Archive for March, 2015 | Monthly archive page

Budi Daya Jamur Tiram di Kabupaten Nias Selatan

Sunday, March 29th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

Jamur tiram yang juga dikenal dengan nama Pleurotus ostreatus dalam bahasa latin merupakan jenis bahan makanan bernutrisi dengan kandungan protein tinggi, kaya vitamin dan mineral, rendah karbohidrat, lemak dan kalori. Menurut (Food Agriculture Organization/FAO, 1992), dalam setiap seratus gram jamur tiram mengandung: protein 13.8 gram, serat 3,5 gram, lemak 1,41 gram, abu 3,6 gram, karbohidrat 61,7 gram, kalori 0,41 gram, kalsium 32,9 gram, zat besi 4,1 gram, fosfor 0,1 gram, vitamin B1 0,12 gram, vitamin B2 0, 64 gram, vitamin C 5 gram dan niacin 7,8gram. Dari kandungan gizi yang ada dalam jamur tiram dapat dikatakan bahwa jamur tiram sangat aman untuk dikonsumsi oleh manusia dan bermanfaat bagi kesehatan. Salah satu diantaranya adalah memperlancar pencernaan karena kandungan serat yang ada di dalamnya dan kandungan gizi sebagai protein nabati yang tidak mengandung kolestrol.

Menurut Bobek et. al (1998) dalam Widyastuti dan Istini (2004), jamur tiram sangat bagus untuk penderita jantung kardiovaskular dan untuk mengendalikan kolesterol. Chan dan Buswell (1996) dalam Widyastuti dan Istini (2004), menyebutkan jamur pangan tidak hanya lezat, juga bermanfaat berkat nutrisi yang tinggi dan mempunyai manfaat obat seperti antikanker, meningkatkan sistem kekebalan tubuh antidiabetes dan hipolipidemik. Menurut ahli jamur di Washington State University Departement of Agriculture, Jamur tiram juga bisa dimanfaatkan sebagai antibakteri, antiinflamasi, antiviral, tekanan darah, dan memberbaiki sistem imun.

Berdasarkan kandungan gizi dan khasiat yang ada pada jamur tiram, maka tanaman ini sangat layak untuk diproduksi yang tentunya melalui sektor Budi Daya. Dari , dikemukakan bahwa produksi jamur tiram banyak dilakukan di daerah Jawa Barat, yang tercatat kurang lebih sekitar 10 ton produksi jamur tiram setiap hari. Pertanyaannya, apakah budi daya jamur tiram sudah ada di Kabupaten Nias Selatan? atau apakah masyarakat Nias Selatan dapat mendapatkan gizi yang berasal dari Jamur tiram?. Jawabannya “Ya”.

Budi daya jamur tiram di Kabupaten Nias Selatan telah dirintis oleh Seorang Pemuda Nias Selatan, Memoris Fau. Budi daya jamur tiram ini dirintis sejak tahun 2014. Untuk membudidayakan jamur tiram dibutuhkan bahan baku yang berasal dari serbuk kayu, dedak padi, dedak jagung, kapur sirih dan bibit jamur tiram. Semetara untuk pengolahannya membutuhkan fermentasi bahan, sterilisasi baglog, pendinginan, penanaman bibit jamur tiram pada media baglog. Disamping itu, hal yang tidak kalah pentingnya untuk memberhasilkan pertumbuhan jamur adalah kebersihan kumbuh jamur dan suhu serta kelembaban lokasi budi daya jamur.

Dari budi daya jamur tiram yang telah dibudidayakannnya ini 10.000 baglog sudah mulai dipanen dengan hasil sekitar 500-800 Kg per bulan dan sekitar 15.000 baglog sedang dalam proses pertumbuhan. Lokasi budi daya jamur tiram ini terletak di daerah Kecamatan Fanayama tepatnya di Simpang Bawomataluo-Lagundri.

Meskipun Budi daya jamur tiram ini merupakan usaha yang tidak membutuhkan modal besar, namun ketekunan, ketelitian serta sterilisasi yang tinggi sangat dituntut dalam memberhasilkan pertumbuhannya. Budi daya jamur tiram yang dirintis oleh Memoris Fau yang sedang belajar ilmu hukum di STIH Nias Selatan ini merupakan yang pertama dan merupakan budi daya jamur tiram yang terbesar di Kepulauan Nias. Dari hasil usahanya ini, akhirnya masyarakat Nias Selatan dapat memperoleh gizi yang dikandung oleh jamur tiram.

Budi daya jamur tiram ini tentunya memberi kontribusi untuk perkembangan bidang pertanian sekaligus ekonomi di daerah Nias Selatan, yang mana dengan kehadiran usaha ini paling tidak member Nias Selatan peluang pekerjaan bagi sebagian orang yang dipekerjakan dalam usaha ini meskipun masih dalam skala kecil.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Merindukan Pemimpin Bersih

