NIASONLINE – Nias Online kembali merima surat terbuka Chief Executive Officer APR Energy, John Campion, melalui Alan Chapple, Corporate Communications and Public Relations Manager APR Energy. Dalam surat terbuka tersebut disampaikan bahwa APR Energy mengoperasikan pembangkit listriknya yang ada di Nias sampai tanggal 11 Juni 2016.
Surat terbuka tersebut selengkapnya dapat diunduh pada link di bawah ini,
NIASONLINE – Guna memastikan kondisi kelitrikan di Pulau Nias, Sumatera Utara, pada hari Kamis (26/5), Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Jarman melakukan kunjungan lapangan ke Pulau yang terletak di sebelah barat Sumatera tersebut.
Dalam kunjungannya, Jarman melakukan pemantauan progres pembangunan dan pemasangan PLTD Sewa Idanoi (12 MW) dan PLTD Sewa Idanoi (6 MW). Ia juga melakukan kunjungan ke PLTD Moawo dan pengatur distribusi di Moawo untuk memastikan kecukupan pasokan daya listrik bagi masyarakat setempat.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM ingin memastikan bahwa tidak ada lagi pemadaman bergilir di Pulau Nias.Dalam kunjungannya, Jarman didampingi beberapa pejabat dan inspektur ketenagalistrikan di Kementerian ESDM. Hadir pula dalam kunjungan tersebut Kepala Divisi Operasi Regional Sumatera PT PLN (Persero), GM Wilayah Sumatera Utara PT PLN (Persero) dan jajaran PT PLN (Persero) Area Nias.
Saat ini, sistem kelistrikan Pulau Nias memiliki beban puncak 25,97 MW dengan total daya mampu pembangkit 40,2 MW yang disuplai dari PLTD Moawo, PLTD Teluk Dalam serta PLTD Sewa tersebar di Moawo, Idanoi dan Teluk Dalam. Oleh karena itu cadangan sistem Pulau Nias saat ini mencapai 14,23 MW.
Untuk meningkatkan pasokan daya listrik di Pulau Nias, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM meminta PT. PLN (Persero) segera menyelesaikan pemasangan PLTD Sewa Idanoi (12 MW dan 6 MW) serta PLTD Teluk Dalam (6 MW). PT PLN (Persero) sendiri telah menyiapkan operasi mobile genset sebanyak 39 unit dengan rata-rata kapasitas 100 kVA per unit yang disiagakan pada jaringan SUTM 20 kV dan mengoperasikan unit-unit mesin cadangan pada PLTD Sewa.
Menurut Jarman, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan akan terus menempatkan Inspektur Ketenagalistrikan dan pegawai Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan di Pulau Nias untuk mengawasi progres pembangunan PLTD Sewa sampai dengan selesai.
Sebagai informasi, PT PLN (Persero) Area Nias telah memberikan kompensasi Tingkat Mutu Pelayanan (TMP) terhadap 69.504 pelanggan akibat dampak pemadaman listrik bulan April lalu. Besaran kompensasi yang diberikan kepada pelanggan mengacu pada Peraturan Menteri ESDM No. 08 Tahun 2016. Kompensasi TMP juga akan diberikan kepada pelanggan akibat dampak pemadaman listrik bulan Mei 2016.
Dalam surat terbuka yang diterima Redaksi Nias Online disebutkan bahwa rencana penghentian operasi pembangkit tersebut adalah karena PLN tidak menghormati kontrak dengan APR Energy. Ditambahkan Campion, APR Energy telah menawarkan penjualan pembangkit listrik tersebut kepada PLN tetapi pihak PLN belum memmberikan tanggapan.
Surat terbuka yang diterima Nias Online dari Alan Chapple, Corporate Communications and Public Relations Manager APR Energy, selengkapnya dapat dibaca di bawah ini.
***
Para penduduk dan pemilik usaha di Nias yang terhormat,
Sejak tahun 2013, APR Energy telah bekerja untuk memberi Anda pasokan listrik yang dapat diandalkan.
Sayangnya, PLN belum membayar tagihan-tagihan kami. Perusahaan itu tidak menghormati kontrak dengan kami. Tetapi PLN terus mengumpulkan uang dari penduduk Nias untuk listrik yang mereka gunakan.
Oleh karena perilaku PLN ini, kami tidak dapat meneruskan beroperasi di Pulau Nias – atau di mana pun di Indonesia. Pada akhir Mei, kami akan secara permanen menutup pembangkit tenaga listrik kami yang berkekuatan total 20MW.
