Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen

Pengantar Redaksi: Artikel berikut muncul di Nias Portal pada tanggal 19 Februari 2004. Isinya masih cukup aktual.

Sebuah wawancara dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht dari Universitas Münster, Jerman September 2002 Prof. Dr. med. Kennerknecht dari Universitas Münster mengunjungi Nias dengan proyek khusus. Dalam rangka proyek itu pula ia akan mengunjungi Nias bulan Maret 2003 depan. Prof. Kennerknecht mencoba menelusuri asal-usul orang Nias dengan memakai methode penelitian DNA/gen yang mutakhir.

Mungkin kebetulan saja, tetapi penyelidikan ini berlangsung hampir 100 tahun setelah penelitian Dr. J. P. Kleiweg de Zwaan, dari Universitas Amsterdam. Pada awal abad lalu, 1910, Kleiweg de Zwaan mengadakan penelitian menyeluruh di Nias, bukan hanya antropologis melainkan juga psikis dan fisik, dan telah diterbitkan dalam buku tiga jilid berjudul “Die Insel Nias bei Sumatra. Untersuchungen“, Den Haag, 1913-1915. Salah satu pertanyaan yang ingin dijawab oleh Kleiweg de Zwaan adalah tentang asal-usul orang Nias.

Ada banyak mitos tentang asal-usul orang Nias. Tentu saja mitos-mitos tsb. tidak akan dinihilkan oleh hasil penelitian ilmiah Prof. Dr. med. Kennerknecht, yang sedang berlangsung sekarang ini. Sebaliknya mitos-mitos tsb. kini bisa dibaca dalam cahaya dan bahasa ilmiah modern.

Berikut ini adalah wawancara singkat dengan Prof. Kennerknecht, yang diadakan via email. Pertanyaan diajukan oleh Raymond Laia, Jerman. Teks asli dalam bahasa Jerman juga tersedia. Selamat menikmati!

TENTANG PROYEK DNA ORANG NIAS

Herr Kennerknecht, tahun lalu Anda berada di Nias dengan sebuah “misi khusus”. Kapankah itu dan misi apa yang Anda emban di sana?

Pada bulan September 2002 saya berada di Nias selama tiga minggu. Tujuan utama adalah mengadakan penelitian tentang asal-usul orang Nias dan sejarah penyebarannya di seluruh Pulau.

Bisakah Anda ceritakan latarbelakang proyek ini? Bagaimana kisahnya, sehingga proyek ini muncul?

Keinginan untuk mengadakan penelitian itu disampaikan kepada saya oleh P. Johannes Hämmerle dalam rangka Yayasan Pusaka Nias, yang ingin mengdokumentasikan warisan budaya Pulau Nias secara menyeluruh. Secara mengagumkan P. Johannes Hämmerle telah mengumpul tradisi lisan dalam jumlah besar, menuliskannya dan sebagian diterbitkan. Ia lalu datang ke Institut kami dan menanyakan sejauh mana penelitian populasi genetis manusia berhubungan dengan tradisi lisan tentang penghunian Pulau Nias. Kebetulan akhir-akhir ini ada kemajuan besar secara metodis, sehingga nampaknya mungkin untuk menelusuri asal usul orang Nias berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA).

Bagaimana pelaksanaan proyek ini? Bagaiman Anda menilai kerjasama dengan orang Nias?

Sebelum saya datang P. Johannes telah menghubungi Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, dan para kepala desa dari berbagai desa di Pulau Nias dan menginformasikan rencana kami kepada mereka. Kami membutuhkan banyak sukarelawan, yang bersedia menyumbangkan darah. Dengan teliti dicatat, dari keturunan mana setiap mereka yang diambil darahnya. Kemudian di Institut Genotip Manusia, Universitas Münster, akan diambil DNA dari darah itu untuk penelitian lebih lanjut. Untuk itu kami telah menjalani berbagai tempat di daerah Gunungsitoli, Lahewa, Sifalagö Gomo dan Teluk Dalam. Setelah kami memaparkan proyek ini secara rinci, akhirnya 620 orang Nias menyatakan kesediaannya. Itu berarti seperseribu dari seluruh penduduk Nias. Karena itu kami yakin sampel yang kami ambil cukup mewakili.

Adakah kesulitan dalam pelaksanaan proyek ini?

Pengambilan darah merupakan masalah bagi orang. Tetapi karena proyek ini bertujuan penelitian kebudayaan sendiri, secara mengejutkan banyak yang menyatakan diri bersedia bekerja sama. Yang sering dikhawatirkan adalah, siapa tahu “Profesor Orang Jerman” itu menjual darah yang akan diambil itu. Selain itu kebanyakan menganggap darah yang diambil itu banyak. Dalam kenyataannya isi botol berisi darah itu paling banyak 1/100 banyaknya darah manusia. Kadang sangat sulit menerangkan kepada mereka, bahwa proyek ini dijalankan atas dasar cinta terhadap kebudayaan orang lain, dan bahwa sebagai orang Jerman pertanyaan seperti: dari mana dan dari siapa orang Nias berasal? adalah menarik. Pertanyaan lain yang sering diajukan adalah, mengapa penelitian tsb. tidak diadakan di Indonesia, misalnya di Bandung. Saat ini ada dua alasan, mengapa hal itu di sana belum mungkin. Pertama adalah penelitian lebih lanjut tentang gen-molekular akan menjadi mahal dan kedua, untuk penelitan ini perlu metode khusus dan ilmu, yang mengandaikan personal yang terlatih dan terdidik serta dana.

Apa yang Anda harapkan sebagai hasil dari proyek ini? Sejauh mana perkembangannya sekarang?

Yang menarik dalam proyek ini adalah kombinasi memperbandingkan antara warisan tradisi dan data populasi genetis manusia. Setiap manusia itu unik, juga secara genetis. Orang-orang dalam satu klan memang berbeda satu sama lain, tetapi mereka lebih mirip satu sama lain daripada dengan orang dari klan lain. Dengan usaha dan keberuntungan dapat ditemukan kelompok-kelompok berdasarkan gen, dan membandingkannya dengan tradisi lisan. Bila hal itu berhasil, langkah demi langkah bisa dirunut asal-usul klan, yang kemudian bisa menunjuk kepada penyebaran orang Nias. Satu pertanyaan kunci misalnya adalah apakah Sifalagö Gomo asal orang Nias. Lalu direncanakan juga menyelidiki asal usul kelompok, yang pada zaman dahulu datang dari daerah Asia.

Kapan hasil penyelidikan ini tersedia?

Penyelidikan sangatlah menguras tenaga dan biaya, sehingga hasilnya lama kemudian baru akan ada.

Adakah sesuatu dalam rangka proyek ini, yang belum dapat diwujudkan?

Bekerja sama dengan Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, kami telah mulai dengan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan. Tetapi tidak cukup waktu untuk mengadakan penelitian rinci. Yang ingin dicapai adalah meneliti penyebab cacat tsb., artinya mengetahui genotip bawaan dan perobahannya (mutation). Untuk itu dibutuhkan penyeledikan terhadap keluarga yang banyak anak.

TENTANG LATAR BELAKANG

Bagaimana Anda menilai arti proyek ini untuk penelitian ilmiah?

Publikasi, yang menyelidiki penghunian Asia berdasarkan studi perbandingan bahasa dan akhir-akhir ini gen-molekular, makin banyak. Bahwa hal ini mungkin dengan memakai metode populasi genetis telah dibuktikan secara meyakinkan oleh penyelidikan tentang penghunian Pasifik dari Taiwan. Nias berada pada tempat yang menarik, menjadi di satu pihak penghubung antara rangkaian kepulauan Nikobar dan Andaman ke Asia Selatan dan di lain pihak melalui kepulauan Indonesia ke Asia Tenggara.

Apa yang mau Anda bilang kepada orang Nias berdasarkan hasil penyelidikan ini?

