Archive for June, 2015 | Monthly archive page

Pesawat Hercules Milik TNI Jatuh di Medan, Sumatera Utara

Tuesday, June 30th, 2015

Sebuah pesawat militer Hercules C-130 milik TNI jatuh dan menimpa perumahan penduduk di kawasan Simpang Simalingkar, sekitar Jalan Jamin Ginting, Medan, Sumatera Utara.

Pesawat naas tersebut jatuh sekitar jam 12 siang waktu setempat.

Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat

Tuesday, June 16th, 2015

OpiniOleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM

Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Nias Barat

TIDAK terasa, pemerintah Kabupaten Nias Barat sudah memasuki usia yang ke-6, pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Pada tanggal tersebut pemerintah daerah melaksanakan upacara khusus serta mengadakan syukuran atas berbagai pencapaian yang telah dapat diwujudkan sampai sekarang.

Berbagai kegiatan telah dilaksanakan dalam upaya memperingati ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias barat yang ke-6 ini, yaitu upacara khusus dan syukuran (potong tumpeng), seminar sehari, dan lomba budaya rakyat dan masakan khas Nias Barat dari 8 (delapan) kecamatan selama 3 (tiga) hari di pantai Sirombu, yang dikemas sebagai ‘Pesta Budaya Rakyat’.

Pada kegiatan seminar yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2015, ada 2 (dua) topik yang dibahas, yaitu; 1. Percepatan pembangunan melalui budaya gotong royong, dibawakan oleh Drs. Fg. Marthin Zebua (mantan Sekda Kabupaten Nias dan Tokoh Masyarakat Nias Barat); dan 2. Potensi pariwisata dan budaya Nias Barat dalam menyongsong era globalisasi, dibawakan oleh Manahati Zebua, yang lahir di kampung/desa Hilidaura, dan sekarang tinggal di Yogyakarta.

Kedua materi yang disampaikan dalam forum seminar tersebut, mendapatkan pembahasan dari beberapa Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat. Beberapa penekanan dalam pembahasan dalam forum itu, yaitu: 1. Perlu kita hidupkan kembali budaya gotongroyong itu, baik di bidang sosial, ekonomi, dan pariwisata; 2. Kebersamaan dalam kegiatan gotongroyong itu, akan menjadi daya ungkit pada pelaksanaan berbagai pembangunan di Nias Barat; 3. Perlu segera melakukan inventarisasi mengenai obajek dan daya tarik wisata di Nias Barat, baik berupa wisata alam, wisata pendidikan, wisata budaya, wisata bahari, agro wisata, dan jenis wisata lainnya; 4. Setelah dilakukan inventarisasi, lalu objek dan daya tarik wisata itu ditetapkan dengan peraturan daerah (Perda); 5. Pembuatan master plan kawasan di masing-masing objek dan daya tarik wisata; 6. Pembentukan badan promosi pariwisata daerah bersama dengan Kota dan Kabupaten lainnya di Kepulauan Nias; dan 7. Penetapan produk unggulan dan produk wisata unggulan di masing-masing kecamatan di Nias Barat.

Lomba Atraksi Budaya dan Masakan Khas Nias Barat

Kegiatan lainnya yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Nias Barat dalam rangka menyemarakkan ulang tahun yang ke-6 itu, yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR). Kegiatan ini dilaksanakan sejak tanggal 26 Mei sampai tanggal 28 Mei 2015. Sejak dibuka kegiatan PBR sampai pada penutupan, yang dipusatkan di pantai Sirombu nan indah itu, dihadiri ribuan masyarakat Nias Barat. Mengapa banyak warga masyarakat yang turut serta menghadiri PBR? Karena pesta budaya ini diisi dengan berbagai perlombaan, baik lomba di bidang budaya dan olahraga maupun di bidang kuliner khas Nias Barat dari masing-masing kecamatan. Setiap kecamatan menampilkan berbagai atraksi budaya yang dikuasai serta berlomba dalam pembuatan masakan khas Nias Barat.

