Perempuan Dalam Diri

Saturday, September 25, 2010
By borokoa

Oleh: Esther GN Telaumbanua*

Putri saya adalah seorang pemain biola dan bergabung dalam sebuah chamber, sebuah kelompok musik taman yang berkomitmen untuk melantunkan dan sekaligus memelihara kelestarian lagu-lagu daerah Indonesia. Disitu ada ada pemain,  seorang anak perempuan kecil yang selalu menarik perhatian saya. Abigail namanya. Parasnya cantik dan sangat santun. Kecantikannya perpaduan dari dua etnis, bapaknya yang Papua berkulit gelap dan ibunya Jawa berkulit putih. Tidak mengherankan kalau anak perempuan ini sangat santun dan ramah karena kedua orang tuanya berlatar belakang pendidik dan aktif dalam pelayanan gereja. Selain cantik sosoknya, nama Abigail melekat dalam hati saya. Putri saya sering bertanya kepada saya kenapa diberi nama Charissa. Baginya nama sangat berarti karena itu saya menjelaskan,  yang utama maknanya  dalam bahasa Latin adalah pemberian Tuhan. Setelah hampir lima tahun dalam penantian,  Charissa dilahirkan sebagai jawaban Tuhan.  Dalam bahasa kampung bapaknya di Maluku, nama ini menggambarkan seorang perempuan yang rajin di dapur dan melayani keluarga. Demikianlah harapan pemberian nama itu akan selaras dengan karakter yang saya inginkan bertumbuh dalam dirinya. Di Nias, sangat jarang sekali nama Abigail digunakan, hampir tidak ada padahal masyarakat Nias mayoritas penganut Kristiani.  Mereka lebih banyak menggunakan nama-nama berbau kedaerahan atau melayu. Karena tertarik, saya mulai membuka referensi utama saya yaitu Alkitab. Disana ada kisah perempuan bernama Abigail. 

Hampir semua orang mengenal Maria, Ibu Yesus, sosok perempuan yang diberkati karena ketaatannya dan peran setia sebagai ibu Yesus dan murid-muridNya dalam situasi yang normal ataupun sukar.  Selain Maria, Marta ada  banyak sosok perempuan yang saya kagumi di dalam cerita Alkitab. Tapi ada dua nama yang sangat berkesan karena karakternya yang mempesona.  Mereka adalah Abigail dan Esther. Abigail adalah sosok perempuan yang jarang diceritakan dengan detail. Mungkin banyak yang kurang mencermati bagaimana karakter perempuan yang bagi saya luar biasa. Diceritakan oleh Alkitab,  Abigail adalah perempuan bijaksana yang menikah dengan lelaki bernama Nabal, seseorang yang memiliki karakter bebal seperti arti namanya. Nabal digambarkan sebagai laki-laki dengan status sosial tinggi, namun kasar dan jahat serta tidak menghargai isterinya. Nabal yang kaya menolak permohonan memberikan bantuan makanan dari Raja Daud untuk bertahan  saat melakukan pengejaran terhadap Raja Saul. Karena tidak ada seorangpun yang mampu  berbicara kepada Nabal, maka Daud mempersiapkan pasukannya untuk melawan Nabal dan bermaksud membunuh semua lelaki di kediaman Nabal. Melihat situasi yang dapat menyebabkan pertumpahan darah, Abigail datang menyembah Raja Daud. Dulu, tidak mudah berbicara dan merupakan sebuah kelancangan bila seseorang biasa melawan keputusan Raja. Tapi ini, Abigail, seorang perempuan biasa dan ia menjamu pasukan Daud dengan makanan dan memohon agar mengampuni sikap Nabal. Abigail dengan bijaksana menawarkan solusi untuk menanggungkan kesalahan Nabal baginya demi menghindari korban. Abigail mengingatkan Daud, betapa Allah telah mengasihi Daud selama ini  dan  untuk tidak mencari keadilan dengan cara yang tidak benar. Daud, atas permohonan dan pengaruh yang bijaksana dari Abigail akhirnya merubah keputusannya. Abigail yang bijaksana telah menyelamatkan sebuah penghancuran terhadap entitas kaum pria di wilayah kediaman itu. Tetapi ketika dia kembali ke rumahnya, didapatinya Nabal, suaminya  yang bebal itu sedang mabuk. Nabal, si lelaki berhati batu, setelah  mendengar cerita bagaimana isterinya telah melakukan sebuah perbuatan yang berani dan menyelamatkan mengalami shock dan akhirnya mati. Ia dihukum Tuhan. Namun, kesedihan Abigail tidak berlangsung lama, karena Raja Daud telah terpesona dengan kebijaksanaan perempuan ini, dan meminangnya menjadi permaisuri. Bagai cerita layar lebar dengan happy ending, perempuan yang selama ini terbelenggu derita bersuami seorang bebal, berkuasa penuh, kasar dan pemabuk, namun Abigail tidak bersungut dan meninggalkannya bahkan berdiri menyelamatkannya. Cerita berakhir dalam kemuliaan.  Betapa banyak kisah yang mirip  terjadi dalam rumah tangga di negeri ini? Berapa banyak perempuan bijaksana yang terbelenggu dalam ikatan pernikahan dan lingkungan yang tidak adil terhadapnya? Abigail adalah contoh perempuan bijaksana atas   komitmennya terhadap keluarganya dan keberanian mempertaruhkan dirinya. Sangat menarik dan merupakan karakter yang memberi keteladanan.

