariansumutpos.com – 2 Sep 2010)

Telefon Genggam dan Kelainan Mental dan Fisik Baru

Thursday, September 2nd, 2010

Anda memiliki telefon genggam ? Pertanyaannya mungkin lebih tepat diubah menjadi: berapa telefon genggam di saku celana, baju atau tas Anda saat ini?

Kehadiran telefon genggam telah mempermudah komunikasi kita kepada dunia luar. Akan tetapi pada saat yang sama telefon genggam telah melahirkan kelainan mental dan fisik baru bagi para penggunanya, khususnya para remaja.

Sebuah studi yang dilakukan peneliti Australia mengungkapkan para remaja masa kini menjadi “pecandu teks” (text addicts) dan beresiko mengalami kelainan mental mulai dari depresi hingga ‘sindrom ibu jari repetitif’.

Jenni Carroll, seorang peneliti dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) di Melbourne, Australia, telah melakukan penelitian tentang pengaruh komunikasi modern sejak tahun 2001. Dia mengatakan telefon genggam telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja Australia masa kini. Ia mengatakan kekuatiran, rasa tidak aman, depresi dan kurangnya rasa penghargaan pada diri sendiri merupakan simtom umum dari para pecandu teks (orang-orang yang mengirim pesan-pesan dalam bentuk sms secara berlebihan). Demikian dilaporkan dalam situs news.com.au.

Jenni Carroll mengidentifikasi empat kelainan baru yakni: textaphrenia, textiety, post-traumatic text disorder dan binge texting.

Textaphrenia – anda seakan mendengar telefon genggam anda berbunyi atau bergetar pertanda pesan baru telah datang, padahal tidak. Anda juga sebentar-sebentar mengecek telefon untuk melihat apakah ada pesan baru yang masuk.

Textiety – perasaan gelisah karena Anda tidak menerima atau tidak bisa mengirim pesan (sms). Anda juga mulai memikir yang bukan-bukan tentang alasan mengapa teman Anda belum mengirim pesan atau membalas pesan Anda.

“Dalam kelainan textaphrenia dan textiety, anda merasa tidak ada yang mencintai anda, tidak ada yang menghubungi anda,” kata Jenni Carroll.

Post-traumatic stress disorder mencakup potensi cedera fisik dan mental akibat mengirim banyak pesan secara berlebihan. Hal ini misalya bisa terjadi kalau seseorang mengirim pesan sambil berjalan tanpa menyadari di depannya ada lobang atau kolam renang, atau mengirim pesan sambil menyeberang jalan tanpa menyadarinya.

Anak-anak muda pecandu teks sangat terfokus pada kegiatan itu ketika melakukannya tanpa menghiraukan dunia sekelilingnya.

Di Jepang misalnya dilaporkan ada yang menggerak-gerakkan ibu jarinya secara terus menerus tanpa sadar, dan ada yang ibu jarinya membesar akibat mengirim pesan secara berlebihan.

Binge texting adalah kelainan mental dalam mana penderitanya mengirim pesan banyak-banyak agar merasa tenang sekaligus berusaha memancing balasan.

“Hal ini (binge texting) merupakan kebalikan dari textiety – di mana anda merasa dicuekin, jadi Anda mengirim banyak pesan dan menunggu respons dari pesan-pesan yang anda kirim itu,” kata Carroll.

Gejala di atas tidak hanya ditemukan di Australia. Di Denmark, seorang supir mobil mewah dibawa ke klinik setelah diketahui ia kecanduan mengirim pesan-pesan sms (e-chat) sampai lebih dari 200 per hari. Supir berusia 25 tahun itu bekerja pada malam hari dan menghabiskan jam-jam siang hari untuk mengirim sms. Akibatnya biaya pulsa telfonnya meroket mencapai 12,000 Crown (sekitar Rp 13.5 juta) – hal yang tak mampu ia bayar dari gajinya sebagai seorang supir. Menurut situs the Register, pusat terapi internet di negara Skandinavia itu telah merawat sekitar 60 orang pecandu teks selama kurun waktu 1998 – 2000.

Jenni Collin menyarankan agar para remaja pecandu teks yang mengalami kelainan baru ini hendaknya membangun rasa penghargaan kepada diri sendiri dan mengusahakan komunikasi tatap muka dengan teman-teman.

Para orang tua disarankan agar membuat aturan penggunaan telefon genggam bagi anak-anak mereka, meningkatkan komunikasi dengan anak-anak mereka misalnya melalui acara jalan-jalan atau pada waktu-waktu makan bersama keluarga.

