Hadia duria solohe fa’ogömi Si lö omasido urongo Turia samanizinizi tödö Turia sangombuyu boto
Ya’ia da’ö: turia dungö Corona Tungö si möi mame’e famakao Lö i’ombakha’ö me tohare ia Idoro manö, lö hagohago
No sa’ae ato nibözinia No sa’ae ato zi tekiko
Oi mogikhi mboto wa’ata’u Oi mangelama, lö möi milo Töra moroi ba nemali sanau gari Tora ia moroi ba mbekhu soyo Ibunu zi lö horö-horö Itögi göi mbagi niha safaito
Itörö gödo wamareta Ilau ia ba nomo ndra razo Lö i’andrö izi me itörö Bawandruhö na’i lö itoko
Tara’u danga niha, no tobaya! Tababaya mbawada, no togule! Tahofo noho ba ngai zi bahö, no talo!
Hadia hatö da’ö lualua mbakhu dödö? Si tobali metumetu mbewe?
*** Löö le ! So wofo yawa mba’e So dalu-dalu zowöhöwöhö Ba so göi lala wamandröndröu Corona
Yai’a dani zi no tarongorongo Si no la’ombakha’ö ira samatörö Lala wangelama ba fangamoni’ö Ena’ö tungö andre lö dumanö Ena’ö Corona andrö lö itugu aböa
Ya’e lala wametugö högö Ya’e lala wanögi bagi Dungö Corona sasiliyawa Dungö si lö butu lö karua
Asese’ö wemondri ba manasa tanga Tenga i simane mondri mitimiti Tenga simane mondri mazauwu Tenga göi ha togule zabu ba danga Ma ha asala no abasö mbörö mbu Arakö ndra’ugö maifu ba nidanö Ö’fanoto uli geu wanoto ndra’i ba mboto Sasai nukha, böi ragö ba mbotou
Taha dödöu wondra’u tanga niha Fa ‘Ya’ahowu’ manö moroi ba zaröu Lau laka sile ba zi fasaule ba lala Na idoro lakania ba gambölö Ba hole’ögö ba gabera Ba na larafe ndra’ugö ba gotalua Ba lau laka lari Lau’a, taha manö
Na so dalu-dalu bulu ndru’u Ma lahia, undre, bawa safusi Samandröndröu fa’okafukafu Ba sangabölö boto ba wolawa fökhö bö’ö Ba sökhi na mufaliaro da’ö
Ba ginötö simane da’a Abölö sökhi ni’omaomao Ni’osimiki Ni’o-si-lö-döla-döla Böi taforoma’ö wa’ebolo haru-haru Ba fa’ebolo dötö’a Lö ata’u Corona ba da’ö
Moloi i Corona Na ta’o’ö fefu wotu si fakhai ba da’ö
Heta göi khöu wanizinizi dödö Aröu’ö wa’ogömigömi dödö Böi döröhöwa Böi hulö niha si lö Lowalangi ita Si lö lemba-lemba dödö Si lö baluse Corona ha tungö So Lowalangida sondrorogö
[Partai Anak Tangga Kesempatan: Kami memberimu anak-anak tangga sehingga engkau bisa sampai ke atas. Terserah engkau, secepat apa engkau sampai.
Partai Pengulur Tali: Ini tali, peganglah erat-erat, kami akan menarikmu ke atas. …. ]
Cirrocumulus
Tanggal 18 Mei 2019 terjadi kejutan besar dalam Pemilihan Umum di Australia: Partai Koalisi Liberal dan Nasional – partai petahana – menang telak atas Partai Buruh Australia (ALP)
Kejutan besar karena hingga minggu terakhir menjelang hari H, jajak pendapat selalu mengunggulkan Partai Buruh. Jajak pendapat ini sudah berbulan-bulan berlangsung dan Partai Koalisi tak pernah berada pada posisi menang.
(Catatan: Saking yakinnya para komentator politik pada keakuratan jajak pendapat ini, ada beberapa dari mereka yang telah menyiapkan manuskrip buku yang membedah alasan-alasan kekalahan telak Partai Koalisi dan kemenangan Partai Buruh. Karena kenyatannya pada hari H hasilnya lain, manuskrip buku-buku itu akhirnya tidak pernah masuk ke ruang percetakan.
Hasil pemilu Australia, tidak seperti di tanah air, cepat diketahui, tidak menunggu berminggu-minggu. Tentu ini karena sistem yang lebih maju. Begitu pemimpin Partai Buruh mengetahui partainya tidak mampu meraih suara mayoritas, ia langsung menelpon Perdana Menteri Scott Morrison, petahana, untuk mengucapkan selamat akan kemenangannya. Ia tidak menunggu sampai seluruh suara dihitung.)
Apa yang terjadi dalam pemilu Australia ini seperti mengulang kenyataan pada pemilihan presiden Amerika pada tahun 2016, yang menghantarkan Trump kepada kemenangan.
Tentu saja ada riak-riaknya: Trump dituduh menang karena intervensi Rusia, dan … dalam skala kecil … Partai Koalisi di Australia dituding melakukan praktek-praktek curang. Namun dalam kedua kasus, tak ada yang menjurus kepada demo besar-besaran untuk memohon pembatalan keputusan komisi pemilihan, apalagi meminta Yang Mahakuasa untuk menurunkan kutukan bagi yang curang. Protes massa Demokrat di depan Gedung Putih berlangsung, tapi bukan untuk mendemo kecurangan pemilu, melainkan mengungkapan ketidaksenangan mereka pada sosok Trump yang menurut mereka fasis, rasis, dst.
Mengapa bisa terjadi kejutan semacam ini?
Banyak ahli memberikan penjelasan, tetapi dalam tulisan ini saya memilih menampilkan hasil pengamatan langsung Scott Morrison, Perdana Menteri Australia, yang partainya – Partai Koalisi – diprediksi akan kalah telak itu.
Ia mengungkapkan itu dalam sebuah wawancara beberapa hari setelah pemilu usai.
Singkat kata: ia telah menangkap suasana hati (mood) dan kegelisahan dari para calon pemilih yang dia jumpai saat ia kampanye di berbagai tempat, kelompok yang dia sebut “the quiet Australians” – calon pemilih Australia yang ‘diam’, yang tak mudah bereaksi dengan mengungkapkan pendapat di medsos. Mereka adalah yang kuatir tentang berbagai ketidakpastian tentang dampak hasil pemilu. Mereka adalah para buruh tambang yang takut kehilangan pekerjaan, para pembersih gedung-gedung yang hak-haknya sering bertabrakan dengan keinginan majikannya, para pensiunan yang kuatir akan dampak kebijakan pemerintahan baru hasil pemilu. Para petani yang sering menjadi korban kekeringan.
Dalam observasi ScoMo (nama akrab Scott Morrison, seorang anggota Gereja Pantekosta Australia), suara mereka ini tak muncul dalam jajak-jajak pendapat, tetapi jumlah mereka sangat banyak, dan hasil pemilu bisa sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi mereka.
Maka ScoMo (dibantu oleh Tim Sukses yang sangat profesional) bergerak dengan cara pertempuran jarak dekat: timsesnya mengorganisir pertemuan tatap muka dengan calon kelompok para pemilih di berbagai tempat. Kelompok ini tidak besar, antara 25-50 orang. Polanya sama, ia menyapa mereka, memberikan sambutan singkat lalu tanya jawab formal, dan pembicaraan dari hati ke hati.
Bagaimana dengan uang pensiun, apakah pajaknya akan dinaikkan?
Apa kebijaksanaan partai menyangkut aset-aset kami?