Sosok Esther, adalah perempuan yang mempunyai karakter yang sangat berpengaruh. Digambarkan dengan detail dan dasyat  oleh  Alkitab sebagai  sosok perempuan yang menjawab panggilan hidup yang digariskan baginya.  Alkisah, Esther  perempuan yatim piatu berparas cantik, adalah salah seorang Yahudi yang  hidup di tanah jajahan di Persia bersama sang paman Mordekai. Mordekai yang banyak mendorong Esther mencoba mengadu nasib dalam proses pencarian permaisuri baru bagi raja Persia.  Sebenarnya ini  mustahil, karena dia orang jajahan, tidak memenuhi kriteria. Kalau istilah saat ini, tak lolos syarat administratif-lah.  Dengan  langkah-langkah strategis dan bijaksana paduan kecakapan dan kecantikannya sebagai perempuan yang ada pada dirinya ia berhasil menjadi Ratu di Persia dan  membawanya ke pelataran tahta Raja. Posisinya sebagai Ratu yang dekat dengan Raja, tidak membuatnya lupa diri dan angkuh. Posisi itu dipergunakannya dengan hikmad untuk menggagalkan sebuah konspirasi jahat yang digelar Haman orang kepercayaan Raja.  Bahkan, dengan penuh keberanian untuk membebaskan rakyat yang bertahun-tahun hidup di dalam penjajahan di tanah Persia. Perpaduan kebijaksanaan dan keagungan seorang perempuan ada pada Esther, yang membawa hikmad dan kenikmatan bagi bangsanya. Kedua tokoh ini selalu menjadi inspirasi bagi saya untuk menggambarkan bagaimanakah sosok perempuan itu semestinya.

Teladan

 “Apakah kamu cantik?”. Perempuan memang diidentikkan dengan sesuatu yang cantik.  Kalau perempuan Nias ditanya, “hadia no baga ndra’ugö ? atau “hadia no söchi zikhalamö ?. Apakah dirinya cantik, umumnya perempuan Nias menjawab dengan hanya senyum tersipu. Padahal, sesungguhnya perempuan Nias itu cantik parasnya, kulitnya putih  bersih, perawakannya semampai,  umumnya berambut panjang dan hitam, dan santun karena tradisi menempanya begitu. Dalam sejarah, dahulu kala saja di era tradisionil sebelum ada salon dan spa,  perempuan Nias telah  terdokumentasikan disitu cantik menarik, apalagi sekarang. 

