Archive for January, 2015 | Monthly archive page

PBNU: Jangan Terpengaruh Faham dan Idelologi ISIS

Tuesday, January 27th, 2015
Lambang NU | jombang.nu.or.id

Lambang NU | jombang.nu.or.id

JAKARTA-NIASONLINE – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta masyarakat untuk tidak khawatir dengan beredarnya foto-foto yang memperlihatkan konvoi mirip pendukung gerombolan teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Makassar melalui twitter dan beredarnya video youtube ancaman yang bikin gempar akhir Desember lalu.

“Itu bukan ancaman, hanya sensasi belaka. Jadi masyarakat tidak terlalu takut dan hal itu jangan dibesar-besarkan,” terang Ketua PBNU KH. Maksum Machfoedz, di Jakarta, Selasa (27/1).

Menurut dia, agama Islam tidak mentoleransi kekerasan seperti yang dilakukan oleh kelompok  ISIS. Sebab, ISIS telah bertindak sadistis terhadap orang yang tidak sejalan dengan ajarannya.

“Agama Islam tidak mentoleransi kekerasan,” beber Maksum.

Kendati warga negara Indonesia yang bergabung ISIS terhitung relatif kecil jumlahnya, namun kata Maksum, bukan berarti kasus itu tidak penting untuk dicermati. Semua masyarakat Indonesia harus tetap waspada dan tidak terpengaruh dengan paham ISIS.

“Jangan sampai masyarakat terpengaruh dan kemasukan oleh paham dan ideologi ISIS yang disebarkan oleh kelompok atau jaringan tertentu,” ujarnya. (brk/*)

Fahira Idris: Pemberantasan Korupsi di Daerah Bisa Terganggu

Thursday, January 22nd, 2015
DPR DI | dumaiheadlines.com

DPR DI | dumaiheadlines.com

Jakarta, NIASONLINE — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD)  Fahira Idris mengatakan, prestasi Polri dalam memberantas korupsi di daerah patut diapresiasi. Pada 2013 saja, Polri berhasil merampungkan 1.343 kasus korupsi di seluruh Indonesia dan menyelamatkan sekitar Rp911 miliar uang negara.

“Kejahatan korupsi di daerah, di mana KPK belum bisa menjangkaunya, menjadikan Polri sebagai ujung tombak pemberantasan korupsi di daerah. Ini bisa terganggu jika institusi Polri masih dipimpin seorang Plt yang tidak  bisa memutuskan kebijakan strategis,” ujar Wakil Ketua Komite III DPD ini di Komplek Parlemen, Senayan Jakarta (20/01).

Dengan sumber daya manusia yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia serta ditunjang dengan anggaran yang besar, menjadikan peran Polri dalam agenda pemberantasan korupsi di daerah sangat signifikan.

“Saya yakin Polri bisa jadi garda terdepan pemberantasan korupsi di daerah yang begitu masif. Syaratnya, institusi ini harus dipimpin oleh orang yang bersih, tidak punya cela baik dari sisi hukum maupun moral. Bagaimana anggota Polri di daerah mau berantas korupsi kalau Kapolrinya sendiri bermasalah dengan hukum. Pemberantasan korupsi perlu cara yang tidak biasa dan ini hanya bisa berjalan baik jika institusi Polri sudah punya pimpinan definitif,” ujar senator asal Jakarta ini.

Fahira Idris meminta Presiden Jokowi jangan berlama-lama membiarkan institusi Polri dipimpin oleh seorang Plt. Menurutnya, harus ada solusi yang konkret mengingat proses hukum Komjen Budi Gunawan di KPK dipastikan memakan waktu.