Saturday, March 28th, 2015

*Mengenang Sepuluh Tahun Bencana Gempa di Nias

Oleh Hekinus Manaö

NO-FokusPada tanggal 28 Maret 2005 saya bersama tim Bappenas dan Kementerian Keuangan dari Indonesia sedang melakukan pembicaraan dengan Bank Dunia di Lantai 8 MC-Building, Kantor Pusat Bank Dunia di H Street, Washington D.C., hanya satu blok dari White House. Menjelang istirahat siang, Vice President of East Asia Pacific dari World Bank tiba-tiba muncul sambil membawa sehelai print-out komputer tentang berita gempa dahsyat yang baru saja beberapa menit lalu melanda pantai Barat dari Pulau Sumatera. Tepatnya gempa bumi itu terjadi pada 28 Maret 2005 jam 23:09 wib, atau jam 12:09 siang waktu Washington D.C. Pusat gempa berada di sekitar Kepulauan Nias, yakni di 2° 04′ 35″ U 97° 00′ 58″ T, 200 km sebelah Barat Sumatera dan 30 km di bawah permukaan Samudera Hindia. Catatan seismik memberikan angka 8,7 Skala Richter, dan getarannya terasa hingga Bangkok. Dengan kekuatan sebesar itu, gempa Nias ini merupakan gempa bumi terbesar kedua di dunia sejak tahun 1964, dan karenanya disusul dengan peringatan kemungkinan datangnya tsunami, walaupun akhirnya tidak terjadi.

Mendapatkan berita itu tentu saja membuat kami terperanjat, karena rapat kami dengan pihak Bank Dunia siang itu adalah terkait dengan teknik pengelolaan bantuan yang mengalir dari berbagai pihak untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh yang telah lebih dulu dilanda oleh gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. Agenda rapat berkisar tentang kemungkinan pembentukan badan khusus yang menangani bencana Aceh oleh Pemerintah Indonesia melalui suatu Peraturan Pemerintah Pengganti Udang-Undang, pembentukan multi-donor trust fund oleh Bank Dunia untuk menampung dana asisten dari mancanegara, dan pola manajemen keuangan yang fleksibel untuk percepatan penyaluran bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.

Walaupun Kepulauan Nias ikut terkena bencana gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004, dampaknya relatif minor dibandingkan dengan yang dialami oleh Aceh. Karena itu, dengan berita bencana gempa Nias, peserta rapat mulai mengantisipasi perlunya perluasan cakupan manajemen bencana yang meliputi Kepulauan Nias, selain Aceh. Terlebih lagi karena salah satu dari peserta rapat siang itu adalah berasal dari Kepulauan Nias, yaitu saya sendiri.

Betul saja, gempa bumi 8,7 SR tersebut telah meluluhlantakan hampir seluruh kepulauan Nias, termasuk kota Gunung Sitoli dan Teluk Dalam yang merupakan ibukota Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Bencana dahsyat ini telah menelan korban meninggal sekitar 1000 orang dan menelantarkan lebih 70,000 orang karena kehilangan tempat tinggal. Terjadi pula pengungsian besar-besaran sekitar 20 sampai 30 ribu orang ke daratan Sumatera. Infrastruktur jalan dan jembatan serta sejumlah fasilitas umum yang memang sudah lebih dulu dalam kondisi tidak terawat dan sebagian telah hancur, menjadi makin hancur, dan sulit digunakan sehingga mobilisasi bantuan tanggap darurat pun menjadi terhambat.

Dengan kondisi ekonomi yang terbelakang sejak sebelum bencana, kebutuhan pemulihan pembangunan di Nias setelah bencana menjadi makin besar. Perkiraan awal, diperlukan dana sekitar sepuluh triliun Rupiah untuk merehabilitasi infrastruktur dasar, termasuk untuk jalan dan jembatan, air bersih, sarana pendidikan, perkantoran pemerintah, perumahan, dan pelabuhan.

Ketika Perppu Nomor 2 Tahun 2005 diterbitkan pada bulan April 2005, upaya penanggulangan bencana serta pembangunan Nias sempat dimasukkan walaupun data tentang skalanya baru menyusul kemudian. Pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias berdasarkan Perppu tersebut merupakan focal point dari pemulihan wilayah terkait selama 4 (empat) tahun. BRR di bawah kepemimpinan Kuntoro Mangkusubroto membentuk kantor di Gunung Sitoli dan kemudian juga di Teluk Dalam.

Namun kisruh pertama yang dialami ketika BRR memulai tugasnya di Nias adalah ketidakakurasian informasi tentang bencana dan cakupan pemuliah yang dimuat dalam blue print atau Rencana Induk rehabilitasi dan rekonstruksi yang dimuat dalam Peraturan Presiden No. 30 Tahun 2005. Namun hal tersebut perlahan diatasi dengan penyesuaian yang dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintahan Tahunan serta penerbitan Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2008 yang mengesahkan penyesuaian-penyesuaian tersebut.

Kisruh lain terjadi dalam kekacauan koordinasi pelaksanaan kegiatan oleh BRR bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan. Pemerintah Daerah memandang sebagian dari kegiatan yang dilakukan oleh BRR tidak sinkron dengan tujuan pembangunan daerah. Sementara pihak BRR menyesalkan lambannya pihak Pemerintah Daerah dalam memfasilitasi peraturan, seperti absennya ketentuan tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah, yang memaksa BRR bekerja dalam koridor ketentuan yang terbatas, sehingga kegiatan dan manfaat hasil pembangunan menjadi tidak optimal. Konflik dalam koordinasi ini tetap berlangsung hingga berakhirnya masa tugas BRR di Nias. Dampaknya, antara lain, fungsionalisasi serta transfer asset dari BRR kepada daerah yang belum tuntas hingga saat ini.