Apakah kami masih berperan besar dalam pendidikan anak-anak kami ? (Ini isu inklusivisme sosial yang akan dibahas pada kesempatan lain)
ScoMo langsung merasakan betapa para calon pemilih warga Australia yang diam itu, sungguh-sungguh memilih karena ingin terlibat langsung menentukan masa depan mereka lewat partai dan pemimpin partai yang mereka anggap bisa melindungi kehidupan mereka.
ScoMo juga mencium kegelisahan yang diembuskan oleh pemimpin oposisi Bill Shorten tentang usaha-usaha penyelamatan lingkungan dan isu pemanasan global yang hingga hari H tak pernah diestimasi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu.
Maka, dalam sehari ScoMo dan timnya menyebar ke berbagai pelosok untuk menemui kelompok-kelompok kecil ini, menjawab berbagai pertanyaan mereka, dan meyakinkan para calon pemilih bahwa dalam situasi perekonomian nasional dan internasional saat ini, mengganti pemerintah kurang bijak.
Persuasi ScoMo dan timnya masuk akal para pemilih yang diam ini. Keputusan para pemilih diam ini semakin diperkuat dengan sikap Partai Buruh dan Partai Hijau yang dianggap arogan. Dalam suatu kesempatan, tokoh Partai Buruh bahkan meminta para pemilih yang tidak setuju dengan program partainya untuk memilih Koalisi. Sikap ini dianggap sebagai sikap arogan oleh sebagian pemilih.
Efektifkah kampanye jarak dekat yang melibatkan hanya sekitar 25 – 50 orang? Tentu saja. Selain dari mulut ke mulut lewat obrolan antar tetangga atau ketika berkumpul di warung kopi, pesan-pesan ScoMo dan timnya yang simpatik ini disebarkan secara digital oleh para pendengarnya lewat berbagai jaringan medsos.
Selama ini sudah menjadi tradisi Partai Demokrat di AS dan Partai Buruh di Australia dianggap partai rakyat kecil, partai pembela kepentingan mereka: para imigran, buruh, warga kulit hitam (di AS) dan warga Aborigin (di Australia). Partai Demokrat (AS) dan Partai Buruh (Australia) selalu mengambil tema-tema keadilan bagi para kaum tertindas sebagai tema utama kampanye mereka. Tidak jarang dalam mempopulerkan tema-tema itu, para pimpinan dari kedua Partai berhaluan kiri ini mengambil sikap yang lama kelamaan dirasakan – bahkan oleh kaum yang mereka ingin bela itu – sebagai sikap atau pandangan yang kurang bijak.
Sikap yang dimaksud adalah sikap ekstrimis yang selalu membagi masyarakat atas dua kelompok: kelompok penindas – kaum pemilik modal – dan kaum tertindas, rakyat kecil tapi. Dalam konteks sosial lain, gerakan feminisme: yang menganggap laki-laki penindas kaum wanita (tentu sebagian ada benarnya) dan karenanya perempuan harus dibebaskan dari situasi itu. Dalam praktek ekstrimnya, banyak perempuan yang tidak mau menikah karena pernikahan dianggap sebagai penindasan. Singkatnya: tak ada kompromi.
Sikap yang diilhami oleh ideologi Marxisme ini memiliki pesan inti: kedua kelompok itu tak bisa diperdamaikan, yang tertindas harus melawan dan bahkan menghancurkan penindas.
Dalam prakteknya, ideologi Marxisme yang gagal di sejumlah negara ini dicoba dimodifikasi dan kini menjadi platform utama kaum kiri di berbagai negara demokrasi di Barat. Sebenarnya terlihat langsung kontradiksi di sini, karena sikap ideologi kiri yang biasanya anti kompromi diperkenalkan dalam alam demokrasi yang dibangun atas semangat persuasi dan kompromi kritis.
Dalam pengamatan Dinesh D’Souza, seorang pemikir konservatif Amerika imigran asal India, ideologi Marxis yang mengalami semacam penyesuaian itu menjelma dalam platform Partai Demokrat. Menurut D’Souza, Partai Demokrat – terutama akhir-akhir ini – telah menjadi Partai pengulur tali kepada rakyat Amerika. Mereka menarik rakyat kecil kepada Partai Demokrat lewat program-program populis yang sangat membebani keuangan negara: jaminan kesehatan untuk semua warga, uang reparasi bagi kaum kulit hitam karena perbudakan yang dialami generasi-generasi pendahulu mereka, serta berbagai program lain yang mudah: aborsi yang dibiayai negara, uang kuliah gratis, dst.
Namun Partai Demokrat tidak pernah menelorkan program yang bertujuan jangka panjang untuk membebaskan rakyat kecil ini dari ketergantungan kepada keuangan pemerintah. Ini bisa dimaklumi, karena kalau program semacam itu diperkenalkan maka mereka justru kehilangan basis besar pendukungnya.
Dinesh D’Souza mengibaratkan Partai Demokrat sebagai pengulur tali: mereka mengulurkan tali kepada orang-orang yang berada di bawah, untuk naik ke atas. Akan tetapi Partai Demokrat tak akan pernah rela orang-orang ini (basis pendukungnya) untuk betul-betul mandiri.
Sebaliknya Partai Demokrat malah ingin memperluas basisnya. Ini terlihat dari debat internal Partai Demokrat baru-baru ini, di mana para bakal calon presiden itu mendukung sensus tanpa pencantuman warga negara. Sebelumnya, di berbagai negara bagian Partai Demokrat mendukung gagasan pemilih tak harus dibatasi pada warga negara.
Masalah pelik di perbatasan Amerika dengan negara-negara tetangga di Selatan sekarang ini merupakan akumulasi dari perlawanan pihak Demokrat untuk memblok usaha-usaha Partai Republik untuk menuntaskan masalah imigran gelap. Masalah menjadi pelik karena ini menyangkut “kemanusiaan”, hal yang sering dipakai sebagai senjata oleh Partai Demokrat.
Rakyat kecil umumnya terpecah dua: (1) kelompok yang melihat kesempatan sebagai tantangan untuk lebih maju lagi, (2) kelompok yang sudah merasa nyaman dengan bantuan-bantuan sosial yang datang dari pemerintah.
Pengamatan penulis pada pemilu terakhir di Australia, banyak pemilih yang dulunya memilih Partai Buruh akhirnya memilih Partai Koalisi karena mereka merasa program Partai Koalisi lebih realistis dan adil bagi semua. Partai Koalisi memang tetap mendukung program sosial seperti santunan dua mingguan bagi para penganggur. Namun, dalam masa pemerintahan Koalisi, persyaratan pemberian dan perimaan bantuan ini semakin diperketat.
Kebijakan tegas Partai Koalisi di bidang imigrasi yang pada awalnya ditentang oleh mayarakat justru sekarang berbalik menjadi salah satu poin penentu kemenangan mereka pada pemilu terakhir.
Rujukan:
2019 Australia election: Morrison celebrates ‘miracle’ win https://www.bbc.com/news/world-australia-48305001
Scott Morrison’s shock election result pinned on volatile voters https://www.news.com.au/finance/work/leaders/scott-morrisons-shock-election-result-pinned-on-volatile-voters/news-story/b25359e9e520cf1acb88460ca532bc8e
Pidato Dinesh D’Souza pada Acara Wisuda – Liberty University https://youtu.be/FRs-6DrnX-8
* Tulisan ini disiapkan 30 Juni 2019 – dimuat di Nias Online 13 April 2020.
Untuk dapat berkuliah di luar Nias bagi saya merupakan tantangan yang menggelitik perut setiap malam, jika tidak menyebutnya sebagai mimpi. Melihat dunia luar, sebagaimana yang dikumandangkan oleh sebagian besar orang yang saya kenal yang pernah melakukan perjalanan ke luar Pulau Nias sebelumnya, merupakan pengalaman berharga yang turut membangun karakter diri. Kemudian saya bertanya dalam hati, benarkah?