“Apakah harus menunggu status hukum (Komjen Budi Gunawan) jelas, baru presiden mengambil keputusan? Proses hukum di KPK itu bisa berbulan bahkan setahun. Presiden, harus ambil tindakan mengakhiri kondisi ini agar institusi Polri bisa kembali bekerja dengan penuh rasa percaya diri, dan tidak ada beban,” jelas Fahira dalam siaran pers yang diterima Redaksi NO. (brk/*)

Ketika Bill Gates Meminum Air Olahan Teknologi Dari Limbah Manusia

Wednesday, January 21st, 2015
Bill Gates ! en.wikipedia.org
Bill Gates ! en.wikipedia.org

NIASONLINE – Siapa yang tak pernah mendengar nama Bill Gates. Setiap kali kita bersentuhan dengan komputer yang bersistem operasi Windows dan berbagai produk terkait lainnya, kita tentu ingat nama itu.

Meskipun Bill Gates telah cukup lama pensiun sebagai CEO Microsoft, ia masih aktif dalam kapasitas lain: membantu masyarakat miskin di dunia ketiga lewat Yayasan Bill Gates (Bill Gates Foundation).

Melalui yayasan ini, ia bersama istrinya – Melinda – menyalurkan sebagian dari kekayaannya untuk meringankan penderitaan masyarakat miskin di berbagai belahan dunia, khususnya di Afrika.

Kali ini mari kita menyimak sebuah aktivitas sosial Bill Gates dalam bentuk usaha perbaikan sanitasi di dunia ketiga.

Baru-baru ini, Gates dalam blognya memperlihatkan sebuah video di mana ia menerangkan teknologi pengolahan limbah manusia menjadi energi listrik, abu yang bisa dijadikan pupuk dan … ini: air bersih, sebersih air kemasan dalam botol plastik yang biasa kita minum sehari-hari.

Bagaimana hal itu dimungkinkan? Jawabannya tentu saja adalah teknologi. Bill Gates menantang para insinyur untuk menciptakan sebuah sistem pengolahan limbah manusia yang bisa menjadi kunci perbaikan sanitasi di dunia ketiga. Syaratnya: murah (terjangkau secara ekonomis) dan handal secara teknik.

Terciptalah sebuah sistem pengolahan limbah manusia yang disebut Omniprocessor hasil rancangan Janicki Bioenergy, sebuah perusahaan teknik di Seatle, Amerika Serikat.

***
Mengapa Gates begitu getol mencari alat yang cocok untuk tujuan ini? Dari berbagai kunjungannya ke negara-negara berkembang, ia menemukan bahwa sanitasi adalah salah satu masalah serius di dunia ketiga. Limbah manusia yang dibuang secara terbuka adalah salah satu sumber kematian sekitar 700,000 anak-anak setiap tahun. Menurut Gates, ada sekitar 2 miliar orang di dunia ketiga yang mengguakan kakus seadanya – tanpa sistem pembersihan dan pembuangan yang baik, bahkan ada yang membuangnya secara sembarangan. Limbah ini tidak jarang mengotori sumber-sumber air minum yang membawa berbagai penyakit, bahkan kematian.

***

Meurut Gates, Omniprocessor adalah alat paling aman untuk menampung dan mengolah kotoran manusia. Mesin ini memproses limbah pada suhu mencapai 1000°C, jadi semua bakteri yang menghasilkan bau dan penyakit mati. Mesin ini juga telah memenuhi standar emisi yang dikeluarkan pemerintah AS.

Bill memilih Dakar, Senegal, sebagai tempat projek percontohan dari sistem pengolah limbah ini, yang direncakan akan dimulai akhir tahun ini.

Pada kunjungannya ke lokasi pengoperasian Omniprocessor di Seatle, Gates melihat langsung limbah manusia memasuki mesin pemroses, dan tidak lama kemudian, ia mengarahkan gelas ke keran pengeluaran air bersih dari mesin … dan meminumnya. (brk/*)

Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan

Monday, January 19th, 2015

Oleh: Agustinus Sihura, S.Pd., M.S*

OpiniAdat Perkawinan di Pulau Nias masih identik dengan Böwö (mahar). Böwö (mahar) membudaya di pulau ini sejak zaman dulu hingga pada era ini sehingga menjadi satu elemen atau obyek yang berkembang dan tak mudah punah dalam kehidupan masyarakat. Apabila dipandang dari sisi nilai memang dapat dikatakan bahwa Böwö (mahar) Adat Perkawinan memiliki nilai konkret atau wujud yang tinggi. Böwö (mahar) Adat Perkawinan di Pulau Nias mencakup banyak unsur. Salah satu di antaranya adalah Fanötö Idanö.