Kami masih pada tahap awal, sehingga saat ini kami belum bisa memberi pernyataan apa pun. Tapi direncanakan untuk menyerahkan segala hasil penyelidikan ini nantinya kepada Yayasan Pusaka Nias. Hal yang sama berlaku juga untuk hasil penelitian tentang penyakit bawaan. Data-data ini akan dikomunikasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias. Bulan Maret ini saya akan ke Nias untuk mengumpul sampel lebih lanjut dari daerah Nias Tengah, yang belum saya punya. Lalu penyelidikan terhadap keluarga-keluarga dengan cacat bawaa masih akan berlangsung. Saya mengharapkan kerja sama dan kesediaan lebih banyak keluarga.

KESAN

Apa kesan Anda secara keseluruhan berhubung pelaksanaan proyek ini?

Sejak awal saya sadar, bahwa di Nias, seperti juga pada semua penelitian di mana pun di dunia ini, akan ada beberapa kelompok yang sulit diyakinkan mengenai proyek ini. Saya mempunyai pengertian terhadap hal ini. Tetapi secara keseluruhan saya senang, bahwa begitu banyak orang yang memiliki motivasi tinggi dan sangat menolong ikut bekerja sama dalam proyek ini. Awalnya saya tidak mengharapkan mengumpulkan begitu banyak sampel darah dalam waktu sesingkat itu. Dalam hal ini sangat menentukan persiapan luar biasa dari P. Johannes Hämmerle, yang telah lebih dahulu memberi informasi terrinci kepada para calon penyumbang darah, baik itu lisan melalui dia secara pribadi dan para rekan kerja dari Museum maupun melalui informasi tertulis. Pada pengambilan darah turut ambil bagian juga orang dari Dinas Kesehatan. Dari banyak orang yang menolong dalam proyek ini saya ingin menyebut nama Katharina Zai dari Hiliweto, Gidö. Dia telah menemani kami dalam sebagian besar turne dan menolong dalam pengorganisasian serta pengambilan darah.

Adakah pengalaman di Nias, yang Anda suka kenang?

Saya sangat terkesan dengan atmosfer di Sifalagö Gomo. Tanpa mendahului hasil penyelidikan ini nanti, saya pribadi berpendapat, bahwa di daerah ini yang dilindungi oleh gunung-gunung terasa adanya roh khusus, yang mengundang setiap orang yang baru berkunjung untuk menghuninya. Daerah ini seolah-olah diciptakan untuk menjadi “kampung nenek moyang”.

TENTANG KUNJUNGAN KE NIAS

Kunjungan Anda di bulan September 2002 bukanlah kunjungan pertama ke Nias. Kapan Anda pertama sekali mengunjungi Nias? Bukan hanya sebagai turis atau?

Bersama isteri saya telah berada di Nias 1978 sebagai turis. Kala itu kami mengadakan perjalanan selama tiga bulan menjelajahi Indonesia dan mengalami kultur megalit yang unik di Nias. Perjalanan sangatlah melelahkan. Tak ada kapal teratur ke Nias, sehingga kami berlayar ke Gunungsitoli naik kapal barang. Kami merupakan tamu pertama di hotel pemerintah di sana, dewasa ini disebut “Mess” atau “Pasanggrahan”, yang belum siap dibangun kala itu. Untuk kami dicari kasur khusus dan semua bau cat. Dalam perjalanan ke kapal kecil yang berlayar ke Teluk Dalam di Nias Selatan kami diantar ke pelabuhan oleh mobil tangki pemerintah. Belum ada jalan darat ke Selatan masa itu.

Bila Anda membandingkan kunjungan pertama dan kunjungan terakhir di Nias, perobahan apa yang paling menonjol?

Tak ada perobahan fundamental di Nias sejak kunjungan kami yang terakhir. Dengan pantai-pantainya yang putih dihiasi pohon-pohon kelapa dan budaya yang unik Nias masih merupakan pulau impian. Tentu saja, Gunungsitoli misalnya lebih besar, kini ada (lagi) jalan darat ke Selatan dan ke Utara. Kendati demikian infrakstruktur merupakan masalah bagi turis. Sayang, bahwa atap-atap daun rumbia semakin diganti dengan seng, yang cepat berkarat. Dulu di Bawömataluo kami masih melihat atap alami. Sangat sayang melihatnya telah berubah sekarang ini. Saya harap, menguatnya turisme bisa membawa pengertian dan uang demi “pengalamian” kembali dan terutama mempertahankan rumah-rumah tradisional.

