Dada, Nidada, Fodada, Ladada, Dinidadakan

Friday, October 29, 2010
By nias

E. Halawa*

Tulisan ini berfokus pada kata ‘dada’ dan tiga awalan yang dijumpai dalam bahasa Nias, ni- fo- dan la-. Kata ‘dada’ menjadi dikenal masyarakat luas ketika ia muncul dalam buku Hammerle [1], yang mengutip Zebua [2] dalam tulisannya dalam Buletin JIKAN yang menyajikan mite Nias dari sebuah buku Dananjaja [3]. Mite dari buku Danandjaja sebagaimana disajikan oleh Zebua muncul pada halaman 74 – 76 buku Asal Usul karya Hammerle.

Untuk keperluan pembahasan dalam tulisan ini, penulis mengutip kalimat pertama paragraf pertama pada halaman 75 buku Asal Usul …[1]:

“Untuk menentramkan kedekapan putranya yang lain, Siraso kemudian mengabulkan permohonan mereka untuk dinidadakan (diturunkan) ke Tanõ Niha atau tanah manusia, yang merupakan nama asli dari Pulau Nias.”

Selanjutnya penulis juga menayangkan kembali kalimat pertama pada paragraf terakhir halaman 75 buku Asal Usul … [1]:

“Para putra Sirao yang empat lagi kurang beruntung, karena telah mengalami proses kecelakaan sewaktu proses Nidada, sehingga tidak dapat mendarat dengan wajar di bumi Nias, untuk menjadi leluhur Nias.”

Dalam kedua kalimat kutipan yang disajikan di atas, kata nidada dipakai secara tidak tepat (salah). Dalam kalimat pertama, Danandjaja menganggap nidada merupakan kata asal dari jenis kata kerja (verba) sehingga kepadanya dapat dilekatkan awalan di-. Padahal kata asalnya adalah dada, yang kalau berdiri sendiri berarti: turunkan.

Dada khõda nora– Turunkanlah tangga itu buat kita.

Jadi, ketika Danandjaja ingin memperkenalkan kata itu dalam bukunya, seharusnya ia menulis: didada (diturunkan), tanpa akhiran ‘kan’ karena dada sendiri implisit sudah mengandung akhiran kan kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan tentu saja, tanpa awalan ni-.

Dalam kalimat kedua, Danandjaya lagi-lagi salah mengartikan kata nidada. Di sini, Danandjaya menganggap nidada sebagai (proses) ‘penurunan’, sebab, kalimat di atas kalau ditulis dalam bahasa Indonesia yang lengkap tanpa menggunakan kata Li Niha nidada, bisa ditulis sebagai:

“Para putra Sirao yang empat lagi kurang beruntung, karena telah mengalami proses kecelakaan sewaktu proses penurunan, sehingga tidak dapat mendarat dengan wajar di bumi Nias, untuk menjadi leluhur Nias.”

Awalan fo-
Dalam bahasa Nias, penurunan dapat diartikan: fodada. Awalan pe- dalam bahasa Indonesia dalam bahasa Nias padanannya adalah adalah awalan fo- atau fa-, tergantung dari kata apa yang akan dilekatkan kepadanya.

Folau omo – pembangunan/pembuatan rumah (kata kerja lau dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awalan fo-)
Fondorogõ – pemeliharaan (kata kerja rorogõ dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awalan fo-)
Famatohu – penyambungan (kata kerja fatohu dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awalan fa-).
Famahatõ – pendekatan (kata kerja fahatõ dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awana fa-).

Awalan la-
Awalan la- melekat pada kata kerja, seperti dalam kata: latunu (mereka bakar), latafari (mereka tampar), lafakuyu (mereka kacaukan), dst. Seperti ditulis dalam contoh-contoh di depan, la- berfungsi menunjukkan pelaku sesuatu aktivitas, dan pelaku itu adalah orang ketiga jamak: mereka.

Contoh:
No bongi sa’ae me larugi Gunungsitoli – Sudah malam ketika mereka tiba di Gunungsitoli
Dalam contoh di atas, pelaku aktivitas ‘tiba’ adalah ‘mereka’. Bandingkan dengan:
No bongi sa’ae me irugi Gunungsitoli – Sudah malam ketika ia tiba di Gunungsitoli.

Kalimat yang setara dengan ‘No bongi sa’ae me larugi Gunungsitoli ‘ adalah: ‘No bongi sa’ae me ofeta ira ba Gunungsitoli.

Kalimat yang setara dengan ‘No bongi sa’ae me irugi Gunungsitoli’ adalah: ‘No bongi sa’ae me ofeta ia ba Gunungsitoli’

Untuk lebih jelas, kedua struktur diberikan dalam tabel berikut:

Kalimat berikut Setara Dengan Arti
Larugi ofeta ira Mereka tiba
Laboto nomo Mamoto omo ira Mereka merampok rumah

Lõ i’ila mõi tou, andrõ wa ladada ia – Dia tidak bisa turun, makanya dia diturunkan.

Tujuan utama kalimat ini adalah menjelaskan bagaimana ia turun, yaitu diturunkan, bukan turun sendiri. Memang, ‘la-’ disana bisa juga menunjukkan pelaku, yakni orang ketiga: mereka, tetapi tidak menjadi bagian penting. Itu makanya, kalimat itu bisa diterjemahkan menjadi:

Dia tidak bisa turun, makanya dia diturunkan, atau
Dia tidak bisa turun, makanya mereka menurunkannya.
***
Akan tetapi awalan la- tidak selalu menunjukkan pelaku adalah orang ketika jamak (mereka).

Contoh:
Ladada manõ na lõ i’ila mangawuli tou – Diturunkan saja kalau dia tidak bisa turun (sendiri)
Labase’õ ua wa’atohare dome soya. Ditunggu dulu kedatangan tamu yang banyak.
La fatenge khõnia zamaondragõ – Diutus kepadanya penjemput.

Awalan ni-

Dalam Asal-usul … [1], atau tulisan Danandjaja, ada kesan kuat bahwa awalan ni di sana diasosiasikan dengan aktivitas, kegiatan. Hammerle atau Danandjaja menulis: ‘nidada = diturunkan’. Secara sepintas, penulisan itu oke, tetapi sebenarnya kurang tepat, bahkan menyesatkan. Karena tidak memahami secara jernih makna awalan ‘ni-’, maka muncullah penyisipan kata nidada dalam bahasa Indonesia seperti berikut:

“ … karena terlalu berat tubuhnya sewaktu nidada (diturunkan) …” seharusnya:

“…karena terlalu berat tubuhnya sewaktu ladada (diturunkan) … “

Atau, kalau menggunakan awalan di-, seharusnya:
“…karena terlalu berat tubuhnya sewaktu di-dada (diturunkan) … “

Nidada lebih tepat diterjemahkan ‘yang diturunkan’ bukan hanya ‘diturunkan’. “Yang diturunkan’’ berbeda dengan ‘diturunkan’.

Awalan ni- pada kata nidada tidak menunjukkan aktivitas tetapi menciptakan kata benda dari kata kerja yang mengikutinya.

Dada = turunkan -> nidada = yang diturunkan
Nidada Ho andrõ – Ho itu yang diturunkan (bukan dilemparkan atau dijatuhkan misalnya).

Contoh lain:
Nitunu – yang dibakar
Nigore – yang digoreng (bukan dikuah atau dibakar, misalnya).
(Adulo) nigore be õgu, lõ omasido nirino – Telur goreng itu berikan padaku, aku tak suka telur rebus.

Ono ni’elifi = Ono si gõna fangelifi – anak yang dikutuk
Ono nihalõ = Gadis yang ‘diambil’ (mempelai perempuan)
Ono nifakaokao – anak yang jadi bulan-bulanan (siksaan) teman-temannya.

Namun ada kalanya awalan ni- berfungsi menunjukkan aktivitas seperti pada contoh berikut:
Tebai nibudegõ ia – Ia tidak bisa dikelakari.
Tola ni’a sa’e – Sudah bisa dimakan.

Kesalahan semacam yang ditemukan pada buku Dananjaja itu sebenarnya terdapat pada banyak tulisan lain, baik yang ditulis peneliti asing (baca: non-Nias) maupun para penulis Ono Niha sendiri. Dalam tulisan-tulisan mendatakan hal itu akan dibahas.

  1. Johannes Hammerle, 2001: Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias.
  2. Victor Zebua, 1999: JIKAN – Jaringan Informasi Kaji Nias, No. 1, vol. 1, Juli 1999, halaman 4-5 sebagaimana ditulis Hammerle dalam [1]
  3. Dalam [1] tidak disebutkan dalam buku James Dananjaja yang mana mite ini dikisahkan.

Tags:

6 Responses to “Dada, Nidada, Fodada, Ladada, Dinidadakan”

  1. 1
    Sam Gulo Says:

    Sangat tdk tepat menggabungkan awalan (dan akhiran) bhs Indonesia dgn kata dasar bahasa Nias, mis didada – apa lagi didadakan. Seharusnya dipakai: ladada ma nidada. Dlm konteks kalimat di atas, seharusnya dipakai ladada. Ya, bisa dimengerti yg menulisnya bukan org Nias. Seharusnya ada editor bahasa Nias, sebelum diterbitkan.

  2. 2
    Aliozisokhi Fau Says:

    Pengetahuan saya tentang bahasa nias bertambah satu.

  3. 3
    E. Halawa Says:

    Pak Sam Gulõ,

    Penggabungan seperti itu bukan hal yang baru. Contoh di-cancel, di-book, meng-handle, men-judge. Dalam contoh-contoh ini awalan bahasa Indonesia digabung dengan kata Inggris. Ada yang memanfaatkannya untuk menunjukkan ‘penguasaannya’ terhadap kata-kata tertentu bahasa tertentu.

    Mendiang Presiden Sukarno dulu gemar sekali menggunakan kata-kata bahasa bahasa asing (terutama bahasa Inggris) dalam pidato-pidatonya, walau kata-kata dalam bahasa Indonesia tersedia untuk itu. Setiap kali saya mendengar rekaman presiden pertama RI itu, saya agak risih juga.

    Tapi khusus untuk kalangan peneliti, penggunaan macam itu bisa dibenarkan. Sayangnya, tidak jarang keliru.

    Salam,

    e. halawa

  4. 4
    Sam Gulo Says:

    Utk level nasional – kalangan pemikir, penggabungan bhs Indonesia dan Inggris, dlm taraf tertentu, bisa dimengerti, krn masing2 sudah tahu latar-belakangnya. Dan juga dilatar-belakangi oleh pergaulan internasional yg brbau bisnis, politik, dlsb. Mencampur2 bhs Inggris merupakan hal yg tidak bisa dielakkan.
    Apa jadinya jk hal yg sama dilakukan utk bahasa Nias? Coba baca: didadakan. Wah, bhs Nias yg sangat buruk..! Menurut saya, baiklah itu utk bahasa lisan, tp kurang baik jk ditulis dalam dokumen2, buku2 resmi, dlsb. Jgn kita mewariskan kpd anak cucu kita bahasa Nias gadogado.
    Ada ahli memprediksikan bhw beberapa thn ke depan bahasa Nias akan punah, krn org Nias sendiri lebih suka bahasa Batak, Idonesia, dlsb. Jk udh merantau ke seberang mk tidak suka lg bahasa Nias. Penggabungan2 tadi (Nias – Indonesia) juga bisa menjadi gelaja untuk mengaburkan dan bahkan menghilangkan bahasa Nias. Kita tidak suka demikian kan?

  5. 5
    Apollo Says:

    Ya’ahoŵu fefu.
    Saya setuju dengan uraian Pak Halawa.

    Mungkin agak lari dari topik, saya mau minta pendapat Pak Halawa dan teman-teman. Bagaimana kita menuliskan /si/ yang memiliki arti hampir mirip dengan /ni-/ yang bermakna ‘yang di-‘: [‘nidada’= yang diturunkan; ‘nitebu’ = yang dilempari; ‘nitaba’ = yang dipotong], misalnya si + göna = yang kena, apakah sigöna atau si göna?

    Saya kok cenderung setuju bila kita menulisnya dengan disambung ya. Contohnya ‘sindruhu’ = yang betul; bukan ‘si ndruhu’. Jadi /si/ yang bermakna ‘yang’ ditulis secara klitik (proklitik). Jadi ‘sigöna’ = yang kena; ‘simane’ = yang seperti; ‘simate’ = yang mati dll.

    Alasan lain lagi, supaya kita dengan mudah bisa membedakan /si/ sebagai kata depan yang sepadan dengan /di/ dalam bahasa Indonesia; ‘si yefo’ = di seberang; ‘si yawa’ = di atas; ‘si tou’ = di bawah.
    Bagaimana pak Edward? Saohagölö

    Apollo
    (Pak Halawa, apakah sekarang apakah masih sering online di YM? Kalau tidak keberatan bisa kontak di YM, tolong aku ditambahkan ya Pak. Aku pakai akun harazaki_lase)

  6. 6
    ehalawa Says:

    Pak Lase yang baik,

    Terima kasih atas pancingan diskusi tentang suatu masalah kebahasaan Li Niha. Sambil merenungkan lebih jauh, saya coba memberikan pendapat singkat sebagai berikut.

    Saya mulai dari beberapa contoh (jadi kasus-kasus khusus) untuk kemudian dikembangkan ke kasus-kasus yang lebih umum.

    Menurut saya (silahkan Anda dan teman-teman lain mengajukan pendapat yang berbeda), disambung tidaknya ‘si’ dengan kata yang mengikutinya tergantung dari seberapa erat hubungan antara ‘si’ dan kata tersebut.

    Bagaimana kita mengukur erat-tidaknya hubungan itu? Kita mengukurnya dari hasil penggabungan itu. Kalau ia (baca: hasil penggabungan itu) menghasilkan entitas baru yang unik, jelas, tidak mendua, kita menyambung ‘si’ dengan kata itu.

    numana -> miskin, kata sifat. si+numana -> terjemahan langsung adalah “yang miskin”, tetapi makna sesungguhya adalah orang miskin. Dalam bahasa Nias: “Niha si numana” dan “sinumana” setara, bermakna sama. “Hadauga zinumana ba da’a?” searti dengan “Hadauga niha si numana ba da’a”, dan Ono Niha cenderung menggunakan versi yang singkat itu: sinumana. (Makna ‘si’ telah melebur dalam pengertian kata baru: sinumana -> orang miskin).

    Dalam tulisan saya: Si numana zatua föna ba wondrorogö, saya memisahkan ‘si’ dan ‘numana’. Mengapa ? Karena di sana, si numana berarti: ‘sungguh miskin’, ‘si’ di sana menekankan makna kata ‘numana’. Dalam hal ini, ‘si numana’ tidak bisa diterjemahkan sebagai ‘orang miskin’.

    mate -> meninggal. niha si mate = simate = orang yang sudah meninggal.

    Akan tetapi kalau saya nyeletuk: “Niha si mate wö niha da’ö …”, di sana pengertian ‘si mate’ bukan orang yang meninggal, tetapi orang yang tak berdaya, bodoh, tak bisa diandalkan, susah diberi pengertian dan seterusnya … ya seperi orang mati saja …

    Oya zimate me ilau duru no = banyak korban ketika gempa dulu itu terjadi. Hadauga zimate? Berapa orang korban meninggal? Perhatikan, kita umumnya menggunakan versi singkat ini (simate) daripada “niha si mate”.

    Singkat kata: apabila pemakaian ‘si’ memunculkan makna baru yang unik yang menyebabkan makna ‘si’ melebur, maka kita merangkai ‘si’ dengan kata itu. Kebetulan: makna baru yang unik, yang dihasilkan dari penggabungan kata sandang si dengan kata sifat adalah kata benda.

    (Hal ini beda misalnya dengan kata sandang (artikula) dalam bahasa Inggris, di mana artikula digabung dengan kata benda tetap menghasilkan kata benda. Di sini, fungsi artikula hanya ‘penentu’.)

    Contoh:
    Niha si sökhi wö zibayagu. (tidak disambung)
    Ato ae zisökhi ba mbanua mi andre. (banyak yang cantik di kampung kalian ini).

    Ono alawe si baga = sibaga.
    Niha si numana = sinumana.
    Baru si baga = sibaga.
    Niha si kayo = sikayo.
    Niha si batua = sibatua.
    Ono si bodo = sibodo.

    Sekian dulu, masih banyak aspek lain yang Pak Lase singgung yang belum tersentuh, lain kali kita teruskan; dan mohon tanggapan.

    Salam,
    ehalawa
    PS: Saya jarang-jarang ol Pak, tapi tetap bisa komunikasi lewat email.

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

October 2010
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031