Fanötö Idanö berasal dar Bahasa Nias. Fanötö adalah penyeberangan dan Idanö adalah air. Jadi penerjemahan kata demi kata “Fanötö Idanö” berarti Penyeberangan Air. Fanötö Idanö merupakan istilah yang sudah dipahami oleh masyarakat Nias. Istilah Fanötö Idanö ini hanya terintegrasi dalam adat pernikahan.

Fanötö Idanö merupakan salah satu dari unsur Böwö (mahar) yang membudaya dalam Adat Perkawinan di Pulau Nias khususnya di Kabupaten Nias Selatan. Fanötö Idanö merupakan kewajiban pihak mempelai pria yang wajib diberikan atau dibayarkan kepada pihak si’ulu (bangsawan) si mempelai wanita sebagai wujud nyata kesadaran penghargaan. Pembayaran atau penyerahan Fanötö Idanö ini dilaksanakan pada hari pelaksanaan perkawinan dengan ketentuan sebesar dua jo’e baẅi (ukuran babi di Pulau Nias dengan menggunakan alat ukur Afore) atau setara dengan uang sebesar tiga ratus ribu rupiah.

Fanötö Idanö sering didefinisikan sebagai tanda penghargaan kepada pihak si’ulu (Bangsawan) yang hadir pada upacara perkawinan. Apabila Fanötö Idanö ini tidak diberikan, oleh mempelai pria, maka pihak si’ulu (bangsawan) akan meninggalkan upacara perkawinan tersebut karena kedua pihak mempelai dianggap tidak menghargai dan mematuhi adat yang berlaku. Fanötö Idanö ini juga wajib disebutkan dalam urutan penyebutan Böwö (mahar). Lumrahnya, penyebutan Fanötö Idanö ini diucapkan setelah penyebutan Böwö (mahar) bagi keluarga dan kerabat pihak mempelai perempuan.

Uniknya, Fanötö Idanö hanya dibebankan kepada pihak mempelai pria yang berasal dari desa yang bukan satu asal atau bukan sara ulu idanö (satu hulu air) dengan desa pihak mempelai wanita. Misalnya, perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Hilisataro dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawomataluo (bukan satu hulu air) dan perkawinan antara mempelai pria yang berasal dari Desa Bawömataluo dengan mempelai wanita yang berasal dari Desa Bawönahönö atau sebaliknya (satu hulu air). Pada hakikatnya, pengenalan dan pengetahuan tentang yang satu hulu air dan bukan satu hulu air ini sudah dikuasai oleh si’ulu (bangsawan), si’ila (cendrekiawan) dan masyarakat.

Fanötö Idanö perlu digaris bawahi sebagai wujud kesadaran pihak mempelai pria untuk menghargai bangsawan si mempelai wanita tanpa harus ada unsur pemaksaan dan penmatalan perkawinan apabila tidak diberikan oleh pihak mempelai laki-laki karena Fanötö Idanö bukan semata-mata menjadi penentu kelangsungan perkawina yang artinya siulu tidak memiliki otoritas untuk membatalkan perkawinan atau menjadi penghalang kelangsungan pernikahan. Dalam hal ini, keluargalah yang memiliki hak mutlak untuk melangsungkan upacara perkawinan.

Lalu yang menjadi pertanyaanya, Apakah sanksi bagi pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö kepada pihak si’ulu (bangsawan)?. Jawabannya “tidak ada sanksi”. Namun, sebagai dampak akibat ketidaksadaran ini, si’ulu (bangsawan) akan meniggalkan upacara perkawinan seperti yang dikemukakan pada paragraf di atas. Selain itu, akibat ketidaksadaran ini juga dapat merendahkan interaksi dan kepedulian bangswan dalam kehidupan sosial dan dalam menghadiri upacara-upacara adat keluarga pihak mempelai wanita di masa yang akan datang baik perkawian, kematian dan upacara-upacara lainnya.

