Nias Bangkit dengan Dokter Beasiswa

Monday, March 26, 2007
By nias

Yogyakarta (Yaahowu)

Sekitar 98% tamatan SMU di Nias tidak bisa melanjutkan sekolah, karena tidak punya dana. Dari yang dapat melanjutkan sekolah tahun ini, ada 16 orang anak-anak kita dapat diterima secara khusus dengan sistem penerimaan bibit unggul di Fakultas Kedokteran UGM. Demikian sambutan Bupati Nias Binahati Baeha, SH, dalam acara ramah-tamah antara jajaran pejabat teras pemkab Nias dan Nisel dengan warga IKN (Ikatan Keluarga Nias) Yogyakarta serta para mahasiswa program beasiswa BRR Nias di UGM, Rabu malam, 21/3, di Ruang Kalasan Inna Garuda Hotel, Yogyakarta.

Para mahasiswa kedokteran asal Nias dan Nisel, baik S1 (dokter), S2 (master), maupun program dokter spesialis penerima beasiswa yang didukung BRR Nias ini, lanjut Binahati Baeha, telah membuat pernyataan sanggup bekerja di Nias dan Nias Selatan selama 20 tahun setelah lulus, dengan “rumus 3 N + 1” (N adalah masa studi yang ditempuh di FK-UGM).

Program ini merupakan bagian dari peningkatan capacity building dalam rangka memenuhi kebutuhan dokter yang berkualitas di kepulauan Nias. Dengan demikian, program beasiswa dokter ini memiliki dua aspek manfaat, yaitu: peningkatan kapasitas SDM (orang) Nias dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di seluruh kepulauan Nias.

Adanya 16 mahasiswa baru calon dokter asal kepulauan Nias di FK-UGM merupakan sebuah ukiran sejarah yang unik. Selama ini belum pernah terjadi mahasiswa masuk ke UGM dalam skala besar, kecuali mahasiswa dari kawasan Nias. Wakil Bupati Nias Selatan, Daniel Duha, SH, menyatakan kebanggaannya karena anak-anak kita bisa masuk ke UGM dan kelak banyak dokter Nias yang mau dan mampu mengabdi di daerah asalnya.

Yang menarik, dari 16 orang mahasiswa baru FK-UGM asal Nias dan Nisel, di dalamnya terdapat 9 orang putri. Wartawan Yaahowu, Victor Zebua, melihat fenomena ini sebagai bangkitnya Nias dan Nisel dari keterpurukan, diindikasikan dengan bangkitnya putri-putri Nias yang 6-7 tahun lagi menjadi dokter-dokter tangguh di Tanö Niha.

Victor Zebua yang juga adalah Konsultan FK-UGM sempat mendapat kesan tertulis dua orang putri Nias yang memperoleh beasiswa dokter ini. Berikut kisah Yunianti Lafau dan Yeti Oktaviana Zebua yang kini tinggal di Asrama Putri UGM “Retnaningsih” Yogyakarta.

Yunianti Lafau: Sejak Kecil Ingin Jadi Dokter
Pada akhir bulan November 2006, saya mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa Kedokteran Program Dokter Umum UGM yang disupport oleh BRR di Nias. Saya mengikuti test itu selama 2 hari. Selama mengikuti test, tidak ada kendala yang berarti yang saya hadapi, semuanya berjalan lancar.

Kemudian, pada awal bulan Maret 2007, saya mendengar informasi bahwa pengumuman seleksi kedokteran itu telah ada, dan nama saya tercantum sebagai salah satu di antara enam belas orang yang dinyatakan lulus. Saya mendengar informasi itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa senang, puas, dan tertantang. Senang, karena saya berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UGM. Puas, karena usaha selama mengikuti seleksi gak sia-sia, dan cita-cita sejak kecil yaitu menjadi dokter akhirnya terwujud. Tertantang, karena saya sadar bahwa dalam masa mengikuti pendidikan kedokteran nanti itu bukanlah hal yang mudah, tetapi membutuhkan tangggung jawab yang besar.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena berkat-Nya lah saya dapat diterima, dan juga kepada orangtua dan keluarga yang sangat mendukung cita-cita saya.

Sebelumnya saya sempat mengikuti perkuliahan di UKRIM (Universitas Kristen Immanuel), Fakultas MIPA, jurusan Ilmu Komputer. Tetapi, saya akhirnya memilih untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran UGM.

Pada saat ini, saya mempunyai keinginan untuk memanfaatkan dengan sebaik-baiknya kesempatan yang telah diberikan ini. Saya akan berusaha agar dapat menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan waktu yang telah ditargetkan, yakni selama 7 tahun. Dan jikalau Tuhan mengizinkan saya akan berusaha menyelesaikan pendidikan sebelum waktu yang ditargetkan.

