Irasionalitas Dalam Keseharian Kita

Wednesday, March 14, 2007
By nias

Kalau seorang salesman menawarkan berbagai macam barang yang menarik kepada Anda, maka keputusan Anda untuk membeli atau tidak membeli barang-barang itu akan sangat tergantung dari berbagai faktor, antara lain:

  1. Kondisi keuangan Anda. Apabila Anda memliki uang yang banyak (bahkan berlebih) maka Anda akan cenderung “membeli”, ketimbang kalau uang Anda sangat terbatas. Kondisi “melimpah” cenderung menekan atau memperlemah sikap kritis Anda dalam mengambil keputusan. Anda akan cenderung ingin memiliki kalau belum memiliki, dan Anda akan cenderung ingin memiliki lebih banyaklagi kalau Anda telah memiliki. Biasanya baru belakangan Anda mulai menyadari: “Untuk apa ini bubeli ? Kok bisa-bisanya aku membeli barang ini ?
  2. Kegencaran “promosi / persuasi”. Keputusan Anda juga akan sangat dipengaruhi oleh kegencaran promosi barang-barang itu, baik melalui iklan atau melalui promosi langsung dari orang yang mendatangi Anda di rumah. Faktor ini biasanya sangat gencar memojokkan daya kritis, kerjernihan berpikir dan memperlemah kesadaran Anda. Dia akan menggiring Anda kepada situasi di mana dia pada akhirnya yang mengambil keputusan buat Anda, dan bukan Anda sendiri. Akan tetapi melalui daya bujuk yang dahsyat, pada saat rasionalitas Anda telah begitu diperlemah, seakan-akan keputusn itu Anda buat sendiri. (Jangan lupa juga, tidak jarang “promosi” itu dipergencar secara irasional dengan “penglaris” yang akan dibahas secara terpisah dalam artikel lain).
  3. Tingkat kesiagaan kesadaran. Pada akhirnya memang Andalah yang memutuskan: membeli atau tidak membeli. Tetapi keputusan itu seharusnya dengar jenrih diambil oleh Anda sendiri, ketika tingkat keasiagaan kesadaran Anda masih cukup tinggi.

Barangkali contoh sederhana ini bisa Anda simak. Sebenarnya Anda tidak terlalu membutuhhkan sebuah telefon genggam (handphone). Anda bukan seorang yang membutuhkan komunikasi yang padat, instan dan di mana saja. Akan tetapi daya bujuk sang penjual HP bisa menciptakan kebutuhan-kebutuhan maya atau khayalan atau artifisial melalui “persuasi” berikut: bahwa dengan memiliki HP Anda akan membangun jaringan yang lebih luas dengan rekan sekerja atau dengan orang lain yang bisa jadi membuka peluang-peluang baru. Apabila Anda terbujuk dengan “persuasi” itu maka mungkin Anda akan membeli HP itu dengan penuh gairah. “Khayalan” itu merasuk pikiran Anda, memperlemah daya kritis Anda, sampai pada akhirnya Anda memutuskan: “kubeli !”, sebuah keputusan yang diambil di bawah lemahnya rasionalitas. Para penjaja barang di pinggir jalan sering memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual barang-barangnya, karena rasionalitas si pembeli berada dalam tingkat minimum. (Ini bisa dicek: ketika sampai di rumah, si pembeli baru sadar bahwa barang itu tidak berarti apa-apa baginya. Akan tetapi mekanisme pembelaan / pembenaran diri muncul secara tak sadar: “Sudahlah, kasihan dia, dia butuh uang.”).

Beberapa tahun lalu masyarakat Nias di pedesaan pernah merasakan bagaiamana rasanya memiliki uang yang “melimpah”. Dari rejeki “nomplok” nilam banyak orang Nias yang “kaya mendadak”. Rejeki nilam ini melahirkan hingar bingar dan kegoncangan keadaan dan cara hidup. Orang-orang tidak lagi “menghargai” uang atau lebih tepat: tidak lagi bertindak rasional. Ada yang hanya membeli sebungkus rokok dan meminum segelas susu di harimbale lalu melemparkan uang lembaran Rp 50 ribuan bergambar Suharto kepada pemilik warung tanpa mau mengambil “kembalian”. Ada yang menghancurkan cabe yang sudah tinggal dipanen di kebunnya untuk diganti dengan tunas-tunas baru nilam, karena: “Berapalah aku dapat dari sekian kilo cabe ?”. Ada yang membeli kulkas untuk kemudian dijadikan lemari pakaian. Ada yang membeli sepeda motor di pagi hari untuk kemudian mengantarkannya ke alam maut di sore hari karena kecelakaan yang muncul dari irasionalitas: mengendarai sepeda motor tanpa pernah belajar atau membawa sepeda motor sebelumnya.

Di daerah-daerah industri baru, di mana kegiatan ekonomi tiba-tiba meningkat tajam, kenaikan harga barang-barang seakan tak terelakkan. Masyarakat setempat tiba-tiba memiliki daya beli yang tinggi sehingga permintaan akan barang-barang meningkat. Lalu penjelasan umum atas gejala tersebut adalah harga-harga naik karena sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran, artinya, karena permintaan akan barang-barang meningkat, sisi penyediaan terganggu, terjadi kelangkaan barang. Padahal barangkali tidak “sesederhana” itu pernjelasannya.