Maka, ketika kesempatan untuk berkuliah datang bagaikan berkah Natal pada bulan Desember 2008 empat tahun lalu, tak ragu lagi saya segera menyetujui tawaran seorang teman baik bernama Michael Cornish untuk mengadu nasib di kota Bandung, yang kabarnya memiliki kreativitas tinggi dan segudang ragam kuliner yang mampu menggoyang lidah. Begitu banyak proses, termasuk tes SNMPTN, yang ketika itu saya jalani hingga akhirnya saya resmi diterima di salah satu universitas yang cukup ternama di kota kembang tersebut.
Ketika akhirnya menginjakkan kaki di kota tersebut, berbagai perasaan berkecamuk dalam diri saya. Mungkin inilah rasa-rasa yang dialami oleh anak rantau pada umumnya, antara takjub pada tanah baru yang didatangi dan sekaligus rindu akan rumah. Namun, harus saya akui, pesona kota yang (sepertinya) memiliki segalanya tersebut mampu membius untuk tetap tinggal disana. Hal ini terbukti dengan banyaknya –meskipun belum dapat disertakan dengan angka statistik– anak Nias yang tidak ingin kembali ke kampung halaman dan memilih untuk menetap serta berkarir di Bandung atau di beberapa kota yang tersebar di Pulau Jawa. Meskipun demikian, terdapat pula sebagian ‘perantau’ yang menyerah pada bujukan dan bahkan paksaan keluarga untuk kembali ke pulau yang terkenal dengan lompat batunya tersebut. Mereka bersedia meninggalkan pesona kota yang mampu membuat diri melesakkan kaki di jalan-jalan beton, serta memenuhi telinga dengan hiruk-pikuk sirene lalu lintas, dan mewarnai mata dengan dinding-dinding yang menghalangi jarak pandang. Maka kembalilah mereka kepelukan tanö niha yang minim gedung tinggi dan berpisah dari kota impian yang sekaligus mencetuskan perasaan asing selama di perantauan.
Keberadaan di sebuah tanah baru, terutama untuk mahasiswa baru seperti saya, tidak hanya menghadirkan perasaan asing, namun pada saat yang bersamaan, perasaan ciut juga melanda -meski dapat diruntuhkan oleh rasa semangat. Di keramaian kota, yang kala itu baru saya pijak, menumbuhkan sebuah perasaan baru. Perasaan seperti seolah menjadi turis yang berkunjung ke sebuah objek wisata yang diidam-idamkan. Namun bukankah pada dasarnya kita adalah turis dan sekaligus juga masyarakat lokal pada saat yang bersamaan? Sebagaimana yang diungkapkan oleh Jamaica Kincaid dalam novel semi-autobiografinya A Small Place (1988) bahwa “For every native of every place is a potential tourist, and every tourist is a native of somewhere.†(Kincaid, 1988:18). Setiap orang yang melakukan perjalanan berpotensi untuk menjadi turis dengan tujuan bermacam-macam, apakah perjalanan tersebut ditujukan untuk urusan bisnis, migrasi, ataupun pendidikan. Saya sendiri termasuk ke dalam kelompok terakhir, yakni menjadi mahasiswa yang datang ke Bandung dengan tujuan untuk berkuliah, dengan tambahan bonus menjadi turis sambil lalu yang dapat menikmati tempat-tempat lain, khususnya Bandung dan wilayah sekitarnya, selain tempat tinggal saya di Nias, setidaknya selama empat tahun. Maka, jadilah saya turisiswa, mahasiswa dan turis dengan uang bulanan serta dukungan teman baik berhati malaikat yang berkewarganegaraan Australia.
Menjadi turis, atau dalam kasus seperti saya, yang saya sebut sebagai turisiswa, sesuai dengan yang diungkapkan Urry dalam tulisannya The Tourist Gaze (2002), merupakan cara manusia modern untuk menaikkan status di mata masyarakat. Pendidikan telah menjadi demikian penting dimata masyarakat Indonesia baru-baru ini, meskipun tidak menyeluruh ke setiap relung-relung pulau yang tersebar dari kepulauan paling luar hingga pulau-pulau besar seperti Jawa dan Sumatera. Contohnya, ya seperti saya ini; Mahasiswa asal Nias yang mengenyam pendidikan di Bandung, sekaligus turut berbaur dengan kehidupan pariwisata di Bandung menikmati kuliner, budaya, dan bahasanya. Meskipun pada awalnya minat saya hanya terletak pada kuliah, namun kesadaran akan bonus tambahan tersebut datang belakangan, dan sejujurnya memang tak dapat saya abaikan. Maka jadilah saya turis, di tanah asing, bukan sebagai alien, namun sebagai salah satu orang yang menambah populasi mahasiswa di kota Bandung.
* Penulis baru saja menyelesaikan studi di Fakultas Ilmu Budaya, jurusan Sastra Inggris di Universitas Padjadjaran, Bandung. (Editor: LCZ)
*Niat hati merantau dari Nias untuk mencari kehidupan lebih baik, seorang warga Nias justru menemui ajal di Rohul. Ia tewas hanyut di Sungai Sosa.
Riauterkini – PASIRPANGARAIAN – Personil dari Polsek Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu, dibantu puluhan masyarakat Dusun Tobat Desa Tambusai Timur, Senin (12/9/11) sekitar pukul 11.15 WIB, menemukan sosok mayat yang dikabarkan hilang oleh keluarganya.
Ungkap Kepala Polres Rokan Hulu AKBP Yudi Kurniawan SIK,M.Si, kepada Riauterkini, pada Ahad (11/9/11) kemarin sekitar pukul 16.00 Wib, warga asal Nias Sumatera Utara, Taha Harefa (45), menetap di Dusun Tobat, Desa Tambusai Timur, dikabarkan hanyut dan tenggelam di Sungai Sosa, bersama belanjaannya oleh pihak keluarga.
Katanya, sehabis belanja beras dan sejumlah kebutuhan pokok dari pekan Minggu di desa tetangga, yakni DK IV Desa Suka Maju Kecamatan Tambusai. Korban bersama anaknya, Sofi Harepa (13), bermaksud pulang ke rumahnya di Dusun Tobat dengan cara berenang menyeberangi Sungai Sosa yang saat ini sedang surut, dengan lebar sungai sekitar 20 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter. Atau pada musim banjir, kedalaman mencapai 20 meter.
“Diduga korban kelelahan saat menyeberang sungai, sehingga ia hanyut dan tenggelam terbawa arus. Kata anaknya korban dua kali menyeberang sungai dengan membawa belanjaannya,†kata Kapolres Yudi, di Pasirpangaraian, Senin.
Dilain tempat, Kapolsek Tambusai AKP Barzawi, dikonfirmasi Riauterkini via telepon selulernya mengatakan, mengetahui Bapaknya hanyut dan tenggelam, anak korban, tak bisa berbuat banyak, hanya menangis di tepi sungai.
“Kita baru terima laporan pukul 19.00 Wib. Kita kerahkan personil dibantu masyarakat setempat, dengan menggunakan alat dan penerangan seadanya untuk mencari korban pada malam tadi,†katanya.
Barzawi menambahkan, pencarian korban dihentikan malam tadi, dan dilanjutkan pada Senin pagi, masih dibantu masyarakat yang memang ahli menyelam. Dan sekitar pukul 11.15 Wib, korban ditemukan seratus meter di hilir Sungai Sosa, menyangkut di sebuah ranting kayu yang melintang.
