Ama, Pater dan Budaya “Amin” Dalam Gereja Katolik (di Nias)

Ada apa dengan Ama dan Pater ? Dalam Gereja Katolik, khususnya di Nias, kedua kata ini mengandung makna khusus. Sama halnya dengan di daerah lain, di Nias pun kehadiran Gereja Katolik menorehkan pengaruhnya dalam tradisi dan budaya masyarakat di sana.

Ere (imam Katolik) yang juga dikenal sebagai Pastor ini memiliki kedudukan khusus dalam masyarakat Nias, khususnya yang beragama Katolik. Dalam pesta adat, para ere ini akan mendapat tempat terhormat di depan, berderet dengan para satua mbanua, sinenge atau fandrita, para pejabat desa atau pejabat kecamatan yang diundang.

Selain mendapat kehormatan membawa doa untuk memulai dan mengakhiri acara-acara adat, tidak jarang seorang ere juga mendapat kehormatan lain menjadi salah seorang pembicara dalam upcara itu untuk memberikana menemene (nasehat). Para ere inilah yang biasa disebut Ama atau Pater di kalangan masyarakat Katolik di Nias.

Tak dapat dimungkiri, seorang imam Katolik memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat Nias (yang Katolik khususnya): dari mereka inilah banyak keluarga bergantung untuk segala macam urusan: spiritualitas dan jasmaniah. Urusan spiritual menyangkut urusan pemberian segala macam sakramen (permandian, ekaristi, krisma, perkawinan, pengurapan, dst) yang menjadi bagian sentral kehidupan umat Katolik. Urusan lain bersifat spiritual tetapi non-sakramental mencakup pemberkatan rumah, doa khusus untuk keluarga, atau menemene untuk keluarga yang sedang mengalami persoalan serius.

Karena faktor kemiskinan, sebagian masyarakat Nias juga sangat bergantung kepada bantuan finansial seorang ere untuk membiayai pengobatan di rumah sakit, membiayai sekolah anak atau bahkan untuk menunjang kehidupan sehari-hari keluarga itu.

Khusus mekanisme penyaluran bantuan pendidikan, hingga saat ini agaknya masih berlangsung dengan cara-cara informal – sangat tergantung dari ‘kemurahan’ hati sang ere, dan kedekatannya dengan keluarga atau person yang butuh bantuan. Informalitas ini tentu saja sangat rawan dengan ketidakpastian: tidak bisa menjadi andalan si penerima bantuan. Kapan saja, setiap saat, bantuan ini bisa berhenti. Kerawanan lain muncul dalam bentuk menempatkan si penerima pada posisi lemah, tak berdaya, sehingga bisa menjadi korban kesewenang-wenangan sang pemberi bantuan. Budaya angguk, budaya mengiyakan saja, atau budaya ‘Amin’ seringkali lahir dari hubungan yang tidak setimpal ini. Budaya “Amin” yang saya maksud adalah situasi di mana pihak-pihak yang lemah tak mampu lagi menyampaikan pendapat yang sehat, tak berani menyampaikan keberatan atau sanggahan atas pendapat pihak yang kuat. Pihak yang lemah hanya mampu mengiyakan atau mengaminkan segala pernyataan, pendapat atau keputusan yang datang dari pihak yang lebih kuat.

Beberapa tahun yang lalu saya datang ke sebuah institusi Katolik di Nias. Dengan seketika saya merasakan suasana aneh, di mana para pekerja lokal (baca: Ono Niha) begitu tak berdaya berhadapan dengan Ama atau Pater, yang memang terkesan sungguh-sungguh merasa lebih berkuasa dan lebih tahu akan segala hal. Lebih menyedihkan lagi, ada kesan para ere atau imam lokal juga masih merasa diri selevel di bawah para imam yang datang dari luar, padahal di hadapan Allah mereka sama-sama imam yang telah ditahbiskan.

Mengapa hal itu bisa terjadi ? Barangkali dapat dijelaskan seperti berikut. Biaya pendidikan para imam tadi selama menjalani pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga sekolah tinggi filsafat ditanggung oleh pihak Gereja. Tetapi di sinilah letak persoalan. Pihak Gereja di sini bisa berarti para pastor paroki atau pastor stasi (yang disebut Ama atau Pater itu) yang mengeluarkan uang dari kantong pribadi untuk menunjang biaya pendidikan para calon imam itu. Dalam hal ini, dana yang seharusnya mengatasnamakan Gereja tadi telah menjadi dana pribadi yang berakibat: para penerima bantuan melihatnya sebagai bantuan pribadi para pastor tadi, dan bukan bantuan Gereja Katolik. Perasaan berutang budi kepada pemberi bantuan telah merasuk ke dalam jiwa sang penerima. Pada hal, seiring dengan semakin sejahteranya umat, uang itu juga sebagian berasal dari umat lewat kolekte yang diterima pada setiap acara kebaktian.

Sisi negatif lain dari bantuan finansial informal (di bawah tangan) macam ini adalah lahirnya generasi muda yang manja atau lebih tepat dimanjakan oleh segelintir orang yang memiliki akses kepada sumber-sumber dana yang besar. Generasi manja ini akan menjadi generasi pemalas dan pengharap rejeki gratis dan bahkan menjadi generasi yang mau menghalalkan segala cara untuk mendapatkan bantuan cuma-cuma macam itu.

Mengingat rentannya mekanisme penyaluran bantuan informal ini terhadap berbagai penyelewengan dan ekses negatif, sebaiknya Gereja Katolik (di Nias) menciptakan mekanisme yang formal: penawaran beasiswa secara formal kepada anak-anak tak mampu yang memenuhi syarat-syarat minimal yang ditetapkan. Dengan cara ini, prosedur-prosedur ilegal dan pemberian bantuan kepada yang tak berhak terhindarkan. Penyaluran secara formal juga menjauhkan si penerima dari perasaan berutang budi terhadap sang pemberi, dan juga mencegah oknum-oknum tertentu untuk memanfaatkan posisinya untuk menggolkan tujuan-tujuan tertentu terhadap si penerima dana bantuan.

Penyaluran bantuan secara formal melalui kompetisi juga melahirkan kebanggaan bagi para penerima bantuan. Di mana-mana di berbagai belahan dunia, mendapatkan beasiswa adalah hal yang sangat diidam-idamkan dan menjadi kebanggaan para penerimanya. Suasana seperti itu harus diciptakan di kalangan generasi muda Katolik Nias yang menurut pengamatan penulis, sebagian telah terjangkit oleh budaya ‘menadahkan tangan kepada Ama’ tadi. Dengan demikian, setiap kali mereka menerima bantuan pendidikan atau bantuan-bantuan lain, jiwa mereka tidak dimanipulasi. Perlu dicatat bahwa penyaluran bantuan informal itu bukan hanya dilakukan oleh para imam, tetapi juga para pelayan Tuhan lain seperti para bruder, frater dan suster yang umum dikenal sebagai biarawan – biarawati.

***
Menurut pengamatan penulis, panggilan Ama dan Pater terhadap seorang imam Katolik di Nias secara psikologis menempatkan yang bersangkutan pada posisi khusus di hadapan pemanggil sebutan. Hal ini bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin mendominasi pihak lain. Barangkali perlu pembaharuan dalam tubuh Gereja Katolik (di Nias dan di Indonesia pada umumnya) untuk membatasi panggilan Ama dan Pater untuk situasi yang sangat khusus. Katakanlah ditujukan kepada para imam yang sudah sangat senior dari segi umur.

Bagaimana dengan kebiasaan Ono Niha memanggil para imam Katolik sebagai Ama atau Pater ? Saya cenderung menyarankan untuk menghilangkan sebutan ini karena alasan-alasan yang saya kemukakan di atas. Setiap kali saya mendengar sebutan Ama dan Pater ditujukan kepada seorang imam Katolik di Nias, pada saat yang sama saya menyaksikan penciptaan jurang yang tak perlu antara pemanggil sebutan itu dan penerimanya. Bahkan di antara para imam sendiri, Ama dan Pater menciptakan jurang yang mengangga, padahal para biarawan itu bersaudara. Kedua panggilan itu telah menjadi alat mendominasi di satu sisi dan sarana menghambakan diri di pihak lain.

Lantas bagaimana sebaiknya Ono Niha (yang beragama Katolik) memanggil para imam yang bertugas di Nias? Barangkali lebih baik mereka memakai istilah yang lebih netral, yang bebas dari muatan psikologis yang menekan, menjajah dan mendominasi. Mari kita memanggil mereka Pastor, yang tiada lain adalah: Gembala, gelar yang pas bagi mereka yang menggembalakan kita terutama di bidang spiritual. (e.halawa)

Leave a comment ?

17 Responses to Ama, Pater dan Budaya “Amin” Dalam Gereja Katolik (di Nias)

  1. Sam Gulo says:

    Komentar saya tentang tulisan ini:
    1. Bantuan2 yg diberikan utk para siswa, dlsb selalu berasal dr Gereja, dan ini selalu diberitahukan kpd para penerima (mis: dr Ordo/konggregasi tertentu, Keuskupan, dlsb), hanya harus diakui bhw efek psikologis antara pemberi dan penerima, pasti, sprti dlm tulisan di atas;
    2. Pastilah ada efek negatif dr bantuan2 itu, mis generasi pemalas, tp tentu pasti byk jg sisi positifnya. Harus diakui bhw melalui bantuan itu, dr para misionaris dulu, byk melahirkan generasi yg bermutu di masyarakat. Bahkan sebagian besar orang2 penting di Nias sekarang ini (yg beragama Katolik), atas jasa bantuan itu, termasuk kita?
    3. Biaya para pastor selama di Seminari Tinggi, bukan berasal dr para Pastor tertentu, tp ada pos khusus dr Luar Negeri, shg hal ini tdk menjadi jurang pemisah antara pastor2 pribumi dgn asing.
    4. Sebutan ‘ama’ atau ‘pater’ utk para pastor, menandakan kedekatan, dan memang dlm hal rohani, para pastor itu disebut ama atau pater, yg melayani dan mengayomi. Jadi tdk seperti layaknya hubungan tuan dan hamba. Tapi sebutan yg paling sering adalah ama dan pastor, sedangkan pater itu, jarang.

  2. robin asori laia says:

    Tanggapan saya dari tulisan di atas adalah penulis belum memahami betul bagaimana karakter dan adat nias. Perlu saya jelaskan bahwa nama pater itu jarang dipakai di nias khususnya yang beragama katolik, yang biasa adalah ama atau pastor. Memang betul di nias itu khususnya yang beragama katolik menganggap panggilan ‘AMA’ tehadap seorang pastor merupakan panggilan keakraban dan sekaligus panggilan kehormatan kepada pastor, dan hal itu merupakan sesuatu yang wajar dalam kehidupan masyarakat nias. Saudara penulis juga harus memahami bahwa mayoritas masyarakat nias hidup dibawah garis kemiskinan karena barbagai faktor diantaranya kurangnya perhatian pemerintah khususnya pembda setempat untuk membangun masyarakat nias terutama masalah pendidikan,transportasi dan pertanian. Jadi wajar saja apabila masyarakat nias yang menerima bantuan dari seorang pastor baik secara pribadi maupun atas nama gereja merasa diperhatikan, bukan berarti dimanjakan. Tidak semua orang yang menerima bantuan dari seseorang berarti menjadi malas, itu namanya bodoh. Dan seorang Imam atau ere tidak bermaksud menjadikan masyarakt nias jadi pemalas, tetapi hanya sebagai bentuk kepedulian terhadap umatnya yang merasa tertindas.

    Memang betul apabila bantuan itu disalah gunakan, efek negatifnya pasti ada, dan hal itu orang yang menerima bantuan itu yang menilai apakah dibalik bantuan itu ada tujuan yang tidak baik dan sebagainya.
    Tetapi sepengetahuan saya bahwa setiap bantuan yang diberikan oleh imam/pastor kepada umatnya itu karena ingin membantu atau meringankan beban keluarga yang bersangkutan.

    Jadi sekali lagi saya tekankan bahwa masyarakat nias khususnya yang beragama katolik tidak mempersoalkan bantuan yang diberikan oleh pastor dan juga tidak menganggap bahwa di balik itu ada tujuan tidak baik, sudah jelas masyarakat nias membutuhkan pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan masyarakat nias, pemimpin yang adil,tidak korup,tidak diskriminatif.

    Saya juga menanggapi tentang tulisan saudara yang mengatakan bahwa imam lokal merasa diri selevel dibawah imam yang dari luar. Perlu saya jelaskan bahwa para imam itu baik yang lokal maupun yang dari luar dalam menjalankan tugasnya sebagai pelayan umat atau kata lain”gembala” adalah sama. Hanya saja di dalam instansinya pasti ada yang namanya pimpinan pastor/kepala paroki. Dan yang bisa menjadi kepala paroki adalah Imam yang memang dari segi pengetahuan mampu menjalankan tugasnya dengan sungguh-sungguh untuk melayani umatnya.
    Tetapi apabila ada seorang Imam mau mempersoalkan posisinya dalam instansinya, atau tidak puas dengan jabatannya, saya tegaskan lebih baik tidak usah jadi seorang Imam. Kalau mau cari kedudukan dan jabatan,mungkin lebih baik jadi politisi saja.

    Demikian tanggapan saya, terimakasih.

    YAAHOWU BUAT MASYARAKAT NIAS.

  3. Hezekieli Ls. says:

    Menarik juga pembicaraan soal kasus ini.

    Aku menemukan blok ini, mohon dibaca baik-baik oleh orang Katolik:
    http://rlaia.blogspot.com/2009/04/rasa-malu-rohani.html

    http://rlaia.blogspot.com/2009/04/kebenaran-dan-kejujuran-tidak-selalu.html

  4. Stef. Ndr. says:

    Yang diceritakan di blog rlaia itu benar adanya. Para pastor lokal beradu antar sesamanya karena sebagian dimanjakan dan sebagian lagi dianaktirikan oleh para misioner itu. Terus sebagian besar para misionaris itu tidak mau bertugas di daerah-daerah terpecil, mereka sukanya di kota. Mana tahan, makanya dalam penempatan itu juga ada unsur politisnya. Dan karena itu siapa yang dekat sumber kekuasaan itu yang tinggal di daerah-daerah strategis.

    Memang seperti yang dikatakan ansoir laia, seharusnya imam yang mempersoalkan posisinya tak usah jadi imam. Tapi kan masalahnya ya itu tadi ada unsur politisnya. Yang tinggal di biara-biara yang mirip hotel mewah itu siapa? Mereka-mereka yang dekat dengan kekuasaan.

    Berbahagialah para imam yang hidup menurut kaulnya dan tidak ikut-ikutan dalam politik dunia ini.

    selemia

  5. robin a.laia says:

    Saya ingin mengomentari lagi tentang isi dari”raymond laia blog”. Terus terang saya sebagai penganut agama katolik khususnya, merasa prihatin dan sangat disayangkan kasus seperti itu kalau benar-benar terjadi di lingkungan para misionaris.
    Masalah ini sangat menarik buat saya pribadi karena ini menyangkut reputasi para imam khususnya dan agama katolik pada umumnya.
    Kita sadar bahwa para misionaris itu adalah manusia biasa yang tidak pernah luput dari segala godaan. Tetapi yang perlu saya sesalkan adalah mengapa kasus ini sampai beredar di dunia maya dan menjadi konsumsi publik? bukan berarti saya ingin menyembunyikan aib,tetapi seharusnya masalah ini diselesaiakan secara bijak dan tidak perlu diekspos ke media.Seharusnya yang bertanggung jawab dalam masalah ini adalah keuskupan atau pimpinan para imam.

    Mungkin hal ini dianggap sepele oleh saudara yang merasa diperlakukan
    tidak adil di dalam lingkungan misionaris dengan menuliskan keluh kesan yang dialaminya dan dibeberkan ke media misalnya apalagi dengan kalimat-kalimat yang tidak sepantasnya menjadi konsumsi publik.
    Bukankah hal ini menjadi bumerang buat saudara sendiri dan agama katolik pada umumnya. Saya Sebagai umat katolik tidak ingin kalau masalah ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab
    untuk mnenghina agama katolik,sekalipun sebenarnya kasus ini adalah personal. Nah, hal ini yang membuat saya pribadi mengomentari masalah ini sebagai bentuk kepedulian saya terhadap agama yang saya anut yaitu
    KATOLIK.

    Yang menjadi pertanyaan buat saya adalah bukankah imam itu melayani? bukan dilayani, sesaui dengan ajaran Tuhan kita Jesus Kristus. Apa artinya buat saudara yang mengatakan “pikul salibmu”. Maaf kata selama saya menjadi katolik tidak pernah saya mendengarkan ajaran Yesus mengatakan apabila “engkau membantu seseorang dan berbuat lebih dari yang lain maka engkau mendapat imbalan secara langsung”.Tetapi Yesus mengatakan “upahmu adalah di surga”. Bukankah ada ajaran Yesus mengatakan” barang siapa dikecilkan di dunia, maka dia akan dibesarkan di hadapan Allah”.

    Maaf saya sedikit bercerita tentang kehidupan saya, sewaktu saya masih duduk di bangku SMP, saya tinggal di asrama katolik di nias,dan sudah jelas bahwa anak-anak asrama di haruskan ke gereja dan mendapat giliran jadi mesdinar. Dan salah seorang teman saya bertanya kepada saya: apa cita-cita saudara setelah tamat? saya jawab:”sebenarnya saya ingin melanjut ke SLTA dan kuliah,tapi keadaan orang tua saya tidak mengizinkan untuk menyekolahkan saya”. Lalu teman saya itu mengatakan kepada saya:”sudah masuk seminari saja, biar bisa sekolah lebih tinggi dan mendapat keringanan biaya”,lalu secara spontan saya menjawab “oh ya, betul juga”. Tetapi lama kelamaan saya berubah pikiran dengan berkata dalam hati” saya tidak mau membohongi diri sendiri dan terlebih membohongi Tuhan” sebab saya menyadari bahwa memilih hidup menjadi misionaris bukan masalah gampang,dimana kita harus siap menjalani hidup tidak seperti orang lain, kita siap meninggalkan keluarga, tidak menikah, tidak memiliki harta,dan sebagainya.

    Mudah-mudahan saudara-sauadara saya yang membaca komentar saya ini bisa mengambil hikmatnya, dan saya minta maaf kalau misalnya saudara tersinggung dengan apa yang saya sampaikan dalam komentar ini,tidak lain tujuan saya adalah untuk memperbaiki cerita-cerita miring tentang
    misionaris.

    Saya pesankan juga buat Saudara-saudara saya yang memilih hidup menjadi misionaris, jalanilah dengan tulus dan ikhlas, semoga Tuhan memberkati saudara dan menguatkan saudara,Amin.

    SOHAGOLO, YAAHOWU.

  6. Hezekieli Ls. says:

    Saya samasekali tidak ingin campur urusan Agama Katolik dan tidak bermaksud buruk memberikan link di atas. Saya adalah alumni SD dan SMP Katolik yang terkenal di Gunungsitoli jadi secara tak langsung saya punya kenangan manis tentang pendidikan Katolik. Walau saya harus akui dulu saya juga suka dengar-dengar selentingan tentang para pastor yang lari dari rel.

    Seharusnya tidak menjadi konsumsi umum seperti yang dikatakan ansori laia. Tapi di pihak lain dari pada ditutup-tutupi tetapi makin busuk bagus juga kalau ada yang berani mengungkap kasus-kasus itu. Paling tidak dimulai dengan pembeberan seperti di blog rlaia itu. Tanpa blok itu siapa mengira semuanya baik-baik saja. Ternyata ada biara mirip hotel mewah, bahkan ada disebut soal fohorehore. Tentu saja masih perlu dicek kebenarannya.

    H. Ls.

  7. M. J. Daeli says:

    Hey Borokoa,

    Saya tidak berada pada posisi membenarkan dan menyalahkan tulisan anda ini. Tetapi menjadi pertanyaan ssya : Apakah anda menyadari tulisan anda itu menyentuh hal-hal yang sensitif ? Apalagi kalau anda tidak beragama Katolik bisa menimbulkan penafsiran lain. Juga dalam hidup bermasyarakat kita – Pancasila selalu berusaha menghindari publikasi yang menyentuh masalah SARA. Saya percaya Niasonline ini masih mempertahankan semangat menjauhi hal-hal yang bersifat SARA.
    Saran saya ada baiknya, dipikir ulang artikel ini, dan dihapus saja.

    Ya’ahowu

    M. J. Daeli

  8. Sam Gulo says:

    Jangan berdiskusi tentang sesuatu yg anda sendiri tidak tahu. Penulis Borokoa di atas mengatakan hanya pernah sekolah di SD dan SMP Katolik, tentu itu tdk cukup mengenal Gereja katolik. Maka pemikiran/pandangan beberapa saudara di atas tentang Gereja Katolik (kehidupan para misionars/pastor, dlsb), sangat minim. Lebih baik menulis tentang agamamu sendiri yang anda kenal, atau bahkan dirimu sendiri. “Siapa tidak bersalah, hendaknya dialah yg pertama melemparkan batu kpd perempuan itu”. Anda sendiri bagaimana? Tulisan2 hendaknya jangan yg menyangkut SARA, itu sangat sensitif. Biarlah orang2 Katolik memikirkan dirinya sendiri dan Gerejanya, mrk tahu apa yg terbaik utk kehidupannya. Lebih baik pikirkanlah dirimu sendiri, anak2mu, istrimu dan Gerejamu, karena itulah yg saudara tahu. Kami juga tdk mencampuri urusanmu dan rumah tanggamu dan Gerehamu, apakah kamu putar balikkan, itu urusanmu sendiri.

  9. Redaksi says:

    Sdr/i Pengunjung yth,

    Di sistem keredaksian Nias Online, ada yang disebut: administrator situs. Mereka ini yang menayangkan tulisan atau berita-berita di situs ini. Mereka hanya “penayang” atau “pemuat” berita/tulisan dan bukan “penulis” berita/tulisan itu. Situs ini menggunakan wordpress sebagai platform; dengan wordpress, setiap berita akan diawali dengan identitas “penayang”, dan bukan penulis berita/tulisan. Sebagai contoh artikel di atas ditayangkan oleh (by) Borokoa. Borokoa adalah anggota Tim Redaksi, penayang atau pemuat tulisan itu di Nias Online. Penulis dari artikel itu bisa ditemukan di awal berita atau di akhir berita. Untuk artikel di atas, penulisnya adalah: e.halawa -> tertera di bagian bawah artikel. Soal agama penulis, silahkan menghubungi yang bersangkutan. Yang berminat menghubunginya lewat email, bisa mengirim permintaan kepada Redaksi: ni*********@***il.com.

    Salam,

    Redaksi

  10. Sam Gulo says:

    Ada benarnya, tp Borokoa kan bisa sensor, mana yg bisa dimuat dan mana yg tidak, mana yg menyangkut SARA dan mana yg tidak. Drpd capek2 mengurusi rumah tangga orang lain, yg Anda sendiri tidak tahu, lebih baik tulis sesuatu yg berguna dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat Nias dewasa ini, seperti kemiskinan, ketiadaan lowongan kerja, korupsi, perampokan, dlsb. Klu situs2 dr Luar Negeri, bisa dimengerti, krn merka negara kekular, tulis apa saja, ndak masalah. Borokoa? Marilah kita menyumangkan pemikiran utk membangun Nias ke depan. Biarkanlah orang katolik memikirkan yg terbaik utk Gerejanya, dan anda tidak perlu campur tangan utk hal2 itu, lebih baik urus dirimu sendiri, anak2mu dan istrimu.

Reply to Redaksi ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>