Archive for March 14th, 2010 | Daily archive page

Rabies declared endemic in Nias Island

Sunday, March 14th, 2010

The Jakarta Post | Tue, 03/09/2010 3:46 PM | National

North Sumatra Animal Husbandry Agency head Teti Erlina Lubis said Tuesday that she had declared rabies endemic in Nias Island following the recent death of a local health agency head due to a bite from a rabies-infected dog.

North Nias health agency chairman Christian Zai was reported to have died on Thursday apparently after being bitten by his own dog.

Teti said in Medan, North Sumatra, that her team had conducted a thorough test on the dog and found that the animal was infected with rabies. She said she believed most dogs in Nias Island were infected with the disease.

“We have delivered a total of 18,000 doses of anti-rabies vaccine to Nias Island so far,” Erlina said as quoted by kompas.com.

http://www.thejakartapost.com/news/2010/03/09/rabies-declared-endemic-nias-island.html

Nias Butuh Balai Karantina Hewan

Sunday, March 14th, 2010

Medan, Kompas – Pulau Nias hingga kini belum memiliki balai karantina hewan. Pemikiran untuk mendirikan balai karantina muncul pasca-masuknya virus rabies ke Pulau Nias, Sumatera Utara, yang diduga mulai masuk pada akhir tahun lalu.

”Sudah ada pemikiran untuk membuat balai karantina. Hari Jumat tanggal 12 nanti, Gubernur melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait di Medan, termasuk balai karantina, pemerintah daerah di Pulau Nias, dan dinas kesehatan,” tutur Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Sumatera Utara Mulkan Harahap, Selasa (9/3).

Analisis Dinas Peternakan Sumut sementara menunjukkan bahwa virus diduga masuk lewat hewan pembawa rabies atau HPR dari Pulau Sumatera melalui jalur laut. Selama ini lalu lintas manusia dan hewan secara intens masuk ke Pulau Nias dari Tapanuli Tengah-Sibolga melalui jalur laut. Di sisi lain, pulau dengan satu kota dan empat kabupaten itu belum memiliki balai karantina untuk pintu masuk, baik dari laut maupun udara. ”Masih perlu penelitian lebih lanjut dari mana virus berasal,” kata Mulkan.

Menurut Mulkan, Dinas Peternakan Sumut telah mengajukan draf surat penutupan sementara lalu lintas HPR, yakni anjing, kera, dan kucing, ke Pulau Nias selama enam bulan. Draf surat sudah masuk ke Biro Hukum Pemerintah Provinsi Sumut.

Bupati Nias Binahati Baeha mengakui, Pulau Nias belum punya pengalaman mengatasi rabies sebab selama ini dinyatakan bebas dari rabies. Maka, pemerintah kabupaten/kota banyak yang tak punya vaksin antirabies berikut tenaga vaksinatornya.

”Tapi, kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah di lima kabupaten/kota di sini,” tutur Binahati.

Kasus gigitan anjing gila pertama kali terjadi kepada Elvi Kristiani Lase (7) di Desa Saewe, Kota Gunungsitoli. Elvi digigit anjing gila pertengahan November dan meninggal 11 Januari 2010. Selain Elvi, korban lain adalah Rosila Ndraha (52) di Desa Idanö Tae yang digigit anjing tanggal 17 Desember 2009 dan meninggal pada 4 Februari 2010.

Kasus lain menimpa Amina Zega (70), warga Desa Gawugawu Bauso, yang digigit anjing pada awal Desember dan meninggal 1 Februari 2010. Selain mereka, juga ada Elisari Arefa (51), warga Desa Leleana, yang digigit anjing pada 27 Desember dan meninggal pada 30 Januari 2010.

Kasus terakhir menimpa Kepala Dinas Kesehatan Nias Utara Christian Zai (40). Korban digigit anjing awal Januari dan meninggal 6 Maret lalu.

Penanganan rabies di Nias, kata Mulkan Harahap, sulit karena populasi anjing di pulau itu diperkirakan puluhan ribu ekor, sementara sampai saat ini hanya ada empat tenaga vaksinator. Vaksinasi juga sulit dilakukan pada siang hari karena warga bekerja. (WSI)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/10/03574737/nias.butuh.balai.karantina.hewan