Pembangunan kembali Kepulauan Nias yang berpenduduk hampir 800 ribu dan tersebar sebagian pada wilayah pedalaman dan pulau-pulau kecil yang terisolasi merupakan tantangan besar. Namun selama empat tahu bertugas, BRR telah secara maksimal menjalankan fungsinya. Berdasarkan catatan, statistik kegiatan BRR selama bertugas di Nias dalam tempo empat tahun sampai April 2009, dapat diringkas sebagai berikut.

Komitmen untuk membangun rumah baru sebanyak 22,600 unit hanya berhasil direalisasikan sekitar 15,000 unit. Itupun sebagian tidak pernah dihuni antara lain karena kondisi yang tidak layak atau karena peruntukan yang tidak jelas. Ditarget pula untuk merehabilitasi sekitar 35,000 unit rumah, antara lain dengan menyediakan subsidi tunai. Namun pemberian subsidi rekonstruksi 23,000 unit rumah penduduk gagal direalisasikan karena silang pendapat tentang ketentuan besaran subsidi yang berlaku. Total anggaran yang terserap oleh sektor perumahan dan permukiman mencapai Rp 1,74 triliun, atau sekitar 30,7 persen dari total dana rehabilitasi dan rekonstruksi Nias yang direalisasikan oleh BRR selama empat tahun.

Porsi terbesar dari anggaran yang direalisasikan oleh BRR untuk Nias adalah untuk pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, irigasi, telekomunikasi, air dan sanitasi. Anggaran yang terserap oleh bidang infrastruktur ini hingga 2009 adalah Rp 2,17 triliun atau 38,3 persen dari seluruh dana serapan BRR di Nias. Dari target rekonstruksi 470 km jalan provinsi, dapat direalisasikan sampai 410 km. Sementara, terhadap target rekonstruksi 800 km jalan kabupaten hanya bisa diwujudkan sekitar 310 km. Berhasil pula diselesaikan pembangunan 42 jembatan dari 84 jembatan yang semula ditargetkan. Kelima pelabuhan laut yang direhabilitasi atau dibangun kembali telah sesuai dengan rencana. Namun dari 2 airstrip yang hendak dibangun, hanya satu yang berhasil selesai hingga dapat dioperasikan. Sementara pembangunan satu airstrip di wilayah Teluk Dalam terbengkalai di tengah jalan. Telah juga diselesaikan normalisasi sejumlah sungai dan pembangunan jaringan irigasi, walaupun hanya mencapai sekitar 60 persen dari target awal.

Perlu juga dicatat keberhasilan rehabilitasi dan rekonstruksi sarana pendidikan, kesehatan, dan perkantoran di Nias selama BRR bekerja. Hampir seluruh 760 unit sekolah yang direncanakan berhasil dibangun kembali. Dua buah rumah sakit berhasil dibangun kembali, selain sekitar 50 puskesmas yang diperbaiki atau dibangun baru.

Kegiatan lain yang ditangani selama BRR bertugas adalah pemberian dukungan pada kegiatan ekonomi. Ada sejumlah paket berupa bantuan langsung permodalan, penyediaan fasilitas, dan pemberian latihan. Namun sektor ini hanya sekitar sepuluh persen dari aktivitas BRR ditinjau dari segi anggaran yang direalisasikan.

Terdapat estimasi kebutuhan dana rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias pada awalnya hingga Rp 11 triliun. Namun dana yang tersedia tidak mencapai jumlah demikian. Nyatanya menurut data laporan keuangan BRR, total dana yang terealisasikan adalah Rp 5,67 triliun, didapatkan langsung dari APBN sebanyak Rp 3,47 triliun dan disumbang oleh sekitar 80 pendonor sebesar Rp 2,2 triliun.

Pasca pembubaran BRR pada akhir tahun 2009, kegiatan pembangunan dilanjutkan oleh Pemerintah berdasarkan kerangka Rencana Aksi Kesinambungan dan Rekonstruksi di Kepulauan Nias, antara lain dengan tetap memanfaatkan sisa dana BRR dan dana hibah yang disediakan para pendonor. Terdapat tiga kelompok kegiatan yang menjadi tindak lanjut tersebut, yakni melalui Rural Access and Capacity Building Project (RACBP), Nias Livelihood and Economic Development Program (Nias LEDP), dan Nias Island Transition Project (NITP). RACBP dengan anggaran US$ 10 juta ditujukan untuk melanjutkan pembangunan jalan akses ke desa-desa dan rekonstruksi warisan budaya. Sementara LEDP yang didukung dengan Multi Donor Fund (MDF) sebesar US$8,2 juta dimaksudkan untuk meneruskan pengembangan kegiatan usaha dan ekonomi lokal. Kemudian NITP yang juga disokong pendanaannya oleh MDF hingga sebanyak US$3,9 juta difokuskan pada pengembangan kapasitas Pemerintah Daerah untuk mengambil alih tugas-tugas pembangunan dan meneruskan perawatan fasilitas yang telah dibangun.

Seluruh kegiatan yang disokong oleh dana hibah MDF tersebut telah diakhiri pada tutup tahun 2012, sesuai dengan statute yang disepakati sejak awal dengan para pendonor. Seberapa besar kegiatan yang berhasil dilakukan dan berapa dana MDF yang berhasil diserap di bawah koordinasi manajemen kantor Bank Dunia di Jakarta tidak diketahui dengan jelas. Upaya untuk memperoleh laporan akhir melalui media elektronik tidak mudah diperoleh.

Namun harus diakui bahwa upaya rehabilitasi dan rekonstruksi Kepulauan Nias yang berlangsung mulai sejak bagian akhir 2005 hingga akhir 2012 telah meningkatkan kemampuan Nias sebagai bagian komunitas bangsa. Dewasa ini, Kepulauan Nias tidak lagi hanya terdiri dari dua kabupaten, tetapi telah menjadi empat kabupaten dan satu kota sejak sekitar lima tahun lalu. Bahkan kalau saja RUU Pembentukan Daerah Otonomi Baru yang diagendakan persetujuannya oleh DPR RI 2009 – 2014 pada bagian akhir tugasnya bulan September 2014 tidak dibatalkan, Kepulauan Nias niscaya telah menjadi povinsi ke-34.

Tetapi, sesungguhnya pergumulan Nias bukan terletak pada peningkatan statusnya menjadi provinsi. Melainkan tantangan yang paling mendasar adalah bagaimana memperoleh kepemimpinan teladan yang sepenuhnya mendedikasikan dirinya bagi kepentingan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri berlangsungnya apatisme dan sinisme masyarakat di seluruh wilayah Nias bahwa Pemerintah Daerah hanya berorientasi untuk memuaskan kepentingan aparatnya, terutama kepentingan pemimpinnya.

Dengan ketentuan pelaksanaan pilkada serentak yang kini berlaku, keempat bupati dan satu walikota di Nias akan dipilih kembali di bulan Desember 2015. Putaran kepemimpinan baru ini merupakan kesempatan yang mencemaskan, karena di satu pihak kekuatan para incumbent tidak bisa dipungkiri. Sementara kerinduan masyarakat untuk memperoleh pemimpin baru yang bersih dan penuh pengabdian sudah sangat memuncak.

*Penulis adalah Mantan pegawai Kementerian Keuangan dan Direktur Eksekutif Bank Dunia  

PKPA dan DPRD Dorong Pemerintah Nias Serius Tangani ABH

Thursday, March 26th, 2015

Gunungsitoli, Nias Online – Penanganan masalah sosial yang dihadapi oleh anak-anak di Nias dari tahun ke tahun selalu luput dari perhatian pemerintah daerah. Hal itu mengemuka dalam diskusi terbatas sebelum pelaksanaan Musrembang Nias. Dalam diskusi itu Chairidani Purnamawati, SH, koordinator advokasi PKPA Nias dan Faigi’asa Bawamenewi, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Nias, menyampaikan bahwa kendala penanganan tersebut terjadi karena belum adanya pagu dana secara khusus.

Chairidani mengatakan saat ini belum ada pekerja sosial yang menangani anak berhadapan hukum (ABH), termasuk dalam hal proses diversi, pengobatan, rehabilitasi dan Drop in Center (DiC).

“Sebaiknya nanti saat dilakukan musrembang, PKPA bisa sampaikan hal tersebut. Dan jangan lupa untuk langsung berdiskusi dengan kepala Bappeda”, ujar Faigi’asa Bawamenewi menanggapi pernyataan Chairidani.

Pada tempat terpisah, kepala Bappeda, Agustinus Zega sangat mendukung langkah yang diambil PKPA dalam upaya memperkuat penanganan ABH. Agustinus menyarankan agar PKPA segera membuat surat resmi kepada Bappeda sehingga masukan tersebut dapat segera dirapatkan dengan SKPD terkait.

Keumala Dewi selaku manajer PKPA Nias sangat mengapresiasi langkah awal dan respon pemerintah terhadap usulan PKPA tersebut. Keumala mengatakan bahwa PKPA akan terus menindaklanjuti dan siap bekerjasama dengan pemerintah untuk penanganan kasus- kasus kekerasan dan sosial yang dihadapi oleh anak.

“PKPA selalu berkomitmen menjaga dan menjadi sahabat anak, selain itu PKPA akan terus mengadvokasi pemerintah agar lebih berperan dalam penanganan kasus ABH. Kewajiban pemerintah sebenarnya sudah tertuang dalam mandat Undang-undang Perlindungan Anak, namun sayang selama ini sering luput dari perhatin mereka”, tambah Keumala.

Keumala mencontohkan ketika seorang anak dari kabupaten Nias yang menjadi korban penganiayaan oleh kakeknya, dimana dinas sosial justru menghubungi PKPA untuk menangani kasus tersebut. Ditambah lagi saat anak butuh perawatan di rumah sakit, pemerintah dan dinas terkait tidak mampu untuk mengeluarkan biaya perawatannya. Pemerintah Nias harus lebih serius untuk penanganan permasalahan anak, terlebih dengan secara khusus mengadakan pagu anggaran.

Beasiswa Australia Awards 2015/2016

Monday, March 23rd, 2015
Ilustrasi | alertmagazine.org

Ilustrasi | alertmagazine.org

Pemerintah Australia kembali membuka kesempatan kepada putra-putri Indonesia melamar beasiswa Australia Awards untuk putaran 2015/2016.

Australia Awards dibagi dalam dua kategori: (1) Kategori Sektor Publik dan (2) Katergori Terbuka.

Pelamar dalam Kategori Publik berasal dari instutusi pemerintah, universitas negeri dan BUMN, dan aplikasinya harus mendapat persetujuan dari Badan Kerjasama Luar Negeri dari institusi yang bersangkutan. Informasi selengkapknya dapat dibaca pada halaman Category and Eligibility.

Bidang-bidang studi prioritas adalah (1) Sustainable Growth and Economic Management, (2) Democracy Justice and Good Governance, (3) Investing in People, (4) Safety and Peace. Informasi selengkapknya dapat dibaca pada halaman Priority Fields of Study.

Pendaftaran dibuka hingga tanggal 30 April 2015. (brk/*)

Beasiswa ILF Untuk Pendidikan Tingkat Sarjana (S1)

Monday, March 23rd, 2015
Ilustrasi | alertmagazine.org

Ilustrasi | alertmagazine.org

Indonesian Leadership Foundation (ILF), sebuah yayasan yang bekedudukan di Maryland, Amerika Serikat, menawarkan beasiswa kepada calon mahasiswa Indonesia beragama Kristen/Katolik yang ingin melanjutkan kuliah di universitas terakreditasi di Indonesia.

Persyaratan pelamar beasiswa ILF:

  1. Warga negara Indonesia (WNI)
  2. Beragama Kristen / Katolik
  3. Ingin melanjutkan studi tingkat sarjana di perguruan tinggi terakreditasi di Indonesia
  4. Memperlihatkan kualitas kepemimpinan atau potensi kepemimpinan di masa depan
  5. Memiliki rekor akademik yang baik
  6. Membutuhkan dukungan finansial untuk melanjutkan studi
  7. Mengisi formulir lamaran dan dokumen-dokumen pendukung

Informasi selengkapnya (termasuk formulir pendaftaran) dapat dilihat pada halaman beasiswa ILF.

(brk/*)

Pariwisata Nias – Sisi Penting Yang Ter(Di)abaikan

Wednesday, March 18th, 2015

Oleh E. Halawa*

NO-FokusHingar bingar yang menyangkut Pembangunan Pariwisata Nias akhir-akhir ini terkesan makin menghangat kalau tidak bisa dikatakan hampir mencapai titik didih yang – kalau suhunya tidak diturunkan sedikit – akan menguap dan akan tinggal menjadi bagian dari masa lalu, seperti kisah tragis i’ambanua, uro, orö, falagaŵo di Sungai Muzöi – Sungai Yang Hampa dan Merana.

Kita tentu saja patut bergembira karena berbagai pihak menunjukkan kepedulian terhadap Pariwisata Nias, yang – konon – merupakan salah satu pilar utama pembangunan dan kemajuan Nias ke depan.

Akan tetapi makna dari penggalan kalimat terakhir di atas itulah: pariwisata sebagai — pilar pembangunan dan kemajuan Nias — perlu kita fahami secara sungguh-sungguh dan sekali gus membandingkannya dengan berbagai kegiatan yang akhir-akhir ini dilakukan untuk merealisasikannya.

***
Tulisan ini dimaksudkan sebagai semacam sumbangsih dan sekaligus brain storming untuk memancing kontribusi lebih lanjut demi pemahaman yang lebih utuh tentang ‘pariwisata’ dalam kaitannya dengan pembangunan Nias.

***

Sisi Penting yang ter(di)abaikan ?

Mari membayangkan pariwisata Nias akan dikembangkan secara besar-besaran. Dan itu bukan mustahil … kita bahkan sudah sampai pada pemikiran menjadikan Republik Sychelles sebagai ‘templat’ pembangunan pariwisata Nias.

Berbagai seminar tentang pariwisata Nias dan lobi-lobi sana sini telah dilakukan dalam rangka pematangan persiapan pembangunan pariwisata Nias itu.

Maka, tulisan ini mengandaikan berbagai usaha yang telah dan tengah dilakukan selama ini akan membawa kita kepada realisasi rencana pembangunan pariwisata Nias itu.

***

Dari berbagai inisiatif yang kita lihat selama ini, tidak diragukan lagi ke 5 pemda di Nias berpikiran ‘maju’ dan mendukung pengembangan pariwisata Nias. Karena mereka (baca: pemda) tak punya modal dan belum memiliki semacam Badan Usaha Daerah bidang Pariwisata, maka mereka tentu hanya mampu memfasilitasi dalam bentuk memberikan kemudahan-kemudahan …

Maka investor pun masuk …

Dan … bisa jadi, skenario berikut ini yang akan terjadi: pembebasan lahan besar-besaran untuk keperluan pendirian berbagai fasilitas seperti hotel, restoran, jalan-jalan, taman-taman hiburan … dan tentu saja perluasan bandara.

Setelah sekian lama, terealisasilah semua itu …

Kalau akhirnya semua itu  terealisasi, siapa yang tak berbangga ? Nias akhirnya  menjadi daerah pariwisata tersohor, menjadi perhatian dunia. Membanjirlah wisatawan ke sana … singkat kata: luar biasa.

Beberapa tahun kemudian, seorang putra atau putri Nias yang sudah lama di perantauan rindu dan pulang ke sana, menjadi wisatawan.

Sesampainya di sana, kesannya pertama adalah: serba kekaguman.

Namun, beberapa waktu kemudian dia mulai bertanya-tanya pada diri sendiri:

… di mana orang-orang kampung dan rumah-rumah desa yang dulu ?

… di mana petak-petak sawah atau kebun havea yang dulu?

… di mana para pemuda dan pemudi yang dulu memenuhi bangku-bangku Gereja pada hari Minggu?

… ke mana mereka semua?

Penduduk lokal, bagian dari kulitnya ternyata telah melarikan diri – tak mampu bertahan dengan ‘kemajuan’ yang ada di hadapan mereka.

Yang dia temukan kios-kios milik orang dari daerah lain, restoran-restoran dan hotel-hotel entah milik siapa.

Ada juga sebagian warga desa yang dia kenal yang masih bertahan: menjadi penjaga toko, pelayan restoran, tukang semir sepatu, dan anggota kelompok kesenian desa yang setiap saat siap menghibur tamu-tamu wisata dan para pejabat dengan pertunjukan budaya sambil memakai pakaian tradisonal Nias. Mereka molau maena, fatele, fahombo batu, manari moyo dst. Mereka melakukan semua ini dengan kebanggaan dan dibayar sangat rendah entah dari sisa-sisa dana mana.

Yang tak mampu bertahan dengan dahsyatnya pembangunan pariwisata justru makin menjauh dan terisolasi, atau ikut bergabung dengan saudara-saudaranya di Sumatera, bekerja manga gazi di berbagai pabrik demi mempertahankan hidup.

Kalau seperti ini yang akhirnya terwujud lewat pembangunan pariwisata Nias yang sedang diwacanakan ini … sebaiknya tidak disebut pembangunan pariwisata Nias … sebaiknya dicari nama atau slogan lain yang lebih pas.

Masih banyak waktu untuk berefleksi untuk mendefinisikan pembangunan pariwisata Nias, sebelum mengambil keputusan yang dampaknya akan dirasakan oleh generasi-generasi mendatang.

*Tulisan ini merupakan olahan dari komentar penulis terhadap sebuah tulisan dalam Komunitas Sadar Wisata Nias (KOSWIN), 24 Agustus 2013.

Mengabdi Menjadi Kepala Daerah Kabupaten/Kota

Monday, March 16th, 2015

Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

OpiniKEPULAUAN Nias yang telah menjadi 4 (empat) Kabupaten dan 1 (satu) Kota, serentak melaksanakan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) pada bulan Desember 2015 mendatang. Perhelatan pemilukada tersebut telah memberikan angin segar dan motivasi bagi sebagian putra-putri Nias untuk mengikuti pemilukada tersebut menjadi bakal calon (Balon) Kepala Daerah di Kota Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Nias Selatan, dan Kabupaten Nias Barat. Para Balon yang akan menyediakan diri itu, ada yang bertempat tinggal di Kepulauan Nias dan ada juga yang bertempat tinggal di luar Kepulauan Nias.

Kalau kita melihat dan membaca di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, sudah mulai bermunculan nama putra-putri Nias yang menjagokan dirinya untuk menjadi Balon Kepala Daerah di Kepulauan Nias. Dan ini kita sangat memberikan apresiasi, ternyata putra-putri Nias sekarang banyak yang sudah memiliki kemampuan untuk menjadi pemimpin di Kabupaten/Kota di Kepulauan Nias.

Melalui semangat yang sudah mulai menyala pada masing-masing Balon Kepala Daerah tersebut, dapat diartikan bahwa sudah banyak putra-putri Nias yang telah memiliki kompetensi di bidang manajemen pemerintahan. Sudah banyak putra-putri Nias yang telah memiliki keahlian di bidangnya masing-masing, sehingga melalui pengalaman itu telah memberikan inspirasi bagi Balon untuk berbuat yang lebih baik di dalam mensejahterakan masyarakat yang berdomisili di Kepualaun Nias.

Permasalahnya sekarang, yaitu apakah masing-masing Balon tersebut sudah sangat bersungguh-sungguh untuk mensejahterakan masyarakat Kepulauan Nias bila nanti terpilih menjadi Kepala Daerah definitif? Tentu hal ini perlu dipertanyakan mulai dari sekarang.

Mari melihat beberapa fakta yang telah terjadi di beberapa daerah di wilayah Negara kesatuan republik Indonesia, yaitu pertama, ada diantara Balon yang sangat bersemangat untuk menjadi Kepala Daerah, karena ingin berkuasa. Untuk mencapai tujuan itu si Balon akan menempuh berbagai cara atau menghalalkan segala cara termasuk membagi-bagikan uang, yang istilahnya dikenal sebagai money politic (politik uang), agar dipilih rakyat di wilayah itu menjadi pemenang pemilukada.

Kadang masyarakat lupa bahwa bila menerima uang dari Balon sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) umpamanya, paling lama uang tersebut bertahan di kantong mungkin hanya 5 (lima) hari, sedang bila Balon itu terpilih dan memerintah selama 5 (lima) tahun ke depan, berarti masih ada hari lain yaitu 1.825 hari – 5 hari = 1.820 hari yang bisa penuh penderitaan dan atau penuh kesejahteraan. Jadi bila calon Kepala Daerah itu terpilih, maka kita berharap Kepala Daerah itu akan bekerja keras untuk memperbaiki kesejahteraan kita selama 1.820 hari. Semoga Anda bisa menangkap arti dan maksud dari hitung-hitungan hari di atas.

Kedua, mungkin juga ada Balon yang memiliki keinginan untuk mensejahterakan dirinya sendiri beserta kroni-kroninya setelah memenangkan pemilukada dan berkuasa penuh untuk mengelola keuangan yang bersumber dari APBD dan APBN dengan baik. Artinya tidak bisa tertangkap tangan KPK atau aliran keuangannya tidak bisa ditelusuri oleh PPATK.

Ketiga, bisa juga ada Balon Kepala Daerah itu yang sangat peduli pada Tim Suksesnya dengan cara membagi-bagi jabatan kepala dinas setelah memenangkan pemilukada. Contoh ada Tim Sukses yang berlatarbelakang pendidikan keagamaan, ditunjuk menjadi Kepala Dinas Pertanian, atau jabatan lainnya.

Keempat, bisa saja terdapat Balon Kepala Daerah yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya menjadi Kepala Daerah. Berdasarkan pengalaman hidup selama bekerja selama ini sudah memiliki kompetensi berupa knowledge (pendidikan), skill (kemampuan), dan personal attributes (atribut personal-sikap, perilaku, komunikasi, kerjasama), sehingga pada waktu sekarang sudah sangat tepat untuk melayani masyarakat di wilayah Kabupaten/Kota, agar hidup dari masyarakat menjadi sejahtera.

Berdasarkan beberapa catatan di atas, kira-kira apa yang menjadi keinginan dari para Balon Kepala Daerah di Kepulauan Nias? Bisa saja ada keinginan untuk berkuasa, atau ingin mensejahterakan diri dan kroni-kroninya, atau hanya peduli pada Tim Suksesnya, atau ingin mengabdi untuk melayani masyarakat. Untuk mengetahui apa yang diinginkan, tentu masing-masing Balon perlu bertanya pada diri sendiri. Tetapi harapan kita semua bahwa Balon Kepala Daerah yang ingin berkompetisi pada pemilukada di Kepulauan Nias, memiliki keinginan besar serta menyala-nyala untuk mengabdikan dirinya pada kemaslahatan masyarakat dan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat di Kepulauan Nias.

Pertanyaan selanjutnya yaitu, bagaimana Anda sebagai Balon dapat mewujudkan pengabdiannya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera? Tentu masing-masing Balon perlu melakukan survei kecil-kecilan untuk memastikan mengenai kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada manajemen pemerintahan yang sekarang. Hal lain yang dilakukan lagi yaitumendalami dengan seksama mengenai apa saja kepentingan dan kebutuhan masyarakat di Kepulauan Nias pada waktu sekarang dan yang akan datang. Para Balon perlu melakukan inventarisasi pada kekuatan dan kelemahan manajemen pemerintahan sekarang, sekaligus merinci peluang dan ancaman Anda ke depan. Lalu menginventarisir juga mengenai kepentingan dan kebutuhan masyarakat Kepulauan Nias.

Kepulaun Nias sudah menjadi kawasan strategi pariwisata nasional (KSPN) di wilayah bagian barat Indonesia, serta para Kepala Daerah di Kepulauan Nias sudah menyepakati dalam suatu forum pada pertengahan tahun 2014 yang lalu bahwa lokomotif pembangunan Kepulauan Nias adalah sektor pariwisata. Berhasilnya sektor pariwisata ini tentu sangat didukung oleh sektor-sektor lain seperti pertanian, perhubungan, pekerjaan umum, kelautan dan perikanan dan lain-lain. Karena itu para Balon Kepala Daerah sebaiknya turut menginventarisir juga mengenai hal-hal yang sangat berkaitan dengan peningkatan prasarana dan sarana kepariwisataan di Kepulauan Nias.

Untuk diketahui bersama bahwa pemerintah itu pada dasarnya memiliki 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (Zebua, 2014).

Nah, apa saja yang akan dilakukan dan bagaimana cara melaksanakannya, tentu diperlukan penjabaran lebih dalam dan penjabarannya pun hendaknya dilakukan secara komprehensif. Walau semuanya itu selalu didasarkan pada visi, misi, dan tujuan para Balon, atau minimal pengaplikasiannya terdapat pada berbagai program kerja yang akan diusung bila Balon terpilih sebagai Kepala Daerah definitif. Program kerja-program kerja yang disiapkan serta diperiodekan pada bentuk program jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang, diharapkan dapat menjadi patokan atau merupakan miles-stone pencapaian realisasi dari visi para Balon nantinya. Dan ini akan selalu dievaluasi setiap tahun, sehingga pada akhir periode kepemimpinan Kepala Daerah sudah dapat dinilai seberapa besar tercapainya visi Kepala Daerah.

Untuk itu, sangat diperlukan kesiapan para Balon untuk menyiapkan diri dengan serius, agar mampu melaksanakan strategi Anda bila terpilih menjadi Kepala Daerah. Strategi yang Anda lakukan sekarang adalah menyiapkan route jalan selebar-lebarnya agar jalan itu bisa Anda lewati dengan mulus dan nyaman, serta pilihlah alat yang digunakan untuk mempercepat waktu perjalanan Anda pada saat Anda melewati jalan tersebut. Dan alat yang dimaksud di sini adalah program kerja Anda selama duduk dalam jabatan sebagai Kepala Daerah.

Selamat mengabdikan diri untuk menjadi Kepala Pelayan masyarakat dan selamat melaksanakan pembangunan di Kepulauan Nias demi perwujudan kesejahteraan masyarakat yang dilayani, sesuai dengan keinginan pada waktu menjadi Balon Kepala Daerah.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Budaya Baca di Sekolah-Sekolah Kepulauan Nias Perlu Ditumbuh-kembangkan

Saturday, March 14th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

OpiniSekolah sebagai lokasi utama yang menjalankan kegiatan pendidikan perlu memikirkan dan melakukakan usaha besar untuk membentuk sumber daya manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa. Sekolah bukan sekedar objek semata tetapi merupakan tempat untuk mendidik dan mengajar anak-anak bangsa menjadi manusia yang mampu memajukan bangsa. Kehadiran sekolah sebagai wahana pembentukan manusia bukan merupakan fiksi belaka melainkan suatu realita yang diakui oleh pemerintah dan masyarakat.

Seiring dengan perkembangan zaman, sekolah sebagai dunia pendidikan semakin dihadapkan pada berbagai tantangan termasuk pembangunan manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa. Untuk menghadapi tantangan tersebut tentunya sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias perlu memikirkan strategi dan usaha yang baik sehingga pembangunan manusia yang berwawasan luas dan berkarakter bangsa dapat dicapai secara maksimal. Strategi dan usaha yang dimaksud tentunya tidak hanya terbatas pada strategi pembelajaran internal yaitu pembelajaran di dalam kelas.

Salah satu strategi yang terakui sebagai usaha yang dapat menciptakan manusia-manusia yang berwawasan luas adalah kebiasaan membaca atau budaya baca. Membaca dapat mengantar manusia untuk mencapai derajat pengetahuan yang tinggi. Jadi sangatlah tepat apabila dikatakan bahwa membaca adalah syarat utama untuk membangun intelektualitas. Kalau kita melihat para pendiri bangsa Indonesia, mereka adalah orang-orang yang gemar membaca. Bung Karno, Bung hatta, Sutan Sjahrir mereka begitu dekat dengan buku. Kedekatan dengan buku membuat mereka berwawasan luas dan berpikiran besar (Republika.Co.Id, Oleh: Faisal Fadilla).

Pada beberapa tahun terakhir ini membaca dalam kehidupan sehari-hari sangat sulit dijumpai apalagi di Kepulauan Nias khususnya di sekolah-sekolah. Mulai dari pelajar sampai orang yang sudah bekerja termasuk guru hampir sedikit yang melakukan kegiatan membaca dalam kehidupan sehari-hari. Padahal dengan membaca, kita dapat memperoleh banyak informasi dan pengetahuan. Hasil survei UNESCO menunjukkan bahwa Indonesia masih jadi negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di ASEAN! Tahun 2012, UNESCO mencatat indeks minat baca kita cuma 0,001. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Dari indeks tersebut tentu kita dapat membandingkan indeks minat baca di Kepulauan Nias.

Berdasarkan hasil pengamatan, rendahnya minat baca di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias disebabkan oleh beberapa aspek, yakni kurangnya motivasi atau dorongan pihak sekolah untuk mengajak anak didik dalam kegiatan membaca, rendahnya pengelolaan perpustakaan, ketidaktersediaan buku dan ruang perpustakaan, tidak adanya program budaya baca sekolah yang terorganisir dan terjadwal. Rendahnya budaya dan minat baca di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias juga dapat kita buktikan dari kegiatan siswa di luar sekolah atau ketika sudah tiba di rumah. Dari hasil pengamatan, hampir jarang sekali siswa yang membaca ketika sedang berada di luar sekolah. Tentunya, ini disebabkan tidak ditumbuh kembangkannya budaya baca dari sekolah. Di samping itu, minat baca yang rendah ini dapat kita amati dari kegiatan-kegiatan ekstra. Kebanyakan siswa hanya diarahkan pada satu kegiatan yang sifatnya monoton. Contohnya: olahraga atau olah vokal. Hampir tidak ada sekolah yang menyelenggarakan program membaca pada kegiatan ekstra siswa.

Selain penyebab-penyebab tersebut di atas, rendahnya minat baca siswa di sekolah-sekolah yang ada di Kepulauan Nias juga dipengaruhi oleh faktor kebiasaan keluarga yang tertanam pada diri siswa. Misalnya, kebiasaan anggota keluarga yang memanfaatkan waktu luang mereka untuk menonton televisi atau kebiasaan anggota keluarga terutama orangtua yang membiarkan anak-anak mereka untuk tidak belajar termasuk membaca.

Menyadari manfaat besar dari membaca dan fakta terkait minat baca masyarakat yang masih rendah terutama masyarakat kepulauan Nias serta mengingat peran sekolah sebagai tempat pembentukan manusia, sekolah-sekolah dari berbagai tingkatan pendidikan di Kepulauan Nias diharapkan berpacu untuk menumbuhkan dan mengembangkan program budaya baca. Karena melalui program budaya baca di sekolah, siswa akan terbiasa membaca dengan memanfaatkan buku atau bahan bacaan yang ada dan akan berdampak pada kegiatannya di luar sekolah. Dengan demikian, sekolah akan melahirkan siswa-siswa yang berpikiran besar atau manusia-manusia yang berwasan luas di tengah-tengah lingkungan kita. Di samping peran sekolah, tentunya pengembangan budaya baca tentunya juga perlu dikembangkan dalam keluarga dan masyarakat.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.