Beberapa lomba budaya yang ditampilkan oleh masing-masing kecamatan, antara lain Sile Mbanua, Voli Pantai, Fatoke atau Farundro, Tari Moyo, Fanika Era-era Mbowo, Famadögö Omo, Fame Ono Nihalö, Famatörö Döi Ndraono, Folau Oŵasa, Mbolo-mbolo Maena dan yang lainnya. Untuk lomba masak, peserta lomba menampilkan masakan yang materi dan penataannya dibuat menarik dan dinilai oleh para juri untuk mendapatkan nilai. Berbagai masakan yang ditampilkan oleh peserta dari kecamatan, antara lain: Sagu Bakar, Goŵi Nihandro, Goŵi Nidökhi, Harinake, Gae Nibogö, dan beberapa yang lain, yang sekaligus ikut menyemarakkan pelaksanaan pesta budaya rakyat (PBR) itu.

Daya Tarik Masyarakat

Pelaksanaan PBR di Kabupaten Nias Barat ini, ternyata bisa memberikan daya tarik bagi masyarakat Nias Barat untuk menyaksikan langsung pesta budaya tersebut, serta turut serta ikut memberikan semangat bagi peserta lomba dari kecamatan masing-masing agar dapat menjadi juara lomba. Dengan demikian, bila pemerintah daerah aktif dan melaksanakan iven-iven yang berkaitan dengan lomba budaya, lomba kuliner khas Nias Barat, lomba kebersihan, lomba gotongroyong, lomba berselancar, lomba mancing di laut, lomba lari di pantai, lomba tata lingkungan rumah masing-masing, dan jenis lomba lainnya, dapat dipastikan bahwa masyarakat Nias Barat akan cepat memahami mengenai kegiatan-kegiatan di bidang pariwisata itu sendiri. Istilah kerennya sekarang adalah pariwisata disosialisasikan kepada masyarakat dalam berbagai kegiatan yang menarik sehingga dapat dipahami dengan cepat dan mudah oleh masyarakat.

Hal yang sempat dibicarakan masyarakat dalam PBR tersebut sesuai informasi yang didapatkan, antara lain mengenai kebutuhan-kebutuhan yang mereka butuh selama mereka berada di pantai Sirombu. Mereka butuh aneka minuman dan aneka makanan terutama khas Nias Barat, mereka butuh payung atau topi agar mereka terlindungi dari panas matahari, mereka butuh kacamata untuk melindungi mata dari debu, mereka butuh tikar agar bisa duduk sambil menyaksikan atraksi budaya, dan sebagainya. Ternyata iven PBR yang diprakarsai pemerintah Kabupaten Nias Barat itu dalam rangka menyemarakkan Ulang Tahun Pemerintah Kabupaten Nias Barat, dapat merangsang jiwa wirausaha atau usaha rumah tangga untuk menyediakan berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan para supporter dan warga masyarakat lainnya. Satu contoh yang sangat dibutuhkan pada acara PBR itu seperti air kelapa muda, yang dapat memenuhi salah satu kebutuhan para penonton atau penggembira pada PBR yang dilaksanakan di pantai Sirombu nan indah itu.

Kegiatan Pariwisata Menggeliat

Melalui kegiatan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Nias Barat ini, dapat dikatakan ‘Pariwisata Nias Barat Mulai Menggeliat’. Artinya, kegiatan pariwisata sudah dimulai dalam upaya untuk merangsang masyarakat Nias Barat peduli dan menghidupkan kembali mengenai budaya leluhur serta aneka kuliner yang pernah ada di Nias Barat. Kepedulian masyarakat ini akan menjadi embrio bagi masyarakat Nias Barat untuk memasuki dunia pariwisata yang dapat menjadi lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat.

Sektor pariwisata sebagai lokomotif pembangunan Kabupaten Nias Barat, sesuai dengan komitmen ke-5 pemerintah daerah di Kepulauan Nias, yang sudah diikrarkan pada bulan Juni 2014 yang lalu. Komitmen para Bupati dan Walikota se-Kepulauan Nias itu turut disaksikan oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (RI) Dr. Sapta Nirwandar serta para Direktur di lingkungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, utusan dari Kementerian Perhubungan dan Kementarian Pekerjaan Umum serta para satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dari lingkungan pemerintah daerah se-Kepulauan Nias.

Dalam upaya memenuhi komitmen tersebut, barangkali pemerintah Kabupaten Nias Barat terdorong untuk memulai kegiatan pariwisata itu dengan mengaitkannya pada kegiatan peringatan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat ke-6, yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2015 yang lalu. Mengawali kegiatan pariwisata itu dengan melaksanakan lomba budaya dan lomba kuliner khas Nias Barat termasuk lomba olahraga antar kecamatan di acara PBR itu. Ternyata iven tersebut sangat menyedot perhatian masyarakat Nias Barat serta dapat memberikan rasa antusiasme bagi masyarakat. Kondisi ini akan dapat memberikan daya ungkit untuk memasyarakatkan pariwisata bagi masyarakat Nias Barat, yang pada akhirnya akan menumbuhkan Sadar Wisata bagi kalangan masyarakat.

Kalender Kegiatan Pariwisata

Pariwisata sangat berkaitan dengan calendar of event (kalender pariwisata) yang perlu dibakukan pelaksanaan kegiatannya setiap tahun. Salah satu iven yang sudah masuk dalam kalender kegiatan pariwisata yaitu Pesta Budaya Rakyat (PBR) Kabupaten Nias Barat, yang pelaksanaannya setelah upacara potong tumpeng perayaan ulang tahun pemerintah Kabupaten Nias Barat. Setelah itu perlu dipikirkan lagi mengenai kegiatan pariwisata lainnya, bisa seperti lomba voli pantai, lomba layang-layang, lomba gotongroyong, lomba mancing di laut, lomba selancar, lomba perahu layar, lomba lari di pantai, lomba kebersihan, lomba desa wisata, lomba desa sehat, lomba taman desa, lomba agro wisata, dan lain sebagainya.

Untuk itu, dukungan berbagai pemikiran dari Dinas Pariwisata dan SKPD yang lain serta dari para Tokoh Masyarakat sangat dibutuhkan, dalam upaya meningkatkan peran sektor pariwisata di Nias Barat. Mari melanggengkan kegiatan yang sudah ada (dimulai) seta mengusahakan kegiatan pariwisata lainnya, minimal setiap 2 (dua) bulan ada kalender kegiatan pariwisata di Nias Barat.

* Pernah Bekerja di RS Bethesda Yogyakarta (1978-2011); Penulis Sejumlah Buku; Staf Pengajar di Beberapa Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

‘Keynote Speech’ Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan Rakernas KADIN Indonesia Wilayah Timur, Di Jakarta, 25 Mei 2015

Monday, June 15th, 2015

Presiden_JokowiCatatan Redaksi: Pidato Presiden Joko Widodo pada pembukaan Rakernas KADIN Indonesia Wilayah Timur, Di Jakarta, 25 Mei 2015 mengandung pokok-pokok pikiran beliau untuk pengembangan kawasan Indonesia Timur.

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati seluruh menteri yang hadir, Ketua KADIN, utamanya KADIN Indonesia Timur, dan Bapak Ibu semuanya anggota KADIN yang saya hormati.

Kalau berbicara perdagangan dan investasi Indonesia bagian timur, kita melihat di lapangan sebetulnya potensi dan kekuatan yang bisa diangkat itu sangat besar sekali. Tetapi pendukung untuk melakukan itu memang perlu segera dikerjakan. Apa itu? Infrastruktur, tidak ada yang lain.

Oleh sebab itu, hari Jumat kemarin, kita sudah mulai pembangunan groundbreaking untuk pelabuhan Makassar, pelabuhan dan zona industri yang mencakup keluasan 2.000 hektar, bukan meter persegi, hektar, 2.000 hektar. Kemudian nanti bulan Juli, insya Allah juga akan kita mulai bangun lagi pelabuhan besar di Sorong, bukan pelabuhan yang lama, tetapi akan bergeser kurang lebih 30 km dari yang lama, dengan keluasan kurang lebih 7.000 hektar, yang di dalamnya akan ada pelabuhan untuk power plant dan tentu saja untuk kawasan industri. Hanya dengan cara-cara pembangunan seperti inilah, saya meyakini Indonesia bagian timur akan bisa berkembang lebih cepat dan lebih baik.

Saya berikan contoh, misalnya di kabupaten Merauke. Tapi dari Merauke ke tempat lokasi kurang lebih 2 jam lewat darat, namanya desa Wapeko. Disitu ada hamparan tanah datar yg sangat luas, sudah dihitung ada 4,6 juta hektar, tetapi setelah diidentifikasi yang siap untuk dikerjakan baru 1,2 juta hektar yang bisa dipakai untuk menanam padi, jagung, maupun untuk tebu. Kalau 4,6 juta hektar itu bisa dikerjakan semuanya, dan sudah ada 5.000 hektar yang dicoba, hasilnya 1 hektar bisa mencapai 8 ton. Artinya apa? Kalau menghasilkan padi 8 ton, kalau Bapak-bapak dan Ibu-ibu kalikan 8 ton kali 4,6 juta, hampir 37 juta ton sekali panen. Dua kali panen berarti 74 juta ton. Kalau tiga kali panen berarti 110 juta ton hanya dari satu kabupaten, padahal produksi nasional kita sekarang ini 60-70 juta ton.

Artinya apa? Kalau serius kita kerjakan ini, bukan hanya selesai, tapi kita akan berlimpah, yang namanya pangan itu akan berlimpah ruah. Hanya dari satu kabupaten. Padahal di sekitar Merauke, ada 4 kabupaten lagi dengan kondisi yang sama, tanahnya datar, subur, kanan kiri ada sungai yang sangat besar, yang juga bisa dikerjakan kegiatan yang sama.

Pertanyaan saya, kenapa bertahun-tahun ini tidak dikerjakan? Yang pertama, karena memang infrastruktur pelabuhannya diragukan siap untuk menampung produksi ini. Kedua, infrastruktur jalan dari pelabuhan menuju ke lokasi yang tadi saya sampaikan memang membutuhkan pembangunan dan beberapa tempat membutuhkan perbaikan. Dan juga yang tidak kalah besarnya investasi adalah untuk pembangunan irigasi menuju lokasi itu.

Kenapa tidak dikerjakan? Ya karena mungkin menterinya ngga pergi kesana. Saya hanya dengar, “Ada 4,6 juta, Pak.” “Masa?” “Betul, Pak.” Oke, ambil foto. Ambil foto, foto, foto, ternyata benar. Baru saya putuskan saya melihat sendiri kesana. Dan setelah melihat, karena sudah dikerjakan, hasilnya juga sudah dikerjakan 5.000. Hasilnya juga sudah ketemu. Jenis varietas yang cocok disitu juga sudah ketemu. 8 ton per hektar. Saya putuskan di lapangan, ya sudah dimulai. Bagian pemerintah nanti ada bagian pelabuhan, bagian jalan, dan bagian irigasi. Investasi silakan masuk, tapi jangan semuanya. 70 persen dipegang oleh BUMN, 30 persen silakan swasta. 30 persennya juga sudah banyak. Jutaan hektar begitu mau konsorsium berapa perusahaan juga belum tentu bisa kerjakan langsung. Padahal peluang pasar yang saya lihat, saya baru saja pergi ke Papua Nugini, beras yang ada disana harganya 3 kali lipat kita, kurang lebih Rp 30-an ribu. Saya itu kalau pergi kemana-mana, kuping saya saya buka lebar-lebar, Rp 30.000. Kalau di Merauke ada produksi seperti itu, meloncat kesana ga ada 1 jam sudah sampai, tapi beras yang ada di Papua Nugini berasal dari Thailand, masuk ke Australia, Australia kirim ke Papua Nugini.

Inilah saya kira kesempatan investasi, kesempatan perdagangan yang bisa saya berikan contohnya satu. Belum di tempat yang lain. Coba lihat di Maluku, lihat di Ternate, Tidore juga sama. Ikan itu bukan melimpah, sangat-sangat melimpah. Saya belum lihat sendiri, kalau malam hari yang namanya kapal itu kayak pasar malam di malam hari di sekitar itu. Lampunya gemerlapan banyak sekali, ngambil ikan. Tapi sayangnya bukan kapal kita, kapalnya kapal asing. Dan perlu saya informasikan, di seluruh tanah air ada 7.000 kapal yang lalu lalang dibiarkan ngambil ikan kita. Hitungannya adalah Rp 300 triliun setiap tahun kita kehilangan. Dan itu, menurut saya, hampir 70 persen, 80 persen ada di Indonesia bagian timur. Inilah juga investasi yang diperlukan di Indonesia bagian timur agar ikan-ikan itu tidak diambili oleh mereka dan kita menjadi penonton. Ini peluang yang sangat besar sekali.

Apa yang harus dilakukan? Beli kapal sebanyak-banyaknya, Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, terutama yang berasal dari Indonesia bagian timur. Kalau sudah beli bagaimana? Kerja sama dengan nelayan. Terus? Ikannya itu diambil. Terus? Buat pabrik cold storage. Terus? Buat pabrik pengalengan ikan. Kalau tidak bisa dilakukan sendiri, lakukan bersama-sama, konsorsium. Polanya plasma inti, biar nelayan juga mendapatkan sesuatu, intinya juga dapat keuntungan. Selalu yang saya terangkan seperti itu.

Di Merauke juga sama, yang akan kita bangun adalah inti plasma. Intinya dapat 70 persen, plasmanya, yang punya laham, dapat 30 persen. Semua penduduk mau semuanya. Dikerjakan dengan mekanisasi total, mekanisasi modern. Peluang-peluang seperti itu, setiap saya ke daerah, saya melihat betul-betul Indonesia bagian timur adalah masa depan kita. Tapi jangan keliru kebijakan. Saya titip, baik gubernur, bupati, jangan keliru kebijakan.

Kita pernah kehilangan, saya bolak balik menyampaikan, kehilangan momentum waktu booming minyak, kita kehilangan momentum, fondasi, fundamental ekonomi ngga betul kita bangun, hilang pada tahun 70-an, 80-an. Ada booming lagi, booming kayu juga sama. Tahun 80-an, 80, 85, 90, booming kayu saat itu, juga kita tidak bisa bangun fundamental ekonomi kita secara kokoh, padahal sangat melimpah ruah saat itu. Terakhir kita hampir saja juga kehilangan momentum minerba. Ini juga sangat besar sekali, tapi larinya selalu bahan mentah.

Inilah saya kira ke depan perlu semua, yang namanya produk-produk, semua bahan mentah, semua yang berkaitan dengan kekayaan kita, harus ada industrialisasi, harus ada hilirisasi. Dengan cara apapun itu harus ditempuh. Itu tugasnya swasta. Pemerintah tugasnya apa? Membangun infrastruktur tadi. Pelabuhannya dibangun, jalannya dibangun, transportasi dibangun.

Saya meyakini, apabila tol laut nanti selesai, perkiraan kita 3-4 tahun pelabuhan-pelabuhan besar kita jadi, Kuala Tanjung di Sumatera Utara, masuk kesini ke Tanjung Priok, ke timur ke Tanjung Perak, masuk lagi ke Makassar, masuk lagi ke Sorong, itu memang harus standarnya sama. Kapal besar semuanya bisa merapat. Semuanya harus seperti itu. Percuma yang di Priok, yang di Kuala Tanjung kapal bisa merapat, tapi di timur tidak bisa merapat. Kapalnya ya maju mundurnya disini terus, disana ga akan dapat. Tapi kalau semuanya bisa dilalui kapal-kapal itu, dari barat ke tengah ke timur, semuanya bisa terus, pada akhirnya apa? Biaya logistik akan jatuh lebih murah. Biaya transportasi juga akan jatuh lebih murah, ya transportasi barang. Dan akhirnya apa? Produk-produk kita akan kompetitif. Karena coba bandingkan biaya transportasi kita, biaya logistik kita dengan negara-negara dekat 2,5 sampai 3 kali lipat. Mana bisa produk-produk kita bersaing kalau biaya transportasi, biaya logistik masih sebesar itu? Inilah yang kita kejar. Karena dengan itu nanti daya saing produk-produk kita akan bisa compete dengan produk-produk negara yang lain.

Saya yakin kita mampu melakukannya. Kita optimis bisa melakukannya. Tetapi memang dunia usaha harus bergerak lebih cepat mendahului pemerintah. Kita di belakangnya memberikan dukungan. Contoh yang saya dengar mengenai Merauke tadi, dari swasta, “Pak, kita akan ini tapi kita butuh dukungan ini.” Saya cek, iya betul, oke. Saya bangun ini, saya bangun ini, kamu mulai. Memang harus seperti itu. APBN kita tidak cukup untuk semuanya kita kerjain, ngga mungkin. Selalu saya sampaikan, silakan swasta masuk. Investasi, silakan swasta masuk.

Peluang ada, silakan swasta masuk. Tapi kalau saya tunggu, tidak ada yang masuk, sudah saya sampaikan berkali-kali, saya tunggu, swasta tidak ada yang masuk, ya BUMN akan saya suruh masuk. Saya ngga mau nunggu-nunggu juga. Tapi sudah saya sampaikan, ini sudah saya buka. Inilah saya kira kesempatan-kesempatan dan peluang-peluang, opportunity, yang ada di Indonesia bagian timur. Saya belum berbicara masalah minerba. Saya belum berbicara masalah sumber daya alam yang lain yang juga sangat melimpah ruah. Memang harus satu persatu. Kalau semuanya kita buka, yang masuk bukan Bapak, Ibu, dan saudara semuanya, tapi ada yang lebih dahulu dan mengambil keuntungan dan kita hanya jadi penonton. Untuk apa? Ini kesempatan, ini peluang, baik sisi investasinya, baik sisi perdagangannya. Tetapi kalau tidak dimanfaatkan, akan ada nanti yang mengambil peluang itu.

Saya kira itu yang bisa saya sampailan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih ata perhatiannya dan saya memgucapkan selamat ber-Rakernas.

Terima kasih.
Assalamualaikum Wr. Wb.

Sumber: Situs Sekretariat Kabinet Republik Indonesia. (Foto: Wikipedia.)

Beijing Mulai Memberlakukan Aturan Keras Larangan Merokok Hari Ini

Monday, June 1st, 2015
Poster larangan merokok di beiing | http://www.hindustantimes.com

Poster larangan merokok di beiing | http://www.hindustantimes.com

Beijing – Mulai hari ini, 1 Juni 2015, Beijing akan menerapkan aturan keras di mana merokok dilarang di ruang-ruang internal tempat berkumpul publik, ruang kerja dan tempat-tempat umum seperti sekolah, rumah-rumah sakit dan tempat-tempat turis.

Larangan juga dikenakan untuk iklan yang berkaitan dengan tembakau di berbagai media seperti radio, film, televisi, penyedia layanan telepon genggam dan perusahaan-perusahaan inetrnet.

Poster-poster anti rokok seperti terlihat dalam gambar telah dipasang di berbagai lokasi di kota Beijing terutama di restoran, bar, stasiun-statiun bus dan kereta api, dan tempat-tempat umum lain seperti bandar udara. Menindaklanjuti aturan baru yang keras ini, 3 ruang merokok di tiga terminal di bandara Beijing akan ditutup dan sebagai gantinya akan dibuka tempat-tempat merokok baru di luar.

Di lebih dari 600 stopan bis juga akan disediakan tempat-tempat merokok bagi para perokok.

Cina adalah konsumer dan produser tembakau terbesar di dunia. Akhir tahun 2014, jumlah perokok di Cina mencapai 300 juta orang.

Toko-toko yang jaraknya sekitar 100 m dari gedung-gedung TK, SD, SMP dan SMA juga dilarang menjual rokok.

Aturan keras ini diperkirakan akan mendapat perlawanan gigih dari para perokok. Di Beijing sendiri, ada lebih dari empat juta orang perokok berat, yang menghabiskan hingga 15 batang rokok rokok per hari.

Untuk mengantisipasi itu, pemerintah kota Beijing menerapkan denda sebesar 200 Yuan (sekitar Rp 425,000) atau dua puluh kali lipat dari denda sebelumnya sebesar 10 Yuan bagi pelanggar.

Publik juga diminta untuk melaporkan setiap pelanggaran terhadap aturan baru ini. (HT/brk*).