Sumber:
1.  ‘Textiety’ among new disorders, says researcher
www.news.com.au/technology/aussie-teenagers-becoming-a-generation-of-text-addicts/story-e6frfro0-1225885917917
2.  Scandinavian treated in clinic for SMS addiction
www.theregister.co.uk/2000/10/14/scandinavian_treated_in_clinic/

Program Listrik Desa Dibangun di Kecamatan Afulu

Thursday, September 2nd, 2010

Gunungsitoli – Terkait dengan harapan masyarakat, jaringan listrik di Kecamatan Afulu sedangan dibangun melalui program listrik perdesaan sepanjang sembilan kilometer dari anggaran APBN.

Hal itu ditegaskan Kepala PLN Cabang Nias, Didit Hadisantoso di dampingi Lelan Hasibuan yang ditemui Analisa di ruang kerjanya Jalan Yos Sudarso Gunungsitoli, Selasa, (31/8).

“Permintaan masyarakat untuk pembanguan jaringan listrik di wilayah tersebut sebelumnya telah kita terima. PLN Cabang Nias telah mengusulkan hal itu kepada pihak PLN wilayah dan Pusat. Tentunya PLN Nias hanya menunggu realisasi dari pihak PLN Pusat sebagai penentu kebijakan untuk realisasi pembanguan jaringan tersebut,” sebutnya.

Pembangunan jaringan listrik merupakan program Dirjen LPE Kementerian ESDM RI kerjasama dengan PLN. PLN Nias pada program ini hanya sebatas pengawasan.

Ditanya tindak lanjut pembanguan jaringan listrik hingga masuk ke Kecamatan Afulu nantinya, Didit mengatakan, untuk hal itu jika ada tahap kedua dari program Listrik Pedesaan tentunya hal itu akan diusulkan kembali. Tetapi dari PLN Cabang Nias tetap komit dan menunggu realisasi usulan dari pihak PLN yang lebih atas.

Kepala PLN Cabang Nias mengharapkan dukungan dari pemerintah Kabupaten Nias Utara, baik pemerintah kabupaten maupun legislatif bersama-sama mendorong dan meminta PLN pusat segera merealisasikan usulan tersebut.

Kemudian, Ia juga mengakui persoalan pembanguan jaringan listrik untuk masyarakat merupakan persoalan nasional dan tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Nias masyarakat di Pulau Nias. Secara nasional pembanguan jaringan listrik belum seluruhnya tersentuh baru sekitar kurang lebih 60-65 persen.

Sementara di Pulau Nias baru dapat terealisasi sekitar 43 persen. Tentu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, karena harus di evaluasi terlebih dulu tentang neraca daya PLN Cabang Nias. Tetapi untuk saat ini daya listrik di Pulau Nias sudah mencukupi.

Terkait dengan sering padamnya lampu akhir-akhir ini Didit mengatakan, bukan karena sengaja dipadamkan ataupun adanya pemadaman bergilir namun hal ini disebabkan banyaknya gangguan jaringan akibat cuaca buruk.

Ditanya tentang tindak lanjut rencana pengembangan kelistrikan pembangunan PLTD berbahan bakar MFO, dia mengatakan hingga saat ini pihaknya masih menunggu proses pembebasan lahan dari Pemerintah Kota Gunungsitoli.

Tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam pembangunan itu yakni studi kelayakan, survei dan pelelangan serta tahap pengerjaan yang akan dilakukan oleh Independent Power Production (IPP). (www.analisadaily.com)

Irak Berdaulat Kembali

Wednesday, September 1st, 2010

Presiden AS Barack Obama secara resmi mengakhiri perang Irak dengan mengumumkan penghentian operasi tempur di Irak tadi malam. Keputusan bersejarah ini diambil 7 tahun dan 165 hari setelah dimulainya invasi Amerika pada tahun 2003.

Dalam pidatonya kepada rakyat Amerika, Obama mengatakan bahwa Amerika telah membayar harga tinggi untuk perang yang diprakarsai oleh pendahulunya George W Bush untuk menjatuhkan Saddam Husein.

“Malam ini, saya mengumumkan bahwa misi tempur Amerika di Irak telah berakhir. Operation Iraqi Freedom telah selesai, dan rakyat Irak sekarang memiliki tanggung jawab di garis depan untuk menjamin keamanan negerinya,” kata Obama.