TENTANG PUBLIKASI

Sudah adakah publikasi Anda tentang Nias?

Tentang Nias saya belum punya publikasi apa pun, tetapi saya harap akan ada beberapa dalam waktu dekat. Saya terutama gembira, bahwa secara mencengangkan saya kembali mempunyai kontak dengan Pulau ini, yang tinggal indah dalam ingatan saya, dan bahwa saya mempergunakan fak keahlian saya untuk itu.

Bisakah Anda menyebutkan beberapa data tentang diri Anda?

Secara paralel saya telah kuliah ilmu Biologi dan Kedokteran di Jerman dengan titik berat Genetik. Agar mendapat hubungan klinik, saya membuat spesialisasi dalam ilmu penyakit anak, sehingga lebih baik dapat menilai penyakit bawaan. Setelah kuliah ini saya meneruskan ke ilmu genetik manusia dan membuat habilitasi (setelah S3, catatan penerjemah) di fak ini.

Asia selalu merupakan kerinduan saya dan sudah sebagai anak saya ingin pergi ke Sumatera, karena harimaunya.

Terima kasih, bahwa saya berkesempatan, memperkenalkan proyek bersama ini dengan P. Johannes Hämmerle dari Yayasan Pusaka Nias dan Dr. Idaman Zega dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nias.

Terima kasih atas wawancara.

Leave a comment ?

57 Responses to Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen

  1. Yeremia Tel. says:

    Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “… Setelah kami memaparkan proyek ini secara rinci, akhirnya 620 orang Nias menyatakan kesediaannya. Itu berarti seperseribu dari seluruh penduduk Nias. Karena itu kami yakin sampel yang kami ambil cukup mewakili.”

    P. Johannes Hammerle OFMCap. (dalam artikel wawancara “Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal Usul Orang Nias”): Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht dari Westfälische-Wilhelms-Universität, Münster, Jerman, dengan bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias, Gunungsitoli, telah mengumpulkan sampel DNA dari 785 orang Nias. Karena jumlah penduduk Nias sekitar 700.000 orang, itu berarti per 1.000 orang Nias sudah terdapat satu sampel DNA.

    Sesungguhnya, berapa kah besar sampel (sample size) dalam penelitian DNA ini? (620 atau 785). Mengapa bisa berubah-ubah?

  2. Dirman Waruwu says:

    Penentuan besar sampel (sample size) dalam suatu penelitian tidak lah sesederhana menyatakan “seperseratus (persen) atau seperseribu (permil) dari populasi”.

    Ada 4 faktor yang harus dipertimbangkan dalam penentuan “sample size”:
    1. Derajad keseragaman (degree of homogenity) dari populasi. Makin seragam populasi, makin kecil jumlah sampelnya.
    2. Ketepatan (precision) yang dikehendaki (lih. keterangan di bawah).
    3. Rencana analisa. Dalam merancang penelitian, sejak awal peneliti harus sudah tahu tentang hipotesa yang akan diuji dan rencana analisanya (mis. dengan Analisa Tabel Silang, Analisa Statistik non-parametrik, Analisa Statistik parametrik). Daripadanya, baru dapat ditentukan jumlah sampel yang dibutuhkan.
    4. Tenaga, biaya, dan waktu.

    Agar tingkat statistik yang bermakna (signifiance) tercapai, perlu dipertimbangkan beberapa unsur ketepatan:
    1. Berapa angka perkiraan yang masuk akal dari proporsi-proporsi yang akan diukur? Bila tak dapat diperkirakan, paling aman memakai angka 0.50, sehingga diperoleh variance yang maksimal dan sampel cukup mewakili.
    2. Berapa tingkat ketepatan yang diinginkan? Makin tinggi tingkat ketepatan (mis. 0.10), jumlah sampel makin besar.
    3. Berapa derajad kepercayaan (confidence level) agar estimasi sampel akurat? (umumnya 91% atau 95%).
    4. Berapa jumlah populasi yang harus diwakili sampel?

