Warga Desa Bawömataluo Kecam Keras Pernyataan Pimpinan Yayasan OBI-Nias

JAKARTA, NIASONLINE – Pernyataan Area Manager Yayasan Obor Berkat Indonesia (OBI) di Nias, Bernart, tentang warga desa Bawömataluo yang suka meminta uang kepada pengunjung dikecam berbagai pihak. Pernyataannya dianggap tendensius dan menggeneralisir secara serampangan.

“Pernyataannya itu tendensius dan berlebihan. Sepertinya dia bukan dari yayasan obor, tapi dari yayasan kobaran api. Pernyataannya seperti membakar semuanya dengan menstigmatisasi seluruh warga desa Bawömataluo berperilaku seperti itu,” ujar tokoh masyarakat Desa Bawömataluo Waspada Wau kepada Nias Online di Jakarta, Kamis (17/11/2011).

Dia mengatakan, kesimpulan dan pernyataan tendensius seperti itu tidak pantas disampaikan oleh orang yang bergerak di bidang pendidikan. Dia mengakui, mungkin saja terjadi ketidaknyamanan bila para pengunjung ditawarkan untuk membeli cinderamata. Tapi, mereka hanyalah sejumlah anak-anak atau pemuda dimana hal serupa juga bisa ditemukan di destinasi wisata lainnya, yang paling maju sekalipun. Berbeda sekali dengan penjelasan pengurus yayasan OBI itu yang mengesankan seolah semua warga desa seperti itu.

“Untuk tahu saja. Desa Bawömataluo itu salah satu desa yang sangat maju, bahkan di Pulau Nias. Kalau Anda ke Bali, atau kemana pun, di sana juga ada penjaja cinderamata. Kalau ada satu dua orang yang meminta uang, itu kasuistis. Jadi, kalau ada beberapa kasus yang sebenarnya minor, kemudian dianggap semua warga desa bermental dan berperilaku peminta-minta seperti pernyataannya itu, pernyataan itu sama sekali tidak bisa diterima,” tegas dia.

Dia menilai, cara berpikir sempit seperti itu diperparah dengan cara penulisan yang bombastis oleh media, www.tribun-medan.com, yang memuatnya. Berita itu juga melanggar kode etik karena tidak memberikan pemberitaan yang berimbang dengan prinsip cover both side.

Pernyataan Bernart terkait bayaran saat atraksi lompat batu, menurut dia, sangat aneh. Sebab, atraksi itu memang tidak gratisan. Apalagi kalau sifatnya permintaan khusus. Dia menjelaskan, untuk diketahui saja, para pelompat itu harus merelakan waktunya untuk memeragakan atraksi di saat mereka juga harus mencari nafkah.

“Kemudian, melompat itu resikonya tinggi. Bahkan bisa beresiko kematian, minimal terkilir atau patah tulang kalau salah melompat. Mereka itu juga tidak diasuransikan. Jadi, hal yang wajar saja kalau mereka meminta bayaran,” tegas dia.

Pernyataan Bernart itu muncul di situs tribun-medan.com edisi Kamis (17/11/2011). Pernyataan itu sendiri disampaikan ke media itu pada Rabu (16/11/2011). Kontroversi berita itu sudah kelihatan dari judulnya, “Orientasi Warga Desa Bawomataluwo Kabupaten Nias Selatan Selalu Uang”.

Berikut adalah beberapa kalimat kontroversial dalam berita itu. Di antaranya,

“Contoh kecil, ia memberikan gambaran bagaimana masyarakat di Desa Bawomataluwo, Kabupaten Nias Selatan, orientasinya hanya uang. Kawasan yang sangat familiar dengan kegiatan adat lompat batunya tersebut, tidak bisa melepaskan pengunjung begitu saja. Ia mengaku, setiap pengunjung datang 100 masyarakat di sana baik tua, muda, pria, wanita, anak-anak atau dewasa, selalu mengulurkan tangan meminta uang kepada pengunjung.”

“….masyarakat di desa tersebut memberlakukan turis lokal dan manca negara seperti “bank berjalan”.”

“Jangan berfikir mereka mau melakukan atraksi lompat batu tanpa Anda bayar. Sekali lompat Anda akan dikenakan bayaran Rp 150 ribu. Jadi hitung saja jika mereka melompat 10 kali berarti Anda membayar Rp 1,5 juta,” ujarnya.”

