Tujuannya adalah sebagai bahan permenungan, untuk mempertimbangkan berbagai hal selagi kita dalam masa penantian menunggu berakhirnya krisis Covid-19.
Harus diingat bahwa teknologi pertanian (dan bidang-bidang lain) pada zaman sekarang jauh lebih maju ketimbang teknologi pada dekade 1960an.
Akan tetapi kenyataan paradoks di mana di zaman teknologi yang sudah semaju ini masih saja kita dibuat panik oleh virus berukuran skala nanometer, memaksa kita untuk berpikir hal yang sederhana: pemenuhan kebutuhan pangan.
*** Sebagian daerah di Kepulauan Nias pernah mengalami masa kelaparan hebat (hampir mendekati status starvasi) di tahun 1966 di masa-masa yang serba tak menentu pasca peristiwa G30S/PKI.
Pada masa itu masyarakat Nias hanya mengandalkan ubi kayu, umbi-umbian hutan, ladara (ini biasanya untuk konsumsi babi), pucuk laehuwa (semacam pakis), dan bahkan bagian dalam batang pisang yang masih muda (howu gae) … sebagai makanan sehari-hari. Dan itu berlangsung selama beberapa minggu (saya tak ingat lagi durasi persisnya).
Penyebab utama: suplai beras dari luar (lewat Sibolga) terhenti, juga konon ada pengusaha yang menahan berton-ton beras di Gunungsitoli (dan konon … sebagian gudang itu akhirnya terbakar). Pada masa itu masih belum ada Bulog.
Di pihak lain, sawah dan ladang masyarakat tidak menghasilkan apa-apa, hama tanaman tak terbendung, kesuburan tanah tak ada lagi (pupuk belum ada pada masa itu). Ditambah lagi kenyataan, seperti sekarang, masyarakat lebih mengandalkan penghasilan dari menyadap pohon karet (havea). Saya teringat mainan utama anak-anak kecil hingga remaja pada waktu itu adalah: fabuahavea (permainan dengan menggunakan buah pohon havea).
Saya ingat persis juga, beberapa bulan sebelum minggu-minggu kelaparan itu, hasil panen ubi kayu di belakang gedung SD Negeri Botomuzöi (Kecamatan Botomuzöi) yang disediakan untuk guru-guru sebagai penyemangat agar mereka betah tinggal, sangat luar biasa.
Setelah panen itu, saya tak pernah lagi menyaksikan ukuran ubi kayu raksasa: izagai faha (sebesar paha), ada yang sampai semeter panjangnya.
Hasil panen itu dikumpulkan dan dibawa oleh murid-murid SD dengan daga (bakul dari rotan atau bambu) ke lapangan harimbale (pasar mingguan) Muzöi dan dijual di sana.
Konon ubi kayu ini menguras kesuburan tanah (saya tak bisa berkomentar banyak di bidang ini, bukan keahlian saya).
Tambahan lagi, jenis bibit padi yang ada di Nias pada masa itu adalah padi lokal yang berumur 6 bulan. Ada satu nama yang samar-samar saya ingat: sirögi. Memang enak, rasanya manis, tanpa lauk pun kita bisa mudah menelannya. Tetapi ya itu … 6 bulan baru bisa dipanen.
Padi PB8 (yang berumur 3 bulan) baru dikenal di Nias kalau tak salah tahun 1968, bersamaan dengan diperkenalkannya cairan kimia pembasmi hama yang belakangan justru ditarik dari peredaran karena sangat toksik.
Saya pernah merasakan ‘enaknya’ makanan dari berbagai macam ramuan hutan yang pelezat utamanya adalah … garam!
Di masa itu, hutan-hutan menjadi lebih ‘terang’ karena orang-orang beramai-ramai mencari-cari daun-daun muda dan umbi-umbian apa pun yang bisa dimakan. Bekas-bekas injakan kaki orang membuat suasana hutan lebih ‘bersahabat’, rumput-rumput rata dengan tanah, hanya pohon-pohon besar yang menghalangi pemandangan kita melihat apa saja di sekeliling kita.
Di sejumlah desa ada banyak keluarga yang meninggal secara tragis karena memakan jamur beracun.
Lebih menyayat lagi, ada terdengar masyarakat di sejumlah desa – ketika memotong ayam, hanya membersihkan bulunya, tetapi tulang-tulangnya diremuk di lesung (latutu ba lösu) untuk dikonsumsi.