Akhirnya, saya mengharapkan bantuan dan dukungan dari dosen-dosen Fakultas Kedokteran UGM, dan kerjasama yang baik dengan teman-teman semua dalam menjalani pendidikan Kedokteran ini.

Yeti Oktaviana Zebua: Saya Harus Bisa Jadi Dokter
Pertama kali saya mendengar program beasiswa kerjasama antara FK-UGM dan BRR Nias saya merasa senang sekali. Itu merupakan peluang emas buat saya untuk meraih cita-cita saya selama ini yang tak dapat terwujud karena kemampuan dana dari orang tua yang tidak mendukung.

Informasi itu saya dengar di bulan Agustus 2006. Sebelumnya saya telah lulus seleksi masuk Akademi Kebidanan Padang Sidempuan. Karena testingnya ditunda terus saya terpaksa harus mengikuti pendidikan di Akbid. Akhirnya testnya dilaksanakan juga pada akhir bulan November oleh tim seleksi program beasiswa yang didatangkan dari FK-UGM. Pelaksanaan testingnya bertepatan dengan pelaksanaan mid-semester di Akbid. Karena begitu besar keinginan saya untuk menjadi dokter saya terpaksa kembali ke Nias untuk mengikuti test dan tidak mengikuti mid-semester sekalipun pihak universitas tidak memberi izin saya nekat berangkat ke Nias karena tekad saya sudah bulat saya harus menjadi seorang dokter dan untuk itu dibutuhkan keberanian dan pengorbanan untuk mencapainya.

Setelah pelaksanaan testing ada begitu banyak teman-teman maupun saudara saya yang datang ke rumah untuk mengucapkan selamat atas keberhasilan saya masuk FK-UGM. Itu merupakan beban moral buat saya padahal pengumuman masih belum keluar malahan terus ditunda ditambah dengan isu-isu adanya penyogokan dan nepotisme menyurutkan optimisme nama saya keluar sebagai salah seorang peserta lulus seleksi.

Pengumuman hasil seleksi baru dipublikasikan pada awal Maret. Betapa senangnya saya saat tahu bahwa saya termasuk dari 16 orang peserta yang lulus seleksi, tak ada kata yang dapat mendeskripsikan rasa senang saya pada saat itu. Saya seperti bermimpi, antara percaya dan tidak percaya. Di satu sisi saya merasa senang dan di sisi lain saya merasa nervous dan terbebani di mana tanggung jawab yang dipercayakan buat kami cukup berat.

Saya mengundurkan diri dari Akbid PSP pada tanggal 8 Maret bertepatan dengan pelaksanaan capping day dengan satu target “saya harus bisa menjadi dokter”.


Keterangan gambar: Kiri: Yunianti Lafau, kanan: Yeti Oktaviana Zebua

17 Responses to “Nias Bangkit dengan Dokter Beasiswa”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    melki christian lase Says:

    bagus and trus berlari mengubah nias menjadi nias sehat. tentunya dengan semangat teman teman

  2. 12
    finch Says:

    jadilah dokter yang hebat dan tunjukkan bahwa anak nias bukan orang bodoh.

    saya mau tolong
    kalau boleh kasi tau dong hasil seleksi beasiswa kedokteran yang tahun 2009 (yang terakhir)

    thanks

  3. 13
    zega Says:

    selamat berjuang ya … gmana dengan pengumuman tahun 2009? tlong konfirmasi donk?…

  4. 14
    Harun Says:

    mohon prhatian para pmerhati utk brkenan mengkofirmasi hasl slksi akademik kmrin, yakni hmpr 1 thn yg trslnggrakn pd tgl 11 des 2008,
    apa klbihan anggran BRR tuk rhablts Nias itu yg katanyaq dianggrkan tuk beasswa ank daerah Nias msih utuh…kama amt m’hrpkannya……..tks..

  5. 15
    umi Says:

    gmana to carany biar bisa dpt beasiswa kedokteran ki…?tolong bantu saya perlu sekali…

  6. 16
    Iwan Gulo Says:

    Berjuanglah atas apa yang anda cita2kan……
    dan brilah nama NIaz tercinta dgn langkah
    >>>>.Anak niaz maju dan maju akan pendidikan<<<<<<<

    tapy jgn dgn kemegahan sendiri ttp serahkanlan kpd yang Maha kuasa….

    Tlg bantu YET tuk formuli masuk test disana ………..

    ditunggu balasan formilirnya……..THx

  7. 17
    Bobby Says:

    Caioo,,,

    anak2 Nias di UGM…
    rjin2 blajar ya…

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita