Menyoroti Listrik PLN di Nias Yang “Sering Hidup”

“Di Nias ini listrik sering hidup, Pak,” kata Martinus Lase, warga desa Hiliwa’ele, I Kecamatan Botomuzõi, Kabupaten Nias.

“Apa maksudnya ?” tanya Nias Online.

“Ya karena sering mati (padam) maka sering hidup lagi Pak” jelasnya secara berkelakar. Menurut Lase, yang juga adalah Kepala SMA Negeri Botomuzõi, masalah sering padamnya listrik ini sudah berlangsung lama dan kronis. Kejengkelan demi kejengkelan datang setiap saat: ketika sedang menikmati makan malam atau sedang menonton acara kesayangan di televisi atau ketika menikmati acara-acara khusus seperti pesta pernikahan, acara-acara keagamaan seperti Natal atau perpisahan tahun.

“Ia (padamnya listrik – Red) datang kapan saja dia mau,” sambung Lase menjelaskan lebih lanjut kepada Nias Online yang juga ikut merasakan langsung “sering hidupnya” listrik dalam kunjungan di Nias Desember 2008 – Januari 2009. Tak lama setelah Nias Online mengikuti kebaktian akhir tahun di sebuah gereja di Muzõi, ketika masyarakat desa bersiap-siap menyambut datangnya tahun 2009, tiba-tiba saja listrik padam dan buyarlah keinginan masyarakat untuk menikmati kebersamaan tahunan itu di bawah siraman cahaya lampu listrik PLN. Untung mereka memiliki cadangan berupa sebuah genset.

“Kadang – kadang ketika sedang memfotokopi dokumen atau prosesing foto di komputer, listrik tiba-tiba saja padam,” keluh Rezeki Waruwu, warga desa Balõhili, anak muda pemilik usaha mesin fotokopi dan pembuatan foto di Muzõi. Dan itu berarti kerugian waktu, rusaknya hasil fotokopi atau prosesing foto, berhentinya kegiatan usaha selama berjam-jam, dan kejengkelan yang terpaksa ditahankan.

Tiga tahun sebelumnya, ketika Nias Online berada di Nias Desember 2005 – Januari 2006, hal yang sama sudah dirasakan masyarakat di Nias. Artinya, dalam tiga tahun terkahir, belum ada langkah apapun yang diambil PLN yang berdampak menekan masalah sering hidup-nya listrik ini.

Bahkan ketika Nias Online mengontak salah seorang informan di kota Gunungsitoli malam Selasa (13/4) beberapa menit sebelum tulisan ini ditayangkan, diinformasikannya bahwa kini pemadaman listrik PLN di kota Gunungsitoli rata-rata 3 kali dalam seminggu.

Karena kondisi sering hidup itu, masyarakat Nias semakin terbiasa dengan solusi darurat berupa penyediaan genset, khususnya untuk acara-acara penting seperti pesta pernikahan, acara syukuran dsb.

Kunjungan anggota DPD RI asal Sumut Parlindungan Purba ke Nias baru-baru ini berhasil mengangkat ke permukaan masalah kronis ini (lihat berita: Dua Unit Mesin PLTD Gunung Sitoli Rusak). Berikut ini alasan atau penjelasan klasik yang diberikan oleh Manager Pembanggkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Gunung Sitoli JP Sumbayak kepada Senator Purba:

“Perbaikan mesin ini kita upayakan selesai secepatnya. Selain sulitnya mendapatkan onderdil, perbaikan mesin juga membutuhkan tenaga ahli yang benar-benar mengerti tentang mesin pembangkit listrik tenaga diesel”.

Pernyataan/penjelasan sumbayak ini masih melahirkan sejumlah pertanyaan baru. Pertama, apa sebenarnya pengertian secepatnya dalam kamus PLN yang notabene sebuah perusahan besar bertaraf nasional. Apakah dalam manajemen PLN, tidak ada batasan waktu yang lebih konkrit, misalnya: dalam waktu sekian (diisi dengan angka jelas) minggu atau bulan? Mengapa perusahaan sekaliber PLN masih memakai istilah karet semacam secepatnya ketika berurusan dengan pemenuhan kewajiban PLN bagi masyarakat luas?