Saat ditemukan, tubuh korban masih dalam keadaan utuh, tanpa diganggu ikan atau binatang lainnya. Pun, pakaian yang digunakan korban masih melekat ditubuhnya. Usai ditemukan, walau ada penolakan dari keluarga, Polisi membawa korban ke Puskesmas Dalu-dalu Tambusai untuk dilakukan visum.
Dari informasi warga setempat, diketahui korban sudah lama menetap di desa ini. Sekitar 7 tahun mengurus kebun milik majikannya. Memang ada pelayangan disana, namun kebiasaan warga disini, mereka menyeberang sungai dengan cara berenang di sungai dalam tersebut.
Sebagian warga disana memiliki sampan untuk menyeberang dan mencari ikan, namun tidak ditambangkan. Begitu pun letak pelayangan jauh dari lokasi yang biasa digunakan warga untuk menyeberang.
“Kita sudah himbau kepada masyarakat disana. Kalau air naik, jangan lah menyebrang dengan berenang, tapi gunakan lah pelayangan yang sudah ada. Walau jauh, kan aman menyeberang lewat pelayangan,†harap Barzawi.***(zal)
JAKARTA — Gugatan sengketa pemilukada Kabupaten Nias masuk ke Mahkamah Konstitusi (MK). Gugatan diajukan dua pasangan calon yakni Damili Gea-Aluizaro Teleumbanua dan Faigiasa-Ronal Zai. Gugatan kedua pasangan itu telah didaftarkan ke MK pada Rabu (13/4).
Langkah gugatan ke MK ini dibarengi dengan laporan ke KPU Pusat dan Bawaslu. Kedua pasang calon itu mengadukan dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan KPU Nias. Dugaan ini juga merupakan bagian materi gugatan ke MK.
Kepada wartawan di Jakarta, kemarin, Damilir Gea menjelaskan, pihaknya telah menemukan fakta-fakta adanya keberpihakan KPU Nias pada pemilukada 5 April 2011, yang akhirnya menguntungkan pasangan nomor urut 2, Sokhiatulö Laoli-Arosökhi Waruwu.
“Keberpihakan KPU Nias terlihat jelas dari alat peraga resmi yang dikeluarkan nyata-nyata mengarahkan pemilih memilih pasangan calon nomor urut 2,” ujar Damili.
Selain itu, Damili juga menyebutkan adanya dugaan keberpihakan PNS dan perangkat desa yang diarahkan mendukung pasangan calon tertentu.
Masalah temuan adanya daftar pemilih tetap (DPT) yang memuat nama ganda dan memuat nama orang yang sudah meninggal dan dibawah umur menjadi pemilih, juga menjadi dasar diajukannya gugatan ke MK. Bukti yang diserahkan ke MK juga mengenai temuan adanya pengerahan massa dari luar Kabupaten Nias untuk memilih.
Tim Damilira-Aluizaro juga menemukan beberapa pemilih melakukan pencoblosan lebih dari satu kali. Ditemukan juga Termasuk pemberian suara yang diwakilkan kepada orang lain.
Dia menyebut kasus di di TPS di desa Akhelawe. Di TPS ini jumlah pemilih di DPT 390 pemilih. Tingkat partisipasi pemilih hampir seratus persen, yakni 388 pemilih. Padahal dari DPT itu diketahui 5 orang telah meninggal dunia dan 27 orang telah pindah ke kota lain diluar Kabupaten Nias.
Menurutnya, hal itu membuktikan adanya orang yang secara sengaja menggunakan hak politik orang lain untuk kepentingan salah satu pasangan calon.
Seperti diketahui, dalam pemilukada Nias yang dikuti empat pasangan calon, KPU NIas menetapkan pasangan Sokhiatulö Laoli-Arosökhi Waruwu sebagai pemenang. Hanya saja, prosesnya belum selesai karena masih ada gugatan di MK. (sam/jpnn)
MEDAN, KOMPAS.com–Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara, menambah satu koleksi situs megalit temuan di Desa Saita Garamba, Kecamatan Gidö yang merupakan peninggalan sejarah di kepulauan tersebut.
Penjaga Anjungan Pameran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nias di Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU), Olin Bobby (24), di Medan, Selasa, mengatakan, temuan megalit itu suatu kebanggaan untuk masyarakat daerah tersebut.
Struktur situs megalit itu, katanya, cukup beragam antara lain berbentuk kuburan leluhur dibuat dari tumpukan batu-batu, bentuk “ni’ogadi”, dan “behu”.
“Batu megalit tersebut saat ini dilindungi dan dilestarikan oleh Pemkab Nias, sehingga peninggalan bersejarah itu tetap terawat dengan baik dan tidak dirusak oleh manusia,” kata Olin yang juga mahasiswa FISIP Universitas Sumatera Utara itu.
Ia menjelaskan, situs megalit Saita Garamba itu hasil temuan masyarakat. Mereka selanjutnya melaporkan temuan itu kepada pemkab setempat.
Pemkab Nias menangani situs bersejarah itu antara lain menjadikan sebagai objek wisata budaya untuk memajukan pariwisata di daerah tersebut. “Situs Batu Megalit Saita Garamba ini berada lebih kurang 34 kilometer dari Kota Gunung Sitoli,” katanya.
Megalit Lahemo dan Maliwa’a
Data yang diperoleh, Pemkab Nias sebelumnya hanya memiliki dua situs megalit yakni Situs Batu Megalit Lahemo di Desa Lahemo, Kecamatan Gidö dan Situs Batu Megalit Maliwa’a, di Kecamatan Idanögawo.
Di antara kumpulan batu-batu Situs Batu Megalit Lahemo terdapat beberapa batu dengan bentuk unik yaitu batu megalit Saita Gari Tuada Ho (tempat sangkutan pedang Tuada Ho,red).
Batu megalit itu berukuran cukup besar, terdiri atas dua lempengan batu yang persis sama dengan memiliki celah (di celah itu Tuada Ho menyangkutkan pedangnya yang cukup besar, red).
Selain itu, batu besar di tanah yang di atasnya terdapat bekas telapak kaki Tuada Ho. Lokasi bersejarah itu lebih kurang 32 kilometer dari Kota Gunung Sitoli.
Struktur batu Megalit Maliwa’a cukup bervariasi antara lain berbentuk “ni’ogadi” dan “behu”. Lokasi batu megalit tersebut lebih kurang 42 kilometer dari Kota Gunung Sitoli.
Kabupaten Nias pascapemekaran pada 2009, memiliki sembilan kecamatan (sebelumnya 34 kecamatan, red.) yakni Gidö, Idanögawo, Bawölato, Ulugawo, Ma’u, Somolo-molo, Hiliserangkai, Botomuzöi, dan Hiliduho, dengan luas wilayah 980,32 kilometer persegi dan jumlah penduduk 127.415 jiwa, beribukota di Gunung Sitoli.
Kabupaten Nias dapat dicapai dengan kapal laut dari Pelabuhan Laut Sibolga menuju Pelabuhan Laut Gunung Sitoli atau pesawat dari Bandara Polonia Medan menuju Bandara Binaka Gunung Sitoli.
MEDAN–MICOM: Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumatra Utara menargetkan kabupaten dan kota di Pulau Nias akan bebas dari penyakit rabies atau anjing gila pada 2014.
“Sebenarnya, sekarang sudah kondusif tetapi pada 2014 berstatus bebas rabies,” kata Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan (Disnak Keswan) dan Kesehatan Hewan Sumut drh Mulkan Harahap ketika dihubungi di Medan, Minggu (6/2). Ini disampaikannya terkait pernyataan pemerintah bahwa Pulau Nias ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) rabies (anjing gila).
