Berikut adalah nama-nama daerah tertinggal di Indonesia tahun 2020-2024 bedasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 63 Tahun 2020 seperti dimuat dalam situs JDIH Kementerian Sekretariat Negara.
Provinsi Sumatera Utara
- Kabupaten Nias
- Kabupaten Nias Selatan
- Kabupaten Nias Utara
- Kabupaten Nias Barat
Provinsi Sumatera Barat
- Kabupaten Kepulauan Mentawai
Provinsi Sumatera Selatan
- Kabupaten Musi Rawas Utara
Provinsi Lampung
- Kabupaten Pesisir Barat
Provinsi Nusa Tenggara Barat
- Kabupaten Lombok Utara
Provinsi Nusa Tenggara Timur
- Kabupaten Sumba Barat
- Kabupaten Sumba Timur
- Kabupaten Kupang
- Kabupaten Timor Tengah Selatan
- Kabupaten Belu
- Kabupaten Alor
- Kabupaten Lembata
- Kabupaten Rote Ndao
- Kabupaten Sumba Tengah
- Kabupaten Sumba Barat Daya
- Kabupaten Manggarai Timur
- Kabupaten Sabu Raijua
- Kabupaten Malaka
Provinsi Sulawesi Tengah
- Kabupaten Donggala
- Kabupaten Tojo Una-una
- Kabupaten Sigi
Provinsi Maluku
- Kabupaten Maluku Tenggara Barat
- Kabupaten Kepulauan Aru
- Kabupaten Seram Bagian Barat
- Kabupaten Seram Bagian Timur
- Kabupaten Maluku Barat Daya
- Kabupaten Buru Selatan
Provinsi Maluku Utara
- Kabupaten Kepulauan Sula
- Kabupaten Pulau Talibau
Provinsi Papua Barat
- Kabupaten Teluk Wondama
- Kabupaten Kabupaten Teluk Bintuni
- Kabupaten Kabupaten Sorong Selatan
- Kabupaten Sorong
- Kabupaten Tambrauw
- Kabupaten Maybrat
- Kabupaten Manokwari Selatan
- Kabupaten Pegunungan Arfak
Provinsi Papua
- Kabupaten Jayawijaya
- Kabupaten Nabire
- Kabupaten Paniai
- Kabupaten Puncak Jaya
- Kabupaten Boven Digoel
- Kabupaten Mappi
- Kabupaten Asmat
- Kabupaten Yahukimo
- Kabupaten Pegunungan Bintang
- Kabupaten Tolikara
- Kabupaten Keerom
- Kabupaten Waropen
- Kabupaten Supiori
- Kabupaten Mamberamo Raya
- Kabupaten Nduga
- Kabupaten Lanny Jaya
- Kabupaten Mamberamo Tengah
- Kabupaten Yalimo
- Kabupaten Puncak
- Kabupaten Dogiyai
- Kabupaten Intan Jaya
- Kabupaten Deiyai
(brk/*)




Gunungsitoli, Nias Online – Penanganan masalah sosial yang dihadapi oleh anak-anak di Nias dari tahun ke tahun selalu luput dari perhatian pemerintah daerah. Hal itu mengemuka dalam diskusi terbatas sebelum pelaksanaan Musrembang Nias. Dalam diskusi itu Chairidani Purnamawati, SH, koordinator advokasi PKPA Nias dan Faigi’asa Bawamenewi, salah seorang anggota DPRD Kabupaten Nias, menyampaikan bahwa kendala penanganan tersebut terjadi karena belum adanya pagu dana secara khusus.



