Posts Tagged ‘Nias’

Hari Film Nasional 2010 Bangkitkan Perfilman Sumut

Wednesday, March 31st, 2010

MEDAN – Memperingati Hari Film Nasional 2010, Forum Komunikasi Insan Film (FKIF) menayangkan 2 film dokumenter di Gedung Kensington Institute Medan, Selasa (30/3).

Pemutaran 2 film karya Onny Kresnawan yakni “Pantang Dijaring Halus” dan “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan” diharapkan mampu membangkitkan perfilman Sumut yang tidak mengalami perkembangan sejak 4 dekade lalu. “Pantang Dijaring Halus” adalah sebuah film dokumenter berdurasi 20 menit yang menceritakan upacara jamu laut di jaring halus. Film ini mendapat predikat terbaik I di Festival Jawa Timur 2007.

Film kedua yang diputar yakni “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan”. Film ini tampak lebih menarik perhatian penonton. Film dengan durasi kurang dari 35 menit ini mengangkat tentang upaya dan perjuangan perempuan Nias menuju kesetaraan gender. “Perempuan Nias Meretas Jalan Kesetaraan” terpilih menjadi film Campaign favorit versi radio Deutsche Welle Germany, film ini juga menjadi icon medium campaign di Konferensi International Child Sex Touristm (CST) di Sanur Bali tahun 2009.

Barani Nasution, tokoh teater nasional yang menjadi pembicara pada diskusi yang digelar usai pemutaran film mengatakan, perfilman Sumut tidak mengalami perkembangan yang signifikan sejak 1970 meski sudah banyak upaya-upaya yang dilakukan seperti produksi film, ceramah, diskusi, studi film, hingga pembangunan studio film di Sunggal tahun 1976.

Barani mengatakan, hal ini disebabkan produksi film di Sumut hanya mengambil materi, lokasi, dan pemeran-pemeran pembantu dan figuran, tanpa meninggalkan/menghasilkan potensi film yang kreatif dan produktif. Akhir-akhir ini tampak adanya keinginan menumbuhkan kegiatan dan produksi film di Medan. Hal ini terlihat dengan adanya pembuatan film-film dokumenter dalam rangka mengikuti berbagai event festival di Sumut maupun Indonesia.

Namun, Barani menilai ada baiknya insan film dan sineas Sumut memperbaharui tekad dan cara-cara pengembangan dunia film masa depan dengan menyadari kekurangan dan kegagalan di masa lampau. Di samping perlu juga unsur-unsur dan potensi film yang ada dihimpun dan diberdayakan  untuk mendorong terciptanya proses pertumbuhan perfilman yang produktif, kreatif, dan dinamis.

(DNA)

NIAS tak Mendapatkan Dana $15.000 Program Perbaikan Gizi

Tuesday, March 23rd, 2010

Provinsi Sumatra Utara merupakan satu dari 6 provinsi penerima proyek NICE yang bertujuan meningkatkan gizi balita. Nias selatan yang memiliki desa dengan kasus gizi buruk terbanyak tak mendapatkan bagian.

Sebaliknya, dengan dana tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatra Utara menargetkan sekitar 80 persen masyarakat datang ke Posyandu serta 10 persen yang datang diharapkan masyarakat menengah ke atas.

Proyek Nice

Kepala Seksi Gizi Dinkes Sumut, Ros Ida, mengatakan adapun target dari Dinkes Sumut ini sehubungan dengan target Proyek Peningkatan Gizi Masyarakat melalui Pemberdayaan Masyarakat atau program Nutrition Improvement through Community Empowerment (NICE) untuk tahun 2010 sampai 2013, yang akan dilaksanakan melalui 3 tahap.

“NICE merupakan upaya program baru penanganan gizi buruk dari Asian Development Bank (ADB) yang dilaksanakan di enam provinsi termasuk Sumut,” ujar Ros kepada Waspada Online (19/3).

Untuk Sumut, Ros mengatakan, akan mencakup 370 desa dari 4 kabupaten seperti kota Medan 67 kelurahan, kabupaten Dairi 66 desa, Tapanuli Tengah 71 desa dan Madina 166 desa. Satu desa dibentuk satu tim berjumlah 10 orang kelompok gizi masyarakat yang sudah dilatih tentang gizi buruk, dan ditanggung oleh fasilitator dari ADB.

Sedangkan dana sebesar US$15.000 akan dialokasikan untuk satu desa/kelurahan. “Ditargetkan dengan program itu 80 persen masyarakat datang ke Posyandu dan 10 persen orang menengah ke atas,” pungkas Ros.

Kabupaten dengan Gizi Buruk

Target 10 % masyarakat menengah ke atas sebagai pengunjung Posyandu melenceng dari tujuan Program Nice, yang adalah peningkatan gizi masyarakat di perkampungan miskin.

Berdasarkan laporan dari Statistik Potensi Desa Provinsi Sumut menurut kabupaten/kota tahun 2008 lalu, jumlah desa terbanyak dengan kasus gizi buruk terdapat di Kabupaten Nias Selatan sebanyak 88 desa, Mandailing Natal (78 desa), Langkat (77 desa), Dairi (69 desa), Asahan (68 desa), Deli Serdang (67 desa), Humbahas (58 desa), juga di Kota Medan (58 desa). Kabupaten Madina yang tak temasuk daerah yang memiliki desa dengan kasus gizi buruk justru mendapatkan dana melimpah US$ 15.000 per desa yang tak dapat dihabiskannya sendiri sehingga dibagikannya kepada 10 % golongan masyarakat yang sama sekali tak punya masalah gizi.

Kabupaten Tapanuli Tengah tidak termasuk wilayah dengan kasus gizi buruk terbanyak, namun termasuk salah satu kabupaten dengan penduduk miskin terbanyak. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Bidang Statistik Sosial, Sukardi dalam laporan Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) (1/7/09). “Secara spesifik belum bisa digambarkan daerah-daerah mana saja di Sumut yang penduduknya tergolong miskin. Tapi secara absolut bisa digambarkan, yaitu daerah-daerah yang padat penduduknya biasanya banyak penduduknya yang miskin seperti Medan, Nias, Nias Selatan dan Tapanuli Tengah,” ungkap Sukardi.

Masyarakat Miskin di Sumut

Kepala BPS Sumut Drs Alimuddin Sidabalok, MBA, dalam paparan Susenas yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Sumut bulan Maret 2009, menunjukkan jumlah penduduk miskin sebanyak 11,51% dari jumlah penduduk Sumut seluruhnya saat ini, yakni 13.248.400 orang. Alimuddin yang juga didampingi Kepala Bidang Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik BPS Sumut, Panusunan Siregar, Msi, mengungkapkan, hasil survey Susenas yang dilakukan BPS itu tidak menggambarkan kondisi tingkat kemiskinan tingkat kabupaten/kota. Ia melanjutkan, jumlah penduduk miskin Sumut yang berada di daerah perdesaan pada Maret 2009 sebanyak 811.700 orang dan di daerah perkotaan sebanyak 688.000 orang. Jika dibandingkan dengan penduduk yang tinggal pada masing-masing daerah tersebut, persentase penduduk miskin di daerah perdesaan 11,56%, sedangkan di daerah perkotaan 11,45%.

Berdasarkan data statistik penduduk miskin di Sumatra Utara, pemilihan kabupaten Tapanuli Tengah sebagai penerima dana proyek Nice sangatlah bijak. Sangat disayangkan kabupaten Nias dan Nias Selatan tak mendapatkan dukungan pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan gizi. Sampai berita ini diturunkan belum ada konfirmasi dari Manajer Proyek Nice.

Nias Mendapatkan yang Lain

Menurut Kepala Seksi Gizi Dinkes Sumut, Ros Idah,Nias tak dipilih mendapatkan dana proyek Nice karena Nias telah mendapatkan dana dari program yang lain, seperti dari BBR atau Proyek Kesehatan Keluarga dan Gizi (KKG atau FHN). Data tentang kasus gizi buruk yang tersedia hanya dari tahun 2008, sedangkan masa kerja BBR 2005-2009, sehingga tidak diketahui efektifitas program tersebut.

