Archive for December, 2005 | Monthly archive page

Kemari Minta Kejatisu Turunkan Tim, Usut Tuntas Dugaan Proyek Mubajir di Nias dan Nisel

Friday, December 16th, 2005

Medan (SIB)

Kejatisu diminta segera turun tangan melakukan pengusutan proyek pembangunan gedung coldstorage atau pabrik es serta penga­daan 2 kapal senilai Rp8,3 miliar di Nias dan Nisel (Nias Sela­tan) yang dikelola pihak Dinas Perikanan Sumut yang ditemukan anggota DPRD Sumut diduga berbau fiktif dan mark up. (more…)

KPUD Tetapkan F Laia SH MH dan Daniel Duha SH Sebagai Pemenang Pilkada di Nias Selatan

Wednesday, December 14th, 2005

Medan (SIB)

KPUD Nias Selatan dalam rapat pleno yang digelar, Selasa (13/12) menetapkan pasangan nomor urut 3, F Laia SH MH dan Daniel Duha SH sebagai pemenang dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Nias Selatan dengan perolehan suara 44.726. (more…)

Beasiswa dari Australia – Diberikan bagi Pelajar Korban Tsunami di Aceh dan Nias

Wednesday, December 14th, 2005

Medan (Kompas)

Sebanyak 322 pelajar korban bencana tsunami di Kabupaten Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam, dan 200 pelajar di Kepulauan Nias, Sumatera Utara, mendapat beasiswa dari warga Australia. Bantuan itu merupakan komitmen Australia membantu rekonstruksi dan rehabilitasi korban tsunami dan gempa. (more…)

Eben Hia: Sosok Putra Nias Berprestasi

Wednesday, December 14th, 2005

Ono Niha memang telah memiliki wak tu yang tepat untuk memperlihatkan eksistensinya. Kenyataan berbicara bahwa kita tidak perlu berkecil hati, malah sebaliknya berbangga hati dan bertekad mendobrak apa yang dianggap orang selama ini sebagai “suatu ketertinggalan” atau “suatu keterlambatan”. (more…)

DPRDSU Protes Proses Tender Proyek BRR Pengendalian Banjir Rp 43 M

Tuesday, December 13th, 2005

Medan (SIB)

Anggota DPRD Sumut daerah pemilihan Nias dan Nisel (Nias Selatan) memprotes pelaksanaan proses tender proyek BRR (badan rekonstruksi dan rehabilitasi) pengendalian banjir dan pengamanan pantai berbiaya Rp43 miliar lebih di Nias dan Nisel, karena sarat kejanggalan dan telah mengabaikan kontraktor lokal, sehingga pemenangnya seluruhnya kontrak­tor dari Jakarta. (more…)

P i l k a d a

Monday, December 12th, 2005

Baru saja, masyarakat Nias di Kabupaten Nias Selatan berbondong-bondong ke tempat pemungutan suara (TPS) untuk memilih Bupati dan Wakil Bupati yang akan menyelenggarakan pemerintahan di Kabupaten Nias Selatan selama lima tahun ke depan. Ini merupakan hal yang pertama kalinya dalam sejarah Kabupaten baru ini. Tidak terlalu lama sesudahnya, tahun depan (2006) masyarakat Nias di Kabupaten Nias akan melaksanakan hal yang sama. (more…)

U.S., TNI forces to assist Nias

Thursday, December 8th, 2005

Thursday, December 08, 2005

JAKARTA: The United States and Indonesia will undertake their first military-to-military operations since the U.S. government’s restrictions on defense cooperation were put in place years ago, by constructing two schools and two bridges on the disaster-ravaged island of Nias.

A group of U.S. Army Civil Affairs soldiers and Naval Construction Force sailors, known as Seabees, from the U.S. Pacific Command (Pacom) will work in partnership with a TNI Engineer Battalion to carry out development projects in the southern and western part of Nias, a U.S. Embassy media release stated on Wednesday.

The embassy also said that Pacom had allocated US$1.3 million in humanitarian assistance funding for the projects, which are expected to take approximately four months to complete. — JP

Poldasu Dalami Keterlibatan Ketua DPRD Nisel dalam Kasus Pembunuhan Terhadap Wartawan dan Ijazah Palsu

Wednesday, December 7th, 2005

Medan (SIB)

Direktorat Reskrim Poldasu tengah mendalami kasus dugaan Ketua DPRD Nisel DR HM terlibat pembunuhan terhadap wartawan Berita Sore dan dugaan menggunakan gelar akademik dari satuan pendidikan yang tidak memenuhi persyaratan. (more…)

Nias begs for more world attention

Wednesday, December 7th, 2005

Wednesday, December 07, 2005

Ridwan Max Sijabat, The Jakarta Post, Jakarta

Almost a year after two devastating natural disasters struck Nias Island in North Sumatra, some 4,000 families are still living in makeshift shelters and thousands of students are studying under tents, desperately waiting for aid from donor countries.

Most refugees have lost relatives, their houses and their jobs because of the double disasters, and are reliant on help from volunteers and activists from foreign non-governmental organizations and the Nias-Aceh Reconstruction and Rehabilitation Agency (BRR) that have been supplying their daily needs.

Thousands of students have been attending classes in temporary camps because school buildings have yet to be rebuilt.

"It's ironic that the situation on the island is still far from normal 10 months after the earthquake. Don't compare it with the relatively better conditions in Aceh," William Sabandar, BRR representative in Gunung Sitoli, Nias, told The Jakarta Post after a BRR Nias Island stakeholder meeting here on Tuesday.

Nias was as devastated as Aceh following the Dec. 26 tsunami. But the island was further devastated when another major earthquake shook it three months later.

According to Sabandar, only 200 new houses have been built out of the 13,000 the BRR plans to construct. About 50,000 houses also need to be renovated.

"By April 2006, a total of 1,000 houses will be built and the construction of the remaining 12,000 will follow in accordance with the pledges of donor countries. We are in need of Rp 1.1 trillion (US$110 million) for the house construction and rehabilitation project," he said.

UNICEF has pledged to help finance the construction of 160 new school buildings and foreign NGOs have promised financial aid to put up 100 school buildings, while BRR has committed to constructing 60 school buildings.

A total of 770 school buildings and hundreds of churches and mosques were severely damaged during the disasters.

Subandar said that besides financial shortages, difficult access due to the devastated infrastructure had hampered BRR in supplying construction materials to the worst-hit areas.

"Some 19 projects worth Rp 431 billion to rehabilitate damaged roads, bridges, hospitals, public health centers and schools are still underway. We hope the projects can be completed within two years," he said.

Separately, BRR chief Kuntoro Mangkusubroto confirmed that the reconstruction and rehabilitation work in Nias was far slower than in Aceh because of a shortage of finance.

While there has been criticism, progress has been achieved in Aceh because 96 percent of donor countries' donations had been used in the province, but Nias had remained untouched, he said.

"After the tsunami devastated Aceh and Nias last year, donor countries and the government committed to providing only 4 percent of their total donations to Nias. No new commitment was given following the March 18 earthquake that left 40,000 people homeless and almost 1,000 school buildings, churches and mosques damaged," he said.

The government and donor countries have so far committed themselves to providing $2.1 billion of the $7.1 billion in total donations to Nias within four years.

Following the devastating quake, Kuntoro said, BRR has asked donor countries and the government to allocate between 12 percent and 17 percent of total donations for Nias because of the extensive damage and the vast amount of reconstruction needed.

Attending Tuesday's meeting were representatives of the World Bank, UN, foreign NGOs, foreign ambassadors and North Sumatra deputy governor Rudolf Pardede.

"Donor countries and BRR agree to prioritize road and bridge reconstruction projects to give easier access to the supply of construction materials to worst-hit remote areas on the island," Kuntoro said.

Besides the World Bank, UN and foreign NGOs, Germany, Sweden and China have expressed their commitment to providing financial aid to Nias.

Another meeting of stakeholders is scheduled for Jan. 17 in Gunung Sitoli.

Tanah Begitu Penting bagi Rekonstruksi Nias…

Tuesday, December 6th, 2005

Kompas Online,

Ada pemeo, bila membeli tanah di Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, berarti membeli masalah. Ekses masalah timbul bahkan akibat praktik jual beli, bukan akibat tanah yang dihibahkan ataupun tanah yang diwakafkan,” papar pengasuh Yayasan Pendidikan Santo Fidelis, Pastor Flavius OFM Cap. (more…)

Trauma Gempa di Nias

Monday, December 5th, 2005

HARYO DAMARDONO

”Biha Tuha! Biha Tuha!” Artinya, ”Sudah Nenek! Sudah Nenek!” Kalimat itu kerap diserukan orang Nias ketika gempa. Mereka meyakini putra Sirao yang bernama Bauwadanö Hia murka, dan kalimat itu dipanjatkan untuk menenangkan putra leluhur mereka. (more…)

Jangan Berpaling dari Nias

Monday, December 5th, 2005

Kompas Online,

”Kalau saja Tuhan mau, sudah dikutuklah banyak lembaga dunia maupun lembaga nonpemerintah yang berkeliaran di Nias. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Nias dan Nias Selatan pun bisa dipasung-Nya,” ujar relawan Koordinasi Relawan Kemanusiaan, Golap Silaban. (more…)

Membangun Kembali Nias dengan Tertatih-tatih

Monday, December 5th, 2005

Oleh: Haryo Damardono

”Saya menghabiskan uang Rp 40 juta untuk membangun kembali toko kelontong ini. Uang itu datang dari pinjaman saudara-saudara di Jakarta, Bandung, dan Medan,” ujar Elvita (26), pemilik toko kelontong di Jalan Sudirman, Gunung Sitoli, Pulau Nias, Sumatera Utara. (more…)

Ketua DPRD Nisel Akui Insiden Berdarah Atas Perintahnya * Poldasu Telusuri Keterlibatan Terhadap Pembunuhan Wartawan BS

Sunday, December 4th, 2005

MEDAN ( Berita )

Akhirnya setelah menjalani pemeriksaan di Direktorat Polda Sumut Ketua DPRD Nias Selatan (Nisel) Hadirat Manao mengakui semua insiden berdarah dan penyanderaan Ketua KPUD Budiman Laia atas perintahnya. Hal itu dikatakan Kabid Humas Poldasu Kombes Bambang Prihadhy kepada wartawan, Jum’at [02/11], di ruang kerjanya. (more…)

Mabes Polri: Wartawan Ellyudin Kemungkinan Dibunuh dan Dibuang ke Laut

Saturday, December 3rd, 2005

Jakarta, (Analisa)

Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Polisi Aryanto Boedihardjo mengatakan, Wartawan Berita Sore di Nias, Elyuddin Telembanua yang hilang sejak Agustus 2005 kemungkinan dibunuh dan mayatnya dibuang ke laut. (more…)