Beberapa praktek yang terjadi selama ini terkait Fanötö Idanö bukan merupakan perlakuan yang terpuji dan tidak benar. Misalnya, pencekalan terhadap Tome Sanai Niha (tamu yang menjemput mempelai wanita) yang dilakukan oleh pihak si’ulu (bangsawan) karena tidak diberikkanya Fanötö Idanö oleh pihak mempelai pria atau perlakuan si’ulu (bangsawan) yang menagih Fanötö Idanö di tengah jalan (bukan di tempat atau di halaman upacara perkawinan). Perlakuan seperti ini sudah mengandung unsur pemaksaan karena sebagaimana diungkap pada paragraf di atas bahwa kelangsungan perkawinan tidak menjadi hak otoritas pihak si’ulu (bangsawan). Seyogiyanya, penagihan ini dilakukan di tempat yang tepat dan benar sesuai tradisi-tradisi yang berlaku karena dengan demikian nilai adatnya tetap terjaga dan terintegrasi baik.

Kesimpulannya bahwa Fanötö Idanö dalam Adat Perkawinan di Kabupaten Nias Selatan benar adanya sebagai satu unsur böwö (mahar) yang sudah menjadi tradisi dengan nilai-nilai yang tak kalah dari unsur böwö (mahar) lainnya, namun diperlukan pemahaman, kesadaran, dan koordinasi yang lebih baik apabila terdapat pihak mempelai pria yang tidak bersedia memberikan Fanötö Idanö. Dalam kutip tidak perlu diberlakukan pemaksaan, cukup dengan sanksi sosial. Karena cara-cara pemaksaaan dan semacamnya bukanlah merupakan tradisi yang harus dilakukan atas ketidaksadaran mempelai pria dalam memberikan Fanötö Idanö namun lebih diintegrasikan dengan menempuh langkah-langkah yang lebih persuasif dan problem solving.

*Penulis adalah seorang guru / wiraswasta.

Ciptakanlah Terang Bagi Masa Depan Generasi Berikutnya

Friday, January 16th, 2015

Opini1Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM*

HARUS diakui bahwa pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membawa setiap insan untuk bisa menyiapkan masa depannya sendiri. Masa depan itu akan terlihat nantinya pada waktu insan tersebut sudah bekerja dan atau sudah berkarya.

Setiap orang dewasa pasti ingin bekerja atau berkarya, apapun pekerjaan itu akan dilakukannya. Semua dilakukan demi memenuhi kebutuhannya. Untuk kebutuhan sehari-hari, minimal dapat makan dan dapat minum. Masalah asupan gizinya cukup atau kurang, itu masalah kemudian, yang penting dapat pekerjaan dan melalui pekerjaannya itu bisa memenuhi kebutuhan pokoknya, bahkan pada waktunya akan dapat mendukung aktualisasi dirinya.

Pertanyaan yang perlu diajukan di sini adalah, bagaimana keadaan generasi muda Nias sekarang? Bagaimana masa depan generasi muda yang sudah bisa menyelesaikan studinya di tingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi?. Tentu hal ini merupakan pertanyaan besar bagi mereka yang diberi tanggung jawab memimpin pemerintahan daerah beserta SKPD-nya.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa generasi muda Nias sekarang, terutama yang sudah siap memasuki dunia kerja, sudah terbayang di pelupuk mata dan dimimpinya bahwa bisanya adalah dapat bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Kalau tidak jadi PNS, dunia ini seperti mau kiamat. Sepertinya hidup ini tidak memiliki arti bagi orangtua dan sanak famili lainnya.

Ada seorang mahasiswa Nias yang pada saat ini sedang menyiapkan penyusunan skripsi. Dia mendiskusikan tentang masa depannya setelah selesai studi strata satu. Kami banyak dan lama melakukan diskusi melalui short message service (SMS). Dalam diskusi tersebut, si mahasiswa sempat menunjukkan sikap adanya kegelisahan setelah dapat menyelesaikan studi strata satu (S1) nantinya. Bahkan  si mahasiswa berkata, setelah lulus nanti mau kerja apa, cari kerja juga susah, lowongan PNS masih lama dan jumlah yang dibutuhkan sangat terbatas.