Di masa itu, ibu-ibu tidak lagi ke ladang, sawah atau kebun. Ya karena tidak ada lagi yang diharapkan dari ladang, sawah, atau kebun. Yang pergi ke hutan (istilah Nias: milo) adalah orang-orang tua atau para pemuda yang masih kuat bepergian jauh sampai seharian untuk mencari apa saja yang bisa dibawa ke rumah untuk bisa dinikmati oleh keluarga.
Kekosongan perut ternyata sangat menyiksa. Sakitnya luar biasa. Salah satu teknik untuk mengurangi kenyerian adalah mengikat perut dengan pengikat dari kain.
Di daerah-daerah lain di luar Nias tentu saja ada kisah yang mirip.
Bangsa-bangsa lain juga mengalami masa kelam di berbagai zaman.
Intinya adalah: sejarah mengingatkan kita akan masa-masa kelam di masa lalu, yang wajar kita jadikan sebagai bahan pelajaran untuk kebaikan di masa kini dan masa depan.
(E. Halawa – disiapkan 16 April 2020, dimuat di Nias Online 25 April 2020)
Nias Online – Singapura akhirnya memperpanjang lockdown sebagian hingga 1 Juni 2020. Keputusan ini diambil setelah jumlah kasus yang melonjak tajam akhir-akhir ini, terutama yang menimpa para pekerja migran. Lonjakan jumlah kasus di kalangan para pekerja ini dikarenakan kondisi hunian yang padat. Menurut pemberiatan South China Morning Post, para pekerja migran ini tidur di ranjang bertingkat dalam jumlah 12-20 orang setiap ruang yang disejukkan oleh kipas angin yang dipasang di langit-langit atau dinding. Ratusan orang di setiap lantai mandi dan buang air di fasilitas komunal / bersama.
Menurut Mohan Dutta, Professor dari Massey University di New Zealand yang mewawancara sejumlah pekerja migran, para pekerja migran ini kurang mendapat perhatian sampai-sampai alat-alat pembersih seperti sabun baru disuplai kepada mereka awal minggu ini, seperti diberitakan The Guardian. Selain itu kualitas makanan yang diberikan kepada para migran ini buruk dan kurang gizi.
Dalam dua hari terakhir, jumlah kasus Covid-19 di Singapura melonjak tajam, dengan jumlah penularan sebanyak 1,426 pada hari Senin dan 1111 pada hari Selasa, sehingga jumlah total penularan di Singapura sebanyak 9125 kasus.
Sementara itu, Presiden Amerka Serikat Donald Trump mengatakan ia akan mendandatangai perintah eksekutif untuk menghentikan sementara imigrasi ke Amerika. Amerika Serikat merupakan negara dengan jumlah tertular sebanyak 792,958 dan kematian sebanyak 42,531 orang.
Di Indonesia, Presiden Joko Widodo melarang mudik Lebaran untuk meminimumkan penularan wabah Covid-19. Hingga hari ini, jumlah terinfeksi di Indonesia sudha mencapai 7,136 orang sementara angka kematian sebanyak 616 orang.
Dari Australia dilaporkan, sekitar dua per tiga dari jumlah yang tertular telah pulih kembali, dengan kasus aktif sebanyak 2,500. Menteri Kesehatan Greg Hunt mengatakan selama 9 hari terakhir secara berturut-turut tercatat laju pertumbuhan kasus Covid-19 berada di bawah 1%. Meskipun sudah terlihat kecenderungan pelandaian kurva kasus Covid-19 di Australia, Perdana Menteri Scott Morrison belum bersedia melonggarkan pembatasan-pembatasan yang diberlakukan selama ini. Hingga berita ini disusun, jumlah kasus Covod-19 mencapai 6,645 dengan kematian sebanyak 71 orang. (brk/*)
Hadia duria solohe fa’ogömi Si lö omasido urongo Turia samanizinizi tödö Turia sangombuyu boto
Ya’ia da’ö: turia dungö Corona Tungö si möi mame’e famakao Lö i’ombakha’ö me tohare ia Idoro manö, lö hagohago
No sa’ae ato nibözinia No sa’ae ato zi tekiko
Oi mogikhi mboto wa’ata’u Oi mangelama, lö möi milo Töra moroi ba nemali sanau gari Tora ia moroi ba mbekhu soyo Ibunu zi lö horö-horö Itögi göi mbagi niha safaito
Itörö gödo wamareta Ilau ia ba nomo ndra razo Lö i’andrö izi me itörö Bawandruhö na’i lö itoko
Tara’u danga niha, no tobaya! Tababaya mbawada, no togule! Tahofo noho ba ngai zi bahö, no talo!
Hadia hatö da’ö lualua mbakhu dödö? Si tobali metumetu mbewe?
