Apakah ada pengaruh orang Mesir kuno atas alam berpikir orang Nias? Pertanyaan ini melintas di benak saya ketika minggu lalu saya mengunjungi pameran di British Museum, London.

Sampai Maret 2011 British Museum, London, menunjukkan pameran langka, yang mereka beri tajuk Buku Orang Mati (Journey through the afterlife. Ancient Egyptian Book of the Dead). Pameran tsb. memaparkan perjalanan orang Mesir kuno setelah meninggal menuju hidup kekal. Sebenarnya yang dimaksud bukanlah satu buku, melainkan bundel kertas papirus berisi petunjuk dan mantra-mantra yang harus dipergunakan oleh sang orang meninggal, agar bisa melewati berbagai ancaman, supaya akhirnya lolos melalui pengadilan terakhir dan sampai ke hidup kekal.

Saya beruntung mengunjungi pameran tsb. karena beberapa hal yang dipajang memang khusus dan langka. Mis. untuk pertama kalinya “buku orang mati” paling lengkap dan terpanjang di dunia (37 meter!) ditunjukkan kepada umum. Bundelan dari papirus tsb. merupakan “buku” dari orang mati bernama Nestanebtasheru, seorang imam wanita Mesir kuno, yang meninggal pada tahun 930 sebelum Masehi. Jadi papirus ini telah berumur 2940 tahun dan masih utuh! Tulisan dan lukisan di dalamnya masih awet. Mumi, peti mati dan potongan papirus lainnya yang dipajang di sini ada yang telah berumur l.k. 5000 tahun! Menurut British Museum buku Nestanebtasheru baru pertama kali dipamerkan kepada umum dan mungkin tidak akan pernah dipajang lagi untuk umum, karena risiko kerusakan.

Cara British Museum mengorganisir pameran ini sangat luarbiasa. Tata ruangan, tata cahaya, seleksi barang pajangan, urutan barang pajangan, semua dibuat sedemikian sehingga pengunjung seakan memasuki dunia sakral dan mistik. Juga guide dibuat multimedial dan interaktif, sehingga pengunjung dapat menyelam ke dalam alam religi orang Mesir dengan mudah. Memandang peti mati utuh yang telah berumur 3000 tahun dengan mumi yang masih utuh di dalamnya sungguh memberi kesan khusus. Berkat pemandu (guide) pengunjung dapat membaca beberapa pesan hieroglif (tulisan Mesir kuno) dan mengulangi mantra-mantra, yang kadang berbunyi seperti frasa-frasa orang Nias dalam elemu.

Pertama-tama saya terkesan dengan konsep orang Mesir tentang hidup setelah mati. Ternyata antara hidup ini dan yang kita sebut surga itu terbentang satu perjalanan melalui “dunia orang mati” yang panjang penuh bahaya. Bagaikan peziarahan Dia yang telah mendahului kita, yang pertama-tama turun ke tempat penantian, sebelum bisa bangkit dan kemudian naik ke surga, bertahta di sisi Bapa (pengakuan iman Kristen/Credo).

Nah, untuk bisa berhasil melewati segala bahaya di perjalanan tsb. orang Mesir diperlengkapi dengan satu “buku” berisi petunjuk dan mantra-mantra. Tetapi buku tsb. dibaca bukan oleh orang yang masih hidup, melainkan sang orang mati sendiri. Karena itu buku tsb. diikutsertakan dalam peti mati.

Saya teringat dengan konsep api pencucian dalam teologi Kristen. Setelah meninggal orang Kristen melalui api pencucian (atau dalam ungkapan Credo: tempat penantian), untuk bisa sampai ke hidup yang kekal bersama Yang Ilahi. Tetapi dalam konsep orang Mesir sang orang meninggallah yang harus berjuang setelah mati untuk bisa lolos dari api pencucian tsb. Dalam konsep Kristen orang hiduplah yang harus berdoa memohonkan belaskasih Allah bagi mereka yang berada di tempat penantian.

Sebagai orang Nias saya tertarik dengan satu hal dalam seluruh proses mumifikasi (mengawetkan jenazah). Sepertinya ada kesamaan antara konsep orang Mesir kuno dan orang Nias tentang pusat kehidupan. Dan saya bertanya-tanya dalam hati (dan dalam konsep orang Nias bukan berpikir-pikir) apakah ada pengaruh orang Mesir atas filsafat hidup orang Nias dalam hal ini.

Dalam tradisi ritual mumifikasi, mereka yang mengawetkan jenazah harus mengeluarkan semua bagian dalam yang gampang busuk, seperti usus, paru-paru dst. Bahkan otak pun harus disedot. Tetapi jantung harus diawetkan dan ditinggalkan di dalam jenazah, sebab menurut orang Mesir bukan otak, melainkan jantunglah pusat hidup. Tanpa hati/jantung sang orang meninggal tak dapat “hidup” dan “berjuang” melalui berbagai tantangan sampai akhirnya bisa lolos di pengadilan terakhir. Nampaknya orang Mesir kuno berpikir dengan hati/jantung. Dia menimbang, menjatuhkan keputusan, menghafal semua mantra dengan hati/jantung.

Dalam hal ini orang Mesir kuno persis seperti orang Nias. Ba dödögu, kata orang Nias, yang berarti dalam pikiran saya atau menurut pertimbangan saya. Hewisa ba dödöu? tanya orang Nias kalau meminta pertimbangan: bagaimana menurut pendapatmu?

Lebih dari itu. Dalam alam pikiran orang Nias tödö bukan hanhya mewakili pikiran, melainkan juga pribadi manusia itu sendiri sebagai subyek. Maka tak heran orang Nias akan bilang erege dödögu kalau mengatakan saya letih. Abu dödögu kalau mengatakan saya sedih, seolah hanya hati/jantungnya yang merasakan kesedihan.

Mengapa? Karena tödö bisa juga merupakan representasi seluruh manusia. Karena itu kendati dikatakan hati sedih, yang dimaksud adalah keseluruhan manusia. Dalam dongeng (atau mitologi?) Tödö Hia, kendati Tuada Hia sebagai manusia tidak ada lagi (telah mati), namun dia tetap eksis dalam hatinya, yang masih tetap “berpikir” dan “menimbang yang baik dan yang buruk”, untuk memberi nasehat dan teguran. Dalam tradisi kesalehan Kristen terdapat devosi Hati Kudus, yang juga merupakan representasi Sang Guru sendiri.

Pemandu di pameran tsb. berusaha menarik perhatian pengunjung mengenai hal khusus ini. Mungkin dunia kita jauh lebih aman dan adil, seandainya manusia berpikir dengan hati. John Henry Newman, yang baru dinyatakan kudus September lalu di Inggeris, juga memilih motto “hati berbicara kepada hati” daripada dialog pemikiran. Rasionalitas mungkin akan lebih rasional dan manusiawi bila lahir dari hati.

Entah pengaruh orang Mesir kuno atas filsafat hidup orang Nias ada atau tidak, yang pasti adalah, berpikir dengan hati kemungkinan membuat manusia seimbang. Manusia yang hanya mengandalkan pikiran, berjalan dengan kepala di bawah. Tetapi manusia yang berpikir dengan hati berjalan tegak, dengan kaki di bawah dan kepala di atas, karena hati berada di tengah-tengah. Semoga.

London, 14 Desember 2010

Sirus Laia

Foto: Situs British Museum: http://www.britishmuseum.org/images/070610_leadimage.jpg