  3. Uchi Bate'e says:

    Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “… Setelah kami memaparkan proyek ini secara rinci, akhirnya 620 orang Nias menyatakan kesediaannya. Itu berarti seperseribu dari seluruh penduduk Nias. Karena itu kami yakin sampel yang kami ambil cukup mewakili.”

    Pernyataan Prof. Ingo menunjukkan, “populasi penelitian” dari proyek ini adalah “seluruh penduduk Nias”. Tepatkah data demografis (penduduk Nias dan Nisel) dijadikan populasi?

    Populasi adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga. Atau, kelompok subyek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian.
    Kelompok subyek itu harus memiliki ciri atau karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subyek yang lain. Semakin sedikit karakteristik populasi yang diidentifikasikan, maka semakin heterogen populasi itu (berbagai ciri subyek terdapat dalam populasi).

    Dalam setiap penelitian, populasi yang dipilih erat hubungan dengan masalah yang dipelajari (disebut “populasi sampling” atau “populasi penelitian”).
    Populasi dalam penelitian “asal-usul orang Nias berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA)” ini adalah “penduduk Nias” (berisi: orang Nias dan non-Nias yang merupakan penduduk Nias). Penelitian ini mengabaikan “orang Nias” yang “bukan penduduk Nias” (orang Nias perantau).
    Sampel mungkin mewakili, namun apakah populasi telah representatif?

    Jika cakupan dari populasi penelitian tidak lengkap dan tepat, ada kemungkinan terjadi bias, dan boleh jadi sulit menerapkan dan membuat generalisasi hasil (penemuan) penelitian kepada populasi orang Nias yang diduga multienis itu.

  4. Laso says:

    Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “Yang menarik dalam proyek ini adalah kombinasi memperbandingkan antara warisan tradisi dan data populasi genetis manusia. Setiap manusia itu unik, juga secara genetis. Orang-orang dalam satu klan memang berbeda satu sama lain, tetapi mereka lebih mirip satu sama lain daripada dengan orang dari klan lain. Dengan usaha dan keberuntungan dapat ditemukan kelompok-kelompok berdasarkan gen, dan membandingkannya dengan tradisi lisan…”.

    Dari pernyataan di atas, diketahui adanya 2 konstruk (construct) dalam penelitian ini, yaitu: “tradisi lisan” dan “populasi genetis”

    Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “Sebelum saya datang P. Johannes telah menghubungi Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, dan para kepala desa dari berbagai desa di Pulau Nias dan menginformasikan rencana kami kepada mereka. Kami membutuhkan banyak sukarelawan, yang bersedia menyumbangkan darah. Dengan teliti dicatat, dari keturunan mana setiap mereka yang diambil darahnya…”.

    Dari pernyataan di atas, diketahui adanya satu konstruk lagi, yaitu “kelompok keturunan”. Sehingga kita temukan 3 konstruk, yaitu: tradisi lisan, populasi genetis, dan kelompok keturunan.

    Konstruk “populasi genetis” akan (sedang) diteliti berdasarkan dua konstruk lainnya (tradisi lisan, populasi genetis) oleh Prof. Ingo. Sedangkan konstruk “tradisi lisan” mengacu pada penelitian P. Johannes.
    Akan halnya konstruk “kelompok keturunan”, didasarkan pada penelitian apa (siapa)?

    Apa variabel (karakteristik yang diukur) dari konstruk “kelompok keturunan”? Apakah variabelnya adalah “klan (mado) orang Nias”?
    Sepanjang pengamatan saya, sejauh ini belum ada studi yang membandingkan atau menghubungkan studi “tradisi lisan” P. Johannes dengan variabel “mado-mado orang Nias”.
    Sebagai sebuah studi tunggal (yang luas dan mendalam) tentang variabel ini pun belum ada.