*** Löö le ! So wofo yawa mba’e So dalu-dalu zowöhöwöhö Ba so göi lala wamandröndröu Corona
Yai’a dani zi no tarongorongo Si no la’ombakha’ö ira samatörö Lala wangelama ba fangamoni’ö Ena’ö tungö andre lö dumanö Ena’ö Corona andrö lö itugu aböa
Ya’e lala wametugö högö Ya’e lala wanögi bagi Dungö Corona sasiliyawa Dungö si lö butu lö karua
Asese’ö wemondri ba manasa tanga Tenga i simane mondri mitimiti Tenga simane mondri mazauwu Tenga göi ha togule zabu ba danga Ma ha asala no abasö mbörö mbu Arakö ndra’ugö maifu ba nidanö Ö’fanoto uli geu wanoto ndra’i ba mboto Sasai nukha, böi ragö ba mbotou
Taha dödöu wondra’u tanga niha Fa ‘Ya’ahowu’ manö moroi ba zaröu Lau laka sile ba zi fasaule ba lala Na idoro lakania ba gambölö Ba hole’ögö ba gabera Ba na larafe ndra’ugö ba gotalua Ba lau laka lari Lau’a, taha manö
Na so dalu-dalu bulu ndru’u Ma lahia, undre, bawa safusi Samandröndröu fa’okafukafu Ba sangabölö boto ba wolawa fökhö bö’ö Ba sökhi na mufaliaro da’ö
Ba ginötö simane da’a Abölö sökhi ni’omaomao Ni’osimiki Ni’o-si-lö-döla-döla Böi taforoma’ö wa’ebolo haru-haru Ba fa’ebolo dötö’a Lö ata’u Corona ba da’ö
Moloi i Corona Na ta’o’ö fefu wotu si fakhai ba da’ö
Heta göi khöu wanizinizi dödö Aröu’ö wa’ogömigömi dödö Böi döröhöwa Böi hulö niha si lö Lowalangi ita Si lö lemba-lemba dödö Si lö baluse Corona ha tungö So Lowalangida sondrorogö
Jumlah penandatangan petisi menuntut pengunduran diri Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) – Tedros Adhanom Ghebreyesus – telah mendekati 1 juta orang. Hingga malam hari ini 15 April 2020, jumlah penanda tangan petisi yang diprakarsai oleh Osuka Yip pada tanggal 1 Februari 2020 itu telah mencapai 954,838 orang.
Dalam pengantar petisi disebutkan, tuntutan pengunduran diri itu antara lain karena pada tanggal 23 Januari 2020, Tedros Adhanom Ghebreyesus menolak menyatakan keadaan darurat global sehubungan dengan merebaknya wabah virus korona yang berasal dari China.
Selanjutnya dikatakan, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengandalkan sepenuhnya penjelasan dari pemerintah China tentang jumlah kematian dan jumlah orang yang telah terinfeksi oleh virus tersebut, tanpa melakukan penyelidikan.
Petisi juga menyayangkan bahwa WHO tidak memasukkan Taiwan sebagai anggotanya hanya karena alasan politis, pada hal Taiwan memiliki teknologi yang lebih maju dari pada beberapa negara anggota WHO.
Petisi menilai Tedros Adhanom Ghebreyesus tak layak menduduki posisi sebagai Direktur Jenderal WHO dan karenanya dituntut untuk mundur.
Petisi itu ditulis dalam berbagai bahasa, antara lain: Inggris, Indonesia, Italia, Jepang, Korea, Spanyol, Thai, Perancis, dll.
Suasana Perayaan Paskah di Basilika St Petrus, Vatikan
Krisis Covid-19 tidak menghalangi umat kristiani dari berbagai belahan dunia merayakan rentetan hari-hari suci yang dimulai dari Hari Kamis Putih, Jumat Agung, hingga Sabtu dan Minggu Paskah.
Walau kehadiran fisik di gereja-gereja tidak dimungkinkan karena aturan jaga jarak (social distancing) yang diberlakukan di hampir semua negara, umat kristiani bisa mengikuti perayaan hari-hari suci itu lewat pengaliran langsung (live streaming) dari saluran-saluran yang disediakan masing-masing Gereja atau pun siaran langsung yang difasilitasi oleh sejumlah pemancar televisi.
Di dalam Basilika St Petrus Vatikan yang kelihatan sepi, Paus Fransiskus memimpin perayaan Misa Paskah didampingi oleh para imam dan petugas perayaan.
“Kristus, harapanku, telah bangkit”, Paus memproklamirkan. Paus mengatakan, pesan ini merupakan bentuk penularan yang lain, yaitu “penularan dari hati ke hati”.
Kabar Gembira ibarat nyala api baru yang menyala di tengah malam di bumi yang sedang dahadapkan pada berbagai tantangan yang sangat serius, dan kini sedang dicobai oleh pandemi yang sungguh-sungguh menguji keluarga manusia secara keseluruhan.
Kardinal Ignasius Suharyo – Uskup Agung Jakarta – dalam homili Paskahnya di Gereja Katedral Jakarta menyatakan bahwa wabah Covid-19 merupakan dampak dari dosa ekologis manusia.
Kardinal Suharyo menyitir salah satu “pendapat yang menarik … disampaikan dengan sangat hati-hati, masuk akal, akal budi kita, tetapi juga akal iman kita.”
“Bisa jadi wabah adalah reaksi natural atas kesalahan manusia secara kolektif terhadap alam. Dalam bahasa iman wabah antara lain disebabkan antara lain oleh dosa ekologis.”, lanjut Kardinal Suharyo.
Di Sydney, Uskup Agung Sydney Anthony Fisher dalam homilinya yang dialirkan langsung dari St Mary’s Cathedral memberikan refleksi historis tentang wabah.
Wabah dahsyat, ungkap Uskup Agung Anthony, pernah melanda kekaisaran Roma pada abad ke 3 Masehi. Wabah cacar atau Ebola yang berawal dari Etiopia itu menjalar cepat dan menulari Yunani dan seluruh kekaisaran Roma.
“Konsentrasi besar manusia di kota-kota, jalan-jalan yang berkualitas baik dan rute-rute perdagangan besar yang merupakan kekuatan kekaisaran Roma ternyata menjadi penyebab wabah menular secara efektif. Pada puncaknya, wabah ini menelan korban 5,000 orang per hari di Roma dan orang-orang sakit dan mayat-mayat korban wabah ditinggalkan begitu saja di jalan-jalan. Dengan korban hingga sebanyak satu juta orang, angkatan bersenjata, pemerintahan dan ekonomi Roma hancur lebur. Ada kalangan yang menuduh orang-orang Kristen sebagaimana mereka lakukan setiap kali muncul masalah sosial. Namun, orang-orang Kristen membedakan mereka dari yang lain; ketika para pembesar dan kalangan lain meninggalkan kota, orang-orang Kristen tetap bertahan untuk memberi makan dan merawat para penderita wabah. Orang-orang Krsiten menyelamatkan ribuan orang; di kota-kota di mana orang Kristen berjumlah cukup banyak, laju kematian berkurang setengahnya. Karya belaskasih orang-orang Kristen ini mengesankan banyak orang kafir di Roma dan menyebabkan mereka menjadi Kristen.”
Uskup Agung Anthony mengingatkan bahwa perawatan kesehatan yang bisa menyembuhkan penyakit tubuh, hanya mampu menunda kematian kita.
“Kita diajak berenung: adakah kehidupan setelah kematian? Lantas, ada kondisi-kondisi moral, intelektual dan emosional yang justru sering lebih tak mampu dicegah dan disembuhkan daripada kondisi-kondisi kesehatan fisik.”
Sementara itu Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) lewat Sekretaris Umumnya, Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty, menegaskan bahwa para penderita Covid-19 tidak boleh distigmatisasi dan diskriminasi. PGI juga berharap pandemi Covid-19 tidak boleh menjadi epidemi keputusasaan. (brk/*)
[Partai Anak Tangga Kesempatan: Kami memberimu anak-anak tangga sehingga engkau bisa sampai ke atas. Terserah engkau, secepat apa engkau sampai.
Partai Pengulur Tali: Ini tali, peganglah erat-erat, kami akan menarikmu ke atas. …. ]
Cirrocumulus
Tanggal 18 Mei 2019 terjadi kejutan besar dalam Pemilihan Umum di Australia: Partai Koalisi Liberal dan Nasional – partai petahana – menang telak atas Partai Buruh Australia (ALP)
Kejutan besar karena hingga minggu terakhir menjelang hari H, jajak pendapat selalu mengunggulkan Partai Buruh. Jajak pendapat ini sudah berbulan-bulan berlangsung dan Partai Koalisi tak pernah berada pada posisi menang.
(Catatan: Saking yakinnya para komentator politik pada keakuratan jajak pendapat ini, ada beberapa dari mereka yang telah menyiapkan manuskrip buku yang membedah alasan-alasan kekalahan telak Partai Koalisi dan kemenangan Partai Buruh. Karena kenyatannya pada hari H hasilnya lain, manuskrip buku-buku itu akhirnya tidak pernah masuk ke ruang percetakan.