Status KLB rabies di Pulau Nias itu mulai diberlakukan pada 10 Februari 2010 sejak Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Nias Utara Christian Zai digigit anjing dan meninggal dunia pada awal Maret 2010. Sejak mengetahui keberadaan penyakit itu, Disnak Keswan Sumut melakukan sejumlah kebijakan untuk mengatasi penyakit hewan tersebut.
Kebijakan pertama dengan cara menurunkan tim dari berbagai instansi seperti Disnak Keswan dan Dinas Kesehatan Sumut untuk menangani anjing yang terindikasi mengidap penyakit rabies. Tim tersebut bekerja sama dengan petugas kesehatan di Pulau Nias untuk mendata anjing yang mungkin mengidap penyakit itu, termasuk memberikan layanan kesehatan terhadap warga.
Pihaknya juga mengirimkan vaksin antirabies sebanyak 10 ribu dosis untuk disuntikkan terhadap 10 ribu anjing di Pulau Nias. Hingga Desember 2010, Disnak Keswan Sumut telah mengirimkan 44.500 dosis dan melatih tenaga vaksinator untuk menyuntikkan obat antirabies tersebut.
“Ada 75 vaksinator yang telah dilatih dan memiliki cukup keahlian,” katanya. Pihaknya juga telah membuat kebijakan eliminasi atau pemusnahan terhadap 28.243 anjing yang dicurigai mengidap rabies. (Ant/OL-5) – Sumber: www.mediaindonesia.com – 6 Februari 2011.
Kehadiran jasa penerbangan dari Gunungsitoli ke Medan yang dimungkinkan dengan dibukannya kembali lapangan terbang Binaka telah memperpendek waktu tempuh perjalanan dari Gunungsitoli ke kota-kota lain di Indonesia dan bahkan ke seluruh dunia.
Menurut catatan majalah Tempo (edisi 1 Mei 1976) Bandar Udara Binaka yang dibuka kembali pada tahun 1976 itu merupakan peninggalan Jepang dan pernah dimanfaatkan oleh TNI AU untuk menumpas pembertakan PRRI. Segera setelah gempa Maret 2005 meluluhlantakkan Nias, frekuensi penerbangan ke dan dari Gunungsitoli lewat bandara Binaka meningkat tajam.
Kalau dulu – hingga 10 tahun lalu – masyarakat Nias masih sangat mengandalkan kapal laut untuk bepergian keluar dari Nias, maka dalam tahun-tahun terakhir ini tren itu sudah sangat berubah.
Program rekonstruksi dan rehabilitasi Nias menyusul gempa Maret 2005 itu berperan besar dalam membuka keterisoliran Nias dari dunia luar dan perbaikan akses ke dan dari daerah-daerah yang selama ini sunguh-sungguh susah dijangkau. Seiring dengan itu, pemekaran Nias menjadi 4 kabupaten dan 1 kota semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, memeratakan dana pembangunan ke daerah-daerah yang selama ini ini hanya mendapat zõnõzõnõ alias sisa-sisa yang tak habis dimakan.
Kehadiran penerbangan regular Gunungsitoli-Medan dan sebaliknya dengan frekuensi yang lebih tinggi dibanding 10 – 5 tahun lalu meningkatkan mobilitas masyarakat Nias dan orang-orang yang ingin berkunjung ke Nias.
Tanggal 2 Januari lalu, seorang kru Redaksi Nias Online terbang dalam satu pesawat dengan 4 orang anak muda Nias dalam penerbangan dari Gunungsitoli menuju Medan dengan pesawat ATR 72-500 milik maskapai Wings Air, dan selanjutnya ke Jakarta dengan sebuah pesawat Lion Air. Mereka adalah Yaman Harefa, Surilawati Hulu, Gita Gulö dan Yenni Lase.
Yaman Harefa berasal dari Gunungsitoli dan bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Yaman sudah 6 tahun tinggal Jakarta. Tentang kehidupannya saat ini, Yaman secara singkat berkomentar: “Lumayanlah, jauh lebih baik dari waktu di Niasâ€. Meskipun sudah merasa betah tinggal di Jakarta, Yaman mengaku sering pulang ke Nias; hal ini dimungkinkan oleh lancarnya transportasi udara ke dan dari Nias.
Kalau dulu, Medan masih merupakan tujuan utama para pelajar Nias untuk meneruskan studi, kini hal itu berubah, seiring dengan munculnya kantong-kantong masyarakat Nias di berbagai kota seperti Padang, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Salatiga, dan – tentu saja – Jakarta.
Surilawati Hulu, misalnya, berencana melanjutkan kuliah di Jakarta. Gadis Nias yang berasal dari Moaŵö ini, berbekalkan sebuah hape dan nomor-nomor telefon keluarganya di Jakarta, berangkat pagi itu dari Gunungsitoli sendirian, hanya diantar sampai di Bandara Binaka oleh keluarganya. Wati yang menyelesaikan studi di SMK BNKP Gunungsitoli ingin melanjutkan studi di Jakarta, jurusan Manajemen. Wati, yang baru pertama kali di Jakarta ini, mengatakan kuliahnya akan dibiayai secara gotong-royong oleh keluarga. “Kuliah saya akan dibiayai oleh orang mama dan juga paman saya yang tinggal di Jakartaâ€. Sesampai di Jakarta, Wati menghubungi sebuah nomor telpon, dan tidak lama dari wajahnya terpancar senyum, ia sudah terhubung dengan keluarganya di Jakarta.
***
Gita Gulö dan Yenni Lase, setiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, masih harus melapor ke bagian transit untuk penerbangan selanjutnya ke Yogyakarta, kota di mana keduanya menuntut ilmu. Sama seperti Yaman dan Wati, Gita dan Yenny tidak harus menunggu lama atau bermalam untuk tiba di kota tujuan; mereka hanya menunggu sekitar sejam untuk meneruskan perjalanan dengan penerbangan lain menuju Yogyakarta.
Gita, yang menekuni Public Relations Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta ini, memiliki harapan yang tinggi tentang Nias. “Nias is an exotic island … sangat bagus, cuma belum dikembangkan sajaâ€, kata gadis dari Fukagambö, Nias Barat ini. Ketika disinggung tentang Nias Barat, Gita lebih antusias lagi. “Harapan saya Nias Barat bisa lebih maju, lebih baik, benar-benar bebas dari korupsi dan nepotisme,†kata Gita, putri dari Zemi Gulö, SH, Sekretaris Daerah Kabupaten Nias Barat. Pilkada yang akan berlangsung pada bulan Februari mendatang diharapkan menjadi momen untuk menjadikan Nias lebih baik lagi, tambah Gita yang setelah menyelesaikan studinya, bercita-cita menjadi konsultan Public Relations.
Yenni Lase, yang berasal dari Gunungsitoli, pagi itu dalam perjalan menuju Yogyakarta untuk menempuh studi strata 2 (S2) Magister Ekonomika Pembangunan (MEP) di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Yenni, lulusan SMA Negeri I Matauli Pandan Sibolga dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi – Lembaga Administrasi Negara (STIA LAN) Bandung ini, mendapat beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Nias. Yenni berharap kehadiran derah-daerah otonom baru di Nias berdampak positif pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengoptimalan pengembangan dan pemanfaatan sumber-sumber daya alam. Setamat dari UGM nanti, Yenny akan kembali ke Nias untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya di tempat ia bertugas: Sekretariat Daerah Kabupaten Nias.