(waspada, kompas, analisa, dna)

Harga Cabai Naik

Monday, March 22nd, 2010

LANGKAT-Setelah bertahan di kisaran Rp12.000 per kilogram selama sepekan, harga cabai merah besar kembali naik hingga Rp14.000 per kilogram atau naik sebesar Rp2.000 per kilogram.

Menurut salah seorang pedagang di Pusat Pasar Tanjung Pura, Sahlan (36), kenaikan harga cabai itu baru terjadi lima hari lalu. Harga naik dari Rp10.000 menjadi Rp12.000 per kilogram, dan kini sudah Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Kenaikan terjadi karena kurangnya pasokan cabai dari luar Langkat, sementara permintaan terus bertambah.

“Kenaikan harga cabai ini dikarenakan pasokan cabai dari luar daerah mulai berkurang. Sedangkan produksi cabai asal Langkat terlalu sedikit,” kata Sahlan.

Kepala Bidang Agribisnis dan Penyuluhan Nur Supandi mengatakan, kenaikan harga cabai itu terjadi karena pasokan cabai terlalu sedikit di pasaran, baik itu cabai dari luar deaerah maupun dari Langkat.

Mengenai minimnya produksi cabai Langkat, Nur mengaku hal itu terjadi karena kurangnya minat petani di kabupaten Langkat menanam cabai.
“Petani Langkat kurang berminat menanam cabai karena iklim di Langkat tidak sesuai untuk tanaman cabai,” katanya.

Kesempatan emas bertanam cabe dengan modal yang murah, masa tanam yang cepat, perawatan yang mudah, dan harga jual yang tinggi diharapkan memacu petani nias untuk bertanam cabai. Dalam waktu kurang lebih 3 bulan sejak penyemaian, tiap pohon cabai dapat menghasilkan hingga 10 kg buah. Modal untuk bertanam cabe bisa terbayarkan setelah panen ketiga.

Informasi lebih lanjut tentang budidaya cabai bisa dilihat di
http://images.google.de/imgres?imgurl=http://www.padang-today.com/foto/berita/cabe_merah.jpg&imgrefurl=http://aksestani.blogspot.com/2009/11/budidaya-cabai.html&usg=__4lIAq_EWkfp6ZXtUTnltjwIBqyc=&h=400&w=533&sz=88&hl=de&start=15&um=1&itbs=1&tbnid=akpJVCeV3hjbkM:&tbnh=99&tbnw=132&prev=/images%3Fq%3Dcabai%2Bpicture%26um%3D1%26hl%3Dde%26client%3Dfirefox-a%26rls%3Dcom.ubuntu:en-US:unofficial%26tbs%3Disch:1

(sumutpos, niasonline)

Dua Pesawat Udara Akan Hubungkan Sibolga-Jakarta

Tuesday, March 16th, 2010

Untuk menambah angkutan udara di wilayah Pantai Barat Sumatera Utara dua pesawat baru jenis Lion berasal dari Negara Perancis direncanakan bulan ini akan tiba di Bandara Dr. FL. Tobing Pinang Sori Tapteng.

Hal ini disampaikan Kadis Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tapteng Ir.R.Panahatan Hutabarat kepada wartawan di ruang kerjanya di Pandan beberapa hari lalu dan kedua pesawat baru tersebut dipersiapkan satu untuk Tapteng dan satu lagi untuk Nias.

Dikatakan, kehadiran pesawat jenis Lion untuk Pinang Sori dipersiapkan untuk rute Pinang Sori langsung Jakarta, setelah lebih dulu menyinggahi Polonia Medan sekaligus untuk mencari Pasar penumpang ke Batam atau pekan baru.

Kapasitas penumpang untuk jenis Lion ini menampung lebih kurang 70 orang penumpang lebih banyak disbanding pesawat CN-235 yang selama ini dipergunakan Bandara Pinangsori dan kondisinya membuat masyarakat merasa ragu dan kecewa dan jadwalnya tidak menentu atau tidak tepat waktu. Bagaimanapun masyarakat menginginkan hal yang demikian,sehingga terpenuhi keinginan masyarakat.