Hasil pemilu Australia, tidak seperti di tanah air, cepat diketahui, tidak menunggu berminggu-minggu. Tentu ini karena sistem yang lebih maju. Begitu pemimpin Partai Buruh mengetahui partainya tidak mampu meraih suara mayoritas, ia langsung menelpon Perdana Menteri Scott Morrison, petahana, untuk mengucapkan selamat akan kemenangannya. Ia tidak menunggu sampai seluruh suara dihitung.)
Apa yang terjadi dalam pemilu Australia ini seperti mengulang kenyataan pada pemilihan presiden Amerika pada tahun 2016, yang menghantarkan Trump kepada kemenangan.
Tentu saja ada riak-riaknya: Trump dituduh menang karena intervensi Rusia, dan … dalam skala kecil … Partai Koalisi di Australia dituding melakukan praktek-praktek curang. Namun dalam kedua kasus, tak ada yang menjurus kepada demo besar-besaran untuk memohon pembatalan keputusan komisi pemilihan, apalagi meminta Yang Mahakuasa untuk menurunkan kutukan bagi yang curang. Protes massa Demokrat di depan Gedung Putih berlangsung, tapi bukan untuk mendemo kecurangan pemilu, melainkan mengungkapan ketidaksenangan mereka pada sosok Trump yang menurut mereka fasis, rasis, dst.
Mengapa bisa terjadi kejutan semacam ini?
Banyak ahli memberikan penjelasan, tetapi dalam tulisan ini saya memilih menampilkan hasil pengamatan langsung Scott Morrison, Perdana Menteri Australia, yang partainya – Partai Koalisi – diprediksi akan kalah telak itu.
Ia mengungkapkan itu dalam sebuah wawancara beberapa hari setelah pemilu usai.
Singkat kata: ia telah menangkap suasana hati (mood) dan kegelisahan dari para calon pemilih yang dia jumpai saat ia kampanye di berbagai tempat, kelompok yang dia sebut “the quiet Australians” – calon pemilih Australia yang ‘diam’, yang tak mudah bereaksi dengan mengungkapkan pendapat di medsos. Mereka adalah yang kuatir tentang berbagai ketidakpastian tentang dampak hasil pemilu. Mereka adalah para buruh tambang yang takut kehilangan pekerjaan, para pembersih gedung-gedung yang hak-haknya sering bertabrakan dengan keinginan majikannya, para pensiunan yang kuatir akan dampak kebijakan pemerintahan baru hasil pemilu. Para petani yang sering menjadi korban kekeringan.
Dalam observasi ScoMo (nama akrab Scott Morrison, seorang anggota Gereja Pantekosta Australia), suara mereka ini tak muncul dalam jajak-jajak pendapat, tetapi jumlah mereka sangat banyak, dan hasil pemilu bisa sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi mereka.
Maka ScoMo (dibantu oleh Tim Sukses yang sangat profesional) bergerak dengan cara pertempuran jarak dekat: timsesnya mengorganisir pertemuan tatap muka dengan calon kelompok para pemilih di berbagai tempat. Kelompok ini tidak besar, antara 25-50 orang. Polanya sama, ia menyapa mereka, memberikan sambutan singkat lalu tanya jawab formal, dan pembicaraan dari hati ke hati.
Bagaimana dengan uang pensiun, apakah pajaknya akan dinaikkan?
Apa kebijaksanaan partai menyangkut aset-aset kami?
Apakah kami masih berperan besar dalam pendidikan anak-anak kami ? (Ini isu inklusivisme sosial yang akan dibahas pada kesempatan lain)
ScoMo langsung merasakan betapa para calon pemilih warga Australia yang diam itu, sungguh-sungguh memilih karena ingin terlibat langsung menentukan masa depan mereka lewat partai dan pemimpin partai yang mereka anggap bisa melindungi kehidupan mereka.
ScoMo juga mencium kegelisahan yang diembuskan oleh pemimpin oposisi Bill Shorten tentang usaha-usaha penyelamatan lingkungan dan isu pemanasan global yang hingga hari H tak pernah diestimasi berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu.
Maka, dalam sehari ScoMo dan timnya menyebar ke berbagai pelosok untuk menemui kelompok-kelompok kecil ini, menjawab berbagai pertanyaan mereka, dan meyakinkan para calon pemilih bahwa dalam situasi perekonomian nasional dan internasional saat ini, mengganti pemerintah kurang bijak.
