Archive for December 27th, 2010 | Daily archive page

Dua Anak Kritis Dianiaya di Lahewa Timur, Kabupaten Nias Utara

Monday, December 27th, 2010

* Orang Tua punya masalah tapi anak jadi korbannya

Laporan Tim PKPA Nias, 19 Desember 2010

Kronologi Kejadian
Kembali terjadi peristiwa penganiayaan pada anak, dua anak yang tidak berdosa menjadi korban penganiayaan dan kekejaman orang dewasa. Peristiwa tersebut terjadi di di desa Tetehose Sorowi Kecamatan Lahewa Timur.

Peristiwa penganiayaan itu terjadi pada tanggal 8 Desember 2010 ketika Nibenia Zalukhu (10) tahun dan Witer Pardin Zalukhu (10) ditahun sedang membeli jajanan pada saat jam istirahat sekolah,kebetulan tempat para bocah tesebut membeli jajanan berdekatan dengan rumah pelaku yaitu Arisnelis Zalukhu. Ketika keduanya lewat didepan rumah Arisnelis Zalukhu, tiba-tiba Arisnelis Zalukhu menghadang Nibenia Zalukhu dan Witer Pardin Zalukhu dengan sebuah kayu ditangannya. Dan tanpa basa-basi Arisnelis Zalukhu kemudian memukul kepala Nibenia Zalukhu dengan kayu terset, akibat kerasnya pukulan yang diterima oleh Nibenia Zalukhu mengakibatkan bocah kelas III SD tersebut jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.

Setelah melihat Nibenia Zalukhu jatuh, pukulan kembali dilayangkan oleh Arisnelis Zalukhu yang kali ini mengarah ke mulut Witer Pardin Zalukhu yang mengakibatkan Witer Pardin Zalukhu mengalami luka parah dibagian wajahnya, beberapa gigi Witer lepas dan dagu Witer pecah sehingga harus mengalami beberapa jahitan.

Para warga disekitar tempat kejadian ketika melihat para korban tersebut, tidak berani melakukan tindakan apa-apa, para warga kemudian menghubungi Kepala Sekolah dan Kepala Sekolah kemudian menghubungi Camat dan kemudian Camat memerintahkan agar para korban dibawa ke puskesmas terdekat.

Sesampainya di puskesmas, karena keterbatasan fasilitas yang dimiliki oleh pihak puskesmas Nibenia Zalukhu kemudian dirujuk ke rumah sakit umum gunungsitoli, sedangkan Witer Pardin Zalukhu telah mendapatkan pengobatan di puskesmas tersebut.

Dirujuk Ke RSU Gunung Sitoli
Nibenia Zalukhu yang masih dalam keadaan koma, kemudian di masukkan ke ruang ICU Rumah Sakit Umum Gunungsitoli. Ketika laporan ini ditulis, Nibenia Zalukhu telah 12 hari berada di RSU Gunungsitoli.

Berdasarkan keterangan dari Dr.Hajriadi Aceh dokter yang menangani Nibenia Zalukhu, bahwa kondisi Nibenia sudah mulai membaik apabila dibandingkan dengan kondisi Nibenia ketika pertama kali masuk ke Rumah Sakit. Nibenia yang awalnya dalam keadaan koma dengan batas kesadaran beada di level 4, saat ini sudah dirawat diruang perawatan biasa dengan batas kesadaran antara 10.

Lebih lanjut Dr. Hajriadi Aceh menerangkan mengenai kondisi Nibenia Zalukhu, akibat pukulan yang diterima oleh Nibenia berdasarkan hasil rontgen dapat diketahui bahwa tulang tengkorak bagian belakang Nibenia retak sampai ke telinga, akibatnya diminggu pertama ketika Nibenia di rawat di ICU, darah segar terus keluar dari kuping Nibenia dan saat ini darah tersebut sudah berhenti, tetapi cairan kental tetap keluar dari kuping Nibenia, cairan tersebut berasal dari otak Nibenia yang cidera.

Nibenia juga kekurangan darah dengan golongan darah B. Secara medis dokter tidak bisa memprediksi mengenai kesadaran dari Nibenia, bisa saja tiba-tiba otak Nibenia tidak bisa menerima respon dan Nibenia kembali Koma, oleh karena itu pihak rumah sakit berusaha agar Nibenia tetap dalam kondisi seperti ini sambil memberi pengobatan terhadap otak Nibenia yang retak.

Secara medis, otak Nibenia yang retak akan tersambung kembali secara alami walau tanpa proses operasi, tetapi yang harus dikhawatirkan adalah pihak dokter belum mengetaui kondisi syaraf dari otak Nibenia karena secara jujur diakui RSU Gunungsitoli tidak memiliki fasilitas CT Scan untuk melihat kondisi syaraf Nibenia.

Oleh karena itu diharapkan, secepatnya Nibenia dapat dirujuk ke rumah sakit yang berada di medan untuk mengetahui kondisi kepala Nibenia. Melihat kondisi fisik Nibenia saat ini, Nibenia sudah cukup kuat untuk diterbangkan ke medan.
Dengan kondisi keuangan yang dimiliki oleh keluarga Nibenia, sangat tidak mungkin untuk bisa membiayai Nibenia hingga ke medan, karena untuk membeli obat yang diresepkan oleh dokter saat ini pihak keluarga tidak mampu dan sudah menyerah. Bahkan pihak keluarga mendesak agar Nibenia dibawa pulang ke kampung karena memikirkan biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak keluarga selama di Rumah Sakit.

Peran PKPA
PKPA mendapat laporan kasus tersebut pada tanggal 15 Desember 2010 atas laporan Ibu korban yang mendapat saran dari dokter Rumah Sakit untuk meminta bantuan PKPA. Sejak laporan tersebut PKPA langsung melakukan cek lapangan, melihat kondisi korban di Rumah Sakit dan berdiskusi dengan dokter. Selanjutnya PKPA melakukan kordinasi dengan pihak Kepolisian Nias dan Polsek Lahewa terkait proses hokum terhadap pelaku. PKPA sendiri telah mendiskusikan kasus ini kepada beberapa pihak seperi Ibu Ester (Wartawan Senior), Suster Clara (Yayasan Faomasi) dan beberapa lembaga swadaya masyarakat. Kordinasi dengan pemerintah Kabupaten Nias Utara dan P2TP2A Kabupaten Nias sedang dilakukan namun belum mendapatkan respon.

Gempa Bumi Dan Brokenhome Membawa Kami Kejalanan

Monday, December 27th, 2010

* Kisah Tiga Anak Asal Nias

Oleh: Misran Lubis dkk*

Pemulihan Nias pasca gempa bumi 4 tahun lalu masih menyisakan banyak masalah terutama anak-anak. Beberapa kali saya (Misran Lubis) pernah mengatakan disetiap pertemuan Child Protection dan dikesempatan lainnya selama di Nias, bahwa saya masih mengkhawatirkan banyak persoalan anak yang belum selesai, terutama keberadaan anak-anak yang terpisah dari orang tuanya. Namun hampir tidak ada yang percaya dan bahkan menggap hal itu bukan sesuatu yang serius. Akhirnya satu-persatu kasus-kasus anak yang terpisah mulai terungkap, yang terbaru adalah kisah petualangan 3 anak yang diterlantarkan oleh kedua orang tuanya. Sang ayah seorang Pemabuk meninggalkan rumah dan menikah lagi. Sementara si-ibu meninggalkan Nias tanpa pesan dan tidak diketahui keberadaannya. Si Ibu lari dari rumah karena sering mendapat kekerasan dari suami.

Anak-anak malang kakak-beradik itu adalah Pide Nduru (16 tahun), Agus Druru (14 tahun) dan Antonius Druru (12 tahun). Pide mengajak kedua adiknya meninggalkan Nias menumpang kapal feri menuju si-bolga dan hidup berpidah-pindah dari satu kota ke kota lain di Sumatera Utara, sampai akhirnya mereka tiba di kota Medan menjadi anak jalanan. Hidup tanpa tujuan dan penuh resiko harus dijalani karena tak ada lagi orang yang mempedulikan nasib mereka. Meskipun kehidupan mereka penuh penderitaan namun masih tersimpan rasa rindu pada sang Ibu dan Kampung halaman “tano niha” mereka berharap suatu saat masih bisa bertemu Ibu dan kembali ke Nias…”lebih senang lagi jika dapat kembali sekolah, 4 tahun sudah menjadi anak jalananan masa depan kami makin tak jelas bang” . (Kata Pide Nduru).

Selain cerita tiga anak tersebut, masih terdapat sederet kisah lain anak Nias yang mengadu nasib dijalanan kota Medan. Dalam sebuah penelitian tahun 2010, PKPA menemukan sedikitnya 14 anak asal Nias di Medan. Berikut adalah sepenggal kisah-kisah mereka;

Petrus Nazara
Seorang anak laki-laki penjual plastik, Ia sudah tidak bersekolah lagi sejak kelas V SD. Petrus merupakan putra asli asal Nias. Ia adalah anak kedua dari tiga orang bersaudara. Ia tinggal bersama ayah kandungnya. Ayahnya bernama S. Nazara sehari-hari bekerja sebagi penarik beca. Ibunya bernama F. Lase, sudah lama pergi meninggalkan rumah dan tidak diketahui keberadaannya. Pria tinggi dan pemalu ini terpaksa bekerja untuk membantu ayahnya meringankan beban keluarga.

Firman Tuhan Gulö
Firman kelahiran Gunung Sitoli, Nias. Ia bekerja sebagai penjual plastik. Ia adalah anak kedua dari empat orang bersaudara. Ia memiliki dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Ia tinggal bersama Ibu kandungnya yang sudah bercerai dengan ayahnya yang bernama R.Gulo dan ayahnya sudah kawin lagi. Ibu Firman berprofesi sebagai Pemulung (pencari botol plastik dan barang bekas). Penghasilannya tidak tetap antara IDR. 30.000,00 – 40.000,00/hari (Euro 2-2.5/day). Kondisi keluarga mengharuskan Firman putus sekolah dan harus bekerja untuk menambah pendapatan keluarga.

Samuel Zagötö
Ia bercita-cita menjadi Polisi, anak ketiga dari tiga orang bersaudara ini memiliki dua saudara laki-laki. Ia tinggal bersama orang tua kandung di Medan Helvetia. Ayahnya bekerja sebagai penarik beca. Penghasilan setiap harinya rata-rata IDR. 30.000,00 (Euro 2/day). Ibunya bernama R. Ibu tiga anak ini memilih berjualan rokok untuk membantu perekonomian keluarga. Biasanya, Ibu Samuel berpenghasilan IDR. 30.000,00/hari (Euro 2/day). Penghasilan keluarga yang tidak menentu memaksa Samuel Jagoto bekerja menjual plastik sebelum pergi ke sekolah.

Novita Zagötö
Anak perempuan ini merupakan anak kedua dari tiga orang bersaudara ini merupakan kakak kandung Samuel Zagötö. Ia tinggal bersama kedua orang tua kandungnya di Kampung Lalang, Medan. Ayahnya bernama M. Zagötö bekerja sebagai penarik becak. Penghasilan ayahnya antara IDR. 30.000 – 40.000/hari (Euro 2-2.5/day). Ibunya bernama R. Ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga. Keadaan ekonomi keluarga yang sulit menyebabkan Novita bekerja sebagai penjual plastik di pasar Kampung Lalang sebelum berangkat ke sekolah.

Arisman Zebua
Anak yang bercita-cita menjadi tentara ini adalah anak ketujuh dari tujuh orang bersaudara. Ia tinggal bersama Pamannya, abang kandung dari Ibunya. Pamannya bernama F.Zai. bekerja sebagai penarik Becak. Penghasilan pamannya antara IDR. 30.000 – 40.000/hari (Euro 2-2.5/day). Ayah kandungnya bernama Feri Zabua. Menurut informasi dari Arisman, ayahnya bekerja sebagai tukang babat rumput di Pekan Baru. Penghasilan ayahnya tidak tau karena tidak pernah memberikan kiriman uang kepadanya. Ibunya bernama M. Zai.

Eber Gulö
Ia adalah anak pertama dari empat orang bersaudara. Ia mempunyai tiga orang saudara perempuan. Eber tinggal bersama ibu kandungnya di Medan-Binjai km. 10,5. Ayahnya bernama K. Gulo telah meninggal dunia ketika Eber masih kecil. Ibunya bernama B. Simbolon bekerja sebagai pencari barang bekas yang terbuat dari besi dan plastik (botot). Penghasilan ibunya tidak tetap rata-rata IDR. 30.000/hari (Euro 2/day). Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama adik-adiknya, ia terpaksa putus sekolah dan bekerja menjual kantongan plastik di pasar Kampung Lalang.

Juniar Derianto Nazara
Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara, Juniar mempunyai dua orang saudara laki-laki dan empat orang saudara perempuan. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di Simalingkar, Medan Tuntungan. Ayahnya bernama D. Nazara bekerja sebagai penarik becak. Penghasilan ayahnya tidak tetap antara IDR. 20.000 – 30.000/hari (Euro 1.5-2/day). Ibunya bernama F. Sihotang. Ibunya hanya bekerja mengurusi rumah tangga dan mengurusi adik.

Martinus Nazara
Ia merupakan anak ketiga dari tujuh orang bersaudara, Martinus mempunyai dua orang saudara laki-laki dan empat orang saudara perempuan. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di jSimalingkar, Medan Tuntungan. Ayahnya bernama D. Nazara. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak. Penghasilan ayahnya tidak tetap antara IDR. 20.000 – 30.000/hari (Euro 1.5-2/day). Ibunya bernama F. Sihotang. Ibunya hanya bekerja mengurusi rumah tangga dan mengurusi adik.

Adi Aman Nazara
Anak laki ini adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Ia tinggal bersama kedua orang tua kandungnya di jalan Simalingkar, Medan Tuntungan. Nama ayahnya D. Nazara. Ayahnya bekerja sebagai tukang becak. Penghasilan ayahnya tidak tetap antara IDR. 30.000-40.000/hari (Euro 2-2.5/day). Ibunya bernama F. Sihotang. Sehari-hari, ibunya hanya mengurusi rumah tangga. Terutama mengurusi dua adiknya. Adi mengamen setelah pulang sekolah sampai menjelang malam. Ia bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.

Antonius Kecil Nduru
Tius panggilan akrabnya anak laki-laki lahir di Nias pada 13 tahun lalu. Tinggal bersama teman-teman dijalanan, anak ke3 dari 4 bersaudara. Aktifitasnya dijalanan adalah mengamen di Simapang Juanda dengan rata-rata penghasilan IDR 15.000 atai sekitar 1,2 Euro perhari. Mengamen bersama teman-teman selama 24. Anak putus sekolah SMP kelas 1 membuat Tius menggantungkan cita-citanya menjadi sarjana. Ayah bekerja sebagai penarik becak dengan Penghasilan rata-rata orang tua dapat mencapai IDR 25.000 atau sekitar 2 Euro perhari. Ibu jualan cabe di simpang Limun – Medan.

Ardin Gea
Andrin panggilan akrabnya anak Laki-laki lahir di Nias pada 15 tahun lalu. Tinggal bersama orang tua. Anak ke-5 dari 7 bersaudara bekerja sebagai mengamen di Glugur, Medan dengan rata-rata penghasilan IDR 15.000 atai sekitar 1,2 Euro perhari. Anak putus sekolah sejak SD yang ingin menjadi Polisi. ayah bekerja sebagai penarik becak dengan Penghasilan rata-rata orang tua dapat mencapai IDR 25.000 atau sekitar 2 Euro perhari.

Luminar Waruwu
Linar panggilan akrabnya anak Perempuan lahir di Jakarta pada 10 tahun lalu. Tinggal bersama orang tua. Anak ke-3 dari 5 bersaudara. Aktifitasnya dijalanan adalah mengamen di Gurupatimpus. dengan rata-rata penghasilan IDR 15.000 atai sekitar 1,2 Euro perhari. Anak putus sekolah sejak SD yang ingin menjadi Polisi. ayah bekerja sebagai penarik becak dengan Penghasilan rata-rata orang tua dapat mencapai IDR 25.000 atau sekitar 2 Euro perhari.

Imanuel Waruwu
Nuel panggilan akrabnya anak Laki-laki lahir di jakarta pada 13 tahun lalu. Tinggal bersama orang tua anak ke3 dari 5 bersaudara. Aktifitasnya dijalanan adalah mengamen di Petisah dengan rata-rata penghasilan IDR 15.000 atai sekitar 1,2 Euro perhari. Mengamen bersama teman-teman sepulang sekolah hingga pukul 8 malam. ayah bekerja sebagai penarik becak dengan Penghasilan rata-rata orang tua dapat mencapai IDR 25.000 atau sekitar 2 Euro perhari.

Meirani Syahputri Gulö
Anak perempuan ini bernama Meirani Syahputri Gulö umurnya 12 tahun. Rani nama panggilannya, Rani duduk di kelas 2 SLTP Alwashliyah Pinang Baris, Medan. Rani bercita – cita ingin menjadi guru dan hobbynya membaca . Rani anak kedua dari 4 orang bersaudara dia mempunyai 1 orang kakak perempuan, 1 orang adik perempuan dan 1 orang adik laki – laki. Saat ini Rani tinggal bersama Ayahnya yang beralamat di jalan wakaf II P. Baris. Ayahnya bernama Siduhu Gulö, sehari – hari bekerja sebagai buruh bangunan dengan pendapatan Rp.200.000,-/minggu (16 Euro/week). Ibunya bernama Almarhumah Habsah, mendiang Ibunya baru saja meninggal beberapa bulan yang lalu karena sakit paru – paru.

*Tim PKPA-Medan – Email: lu******@***oo.com, Mobil: 08126064126

*Saat istirahat siang, anak-anak jalanan ini menghabiskan uang dan waktunya di meja bilyar, rokok, minuman keras dan “ngelem” menemani saat-saat istirahat siang maupun malam.