Meskipun kami akan pergi, kami ingin melindungi rakyat Nias dan memastikan Anda mendapatkan listrik. Itu sebabnya kami telah menawarkan untuk menjual pembangkit listrik kami di Nias kepada PLN.
Sayangnya, PLN belum menanggapi tawaran kami.
Harap dipahami bahwa keputusan kami untuk meninggalkan Nias tidaklah dengan mudah diambil. Kami menyesali dampak yang akan ada dengan menutup pembangkit tenaga listrik kami. Tetapi kami juga sebuah usaha yang memiliki karyawan yang bekerja agar mereka dapat menyokong keluarga mereka. Jika kami tidak dibayar, kami tidak dapat membayar karyawan kami, dan mereka adalah kewajiban kami yang paling penting.
Oleh karena PLN telah menolak untuk membayar tagihan kami dan untuk menghormati kewajibannya menurut kontrak dengan kami, APR Energy tidak memiliki pilihan lain kecuali meninggalkan Nias pada akhir Mei.
NIASONLINE – JACKSONVILLE, Fla. — APR Energy, melalui rilis berita yang diterima Nias Onlinedari Corporate Communications and Public Relations Manager Alan Chapple, mengumumkan hari ini (17/05) bahwa Perusahaan ini akan menghentikan operasi pembangkit tenaga listriknya yang berkapasitas total 20MW di Pulau Nias, Indonesia, pada akhir Mei. APR Energy memilih untuk tidak memperpanjang kontraknya karena terus menerus tidak dibayar oleh perusahaan utilitas listrik nasional PLN dan karena masalah kontrak lainnya.
“Kami menyesal bahwa APR Energy, dan rakyat Nias, dihadapkan pada situasi ini untuk kedua kalinya tahun ini karena kegagalan PLN untuk menghormati kewajibannya berdasarkan kontrak dengan Perusahaan kami,†kata Ketua dan Chief Executive Officer John Campion. “Sejak tahun 2013, kami telah memasok sebagian besar listrik untuk Nias dan mempekerjakan penduduk lokal di pembangkit kami. Kami mengharap untuk dibayar penuh untuk layanan kami serta listrik yang dihasilkan.â€
Pada tanggal 31 Maret, APR Energy menghentikan operasinya dan memindahkan para personelnya dari Nias ketika kontrak sebelumnya berakhir. Pada saat itu, PLN berutang kepada APR Energy sekitar $2,04 juta (Rp27,5 miliar). Listrik padam sampai tanggal 12 April, ketika PLN membayar sebagian dari jumlah yang terutang. Sebagai bagian dari kesepakatan, PLN diwajibkan membayar jumlah sisanya pada tanggal 27 Mei setelah adanya sebuah tinjauan independen.
“Oleh karena penolakan PLN untuk menghormati kontraknya dengan kami, kami tidak dapat lagi meneruskan beroperasi di Nias setelah pada akhir Mei,†kata Campion.
“Namun, kami bersimpati pada rakyat Nias yang akan terkena dampak keputusan kami untuk pergi dari sana, dan kami telah menawarkan untuk menjual pembangkit listrik itu beserta peralatan terkaitnya kepada PLN untuk memastikan bahwa Nias memiliki listrik yang dibutuhkannya.â€
“Sampai hari ini, PLN belum menanggapi tawaran APR Energy. PLN juga masih berutang kepada APR Energy sebesar $950.000 (Rp10,5 miliar) dari operasi sebelumnya, dan belum membayar apa pun untuk listrik yang kami hasilkan sejak memulai kembali operasi di pembangkit di Nias bulan April,†kata Campion.
“Kami menyesali dampak penutupan pembangkit listrik kami sekali lagi terhadap penduduk dan bisnis di Nias,†kata Campion. “Sayangnya, walau sementara PLN meminta bayaran dari para pelanggannya untuk listrik, mereka tidak membayar utangnya terhadap pemasoknya sebagaimana disepakati dalam kontrak. Kami mendorong penduduk Nias untuk langsung menghubungi PLN untuk meminta perusahaan utilitas itu untuk membayar tagihan listriknya yang sudah lama jatuh tempo.â€
Demikian isi rilis berita yang diterima Redaksi Nias Online dari APR Energy. (NO/brk*)