Bagaimana Anda bisa menjawab bila kegelisahan ini disampaikan kepada Anda? Apa solusi yang Anda bisa lakukan pada permasalahan ini? Sebelum mencari atau memberikan satu atau beberapa solusi, terlebih dahulu tarik nafas dalam-dalam dan keluarkanlan nafas itu dengan pelan-pelan seraya berkata, apa ya solusinya?

Memberikan solusi pada permasalahan sekarang, tidaklah mudah. Perlu melakukan berbagai persiapan yang biasa kita sebut “strategi”. Apa bentuk strategi yang akan diwujudkan dalam jangka panjang?. Nah, apabila strategi itu akan dihubungkan lagi dengan hadirnya suatu nama yang sering kita sebut pada akhir-akhir ini yaitu masyarakat ekonomi asean (MEA) yang akan berlangsung di akhir tahun 2015 mendatang, tentu diperlukan pemikiran yang jitu dan penjabaran yang lebih detail dan lengkap.

Salah satu strategi dan mumpuni yang perlu dilakukan untuk dapat menjawab kegelisahan generasi muda Nias dalam hal peluang untuk mendapatkan pekerjaan yaitu melaksanakan “edu-preneurship”. Menurut Setiono (2012), edu-preneurship itu merupakan program pelatihan bagaimana mengenalkan konsep-konsep entrepreneurship yang dilengkapi dengan berbagai contoh aplikasi melalui proses pendidikan.

Memahami konsep-konsep entrepreneursip (kewirausahaan) berarti harus mengerti lebih mendalam mengenai apa itu entrepreneurship. Menurut Frinces (2004), entrepreneurship (kewirausahaan) merupakan bentuk usaha untuk menciptakan nilai lewat pengakuan terhadap peluang bisnis, manajemen    pengambilan resiko yang sesuai dengan peluang yang ada,  dan lewat keterampilan komunikasi  dan   manajemen untuk   memobilisasi manusia, keuangan, dan   sumberdaya  yang diperlukan untuk membawa sebuah proyek sampai berhasil.

Dengan demikian, kewirausahaan adalah berkonotasi mengimplementasikan, berarti mengerjakan (sesuatu), yaitu  sesuatu yang harus dikerjakan oleh seorang wirausaha. Apabila disederhanakan artinya, wirausaha adalah seseorang yang merespon terhadap peluang dan mempunyai rasa kebebasan (sense of freedom) baik dalam dirinya maupun dalam organisasi untuk bertindak terhadap peluang yang ada.

Hal-hal yang dapat dikerjakan dan diberikan oleh para wirausaha, antara lain: 1. Produk-produk dan jasa-jasa baru; 2. Pekerjaan baru; 3. Lingkungan kerja yang kreatif; 4. Cara-cara baru melakukan kegiatan bisnis (usaha); dan 5. Bentuk baru penciptaan bisnis (new business innovation). Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, maka kewirausahaan ini sangat bisa dikembangkan pada bidang-bidang usaha yang berhubungan dengan usaha pariwisata, seperti bidang kerajinan, bidang kuliner, bidang jasa perhotelan dan homestay, bidang usaha biro dan agen perjalanan, bidang usaha hiburan, bidang usaha objek wisata, bidang usaha guide (pramuwisata), bidang usaha on-line, dan berbagai bidang usaha yang lain.

Untuk merealisasikan edu-preneurship ini di lapangan, memerlukan komitmen dari pemerintah daerah untuk mendorong dimulainya pelaksanaan edu-preneurship ini. Pelaksanaannya dimana? Mulailah dengan pengenalan entrepreurship yang sederhana di tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (pendidikan 9 tahun). Lalu terus dikembangkan pelaksanaannya di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK) dan sekolah menengah atas (SMA).