***
Kecepatan, kepraktisan dan kenyamanan perjalanan sebagian dari anak-anak muda Nias ini tentu saja jauh dari hal yang dialami oleh generasi-generasi Ono Niha sebelumnya yang – dengan menggunakan kapal laut yang menuju Sibolga – harus mengalami segala penderitaan digoncang ke kiri dan ke kanan oleh bis yang melalui jalan berkelok-kelok dari Sibolga hingga ke Medan. Bukan hanya itu, di Sibolga sendiri, mereka terkadang harus mengalami penderitaan awal, dilarikan oleh becak keliling-keliling kota untuk mengompas mereka dengan ongkos yang tak masuk akal ketika turun di tempat perhentian sementara sambil menunggu bis atau taksi ke Medan.
“Ha’uga manõ dania bale …†(berapa sajalah nanti), jawab tukang becak Ono Niha yang ditanya tentang ongkos becak dari dari pelabuhan ke suatu tempat di Sibolga. Jawaban itu umumnya berarti ongkos yang selangit. Maka ketika itu, tidak jarang terjadi pertengkaran mulut bahkan hingga perkelahian, ketika penumpang becak Ono Niha memprotes ongkos yang dipatok oleh penarik becak yang juga Ono Niha.
Agaknya keadaan telah berubah, dan berubah ke arah yang lebih manusiawi. (brk/*)
TELUKDALAM (Berita): Calon Bupati Nias Selatan terpilih hasil Pemilihan Umum (Pemilu) pada 29 Desember 2010 Idealisman Dakhi mengaku tidak mampu membangun sendiri, namun semua pihak dan bahkan lawan-lawan politik pun akan siap dirangkulnya dalam mem-bangun Kabupaten Nias Selatan.
Demikian disampaikan Idealisman Dakhi saat diwawancarai Berita, Jumat (7/1) seusai rapat pleno terbuka tentang rekapitulasi hasil penghitungan suara di Kantor KPU Kabupaten Nias Selatan.
Kata Idealisman Dakhi, ada yang tidak sejutu, dan ada pula yang tidak sepakat, itu kan sah-sah saja di alam demokrasi. Namun tidak sepakat atau bisa sepakat, itu kan hal biasa juga. Pasangan calon yang terpilih menjadi Bupati Nias Selatan selama lima tahun mendatang mengakui tidak mampu hanya membangun sendiri. Tapi seharusnya merangkul semua pihak supaya sinergitas antara pasangan calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang kurang beruntung, itu bisa dipadukan dengan kekuatan pasangan calon terpilih untuk membangun Nias Selatan.
’Ya bargaining, lobi-lobi itu kan sah sah saja dalam politik. Tapi kalau memang kita coba untuk melakukan komunikasi politik, merangkul dan mengalokasikan mereka sesuai keahlian dalam bidang masing-masing. Dan saya pikir, semua calon yang sekarang ini adalah putra-putri terbaik di Kabupaten Nias Selatan,’ ujar Idealisman Dakhi.
Ia katakan tentu sedikit banyaknya mereka itu pasti mempunyai kemampuan untuk memberi kontribusi dalam pembangunan di Kabupaten Nias Selatan. ‘Jadi, kami (pasangan Idealisman Dakhi/Hukuasa Ndruru) tidak salah kalau seandainya kami merangkul mereka nantinya untuk bisa membantu dalam mewujudkan cita-cita pembangunan di Nias Selatan,’ kata Idealisman.
Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nisel itu, kata Idealisman Dakhi, patut disyukuri karena bisa berjalan dengan baik dimana anggota Komisioner sudah melaksanakan tugas dengan baik, dan demikian pula pihak pengamanan sudah melaksanakan tugas dengan baik sehingga semua kondusif.
Ia juga menyatakan, kemenangannya bukan kemenangan mereka semata, tetapi kemenangan daripada semua rakyat Nias Selatan secara keseluruhan. Nias Selatan inginkan sebuah perubahan sehingga rakyat harus dimenangkan.
Idealisman Dakhi dan Hukuasa Ndruru tak lupa juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh rakyat Nias Selatan yang telah menyukseskan pesta demokrasi dan telah memenangkan pasangan tersebut. Pasangan itu kembali meyakinkan rakyat Nias Selatan dengan slogan perubahan yang sering diucapkan selama ini pasti akan dilaksanakan dalam proses lima tahun mendatang.
Dengan mempunyai program sebagai visi dan misi, “Cerdas dan berani†yaitu: pertama, pemberantasan korupsi; Kedua, gratis uang sekolah dan uang kuliah; serta ketiga, gratis pelayanan dasar kesehatan masyarakat, yang akan diimplementasikan dalam proses lima tahun ke depan. (ws) (Sumber: beritasore.com – 10 Januari 2011)
Nias, (Analisa) – Ketua DPRD Nias, Sokhizanolo Zai, SE mengatakan, saat ini kahidupan dan tatanan demokrasi di Negara Indonesia telah berkembang pesat dan terus mengalami perubahan yang sangat dinamis, sehingga terjadi revitalisasi fungsi lembaga – lembaga
penyelenggara pemerintahan mulai dari pusat hingga di daerah Kabupaten / Kota dalam rangka memenuhi ekspetaksi dan tujuan reformasi yang sedang berjalan saat ini.
“DPRD sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah, merupakan bagian integral yang tidak terlepas dari implikasi perubahan sistem yang terjadi, sehingga dibutuhkan penguatan kapasitas kelembagaan yang harus mampu menjalankan fungsi Legislatif, fungsi penganggaran dan fungsi pengawasan secara nyata dan bertanggunggjawab”, kata ketua DPRD Nias, Sokhizanolo Zai, SE pada acara pengucapan sumpah/janji pimpinan DPRD Nias, di Aula utama kantor DPRD Nias, Senin (29/11).
Ketua DPRD Nias mengakui bahwa DPRD Nias tidak akan mampu menjalankan peran tersebut dangan baik apabila tidak di dukung dengan perspektif dan persepsi yang sama dari berbagai elemen lainnya, terutama Pemerintah Daerah sebagai mitra sejajar dalam penyelenggaraan pemerintahan pembangunan dan kemasyarakatan di daerah Nias.
Malah dalam menghadapi dinamika tantangan tugas penyelenggaraan pemerintahan pasca pemekaran di Nias, mutlak diperlukan kerjasama dan sinerja antara Pembda Nias dan DPRD Nias karena pada hakikatnya pola hubungan kedua lembaga pemerintahan ini akan berdampak secara langsung terhadap roda pemerintahan dan arah pembangunan di Nias, jelas Sokhizanolo Zai.
Sementara, Bupati Nias, Binahati B. Baeha, SH pada acara pengucapan sumpah / janji pimpinan DPRD Nias yang di ambil oleh ketua pengadilan Negeri Gunungsitoli itu, mengatakan sebagai salah satu unsur penyelenggaraan Pemerintah Daerah, DPRD memiliki peran yang sangat besar dalam mewarnai jalannya roda pemerintahan daerah dengan peran yang demikian tersebut, maka aspek responsibilitas dalam pelaksanaan tugas menjadi salah satu faktor penentu. Dalam memaknai dan memberikan manfaat terhadap jalannya pemerintahan daerah guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan berdaulat dalam bingkai Negara Kesatuan RI.
Bupati pada kesempatan itu menyatakan rasa terimakasihnya atas pengabdian pimpinan sebelumnya kepada Rasali zalukhu, S,Ag dan Wakil Armansyah Harefa, SE serta Drs. Evolut Zebua. Sehingga menyikapi beberapa agenda kerja yang penting dan mendesak untuk segera dilaksanakan meliputi penetapan rancangan perda tentang P –” APBD Nias tahun anggaran 2010 serta pembahasan dan penetapan rancangan peraturan daerah lainnya yang telah disampikan oleh Pemkab Nias, jelas Bupati Nias, Binahati B. Baeha. (esp) (www.analisadaily.com – 30 November 2010)
JAKARTA: Forum Pemuda dan Mahasiswa Nias Selatan (FPMN DKI Jakarta) mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menunda pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Nias Selatan. Pasalnya, tahapan pilkada dinilai tidak dalam koridor hukum. Puluhan mahasiswa FPMN Jakarta itu menggelar aksi demonstrasi di depan kantor KPU pekan lalu.