Kedua, apakah dengan selesainya perbaikan kedua mesin yang sedang rusak, masyarakat Nias akan menikmati pasokan arus yang lebih manusiawi – artinya tidak “sering hidup” ? Hal ini patut dipertanyakan mengingat berdasarkan keterangan Sumbayak dalam berita yang sama, Nias masih akan tetap defisit pasokan daya listrik sebesar 2 MW.

Alasan sulitnya mendapatkan onderdil dan sulitnya mendapatkan tenaga ahli yang benar-benar mengerti tentang mesin pembangkit listrik tenaga diesel sebagai penyebab belum diperbaikinya kedua mesin PLTD yang rusak adalah hal yang membuat kita patut geleng-geleng kepala. Onderdil dan tenaga ahli yang dimaksud tentu saja tidak ditemukan di Nias. Akan tetapi PLN tidak hanya beroperasi di Nias, melainkan memiliki cabang-cabang di seluruh di Indonesia yang tentu saja bisa menyumbangkan onderdil dan meminjamkan tenaga ahli untuk memperbaiki mesin PLTD yang rusak di Nias.

***
Kita patut berterima kasih kepada Senator Parlindungan Purba yang berhasil mengangkat ke permukaan masalah pasokan listrik di Nias ini. Namun, sebelum Senator Purba datang ke Nias, keprihatinan yang sama telah dikemukakan oleh para wakil rakyat dan tokoh-tokoh masyarakat lain sebelumnya. Berita terkait tentang masalah pasokan listrik PLN di Nias / Sumut dapat dilihat di situs ini dengan memasukkan kata kunci “PLN” dalam kotak pencarian di bagian kanan atas halaman depan situs ini. Itu berarti, keprihatian Senator Purba telah menjadi keprihatinan para wakil rakyat dan tokoh masyarakat lain jauh-jauh hari sebelum Senator Purba datang ke Nias. Ini juga berarti bahwa tanpa follow up – meminjam istilah pemberi komentar pada berita Dua Unit Mesin PLTD Gunung Sitoli Rusak -  maka hasil lawatan Senator Purba di Nias tidak akan mengubah keadaan.

Semoga PLN, para pejabat dan para tokoh yang sering mengatasnamakan kepentingan rakyat lebih serius menangani masalah kelistrikan di Nias. (eh)

Leave a comment ?

11 Responses to Menyoroti Listrik PLN di Nias Yang “Sering Hidup”

  1. Daniel Gunawan says:

    saya sangat gembira jika issu listrik ini terus diangkat, apalagi Bapak Parlindungan Purba sudah mendengar sendiri tentang masalah listrik yang terus padam ini. Dengan padamnya listrik, tidak 1 orang saja yang merasa dirugikan tetapi benda yang tidak bernafaspun merasa dirugikan (alat-alat elektronik bisa rusak). bayangkan jika saja benda-benda mati tersebut bisa bernafas, maka mereka juga akan menyampaikan isi hati mereka kepada PLN, apalagi kita. saya juga mau mengatakan bahwa PLN harus betul-betul memperhatikan rakyat, jangan rakyat dirugikan dengan kondisi ini. Kalau listrik padam, PLN hanya bisa menjawab “mohon maaf atas kesalahan ini, kami akan memperbaiki secepatnya”. Tapi jika para pelanggan atau pemakai jasa listrik terlambat membayar tagihan listrik, tidak ada keringanan sama sekali dari PLN, apakah ini adil????? kalau saya berpikir, PLN lebih banyak merugikan rakyat, kalau lebih adilnya jika listrik padam, maka tagihan juga bisa dipertimbangkan.
    Terimakasih

  2. Martinus Gea says:

    Masalah sering padamnya listrik khususnya di Nias, ibarat kanker yang sulit dapat obat, dimana korbannya tinggal menunggu ajal. Kurang lebih sperti itu kondisi kelistrikan di kepulauan Nias saat ini. Bulan September 2008 yang lalu, PLN ranting Gunungsitoli mengadakan pertemuan di PLN Wilayah II Medan, dengan mengundang Pemerintah daerah Nias dan Nias Selatan, anggota DPRD, akademisi dan para praktisi dmana saya sendiri termasuk peserta, untuk membahas krisis kelistrikan dan peningkatan status PLN ranting gunungsitoli menjadi cabang. Semua kemelut yang melanda “dunia kegelapan” yang dialami oleh masyarakat kepulauan Nias, sudah disampaikan dan pada saat itu kami begitu senang, karena ada tanggapan serius dari pihak PLN untuk segera menangani masalah ini, bahkan manajer PLN ranting Gunungsitoli pada saat itu, mengatakan bahwa : mulai tahun 2009, PLN ranting Gunungsitoli tidak akan mengalami lg pedaman, karena ada penambahan daya. Betul memang pepatah yang mengatakan bahwa “memang lidah tak bertulang, lain di bibir lain di hati”. Sampai sekarang ini belum ada tindakan cepat dari pihak PLN ranting Nias untuk membuktikan janjinya.

  3. Wilman A.T. Telaumbanua says:

    Seharusnya dgn adnya peningkatan kebtuh nlistrik di Nias mestinya ada antisipasi dr pihak terkatit terutama PLN Ranting Gusit dan PLN Wil II Medan. Saya sangat prihatin atas kondisi listrik di Nias yg jarang Hidup. kenyataan di Lapangan, sekarang masyarakat Nias banyak yg menggunakan Genset pd malam hari, listirk hanya hidup pd siang hari dan itu pun hanya beberapa jam saja lalu mati lagi, Mungkin bagi warga yang ekonominya mampu dpt membeli Genset, tapi bagaimana dgn warga yg ekonominya pas-pasan..? Sudah sangat pasti hal ini sangat mengganggu aktifitas masyarakat pada malam hari, ini harus segera mendapat respon yg baik dr pihak PLN dan juga Pemda Nias, dan juga Pemda Sumut, dan kalo bisa harus dikoordinasikan ke Pusat di JAKARTA

  4. Husen Zebua says:

    Aq sbg siswa merasa terganggu dgn adanya pemadaman secara tiba-tiba, nggak konsen belajar jadinya…..kemudian aq iri sama yg ada di kota hampir setiap hari listrik nyala ama mereka sedangkan kami di desa…..hemmmm la’ua na’auri fa 2 hari sahari mano na’i balo auri….maunya klo ada kebijakan ya semua merasakanlah jgn hanya kami yg ada di kampung ( arah alasa )

  5. sylvia says:

    yg memnutuhkan genset dgn harga terjangkau dan kualitas yg bagus silakan hubungin 085883582828,93060737 sylvia

  6. sylvia says:

    dengan berbagai merk genset dan box silent merk highlander..merk genset cumimns,perkins,honda,volvo,mwm,merci,mitsubishi dll mau built up maupun cina..menyesiakan sewa genset,menerima jual beli genset second,rekondisi ..menyediakan panel ats amf dan segala peralatan dan spare part genset..silakan hubungan workshop kita di pergudangan prima centre2..sylvia 085883582828 dan 93060737..thanks

  7. Aliozisokhi Fau says:

    Sungguh ironis PLN di Nias. Ketika saya masih duduk di DPRDSU masa bakti 2004-2009, saya dan Pak Analisman Zalukhu berada di Komisi D berjuang agar status PLN Gunungsitoli dinaikan dari Ranting menjadi Cabang. Hal itu sudah terwujud dan kita berharap agar pemadaman listrik di Nias tidak ada lagi akan tetapi saya melihat dalam satu tahun ini tidak ada ubahnya sebelum dan sesudah dinaikan statusnya.Keresahan masyarakat Nias terutama para pengusaha tidak dapat dihitung berpa kerugian yang mereka derita akibat tidak stabilnya PLN di Nias. Alat-alat elektronik keluarga sering rusak karena terbakar, Maka kami usulkan kepada Pemda Kabupaten/Kota di Nias
    1.Mengambil alih PLN Cabang Gunungsitoli lalu menambah dayanya dan setelah itu diserahkan kepada Pihak ke-3 untuk mengelolanya, atau
    2.Mensubsidi terus PLN dengan harapan PLN semakin baik dan tidak ada pemadaman lagi, atau
    3.menyiapkan mesin listrik yang baru dan menggunakannya pada saat-saat tertentu jika PLN hidup-mati tak menentu.

  8. Desman Lase says:

    q sungguh prihatin keadan masyarakat nias/ gunungsitoli dengan k;adan listrik sperti ini,, banyak org mereka menyesal membayar rek. listrik yang begithu mahal sementara pemakaian ndak puas!!! kemarin malam entah tggal berp krg thu pasti kejadiannya mlm, q lg menikmati mkn mlam eh tiba2 padam listrik, apa y9 terjadi mkanan q masuk di lubang hidung. tp y9 q tanyakan apakah padam listrik di akibatkan keruskan, etau emang di segaja oleh pihak PLN???

  9. Emanuel Harefa, Ir says:

    Bulan Juli 2009 saya pulang ke KOTA Gunung Sitoli karena orang tua kami meninggal, kondisi listrik lebih parah dari awal tahun 80-an, dan pada Januari – Februari 2010 bersama seluruh keluarga kami jauh dari pelosok padalaman Kalimantan pulang ke Nias, ternyata kondisi listrik semakin parah, bahkan anak-anak kami mengatakan kita bukannya ke KOTA tapi lebih persisnya kita semakin ke pedalaman Kalimantan yang memang masih belum mengenal yang namanya PLN.
    Kondisi diatas, itu yang terlintas bagi kita saat ini di Nias ketika berbicara tentang PLN dan pertanyaannya KAPAN KONDISI INI BERAKHIR……..?
    Ini sungguh hal yang memprihatinkan kehidupan masyarakat Nias saat ini yang tentunya memberikan dampak yang luas terhadap perekonomian masyarakat dengan cost / biaya tinggi, bagaimana tidak……..?
    Untuk penerangan bagi warga harus menyiapkan dua alat : 1. PLN atau 2. lampu teplok / lilin atau Genset kecil bagi yang mampu (khusus pemakai genset kecil mereka tidak menyadari ancaman dan resiko yang ditimbulkan oleh pemakaian genset ini).
    Bagi dunia usaha yang menggunakan tenaga listrik tentunya mereka harus berpikir ulang untuk kelanjutan usahanya, belum bagi investor besar yang tentunya akan mempertimbangkan untuk melirik pulau Nias.
    Pada kesempatan ini kami berharap kepada pihak terkait baik Pemerintah, DPRD dan lapisan masyarakat untuk mendesak PLN merealisasikan semua janji-janjinya…… kalau hanya masalah sparepart / onderdil dan teknisi sebaiknya pemerintah, DPRD bersama masyarakat agar menfasilitasi untuk pengadaannya (mis teknisi dikontrak dalam waktu tertentu mungkin dengan biaya yang lebih tinggi tapi waktu penyelesaian lebih cepat), karena kalau hanya mengandalkan yang ada di Gunung Sitoli itu akan terus menjadi asalan / tameng PLN untuk menghindar dari tanggungjawabnya.
    Jika PLN tidak sanggup sebaiknya perlu dipikirkan alternatif lain dengan mengundang pihak swasta berinvestasi atau penyertaan modal oleh Pemda demi kesejahteraan rakyat tentunya dengan koridor hukum dan tatanan yang ada serta menjauhkan diri dari praktek KKN.

    Semoga masalah ini cepat teratasi dan cerita menggelitik yang ada dibenak anak-anak kami saat ini katanya di Nias itu kalau PLN mati maka ternak babipun ikut berpuasa (karena sudah banyak yang mengandalkan dinamo (Garezo) untuk mencacah daun ubi sebagai pakan ternak), itu yang terlintas dan dilihat oleh mereka saat di Nias.

    Terimakasih dan mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, semoga bermanfaat bagi kita.

    Ya’ahowu………

Leave a Comment

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Trackbacks and Pingbacks: