Archive for December 6th, 2010 | Daily archive page

Masuk Bui Karena Menonton TV

Monday, December 6th, 2010

Lebih dari 1000 warga Korea Utara masuk bui karena menonton acara-acara TV Korea Selatan secara sembunyi-sembunyi. Hal ini diungkapkan oleh suatu kelompok pelarian asal Korea Utara yang kini tinggal di Seoul. Dikatakannya, rezim Korea Utara berusaha keras menghempang arus informasi dari luar yang disiarkan oleh stasiun-stasiun televisi di Korea Selatan.

Solidaritaa Intelektual Korea Utara yang berpangkalan di Seoul mengatakan sekitar 1200 orang dipenjarakan di kota Kaechon karena ‘pelanggaran’ itu. Informasi ini bersumber dari dalam penjara yang dihuni sekitar 3000 orang.

Di Korea Utara, akses masyarakat biasa terhadap budaya pop dari luar dilarang dan pelanggarnya dihukum berat.

Akan tetapi penyusupan DVD dan CD musik dari Cina telah mempopulerkan budaya pop Korea Selatan, kata kelompok tersebut.

Pelanggaran ini telah membuat penjara di Kaechon penuh sesak.

Rezim di Pyongyang membentuk satuan khusus kepolisian untuk menangani kasus pelanggaran orang-orang yang mereka sebut sebagai ‘jiwa yang membusuk’.

Kelompok itu mengatakan para pelanggar dipenjarakan selama dua hingga lima tahun dan mendapat perlakuan lebih kasar di dalam penjara daripada kejahatan jenis lain.

Namun menurut berbagai laporan, usaha rezim Korea Utara untuk membendung apa yang disebut sebagai Hallyu arau Gelombang Korea ini akan sia-sia saja.

Selain melarang menonton program-program TV dari Selatan, rezim Pyongyang juga melarang perempuan meniru gaya rambut perempuan Korea Selatan, yang mereka cap sebagai ‘gaya nakal’. (NH/brk)

Surat dari Negeri Matahari Terbenam (1)

Monday, December 6th, 2010

Salju dan Garam

Sejak beberapa bulan ini saya mengambil kursus bahasa di Inggeris. Inggeris adalah negara paling barat dari negara-negara yang dalam tulisan-tulisan zaman dulu sering disebut negeri matahari terbenam (the occident). Karena itu saya memilih judul tulisan ini Surat dari Negeri Matahari Terbenam (SdNMT).

Ada banyak yang bisa dikisahkan dari negeri matahari terbenam ini. Selain fenomena siang hari yang pendek dan malam yang lebih panjang pada musim dingin, ada banyak hal lain yang menarik untuk diamati, apalagi dengan memakai kacamata Indonesia. Saya mulai dengan surat pertama tentang salju dan garam.

Ketika menatap ke luar jendela pagi ini, saya merasakan sesuatu yang istimewa. Secepat gorden terbuka, mata saya disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Di mana-mana putih. Dedaunan dihinggapi salju bagaikan kapas yang sedang bertengger indah. Rerumputan “menghilang” ditutupi lapisan salju lembut. Permukaan tanah seolah “bersembunyi” di balik selimut salju empuk. Saya tertegun sejenak. Malam-malam ternyata Sang Kuasa telah menyelimuti bumi dengan selimut empuk berbahankan bebutiran salju. Ia bagaikan seorang ibu yang menatap sang bayinya di tengah malam dan mengecupnya sebelum menyelimutinya sambil mengucapkan doa.

Melihat pemandangan mencengangkan ini mereka yang dibesarkan di Barat pasti terpikir akan Hari Natal. Tapi karena ini masih awal Desember, sementara Hari Natal masih lebih tiga minggu lagi, dan justru karena itu, pemandangan ini menimbulkan kerinduan: kerinduan akan hari-hari penuh berkat, kerinduan akan pengalaman bersama keluarga di Hari Natal, kerinduan akan gemerincing lonceng dan dendang syahdu lagu-lagu Natal. Kendati dewasa ini derap komersialisasi pusat-pusat perbelanjaan semakin mencekik denyut Natal yang sebenarnya, arus bawah kerinduan itu masih terasa. Suasana indah ini yang dibungkus lembut oleh selimut salju membuat kerinduan akan kehadiran DIA yang dirayakan pada Hari Natal semakin terasa.

Dalam suasana seperti ini masa Adven atau masa penantian akan kedatangan Dia, yang akan hadir di Hari Natal, lebih berdaya. Mungkin sudah terlanjur, sebagai orang Indonesia kepekaan akan masa Adven hampir pupus, karena mereka-mereka yang sedemikian bersemangat menyambut Natal, sehingga tidak perlu lagi mempersiapkannya.

Yah, di Indonesia kita sudah terlanjur merayakan kehadiran-Nya (baca: Natal) sebelum kita menantikan kedatangan-Nya. Bagaikan seorang pengantin, yang tanpa persiapan menuju ke pesta pernikahan. Betapa malangnya sang pengantin: pesta belum direncanakan, perlengkapan belum dipersiapkan, baju dan gaun belum didisain, hidangan belum dimasak, hati belum siap, tiba-tiba sudah berada di tengah pesta instan. Dan kita tahu tanpa persiapan matang satu peristiwa besar dalam hidup akan merosot menjadi dangkal, tak meninggalkan kesan.

Tapi kita tinggalkan dulu kesan suasana yang ditimbulkan oleh sang salju. Ini adalah fakta fisika: Salju turun karena suhu udara merosot ke bawah nol. Itu berarti air akan menjadi beku. Maka embun yang seyogyanya hinggap di permukaan bumi malam-malam, malah membeku menjadi lapisan es yang tipis. Karena itu permukaan bumi menjadi satu lapisan licin yang berbahaya, yang bisa membuat manusia tergelincir atau kendaraan meluncur tak terkendali.

Untunglah pemerintah Inggeris merasa memiliki tanggungjawab menghindari bahaya kecelakaaan sedemikian. Diperkirakan kebutuhan garam yang akan ditebarkan di jalan-jalan tahun ini sebanyak 3,3 juta ton. Defisit kebutuhan garam telah diimport dari luar negeri. Pemerintah Inggeris rupanya tidak kalah cekatan dibanding pemerintah kita di Tanah Air, yang selalu tanggap akan bencana. Benar kan?

Ya, syukur ada pemerintah Inggeris. Karena garam itu saya merasa aman melangkah keluar rumah dan berjalan menuju stasiun kereta api hari ini. Betapa penting garam pada masa-masa seperti ini. Dan aku teringat akan kata-kata Sang Guru, “kamulah garam dunia”. Aha, seolah Ia berkata, jadilah seseorang yang mengupayakan supaya orang lain tidak jatuh dan terluka di jalan yang licin. Hadirlah di jalan-jalan dan upayakan, supaya setiap mereka yang melintas bisa aman tanpa cedera. Wow, betapa sederhananya kata-kata ini dan betapa ia menyentuh urat nadi keselamatan kita. Tentu saja saya harap, bukan hanya di jalan-jalan orang Inggeris, tetapi juga di jalan-jalan kita di Tanah Air. Hadirlah di jalan-jalan dan upayakan, supaya orang lain selamat sampai ke tujuan. Hadirlah supaya mereka yang sedang berkelana jangan sampai tersesat atau terjatuh. Jadilah garam dunia. Khususnya di masa-masa ini, ketika kita menantikan kedatangan Dia yang mengusahakan keselamatan kita yang sesungguhnya.

London, 1 Desember 2010

Sirus Laia