Dengan adanya pesawat jenis Lion ini nantinya kata Panahatan Hutabarat sesuai dengan hasil kesepakatan bersama pihak perhubungan akan memperpanjang landasan Pinangsori direncanakan tahun 2011 akan terrealisasi.

Menyinggung masalah tariff angkutan pesawat tersebut Panahatan Hutabarat meyakini bahwa pihak Lion juga akan dapat bersaing dengan penerbangan lain dan akan disesuaikan bila mana penumpang sudah pool kapasitas nanti dan sudah mencapai 70 persen tentu tarifnya akan lebih murah dan bisa terjangkau oleh masyarakat.

sumber: analisa (ms)

Diduga Korupsi APBD Nias Tahun 2006 ; Kejari Gunungsitoli Panggil Sejumlah Anggota DPRD Nias Gunungsitoli

Tuesday, March 16th, 2010

Dugaan korupsi senilai Rp 354.790.000 di bagian Keuangan Sekretariat Daerah Kabupaten Nias tahun anggaran 2006 yang dilaporkan Lembaga Swadaya Masyarakat Lembaga Pemantau Pengelolaan Keuangan dan Harta Negara (LSM DPC-LP2KHN) Nias ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Gunungsitoli, Selasa (9/3) ditangani Kejari.

Kejari Gunungsitoli layangkan surat panggilan kepada Dua anggota DPRD Kabupaten Nias priode 2004-2009, Sekwan DPRD priode 2004-2009 serta Kepala Bagian Keuangan Kabupaten Nias tahun 2006.

Hal itu ditegaskan Kasi Pidsus Kejakasaan Negeri Gunungsitoli, Noferius Lombu SH kepada Analisa di ruang kerjanya, Rabu, (10/3) terkait ada laporan tentang dugaan korupsi APBD Kabupaten Nias tahun 2006.

Kepada Analisa, Noverius Lombu SH membenarkan menerima laporan dari pihak LSM DPC LP2KHN Kabupaten Nias, yakni sesuai dengan nomor penerimaan laporan : B-44/N.2.21/Fd.1/03/2010 tanggal 09 Maret 2010.

Ditambahkanya, berdasarkan hasil laporan itu pihaknya telah melakukan telaah, guna menentukan ada tidaknya kerugian negara terhadap penyimpangan itu tentunya dalam hal ini pihaknya harus melakukan penyelidikan pada seksi Tindak Pidana Khusus Kejakasaan Negeri Gunungsitoli, hingga Kejari Gunungsitoli mengeluarkan perintah penyelidikan atau P2 dengan nomor : print-370/ N.2.21/Fd.1/03/2010 tanggal 10 Maret 2010.

Pihaknya membuat surat pemanggilan kepada empat orang terlapor kepada Armansyah Harefa Anggota DPRD priode 2004-2009, kepada Yuliaro Gea Kepala Bagian Keuangan Kabupaten Nias kepada Firman Yanus Larosa Sekwan DPRD Kabupaten Nias, M Ingati Nazara. A.Md Ketua DPRD Kabupaten Nias priode 2004-2009. Pemanggilan itu dijadwalkan mulai dari tanggal 23 sampai dengan 25 Maret mendatang.

Sehari sebelumnya, Ketua DPC-LP2KHN Kabupaten Nias Yalisokhi Laoli didampingi dengan Sekretaris DPC-LP2KHN Kabupaten Nias Yanuari Zebua seusai menyerahkan laporan kepada Analisa,Selasa (9/3) mengatakan, laporan dugaan korupsi itu yakni, pada pos anggaran Bagian Keuangan Sekretariat Daerah dengan nilai dugaan korupsi APBD itu di antaranya, Rp 234.790.000 untuk alasan bantuan biaya perjalanan Dinas dan Rp 120.000.000 dan dengan alasan untuk biaya bantuan Sosial DPRD Kabupaten Nias.