Tentang cantik sering dipercakapkan orang, tetapi bila pertanyaan tadi disampaikan kepada seorang perempuan tentu jawabnya beragam. Hampir semua  perempuan merasa cantik tetapi ketika menjawab pertanyaan apakah dia cantik biasanya yang akan disampaikannya adalah betapa banyak kekurangan dalam dirinya yang membuat dia kurang cantik. Kurang inilah, kurang itulah makanya saya perlu ini dan perlu itu untuk menutupinya. Kurang percaya diri. Bagaimana ia  mengambarkan tentang dirinya sendiri,  kita dapat melihat apakah seorang perempuan mengenal dirinya dan apakah ia bijaksana. Kecantikan wanita berupa kebijaksanaannya datang dari dalam diri secara bathiniah, bukan kecantikan lahiriah yang dapat dipoles. Seorang wanita bijaksana tahu bahwa dia cantik dan tidak cantik dengan mempelajari siapa dan bagaimanakah dirinya. Sesungguhnya kecantikan sejati lahir dari wanita yang cukup bijaksana dalam perbuatannya dan menemukan kecantikan batiniahnya. Perempuan yang bijaksana tidak akan kuatir dengan kekurangan lahiriah tetapi akan berpikir tentang kecantikan bathiniah.  Ada banyak contoh perempuan hebat dengan keberhasilan mereka di bidang masing-masing. Sebut beberapa diantaranya, Indira Gandhi, Margareth Thatcher, Mother Theresa, dan lain-lain.  Secara fisik mereka adalah perempuan yang tidak terlalu menarik atau tidak cantik, tetapi mereka banyak menyita perhatian karena memberi pengaruh bagi dunia.  Di Indonesia sebut saja  nama Kartini, Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien. Tidak ada yang terlalu menarik untuk dipandang  secara fisik. Mengapa mereka dapat menjadi perempuan yang sangat berpengaruh dan memberi kesan? Apakah  mereka dilahirkan sudah hebat? Ataukah mereka melalui proses pelatihan atau pembentukan ? Sesungguhnya seperti apakah perempuan itu ?

Peran 

Dalam sebuah percakapan segitiga dengan dua teman beberapa tahun lalu, kami memperbincangkan soal pembentukan kehidupan dan peradaban oleh seorang perempuan. Pria dan perempuan, sama esensi  berbeda fungsi. Yang paling utama dari perempuan adalah dia mempunyai rahim. Ini rahmat karunia yang tiada tara. Di dalam rahimnyalah dibentuk calon manusia selama usia kandungan. Dari rahimnyalah akan lahir seorang manusia yang mendiami muka bumi ini. Peradaban bangsa ini dimulai oleh seorang perempuan melalui penanaman nilai pertama bagi anak yang diasuhnya. Dari mulut dan sentuhannya ditanamkan nilai dasar pertama kepada generasi bangsa, baik yang kasar dan lembut, yang baik dan buruk serta harapan tentang masa depan. Sepanjang hidupnya, seorang anak tidak akan pernah lepas dari ‘dekapan’  seorang ibu, denyut jantung dan nafas sang ibu.  Dari seorang perempuan yang  sakit, kurang gizi, berperilaku buruk dan tanpa visi, akan lahir manusia yang tidak berbeda. Tetapi perempuan sehat jasmani dan jiwanya, dilahirkan generasi baru yang sehat lahiriah dan rohaniah. Inilah peradaban baru yang dibentuk oleh seorang perempuan. Bagaimana dunia ini bila perempuannya tidak sehat, tidak mempunyai visi dan kurang kemampuan mengasuh anaknya? Perempuan mempunyai daya juang dan mampu bertahan dalam setiap keadaan. Pengalaman mengandung, melahirkan dan mengasuh anak telah memberi bukti akan fungsi strategis dan daya tahannya. Di dalam rumah tangganya, lihatlah kemampuan  seorang ibu mengelola keuangan. Sangat luar biasa. Pepatah mungkin tidak salah, dibalik kesuksesan pria ada perempuan hebat dibelakangnya. Kalau bukan ibunya, pasti istrinya.  Fakta juga menunjukkan ditengah berbagai kemelut hidup, perempuan akan betah bertahan sebagai janda, dibanding seorang pria sebagai duda.  Esensi dari penciptaan seorang perempuan dengan fungsinya harus dipersepsikan dengan benar, dengan demikian ruang dan tempat diberikan sebagai hak dasarnya  dalam mengaktualisasikan dan mengembangkan dirinya. Perempuan harusdilihat bukan saja dari fungsi anatomi biologisnya, tetapi juga peran  sosialnya.

Teman saya lalu bertanya, apa peran laki-laki? Dia mungkin mulai kuatir terjadi perebutan fungsi atau pematian terhadap entitasnya. Semula saya menjawab dengan bercanda, laki-laki cuma sebagai ‘pendonor’.  Memang, sebagai laki-laki ia memberikan bibit pesemaian dirahim perempuan, namun selanjutnya dan sesungguhnya ia akan mencari nafkah hidup dan memberi teladan yang baik bagi keturunan yang dilahirkan.

Itu sebabnya, saya terpikir-pikir. Ketika bicara persoalan yang sulit diselesaikan di negeri ini, sebenarnya perempuan dapat difungsikan.  Perempuan adalah komunikator  yang baik dengan berbagai bahasa yang dapat diterima. Ia memiliki power of influence yang luar biasa. Kita mempercayai perempuan, karena terbukti dalam tindakan dan kemampuan  manajemennya  walau dalam skala rumah tangga.  Nilai-nilai untuk menjadi seorang yang bertanggungjawab ataukah menjadi orang yang bebal dapat dibentuk oleh seorang perempuan, dimulai dari dalam rumahnya. Tanpa mesti menjadi dosen ia sudah mengajar. Jumlah perempuan yang cukup banyak  melebihi populasi kaum pria, ini adalah kekuatan.  Silent majority yang belum dimanfaatkan. Ini sisi potensial yang belum disadari baik oleh perempuan juga oleh kaum pria. 

Bagaimanakah di Nias? Perempuan Nias cantik  namun bagaimanakah kualitasnya? Tingkat kesehatannya masih rendah, pendidikannya kurang, dan  ekonominya lemah.  Perempuan miskin di desa tidak mampu mengakses layanan kesehatan untuk memberikan asupan makanan bagi janin dikandungannya. Tingkat kematian bayi masih tinggi. Tingkat pendidikan yang terbatas mempengaruhi kemampuan mengasuh dan membesarkan anak  dan mengurus rumah tangganya. Iapun tidak dapat menjadi rekan berbagi pemikiran dengan suami dalam pengambilan keputusan-keputusan penting dalam kehidupan rumah tangga dan sosial. Apalagi bila diharapkan ikut berperan bagi pembangunan wilayahnya.  Masih ada kerangkeng tradisi dan budaya  yang masih membelenggunya dan memposisikannya tetap berada dibaris kedua setelah kaum pria. Ia masih dianggap sub-ordinat dari lelaki.  Inilah gambarannya. Kecantikan fisik yang belum dilengkapi dengan kualitas dan kebijaksanaan.

Suara tak terdengar  

Saya mengenal alat musik tradisional khas Nias, gendang dan gong. Dengan itulah para penari Nias diringi menari Moyo atau yang dikenal sebagai tari elang, dan tarian lainnya.  Tari Moyo,  menurut saya mengandung unsur magis filosofis. Tari Moyo  digambarkan seperti  gerakan elang yang terbang di angkasa luas  ditampilkan dengan gerakan tangan putri  Nias yang gemulai, kelembutan yang  mempunyai daya tahan yang kuat. Dalam  penampilan selalu disebutkan tari ini memiliki pesan indahnya persatuan dan perdamaian dalam menggapai cita-cita yang tinggi bersama-sama. Elang bagi orang Nias perlambang keperkasaan. Konon, tari Moyo dilatarbelakangi  kisah tentang perempuan Nias yang diharuskan menikah dengan pria pilihan orang-tuanya walau   pria itu tidak dicintainya. Sang perempuan berdoa kiranya menjadi elang yang terbang  bebas menemukan cita-citanya sendiri. Dalam realitasnya, pernikahan perempuan yang ditetapkan oleh orangtua masih mewarnai masyarakat Nias sampai saat ini.

Saya belum melihat ada penyanyi perempuan Nias yang tercatat dalam  blantika musik nasional, apalagi internasional. Namun beberapa tahun lalu, pernah diadakan gelar musik  Megalitikum Quantum. Pagelaran musik ini sangat menarik perhatian nasional bahkan internasional,  karena disana terjadi  kolaborasi musik modern dengan musik tradisional Nias, feta batu.  Suara batu, batu bernyanyi. Denting suara feta-batu, itulah musik tradisinil Nias yang ditampilkan. Hasilnya adalah keindahan suara yang sangat spektakuler dan mencengangkan. Memadukan  masa lalu dengan kekinian yang modern, ternyata menghasilkan alunan indah yang sangat menyentuh dan memberi makna.

Apakah perempuan Nias betah dengan kondisi yang mereka alami?  Apakah mereka pasrah atau  sebenarnya ingin meneriakkannya dan tak mampu. Bagaimanakah suara perempuan Nias sesungguhnya?   Apakah seperti semilir desah angin di pantai  Moale  yang mengalir tanpa arah, sepoi tidak terdengar?  Apakah seperti bisik pasir putih di  pantai Sifahandrö Lahewa, yang terinjak kaki baru mengeluarkan bunyi  berdesir-desir?  Ataukah decak gelombang pecah dibebatuan pantai “rockstar” di Teluk Dalam, seperti  suara alam yang  keras dan tegas? Ataukah seperti suara gesekan daun nyiur dihembus angin di pantai  Sisaharili, lirih dan menghilang di lautan luas?. Yang pasti, lagu-lagu yang dinyanyikan perempuan Nias selalu terdengar mendayu-dayu. Perhatikanlah pada setiap acara adat Nias. Ketika “huhugö” dilakukan para pria dengan suara keras dan menyentak, perempuan Nias melantunkan “liwa-liwa”, berbuyi ‘’iiii…”  dengan nyaring sedikit melengking dalam alunan panjang.  Jadi bukan tidak ada,  tapi suara itu mendayu  bagi suara terjepit diantara pergolakan bathin tetap pasrah di antara tradisi atau keluar mengikuti perubahan zaman.  Mungkin inilah gambaran inplisit tentang suara dari dalam dirinya.  

Tatanan kebijaksanaan

Bagaimana sih sebenarnya konstruksi perempuan dalam tatanan kehidupan masyarakat Nias ?  Kalau di Aceh ada Cut Nyak Dien dengan jiwa kepahlawanannya, di Jawa ada Kartini dan Dewi Sartika dengan karakter berani melakukan perubahan. Bahkan di Maluku dalam era yang lebih baru ada Martha Tiahohu. Di Nias sepertinya tidak ada, sama sekali tidak ada tokoh perempuan yang beri pengaruh atau telah meninggalkan kesan.  Di era sekarang ada tokoh-tokoh wanita yang menjadi panutan dan teladan.

Hampir tidak ada referensi yang menjelaskan tentang sosok perempuan Nias secara detail apalagi tentang perempuan yang disebut tokoh. Apakah hanya seperti yang saya sebutkan di bagian awal “si dewi dan si tolol” itulah konstruksi perempuan Nias?.  Ia hanya sebuah “böli niha”?

Tetapi memang kenyataannya di ruang publik ketokohan perempuan Nias masih sangat minim atau sulit diformulasikan seperti apa. Mungkin ini bagian yang perlu ditelusuri. Namun begitupun, ditengah keterbatasan referensi,  secara sederhana ada beberapa syair-syair yang menceritakan tentang keagungan dan mulianya peran seorang perempuan dalam kehidupan Nias. Kita dapat menyimak  beberapa point tentang hal itu.   Mite Tetehöli Ana’a, dalam buku “Asal Usul Manusia Nias”, yang menyebutkan leluhur Nias diturunkan dari langit kesuatu tempat di tanah Nias  untuk memulai kehidupannya. Selain pola menurunkan dari langit yang menyiratkan keseimbangan dan merata keseluruh bagian, tentang apa makna Teteholi Ana’a mempunyai interpretasi  sendiri.  Banyak versi tentang mite ini tetapi secara mendasar pengertiannya sama walau penyebutan ada yang berbeda dan lebih lengkap di beberapa daerah. Hampir semua orang Nias sepakat  bahwa asal-usul manusia Nias  bermula di Teteholi Ana’a. Mereka diturunkan dari langit kesitu. Dimanakah itu? Banyak pendapat  berusaha menyatakan lokasi itu secara geografis dengan berusaha memaknai apa yang diberitakan dalam syair-syair. Katanya di wilayah Börönadu,  di Gomo. Namun ada pemaknaan lain yang saya persepsikan tentang sebuah proses hadirnya manusia  berdasarkan tulisan  Pastor Hāmmerle dimana Teteholi Ana’a digambarkan dengan nalar alkitabiah sebagai rahim sang ibu dengan tubuh utuhnya tanah Nias. Ada beberapa syair melengkapi  penjelasan Pastor Hāmmerle dalam buku  tersebut  tentang peranan pria dan perempuan dari interpretasi tentang Teteholi Ana’a, terutama bagaimana gambaran proses dan peran perempuan saat  mengandung dan melahirkan. Itulah Tetehöli Balaki, itulah Tetehöli Ana’a, disimpulkan kira-kira begitu.  Artinya, mite tentang Tetehöli Ana’a, secara sederhana saya memahaminya sebagai gambaran tentang kejadian manusia yang lahir dari rahim ibunda Tanö Niha. Dalam keterbatasan pengenalan saya terhadap mite budaya Nias,  dalam hal ini sangat tertarik dengan penafsiran ini yang menurut saya memiliki nilai-nilai filosofis yang mendalam, terutama bagaimana orang Nias menggambarkan peran seorang perempuan dalam melahirkan manusia dan membentuk peradaban kehidupan Nias. Mite-mite yang tersebar di seluruh penjuru Nias, menunjukkan betapa orang Nias mengagungkan perempuan dengan fungsi kodratisnya ini. Sangat menyentuh dan luar biasa.

Ada lagi  mite  tentang Ibu Sirici yang menurunkan turunannya yang disebut sosok bela serta Ibu Nazaria dengan turunannya disebutkan manusia yang diagungkan. Saya melihat ada pesan moral tentang kebijaksanaan yang ditunjukkan dari sosok Ibu Nazaria yang bijaksana. Ini berkaitan konsep asal-usul manusia pertama di Nias. Ada pesan-pesan moral yang disampaikan dalam mite ini dari keberadaan kedua ibu ini. Syair ini saya kutip sebagai berikut.

Amada Hia Walangi Azu                       Leluhur Hia Walangi Azu
Hia Walangi Luo                                       Hia Walangi Luo
Nidada mane menewi                            diturunkan seperti kemaren
Nidada mane me laluo                           diturunkan seperti di siang hari
Ndronga ninada Talangi                       Itulah suami dari bunda Nazaria Talangi
Ndronga Nazaria Zaho                          beristerikan Nazaria Zaho
Amada ia Walangi Azu                          Leluhur Hia Walangi Azu
Ilabu fahuhuo khö ninada Nazaria  Ia bertutur kepada Ibunda Nazaria
Lalabu fahuhuo ba nikhu lela             mereka bersapa lewat ujung lidah
Lalabu fahuhuo ba giriwo :                 bercerita melalui tenggorok :
“Hadia khöda nahia mo’ölö-               “Adakah tempat mendapat rezeki,       
Hadia khöda nahia mangaroro?”      di manakah tempat tumpuan terbaik ?”
Iŵaö inada Nazaria :                              Ibunda Nazaria berucap :
“Tabagi ita fagölö-gölö,                        “Kita bagi sama rata,
Tabagi ita tafongaroro,                         kita bagi menurut yang terbaik,
Tabe ita zolau omo sebua,                    kita dirikan rumah yang besar,                  
Tabe ita zolau omo cuho,                      kita bangun rumah yang kokoh,
Tabe ita zangahalö tanö,                      mari kita berladang,
Tabe göi ita zolahoi ndraso”.              mari kita mengolah tanah yang subur”. 

Alangkah bijaksananya tuturan Ibunda Nazaria.  Dari penuturannya inilah saya dapat pahami ibu negeri Tanö Niha mempunyai konsep kesejahteraan dalam pandangan dan bagi dirinya. Saya memiliki interpretasi pribadi, saya mencoba menterjemahkan dalam bahasa saya yang saya ingin bagikan disini.  Ketika Leluhur Hia, bapak peradaban Nias  bertanya:” Adakah tempat mendapatkan rezeki bagi hidupnya, dan dimanakah tempat tumpuan terbaik”. Tersirat  kebijaksanaan dan keagungan “ibu negeri” tanah Nias mengatakan kesejahteraan bukan diukur dari kuantitas tetapi dari kualitas mengupayakannya. Kesejahteraan dan rezeki dapat diperoleh bila “kita membaginya sama rata” artinya ada keadilan bagi semua.  “Kita bagi menurut yang terbaik”, artinya musyawarahkanlah dengan sebaik-baiknya, dimana perempuan ikut aktif terlibat. “Kita dirikan rumah yang besar”, kita dirikan kehidupan yang besar dimana semua bisa hidup bersama, kehidupan Tanö Niha yang maju dengan pandangan kosmologi yang menyelaraskan keseimbangan kehidupan dengan Pencipta, sesama dan lingkungan yang berjati diri. “Kita bangun rumah yang kokoh”, sama-sama kita bangun kehidupan yang kokoh. Tanö Niha  adalah lebensraum dengan pilar-pilar kehidupan yang kuat menghadapi tantangan perubahan zaman. “Mari kita berladang”, ayo mari kita bekerja, jangan malas, bangkitkan etos kerja sebaik-baiknya dengan landasan kebersamaan, kegotongroyongan dan saling mendukung.  “Mari kita mengolah dataran subur”, Tanö Niha punya potensi alam besar, sumberdaya alamnya yang belum terkelola dengan baik. Gunakan kemauan dan kemampuan untuk mengolahnya menjadi sumber yang subur yang mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat Nias. Sungguh, alangkah bijaksananya sebenarnya ibunda negeri Tanö Niha ini. Inilah jati diri perempuan Nias, sebuah kebijaksanaan yang belum digali dari dalam kehidupannya sebagai sebuah potensi kearifan.

