JAKARTA, Nias Online – Masyarakat Nias pagi ini kehilangan dua putra terbaiknya di bidang seni. Keduanya adalah Ratosan Zagötö dan Basarotödö (Basa) Manaö. Keduanya berasal dari Desa Bawömataluo dan karya mereka sempat ‘merajai’ blantika musik Nias.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Nias Online dari adek kandung Ratosan, Ama Harris, Ratosan meninggal dunia sekitar pukul 03.15 Wib. Sedangkan Basa diberitakan meninggal sekitar pukul 06.30 Wib. Saat ini keduanya berdomisili di Desa Bawöfanayama atau Ndraso, Kecamatan Fanayama, Nias Selatan.
Ama Harris menjelaskan, sampai saat ini belum diketahui pasti penyebab meninggalnya Ratosan. Sejak kemarin, kata dia, Ratosan mulai mengeluh sakit. Semula pihaknya menduga hanya penyakit maag.
Ratosan meninggalkan tiga orang anak dan seorang istri yang saat sedang mengandung anak keempat. Sedangkan Basa meninggalkan empat anak dan seorang istri.
Sekitar lima tahun terakhir, Ratosan dan Basa telah menelurkan beberapa album termasuk single. Pada umumnya, laris di pasaran. Beberapa lagu Ratosan yang terkenal adalah Lö ta’ohe ba Lewatö, No Ufabu’u, Badalu Mbawa Sisiwa, Lö Taya Ba dödö, Hatö Faniasa dan Ama. Album mereka yang relatif anyar dikeluarkan oleh Lembaga Futi Rai Ana’a (FURAI). Dalam album itu, Ratosan bernyanyi bersama adiknya Setuju Zagötö dan Basa dengan nama Trio Sebaraya. Salah satu lagu yang dinyanyikan Trio Sebaraya berjudul Fekoli, diciptakan oleh Basa yang merupakan lagu pertama pada album perdana yang dikeluarkan oleh lembaga yang dipimpin oleh Aliozisökhi Fau, mantan anggota DPRD Sumut itu. Lagu Fekoli juga adalah peraih Juara I Lomba Cipta Lagu Nias 2007.
Dalam album itu mereka juga berkolaborasi dengan seniman asal Bawömataluo lainnya, Hikayat Manaö. Penyanyi Nias lainnya dalam album yang sama adalah Ayu Zega, O’ö Zebua, Nova Pandia, Erwin Telaumbanua dan Markus Lase.
Ratosan akan dimakamkan besok (Rabu, 15/12) di Desa Bawömataluo sekitar pukul 12.00 Wib. Sementara itu, belum ada informasi mengenai rencana pemakaman almarhum Basa yang sampai saat berita ini ditayangkan masih disemayamkan di rumahnya di Desa Bawöfanayama/Ndraso. (Etis Nehe)