Menjadi Relawan di Tanah Kelahiran

Oleh Postinus Gulö

Teolog dan sekaligus filsuf tersohor, Thomas Aquinas pernah berkata: “non sibi vivere, sed at aliis proficere” (hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk menjadi berkat bagi orang lain). Tesis Thomas Aquinas ini ternyata terbukti. Tatkala Nias dilanda gempa (28 Maret 2005), banyak orang dari penjuru dunia datang ke Nias dengan satu komitmen: menjadi berkat bagi orang Nias, menolong masyarakat Nias. Sebagai orang Nias, kita patut bersyukur. Di tengah kegalauan, ternyata di sana masih tersisa harapan. Banyak orang yang tadinya kita tidak pernah kenal menjadi sahabat sejati kita, teman kita, tumpuan harapan kita bahkan menjadi orang yang mendesain masa depan kita. Ada banyak orang yang tidak hanya menebar senyum tetapi langsung turun-tangan membagikan bantuan kepada para korban. Batas-batas Negara diterobos demi kemanusiaan. Banyak orang yang bahu-membahu mengulurkan tangan untuk meringankan beban masyarakat Nias. Semuanya itu berkat, hadiah yang patut kita syukuri.

Kahlil Gibran pernah menulis sebuah buku yang kiranya melukiskan bagaimana suasana hati kita, masyarakat Nias dan juga para relawan. Buku itu berjudul: “A Tear and a Smile” (Air Mata dan Senyum). Azab dan duka masyarakat Nias bergaung ke seluruh penjuru dunia. Dan, ternyata banyak orang yang menyendengkan telinga bahkan mau turun dari “kesenangannya, kemapanannnya” demi membantu masyarakat Nias. Alhasil, duka itu kini bercampur dengan senyum sesama kita yang siap berkorban demi kita, masyarakat Nias. Dua tahun gempa Nias telah berlalu. Namun derita dan pilu sampai kini masih terasa. Banyak anak yang menjadi sebatang kara. Banyak keluarga yang kehilangan anak kesayangan, saudara, orangtua dan handaitaulan. Semuanya seolah telah berlalu. Namun, kepedihan dan bayangan gempa dahsyat itu takkan pernah berlalu. Ia adalah sejarah Nias. Ia adalah cerita nyata.

Diutus Menjadi “Relawan’’
Sekitar pukul 11.30 malam (malam 28 Maret 2005) saya terjaga dari tidur. Perasaan gamang menyelimuti hatiku. Mengapa? Karena anak-anak SMU dan SMP yang sedang retret di tempat saya tinggal sangat ribut. Ada yang berteriak-teriak: gempa-gempa! (karena kebetulan banyak di antara mereka yang mendengarkan berita). Malam itu saya tidak tenang. Karena saya berpikir: jangan-jangan gempa itu terjadi di Nias. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Mau telpon ke Nias tapi sudah larut malam.

Dugaan saya memang tidak meleset. Besok harinya, Magister saya, Pastor Rosa, OSC memberitahu kepada saya bahwa di Pulau Nias sudah terjadi gempa dahsyat tadi malam.

Lantas saya buru-buru menelpon ke Nias tetapi apa daya tak tersambung. Listrik padam. Walaupun demikian, informasi terus mengalir dari Nias. Para pastor OSC yang berkarya di Pulau Nias selalu memberitahu informasi gempa kepada kami di Bandung (baik melalui telpon juga melalui e-mail).

Saya tetap mencari informasi tentang kepastian bagaimana kondisi keluarga dan rumah orangtua saya di Pulau Nias. Tanggal 30 Maret saya coba telpon lagi. Ternyata di seberang sana ada yang mengangkat. Ia adalah A. Tetty Gulö, Amagu Talu sitoröi ba Gunungsitoli. Beliau pun bercerita. Gempa yang terjadi Nias sangat luar biasa. Hampir semua rumah dan bangunan lainnya di Gunungsitoli roboh, rata dengan tanah. Alhamdullillah rumah beliau tidak hancur, hanya retak. Rumah orangtua saya di Desa Dangagari juga tidak roboh.

Walau keluarga saya tidak ada yang menjadi korban namun saya diselimuti pilu tangis dan juga kecemasan. Apalagi berita yang kian berkembang adalah Pulau Nias akan tenggelam. Berita-berita semacam itu terus saya ikuti, baik di channel TV, koran maupun di channel radio. Suara hati saya terus bergejolak dan terus memaksa saya untuk harus pulang kampung melihat situasi di sana. Saya ingin membantu korban gempa. Saya ingin menyelamatkan saudara-saudari saya yang terperangkap di dalam rumah. Saya mau menghibur mereka. Saya mau hadir bersama mereka. Itulah suara-suara yang selalu berdering di hati ini. Tetapi apa daya. Harapan itu baru terkabul pada bulan Mei 2005.

Propinsial OSC Sang Kristus Indonesia, Pastor Agus Rachmat Widyanto OSC, Magister Frater Skolastikat OSC, Pastor Th. Maman, OSC, Rektor Seminari Tinggi Fermentum, Bandung, Pst. Hilman Pr, Rektor Seminari Tinggi Damian, Pastor Deddy Riberu SSCC dan Rektor Seminari Tinggi St. Petrus-Paulus Bogor, Pastor Mardi Pr serta Dekan Fakultas Filsafat Unpar, Pastor Sebastian Fabianus Heatubun Pr memutuskan bahwa kami para frater akan menjadi relawan ke Nias selama satu bulan lebih (27 Mei s/d 2 Juli). Tim kami ini diberi nama: Tim Relawan Keuskupan Bandung Untuk Nias. Kami berjumlah 48 orang (22 orang frater OSC, 11 orang frater Projo Bogor, 4 orang frater Projo Bandung, 4 orang frater SSCC, 2 orang suster Ordo Santa Ursula, Bandung, 2 orang pastor OSC, 3 orang awam: Mas Andi, Ito Susi br Sitanggang, dan Miguel).

Kehadiran orang lain dirasa bak hadiah ketika ia hadir ditengah kepiluan. Tadinya, dalam hati ini terus bergemuruh suara untuk pulang ke Nias demi menolong saudara-saudari saya, ternyata Tuhan menjawab dengan penuh kasih: Ia menurunkan Roh-Nya untuk mengetuk hati banyak orang sehingga saya tidak sendiri. Rupanya banyak orang yang sepikiran dengan saya: ingin membantu para korban, mau hadir di tengah penderitaan orang lain. Sebagai orang Nias, saya sangat bersyukur karena banyak orang yang peduli dengan Nias. Walau berstatus frater (dan wilayah kerasulannya pun bukan Nias) dan sedang aktif kuliah toh tetap bersedia diutus ke Nias demi misi kemanusiaan: meringankan beban masyarakat Pulau Nias. Komitmen ini luar biasa. Saya berterima kasih kepada teman-teman saya frater, terutama Projo Bandung dan Projo Bogor serta Kongregasi SSCC yang memang tidak berkarya di Nias, tetapi punya niat baik untuk meringankan beban masyarakat Nias. Selain itu, saya juga berterima kasih kepada Sdr. Miguel K. Soares. Ia adalah awam yang ikut kru kami. Beliau ini berasal dari Negara Timor Leste dan sekarang masih mendalami filsafat di fakultas filsafat Unpar. Terima kasih kawan atas kemurahan hatimu. Semoga Tuhan membalas segala budi yang telah Anda tanam.

Tanggal 24 Mei kami berangkat dari Bandung menuju Jakarta menumpangi mobil TNI Wilayah Cimahi. Di Jakarta kami bermalam. Besok harinya kami naik pesawat dan sampai di Medan tanggal 25 Mei dan bermalam di sana juga. Besok harinya barulah kami menuju Sibolga. Kami mampir sebentar di Wisma Keuskupan (Christoforus). Di sana kami disambut oleh beberapa Pastor kapusin dan juga beberapa Pastor Projo Sibolga. Malam itu langsung kami berlayar menuju Nias. Tanggal 27 Mei kami sampai di pelabuhan Gunungsitoli. Di pelabuhan ini, kami telah ditunggu oleh beberapa pastor. Yang masih saya ingat adalah Pastor Dominikus Doni OSC dan Pastor Eko OSC. Pastor Uus, demikian beliau biasa dipanggil membawa truck dan truck itulah yang kami tumpangi untuk sampai di Paroki Santa Maria Gunungsitoli. Di sana kami disambut Pastor Mikael to Pr, Pastor Alfons Pr, Pastor Frans Sinaga, Pator Rantinus Manalu Pr, Pastor Raymond La’ia OFMCap, para suster, para relawan dari Jogyakarta dan dari Jakarta.

Pekerjaan Fisik: Bukan Tantangan Berat Bagi Para Frater
Kami dibagi dalam beberapa group karena kami disebar ke beberapa daerah: Idano Gawo, Amandraya, Sirombu, Mandrehe, Lahewa, Gunungsitoli. Selama satu bulan lebih, kami melakukan pekerjaan fisik. Uraiannya sebagai berikut:

Pertama, Di Sirombu, pekerjaan yang kami lakukan adalah mengantar dan menurunkan batako, meruntuhkan bangunan, menimbun jalan-jalan yang retak dan rusak, memperbaiki jembatan, menggali sumur, mengambil batu dan pasir untuk membangun rumah para korban bencana.

Kedua, Di Mandrehe, ada kelompok yang ditugaskan di bidang pelayanan kesehatan, mendata barang-barang (bantuan) yang ada, mengantar dan menyalurkan sembako kepada masyarakat.

Ketiga, Di Idanö Gawo, kami meruntuhkan sisa bangunan Susteran OSF, membangun rumah darurat bagi para suster dan pastor yang tinggal di sana.

Keempat, di Gunungsitoli. Yang menjadi relawan di Gunungsitoli adalah para frater yang memiliki SIM baik SIM A maupun SIM C. Mereka bertugas sebagai supir yang mengantar maupun menjemput tamu atau relawan baik di Pelabuhan Laut Gunungsitoli maupun di Bandara Binaka. Namun pada kenyataannya tidak setiap hari posko Gunungsitoli kedatangan tamu. Walaupun demikian, mereka tidak kehilangan akal, mereka malah kreatif. Salah seorang frater ada yang menjadi supir Perdhaki mengantar tim medis ke pelosok-pelosok yang belum terjangkau oleh pihak Depkes. Ada juga yang mengantar Pastor Alfons ke stasi-stasi dari Paroki KGB. Satu orang frater pernah juga mewakili Pastor Paroki (Pst. Mikael To Pr.) untuk melantik pejabat yang beragama Katolik di salah satu departemen. Satu frater yang lainnya pernah mengantar paket bantuan ke Gomo. Itu gambaran kerja relawan di Kota Gunungsitoli. Selebihnya para frater ini membantu memasak di dapur. Sehingga tidak heran bila salah seorang relawan dari Atmajaya Yogya mengatakan:”Jauh-jauh dari Bandung hanya jadi tukang cuci piring dan memasak!” Begitulah gambaran relawan di Gunungsitoli. Tidak persis jelas apa yang harus dikerjakan. Namun dari fenomena semacam itu, justru memancing daya kreatif dan proaktif setiap frater yang ditempatkan di Gunungsitoli. Selain itu, para frater pun bisa mengenal situasi daerah-daerah di P. Nias. Baik para penduduk, maupun infrastruktur berupa jalan, sekolah, gereja, pastoran-pastoran, biara susteran dan rumah-rumah yang hancur akibat gempa. Tidak semuanya rusak ada juga beberapa yang tetap kokoh utuh. Pekerjaan baru menjadi jelas dan pasti ketika di Gunungsitoli ada proyek membangun rumah tahan gempa yang teknologinya berasal dari ATMI Solo. Di bawah komando Bp. Mul dan Mas Yatno, kami pun menjadi “tukang bangunan”. Lumayan, kata Fr. Freddy OSC.

Kelima, di Lahewa. Kendati tidak separah daerah lain, beberapa bangunan Lahewa seperti Gereja, rumah, toko-toko, aula dan banyak gedung lain mengalami kehancuran. Para relawan Tim Bantuan untuk Nias Keuskupan Bandung yang dipersiapkan untuk daerah ini seluruhnya terdiri dari 3 kelompok secara bergilir. Selama 3 minggu, para frater melayani masyarakat Lahewa dalam 2 tugas besar. Yang pertama, kerja fisik. Para frater sebagai relawan membantu menghancurkan puing-puing bangunan, membagi bahan kayu untuk rumah penduduk dan mendirikan gudang sementara. Yang kedua, pendataan. Para frater menyusun data kerusakan rumah dengan lengkap dan detail. Selain itu, pada hari Minggu para frater diberi kesempatan untuk memimpin ibadat dan memberi renungan. Di tengah-tengah tanggung jawab dan tugas pelayanan, para frater juga menikmati rekreasi di pantai Toyolawa, berenang bersama para Pastor, Suster dan beberapa mudika. Hidup bersama sebagai saudara dan sharing kelompok menjadi modal dan kekuatan bagi kami selama menjadi relawan di daerah Lahewa.

Ketika sampai di Bandung, kru Lahewa ini mengaku: “sebagai tim relawan yang dikirim ke daerah gempa, kami dituntut agar berempati dengan penduduk yang mengalami trauma. Mentalitas petualang, daya inisiatif, visi missioner dan sikap gratuit sangat dibutuhkan. Sikap seperti ini diperlukan terutama dalam menghadapi penduduk sewaktu mendata. Dalam waktu lima hari, pendataan kelurahan Lahewa yang terdiri dari 6.000 kepala keluarga dapat diselesaikan”.

Berbagai kesulitan (khususnya bagi frater yang bukan orang Nias) seperti bahasa dan mentalitas penduduk tidak menjadi halangan untuk membuat laporan kerusakan secara detail (maklum di antara para frater ini hanya tiga orang frater yang berasal dari Nias: Saya sendiri/Fr. Postinus Gulö OSC, Fr. Ollianus Zebua OSC dan Fr. Felix Halawa OSC). Beberapa hari berikutnya, kami, para frater dikirim ke desa-desa untuk mendata dan menginap di salah satu rumah seorang lektor. Kesulitan jarak tempuh yang jauh sekitar 8 km, daerah perbukitan, hutan dan jalan yang hancur menyelingi perjalanan kami untuk melihat kerusakan secara langsung. Berbagai rumah seperti rumah permanent (RP), rumah semi permanent atau rumah beton-kayu (RSP), rumah kayu (RK), dan rumah pondok(P) menjadi kategori pembagian rumah di sana. Pendataan dimaksudkan agar penduduk yang mengalami kerusakan total dan yang sangat membutuhkan dapat segera dibantu.

Di samping itu, kami juga mengalami persaudaraan/ fraternitas yang akrab dengan para pastor kapusin dan suster-suster SCMM. Bersama mereka, kami melakukan ritme doa yang teratur terutama dalam Perayaan Ekaristi setiap hari. Bagi mereka, kehadiran kami di saat yang demikian sungguh bak siraman air di tengah gurun. Singkatnya, ada banyak manfaat bagi mereka dan bagi kami sendiri juga. Bagi kami, semangat misionaris, sikap memberi tanpa balas, tanpa pamrih, gratuit, kerendahan hati sebagai frater di Lahewa diuji. Kami belajar membentuk sikap rendah hati, siap sedia diutus dan secara implisit menghadirkan wajah krosier di sana. Lebih jauh, berusaha menghadirkan Allah di tanah Lahewa.

Teman-teman frater (terutama yang baru menginjakkan kaki ke Nias) sangat bersyukur karena diutus menjadi relawan ke Nias. Mengapa? Karena mereka banyak menimba pengalaman dari masyarakat Nias yang walaupun telah kehilangan keluarga, harta benda tetapi banyak masyarakat Nias yang tidak putus asa. Tentu kita berharap bahwa bencana semacam ini tidak terulang lagi. Marilah kita berdoa semoga apa yang kita harapkan dapat menjadi kenyataan. In Cruce Salus!

Ya’ahowu Fefu.

Foto-foto Kenangan di Nias

Tanggal 26 Mei 2005 kami sampai di Idanö Gawo dan foto bersama. Yang duduk paling kiri dan memakai kaca mata serta bawa tas adalah Pastor Thomas Maman OSC. Beliau mendampingi kami selama di Nias.

Setelah merayakan ekaristi bersama umat (di tenda), di rumah adat Bawö Mataluo yang masih kokoh ini kami disambut meriah. Kami dijamu khas Nias. Simbi nono mbawi pun mereka kasih kepada kami. Maklum saat itu, Pastor Paulinus Manaö OFMCap (yang notabene keturunan Satua Mbanua) yang mengajak kami di sini.

Kru Amandraya kerja keras merubuhkan bangunan, yakni Gereja Katolik Amandraya (Kepala Parokinya Pastor Paulinus Manaö OFMCap) dan Asrama Putri. Selain itu, kru Amandraya juga membersihkan puing-puing bangunan.

Kerja sambil bercanda pertanda bahwa kami enjoy di Nias. Ki-ka: Fr. Wahyu Pr dan Fr. Postinus Gulö OSC

Selama kami di Idanö Gawo suasana makan bersama kayak gini. Walau sudah lelah toh tetap bercanda ria bersama para Suster OSF Sibolga yang berkarya di Paroki ini.

Fr. Lerry OSC (tengah) dan Fr. Wahyu Pr (kanan) sedang membongkar seng bangunan Susteran Idanö Gawo. Di atas seng ini pernah ada karyawan yang terjatuh karena konstruksi bangunan yang rapuh (tetapi tidak terluka, alias tidak apa-apa).

Pastor Thomas Maman OSC (kiri) sedang mengamati kayu yang akan dibagikan kepada penduduk di Idanö Gawo. Sedangkan dua orang frater sedang menghitung kayu tersebut berdasarkan banyaknya jatah setiap kepala keluarga.

Pastor Uus OSC (ketiga dari kanan) tidak kenal lelah. Beliau juga selalu ikut bareng para frater dan melakukan apa saja yang dilakukan oleh para frater. Inilah barangkali contoh gembala yang tidak hanya di altar tetapi juga mau pergi ke pasar.

Para frater juga manusia: butuh istirahat. Kru ini sedang merubuhkan sisa bangunan Paroki Santo Petrus Sirombu, Nias Barat. Pastor C. Budiman OSC (berdiri paling belakang, baju lengan panjang). Walau baru pulang studi dari Roma, tetapi Pastor Budiman siap sedia menjadi relawan di Nias. Luar biasa!

Setelah beberapa hari menjadi relawan, kami dikumpulkan di Gunungsitoli untuk mrngadakan evaluasi kerja. Pada evaluasi ini, hadir juga Pastor Mikael To Pr. Beliau adalah kepala Paroki Gunungsitoli

Kondisi Panti Asuhan Idanö Gawo rusak parah. Gunung di belakangnya juga hampir longsor. Alhamdullillah pas gempa semua anak Panti Asuhan selamat. Dan, mereka dievakuasi ke Susteran OSF Gidö.

Batu ini, digunakan untuk membangun beberapa rumah korban gempa di Sirombu.

Kami sedang membersihkan reruntuhan bangunan Gereja Katolik Amandraya

Walau di tenda, Pastor Paulinus Manaö OFMCap tetap semangat mempersembahkan Ekaristi. Dalam foto ini, beliau sedang mempersiapkan buku-buku Misa.

Tanggal 4 Juli kami meninggalkan Nias dan pulang ke Bandung. Tanggal 6 Juli kami sampai di Padang dan foto bareng disalah satu paroki di sana.

Leave a comment ?

13 Responses to Menjadi Relawan di Tanah Kelahiran

  1. Restu Jaya Duha says:

    Yth. Bapak Fr. Postinus Gulö, OSC.

    Setelah membaca suka duka Fr., Pastor dan utusan lainnya untuk membantu Nias setelah bencana, sungguh tergugah hatinya saya. Ternyata dengan terjadi bencana di Nias, menggugah hati siapapun untuk mengulurkan tangan “MENOLONG SESAMA”.

    Terlebih “Ono Niha” sendiri, seperti Fr.Postius Gulö, OSC yang menjadi “Menjadi Relawan di Tanah Kelahiran”. Kalau boleh saya katakan “Saudara Kita” yang lain saja mau berbuat untuk Nias, apalagi kita sebagai “Ono Niha”.

    Sungguh saya berterima kasih dan hormat atas kerja keras yang Fr. lakukan. Salam dan doa saya mengiringi Aktifitasnya.

    Tuhan Berkati.

    Ya’ahowu dari Karlsruhe-Jerman

    Restu Jaya Duha

  2. autha says:

    Trims artikelnya. Sangat hidup. Omong2, teman2 saya sesama relawan di Nias melihat bahwa para penduduk Nias cenderung malas. mereka tak bekerja jika tak adarelawan yang membantu (walaupun bahan2 untuk pembangunan sudah tersedia), tambahan, yang perempuan bekerja lebih keras daripada laki2. relawan lainnya ada yang bercerita masalah kekerasan dalam rumah tangga & anak2 yang sering dipukuli, atau orang Nias punya terlalu banyak anak namun tak bisa diurusi (karena ibunya sibuk bertani). Saya tak tahu mau bilang apa tentang curhatan teman2 saya ini karena setelah gempa saya tak langsung pulang. Apakah saudara Gulö melihat kenyataan yang dilaporkan teman2 saya ini, atau cukup sibuk sehingga tak melihat itu, atau itu tak benar?
    Salam, autha

  3. Deivine Signor says:

    Saya teringat akan sebuah pengalaman saat berada di Nias menjadi relawan. Tatkala memasuki kota Gunungsitoli, saya merasa sedih melihat kota dengan bangunan hancur menggantung bak bekas perang dunia II. Banyak teman-teman yang mencoba melihat, menyapa dengan semangat yang tinggi.

    Suatu saat di Sirombu, saya mempunyai pengalaman yang terus mengganngu saya hingga saat ini. Beberapa lama di sana, kita membantu membuat batako, mengantar bahan bangunan ke rumah-rumah bantuan. beberapa kali kita melakukan ini dan beberapa kali itu pula rumah tempat kita mengantar bahan-bahan bangunan itu, pemiliknya tidak ada. padahal, sebelumnya telah disosialisasikan bahwa hari ini, kita akan melewati rute untuk mengantar bahan bangunan. Pertanyaan saya waktu itu, “Dimanakah mereka?”

    But, let the story gone. Saya justru semakin mengenal satu hal yang sangat penting. Mencoba memahami suatu hal dari sudut pandang orang lain. Saat masuk dalam sisi ini semua berubah. Bahkan kita pun bisa melakukan apapun tanpa.

    Saya juga sangat salut dengan banyak teman-teman relawan waktu itu. Terlebih saya sendiri yang bekerja bersama anak-anak Atmajaya, Yogyakarta. Banyak hal yang kita pelajari bersama.

    Salam.

  4. M. J. Daeli says:

    Fr. Postinus Gulo,

    Tulisan anda, pengalaman menjadi relawan sungguh menyentuh kemanusiaan. Memang pada saat- saat seperti ini, dapat dilihat dan dibuktikan sesungguhnya wujud “kasih” terhadap sesama sebagai bukti cinta kepada Tuhan. Terima kasih atas penulisan pengalaman ini.

    Saudara Autha,

    Saya tidak membantah pendapat beberapa teman-teman anda. Saya juga tidak membenarkan bahwa hal itu berlaku untuk seluruh masyarakat Nias .

    Hanya, alangkah baiknya apabila mereka yang menarik kesimpulan seperti itu, menempatkan diri : melihat kenyataan apa adanya (orang-orang yang sedang dirundung malang.) Kalau demikian, besar kemungkinan bagi mereka (pembuat kesimpulan) untuk berusaha membantu memberikan solusi : agar masyarakat Nias yang seperti itu timbul kembali “rasa percaya diri”.

    Saudara Deivine Signor,

    Memang benar kita sebaiknya berusaha melihat dari sudut pandang orang lain dan tidak hanya dari sudut pandang kita. Sehingga tidak terjerumus menjadi bagian dari masalah. Malah dengan cara pandang seperti itu, kita secara jernih melihat keadaan yang tidak wajar itu dan berusaha memberi solusi yang objektif.

    Selamat Paskah

    M. J. Daeli

  5. Postinus Gulo says:

    Baru beberapa hari ditampilkan sharing pengalaman saya ini (dan juga pengalaman teman-teman yang lain dari Bandung) sudah beberapa orang yang memberi komentar afirmatif (baca: positif). Sekali lagi, terima kasih tanggapannya.

    Khusus pertanyaan Sdr. Autha:
    Ada tiga hal persoalan (yang saya tangkap) yang Anda lontarkan tentang mentalitas masyarakat Nias: 1)Penduduk Nias cenderung malas. 2)Perempuan bekerja keras daripada laki-laki. 3)Kekerasan dalam keluarga.

    Saya menanggapinya begini: realitas semacam itu ada. Tetapi kita juga tidak mungkin meng-generalisasikan bahwa “semua penduduk Nias cenderung malas, melakukan kekerasan dalam keluarga dan memaksa perempuan untuk bekerja. Fenomena yang Anda lontarkan itu bukan hanya di Nias terjadi tetapi juga di daerah lain, khususnya di negara kita, Indonesia (saya mengalami hal ini ketika saya juga menjadi relawan di Jogyakarta, Klaten bulan Juni 2006 lalu)

    Dan, persoalan yang Anda pertanyakan pun tidak hanya terjadi gara-gara gempa. Saya uraikan satu persatu.

    A. cenderung malas
    Alasan/sebabnya macam-macam. Era 1990-an di daerah saya itu lagi rame-ramenya main judi. Jadi pasti laki-laki begadang sampai larut malam. Besoknya pasti malas bekerja. Ada alasan lain, yakni masalah gengsi: anak muda (beberapa/tidak semua) jika sudah sekolah dan kembali ke rumah merasa malu jika bekerja, apalagi menyadap karet atau bekerja di sawah. Dan memang cara pandang semacam itu terbentuk dari lingkungan di mana ia hidup. Selain itu yang saya amati adalah, jika orangtuanya bisa dibilang “berkeadaan” atau lebih dari yang lain, maka ada (beberapa) anak yang memilih berfoya-foya. Ini bukan cerita fiktif. Keluarga saya sendiri mengalaminya. Dan masih banyak alasan yang lain.

    B. Perempuan bekerja keras daripada laki-laki.
    Persoalan ini lagi-lagi tidak bisa digeneralisasikan. Persoalan ini muncul karena pertama-pertama: arah keluarga yang ideal yang bagaimana, masih belum mampu ditangkap. Masih banyak yang belum mampu melihat, mengerti apa tanggung-jawab setiap pribadi dalam keluara. Jadi, pendidikan keluarga (informal) dan formal harusnya dikembangkan. Alasan lain, adalah laki-laki (misalnya anak muda tetapi tidak semua) cenderung meniru gaya teman sebayanya (pengaruh lingkungan). Jadi, memang hal ini bukan hanya terjadi di Nias tetapi juga di daerah lain. Misalnya, korupsi tidak bisa diberantas, karena pola pikir kita yang mimesis (meniru) atau cepat terhipnotis oleh lingkungan dan kurang selektif.

    C. Kekerasan dalam keluarga

    Beberapa bulan yang lalu, saya menulis di NiasIsland.Com. Dan salah satu yang saya bahas adalah tentang kekerasan dalam keluarga. Saya pernah punya pengalaman. Ketika saya libur ke kampung halaman saya (Dangagari, Kecamatan Mandrehe) saya menemukan satu keluarga yang selalu berantam (padahal yang dipermasalahkan adalah hal-hal kecil). Lantas, saya datangi kepala keluarganya dan saya bertanya (setelah beberapa jam mereka berantam): dulu ketika kalian mau menikah, apakah Anda sudah tahu arah perkawinan itu apa? Apakah Anda sebagai kepala keluarga sudah sadar betul tanggung-jawab Anda? dengan cengegesan dia tidak bisa menjawab. Itulah yang terjadi.

    Lantas, apakah fenomena seperti itu masih saya temukan ketika pulang ke Nias (diutus menjadi relawan, walaupun sebenarnya saya merasa bukan relawan karena memang sebagai orang Nias seharusnya sadar diri untuk membantu saudaranya)? terus terang masih saya temukan. Fenomena yang saya lihat adalah ketika kami mengambi batu. Dan batu itu digunakan untuk rumah korban. Tetapi apa yang terjadi, justru orang yang mau dibantu malah tidak ikut menolong kami untuk mengambil batu. Ia mungkin ada halangan saat itu sehingga beliau mengandalkan kami. Ini pikiran positif saja.

    Begitu juga persoalan tentang perempuan. Tatkala saya lewat di suatu daerah, saya melihat bahwa Ibu-ibu begitu semangat mengangkut kayu yang diberikan kepada setiap keluarga (karena rumahnya telah hancur). Jadi, suaminya kurang tahu ke mana. Lagi-lagi fenomena ini tidak semua terjadi dalam masyarakat Nias.

    Uraian saya mungkin belum sempurna. Dan kalau masih ada lagi yang mau ditanya silakan saja. saya akan berusaha untuk menjawabnya semampu saya.

    Terima kasih. Ya’ahowu
    Dari Postinus

  6. anonim says:

    Briefing Danrem 012 Teuku Umar Kol. (Inf) Geerhan Lantara (selaku Ketua Satkorlak BPB) di Meulaboh ketika tsunami Aceh (2004) amat menyentuh hati relawan. Kolonel bertubuh kecil, namun suaranya lantang ini, berkata: “Kalian relawan datang ke sini untuk menolong. Bukan ditolong! Jangan harap masyarakat korban bencana menolong Anda!”.

    Belakangan tim kami melihat mayoritas orang di Meulaboh hanya duduk-duduk berpangku-tangan. Demikian pula orang di berbagai lokasi bencana (Malang, Atambua, Sukabumi, Lahewa, Bantul, Klaten, dll), kami bertemu masyarakat apatis.

    Kolonel Lantara ternyata kenal persis pato-psiko-sosial bencana. Dalam bencana berskala makro, tidak hanya fisik luluh-lantak, juga psikis tercabik-cabik. Bahkan di sana banyak orang menderita psikosis akut (gila). Mana mungkin diharapkan mereka mau menolong orang yang datang hendak menolong mereka?

    Bila relawan bertemu masyarakat korban bencana yang masih mau “ikut bantu-bantu” relawan, secara empirik dapat diindikasikan bahwa bencana yang terjadi belum terlalu parah.

    Sulit memang menentukan stereotip sesuatu masyarakat yang sedang kalut dilanda bencana.

  7. Postinus Gulo says:

    Ya’ahowu Saudara Anonim

    Berbagai pengalaman yang kita temukan dan hadapi di daerah bencana. Saya juga pernah mendengar bahwa banyak relawan yang terkesan bahwa masyarakat Nias, katanya tidak tahu berterima kasih. Tentu, sebagai orang Nias, komentar ini saya mencoba mendengarkan dengan lapang dada, dalam istilah Jawanya, legowo, sabar.

    Saya hanya berujar dalam hati: Anda ini menjadi relawan atau mengharapkan pujian dari orang Nias? Kalau seandainya demikian, bukan menjadi relawan lagi tetapi mencari “sensasi” Selain itu, saya juga berpikir begini: memang banyak orang yang hanya pintar mengkritik tetapi belum tentu jika ia sendiri yang mengalami gempa yang dahsyat. Bisa jadi ia malah tidak bisa menghibur diri sendiri. Tapi itulah sikap masyarakat Indonesia, mudah menyalahkan, mudah menuntut tanpa memperhatikan apa yang sedang terjadi. Oleh karena itulah ketika saya pulang ke Nias, saya malah mencoba menolong saudara-saudari saya, masyarakat Nias, tanpa harus menuntut ucapan “terima kasih” (tidak do ut des). Mengapa? karena cobalah kita bayangkan gimana perasaan masyarakat Nias yang kehilangan harta benda, sanak keluarga. Rasa-rasanya pikiran, perasaan mereka juga pasti ikut luluh lantak. Orangtua dan keluarga (rumah juga tidak roboh, tidak rusak, hanya bergeser) saya saja yang notabene selamat, tetap saja mengalami trauma. Jadi, benar bahwa kita tidak bisa menyalahkan masyarakat yang tertimpa bencana.

    Ya’ahowu
    Postinus Gulo

  8. Anonim says:

    Terimakasih atas respon Frater Postinus Gulo. Saya telah pergi ke berbagai lokasi bencana dalam hitungan jam, termasuk Lahewa – Nias. Namun saya pula pernah mengalami bencana gempa bumi dahsyat (dalam hitungan 0 detik). Karena itu saya akan selalu berada di garis yang berbeda bila ada relawan yang berharap korban bencana mau menolong para relawan.

    Yang saya tahu, etik kerelawanan adalah: “boleh menceritakan tentang apa yang dikerjakannya, namun menghindari bercerita secara detil, bahkan menginterpretasikan, hal-hal yang dilihatnya”. Dalam dua respon, jatidiri saya adalah Anonim, itu juga bagian dari etik kerelawanan. Mari kita senantiasa mengasah empati kita sebagai relawan.

    Shalom! Ya’ahowu Talifuso!

  9. Niha Khöda says:

    Beberapa bulan setelah gempa, saya ke Nias mengunjungi keluarga. Di Gunungsitoli saya betemu dengan seorang Bapak, seorang Nias, dan sempat berbicara panjang lebar dengan beliau.

    “Apakah Bapak ke Nias sebagai relawan ?” tanya beliau. Saya mengatakan bahwa saya ke Nias mau melihat keluarga, bukan sebagi relawan. Setelah mengetahui “status” saya, beliau bercerita panjang lebar.

    Menurut pengamatannya relawan yang “merajalela” di Nias itu dapat dibagi 3 jenis: (1) relawan murni, (2) relawan abu-abu, dan (3) relawan hitam.

    Relawan murni, katanya, kelihatan dari cara mereka bekerja, berkorban dan berhubungan dengan masayarakat. Mereka ini tak menuntut apa pun, sangat ikhlas dalam berkarya, yang mereka harapkan adalah agar masyarakat Nias segera bangkit dari keterpurukan, luka-luka fisik, jiwa, hati dan perasaan.

    Relawan abu-abu adalah relawan yang datang ke Nias untuk membantu masyarakat Nias, tetapi sekali gus mencari kesempatan untuk mendapatkan sesuatu: pekerjaan, pengalaman, dan sekali gus petualangan. “Jangan salah,” kata beliau, “bencana ini membuka begitu banyak lowongan kerja”.

    Relawan hitam adalah “relawan” yang sebenarnya bermaksud menguras dana-ana bantuan ke Nias untuk kepentingan diri sendiri dan organisasinya yang menyamar sebagai lembaga swadaya masayarakat (NGO). Mereka lihai memanfaatkan peluang, dan, Bapak ini kuatir, jangan-jangan mereka ini punya jaringan kuat untuk mnguras berbagai dana yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat Nias.

    Ketika saya menanyakan berapa persen kira-kira relawan murni, Bapak ini memperkirakan tidak lebih dari 15%.

    “Masyarakat Nias sangat berterima kasih kepada relawan murni dan sebagian dari relawan abu-abu itu Pak”, lanjutnya.

    “Terus, bagaimana dengan relawan hitam dan abu-abu yang sebagian lagi”, tanyaku.

    “Semoga saja mereka cepat keluar dari Nias ini. Kita sakit hati dan terluka melihat cara-cara mereka …” beliau terpaksa mengakhiri ceritanya, karena saya harus pulang ke desa saya.

    Niha Khöda

  10. Deivine Signor says:

    Saya tidak menyangka bahwa relawan bisa dibagi dalam kategori seperti itu. Tapi memang benar, ada yang memiliki mentalitas dan motivasi seperti itu. Saya ingat juga, pas jadi relawan di Yogja…ada satu nama yang disebut-sebut untuk tidak diterima di suatu tempat walau mengatasnamakan jadi relawan.

    Mungkin saja,mereka ini masuk dalam salah satu kategori itu. Susah ya, kalau motivasi jadi relawan dah ga bener lagi?

    Salam

Leave a Comment

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>