Temuan BPK

Yalisokhi Laoli menambahkan, dasar laporan pihaknya yakni berdasarkan hasil temuan Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) tahun 2006 terhadap keuangan Pemerintah Kabupaten Nias.

Selanjutnya setelah pihaknya melakukan investigasi dan pendalaman terkait hal itu, pihaknya menduga ada 17 Anggota DPRD Kabupaten Nias priode 2004-2009 yang menerima dana dari B dengan dalil biaya bantuan perjalanan Dinas sebesar Rp 234.790.000.

Selain 17 anggota DPRD itu, pihaknya juga menduga dalam kasus ini Sekretaris DPRD Kabupaten Nias turut terlibat. Karena dari hasil BPK RI Perwakilan Medan Sekwan DPRD yang melakukan pengambilan dana dari Bagian Keuangan Pemkab Nias senilai Rp 120.000.000, ungkapnya.

Selanjutnya Yalisokhi Laoli melanjutkan, pihaknya melaporkan Kepala Bagian Keuangan Pemkab Nias tahun 2006. Karena dianggap harus bertanggungjawab atas dana.

Dalam temuan BPK RI Perwakilan Medan , Yanuari Zebua mengatakan pada pemberian bantuan biaya perjalanan Dinas dan Bantuan sosial DPRD Kabupaten Nias itu bagian keuangan Pemkab Nias tidak mempunyai landasan hukum dan bertentangan dengan surat edaran Menteri Dalam Negeri tanggal 21 Desember 2005, prihal penyusunan APBD tahun anggaran 2006 dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tahun 2005.

Pemberian bantuan keuangan hanya diperbolehkan untuk pemerintah desa dalam pemerataan pembangunan, khususnya kawasan tertinggal, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi atau untuk KPUD atau Panwas dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala Daerah.

Menurutnya, pemberian bantuan biaya perjalanan dinas kepada pejabat daerah atau pejabat instansi lainnya serta pemberian bantuan sosial DPRD Kabupaten Nias bagian keuangan setda Kabupaten Nias bertentangan dengan peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas PP No. 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD. Ujar Yanuari Zebua.

“Anggaran untuk biaya perjalanan Dinas DPRD Kabupaten Nias itu kan sudah dimuat dalam APBD Tahun 2006 yakni, pada SKPD sekretariat DPRD yakni untuk perjalanan dinas luar daerah senilai Rp 1.468.880.000 dan telah terealisasi pemakaiannya sebesar Rp 1.461.014.224 sedangkan untuk biaya perjalanan dinas dalam daerah sebesar Rp 501.500.000,- dengan jumlah terealisasi Rp 158.265.000. tentunya dalam hal ini sangat ironis bila oknum DPRD Kabupaten Nias masih mengambil SPPD dari bagian keuangan sekretariat daerah,” tegasnya.

Kemudian berdasarkan temuan BPK RI itu terdapat keanehan dalam pengambilan atau penerimaan dana bantuan itu.

Waktu penerimaan pada tanggal 11 Oktober 2006 hampir seluruh anggota DPRD yang dilaporkan itu menerima uang mulai dari 1 kali sampai 10 kali dalam sehari dengan jumlah nominal yang bervariasi mulai dari Rp1 juta sampai Rp13 juta.

Anggota DPRD Kabupaten Nias yang dilaporkan menerima uang diduga sebagai panitia anggaran DPRD Kabupaten Nias tahun 2006 antara lain, ARH SE, MIN AM.d, DRG SH, YL SH, AT SE, SB, RZ, AH, HW, TG, AGH, IW, SL, AZ, BG, TN. Sekwan DPRD FYL priode 2004-2009, sementara yang diduga memberi uang Kepala Bagian Keuangan YL. (kap)

Gempa 5,7 SR di Nias

Monday, March 15th, 2010

Takut Terjadi Tsunami, Warga Nias Keluar Rumah. Warga Nias seketika berhamburan, ketika gempa berkekuatan 5,7 SR melanda Sumatra Utara dan sekitarnya.