Perdana menteri Irak Nouri al-Maliki menyambut gembira pemulihan kedaulatan kepada Irak: “Irak hari ini berdaulat dan merdeka. Dengan penarikan pasukan Amerika, hubungan kita dengan Amerika Serikat memasuki babak baru antara dua negara yang berdaulat yang setara.”

Penghentian perang Irak ini merupakan salah satu janji kunci kampanye Obama pada tahun 2008. Sikap oposisinya terhadap invasi Amerika di Irak turut menolong dalam usahanya menjadi calon presiden dari Partai Demokrat.

“Ini merupakan janji saya kepada rakyat Amerika sebagai calon presiden. Bulan Februari yang lalu, saya mengumumkan sebuah rencana untuk menarik birgade-brigade tempur kita keluar dari Irak, sementara pada saat yang sama menggandakan usaha kita untuk memperkuat angkatan bersenjata Irak dan mendukung pemerintah dan rakyat Irak. Itulah yang telah kita lakukan,” katanya.

Jumlah tentara Amerika di Irak telah menurun dari sebanyak 170 ribu pada tahun 2007 menjadi 50 ribu dengan misi yang berubah dari misi tempur ke bantuan kepada angkatan bersenjata Irak. Ke 50 ribu orang itu dijadwalkan meninggalkan Irak pada akhir tahun depan, kecuali kalau pemerintah Irak meminta beberapa ratus atau ribu untuk tetap tinggal di Irak selama beberapa waktu. (The Guradian/brk)

Nasib Mereka Berjalan Kaki

Wednesday, September 1st, 2010

Catatan: Artikel ini muncul di Majalah Tempo edisi 24 Juni 1978 sebagaimana dikutip dalam buku berjudul: Formal Indonesian karangan John U. Wolff dari Cornell University – Southeast Asia Program. Dalam buku itu, artikel tadi dijadikan sebuah Bahan Bacaan Unit ke 16 bagi mahasiswa yang sedang memperdalam bahasa Indonesia. Pembaca dapat melacaknya di dunia maya dengan mesin pencari google dengan kata kunci: “Formal Indonesian John U. Wolff”. Selamat mengikuti (Redaksi).

Kabupaten Nias jangan dikira hanya terdiri dari Gunung Sitoli. Kota Gunung Sitoli hanya ibukota Kabupaten Nias, salah satu daerah tingkat II di Sumatera Utara. Kabupaten ini terdiri dari 13 kecamatan, 12 di antaranya berada di Pulau Nias. Selebihnya berupa himpunan dari pulau-pulau Batu yang terdiri tak kurang dari 131 buah pulau kecil.

Sejak Menteri Perhubungan (ketika itu Emil Salim) mersmikan lapangan terbang perintis Binaka di Gunung Sitoli April 1976, tiba-tiba saja jarak antara Medan-Gunung Sitoli menjadi dekat. Sebelumnya jarak terdekat ke ibukota Kabupaten Nias ini dari daratan Sumatera melalui Sibolga dengan kapal. Bila cuaca sedang baik, artinya ombak dan badai Samudera Indonesia sedang jinak, jarak yang hanya 80 mil itu akan memakan waktu 12 hingga 15 jam. Sekarang dengan pesawat Merpati tiga kali seminggu, Medan – Gunung Sitoli dapat ditempuh dalam waktu satu jam.

Kesulitan perhubungan antar pulau-pulau itu satu gambaran dari wajah Kabupaten Nias secara keseluruhan. Tapi lebih dari itu, adalah sarana perhubungan di Pulau Nias sendiri.

Jika akhir-akhir ini petani Nias mulai beralih ke tanaman nilam tak salah lagi, ini erat hubungannya dengan keadaan jalan di sana. “Mereka merasa lebih untung bertanam nilam,” kata Bupati Nias, Dalimend, kepada Amran Nasution dari TEMPO.

Sebab dengan menanam padi, berarti mereka membuat penderitaan besar. Untuk memasarkan satu karung padi, sama artinya dengan harus memikulnya berpuluh-puluh kilometer, dengan hasil uang tak seberapa. Sedangkan dengan menjinjing tiga kg minyak nilam saja ke kota terdekat, penduduk pedalaman sudah mendapat hasil lumayan. Di Gunung Sitoli sekarang, tiga kg minyak nilam berharga Rp 8.000.