Langkah arif

Sebagian besar masyarakat miskin Nias adalah perempuan. Dalam keterbatasan ini, program yang menjamin hak  untuk mendapatkan pelayanan dasar bagi masyarakat miskin  harus diupayakan  agar menyentuh dan sampai kepada perempuan Nias.  Banyak hal dapat dilakukan sebenarnya untuk mendukung perempuan Nias lebih berdaya. Saya yakin bahwa setiap perempuan Nias mempunyai talentanya masing-masing, memiliki etos kerja dan kemampuannya sendiri untuk berkembang. Tinggal saja bagaimana peluang dan kesempatan itu dibuka buat mereka dan kemauan untuk itu ditumbuhkan dari dalam diri mereka. Dengan kegiatan memberdayakan yang tetap berbasis pada kearifan budaya yang ada, mereka dapat memotong sendiri  rantai kemiskinan yang membelenggu dan memiskinkan mereka selama ini secara struktural dan kultural. Dengan keberdayaan itu pula kelak perempuan Nias dapat menentukan pilihannya sendiri ke bidang mana ia akan berkecimpung. Tetap di wilayah domestik dengan kualitas yang cukup sebagai ibu dan istri, atau memasuki wilayah publik dengan kesadaran dan kemampuan yang dimikinya.  Biarlah perempuan Nias menentukan pilihannya sendiri.

Perempuan Nias harus menemukan potensi dirinya, dan mengasahnya menjadi sebuah keberadaan yang nyata dan pilar kekuatan membangun dan mengembangkan dirinya. Suaranya harus terdengar. Bagai biola putri saya, tanpa dawai bukan biola namanya. Nias tanpa perempuan Nias tidak ada artinya. Dawai-dawai itu memang harus digesek lebih dulu baru mengalunkan suara. Perlahan tapi pasti, maka akan menjadi alunan suara indah dan merdu terdengar. Suara perempuan Nias nan indah dan merdu. /egnt   

Tidak  ada yang lebih baik bagi seorang perempuan mengenal dirinya sendiri  dan mengetahui apa yang diinginkannya. Kapankah seorang perempuan memasuki dunia perempuan sesungguhnya? Adalah saat ia menerima tanggungjawab sebagai perempuan yang merupakan berkat yang dicurahkan oleh Pencipta. “Pakaiannya adalah kekuatan  dan kemuliaan,  dan ia tertawa tentang hari depan (Amsal 32:25)”.

Catatan:
Tulisan ini merupakan  Bab  IV: Perempuan Dalam Diri,  bagian dari Buku Aku Memilih (Esther GN Telaumbanua, 2009)

2 Responses to “Perempuan Dalam Diri”

  1. 1
    sandi Says:

    Dipersilakan liat http://postinus.wordpress.com/2010/06/08/faowua-wua-dodo-paradigma-kerajaan-allah-dalam-masyarakat-nias/ dibahas teteholi anaa.

  2. 2
    Sozifao Hia Says:

    Ya’ahowu,

    Tuhan menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, tentu ada makna yang tersirat di dalamnya.Laki-laki tanpa perempuan itu mustahil dan sebaliknya, dengan demikian seharusnya keduanya memiliki peranan yang tidak dapat dinilai berbeda dalam kehidupan real.

    Catatan tentang tokoh perempuan Nias dalam politik, ekonomi dan sosial memang belum pernah saya baca, namun saya percaya hal itu bukan berarti bahwa dalam perjalanan sejarah Nias wanita tidak berperan, bahkan perempuan juga ikut memberikan andil dalam mencetak sejarah itu sendiri. Kondisi ini mungkin karena budaya tulisan belum ada dulu atau juga karena perilaku sosial budaya Nias yang lebih mengedepankan laki-laki.

    Sudah saatnya Kartini “Nias” diperhitungkan dalam politik, ekonomi, sosial dan pendidikan. Kita harus berani dan jujur mengakui kelebihan dan keunggulan wanita dan siapa saja, dan diberi peran yang sesuai di dalam kehidupan masyarakat.

    Kiranya melalui tulisan ini, kita semua disadarkan kembali betapa kita harus memberi peran lebih kepada wanita juga.

    Terima kasih dan salam,

    Sozifao Hia

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

September 2010
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930