Persuasi ScoMo dan timnya masuk akal para pemilih yang diam ini. Keputusan para pemilih diam ini semakin diperkuat dengan sikap Partai Buruh dan Partai Hijau yang dianggap arogan. Dalam suatu kesempatan, tokoh Partai Buruh bahkan meminta para pemilih yang tidak setuju dengan program partainya untuk memilih Koalisi. Sikap ini dianggap sebagai sikap arogan oleh sebagian pemilih.
Efektifkah kampanye jarak dekat yang melibatkan hanya sekitar 25 – 50 orang? Tentu saja. Selain dari mulut ke mulut lewat obrolan antar tetangga atau ketika berkumpul di warung kopi, pesan-pesan ScoMo dan timnya yang simpatik ini disebarkan secara digital oleh para pendengarnya lewat berbagai jaringan medsos.
Selama ini sudah menjadi tradisi Partai Demokrat di AS dan Partai Buruh di Australia dianggap partai rakyat kecil, partai pembela kepentingan mereka: para imigran, buruh, warga kulit hitam (di AS) dan warga Aborigin (di Australia). Partai Demokrat (AS) dan Partai Buruh (Australia) selalu mengambil tema-tema keadilan bagi para kaum tertindas sebagai tema utama kampanye mereka. Tidak jarang dalam mempopulerkan tema-tema itu, para pimpinan dari kedua Partai berhaluan kiri ini mengambil sikap yang lama kelamaan dirasakan – bahkan oleh kaum yang mereka ingin bela itu – sebagai sikap atau pandangan yang kurang bijak.
Sikap yang dimaksud adalah sikap ekstrimis yang selalu membagi masyarakat atas dua kelompok: kelompok penindas – kaum pemilik modal – dan kaum tertindas, rakyat kecil tapi. Dalam konteks sosial lain, gerakan feminisme: yang menganggap laki-laki penindas kaum wanita (tentu sebagian ada benarnya) dan karenanya perempuan harus dibebaskan dari situasi itu. Dalam praktek ekstrimnya, banyak perempuan yang tidak mau menikah karena pernikahan dianggap sebagai penindasan. Singkatnya: tak ada kompromi.
Sikap yang diilhami oleh ideologi Marxisme ini memiliki pesan inti: kedua kelompok itu tak bisa diperdamaikan, yang tertindas harus melawan dan bahkan menghancurkan penindas.
Dalam prakteknya, ideologi Marxisme yang gagal di sejumlah negara ini dicoba dimodifikasi dan kini menjadi platform utama kaum kiri di berbagai negara demokrasi di Barat. Sebenarnya terlihat langsung kontradiksi di sini, karena sikap ideologi kiri yang biasanya anti kompromi diperkenalkan dalam alam demokrasi yang dibangun atas semangat persuasi dan kompromi kritis.
Dalam pengamatan Dinesh D’Souza, seorang pemikir konservatif Amerika imigran asal India, ideologi Marxis yang mengalami semacam penyesuaian itu menjelma dalam platform Partai Demokrat. Menurut D’Souza, Partai Demokrat – terutama akhir-akhir ini – telah menjadi Partai pengulur tali kepada rakyat Amerika. Mereka menarik rakyat kecil kepada Partai Demokrat lewat program-program populis yang sangat membebani keuangan negara: jaminan kesehatan untuk semua warga, uang reparasi bagi kaum kulit hitam karena perbudakan yang dialami generasi-generasi pendahulu mereka, serta berbagai program lain yang mudah: aborsi yang dibiayai negara, uang kuliah gratis, dst.
Namun Partai Demokrat tidak pernah menelorkan program yang bertujuan jangka panjang untuk membebaskan rakyat kecil ini dari ketergantungan kepada keuangan pemerintah. Ini bisa dimaklumi, karena kalau program semacam itu diperkenalkan maka mereka justru kehilangan basis besar pendukungnya.
Dinesh D’Souza mengibaratkan Partai Demokrat sebagai pengulur tali: mereka mengulurkan tali kepada orang-orang yang berada di bawah, untuk naik ke atas. Akan tetapi Partai Demokrat tak akan pernah rela orang-orang ini (basis pendukungnya) untuk betul-betul mandiri.
Sebaliknya Partai Demokrat malah ingin memperluas basisnya. Ini terlihat dari debat internal Partai Demokrat baru-baru ini, di mana para bakal calon presiden itu mendukung sensus tanpa pencantuman warga negara. Sebelumnya, di berbagai negara bagian Partai Demokrat mendukung gagasan pemilih tak harus dibatasi pada warga negara.