    Bila variabel antara (intervening variable) penelitian ini (yaitu “mado orang Nias”) belum jelas hubungannya dengan studi “tradisi lisan” P. Johannes, bagaimana mungkin Prof. Ingo mencuplik (mengambil sampel) darah orang Nias secara “cross-sectional”?

  5. Johan Baene says:

    Proyek penelitian Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht ini perlu didahului dengan studi yang mendalam tentang klan (mado) yang bersumber pada zura-ngaötö Nono Niha.
    Agar sampel darah yang diambil representatif (bukan hanya besar sampelnya, tapi juga karakteristik sampelnya). Serta temuan DNA Prof. Ingo ini kelak dapat secara akurat diinterpretasi dan digeneralisasikan pada populasi Nono Niha .

  6. Jenk Iskhan says:

    Di artikel “Tentang Tese Ilmiah Baru Tentang Asal Usul Orang Nias” Jenk Iskhan merespons:
    “… Teori merupakan alat yang terpenting dari suatu ilmu pengetahuan. Tanpa teori hanya ada pengetahuan tentang serangkaian fakta saja, tetapi tidak ada ilmu pengetahuan. Teori sebagai rangka pemikiran memberi batasan pada apa yang dianggap penting. Hanyalah orang yang justru tak banyak berpengetahuan yang tidak berusaha menggunakan teori dalam pengamatannya. Tanpa menggunakan rangka pemikiran (yang bersumber dari teori), seorang peneliti sering tertarik pada fenomena atau peristiwa yang seolah-olah menonjol, sehingga pengamatannya cenderung bias.”

    Karenanya, siapa bilang teori tidak berguna?
    Dalam proyek penelitian “raksasa” semacam ini, diperlukan pengetahuan yang memadai tentang teori “metodologi penelitian” dan teori “manajemen penelitian”.

    Shalom, Yaahowu!

  7. Saro Z says:

    Menurut Helen M. Kingston (“ABC of Clinical Genetics 2/E, 1994):
    Sejumlah gen penyakit telah ditentukan letaknya dengan penemuan individu sakit yang mengalami anomali kromosom. Dengan “analisis titik patah kromosom” dimungkinkan pembuatan klon dari gen, dan ditentukan urutan basanya (mis. pada penyakit neurofibromatosis, kanker usus besar familial).

    Langkah pertama penentuan letak gen adalah mengkaji rangkaian gen (linkage) pada keluarga individu yang sakit, dengan menggunakan penanda DNA polimorfik. Dengan strategi ini, dimungkinkan penentuan letak gen penyakit, asal terdapat jumlah anggota keluarga yang cukup banyak untuk kajian ini.

    Anggota keluarga (baik sakit maupun sehat) harus diuji untuk memperoleh satu penanda DNA yang bersifat informatif di dalam keluarga. Juga untuk mengidentifikasi alel mana yang berhubungan dengan gen penyakit pada saudara-saudara kandung individu tertentu.

    Menurut Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht: “Bekerja sama dengan Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, kami telah mulai dengan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan. Tetapi tidak cukup waktu untuk mengadakan penelitian rinci. Yang ingin dicapai adalah meneliti penyebab cacat tsb., artinya mengetahui genotip bawaan dan perobahannya (mutation). Untuk itu dibutuhkan penyeledikan terhadap keluarga yang banyak anak.”

    Pertanyaan:
    1. Apa “unit analisis” dari riset Prof. Ingo ini? Apakah individu atau keluarga (nuclear family)? Hal ini berhubungan erat dengan sample size yang 620 unit darah itu. Bila unit analisis adalah keluarga, tentu berdampak pada jumlah sampel yang 620 itu (karena ada sebagian sampel darah berasal dari satu keluarga, sehingga dibutuhkan sampel yang lebih banyak).

    2. Bagaimana posisi dan hubungan riset “penyakit fisik bawaan” terhadap riset “populasi genetis”? Dua riset ini punya unit analisis yang berbeda. Mungkin sebagian sampel dapat overlapping, namun perlakuan terhadap sampel dan jumlah sampel tentu berbeda.