Kalau kita kembali ke kasus “rejeki nilam” di atas tadi, kita akan melihat bahwa bukan kelangkaan barang yang terjadi. Televisi, radio dan barang-barang lain yang “digempur” saat itu tersedia cukup di gudang para penjual. Yang terjadi adalah: para pedagang memanfaatkan “histeria” orang-orang desa untuk memiliki barang-barang itu dengan menaikkan harga secara irasional. Jadi, kedua belah pihak akhirnya terperosok ke dalam kepungan irasionalitas. Kita bisa menganggap tindakan para penjual untuk menaikkan harga barang secara tak wajar sebagai sesuatu tindakan irasional juga. Tindakan irasional ini juga terkoreksi sendiri di kemudian hari: lemahnya daya beli masyarakat desa karena hancurnya uang dalam waktu sangat singkat mengakibatkan permintaan akan barang – barang menurun drastis: keuntungan para penjual jatuh kembali.

E. Halawa, 18 Mei 2004

Tags:

7 Responses to “Irasionalitas Dalam Keseharian Kita”

  1. 1
    Deivine Signor Says:

    Pak E. Halawa, tulisan anda ini sangat sederhana dan bagus. Namun, sejak tulisan yang selalu menyelipkan kata irasionalitas dalam banyak contoh sederhana yang bapak uraikan, saya justru semakin kehilangan arti dari irasionalitas itu sendiri. Mungkin saja Bapak E. Halawa paham benar makna irasionlitas tapi kog dalam contoh-contoh yang diberikan seakan kata itu semakin terpaksa ditempelkan pada maksud tulisan anda.

    saya tidak tahu pasti mana sisi yang hilang dari penjelasan anda dalam tulisan-tulisan yang menggait soal irasionalitas ini, ataukah views saya sendiri yang berbeda dengan anda. namun, di antara keraguan itu, saya yakin penjelasan anda tentang irasionalitas yang disederhanakan dalam kehidupan sehari-hari ini seharusnya dikaji dikaji ulang.

    saya tidak bermaksud mengkritik kecuali saya merasa ada sesuatu yang kurang pas dalam pelabelan irasionalitas dan penjelasannya.

    terimakasih.

  2. 2
    ehalawa Says:

    Bung Signor,

    Terima kasih atas komentar Anda atas tulisan saya. Saya akan menjawab secara singkat saja, karena tulisan saya tentang (i)rasionalitas masih banyak dan akan secara berkala ditayangkan dalam situs ini.

    Dalam rangkaian tulisan saya, irasionalitas saya artikan sebagai “ketidakmampuan” atau “ketidakmauan” (atau hal yang terkait dengan “ketidakmampuan” atau “ketidakmaun”) bersikap dan bertindak dengan nalar. Nalar (reason) adalah kemampuan memikir, memahami atau mengajukan pendapat yang logis. Irasionalitas ternyata menyerang segala lapisan atau strata masyarakat: yang buta huruf dan yang berpendidikan, yang hidup secara pas-pasan atau yang serba berkecukupan, yang kelihatannya alim atau yang sangar. Itulah sebabnya dalam pengertian di depan muncul kata “ketidakmampuan” dan “ketidakmauan”. “Ketidakmampuan” merujuk pada ketakberdayaan untuk menggunakan nalar, sementara “ketidakmauan” menunjukkan “ke-tak-bersedia-an” menggunakan nalar.

    “Kritik itu indah”, jadi tak perlu ragu untuk mengkritik tulisan ini dan tulisan-tulisan lain. Ini merupakan kesempatan bagi saya untuk melihat sejauh mana tanggapan pembaca terhadap tulisan saya.

    Bung Signor menyarankan saya “mengkaji ulang” penjelasan / penerapan saya tentang “irasionalitas” dalam kehidupan sehari-hari. Sampai tahap ini, saya belum bisa memberi komentar selanjutnya sebelum saya melihat alasan-alasan Bung Signor memberikan saran tersebut. Apabila komentar Anda selanjutnya lebih panjang, saya justru menyarankan menuliskannya dalam bentuk sebuah artikel lepas, yang akan kita tayangkan dalam tulisan ini.

    Sekali lagi terima kasih, dan selamat mengikuti terus.

  3. 3
    Deivine Signor Says:

    Pak E. Halawa,

    Terimakasih anda memberi komentar atas komentar saya.
    Saya akan berusaha membuat penjelasan dan alasan dari saran saya tersebut? mudah-mudahan berguna.

  4. 4
    Serlyn Pramaisella(Sella) Says:

    coba kalau artikel ini kalimatnya dipersingkat lagi, agar tidak “ribut”. Tapi, sudah oke, untuk menjelaskan pertanyaan PR sekolah saya. Terima kasih…

    _Serlyn Pramaisella~Sella_ @SellaElyn

  5. 5
    Arsita B'tari Pradnyaradisty Says:

    artikelnya sangat bagus. Contohnya tolong diperjelas lagi…, Terimakasih…

  6. 6
    E.war Says:

    Ternyata irasionalitas adlh penyebab sseorg salah dlm bertindak atw mengambl keptusan. Sayangnya irasionalitas tsb banyak dipengaruhi oleh pihak lain.
    Pertanyaannya bagaimana mempertahankan rasionalitas bila kita berada dibawah tekanan atw bujukan2?

  7. 7
    ehalawa Says:

    Sdr/i Serlyn, Arsita dan E. War yang baik,

    Terima kasih atas apresiasi anda atas tulisan saya.

    Anda pernah dihipnotis? Anda pernah merasa diperdaya oleh seseorang? Mereka berhasil melakukan hal itu kepada Anda karena mereka berhasil menohok ‘kesadaran’ Anda.

    Tulisan-tulisan yang terkait dengan tulisan di atas dapat diakses pada kategori “Rasionalitas” dalam situs ini.

    Salam,

    E. Halawa

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita