Archive for April, 2007 | Monthly archive page

Resepsi Pernikahan dan Baptisan Anak Jemaat BNKP Distrik Batam

Tuesday, April 17th, 2007

Batam (Yaahowu)

Resepsi Pernikahan
Di Batam telah terlaksana resepsi pernikahan antara kedua mempelai Otniel Otieli Harefa dengan Dema Nonsi Efiana Sihombing pada tanggal 14 April 2007 Pukul 13.10 Wib di tempat Boulevard blok E no.2 pulau batam. Acara di mulai dengan sapaaan bahasa Nias “Yaahowu” dan dalam bahasa Batak “Horas” oleh MC Bapak Yason Larosa. Fangowai ira tome (penyambutan tamu menurut adat Nias) disampaikan oleh Bapak Peringatan Zebua bersama dengan ibu. (more…)

Eduard Fries and Early Christian Missionary Work: An Interview with Dr. Mai Lin Tjoa-Bonatz

Tuesday, April 17th, 2007

In this interview, Dr Mai Lin Tjoa-Bonatz shares some of her research on Eduard Fries’ life and activities and also on early Christian missionary work in Nias. Dr Tjoa-Bonatz was born in Frankfurt, Germany, obtained her MA degree in Art History, Archaeology and Southeast Asian Studies in Frankfurt in 1994 and Ph.D. with the research titled: “Shophouses in Penang, Malaysia” at the Technical University of Darmstadt in 2001. On Eduard Fries, she contributed the Chapter: “Idols and Art: Missionary Attitudes toward Indigenous Worship and the Material Culture on Nias” to the forthcoming Book: “Casting Faiths: Imperialism, Technology and the Transformation of Religion in East and Southeast Asia, edited by Thomas David Dubois. (eh) (more…)

Gunungsitoli, Nias Utara dan Nias Barat

Monday, April 16th, 2007

Fokus kali ini mengambil tema “Gunungsitoli, Nias Utara dan Nias Barat” dengan alasan: ketiga daerah ini sedang dalam proses perjuangan untuk menjadi kabupaten-kabupaten baru. Kita sambut proses ini, karena kita yakini pembentukan kabupaten-kabupaten baru di Nias akan membawa peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah itu, mungkin bukan dalam jangka pendek, tetapi katakanlah mulai dari 10 tahun sejak pembentukannya.

Memperjuangkan sebuah kabupaten baru untuk Nias bukanlah hal yang mudah, apalagi memperjuangkan 3 sekaligus (dua kabupaten plus satu kotamadya). Selain harus memenuhi persyaratan administratif minimal yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat, perjuangan pemekaran juga harus melalui suatu proses politik yang panjang dan berliku. Proses itu telah dimulai, melalui berbagai kegiatan para tokoh masyarakat Nias, baik secara bersama-sama maupun melalui jalur-jalur khusus yang ditempuh secara individual. Memang, perjuangan semacam itu haruslah dilancarkan dari sejumlah “front” dengan strategi yang dinamis, disesuaikan dengan kondisi terkini dan proyeksi-proyeksi ke depan.

Perjuangan pemekaran kali ini bukanlah hal yang tak mungkin. Nias Selatan telah menjadi contoh nyata bagi kita semua. Kini Nias sedang “bermimpi” lagi, dan harapan kita: semoga mimpi itu cepat-cepat menjadi kenyataan

Melegakan, bahwa para tokoh masyarakat Nias dari hampir segenap spektrum menyadari bahwa perjuangan kali ini merupakan perjuangan yang harus ditangani bersama. Mereka sadar bahwa tanpa sinergi, perjuangan ini bakal kandas di tengah jalan. Meski mereka datang dari garis atau warna politik yang berbea-beda, mereka toh menunjukkan bahwa mereka adalah Ono Niha. Ke-Ono-Niha-an mereka mempersatukan mereka semua dalam perjuangan besar kali ini. Kita, masyarakat Nias, menyambut baik usaha-usaha yang telah dan sedang dirintis oleh para tokoh kita itu.

Apa yang pertama-tama kita harapkan dari pemekaran Nias ? Jawabannya sama dengan jargon pemekaran di mana-mana: “peningkatan kesejahteraan rakyat” (aspek ekonomi), walau sebenarnya pemekaran diharapkan juga berdampak positif terhadap aspek-aspek lain: ideologi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan (baca:Prospek Otonomi Daerah di Masa Mendatang).

Kita berharap para tokoh masyarakat Nias memahami betul harapan masyarakat Nias itu. Dan kita yakin mereka telah dan sedang berjuang karena didorong oleh amanat masyarakat Nias itu. Dengan kata lain, kita berharap mereka berjuang pertama-tama karena dorongan amanat masyarakat Nias, sedangkan pamrih lain (yang memang amat manusiawi) seperti jabatan dan kekuasaan pasca berhasilnya pemekaran, biarlah mereka menempatkan itu sebagai prioritas terakhir.

Kita, masyarakat Nias tidak boleh hanya berharap. Kita juga harus berpikir dan bekerja keras membantu dan mendukung perjuangan yang telah dimulai oleh para tokoh kita, melalui kontribusi kita masing-masing. Minimal, kita coba berusaha menciptakan suasana sejuk.

Kita tidak boleh larut dalam euforia prematur, di saat-saat kita masih sedang berusaha merealisasikan mimpi menjadi kenyataan. Kita harus “menahan diri” dalam segala hal. Kita sebaiknya menahan diri menyebut “nama”, “mengelus jago”, dan sekali gus “menghajar” pihak-pihak yang kita anggap berseberangan dengan kita. Kita juga sebaiknya tidak terlalu antusias membeberkan berbagai jurus-jurus yang sedang ditempuh dalam proses perjuangan ini. Dalam perjuangan, apalagi dalam perjuangan politik, “transparansi” bukanlah segala-galanya. Bukankah ada waktunya kelak masyarakat Nias meminta “laporan pertanggunjawaban” perjuangan para tokoh itu ? Waktu itu belum tiba. Maka yang sebaiknya kita lakukan sekarang adalah: mendukung, menciptakan suasana sejuk, menahan diri, sambil tetap mengingat-ingatkan mereka yang berada di baris terdepan.

Euphoria prematur itu bisa muncul apabila sinergi tidak dapat diciptakan, terutama di antara mereka yang dipercaya berada di garis depan, di antara para tokoh kita tadi. Arak-arakan perjuangan ini haruslah rapih: setiap orang harus menjaga agar kehadirannya di dalam suatu garis barisan membuat arak-arakan itu semakin mantap hentakan langkahnya ke depan: tidak mendahului, tidak menyeberang ke garis lain, dan tidak berhenti di tengah jalan.

Penting sekali menjaga agar ‘vektor’ perjuangan selalu searah, sejajar, agar resultannya maksimal. Minimal, jangan sampai ada “vektor” yang berlawanan arah sehingga memperlemah daya dorong ke depan.

Euforia prematur bisa menjadi bumerang; yang paling tragis adalah apabila ia menjadi faktor utama pengganjal kesuksesan perjuangan itu sendiri. Kalau itu terjadi, kita semua patut dipersalahkan. (eh)

Semoga masyarakat Nias tetap menjunjung tinggi kearifan.

Polres Siap Mendukung Pemkab Nias

Monday, April 16th, 2007

G. Sitoli, WASPADA Online
Kapolres Nias AKBP Albertus S. Sitorus menegaskan, Polres sepenuhnya mendukung segala kebijakan dan program Pemkab di segala sektor demi peningkatan dan percepatan pembangunan di Kab. Nias. (more…)

Komisi II Respon Usul Pemekaran Daerah Otonom Baru

Monday, April 16th, 2007

G. Sitoli, WASPADA Online
Komisi II DPR RI membidangi otonomi daerah pada prinsipnya mendukung dan setuju atas usul pemekaran Kab. Nias Utara dan Nias Barat serta Kota G. Sitoli. (more…)

G

Saturday, April 14th, 2007

ga’a kb abang, kakak, panggilan kepada orang yang sedikit lebih tua atau yang disegani. Yaahowu, Ga’a. Ga’a ndraono. Orang yang disegani / ditakut dalam suatu kelompok anak muda.

gambe kb daun atau getah gambir pemerah sirih. Sin. fangoyo.

gambi kb jenggot. Wa’anau gambinia, no ara ifaliaro. Jenggot panjang sekali, dia sudah lama memeliharanya.

ganete yang menyusul; sesudah itu. Sia’a Gamumu, ganete da’ö Talömotu. Kamumu yang sulung, sesudah itu Talömotu.

gaolo-gaolo kb roda, sesuatu yang berbentuk lingkaran. Gaolo-gaolo moto. Ban mobil, truk, dsb. Am: Gaolo-gaolo tambalou, so möi yawa so möi tou.

gari kb pisau panjang.

gari kki

gariti ks keriting. Gariti mbu ga’ada. Rambut abang keriting.

garogo kb gertak. Ha gaorogo da’ö, böi ataufi. Itu hanya getak, jangan takut. garogoi kki. gertak. Igarogarogoi manö niha. Dia suka mengertak orang.

gawu kb pasir. No tölu moto gawu nita’u ma’ökhö. Sudah 3 truk pasir yang diangkut hari ini.
gegewukhö kb Semut kererangga. Lö si döhö gahenia ni’usu gegewukhö. Kakinya yang digigit semut kererangga belum sembuh.
gifi kb sisa daging kelapa yang melekat di tempurung yang tidak habis diparut, biasanya dicongkel (untuk dimakan).
gödo kb kantor. Gödo Bufati. Kantor Bupati.
gosi kb kerak nasi yang biasanya melekat pada bagian bawah periuk. Gosi umumnya terbentuk pada periuk-periuk tanah liat. Si manga gosi Pemakan kerak. Kata hinaan pada seseorang yang bekerja pada seorang majikan atau bahkan keluarga dekat. Pamakaiannya sebaiknya dihindari.
gowi kb ubi rambat. Ha gowi göda. Hanya ubi makanan kita.
gowilili kb kentang.
gowirio kb ketela.

Rp180 M Rekonstruksi Sekolah Di Nias

Saturday, April 14th, 2007

Medan, WASPADA Online
Kepala Project Officer United Nation Children’s Fund (UNICEF), Raoul De Torcy mengatakan, akan membantu pembangunan kembali Pulau Nias (Nias dan Nias Selatan) melalui program rekonstruksi pembuatan air bersih, lingkungan sanitasi, pendidikan dan pelatihan masyarakat Nias, termasuk bantuan pelayanan kesehatan anak-anak. (more…)

Pengurus DPC KOWRI Nisel Dilantik

Saturday, April 14th, 2007

Teluk Dalam, (Analisa)

Ketua Dewan Perwakilan Daerah Korps Wartawan Republik Indonesia (DPD-KOWRI) Sumatera Utara, Dahri Uhum Nasution melantik kepengurusan DPC KOWRI Kabupaten Nisel periode 2007-2001, Senin malam di ruang pertemuan Km 4 Teluk Dalam. (more…)

Sesudah Kematian Ada Kebangkitan

Saturday, April 14th, 2007

Perayaan hari kematian Yesus merupakan suatu kesempatan untuk ikut merasakan betapa berat-Nya perjuangan Yesus untuk menebus dosa-dosa dan menyelamatkan umat-Nya, sampai Dia mati di Salib. (more…)

Kalangan Pendeta di P Siantar: Kecam Keras Statemen H Raden Romo Syafi’i Benturkan Propinsi Tapanuli dengan Isu SARA

Friday, April 13th, 2007

Pematangsiantar (SIB)
Kalangan pendeta di P Siantar sangat menyesalkan dan mengecam keras adanya statemenKetua Fraksi-PBR DPRDSU H Raden Romo Safi’i SH yang melontarkan statemen yang sifatnya menghasut dan memprovokasi masyarakat dengan membenturkan dan mengkait-kaitkan pembentukan Propinsi Tapanuli kental dengan nuansa SARA (suku, ras, agama dan antar golongan), sehingga bisa menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. (more…)

Protap Tidak Sesuai Aspek Sosbud

Friday, April 13th, 2007

Ketua Fraksi Partai Bintang Reformasi (F-PBR) DPRD Sumut H Raden Muhammad Syafii mengaku tidak pernah mempermasalahkan proses pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap). Sebab, pemekaran sebuah wilayah telah diatur undang-undang sesuai persyaratan seperti aspek sosial budaya, ekonomi, pendidikan dan kondusivitas. (more…)

Negara Donor “Manjakan” BRR

Friday, April 13th, 2007

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) menilai lembaga dan negara donor terlalu “memanjakan” Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias. (more…)

Gerakan Swasembada Beras: Nias Targetkan Produksi Gabah 123.750 Ton

Friday, April 13th, 2007

Gunungsitoli, (Analisa)

Mewujudkan gerakan swasembada beras di Kabupaten Nias pada tahun 2011, harus mencapai target produksi sebanyak 123.750 ton gabah. (more…)

Pansus Propinsi Tapanuli Konsultasi ke Depdagri

Friday, April 13th, 2007

Jakarta (SIB)
Panitia Khusus (Pansus) Provinsi Tapanuli akan terus bekerja memproses usul pembentukanProvinsi Tapanuli dengan melakukan studi banding ke Pemprov Bangka Belitung dan peninjauan ke lapangan tanpa harus menunggu revisi Peraturan Pemerintah (PP) 129 tahun 2000 yang saat ini sedang dalam proses. (more…)

Aceh may be hit by another tsunami, says LIPI expert

Thursday, April 12th, 2007

Based on the results of scientific studies and observations of the trend in previous tsunamis, Nanggroe Aceh Daurssalam (NAD) province may be hit by another tusnami at an unpredictable time in the future, an ecologist of the Indonesian Institute of Sciences (LIPI) said. (more…)