Apabila sudah dimulai sebuah pengenalan entrepreneurship di tingkat pendidikan 9 tahun, dan dikembangkan lagi pelaksanaan entrepreneurship di tingkat sekolah menengah, berarti kita sudah mulai menciptakan “terang” kepada generasi muda Nias di masa yang akan datang. Dengan demikian, para siswa sudah dapat menilai bakat dan kemampuannya yang bakal disiapkannya ke depan, demi meraih masa depan yang lebih cerah melalui pekerjaan yang dikerjakan pada waktu memasuki dunia kerja.

Harapan kita bahwa setelah siswa menyiapkan diri lebih dini untuk mendapatkan atau menciptakan pekerjaan yang sesuai dengan talenta yang dimiliki, kita dapat meyakini bahwa mereka nantinya akan berhasil dalam mengarungi hidup ini. Keberhasilan ini akan didapatkan, karena bakat yang telah dimiliki sudah diasah lebih dini melalui kegiatan edu-preneurship.

Untuk itu siapkanlah kurikulum kreatif mengenai entrepreneurship dikalangan siswa SD dan SMP, dan terus diteruskan di kalangan siswa sekolah menengah. Rencanakanlah materi yang kreatif bagi siswa-siswa yang sesuai dengan usia pendidikan mereka.

Mewujudkan keinginan ini, tentu kita sesuaikan dengan harapan dan keinginan dari kementerian pendidikan dan kebudayaan bahwa anak didik semakin pintar, manakala guru-gurunya sudah terlatih dan menguasai mata pelajaran itu. Artinya, profesi guru dimantapkan terlebih dahulu pada mata pelajaran entrepreneurship itu, setelah itu baru dikembangkan pemberiannya kepada siswa-siswa sebagai generasi muda Nias dan penerus cita-cita kita semua untuk lebih berhasil dalam mensejahterakan dirinya dan keluarganya di masa yang akan datang.

Galakkanlah pendidikan kewirausahaan kepada generasi muda Nias. Dan mulailah pendidikan itu lebih dini, sehingga generasi muda Nias ini sudah tidak mengalami kegalauan hati dalam mencari peluang pekerjaan, apabila mereka sudah dapat menamatkan pendidikannya di tingkat sekolah menengah atas/kejuruan ataupun sudah bisa lulus studi dari strata satu (S1).

Menurut Frinces (2010), berprofesi sebagai wirausaha adalah sebuah pilihan untuk hidup dan pilihan profesi yang terhormat yang harus direncanakan secara baik dan matang. Wirausaha adalah sebuah jalan kehidupan yang dipilih karena telah diyakini dengan kenyataan dan fakta yang ada bahwa wirausaha mempunyai peran yang besar di dalam meningkatkan kualitas hidup individu, masyarakat dan Negara.

Di samping itu wirausaha juga merupakan salah satu faktor yang penting dan menentukan untuk dapat menjadikan masyarakat dan Negara yang makmur. Oleh karenanya, wirausaha adalah sebuah profesi yang dalam proses penciptaannya, pertumbuhan dan perkembangannya harus dibentuk dengan cara yang sistematik. Karena yang akan dibentuk adalah karakteristik dan jenis sosok manusia yang harus berhasil di dalam tugasnya untuk menciptakan dan mengembangkan organisasi dan bisnisnya.

Bentuklah karakteristik wirausaha bagi generasi muda Nias melalui edu-preneurship. Dan tumbuhkanlah generasi muda Nias dalam dunia wirausaha, sehingga mereka akan menjadi pionir-pionir dalam berwirausaha di Kepulauan Nias tercinta.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Perlukah Evaluasi Program Kerja Seorang Pemimpin?

Monday, January 5th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes.

PROGRAM kerja yang telah dirumuskan biasanya sebagai penjabaran dari Visi dan Misi seorang pemimpin. Untuk mewujudkan visi dan misi dari seorang pemimpin, akan dirumuskan ke dalam program kerja jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Penempatan program kerja dalam jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, tentu disesuaikan dengan upaya pencapaian sesuatu menurut kebutuhan. Baik kebutuhan yang mendesak dari masyarakat maupun percepatan kemajuan seperti yang diprogramkan oleh pemimpin.