Masalah pelik di perbatasan Amerika dengan negara-negara tetangga di Selatan sekarang ini merupakan akumulasi dari perlawanan pihak Demokrat untuk memblok usaha-usaha Partai Republik untuk menuntaskan masalah imigran gelap. Masalah menjadi pelik karena ini menyangkut “kemanusiaan”, hal yang sering dipakai sebagai senjata oleh Partai Demokrat.
Rakyat kecil umumnya terpecah dua: (1) kelompok yang melihat kesempatan sebagai tantangan untuk lebih maju lagi, (2) kelompok yang sudah merasa nyaman dengan bantuan-bantuan sosial yang datang dari pemerintah.
Pengamatan penulis pada pemilu terakhir di Australia, banyak pemilih yang dulunya memilih Partai Buruh akhirnya memilih Partai Koalisi karena mereka merasa program Partai Koalisi lebih realistis dan adil bagi semua. Partai Koalisi memang tetap mendukung program sosial seperti santunan dua mingguan bagi para penganggur. Namun, dalam masa pemerintahan Koalisi, persyaratan pemberian dan perimaan bantuan ini semakin diperketat.
Kebijakan tegas Partai Koalisi di bidang imigrasi yang pada awalnya ditentang oleh mayarakat justru sekarang berbalik menjadi salah satu poin penentu kemenangan mereka pada pemilu terakhir.
Rujukan:
2019 Australia election: Morrison celebrates ‘miracle’ win https://www.bbc.com/news/world-australia-48305001
Scott Morrison’s shock election result pinned on volatile voters https://www.news.com.au/finance/work/leaders/scott-morrisons-shock-election-result-pinned-on-volatile-voters/news-story/b25359e9e520cf1acb88460ca532bc8e
Pidato Dinesh D’Souza pada Acara Wisuda – Liberty University https://youtu.be/FRs-6DrnX-8
* Tulisan ini disiapkan 30 Juni 2019 – dimuat di Nias Online 13 April 2020.
Nias Online – Bersadarkan informasi dari situs web Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemakaian masker oleh masyarakat hanya diperlukan apabila seseorang sedang menderita batuk, demam, atau kesulitan bernafas.
Orang yang sehat sebaiknya hanya menggunakan masker apabila sedang merawat orang yang dicurigai atau sudah tertular Covid-19.
Selanjutnya, WHO menekankan, pemakaian masker hanya efektif apabila dikombinasikan dengan tindakan sanitasi lainnya seperti mencuci tangan dengan cairan berbasis alkohol atau sabun dan membuang masker bekas pada tempatnya.
Sumber: CDC
Sementara itu, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan pemakaian penutup muka bagi publik bila berada di tempat-tempat umum untuk memperlambat penyebaran Covid-19. Penutup muka dari kain itu harus terasa nyaman di muka, diikat dengan baik sehingga tidak mudah lepas, terdiri dari beberapa lapis, memungkinkan bernafas secara bebas dan nyaman, dan mudah dicuci tanpa menjadi rusak.
Rekomendasi CDC itu bertujuan untuk mencegah penularan Covid-19 dari orang-orang asimptomatik (orang-orang yang tertular Covid-19 tetapi tanpa gejala).
Di Australia, pemakaian masker tidak (belum) dianjurkan. Keterbatasan ketersediaan masker dan juga potensi bahaya penggunaannya menjadi pertimbangan utama. Menurut Profesor Paul Kelly, Deputi Pejabat Utama Medis Australia, penggunaan masker secara tidak benar justru bisa menimbulkan isu baru. Orang yang tidak biasa menggunakan masker bisa tidak nyaman memakainya dan bisa merasakan gatal-gatal pada permukaan muka yang ditutupi masker. Hal ini justru beresiko yang bersangkutan menggaruk mukanya dengan tangan yang mungkin saja membawa virus korona. (brk/*)
Nias Online – Hingga hari ini, Sabtu 11 April 20, jumlah orang yang tertular Covid-19 di seluruh dunia sudah mencapai 1,700,951 dengan jumlah kematian sebanyak 102,789 dan jumlah penderita yang pulih sebanyak 376,796. Dengan demikian, jumlah kasus aktif adalah sebanyak 1,221,366. Dari jumlah kasus aktif ada sebanyak 1,171,531 (96%) penderita dengan kondisi ringan dan 49,835 (4%) dalam kondisi serius / kritis.
Secara global pertambahan kasus masih dalam kisaran 71,000 – 95,000 per hari dengan rata-rata 82,600 kasus per hari selama seminggu terakhir.
Amerika Serikat (AS) merupakan negara dengan jumlah kasus penularan tertinggi, sebanyak 503,177 disusul Spanyol dengan jumlah kasus 158273 dan Italia dengan jumlah kasus 147,577.
