E. Halawa*

Tulisan ini berfokus pada kata ‘dada’ dan tiga awalan yang dijumpai dalam bahasa Nias, ni- fo- dan la-. Kata ‘dada’ menjadi dikenal masyarakat luas ketika ia muncul dalam buku Hammerle [1], yang mengutip Zebua [2] dalam tulisannya dalam Buletin JIKAN yang menyajikan mite Nias dari sebuah buku Dananjaja [3]. Mite dari buku Danandjaja sebagaimana disajikan oleh Zebua muncul pada halaman 74 – 76 buku Asal Usul karya Hammerle.

Untuk keperluan pembahasan dalam tulisan ini, penulis mengutip kalimat pertama paragraf pertama pada halaman 75 buku Asal Usul …[1]:

“Untuk menentramkan kedekapan putranya yang lain, Siraso kemudian mengabulkan permohonan mereka untuk dinidadakan (diturunkan) ke Tanõ Niha atau tanah manusia, yang merupakan nama asli dari Pulau Nias.”

Selanjutnya penulis juga menayangkan kembali kalimat pertama pada paragraf terakhir halaman 75 buku Asal Usul … [1]:

“Para putra Sirao yang empat lagi kurang beruntung, karena telah mengalami proses kecelakaan sewaktu proses Nidada, sehingga tidak dapat mendarat dengan wajar di bumi Nias, untuk menjadi leluhur Nias.”

Dalam kedua kalimat kutipan yang disajikan di atas, kata nidada dipakai secara tidak tepat (salah). Dalam kalimat pertama, Danandjaja menganggap nidada merupakan kata asal dari jenis kata kerja (verba) sehingga kepadanya dapat dilekatkan awalan di-. Padahal kata asalnya adalah dada, yang kalau berdiri sendiri berarti: turunkan.

Dada khõda nora– Turunkanlah tangga itu buat kita.

Jadi, ketika Danandjaja ingin memperkenalkan kata itu dalam bukunya, seharusnya ia menulis: didada (diturunkan), tanpa akhiran ‘kan’ karena dada sendiri implisit sudah mengandung akhiran kan kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan tentu saja, tanpa awalan ni-.

Dalam kalimat kedua, Danandjaya lagi-lagi salah mengartikan kata nidada. Di sini, Danandjaya menganggap nidada sebagai (proses) ‘penurunan’, sebab, kalimat di atas kalau ditulis dalam bahasa Indonesia yang lengkap tanpa menggunakan kata Li Niha nidada, bisa ditulis sebagai:

“Para putra Sirao yang empat lagi kurang beruntung, karena telah mengalami proses kecelakaan sewaktu proses penurunan, sehingga tidak dapat mendarat dengan wajar di bumi Nias, untuk menjadi leluhur Nias.”

Awalan fo-
Dalam bahasa Nias, penurunan dapat diartikan: fodada. Awalan pe- dalam bahasa Indonesia dalam bahasa Nias padanannya adalah adalah awalan fo- atau fa-, tergantung dari kata apa yang akan dilekatkan kepadanya.

Folau omo – pembangunan/pembuatan rumah (kata kerja lau dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awalan fo-)
Fondorogõ – pemeliharaan (kata kerja rorogõ dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awalan fo-)
Famatohu – penyambungan (kata kerja fatohu dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awalan fa-).
Famahatõ – pendekatan (kata kerja fahatõ dibentuk menjadi kata benda dengan melekatkan awana fa-).

Awalan la-
Awalan la- melekat pada kata kerja, seperti dalam kata: latunu (mereka bakar), latafari (mereka tampar), lafakuyu (mereka kacaukan), dst. Seperti ditulis dalam contoh-contoh di depan, la- berfungsi menunjukkan pelaku sesuatu aktivitas, dan pelaku itu adalah orang ketiga jamak: mereka.

Contoh:
No bongi sa’ae me larugi Gunungsitoli – Sudah malam ketika mereka tiba di Gunungsitoli
Dalam contoh di atas, pelaku aktivitas ‘tiba’ adalah ‘mereka’. Bandingkan dengan:
No bongi sa’ae me irugi Gunungsitoli – Sudah malam ketika ia tiba di Gunungsitoli.

Kalimat yang setara dengan ‘No bongi sa’ae me larugi Gunungsitoli ‘ adalah: ‘No bongi sa’ae me ofeta ira ba Gunungsitoli.

Kalimat yang setara dengan ‘No bongi sa’ae me irugi Gunungsitoli’ adalah: ‘No bongi sa’ae me ofeta ia ba Gunungsitoli’

Untuk lebih jelas, kedua struktur diberikan dalam tabel berikut:

Kalimat berikut Setara Dengan Arti
Larugi ofeta ira Mereka tiba
Laboto nomo Mamoto omo ira Mereka merampok rumah

Lõ i’ila mõi tou, andrõ wa ladada ia – Dia tidak bisa turun, makanya dia diturunkan.

Tujuan utama kalimat ini adalah menjelaskan bagaimana ia turun, yaitu diturunkan, bukan turun sendiri. Memang, ‘la-’ disana bisa juga menunjukkan pelaku, yakni orang ketiga: mereka, tetapi tidak menjadi bagian penting. Itu makanya, kalimat itu bisa diterjemahkan menjadi:

Dia tidak bisa turun, makanya dia diturunkan, atau
Dia tidak bisa turun, makanya mereka menurunkannya.
***
Akan tetapi awalan la- tidak selalu menunjukkan pelaku adalah orang ketika jamak (mereka).

Contoh:
Ladada manõ na lõ i’ila mangawuli tou – Diturunkan saja kalau dia tidak bisa turun (sendiri)
Labase’õ ua wa’atohare dome soya. Ditunggu dulu kedatangan tamu yang banyak.
La fatenge khõnia zamaondragõ – Diutus kepadanya penjemput.

Awalan ni-

Dalam Asal-usul … [1], atau tulisan Danandjaja, ada kesan kuat bahwa awalan ni di sana diasosiasikan dengan aktivitas, kegiatan. Hammerle atau Danandjaja menulis: ‘nidada = diturunkan’. Secara sepintas, penulisan itu oke, tetapi sebenarnya kurang tepat, bahkan menyesatkan. Karena tidak memahami secara jernih makna awalan ‘ni-’, maka muncullah penyisipan kata nidada dalam bahasa Indonesia seperti berikut:

“ … karena terlalu berat tubuhnya sewaktu nidada (diturunkan) …” seharusnya:

“…karena terlalu berat tubuhnya sewaktu ladada (diturunkan) … “

Atau, kalau menggunakan awalan di-, seharusnya:
“…karena terlalu berat tubuhnya sewaktu di-dada (diturunkan) … “

Nidada lebih tepat diterjemahkan ‘yang diturunkan’ bukan hanya ‘diturunkan’. “Yang diturunkan’’ berbeda dengan ‘diturunkan’.

Awalan ni- pada kata nidada tidak menunjukkan aktivitas tetapi menciptakan kata benda dari kata kerja yang mengikutinya.

Dada = turunkan -> nidada = yang diturunkan
Nidada Ho andrõ – Ho itu yang diturunkan (bukan dilemparkan atau dijatuhkan misalnya).

Contoh lain:
Nitunu – yang dibakar
Nigore – yang digoreng (bukan dikuah atau dibakar, misalnya).
(Adulo) nigore be õgu, lõ omasido nirino – Telur goreng itu berikan padaku, aku tak suka telur rebus.

Ono ni’elifi = Ono si gõna fangelifi – anak yang dikutuk
Ono nihalõ = Gadis yang ‘diambil’ (mempelai perempuan)
Ono nifakaokao – anak yang jadi bulan-bulanan (siksaan) teman-temannya.

Namun ada kalanya awalan ni- berfungsi menunjukkan aktivitas seperti pada contoh berikut:
Tebai nibudegõ ia – Ia tidak bisa dikelakari.
Tola ni’a sa’e – Sudah bisa dimakan.

Kesalahan semacam yang ditemukan pada buku Dananjaja itu sebenarnya terdapat pada banyak tulisan lain, baik yang ditulis peneliti asing (baca: non-Nias) maupun para penulis Ono Niha sendiri. Dalam tulisan-tulisan mendatakan hal itu akan dibahas.

  1. Johannes Hammerle, 2001: Asal Usul Masyarakat Nias – Suatu Interpretasi, Yayasan Pusaka Nias.
  2. Victor Zebua, 1999: JIKAN – Jaringan Informasi Kaji Nias, No. 1, vol. 1, Juli 1999, halaman 4-5 sebagaimana ditulis Hammerle dalam [1]
  3. Dalam [1] tidak disebutkan dalam buku James Dananjaja yang mana mite ini dikisahkan.
Facebook Comments