Archive for February 20th, 2011 | Daily archive page

Ahli Astronomi Vatikan: Sains dan Agama Tidak Bermusuhan

Sunday, February 20th, 2011

Bruder Guy J. Consolmagno SJ, seorang ilmuwan keplanetan dan ahli astronomi di Observatorium Vatikan mengatakan ilmu pengetahuan dan agama tidak bermusuhan. Menurut Consolmagno, konflik antara agama dan ilmu pengetahuan sebenarnya tidak ada. “Sains bertumbuh dari agama,” katanya.

Menurut Br. Consolmagno, seorang Yesuit, tujuan utama kehadiran Observatorium Vatikan adalah untuk menunjukkan bahwa Gereja sangat mendukung sains dan penelitian ilmiah. Ketika diangkat ke dalam jabatan itu pada tahun 1993, instruksi pertama yang ia terima adalah: “Guy, lakukanlah penelitian ilmiah yang baik”.

Consolmagno, kelahiran Detroit, Michigan, Amerika, memasuki Ordo Yesuit pada tahun 1989. Peran gandanya sebagai ilmuwan dan pekerja religi memberikan kepadanya kesempatan untuk merenungkan “pertanyaan-pertanyaan besar”, – “misteri-misteri yang anda hirup dan renungkan”.

“Ada banyak pertanyaan-pertanyaan menyangkut manusia,” katanya, sambil menerangkan bahwa “kucing saya tidak pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Kucing saya tidak pernah berminat mengamati lewat teleskop.”

Menemukan jawaban-jawaban menyangkut pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana alam semesta bekerja dan bagaimana kita menjadi bagian dari padanya merupakan aktivitas-aktivitas yang sungguh-sungguh hanya bisa dilakukan oleh manusia, “seperti berdansa atau melukis atau melakukan hal-hal lain yang tidak bisa dilakukan oleh seekor kucing,” katanya.

Menurut doktor dari Massachusetts Institute of Technology ini, secara historis Gereja dari dulu telah berperan sentral dalam mengembangkan sains dan kehidupan akademis; banyak para biarawan berada di garis depan kemajuan ilmu pengetahuan, katanya, sambil mengingatkan bahwa ide awal dari terori Dentuman Dahsyat (Big Bang Theory) berasal dari seorang imam Katolik (Mgr. Georges Henri Joseph Édouard Lemaître, Red.)

“Tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang melawan teroi evolusi,” katanya, “akan tetapi ada sesuatu dalam Kitab Suci yang melawan Astrologi.”

Literalisme biblis (faham yang menafsirkan Kitab Suci secara harafiah, Red.) adalah faham yang berkembang akhir-akhir ini, bukan tradisi kekristenan, katanya.

“Hingga waktu terakhir, semua literatur bersifat puitis,” katanya, dan dalam dunia zaman purba, menggunakan bahasa puisi – bukan bahasa ilmiah – adalah “cara mereka melukiskan dunia.”

Menerapkan cara membaca modern untuk memahami teks yang berumur 2,000 tahun “jelas melanggar teks (mengacaukan pemahamanan teks – Red.),” kata Consolmagno, “dan itu bukan saya yang mengatakan, itu dikatakan oleh Augustinus.”, katanya merujuk kepada St. Augustinus – seorang filsuf dan teolog yang banyak menyumbang pendapat di bidang interpretasi biblis.

Menurut Consolmagno, Observatorium Vatikan didanai dengan dana sebesar 0.5% dari anggaran tahunan Vatikan – kurang lebih persentase yang sama yang diberikan Pemerintah Amerika untuk NASA. Ia juga mengatakan bahwa Paus Bendiktus mendukung penuh riset dan independensi Observatorium Vatikan ini, baik secara filosofis maupun secara finansial.

Keterangan Gambar: (1) Bruder Guy J. Consolmagno SJ, (2) Mgr. Georges Henri Joseph Édouard Lemaître.

Sumber: www.jesuit.org & Wikipedia: en.wikipedia.org.

Dikembangkan, Kolibri Nano Mata-mata

Sunday, February 20th, 2011

Jika suatu saat di masa depan seekor burung kecil hinggap di jendela Anda, itu mungkin burung kakatua, karena ia lebih lebih kecil dari burung yang telah diabadikan dalam sebuah lagu itu. Ia mungkin juga bukan seekor burung kolibri sungguhan. Ia barangkali adalah ‘seekor’ burung mata-mata yang ingin mengintai apa saja dalam bangunan yang anda tempati.

Burung buatan itu adalah hasil riset selama 5 lima tahun. Burung robotik ini berfungsi sebagai pesawat supermini mata-mata yang dapat digunakan untuk pengintaian dalam medan perang dan daerah-daerah perkotaan. Burung robotik yang disebut Nano Hummingbird (Burung Kolibri Nano) digerakkan oleh batere. Ia diperlengkapi dengan sebuah kamera, bisa terbang hingga kecepatan 18 km/jam, bisa mengambang di udara, terbang ke arah depan atau belakang dan ke arah kiri dan kanan. Demikian diumumkan secara bersama oleh Pentagon dan AeroVironment, Inc. sebuah perusahaan berpangkalan di Kalifornia yang bergerak di bidang pembuatan pesawat tanpa awak.

Para pakar industri meramalkan teknologi baru ini kelak bisa menghasilkan burung buatan yang bisa terbang melalui jendela terbuka, hinggap di kabel-kabel listrik dan menangkap suara serta gambar-gambar tanpa terdeteksi.

“Miniaturisasi ini sangat menarik,” kata pakar teknologi pertahanan Peter W. Singer, pengarang buku teknologi perang robotik Wired for War. “Anda bisa menggunakannya di mana saja, menempatkannya di mana saja, dan sasaran tidak akan pernah menyadari mereka sedang diintai,” katanya melanjutnya.

Kolibiri mata-mata ini memiliki rentang sayap 16 cm dan berat 19 gram atau lebih ringan dari sebuat batere ukuran AA, tetapi sedikit lebih besar dari seekor burung kolibri. Kolibiri mata-mata ini diperlengkapi dengan motor penggerak, sistem komunikasi dan sebuah kamera video.

Riset AeroVironment untuk menghasilkan kolibiri nano ini didanai oleh Pentagon sebesar 4 juta dollar Amerika (~ Rp. 35.5 miliar). (LAT/* – Foto: Aerovironment)