Rp 450 per jumba
Tapi beralihnya penduduk Nias ke tanaman nilam tak menggembirakan Bupati Dalimend. Selain harga nilam itu tak stabil, juga akhir-akhir ini kabupaten itu harus mendapat suntikan beras ratusan ton tiap minggu. Beras itu dimasukkan pedagang-pedagang dari Sibolga. Namun persoalannya akan menjadi semakin ruwet ketika sampai pada giliran beras-beras itu harus diangkut ke pedalaman: lagi-lagi karena sarana perhubungan yang buruk. Akibat lanjutannya, sedikit saja beras terlambat masuk, harga dapat membubung mencapai Rp 450 per jumba (satu jumba = kira-kira dua kg)*.

Di zaman Belanda dulu pemerintah Belanda pernah membangun jalan (ring road) sepanjang 367 km di Pulau Nias. Karenanya pernah ada tiga jalur jalan dari Gunung Sitoli yang dapat dilalui mobil ke seluruh ibukota kecamatan. Satu jalur menyusur pantai selatan menuju daerah pariwisata Teluk Dalam melalui kecamatan Idanõ Gawo, sepanjang 102 km. Satu jalur lagi dari Teluk Dalam ke daerah Nias Tengah. Jalur jalan ketiga adalah dari Gunung Sitoli ke utara melalui Tuhemberua menyusur pantai sampai Lahewa di ujung utara pulau. Karena jalur-jalur jalan itu menyusur pantai, maka perkembangan kota-kota Nias umumnya berada di sepanjang pantai. Bagian tengah pulau masih diselimuti hutan tanpa manusia.

Sampai tahun 1966 jalam buatan Belanda itu hanya tinggal 50 km saja yang masih dapat dilalui mobil. Selebihnya hancur total. Di masa Pelita ternyata juga tak banyak kemajuan. Jangankan membuat jalur yang baru, untuk memulihkan yang pernah ada saja tak kunjung beres. Menurut Dalimend, melalui APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Sumatera Utara jalan peninggalan Belanda yang digolongkan jalan propinsi itu (lebar tiga meter) baru berhasil direhabilitir sepanjang 145 km. Karena itu jika dari Gunung Sitoli hendak berkendaraan mobil hanya mampu mencapai Tuhemberua di utara dan Idanõ Gawo di selatan.

Pemda (Pemerintah Daerah) Kabupaten Nias sendiri memang turut merancang sejalur jalan kabupaten sepanjang 650 km. Yaitu jalan penghubung desa-desa dengan ibukota-ibukota kecamatan. Tapi karena APBD daerah ini hanya berkisar Rp 480 juta tiap tahun, maka biaya itu sebagian besar habis untuk ongkos rutin. Karena itu rencana pembangunan jalan kabupaten itu sampai sekarang hanya terlaksana 50 km saja. Akibatnya sampai sekarang tak kurang dari delapan kota kecamatan yang masih terkurung (di luar Pulau-pulau Batu), yaitu: Lahewa, Alasa, Gomo, Lahusa, Mandrehe, Sirombu, Lõlõwa’u dan Teluk Dalam. Belum lagi jalan ke desa-desa. Karena itu tak heran jika wabah muntah berak yang menyerang daerah ini dua bulan lalu menelan korban cukup banyak. Karena pertolongan sulit diberikan untuk menyusur desa-desa nun di pedalaman sana dengan kaki atau naik sepeda.

Sampai sekarang agaknya warga Nias harus menerima nasib yang ditakdirkan sebagai pejalan kaki yang patuh. Warga Lahewa misalnya, jika hendak ke Gunung Sitoli, harus menempuh jarak 80 km, 35 km di antaranya dapat dilalui dengan mobil. Selebihnya tak ada pilihan lain: berjalan kaki. Dan inipun, apa boleh buat, harus mereka tempuh, lebih-lebih bila hendak menjual hasil pertanian mereka. Artinya dengan berjalan kaki puluhan kilometer itu, di kepala atau di punggung mereka terjunjung belasan kilo barang dagangan. Belum lagi, harus naik turun bukit dan menyeberang sungai, karena semua jembatan telah hancur.

Mengapa tidak ada kuda? “Bisa menimbulkan ketegangan antar suku,” jawab Bupati Dalimend. Sebab jika seekor kuda sedikit saja merusak tanaman orang lain, maka akan timbul perkelahian yang menyeret suku atau marga. Ternak kuda tak populer di sini, kecuali babi yang rupanya cukup subur.

Gadis-gadis Nias cantik-cantik. Berkulit kuning langsat. Ciri khasnya: betis mereka berotot menonjol seperti pemain bola kaki. Tentu saja, karena sejak kecil merka terlatih berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer. (brk)