“KPU Kabupaten Nias Selatan pada Keputusan No. 39/Kpts/ KPU-Kab 002.434832/ 2010 tertanggal 13 September 2010 tentang Penetapan Pasangan Calon Kepala Daerah-Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan sebanyak 6 pasangan. Ironisnya, KPUD secara terang benderang mengubah keputusan calon tersebut, padahal sudah diatur dalam UU No 32 Tahun 2004 tentang Pilkada pasal 61 ayat (4) menyebutkan bahwa penetapan dan pengumuman calon sebagaimana pada ayat (3) bersifat final dan mengingat,” ujar Juru Bicara FPMN Jakarta Yulianus Gulo kepada Suara Karya di kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (25/11).
FPMN mendesak KPU untuk mengembalikan keputusan KPU pada enam pasangan yang akan bertarung memperebutkan kursi Bupati dan Wakil Bupati Nias Selatan, 2 Desember mendatang.
“Kami minta pilkada Nias Selatan ditunda karena kalau dipaksakan, melanggar hukum dan kerugian negara bertambah besar. Saat ini masyarakat Nias Selatan tidak kondusif,” kata Yulianus Gulo.
Semula enam pasangan bakal calon (balon) kepala daerah Nias Selatan (Nisel) 2011-2016 resmi mendaftar ke KPUD. Empat pasangan melalui jalur partai politik, yaitu Hadirat Manao-Denisman Buulolo, Fahuwusa Laia-Rahmat Alyakin Dakhi, Idealisman Dakhi-Hukuasa Ndruru, dan Alfred Laia-Fauduasa Hulu. Dua pasangan melalui jalur perseorangan (independen), yakni Temazisokhi Halawa-Foluaha Bidaya dan Sobambowo Buulolo-Toolo Bago. Namun, kemudian pasangan Fahuwusa-Rahmat dicoret. (Yon Parjiyono) (sumber: www.suarakarya-online.com – 29 November 2010)
*Fraksi Partai Demokrat Minta KPU Patuhi Putusan PTUN Medan
Medan – Sekretaris Fraksi Partai Demokrat (PD) Nias Selatan (Nisel) Yurisman Laia SH, Rabu, (17/11) minta Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nisel mematuhi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan dalam maksud menghindari kemungkinan putusan selanjutnya yang cacat hukum. Alasannya, “KPU Nisel jangan melangkah tak sesuai dengan koridor hukum produk hukum formal,†tandas Yurisman Laia yang dihubungi via telepon di jeda rapat pihaknya dengna petinggi Partai Demokrat terkait dimenangkannya gugatan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Nisel Fahuwusa Laia – Rahmat Alyakin Dakhi.
Sebagaimana diketahui, PTUN Medan, Senin, (15/11) memenangkan gugatan Fahuwusa Laia – Rahmat Alyakin Dakhi. Putusan Ptun Medan itu mencabut Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nias Selatan No 41/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tanggal 4 Oktober 2010 tentang Perubahan Atas Keputusan KPU Nisel No 39/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tentang Penetapan Bakal Pasangan Calon menjadi Pasangan Calon Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010. Keputusan PTUN Medan dituangkan di Putusan PTUN Medan No 81/G/2010/PTUN-Mdn tertanggal 15 November 2010.
Sekretaris Fraksi PD Nisel Yurisman Laia mengatakan, fraksi dan partainya menyambut baik putusan PTUN Medan tersebut dan seluruh instansi terkait sangat ideal melaksanakan hasil putusan dimaksud. “KPU Nisel selaku lembaga penyelenggara Pemilu di Nisel harus mengindahkan putusan hukum dimaksud guna memberi teladan dalam ketaatan pada hukum yang berlaku dan terlebih itu dalam rangka negara hukum dan tegaknya demokrasi diperlukan sikap konsisten aparatur negara terhadap kepatuhan hukum,†tandas Yarisman Laia yang memastikan fraksi dan partainya akan mempertanyakan dan mengikuti hasil produk hukum itu dalam proses Pemilikada Nisel.
Mengutip hasil sidang ptun Medan dipimpin Hakim Ketua Majelis Puji Rahayu SH MH dengan hakim anggota Haryati SH MH, Nasrifal SH dan panitera pengganti Masalina Purba SH, Senin, (15/1), lembaga itu memerintahkan KPUD Nisel untuk mencabut surat keputusan objek sengketa berupa Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nias Selatan No 41/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tanggal 4 Oktober 2010 tentang Perubahan atas Keputusan KPU Nisel bernomor No 39/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tentang Penetapan Bakal Pasangan Calon menjadi Pasangan Calon Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010.
Sebelumnya KPU Nisel mengeluarkan surat No 4/Kpts/KPU-KAb-00.434832/200 tanggal 4 Oktober 2010 tentang perubahan atas SK KPU Nisel No 39/Kpts/KPU-Kab-002.434832/2010 tentang Penetapan Bakal Pasangan Calon menjadi Pasangan Calon Peserta Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Kabupaten Nias Selatan Tahun 2010. Keputusan itu digugat pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati Fahuwusa Laia SH dan Rahmat Alyakin Dakhi SKM MKes yang semula dianulir kpUD Nisel. (r10/h0 (www.hariansib.com – 23 November 2010)
Gunungsitoli – Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Gunungsitoli Periode 2011-2016 Drs Kemurnian Zebua BE dan Temazaro Harefa yang juga Ketua Posko Delasiga Kota Gunungsitoli menyerahkan hewan qurban kepada Panitia Masjid di Saombo seekor Sapi, Kelurahan Pasar Kota Gunungsitoli seekor sapi, Masjid Jami Kelurahan Ilir Gunungsitoli seekor Kerbau, di desa Mudik Kecamatan Gunungsitoli seekor Sapi yang diserahkan langsung oleh Temazaro. Tandawana, dan Boe, Bousö, Siarawi, Kecamatan Gunungsitoli utara, Gumbu, Moawö, Suhada Olora, Afia, Gamo, Landatar, Idanö Tae, Luaha Laraga, Foa, Tetehosi Foa, Humene Satua, Miga, Tohia, Desa Booyo, Surau Annur Afilaja, berupa kambing sebanyak 24 ekor.
Drs Kemurnian Zebua didampingi Temazaro Harefa, Koordinator Posko Delasiga Agus Hardian Mendrofa, pengurus Partai Demokrat Kharis Harefa, anggota DPRD kota Ir Filifo Waruwu, dan sejumlah anggota DPRD kota pada sambutannya mengatakan sesuai program Delasiga yang dipimpin putra Nias di Jakarta Fona Marundruri agar diserahkan melalui Masjid Saombo ini.
Kegiatan kita doakan kiranya ini merupakan awal dan dapat berkelanjutan di masa yang akan datang diharapkan bapak ibu saudara dapat mendukung dengan doa agar kegiatan seperti ini bisa kita lakukan setiap tahun.
Sementara Ketua Koordinator Posko Delasiga Agus Hardian Mendrofa mengatakan selaku kordinator Posko Delasiga memohon kepada tokoh agama, adat dan masyarakat kiranya dapat bekerjasama dalam bidang kesejahteraan masyarakat, pendidikan dan perekonomian.
Delasiga yang dipimpin oleh Fona Marundruri telah melakukan kegiatan kemanusiaan terhadap korban bencana Tahun 2004 dan Pasca Gempa yang melanda Nias Tahun 2005 di mana Posko Delasiga membangun perumahan untuk korban bencana dan 23 Nopember 2010 Posko Delasiga akan berangkat ke Mentawai untuk menyerahkan bantuan dalam bentuk barang senilai Rp 500 juta.