AS telah melakukan tes kepada sebanyak 2,538,888 orang disusul dengan Jerman (1,317,887) dan Rusia (1,090,000). Data jumlah tes untuk Jerman dan Rusia masih sama seperti kemarin (Jumat, 10/4/2020), kemungkinan belum dimutakhirkan oleh situs web Worldometers.
Sementara itu menurut situs Worldometers, hari ini belum ada kematian baru di Italia semntara di China ada 3 kasus kematian baru. Sumber yang sama tidak memberi data jumlah pengujian di China.
Di Indonesia, jumlah pengujian yang dilakukan sudah sebanyak 17,679 dengan jumlah kasus sebanyak 3,512 dan jumlah kematian sebanyak 306. Jumlah pengujian per sejuta jumlah penduduk masih sangat rendah sebanyak 65, dibandingkan dengan di Filipina (224), Malasyia (2,153), Vietnam (1,221), dan Singapura (12,423). (brk/*)
Nias Online – Pengadilan Tinggi Australia dalam keputusan mutlak 7-0 hari Selasa (7/4/2020) meluluskan permohonan banding pemimpin paling senior Gereja Katolik di Australia, Kardinal George Pell, dan membebaskannya dari hukuman atas kekerasan seksual yang ditetapkan oleh Pengadilan Tinggi negara bagian Victoria.
Pada bulan Desember 2018, juri pada pengadilan negara bagian Victoria mendapatkan bahwa Kardinal Pell terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap dua orang anak laki-laki berusia 13 tahun, anggota koor Gereja Katedral di Melbourne, pada penghujung tahun 1990an. Hakim pengadilan negara bagian Victoria menghukum Pell 6 tahun penjara.
Menyambut keputusan hakim itu, Pell tetap menyatakan tak bersalah dan mengajukan banding di pengadilan tingkat banding Victoria. Di tingkat banding upaya Pell ditolak melalui keputusan 2-1, pada tanggal 21 Agustus 2019 oleh hakim banding Anne Ferguson (Hakim Ketua), Chris Maxwell dan Mark Weinberg.
Hakim Mark Weinberg berbeda pendapat dengan dua hakim lainnya, Anne Ferguson (Hakim Ketua) dan Chris Maxwell. Dari putusan hakim setebal 325 halaman, Weinberg menyumbang argumen-argimen hukum setebal 200 halaman yang menjelaskan keyakinannya bahwa Pell tidak bersalah.
Dalam paparannya pada sidang banding di Pengadilan Tinggi Australia (11/3/2020), pengacara Pell, Brett Walker, mengatakan bahwa waktu sesingkat 6 menit yang disebut korban tak memungkinkan Pell melakukan kekerasan seksual itu, yang berlangsung segera sesudah perayaan Misa, di sakristi, yang tidak langsung sepi karena kehadiran para imam, petugas misa dan para anggota koor . Sudah menjadi tradisi sehabis perayaan Misa, Kardinal Pell (dan imam yang memimpin misa) pergi ke halaman depan Gereja untuk menyalami / menyapa umat yang keluar dari Gereja. Kebiasaan ini diperkuat oleh Monsignor Charles Portelli, imam muda yang biasanya mendampingi Pell selama dan sesudah perayaan Misa.
Uskup Agung Sydeny, Anthony Fisher menyambut positif pembebasan Kardinal Pell sambil mengatakan bahwa keputusan ini akan sangat mengecewakan banyak pihak, tetapi akan disambut baik oleh orang-orang yang yakin bahwa Kardinal Pell tak bersalah.
“Saya minta usaha pengejaran terhadap beliau – yang telah menggiring kita semua ke titik ini – dihentikan”, kata Uskup Agung Anthony Fisher.
“Pemulihan reputasi Kardinal melalui putusan hari ini mengundang refleksi yang luas terhadap sistem pengadilan kita, komitmen kita mempertahankan azas praduga tak bersalah, dan perlakuan kita terhadap tokoh-tokoh besar yang dituduh melakukan kejahatan,”
Usakup Agung Anthony memaklumi putusan ini akan mengecewakan banyak pihak, dan akan membuka luka-luka lama para korban kekerasan seksual.
“Tetapi keadilan bagi korban tidak akan pernah dihadirkan melalui penghukuman orang yang tak bersalah,” lanjutnya.
Sementara itu, Kardinal Pell yang telah keluar dari penjara mengatakan tidak menaruh dendam kepada penuduhnya. Kardinal Pell menghabiskan waktu selama lebih dari 440 hari di penjara (brk/*)