Pelaksanaan evaluasi dari suatu program kerja sebaiknya dilakukan setiap tahun, terutama mengevaluasi program kerja 1 (satu) tahunan. Dan setelah itu dievaluasi juga mengenai rencana pelaksanaan program kerja dalam jangka menengah dan panjang, apakah sudah dapat mendukung pelaksanaan program kerja itu selanjutnya. Untuk itu perlu ditandai dengan milestone-milestone (tonggak batu yang menunjukkan jarak dalam mil) agar lebih memudahkan bagi kita untuk menilai seberapa jauh perjalanan yang sudah kita jalani dalam upaya mewujudkan visi dan misi seorang pemimpin.

Banyak hal yang dievaluasi dari program kerja yang sudah diketukkan palu pada akhir tahun 2013 atau di awal tahun 2014 yang lalu. Hal pertama yang perlu dilakukan evaluasi berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM), baik sebagai pegawai pemberi pelayanan kepada masyarakat, maupun kemajuan yang telah dimiliki oleh khalayak selama tahun 2014.

Mengapa SDM yang pertama kali dievaluasi? Karena SDM ini merupakan motor penggerak dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan di lapangan, untuk mewujudkan berbagai hasil sesuai target dalam berbagai bidang yang menjadi profesi dari SDM itu sendiri. Umpamanya, kalau kita sungguh-sungguh memprioritaskan pembangunan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kepulauan Nias, seperti yang sudah disepakati dalam forum lokakarya yang dilaksanakan pada bulan Juni 2014, maka tentu kita evaluasi mengenai jumlah dan kualitas SDM yang telah memahami ruang lingkup pembangunan dan pengembangan pariwisata yang seharusnya.

Selanjutnya pada SDM ini, kita bisa lihat pada jumlah SDM yang diprioritaskan untuk studi-lanjut mengenai kepariwisataan. Seberapa banyak SDM yang melaksanakan magang diberbagai usaha pariwisata di berbagai tempat. Seberapa banyak SDM yang telah dilatih pada bidang kepariwisataan, dan seberapa banyak SDM yang dipersiapkan untuk mendalami mengenai usaha perhotelan, usaha biro dan agen perjalanan, usaha kerajinan, usaha perbatikan, usaha kuliner, usaha rekreasi, dan usaha-usaha lainnya.

Setelah melakukan evaluasi pada SDM, maka evaluasi yang dilakukan selanjutnya adalah mengenai pelaksanaan program kerja dari masing-masing SKPD, Badan, Kantor, Bagian, dan para Camat. Penekanan evaluasi pada bidang ini yaitu seberapa besar kelancaran pelaksanaan dari setiap program kerja yang berada dalam ruang lingkup tugas pokok dan fungsinya. Apa saja hambatan dalam proses pelaksanaan program kerja itu? Seberapa banyak dapat diwujudkan berbagai program usulan yang berasal dari musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes). Seberapa besar persentase pencapaian target dari setiap program kerja itu, dan seberapa besar peranannya dalam mewujudkan pencapaian visi dan misi dari seorang pemimpin.

Barangkali masih banyak item-item yang memerlukan evaluasi yang menggunakan indeks atau standar-standar yang sudah ada. Seperti standar penilaian derajat kesehatan masyarakat (kesehatan ibu dan anak), derajat pendidikan bagi anak-anak usia sekolah, standar penggunaan anggaran, standar pembangunan infrastruktur, dan standar-standar yang lain.

Meskipun masih banyak item-item yang perlu dievaluasi, namun yang menjadi fondasi pelaksanaan program kerja berikutnya adalah mengenai evaluasi berbagai permasalahan yang terjadi selama tahun 2014. Permasalahan yang diutamakan adalah permasalahan yang terjadi dari setiap proses pelaksanaan program kerja selama tahun 2014. Permasalahan ini tentu perlu dicatat selengkap-lengkapnya untuk dipahami oleh semua SDM dari masing-masing organisasi yang ada, dengan harapan permasalahan itu akan dapat berkurang sebesar-besarnya pada tahun 2015. Alangkah lebih baik lagi apabila di tahun 2015, permasalahan yang sama tidak terjadi lagi.

Apakah masih ada lagi yang paling penting untuk dievaluasi lagi? Masih dan malah yang utama. Justru ini yang paling penting untuk dievaluasi. Mengapa? Karena pemimpin daerah umpamanya, bekerja dalam upaya untuk menjalankan 2 (dua) fungsi, yaitu fungsi primer (pelayanan dan pengaturan) dan fungsi sekunder (pembangunan dan pemberdayaan). Jadi sekali lagi kita sebutkan, bahwa fungsi pemerintah terdapat pada fungsi pelayanan dan pengaturan pada masyarakat yang menjadi subjek pemerintahan, serta berfungsi pula dalam hal pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (Zeith, 2013).

Berbicara tentang pelayanan yang disuguhkan oleh SDM kepada masyarakat, tentu sangat perlu dievaluasi. Bagaimanapun masyarakat sangat berharap akan selalu mendapatkan pelayanan yang baik dan berkualitas dari SDM, ditambah dengan sangat informatif dan disampaikan dengan sangat komunikatif. Untuk itu sangat perlu dievaluasi.

Evaluasinya berkaitan dengan seberapa baiknya pelayanan yang dihadirkan SDM untuk melayani berbagai kebutuhan masyarakat. Tujuannya agar dapat memberikan pelayanan yang lebih baik lagi di tahun 2015 mendatang. Pelayanan yang diberikan SDM tidak hanya dalam hal kecepatan pelayanan, tetapi menyangkut juga sikap dan perilaku SDM saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sekarang ada istilah S3 (senyum, salam, dan sapa) dalam memberikan pelayanan, apakah sudah menggambarkan pelayanan yang S3?

Demikian juga dalam hal pengaturan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat, sangat perlu dievaluasi. Tujuannya untuk menghadirkan dan meningkatkan peran pemimpin daerah dalam upaya mensejahterakan masyarakat menjadi lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang. Sekaligus juga untuk menilai seberapa jauh mile-stone yang telah dicapai atau yang dijalani, sesuai visi dan misi dari seorang pemimpin.

Visi dan misi seorang pemimpin merupakan sebuah mimpi yang perlu direalisasikan selama duduk dalam jabatan sebagai seorang pemimpin. Untuk itu sangat perlu melakukan evaluasi pada berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan selama tahun 2014. Gambarannya adalah apa keberhasilannya dan apa kegagalannya. Informasi kondisi ini perlu diutarakan kepada khalayak, sehingga masyarakat peham juga mengenai hasil yang telah dicapai dan hal-hal lain yang perlu dilaksanakan pada tahun-tahun yang akan datang.

Pelaksanaan kegiatan evaluasi ini tidak hanya sekedar mencatat berbagai kekurangan dari berbagai program kerja dalam mewujudkan kesejahteraan, tetapi kekurangan yang masih ada itu akan diperbaiki dengan sungguh-sungguh di tahun 2015. Kesungguhan ini akan tampak pada hasil evaluasi berbagai program kerja di akhir tahun 2015, apakah permasalahan atau kekurangan yang tercatat di tahun 2014 masih terjadi dengan frekuensi yang sama di tahun 2015? Mari sama-sama melakukan penilaian hasil yang dapat dicapai di tahun 2015 mendatang.

Selamat melakukan evaluasi semua program kerja yang sudah dilaksanakan pada tahun 2014, dan selamat mewujudkan harapan masyarakat pada tahun 2015 mendatang. Bila ada kesungguhan hati dapat dipastikan bahwa selama duduk dan memegang jabatan itu, pasti ada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pasti terdapat rona muka dari insan masyarakat yang menunjukkan kegembiraan.

*Penulis buku “Inspirasi Pengembangan Pariwisata di Daerah (2014)”, dan Staf Pengajar di beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.