Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen

Pengantar Redaksi: Artikel berikut muncul di Nias Portal pada tanggal 19 Februari 2004. Isinya masih cukup aktual.

Sebuah wawancara dengan Prof.Dr.med. Ingo Kennerknecht dari Universitas Münster, Jerman September 2002 Prof. Dr. med. Kennerknecht dari Universitas Münster mengunjungi Nias dengan proyek khusus. Dalam rangka proyek itu pula ia akan mengunjungi Nias bulan Maret 2003 depan. Prof. Kennerknecht mencoba menelusuri asal-usul orang Nias dengan memakai methode penelitian DNA/gen yang mutakhir.

Mungkin kebetulan saja, tetapi penyelidikan ini berlangsung hampir 100 tahun setelah penelitian Dr. J. P. Kleiweg de Zwaan, dari Universitas Amsterdam. Pada awal abad lalu, 1910, Kleiweg de Zwaan mengadakan penelitian menyeluruh di Nias, bukan hanya antropologis melainkan juga psikis dan fisik, dan telah diterbitkan dalam buku tiga jilid berjudul “Die Insel Nias bei Sumatra. Untersuchungen“, Den Haag, 1913-1915. Salah satu pertanyaan yang ingin dijawab oleh Kleiweg de Zwaan adalah tentang asal-usul orang Nias.

Ada banyak mitos tentang asal-usul orang Nias. Tentu saja mitos-mitos tsb. tidak akan dinihilkan oleh hasil penelitian ilmiah Prof. Dr. med. Kennerknecht, yang sedang berlangsung sekarang ini. Sebaliknya mitos-mitos tsb. kini bisa dibaca dalam cahaya dan bahasa ilmiah modern.

Berikut ini adalah wawancara singkat dengan Prof. Kennerknecht, yang diadakan via email. Pertanyaan diajukan oleh Raymond Laia, Jerman. Teks asli dalam bahasa Jerman juga tersedia. Selamat menikmati!

TENTANG PROYEK DNA ORANG NIAS

Herr Kennerknecht, tahun lalu Anda berada di Nias dengan sebuah “misi khusus”. Kapankah itu dan misi apa yang Anda emban di sana?

Pada bulan September 2002 saya berada di Nias selama tiga minggu. Tujuan utama adalah mengadakan penelitian tentang asal-usul orang Nias dan sejarah penyebarannya di seluruh Pulau.

Bisakah Anda ceritakan latarbelakang proyek ini? Bagaimana kisahnya, sehingga proyek ini muncul?

Keinginan untuk mengadakan penelitian itu disampaikan kepada saya oleh P. Johannes Hämmerle dalam rangka Yayasan Pusaka Nias, yang ingin mengdokumentasikan warisan budaya Pulau Nias secara menyeluruh. Secara mengagumkan P. Johannes Hämmerle telah mengumpul tradisi lisan dalam jumlah besar, menuliskannya dan sebagian diterbitkan. Ia lalu datang ke Institut kami dan menanyakan sejauh mana penelitian populasi genetis manusia berhubungan dengan tradisi lisan tentang penghunian Pulau Nias. Kebetulan akhir-akhir ini ada kemajuan besar secara metodis, sehingga nampaknya mungkin untuk menelusuri asal usul orang Nias berdasarkan penelitian genotip (penelitian sampel DNA).

Bagaimana pelaksanaan proyek ini? Bagaiman Anda menilai kerjasama dengan orang Nias?

Sebelum saya datang P. Johannes telah menghubungi Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, dan para kepala desa dari berbagai desa di Pulau Nias dan menginformasikan rencana kami kepada mereka. Kami membutuhkan banyak sukarelawan, yang bersedia menyumbangkan darah. Dengan teliti dicatat, dari keturunan mana setiap mereka yang diambil darahnya. Kemudian di Institut Genotip Manusia, Universitas Münster, akan diambil DNA dari darah itu untuk penelitian lebih lanjut. Untuk itu kami telah menjalani berbagai tempat di daerah Gunungsitoli, Lahewa, Sifalagö Gomo dan Teluk Dalam. Setelah kami memaparkan proyek ini secara rinci, akhirnya 620 orang Nias menyatakan kesediaannya. Itu berarti seperseribu dari seluruh penduduk Nias. Karena itu kami yakin sampel yang kami ambil cukup mewakili.

Adakah kesulitan dalam pelaksanaan proyek ini?

Pengambilan darah merupakan masalah bagi orang. Tetapi karena proyek ini bertujuan penelitian kebudayaan sendiri, secara mengejutkan banyak yang menyatakan diri bersedia bekerja sama. Yang sering dikhawatirkan adalah, siapa tahu “Profesor Orang Jerman” itu menjual darah yang akan diambil itu. Selain itu kebanyakan menganggap darah yang diambil itu banyak. Dalam kenyataannya isi botol berisi darah itu paling banyak 1/100 banyaknya darah manusia. Kadang sangat sulit menerangkan kepada mereka, bahwa proyek ini dijalankan atas dasar cinta terhadap kebudayaan orang lain, dan bahwa sebagai orang Jerman pertanyaan seperti: dari mana dan dari siapa orang Nias berasal? adalah menarik. Pertanyaan lain yang sering diajukan adalah, mengapa penelitian tsb. tidak diadakan di Indonesia, misalnya di Bandung. Saat ini ada dua alasan, mengapa hal itu di sana belum mungkin. Pertama adalah penelitian lebih lanjut tentang gen-molekular akan menjadi mahal dan kedua, untuk penelitan ini perlu metode khusus dan ilmu, yang mengandaikan personal yang terlatih dan terdidik serta dana.

Apa yang Anda harapkan sebagai hasil dari proyek ini? Sejauh mana perkembangannya sekarang?

Yang menarik dalam proyek ini adalah kombinasi memperbandingkan antara warisan tradisi dan data populasi genetis manusia. Setiap manusia itu unik, juga secara genetis. Orang-orang dalam satu klan memang berbeda satu sama lain, tetapi mereka lebih mirip satu sama lain daripada dengan orang dari klan lain. Dengan usaha dan keberuntungan dapat ditemukan kelompok-kelompok berdasarkan gen, dan membandingkannya dengan tradisi lisan. Bila hal itu berhasil, langkah demi langkah bisa dirunut asal-usul klan, yang kemudian bisa menunjuk kepada penyebaran orang Nias. Satu pertanyaan kunci misalnya adalah apakah Sifalagö Gomo asal orang Nias. Lalu direncanakan juga menyelidiki asal usul kelompok, yang pada zaman dahulu datang dari daerah Asia.

Kapan hasil penyelidikan ini tersedia?

Penyelidikan sangatlah menguras tenaga dan biaya, sehingga hasilnya lama kemudian baru akan ada.

Adakah sesuatu dalam rangka proyek ini, yang belum dapat diwujudkan?

Bekerja sama dengan Dr. Idaman Zega, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nias, kami telah mulai dengan penyelidikan penyakit cacat fisik bawaan. Tetapi tidak cukup waktu untuk mengadakan penelitian rinci. Yang ingin dicapai adalah meneliti penyebab cacat tsb., artinya mengetahui genotip bawaan dan perobahannya (mutation). Untuk itu dibutuhkan penyeledikan terhadap keluarga yang banyak anak.

TENTANG LATAR BELAKANG

Bagaimana Anda menilai arti proyek ini untuk penelitian ilmiah?

Publikasi, yang menyelidiki penghunian Asia berdasarkan studi perbandingan bahasa dan akhir-akhir ini gen-molekular, makin banyak. Bahwa hal ini mungkin dengan memakai metode populasi genetis telah dibuktikan secara meyakinkan oleh penyelidikan tentang penghunian Pasifik dari Taiwan. Nias berada pada tempat yang menarik, menjadi di satu pihak penghubung antara rangkaian kepulauan Nikobar dan Andaman ke Asia Selatan dan di lain pihak melalui kepulauan Indonesia ke Asia Tenggara.

Apa yang mau Anda bilang kepada orang Nias berdasarkan hasil penyelidikan ini?

Kami masih pada tahap awal, sehingga saat ini kami belum bisa memberi pernyataan apa pun. Tapi direncanakan untuk menyerahkan segala hasil penyelidikan ini nantinya kepada Yayasan Pusaka Nias. Hal yang sama berlaku juga untuk hasil penelitian tentang penyakit bawaan. Data-data ini akan dikomunikasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias. Bulan Maret ini saya akan ke Nias untuk mengumpul sampel lebih lanjut dari daerah Nias Tengah, yang belum saya punya. Lalu penyelidikan terhadap keluarga-keluarga dengan cacat bawaa masih akan berlangsung. Saya mengharapkan kerja sama dan kesediaan lebih banyak keluarga.

KESAN

Apa kesan Anda secara keseluruhan berhubung pelaksanaan proyek ini?

Sejak awal saya sadar, bahwa di Nias, seperti juga pada semua penelitian di mana pun di dunia ini, akan ada beberapa kelompok yang sulit diyakinkan mengenai proyek ini. Saya mempunyai pengertian terhadap hal ini. Tetapi secara keseluruhan saya senang, bahwa begitu banyak orang yang memiliki motivasi tinggi dan sangat menolong ikut bekerja sama dalam proyek ini. Awalnya saya tidak mengharapkan mengumpulkan begitu banyak sampel darah dalam waktu sesingkat itu. Dalam hal ini sangat menentukan persiapan luar biasa dari P. Johannes Hämmerle, yang telah lebih dahulu memberi informasi terrinci kepada para calon penyumbang darah, baik itu lisan melalui dia secara pribadi dan para rekan kerja dari Museum maupun melalui informasi tertulis. Pada pengambilan darah turut ambil bagian juga orang dari Dinas Kesehatan. Dari banyak orang yang menolong dalam proyek ini saya ingin menyebut nama Katharina Zai dari Hiliweto, Gidö. Dia telah menemani kami dalam sebagian besar turne dan menolong dalam pengorganisasian serta pengambilan darah.

Adakah pengalaman di Nias, yang Anda suka kenang?

Saya sangat terkesan dengan atmosfer di Sifalagö Gomo. Tanpa mendahului hasil penyelidikan ini nanti, saya pribadi berpendapat, bahwa di daerah ini yang dilindungi oleh gunung-gunung terasa adanya roh khusus, yang mengundang setiap orang yang baru berkunjung untuk menghuninya. Daerah ini seolah-olah diciptakan untuk menjadi “kampung nenek moyang”.

TENTANG KUNJUNGAN KE NIAS

Kunjungan Anda di bulan September 2002 bukanlah kunjungan pertama ke Nias. Kapan Anda pertama sekali mengunjungi Nias? Bukan hanya sebagai turis atau?

Bersama isteri saya telah berada di Nias 1978 sebagai turis. Kala itu kami mengadakan perjalanan selama tiga bulan menjelajahi Indonesia dan mengalami kultur megalit yang unik di Nias. Perjalanan sangatlah melelahkan. Tak ada kapal teratur ke Nias, sehingga kami berlayar ke Gunungsitoli naik kapal barang. Kami merupakan tamu pertama di hotel pemerintah di sana, dewasa ini disebut “Mess” atau “Pasanggrahan”, yang belum siap dibangun kala itu. Untuk kami dicari kasur khusus dan semua bau cat. Dalam perjalanan ke kapal kecil yang berlayar ke Teluk Dalam di Nias Selatan kami diantar ke pelabuhan oleh mobil tangki pemerintah. Belum ada jalan darat ke Selatan masa itu.

Bila Anda membandingkan kunjungan pertama dan kunjungan terakhir di Nias, perobahan apa yang paling menonjol?

Tak ada perobahan fundamental di Nias sejak kunjungan kami yang terakhir. Dengan pantai-pantainya yang putih dihiasi pohon-pohon kelapa dan budaya yang unik Nias masih merupakan pulau impian. Tentu saja, Gunungsitoli misalnya lebih besar, kini ada (lagi) jalan darat ke Selatan dan ke Utara. Kendati demikian infrakstruktur merupakan masalah bagi turis. Sayang, bahwa atap-atap daun rumbia semakin diganti dengan seng, yang cepat berkarat. Dulu di Bawömataluo kami masih melihat atap alami. Sangat sayang melihatnya telah berubah sekarang ini. Saya harap, menguatnya turisme bisa membawa pengertian dan uang demi “pengalamian” kembali dan terutama mempertahankan rumah-rumah tradisional.

TENTANG PUBLIKASI

Sudah adakah publikasi Anda tentang Nias?

Tentang Nias saya belum punya publikasi apa pun, tetapi saya harap akan ada beberapa dalam waktu dekat. Saya terutama gembira, bahwa secara mencengangkan saya kembali mempunyai kontak dengan Pulau ini, yang tinggal indah dalam ingatan saya, dan bahwa saya mempergunakan fak keahlian saya untuk itu.

Bisakah Anda menyebutkan beberapa data tentang diri Anda?

Secara paralel saya telah kuliah ilmu Biologi dan Kedokteran di Jerman dengan titik berat Genetik. Agar mendapat hubungan klinik, saya membuat spesialisasi dalam ilmu penyakit anak, sehingga lebih baik dapat menilai penyakit bawaan. Setelah kuliah ini saya meneruskan ke ilmu genetik manusia dan membuat habilitasi (setelah S3, catatan penerjemah) di fak ini.

Asia selalu merupakan kerinduan saya dan sudah sebagai anak saya ingin pergi ke Sumatera, karena harimaunya.

Terima kasih, bahwa saya berkesempatan, memperkenalkan proyek bersama ini dengan P. Johannes Hämmerle dari Yayasan Pusaka Nias dan Dr. Idaman Zega dari Dinas Kesehatan Kabupaten Nias.

Terima kasih atas wawancara.

Leave a comment ?

57 Responses to Merunut Asal-Usul Orang Nias Berdasarkan DNA/Gen

  1. sinumana says:

    Klo menurutku… Pakar A perlu hadir, gak bisa diwakili karena hanya dia yang tau tentang narasi teorinya… tradisi saat itu kan lisan (oral)… jadi dia perlu meng-“orasi”-kannya … dalam bentuk hoho [hoho mamasindro omo] diiringi pukulan fondrahi… he-he-heee… klo gak pas hohonya, ntar salah tafsir kan berabe bo…!

    Ato… gini Bang Pemerhati, diundang aja mökö-mökö Pakar A yang ada di adu nuwu itu… nah… kan berarti dia masih mungkin hadir secara fisik. Tapi… untuk itu perlu upacara ritual… dan perlu ada dua butir binu… ha-ha-ha… siapa yang mau jadi volunteer… ??? 🙂

  2. Jenk Iskhan says:

    Menurut James Frazer, ide kayak Bang Sinumana itu “pseudo ilmiah” (ritual dilakukan dengan maksud tertentu secara rasional, namun secara keliru didasarkan pada kepercayaan akan adanya daya impersonal yang supranatural). Bila ada alat (misal binu), ada upacara (ritual), ditambah jampi-jampi (mantra), maka Mariasusai Dhavamony menyebutnya “magi”.

    Beda antara ilmu dan magi, menurut Frazer, adalah bahwa ahli magi menggunakan konsepsi yang keliru tentang alam, tentang hukum-hukum khusus yang mengatur alam. Menghadirkan Pakar A secara fisik berbentuk “mökö-mökö”, andai pun itu bisa, toh tidak membuat Pakar A dapat melantunkan syair hoho diiringi pukulan fondrahi, karena dia sudah kehilangan mulut dan tangannya.

    Magi… bisa pula melanda BRR bila percaya pada mantra amarah Popper, andai Popper marah seperti kata Bang Pemerhati. BRR kan bisa jawab: “Baik Tuan Popper, teori Pakar B emang oke punya. Namun kami sulit memahaminya… kos disampaiin secara kelakar yang berbau non sequitur. Maaf Tuan, terpaksa kami tolak.” Nahh… di sini BRR rasional. Bahaya juga bila gaya non sequitur masuk milleu BRR. Bisa-bisa kinerja dan budget BRR… dimenej a la “non sequitur” semua…! 🙂

  3. sinumana says:

    Nerusin Jenk nih…
    Bila ada “darah” (alat penelitian DNA), ada acara pemeriksaan laboratorium (ritual “ilmiah” riset DNA), kemudian ditambahin mantra-mantra [seperti: “dia lebih ahli”, “dia yang menguasai hal DNA itu”, “kita blo-on”, “dia udah keluar banyak gefe”, “orang barat superior”, “gak mungkin lah dipatenkan sama dia”, “gak perlu bantah-bantahan”, “percaya aja lah”… dst, dst…], bukan kah itu juga cara bertpikir “magi”?

    Yang kutangkap, “percaya mantra, tanpa penalaran sehat”… itulah karakter “magi”… Saohagölö Jenk atas pencerahan tentang magi… 🙂

  4. ersan waruwu says:

    Yaahowu ononiha

  5. bang bagaimana jika photo orang nias dulu anda terakan dalam website

  6. ARIS LASE says:

    penjelasan diatas cukup mantap hanya saya sarankan alangkah baiknya kita lebih telusuri tentang asal mula nias, karena ada beberapa pandangan bahwa orang Nias berasal dari keturunan cina sedangkan kakek Nias orang india, tolong dijelaskan hal ini, dan apakah orang Nias Benar dari Gomo asalnya sampai ada beberapa kecamatan hari ini tologn penjelasan yang selengkapnya. Gbu Maranata

  7. NiFa DvHa says:

    Nias harus maju

  8. s.harapan zai says:

    sbagaimana yg telah d jelas kan d atas sangat2 terkesan dan sangat akurat sebaiknya kita sebangai anak nias mari kerja sama untuk

    memajukan nias,,,,

    yang kita cintai ini…,

    YAHOWU NIAS…..

  9. ANWAR LAOWO says:

    Saya sangat tertarik dengan adanya artikel tentang asal-usul orang nias ini , tapi saya binggung karena banyak sumber yang saya dengar bahwa asal-usul orang nias itu. Ada yang bilang sama saya dari sini dan ada juga yang bilang dari sana yang benarnya yang mana? . untuk itu saya sangat berharap supaya saudara yang menulis artikel ini benar-benar mendapat informasi yang bersumber dari sejarah , kebenaran orang nias adapun gen yang harus di periksa saya sangat setuju sekali. kalau ada informasi yang betul-betul dapat dipertanggung jawabnkan sehingga memperkaya pengetahuan saya tetang asal-usul orang nias , tolong tulis surat ke alamat email saya ( email : an**********@***oo.com )…………. akhir kata salam ” YAAHOWU NIAS “

  10. ANWAR LAOWO , SE says:

    Saya adalah terlahir sebagai Putra Tello tepatnya pulau-pulau batu terlahir 39 tahun yang lalu di hilimbotuomo si lima ewali pulau tello kec. pulau-pulau batu , Pulau tello merupakan pulau termuda di Nias saat ini dan juga pulau terluar dari wilayah sumatera utara. di kesempatan kali ini saya mau berkomentar bahwa Pulau Tello sungguh sangat menyimpan banyak potensi alam seperti hasil laut , cengkeh dan kopra. tapi masyarakat disana masih dibawah garis kemiskinan itu karena belum sadarnya masyarakat akan potensi alam yang mereka miliki dan juga keterbatasan ilmu / sekolah yang mereka peroleh , 10 tahun terakhir anak-anak dari pulau tello sudah mulai berani keluar pulau untuk sekolah di kota meski orang tua serba kekurangan tapi dengan semangat yang kuat dan tekad bulat untuk merubah nasib jadi baik akhirnya mereka bisa sekolah dikota , semoga mereka bisa kembali ke ke daerahnya untuk membangun pulau tello demi generasi yang akan datang.
    Pulau Tello sangat membutuhkan Investor-investor dari luar , dipulau itu banyak yang bisa dikelola tapi hasil daerah itu jadi mandul alias terpendam karena tidak ada modal dan juga ilmu mereka yang tidak memadai untuk mengelolanya , mudah2an ada anak-anak pulau tello yang sudah jadi sarjana tergerak hatinya untuk membangun daerahnya. untuk itu saya menghimbau pada Pemda dan juga investor-investor dari luar ayo jangan takut Anda akan aman disana asal saling menghargai dan menjunjung adat istiadat lokal yang ada. orang pulau tello tidak sama dengan sekarang mereka sudah punya agama dan toleransi antar manusia sudah lama dibina ( mereka sudah terbuka ) , kesadaran kerja sama sudah mulai dibina , semoga ini berkelanjutan sampai akhir zaman.

    saya sebagai putra daerah sangat merasakan akan apa yang ada di benak mereka saat ini. jujur saya katakan bahwa mereka juga sangat ingin maju seperti daerah-daerah lain tapi lagi-lagi mereka terkendala dengan Dana dan transportasi , mereka sangat berkeinginan sekali dan berterima kasih kalau di daerah Pulau Tello punya BANK sehingga mereka bisa menjaminkan tanah-tanah mereka untuk mendapatkan uang sebagai modal usaha dan juga untuk menyekolahkan anak-anak mereka. jangankan Bank ada disana Pengadaian saja tidak ada , padahal pengusaha-2 sudah banyak kenapa ya ? ada apa ya ?

    cukup sampai disini dulum mudah-mudahan tulisan saya ini orang nias yang sudah berhasil dirantau mau melirik kampungnya sendiri dan juga investor-investor mau menanamkan modalnya di Pulau Tello sehingga terserap tenaga kerja dan juga bertambahnya ekonomi masyarakat lokal.

    saya juga berikan alamat email saya dan nomor HP saya untuk berbagi pengalaman untuk memajukan Pulau Tello daerah tercinta : Email ( an**********@***oo.com ) TELP. 0751-4419745 / HP. 0811669571

    Salam dari Saya : YA’AHOWU dimanapun anda berada. HIDUP ONO NIHA! maju terus PANTANG MUNDUR!

Leave a Comment

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>