“Kegiatan qurban yang kita lakukan hari ini akan tetap berkelanjutan dimasa yang akan datang dan harapan kami mari kita menjalin kerjasama yang baik untuk membantu masyarakat yang tidak mampu dan bila ada yang tidak berkenan dalam hati kita semua kami memohon maaf,†ujarnya.
Panitia dan tokoh di wilayah kota Gunungsitoli menyatakan terima kasih kepada Pasangan Drs Kemurnian Zebua dan Temazaro Harefa (Murni – Zaro) dan kepada Pimpinan Delasiga Fona Marunduri yang peduli dengan warga kota Gunungsitoli dalam menyambut Hari Raya Qurban. (LZ/hh) – www.hariansib.com – 18 November 2010)
Medan – Komisi A DPRD Sumut mengingatkan KPUD dan Bupati/Walikota agar proses Pilkada (Pemilu kepala daerah) di Kabupaten Nisel (Nias Selatan), Tapteng (Tapanuli Tengah) dan Tanjungbalai mulai dari tahapan persiapan hingga tahapan penyelesaian jangan keluar dari koridor hukum agar tidak menimbulkan konflik horizontal dan kerusuhan di tengah-tengah masyarakat.
Hal ini diingatkan anggota Komisi A DPRD Sumut Suasana Dachi SH dan Irwansyah Damanik, SE dalam rapat dengar pendapat dengan KPUD Sumut, KPUD Nisel, KPUD Tapteng, KPUD Tanjungbalai, Bupati Tapteng Tuani Lumban Tobing, Bupati Nisel Fahuwusa Laia yang dipimpin Ketua Komisi A Hasbullah Hadi didampingi Wakil Ketua Sony Firdaus SH, Selasa (9/11) di DPRD Sumut.
Dalam rapat itu, Komisi A menyarankan, KPUD dan Bupati/Walikota masing-masing daerah harus bisa menjamin pelaksanaan Pilkada tidak bermasalah, jika semua aturan maupun ketentuan hukum yang sudah ditetapkan pemerintah benar-benar dilaksanakan dan tidak keluar dari koridor hukum.
Dicontohkan Suasana Dachi, persoalan yang selalu muncul dari proses persyaratan pencalonan terutama terkait dengan ijazah bakal calon, seperti yang menimpa salah satu balon Bupati Nisel dengan menggunakan surat keterangan pengganti ijazah. “Apakah surat keterangan pengganti ijazah itu sudah memenuhi data, seperti nama orang tua, indek nilai kumulatif siswa,†tanya Dachi.
Karena itu, ungkap Dachi, tidak ada alasan menunda Pilkada Nisel. Meski demikian, proses hukum tetap berjalan. Soal batas waktu 2 Desember 2010, sesuai kepres 8/2003 terkait tender pengadaan logistik Pilkada minimal 45 hari. Apakah ada ketentuan lain yang bisa dan apa yang jadi keputusan KPUD mencoret balon itu sudah benar,†tanya Dachi.
Terungkap juga, Pilkada Nisel bermasalah, karena selain ada angota KPUD yang dipecat dan adanya surat KPUD tentang pembatalan pencalonan, juga anggarannya terkendala terutama anggaran pengadaan barang dan jasa sudah disahkan, dibatalkan lagi
Ketua KPUD Nisel Solofona Manao menyebutkan, surat keterangan pengganti ijazah Fahuwusa Laia tidak memenuhi persyaratan, karena harus ada NIS (Nomor Induk Siswa) dan nilai akhir. Apalagi suratnya tidak memiliki kop surat Keterangan SMA BNKP Gunungsitoli 9/4/2005.
Sementara Ketua KPUD Sumut Irham Buana mengakui, kewenangan KPUD Sumut hanya bersifat administratif. Banyak terjadi polemik yang muncul di 2010 soal syarat pencalonan. KPUD Nisel sudah terima syarat pencalonan yang dikeluarkan tahun 2005 dan kewajiban KPUD mengkalirifikasi ke SMA BNKP Gunungsitoli.
“Apa yang disampaikan KPUD Nisel tadi itu yang jadi dasar bagi kami dan KPU pusat memberhentikan 4 anggota KPUD Nisel,†ujarnya.
Irham juga menyebutkan, Pilkada di Nisel seharusnya 2 Desember 2010, kalau ditarik mundur harusnya hanya tersisa waktu tidak kurang sebulan. PTUN tidak memiliki kewenangan untuk menunda Pilkada. KPU Nisel sudah memberhentikan sekretaris terkena pidana karena secara sengaja atau lalai sehingga menghalang-halangi penyelenggaraan pilkada.
Sedangkan masalah Pilkada Tapteng yang sudah mencuat ke permukaan, kata Irham Buana, timbul polemik di tengah-tengah masyarakat, seolah-olah KPUD Tapteng melaksanakan tahapan-tahapan Pilkada lari dari koridor hukum, padahal apa yang telah ditetapkan KPUD Tapteng sudah sesuai peraturan dan perundang-undangan.(www.hariansib.com – 10 November 2010)
Barry, Presiden negara adidaya Amerika yang lebih dikenal dengan nama Barack Obama sedang dalm perjalanan menuju Jakarta, Indonesia, setelah mengakhiri lawatan yang sukses di India.
Di Jakarta Barry akan tiba sebagai seorang yang berkunjung kembali ke daerah di mana ia menikmati masa kecilnya. Barry yang dulu tentu berbeda dengan yang sekarang – kini dia adalah seorang kepala negara dari negara adi kuasa yang akan mengunjungi negara dengan penduduk Muslim terbesar yang sedang berusaha menjadi negara disegani di kawasan Asia dan bahkan dunia.
Di Jakarta, Presiden Obama akan menandatangani Kesepakatan Kemitraan Komprehensif (comprehensive partnership agreement) bersama Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Agenda utama yang menjadi topik pembicaraan adalah masalah-masalah ekonomi dan pertahanan-kemanan.
Obama akan berkunjung ke Mesjid Istiqlal, mesjid terbesar di Asia Tenggara dan akan mengucapkan pidato di lapangan terbuka yang ditujukan kepada masyarakat Indonesia, pada hari Rabu (10 November 2010).
Diharapkan kunjungan ini akan mempererat hubungan Indonesia dan Amerika.
Para pejabat AS mengatakan, seperti kunjungan ke India, kunjungan Obama ke Indonesia dirancang untuk menyegarkan dan mempererat hubungan Amerika dengan negara demokrasi baru yang telah menujukkan prestasi yang mengesankan di bidang ekonomi dan yang akan memainkan peran penting pada abad 21.
Pidato Obama besok (10 November 2010) memiliki tujuan ganda: menyambut hangat masuknya Indonesia ke dalam kelompok negara demokrasi dan memperbarui dialog dengan masyarakat Muslim yang telah dimulainya pada pidato di Cairo Juni 2009.
Dalam kunjungan kali ini Obama tidak memiliki rencana khusus untuk bernostalgia atau mengajak keluarganya menikmati nostalgia masa kecilnya. Namun, menurut sumber-sumber Gedung Putih, kesempatan yang lebih baik bisa direalisasikan tahun 2011 ketika Obama kembali ke Indonesia sebagai presiden pertama yang akan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Asia Timur.
Aktivitas Gunung Merapi sempat membuat rencana kunjungan kali ini tergelincir dalam ketidakpastian. Akan tetapi sejak hari Selasa penerbangan internasional berjalan normal kembali. (CNA/brk*)