Tuntut Minta Maaf

Dihubungi terpisah, Kepala Desa Bawömataluo Ariston Manaö mengatakan, sangat kecewa dengan pernyataan Bernart dan pemberitaan www.tribun-medan.com tersebut.

“Kami juga akan melayangkan protes ke Tribun dan Bernart dan meminta mereka minta maaf atas pernyataan-pernyataan tendensius itu,” ujar dia.

Dia menjelaskan, perangkat desa dan adat di Desa Bawömataluo pada prinsipnya terbuka untuk masukan. Bila mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, bisa langsung melaporkannya dan akan ditindaklanjuti untuk perbaikan pelayanan di desa itu. Pihaknya juga siap melanjutkan tuntutan kepada para oknum pelaku bila memang ada kerugian yang ditimbulkannya. Tapi menurut dia, sampai saat ini, tidak pernah ada laporan, baik dari Tribun maupun Bernart dan lembaganya.

Dia juga mempertanyakan tujuan dibalik pemberitaan sepihak oleh www.tribun-medan.com tersebut. Sebab, harusnya pernyataan seperti itu diklarifikasi kepada warga atau perangkat Desa Bawömataluo sesuai dengan prinsip cover both side dalam kode etik jurnalistik.

“Sebab, apa yang disampaikan itu terlalu jauh dan berbeda dengan fakta di lapangan. Apalagi Desa Bawomataluo dan secara umum Kabupaten Nias Selatan saat ini sedang gencarnya mempromosikan wilayahnya sebagai daerah tujuan wisata. Sementara di satu sisi lain ada pihak lain yang cenderung menjelek-jelekkannya,” tandas dia. (EN)

Leave a comment ?

17 Responses to Warga Desa Bawömataluo Kecam Keras Pernyataan Pimpinan Yayasan OBI-Nias

  1. Sirus Laia says:

    Sambil menuntut permintaan maaf dari Tribun dan Bernart, ada baiknya mereka yang berwenang di Bawömataluo menelusuri dan mencoba memperbaiki hal-hal yang diungkapkan tsb. Pengalaman negatif yang diuangkapkan Bernart itu khan tidak sepenuhnya isapan jempol, melainkan pengalaman beberapa pengunjung lain juga. Jadi promosi terbaik untuk desa wisata sekelas Bawömataluo adalah dengan meningkatkan kenyamanan dan pelayanan kepada pengunjung. Semoga.

  2. che says:

    Yaahowu..!

    mari jangan saling menyalahkan, saya rasa pasti ada oknum tertentu yang memanfaatkan situasi ini.
    coba kita semua bersifat dewasa dan melihat hal ini secara objektif, koreksi diri sendiri aja 🙂
    siapa sih yang ga pernah bikin salah dalam hidupnya?
    dan setau saya program OBI bagus semuanya.
    Kalau enggak ngapain mereka bertahan memajukan dan membangun daerah Nias?
    Saya rasa lebih baik sebelum kita mengeluarkan komentar atas masalah ini, kita terlebih dahulu melihat dari kedua sisi.
    Kita semua bersaudara, jangan saling menjelekkan…apalagi mengeluarkan komentar yang semakin memanaskan situasi, mari kita sama-sama memajukan Nias dan daerah-daerah lainnya di Indonesia

    God bless Indonesia! 🙂

  3. bud says:

    saya setuju dengan che, marilah kita sama-sama duduk dan membicarakan apa yang menjadi tantangan bagi kekurangan kita, sehingga kita mencari jalan keluar/solusi untuk memajukan bangsa kita. para pihak yang menulis, tolong lebih arif dan bijak dalam menulis artikel, sehingga apa yg disampaikan bisa membangun dan mendidik masyarakat. Tetap semangat berfikir positif.

  4. Aris says:

    Wooow….judulnya sungguh luar biasa!!! Selamat pak obi, akhirnya makin terkenal….tapi niasonline hanya memuat berita negatif, hal hal yg positif yg pernah dilakukan selama ini kok tidak ditulis ya…
    perlu dipertanyakan kebenaran sumbernya…kok di tribun-medan.com TIDAK BISA DIBUKA!!!! Spt di tulis diberita ini
    Sptnya niasonline cuma cari sensasi..HA HA HA HA
    niasonline….sumber beirtanya dari mana !! TIDAK BISA DIBUKA!!!!

  5. Leo says:

    Saya juga setuju dengan Che dan Bud,

    Ketika saya google ternyata Obor Berkat Indonesia telah banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif di daerah-daerah yang rata-rata tidak tersentuh oleh tangan-tangan pemerintah (yang harusnya lebih punya kewajiban untuk membantu masyarakatnya).
    Tapi di Nias Online pernahkah menyorot tentang itu?
    Media harusnya tetap menjadi mediator, yakni sebagai penengah yang bersifat netral. Ketika menyampaikan suatu informasi harus meng-cover kedua belah pihak jangan dari satu sisi saja, dan semua orang punya hal untuk membela diri.
    Ayo dinginkan kepala dan jangan racuni masyarakat yang berfikir sederhana dengan hal-hal negatif yang tak perlu.

    Maju terus Nias!

  6. ononiha says:

    @ARIS dan NIHA KHODA: Dari statement kalian menggambarkan bahwa kalian bukan dari desa itu dan memiliki pola pikir sempit dalam menyingkapi berita yang dimuat disitus ini, klo kalian tidak bisa membuka linknya saya bisa membantu kalian untuk menunjukkan sumber beritanya, agar menyadari statement yang kalian utarakan. dan saya sudah membuka link situs itu dan bisa saya tunjukkan sebagai bukti kepada kalian agar mata kalian terbuka. mudah2an kalian bukan dari daerah NIAS SELATAN, sebab dari situs tersebut Menyebutkan nama desa dan kabupatennya, atau mungkin kalian memiliki masa2 tidak menyenangkan dengan desa itu? saya juga bukan dari Nias Selatan tapi saya tidak terima dengan pernyataan media itu karena saya adalah orang nias, lahir dan besar diNias.

    Saya pernah baca disitus Nias ONline klo desa bawomataluo dan Rumah adatnya akan didaftarkan ke Badan PBB UNESCO sebagai warisan dunia dan saya ikut bangga dengan informasi tersebut karena bukan hanya desa bawomataluo / Nisel yang terkenal tapi daerah saya juga ikut dikenal Dunia, dan akan menjadi kebanggaan Sumut dan RI apabila menjadi salah satu situs budaya warisan Dunia,

    Suatu media tidak mungkin memuat suatu berita tanpa sumber yang benar2 terpercaya, jadi tidak perlu mempermasalahkan penulis berita. saya setuju dengan kalimat2 untuk menyadarkan warga untuk merubahnya, dan mudah2an dengan berita ini bisa menyadarkan masyarakat.

    Saya menghimbau agar memberikan komentar yang membangun, dan tidak dengan komentar memojokkan pihak penulis berita dan yang lainnya.

    Coba kalian copy dan paste link dibawah ini untuk membuka situs tersebut:

    http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:DPfiRns77SEJ:medan.tribunnews.com/2011/11/17/orientasi-warga-desa-bawomataluwo-kabupaten-nias-selatan-selalu-uang+%E2%80%9COrientasi+Warga+Desa+Bawomataluwo+Kabupaten+Nias+Selatan+Selalu+Uang%E2%80%9D.&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a
    ya’ahowu

  7. Calvary Z says:

    Hebat juga ya, si Niha Khóda ini punya banyak koleksi kebiasaan yang trjadi di Bawómataluo.

    Membaca pernyataan itu, saya memikirkan beberap hal ini:

    1. Apakah sebegitu buruknyakah kondisi di Bawòmataluo? Sebuah keadaan yg tidak mugkin dibayangkan terjadi di tempat lain? Ah, rasanya tidak mungkin begitu.

    Jangan2, semua hal yg trjadi di sana, oleh si Niha Khóda dikelompokkan semuanya buruk, seperti halnya generalisasi oleh pimpinan OBI Nias itu. Sebab, terasa aneh, ketika membaca tanggapan orang luar Nias baik pada situs ini maupun di FB yang menilai pernyataan pimpinan OBI itu berlebihan. Bahkan diantara mereka ada yang baru saja dari sana dan tidak mengalami apa yg pimpinan OBI dan Niha Khóda alami. Aneh saja sih.

    2. Jadi pertanyaan ketika ternyata si Niha Khóda mengoleksi berbagai hal terkait kebiasaan anak2 di Bawómataluo. Heran saja kok hal itu jadi fokus sampai dikoleksi segala. Heran juga ketika anak2 itu berperilaku begitu, lebih sering ketika si Niha Khóda berkunjung.

    Saya kuatir, jangan2 si Niha Khóda sendiri sebenarnya datang ke sana bukan untuk berwisata. Tapi untuk mengoleksi hal2 yg menurut dia kurang nyaman lalu didokumentasikan untuk modal menstigma warga Bawómataluo. Sekali lagi, heran saja ketika si Niha Khóda mengoleksi banyak pengalaman buruk sementara yang lain tidak.

    3. Jadi pertanyaan juga ketika si Niha Khóda memanfaatkan momen persoalan yg ditimbulkan pimpinan OBI yang notebene dia sendiri sudah mengaku kalau dia tidak mengucapkan kalimat seperti diberitakan tribun-medan.com itu.

    Si Niha Khóda seperti menemukan momen memuntahkan semua kekesalannya. Padahal, titik soalnya bukannya tidak ada ketidaknyamanan yg mgkn trjadi di Bawómataluo, sebagaimana hal itu jg bs temukan ditempat lain. Persoalan dg pimpinan OBI itu adalah statemennya yg menggeneralisir dan berlebihan terkait pengalamannya di Bawómataluo. Bukan bahwa tidak ada sama sekali hal yang perlu diperbaiki di sana.

    Lebih lucunya lagi, sampai mempersoalkan ada tidaknya orang dari Bawómataluo yg notabene anggota redaksi situs ini. Kalau memang iya, so what gitu lho. Harusnya Anda jg mempersoalkan siapa wartawan yg menulis berita utk yg notabene bkn org Nias shg lbh masuk akan bila dia menulis hal yg buruk2 di P. Nias scara berlebihan, baik karena alasan sentimen maupun karena kekurangpahaman.

    Tapi seharusnya itu tidak jadi persoalan. Karna hal itu bukan substansi masalahnya.
    Jangan berpikir sempit gitu dong. Lihat duduk masalahnya, substansinya. Kalau Anda dan siapaun kita yang berpikiran waras, membaca judul berita di tribun-medan.com itu dan statemen2 di dalamnya, harusnya bisa mengerti dan menyikapi dgn fair apakah judul dan statemen2 itu layak/pantas dinyatakan di media oleh org yg berpendidikan dan terlibat dlm kgiatan pendidikan.

    4. Kalau benar mengalami hal buruk itu dan bermaksud untuk memperbaiki, seharusnya Anda juga jujur dan terbuka. Gak perlu pakai nama samaran segala. Sekali lagi masalahnya adalah pernyataan yg tendensius, menggeneralisir dan berlebihan dlm pernyataan pimpinan OBI itu. Ada tidaknya perlakuan buruk di desa itu, tidak serta merta menghilangkan keberlebihan dalam pernyataan dan kesimpulan pimpinan OBI itu.
    Itu masalahnya Bos. Jadi jangan memberi kesan Anda sperti menangkap kesempatan membalas dendam.

    Saya pikir, sudah waktunya pimpinan OBI itu memberi klarifikasi. Itu kewajibannya karena dia yg memulai masalah. Tidak ada salahnya untuk bersikap dewasa dengan meminta maaf dan memberi klarifikasi. Harusnya itu yang didorong. Sembari usulan2 positif untuk perbaikan hal2 yg masih perlu diperbaiki juga diteruskan/disampaikan scara proporsional.

    Terima kasih

    Calvary

  8. Iwan says:

    Kepada seluruh masyarakat dipulau nias,

    barusan diterbitkan klarifikasi
    yang dipublish oleh tribun medan..
    http://medan.tribunnews.com/2011/11/21/surat-klarifikasi-atas-berita-kesehatan-dan-pendidikan-masalah-serius-di-nias

    semoga klarifikasi dari tribun medan dapat menjelaskan duduk perkaranya..

  9. Iwan says:

    hal ini,sebagai bentuk tanggungjawab kami untuk tulisan yang di publish saudara irfan (jurnalis tribun news )

Reply to ononiha ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Trackbacks and Pingbacks:

  • Warga Desa Baw Mataluo Kecam Keras Pernyataan Pimpinan | Tempat Wisata Indonesia - Pingback on 2011/11/18/ 05:01