Menurut salah seorang warga Nias, mereka takut bila gempa yang terjadi Sabtu (13/3) malam ini disusul dengan gelombang tsunami. Sebab, tambahnya, wilayah Nias dekat dengan laut. Ia juga mengungkapkan gempa yang terjadi pukul 21.59 WIB tadi bukan menggoyang ke kanan atau ke kiri, tapi ke atas dan ke bawah. Sebelum gempa terjadi Nias, listrik di Nias padam dan hingga sekarang keadaan masih juga gelap gulita.

Menurut Laporan dari US Geographical Survey, sumber gempa terletak 190 km Barat Daya Gunung Sitoli dengan kedalaman 9 km. Gempa ini tak berpotensi Tsunami.

Pada hari Minggu, 14 Maret, pusat gempa bergeser ke Flores dan mengakibatkan gempa sebesar 5,2 SR.

Dampak Gempa 2005

Jika kebanyakan kota bergeser horizontal akibat gempa, maka Nias menjadi salah satu daerah yang bergeser secara vertikal. Pasca gempa 8,6 SR pada 28 Maret 2005, Nias naik ke atas dari kondisi sebelumnya.

“Setelah gempa, ada permukaan kota yang turun dan naik. Di Nias itu naik,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Dr Fauzi. Seberapa jauh kota berpindah, lanjut Fauzi, tergantung kepada ukuran gempa dan kedalaman gempanya. “Kalau di Aceh, itu banyak kota yang turun sehingga banyak daerah yang kini terendam permanen. Tapi kalau di Nias, itu semakin naik ke atas,” jelasnya.

Fauzi menceritakan, di masyarakat Nias ada sebuah kata populer untuk tsunami, yaitu smong. Pada gempa tahun 2005, masyarakat berlarian menuju tempat yang tinggi.
“Dan setelahnya, mereka mengamati airnya nggak surut-surut. Nah ternyata bukan surut airnya, tapi pantainya naik,” kata Fauzi.

Kepala Pusat Geodesi dan Geodinamika Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Cecep Surbaya menambahkan, gempa Nias juga mengakibatkan beberapa kota di dalamnya bergeser ke arah barat. “Yang di Pulau Nias bergeser 3-3,5 meter ke barat. Kalau di pantai timur Nias itu naik beberapa centimeter,” katanya.

Sumber: CyberNews, USGS, detiknews

Rabies declared endemic in Nias Island

Sunday, March 14th, 2010

The Jakarta Post | Tue, 03/09/2010 3:46 PM | National

North Sumatra Animal Husbandry Agency head Teti Erlina Lubis said Tuesday that she had declared rabies endemic in Nias Island following the recent death of a local health agency head due to a bite from a rabies-infected dog.

North Nias health agency chairman Christian Zai was reported to have died on Thursday apparently after being bitten by his own dog.

Teti said in Medan, North Sumatra, that her team had conducted a thorough test on the dog and found that the animal was infected with rabies. She said she believed most dogs in Nias Island were infected with the disease.

“We have delivered a total of 18,000 doses of anti-rabies vaccine to Nias Island so far,” Erlina said as quoted by kompas.com.

http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/09/rabies-declared-endemic-nias-island.html

Anak-Anak Pedalaman Nias Masih Alami Gizi Buruk

Wednesday, January 27th, 2010

Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan hasil alamnya. Walaupun demikian, masih banyak saudara-saudara kita yang tinggal di daerah pedalaman, terutama anak- anak mengalami kekurangan gizi ataupun berpotensi besar untuk kekurangan gizi. Selain keadaan hidup mereka yang dibawah garis kemiskinan, hal tersebut disebabkan juga oleh kurangnya pengetahuan orang tua tentang kesehatan dan hidup sehat. (more…)

Listrik di Nias semakin meresahkan

Monday, October 27th, 2008

GUNUNGSITOLI – Pemadaman listrik di wilayah Kepulauan Nias beberapa bulan terakhir semakin menjadi-jadi dan meresahkan. Akibat pemadaman yang terjadi secara mendadak tersebut banyak menimbulkan kerugian bagi warga seperti kerusakan alat-alat eletronik serta menurunnya produksi industri rumah tangga. (more…)