*Sebuah Pengantar
Oleh Erix Hutasoit
Kemiskinan di Pulau Nias adalah anomali. Tidak seharusnya kemiskinan â€berjangkit†di daerah yang kaya akan sumber daya alam. Pulau Nias punya keindahan alam, punya tanah yang produktif, punya laut yang kaya akan ikan dan hasil lainnya, punya orang-orang yang kuat bekerja. Jika kita mengunjungi desa-desa di puncak gunung di daerah Gomo sana. Kita akan berjumpa dengan orang asli Nias yang tenaga nya begitu kuat. Dan mereka pun rajin bekerja.
Dari titik ini lah saya menyimpulkan kemiskinan di Pulau Nias bukan kemiskinan natural. Melainkan kemiskinan struktural. Kemiskinan yang disebabkan sistem yang tidak beres dan tidak adil (injustice system).
Mari saya ajak Anda menelusuri sejenak jejak-jejak injustice system itu. Kita berangkat dari segi pertumbuhan ekonomi. Jika kita baca laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Kita akan temui fakta spektakuler bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nias jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Sumatera Utara.
Fakta yang lebih fantastis terjadi di tahun 1998-1999. Di tahun 1998, perekonomian Nias ambruk ke angka sekitar minus 10 persen. Tapi kejatuhan ini dapat dimaklumi, karena pada tahun itu Indonesia sedang diguncang kekacauan ekonomi. Namun setahun kemudian, pertumbuhan ekonomi Nias melonjak sekitar 15 persen. Ini menunjukkan betapa produktif nya perekonomian Nias.
Jika kita ikuti teori pertumbuhan ekonomi. Harusnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu akan membawa dampak pada pemerataan kesejahteraan. Akan tetapi Trickle Down Effect yang diyakini dapat mendistribusikan kesejahteraan, ternyata tidak â€tiba†di Nias.
Pertumbuhan yang tinggi itu, malah berbanding terbalik dengan angka kemiskinan. Kemiskinan terus meningkat. Alhasil pada tahun 2004, Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias â€dinobatkan†sebagai kabupaten termiskin pertama dan kelima di Sumatera Utara.
Inilah yang menggiring nalar kita pada pertanyaan kritis, â€Siapa seh yang menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu ?â€
Mari kita kembali telusuri perekonomian Nias untuk menemukan jawabnya. Berdasarkan data BPS di tahun 2005. Lebih dari 46 persen perekonomian Nias di topang oleh sektor pertanian; urutan kedua ditempati sektor perdagangan sebesar 21 %. Sektor jasa-jasa memberikan kontribusi sebesar 11 % dan berada di peringkat ketiga. Sedangkan peringkat keempat adalah sektor bangunan yang menyumbang 10 %.
Tapi yang terjadi adalah paradoks. Sektor pertanian malah menjadi penyumbang angka kemiskinan terbanyak. Artinya orang miskin di sini umumnya adalah petani. Kok bisa ?
Mari kita lihat kembali data BPS. Pada tahun 2004 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Nias adalah Rp.200.106.529.780,-. Dimana sektor pertanian menyumbang 41,09 persen. Dan sektor perdagangan hanya berkontribusi sebesar 21,78 persen .
Akan tetapi dari segi distribusi (penyebaran) terjadi kesenjangan yang besar. Petani yang berjumlah 341.130 jiwa hanya memperoleh bagian dari PDRB sebesar Rp.1.900.000,-/kapita. Sedangkan pedagang yang jumlahnya hanya 15.040 jiwa, meraup Rp.26.000.000,-/kapita. Artinya perbedaan PDRB perkapita antara petani dan pedagang sebesar 1 berbanding 13. Dan jurang antara si miskin dan si kaya di Nias semakin jauh terbentang.
Merujuk pada Gunawan Sumodiningrat dalam Pemberdayaan Sosial; Kajian Ringkas Pembangunan Manusia Indonesia (2007). Dia menyebut kesenjangan terjadi apabila 20 persen penduduk yang tergolong kaya meraih 50 persen atau lebih dari GNP (Gross National Product). Untuk tingkat kabupaten dari bisa lihat dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto).
Inilah yang menggiring kita pada pertanyaan lain, â€Bagaimana caranya 20 persen penduduk kaya itu mampu meraup lebih dari setengah perekonomian Nias ?â€
Nias dalam Pusaran Hukum Pasar: M-C-M`
Bagian ini saya mulai dengan mengutip Noniwati Telaumbanua dalam Kepulauan Nias: Konsekuensi Sebuah Ketidakstabilan dan Ketidakpastian Kondisi Alam (Bagian II) (2007):
“Dunia bisnis berpusat di Gunungsitoli, Teluk Dalam dan Lahewa, namun tidak diimbangi dengan ketangguhan penduduk untuk menguasai sektor-sektor vital, melainkan dipegang oleh pendatang, baik sebagai badan tunggal maupun sebagai pemodal kuat. Wilayah ini menjadi bergantung sekali dengan fluktuasi pasaran yang ditetapkan secara otonom oleh penguasa pasar yang berada di tiga kota di atas…â€
Dari paragraf ini saya menyimpulkan. Pertama, sektor bisnis di Pulau Nias terpusat pada tiga kota yaitu Gunungistoli, Teluk Dalam dan Lahewa. Kedua, sektor bisnis itu dikuasai oleh para pendatang sebagai pemilik modal (kapitalis). Ketiga, kelompok ini secara otonom menjadi “decision of price†(penentu tingkat harga-harga).
Nah, sebentar kita beralih ke teori-teori seputaran pertukaran (perdagangan). Karl Marx dalam buku babon nya Das Capital: A Critique of Political Economy Volume I (1954) pada bagian kedua The Transformation of Money into Capital. Menyebut bahwa pertukaran dalam masyarakat kapitalis mengambil rumus Money – Commodity – Money (M-C-M).
Menurut hukum ini, si kapitalis memulainya dengan uang (M) untuk membeli komoditi (C). Komoditi tersebut kemudian dijualnya untuk memperoleh uang lagi (M2). Marx menamakan tahap pertama ini (M – C) sebagai kapital pendahuluan (Advanced Capital), dan tahap kedua (C – M) sebagai kapital kerja (Relation of Capital).
Tetapi, Marx mengingatkan bahwa keseluruhan proses ini (M – C – M ), tidak ada maknanya, jika si kapitalis hanya mendapatkan uang sebesar uangnya semula. Misalnya, jika semua ia memiliki Rp. 1000,- (M), kemudian digunakannya untuk membeli atau memproduksi sepatu seharga Rp. 900.- (C), dan menjual sepatu itu dengan harga dasar Rp. 1.000,- (M).
Bagi Marx, pertukaran model ini bukanlah cara produksi kapitalis. Karena itu, Marx menuliskan kembali rumusnya ini menjadi M – C – M’, dimana M’ (M plus) mewakili jumlah yang lebih besar dari M atau M’ > M. Uang senilai Rp. 1000,- (M) yang digunakan untuk membeli atau memproduksi sepatu senilai Rp. 900,- (C). Sepatu itu kemudian dijual menjadi Rp. 1.100 (M’). Dari proses ini, si kapitalis mendapatkan tambahan uang senilai Rp. 100,- yang kemudian sirkuit ini terus berputar tanpa henti. M’ inilah yang nantinya disebut Marx sebagai “nilai lebih“.
Pada tahap M – C – M’, yang disebut Marx dengan istilah sirkuit uang, si kapitalis memproduksi komoditi bukan untuk konsumsi tapi, untuk dijual dengan tujuan semata-mata akumulasi nilai uang. Demikian pula, si konsumen membeli barang bukan semata-mata bertujuan memenuhi kebutuhannya. Proses M – C – M’ ini terjadi dalam situasi yang tidak pernah usai dan diam, sehingga terjadi apa yang disebut surplus product (kelebihan produksi).
Dalam konteks Pulau Nias, hukum inilah yang berlaku dalam dua fase. Fase pertama, pemilik modal menggunakan uangnya (M) untuk membeli komoditas (C) seperti karet, kopra, coklat dengan harga yang murah. Kemudian menjual kembali Komoditas itu dengan harga mahal (M2). Dari sana pemilik modal mendapat keuntungan. Tapi fase kedua adalah keuntungan yang dapat dari memasok barang-barang dari Sumatera daratan ke Nias dengan cara yang sama.
Inilah yang membuat kelompok pemilik modal seperti pedagang mampu menguasai lebih dari 50 persen perekonomian Nias.
Sampai disini, saya menyimpulkan bahwa kemiskinan di Pula Nias sangat dipengaruhi oleh sistem kapitalisme. Pemilik modal terlalu “berkuasa†dalam mendikte tingkat harga. Dan mereka seolah tidak terjamah oleh kekuatan apapun.
Tidak anehlah kalau Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menepatkan Pulau Nias sebagai daerah yang paling amburadul tata kelola ekonominya.
Sampai disinilah untuk sementara penelusuran kita tentang akar kemiskinan di Nias. Akan lebih menarik lagi, jika ada yang berminat untuk melakukan pendalaman. Menemukan siapa aktor-aktor yang terlibat dan bagaimana pola keberlangsungan sistem kapitalisme di Pulau Nias ini. Salam***
Erix Hutasoit, bekerja untuk salah satu lembaga sosial di Nias.
Bila memperhatikan perkembangan diskusi ini, rasa-rasanya semakin lama semakin jauh dari hakikatnya yakni “Menelusuri Akar Kemiskinan [di] Nias†sesuai dengan judul artikel yang ditulis oleh saudara Erix Hutasoit. Dengan mencermati judulnya maka sudah sepantasnya seorang pembaca artikel ini berharap akan memperoleh wawasan tertentu mengenai masalah kemiskinan di Nias sebagai sebuah masalah kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian bersama.
Sejatinya, seiring dengan berkembangnya diskusi ini juga dengan meluasnya cakupan melalui curahan buah pikiran dari para pemberi komentar terhadap artikel ini, para pembaca serta mereka-mereka yang terlibat serta mempunyai kepedulian akan masalah ini, diharapkan akan memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai kemiskinan di Nias, sehingga dengan demikian mereka dapat mengambil tindakan serta kegiatan yang tepat dan menyentuh akar permasalahan yang ada dalam upaya membantu setidaknya meringankan dampak dari kemiskinan ini terhadap rakyat dan masyarakat Nias dan bahkan bila mungkin mengentaskan mereka dari lembah kemiskinan.
Namun bila melihat perkembangannya sejauh ini, agaknya tidak terlalu bersalahan bila seorang pembaca akhirnya berkesimpulan bahwa artikel ini sebenarnya ditulis hanya untuk menghadang dan mematahkan faham ekonomi kapitalis serta memperkuat faham ekonomi Marxis yang kelihatannya dianut secara fanatik oleh penulisnya.
Ini dapat terlihat dari kesimpulan yang sempit, dangkal, dan terburu-buru dari penulis artikel ini bahwa kemiskinan di Nias adalah kemiskinan yang penulis sebut sebagai kemiskinan struktural yang merupakan akibat dari sistem yang tidak adil. Bila menyimak paragraf terakhir dari artikel ini yang berbunyi: “Sampai disinilah untuk sementara penelusuran kita tentang akar kemiskinan di Nias. Akan lebih menarik lagi, jika ada yang berminat untuk melakukan pendalaman. Menemukan siapa aktor-aktor yang terlibat dan bagaimana pola keberlangsungan sistem kapitalisme di Pulau Nias ini,†di sini terlihat jelas bahwa penulis berusaha mengerucutkan dan mempersempit masalah kemiskinan di Nias hanya pada masalah kapitalisme semata dan mengesampingkan kemungkinan adanya berbagai faktor lain yang turut berpengaruh dalam tercipatanya kondisi kemiskinan seperti sekarang, sehingga dalam artikel ini, peluang untuk mengkaji kemiskinan di Nias dari sudut pandang yang lain menjadi tertutup.
Meskipun artikel ini sepintas terpaparkan dengan sangat simpatik dan menyajikan data-data yang cukup sahih, tetapi bila dicermati lebih lanjut, dalam artikel ini tidak terlihat secara jelas arah yang menuju pada tujuan seperti diharapkan. Inilah yang disentil oleh salah seorang pemberi komentar yaitu sesepuh kita Bapak. M. J. Daeli, di komentar no. 43 yang beliau sebutkan sebagai kejelasan alur pikir yang tampaknya agak sulit ditemukan dalam artikel ini.
Selain itu dalam menanggapi para pemberi komentar terhadap tulisannya, penulis tampak lebih sibuk pada upaya untuk sebisa mungkin mempertahankan argumenya dengan mengumpulkan sebanyak mungkin rujukan dan data-data yang tak terbantahkan, juga tidak jarang melemparkan kekeliruan kepada para pembaca dan pemberi komentar ketimbang membuka peluang untuk membahasnya bersama-sama untuk mencari kesimpulan yang menyeluruh agar hakikat sesungguhnya serta tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Tidaklah mengherankan bila dalam perkembangannya artikel ini menuai berbagai komentar “tajam dan cenderung pedas†yang menurut hemat saya bertujuan untuk mengembalikan alurnya pada arah yang seharusnya.
Sebuah kenyataan yang pasti bahwa sebagian besar penduduk Nias adalah miskin. Mengurai benang-benang akar kemikinan yang tidak hanya di Nias bisa lebih rumit daripada mengurai segumpal benang kusut dan basah. Tentu akan rumit pula upaya pencarian solusi atas permasalahan itu. Adalah ironi bila kita dengan sadar menggeluti masalah ini demi keagungan diri pribadi kita. Alangkah lebih mulia bila kita mengangkat dan berjuang atas masalah ini dengan semangat keibaan yang tulus seorang manusia yang peduli terhadap sesamanya.
Salam
Hai Fredy, apa kabar ?
Wah, senang bisa ikutan komentar. Soal nick name itu, bukan masalah lagi bro. Biasalah itu. Aku juga yang salah, lupa menghapusnya hehehehe..
Buat kawan-kawan sekalian. Wah, ternyata sudah panjang juga ya diskusi ini. Perdebatan kita menggingatkan saya pada Andreas Harsono. Bagi pegiat dunia jurnalistik pasti kenal dia. Andreas adalah mantan direktur PANTAU. Beberapa waktu lalu, laporan penelitian Andreas dan S. Eben Kirksey yang berjudul ‘Criminal Collaborations? Antonius Wamang and the Indonesian Military in Timika’ dipublikasikan oleh Jurnal South East Asia Research di London, UK. Laporan itu menganalisi dugaan keterlibatan TNI dalam kasus pembunuhan warga Amerika Serikat di Timika, Papua. Segera setelah laporan itu dipublikasikan, berbagai polemik dan kometar bermunculan. Tentunya si penulis pasti tidak luput dari serangan kritik dan komentar pedas.
Tapi Andreas Harsono menanggapinya dengan dingin. Dalam wawancara dengan Aseanthy Pahlevi dari JPNN, Andreas mengatakan,†Aku cuma wartawan. Tugasku melaporkan kebenaran sebisaku, sedekat mungkin. Bisa baik, bisa buruk. Kadang menyenangkan orang, kadang bikin sakit hati. Biar warga yang memutuskan sendiri. Tugas wartawan memang hanya jadi pembawa pesan. Terserah pembaca untuk mengambil sikap.â€
Saya pikir, sayapun harus seperti Andreas Harsono. Saya serahkan semuanya kepada pembaca. Saya hanya mengungkapkan sesuatu yang saya pahami. Bisa itu baik, bisa juga buruk. Tergantung pengetahuan dan kedekatan si pembaca dengan sumber masalah. Setidaknya saya sudah memberikan alternatif untuk melihat masalah kemiskinan di Pulau Nias ini. Walaupun dengan cara pandang yang tidak familiar di Indonesia.
Soal benar, salah, baik dan buruk, seperti saya tulis diatas. Itu tergantung pembaca dan waktu. Galileo Galilei sebagai contoh, dulunya dia dianggap “salah†ketika mengatakan dunia itu bulat, karena kebetulan alur berpikir pada masa itu kuasai paham yang mengganggap dunia itu “datarâ€. Barulah beratus tahun kemudian, teori Galileo terbukti. Jika saja, pada masa lalu Galileo tidak berani menyatakan pendapatnya. Tentulah kita semua masih berpikir bahwa bumi itu “datar†heheehehehe….
Buat redaksi. Terima kasih banyak telah memfasilitasi diskusi ini dengan baik. Netralitas yang anda tunjukkan, membuat diskusi ini menjadi menarik dan berkembang. Saya berdoa semoga situs ini bisa panjang umur. Selamat merawat situs niasonline.
Salam,
Erix
Akhirnya… baca ’Suling emas dan naga siluman’ rampung. Di pulau Kim-coa-to yg terltak di Laut Kuning beberapa mil dari muara Sungai Huai, Syanti Dewi putri raja Buthan itu dipinang Pangeran Mahkota Kian Liong dari kerajaan kaya-raya Ceng-tiauw yg kuasai daratan Tiongkok. Tapi Sang Putri malahan kawin dengan Ang Tek Hoat yg berjuluk Si Jari Maut dia saat itu jadi jembel pengelana dan miskin. Tapi jangan dikira, Si Jari Maut ini keren juga neneknya adlah Lulu istri kedua Suma Han Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es. Di ujung karanganya Asmaraman Kho Ping Hoo menulis: Sebagai akhir kalimat, pengarang hanya mengharapkan semoga cerita ini seperti cerita-cerita yg lain dapat menghibur hati para pembaca dan ada pula bagian-bagian yg mengandung manfaat bagi kesadaran kita bersama dalam kehidupan yang serba rumit ini.
Demikian juga diskusi kita ini harapan saya: Semoga ada pula bagian-bagian yg mengandung manfaat bagi kesadaran kita bersama dalam kehidupan yg serba rumit ini… Sampai jumpa di lain cerita… 🙂
Kejutan baru nih … dari Bang Erix:
“Galileo Galilei sebagai contoh, dulunya dia dianggap “salah†ketika mengatakan dunia itu bulat, karena kebetulan alur berpikir pada masa itu kuasai paham yang mengganggap dunia itu “datarâ€. Barulah beratus tahun kemudian, teori Galileo terbukti. Jika saja, pada masa lalu Galileo tidak berani menyatakan pendapatnya.”
Idih … Bang Erix Galileo abad 21 nih yeh. Minta tolong boleh gak bang Erix crita nasib Galileo itu? Mengapa Galileo sampai dikucilkan gitu? Merry juga melihat Bang Erix mirip-mirip Galileo … sekurangnya dari pernyataan Bang Erix sendiri.
Merry Z
Buat mbak (cici) Merry Z. Denger-denger cerita orang-orang tua zaman dahulu kala… bumi ini berupa piringan dilingkarin seekor ular raksasa loh. Makanya waktu Sirao dari teteholi ana’a nurunin anaknya Hia di selatan dan Gözö di utara Nias akibatnya bumi ngelengkung mirip penyu. Lalu Daeli diturunin di Tölamaera malahan tanah miring mirip sayap elang. Barulah waktu Hulu diturunin di Lölömbuyu bumi jadinya datar…
Aih… menarik juga cerita Galileo Galilei bumi bulat beda daripada paham orang Nias dahulu. Di perpus saya pernah liat loh buku ttg Galileo kisah sejati anaknya yg jadi biarawati Suster Maria Celeste, tapi belon sempat bacanya malah sekarang dah gak ada… Nhah… boleh juga kalo permohonan cici Merry berkenan diterima mas (koko) Erix gantian cerita kependekaran Galileo-taihiap ke kita… sekedar refresing lah, habisnya cerita marxis dan kapitalis berpusing-pusing sih… biar kita ni gak… pusiiing…
Wah,
Mas Erix..Mas Erix…Sampean ini dibuat seperti alat pemuas saja. Orang-orang pada sesukai hatinya melempar pertanyaan yang ngak nyambung (hehehehehe..)
Tapi kalo Mas Erix mau jawab, ya monggo. Kalau saya mah, ogah jawab yang begituan. Menghabiskan energi saja heheheeh..
Saya pikir, orang-orang yang komentar disitus ini beruntung banget, Mas Erix mau menjawab dengan sabar. Walau kalau saya baca komentar yang ada, buat saya miris. Orang-orang ini berkomentar karena rasa ingin tahu atau karena rasa tidak suka..
Ya wes lha mas, selamat buat kesabarannya. Setidaknya mas sudah membudayakan diskusi yang sehat..
-R-
Peserta diskusi yang saya hormati,
Pada awal mengikuti diskusi saya percaya bahwa kita semua sebagai yang senang ilmu berusaha berpikir teratur dan teliti. Seoran ilmuwan, bukan saja jalan pikirannya mengalir melalui pola-pola yang teratur namun juga segenap materi yang menjadi bahan pemikirannya dikaji dengan teliti. Juga tidak menolak atau menerima sesuatu secara begitu saja tanpa pemikiran yang cermat. Kita bersedia terlibat dalam diskusi ini karena keresahan dan memiliki kepedulian yang sama terhadap “kemiskinan†yang melanda masyarakat kita dewasa ini. Jadi diskusi ini positif dan mansuaiwi.
Karena modal awal yang saya miliki seperti itu, bagi saya tanggapan Saudara Erix pada no. 72 suatu hal yang aneh. Kok… begitu yaaaaa!!!! Saya kutip (huruf besar, pen.) pandangan tersebut :
SAYA PIKIR, SAYAPUN HARUS SEPERTI ANDREAS HARSONO. SAYA SERAHKAN SEMUANYA KEPADA PEMBACA. SAYA HANYA MENGUNGKAPKAN SESUATU YANG SAYA PAHAMI. BISA ITU BAIK, BISA JUGA BURUK. TERGANTUNG PENGETAHUAN DAN KEDEKATAN SI PEMBACA DENGAN SUMBER MASALAH. SETIDAKNYA SAYA SUDAH MEMBERIKAN ALTERNATIF UNTUK MELIHAT MASALAH KEMISKINAN DI PULAU NIAS INI. WALAUPUN DENGAN CARA PANDANG YANG TIDAK FAMILIAR DI INDONESIA.
SOAL BENAR, SALAH, BAIK DAN BURUK, SEPERTI SAYA TULIS DIATAS. ITU TERGANTUNG PEMBACA DAN WAKTU. GALILEO GALILEI SEBAGAI CONTOH, DULUNYA DIA DIANGGAP “SALAH†KETIKA MENGATAKAN DUNIA ITU BULAT, KARENA KEBETULAN ALUR BERPIKIR PADA MASA ITU KUASAI PAHAM YANG MENGGANGGAP DUNIA ITU “DATARâ€. BARULAH BERATUS TAHUN KEMUDIAN, TEORI GALILEO TERBUKTI. JIKA SAJA, PADA MASA LALU GALILEO TIDAK BERANI MENYATAKAN PENDAPATNYA. TENTULAH KITA SEMUA MASIH BERPIKIR BAHWA BUMI ITU “DATAR†HEHEEHEHEHE…
Cara Saudara Erix melihat kemiskinan, menurut pengakuan Saudara Erix sendiri “tidak familiar di Indonesiaâ€. Saudara Erix: Apa yang tidak familiar ? Terus terang saya tidak ada prasangka demikian pada artikel Saudara Erix. Permasalahan kemiskinan adalah manusiawi. Tidak tergantung pada jenis bangsa, suku, keluarga, atau peribadi. Kalau miskin … yaaaa … miskinlah. Bagi saya dan saya lihat demikian juga pengkomentar yang lain, berpendapat tidak tabu berdiskusi mengenai kemiskinan. Mana dari tulisan Erix tentang kemiskinan yang tidak familiar? Atau yang terkait dengan kemiskinan di Nias ? Adalah tidak wajar apabila Saudara Erix menulis mengenai kemiskinan di Nias dengan SPRITUALITAS TIDAK FAMILIAR. Jadi, wajar anak bangsa ini mengharap penjelasan yang tidak “tidak familiar†itu ?
Saudara Erix dan peserta diskusi : jangan bermimpi akan ada seperti Galileo pada diskusi ini. Saudara Erix jangan ( kita ) bermimpi. Galileo dihargai berkat prestasi praktisnya, lebih-lebih dinilai tinggi berkat isi informasinya, kemampuanya membebaskan akal dari prasangka dan kepercayaan lama dan sebagai gantinya menyodorkan kepada kita dugaan-dugaan baru dan hipotetis yang berani. Apakah Saudara Erix merasa telah mencapai cara berpikir seperti itu (Galileo) dalam diskusi ini ? Alternatif pemikiran apa yang menurut Saudara Erix telah sumbangkan terkait dengan artikel Saudara “Mencari Akar Kemiskinan di Nias†? Jawab sendirilah ! Tetapi sepengetahuan saya (dari tulisan Saudara Erix) tidak ada. Dari pada bermimpi menjadi Galileo, lebih baik kita tenang, jujur, memakai akal sehat mendengar “desis†Hamlet kepada Horatio :“ AH HORATIO “, “MASIH BANYAK LAGI LANGIT DAN BUMI, SELAIN YANG TERJARING DALAM FILSAFATMU†(William Shakespeare , Bab I adegan 5). 2000 tahun yang lalu juga Pilatus bertanya : “Apa itu kebenaran� Heheeeee….!!!!
Baiklah, kita kembali pada pokok diskusi. Saudara Erix berpendapat bahwa kemiskinan di Nias adalah kemiskinan struktural. Tanpa pernyataan setuju atau tidak setuju pendapat itu, apabila sungguh-sungguh memahami arti kemiskinan struktural, maka tentu langkah yang ditempuh untuk mencari akar kemiskinan ialah dengan mengembangkan policy reseach. Maksudnya : meneliti kebijaksanaan – kebijaksanaan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan. Kita mengetahui bahwa dalam negara berkembang, termasuk negara kita – Indonesia, pelaksanaan pembangunan sentralis sifatnya. Melalui policy reseach ini dilakukan policy analysis sehingga terungkap pihak mana yang diuntungkan dan pihak mana yang dirugikan oleh kebijaksanaan pembangunan tertentu (lihat James, S. Coleman: Policy Research in the Society Sciences, General Learning Press, 1972). Temukan dan lakukan analisa atas kebijaksanaan pemerintah tentang pembangunan untuk menemukan akar yang merugikan kepentingan petani (dalam konteks diskusi ini). Kalau demikian, apakah Saudara Erix setuju bahwa akar kemiskinan strutural tidak pada strutur/lapisan tanah dan tidak pada teori-teori ekonomi murni atau data statistik. Teori-teori dan data statistik (yang relevan) hanya berfungsi sebagai penunjang untuk LEBIH menjelaskan hasil policy analysis.
Bagus kalau mau diteruskan, sebab : “putus asa adalah dosaâ€.
M. J. Daeli.
Pak Daeli..
Bukunya si James, S Coleman itu diterbitkan tahun 1972 ya pak.
Apa masih relevan dipakai ? Inikan sudah tahun 2008. Artinya sudah hampir 36 tahun yang lalu buku itu ditulis. Apa masih cocok untuk jaman sekarang..
Dear Bapak M.J Daeli…
Tentulah saya bukan Galileo yang terkenal itu. Saya tidak secerdas dan seterkenal Galileo. Saya hanya seorang pekerja NGO yang kebetulan bekerja di Pulau Nias. Tidak ada yang special dengan latar belakang saya..
Kalaupun saya, menuliskan artikel diatas, itu semua berdasarkan pengamatan, refeleksi, diskusi dan pergumulan pribadi atas apa yang saya lihat, dengar dan rasakan. Saya coba menuliskan semua perasaan-perasaan itu berdasarkan pengetahuan dan kapasitas saya yang terbatas.
Walau demikian, saya tetap berusaha menulis secara bertanggung jawab. Saya tidak sekadar mencomot “teori†tanpa mengikut sertakan data-data yang ada. Untuk ukuran Pulau Nias yang baru â€terjamah†pasca tsunami dan gempa. Tidaklah mudah untuk mendapatkan analisis yang akurat tentang kemiskinan yang terjadi di Pulau ini. Apalagi mendapatkan data-data pendukung yang berkaitan erat dengan itu.
Tahun 2005, tepatnya hari kedua pasca gempa. Saya sudah bekerja di Pulau ini. Lebih dari setengah tahun saya membantu proses emergency. Selama kurun waktu itu, saya melihat pelbagai fenomena sosial, seperti penjarahan rumah-rumah pedagang kaya dll. Saya juga mendengar dengan baik, bagaimana ketimpangan yang puluhan tahun terpendam, seolah meledak pasca gempa terjadi. Orang-orang berlomba menjarah rumah tetangganya. Kejadian-kejadian itu begitu menusuk nalar, saya bertanya : kok bisa ya tetangga menjarah tetangga nya? Sampai saya meninggalkan pulau Nias di akhir tahun 2005, jawaban atas pertanyaan saya itu tidak ketemu.
Satu setengah tahun lalu, saya kembali lagi ke Pulau Nias. Pertanyaan yang dua tahun lalu ada kepala saya, muncul kembali. Saya mulai pelan mencari jawaban seraya membantu proses rekonstruksi. Saya mulai mencari data-data, berdiskusi, bertanya, mendengar penjelasan dan membaca literatur. Tapi saya tidak melakukan secara terfokus, karena pekerjaan utama saya bukan dibidang itu.
Bapak M.J Daeli yang baik. Ternyata bukan saya saja yang susah setengah mati mendapatkan data-data yang bisa mengambarkan kondisi Pulau Nias sebelum gempa terjadi. Kebanyakan data-data yang ada dibuat pasca gempa. Namanya juga data emergency, tentu akurasinya juga tidak begitu kuat. Jadi bapak bisa bayangkan, bagaimana rumitnya untuk melihat seperti apa gambaran kemiskinan di Pulau ini.
Menjelang masa akhir masa kerja saya disini. Saya berpikir untuk membuat catatan pendek berdasarkan fakta-fakta yang saya dapat. Saya sempat bergumul karena saya merasa apa yang saya dapat belum lengkap.†Apa sih penting nya menuliskan itu,†kata hati saya..
Tapi saya coba refleksi. Saya kembali ketika pertama kali mencoba melacak kemiskinan di Pulau ini. Wouw, binggung. Saya tak tahu harus dari mana. Dulu saya searching di internet dengan key word : kemiskinan pulau nias. Tak begitu banyak yang saya dapat. Saya tanya ke BRR apa mereka punya data-data itu. BRR pun menjawab,†kamipun sedang mencari.†Awalnya, saya sempat mengikuti alur analisis bahwa kebudayaan merupakan salah satu faktor utama penyebab kemiskinan. Tapi, lama kelamaan saya melihat faktor kebudayaan itu lebih sebagai impact ketimbang sebagai akar.
Saya tanya dengan peneliti antropologi yang melakukan penelitian di Pulau Nias. Mereka memberikan gambaran yang memperkuat argumentasi saya bahwa kebudayaan hanyalah impact (dampak) ketimbang akar kemiskinan.
Berbekal itu, akhirnya saya memutuskan untuk menulis artikel diatas. Ketika saya mulai menulis, saya sadari akan banyak komentar yang menyerang. Bahkan akan banyak pihak yang tidak suka. Tapi saya tetap mengambil resiko itu. Pikiran saya sederhana aja, suatu hari akan ada orang yang akan meneliti tentang Pulau Nias, tulisan saya ini setidaknya akan memberikan dia alternatif untuk memulai penelitiannya. Sehingga orang-orang kelak, tidak akan sesusah saya dulu.
Tapi saya sedikit merasa agak â€anehâ€, ketika beberapa komentator menyebut artikel saya itu tidak berdasar. Analisisnya dangkal. Memberikan solusi yang gagal. Syukur nya tidak ada komentator yang menyebut : mengada-ada (hehehehehe). Tapi tak apalah, namanya juga diskusi ..
Saya coba menjawab satu persatu dari pertanyaan itu. Saya coba membeberkan apa yang saya temukan. Saya coba menemukan kalimat yang sederhana untuk menjelaskan apa yang saya maksud. Tapi, kemampuan saya masih terbatas rupanya. Kalimat-kalimat yang saya tulis, ada yang salah dimaknai. Apa boleh buat, itu memang kelemahan yang harus saya perbaiki…
Saya sempat kesal, karena beberapa tanggapan begitu kasar. Sialnya, beberapa komentar itu, datang dari orang-orang yang belum pernah tinggal di pulau nias ini. Saya jadi ragu untuk menjawab.â€Ini cuma jadi debat kusir saja,†kata saya dalam hati…
Belakangan tugas-tugas saya makin banyak. Maklum, saya tengah dipenghujung kontrak. Banyak urusan administrasi yang harus saya bereskan. Tak banyak lagi waktu saya untuk memberikan jawaban panjang lebar. Jadi saya harus minta maaf lebih dahulu, kalau saya bakal tidak rutin lagi memberikan jawaban. Harap maklum ya.
Saya juga minta maaf jika beberapa jawaban saya tidak memuaskan. Artikel saya diatas tentulah jauh dari sempurna. Masih butuh banyak perbaikan dan pendalaman. Tapi anda semua juga harus tahu, saya butuh waktu bertahun-tahun untuk menuliskan artikel pendek itu. Jadi saya akan berterima kasih, jika anda sekalian mau mengomentari artikel tersebut dengan objektif. Setidaklah, objektifitas kita akan berguna buat anak cucu kelak. Itu sebabnya saya meminta anda untuk membuat artikel atau riset tandingan..
Berulang-ulang saya ucapkan terima kasih untuk redaksi. Tanpa kesediaan redaksi yang mau memuat tulisan ini, tidak lah mungkin perbedatan panjang ini bisa terjadi.
Maaf jika komentar saya ini, tidak menjawab pertanyaan yang diajukan sebelumnya.
Jabat Erat,
Erix
Pak Berton,
Buku James S. Colleman tersebut saya kutip karena menurut pendapat saya dapat menjelaskan yang kita diskusikan. Kalau Pak Berton tidak berkenan menggunakan analisas James itu, misalnya : karena ada pendapat ahli yang lebih baik atau pendapat sendiri yang membuat lebih jelas, boleh dan baik sekali. Dengan demikian terjadi pengayaan materi. OK.
Saya tanya juga. Pak Berton lupa menanyakan Shakespeare : Apa masih relevan atau tidak ? Baiklah. Selamat berdiskusi.
Harapan, semoga bermanfaat.