    3. Bagaimana kiat mengumpulkan data retrospektif dari penyakit fisik bawaan (fenotip-nya) pada pohon genealogi (pedigree) orang Nias?

  8. Ribkah says:

    Yaahowu Prof. Ingo!
    🙂 Representasi “populasi dan sampel” dalam proyek Anda dipertanyakan orang-orang Nias nih…

    Apa yang ditulis bang Saro (#7) di atas cukup menarik.
    🙂 Kalau dua riset(populasi genetis dan penyakit fisik bawaan) Anda gabungkan, mengakibatkan jumlah sampel untuk riset “populasi genetis” jauh berkurang dari 620. Karena, ada sampel dari kelompok-kelompok keluarga (nuclear family) untuk riset “penyakit fisik bawaan”. Ada pula sampel dari kelompok-kelompok keturunan (mado?) untuk riset “populasi genetik”. Sampel dari kelompok keluarga tentu hanya satu yang dapat diperlakukan sebagai sampel, ketika “populasi genetis” dikaji.

    Saya jadi pengen tau, bagaimana sampling (metode pengambilan sampel) darah orang Nias dalam proyek ini (?)
    🙂 Saohagölö sebelumnya Prof., atas jawabannya.

    Auf Wiedersehen!

  9. otomend says:

    Tahun 2001 Lembaga Eijkmann dan PAU Bioteknologi UGM mengadakan riset “phylogenetic tree” (pohon filogenetik) berdasarkan keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria) berbagai populasi (etnis) di Indonesia.

    Populasi awal yang mendiami Indonesia, menurut Prof. Dr. Sangkot Marzuki (Direktur Eijkmann), kemungkinan besar berkerabat dengan populasi Papua dan Aborigin Australia yang berciri-fisik Austro-melanosid. Namun, ada kelompok lain (sekitar 500 etnis) punya karakteristik budaya dan bahasa yang berciri-fisik Mongoloid, disebut kelompok Austronesia (berbahasa Austronesia).

    Riset ini menyimpulkan bahwa manusia Indonesia terbagi atas berbagai kelompok gen yang strukturnya berbeda. Temuan ini menolak hipotesa Taiwan Homeland (populasi Austronesia menyebar dari pulau Formosa Taiwan) yang jadi kiblat para ilmuwan antropologi linguistik.

    Pada kelompok Austronesia ada pula pengelompokan tambahan. Indonesia barat (Melayu, Batak, Minang, Jawa) membentuk satu kelompok, sedang Indonesia timur (Sasak, Waingapu, Bugis) merupakan kelompok lain. Beberapa populasi, terutama populasi Nias, ternyata membentuk cabang sendiri pada pohon filogenetik itu.

    🙂 Bagaimana posisi proyek Prof. Ingo di Nias ini terhadap riset DNA terakhir? (mis. riset pohon filogenetik di Indonesia).

  10. Dinar Turangan says:

    Riset phylogenetic tree yang berdasarkan mtDNA pernah dilakukan Kashyap et al (2004) terhadap populasi Negrito di Andaman dan populasi Mongoloid di Nicobar. Selanjutnya, Kumarasamy Thangaraj et al (2005) menemukan afinitas genetis yang erat: (1) kelompok Negrito orang Andaman dengan populasi Asia dan Afrika; (2) orang Nicobar dengan populasi Mongoloid Asia Tenggara.

    Tentang riset Prof. Ingo ini, apakah: (1) merupakan studi afinitas genetis orang Nias yang mengacu pada kelompok agregat (seperti: Mongoloid, Negrito, Austro-melanosid), atau (2) didesain untuk pengelompokan yang lebih rinci dari “phylogenetic tree” intern multietnis populasi Nias?

    🙂 Bila yang pertama, maka sampel dapat dicuplik secara random pada populasi Nias. Namun bila yang kedua, maka saya sependapat dengan Johan Baene (# 5), agar dilakukan studi awal tentang klan yang bersumber pada zura-ngaötö (pedigree) populasi Nias.

Reply to Dinar Turangan ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>