Menelusuri Akar Kemiskinan Nias

*Sebuah Pengantar

Oleh Erix Hutasoit

Kemiskinan di Pulau Nias adalah anomali. Tidak seharusnya kemiskinan ”berjangkit” di daerah yang kaya akan sumber daya alam. Pulau Nias punya keindahan alam, punya tanah yang produktif, punya laut yang kaya akan ikan dan hasil lainnya, punya orang-orang yang kuat bekerja. Jika kita mengunjungi desa-desa di puncak gunung di daerah Gomo sana. Kita akan berjumpa dengan orang asli Nias yang tenaga nya begitu kuat. Dan mereka pun rajin bekerja.

Dari titik ini lah saya menyimpulkan kemiskinan di Pulau Nias bukan kemiskinan natural. Melainkan kemiskinan struktural. Kemiskinan yang disebabkan sistem yang tidak beres dan tidak adil (injustice system).

Mari saya ajak Anda menelusuri sejenak jejak-jejak injustice system itu. Kita berangkat dari segi pertumbuhan ekonomi. Jika kita baca laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Kita akan temui fakta spektakuler bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nias jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Sumatera Utara.

Fakta yang lebih fantastis terjadi di tahun 1998-1999. Di tahun 1998, perekonomian Nias ambruk ke angka sekitar minus 10 persen. Tapi kejatuhan ini dapat dimaklumi, karena pada tahun itu Indonesia sedang diguncang kekacauan ekonomi. Namun setahun kemudian, pertumbuhan ekonomi Nias melonjak sekitar 15 persen. Ini menunjukkan betapa produktif nya perekonomian Nias.

Jika kita ikuti teori pertumbuhan ekonomi. Harusnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu akan membawa dampak pada pemerataan kesejahteraan. Akan tetapi Trickle Down Effect yang diyakini dapat mendistribusikan kesejahteraan, ternyata tidak ”tiba” di Nias.

Pertumbuhan yang tinggi itu, malah berbanding terbalik dengan angka kemiskinan. Kemiskinan terus meningkat. Alhasil pada tahun 2004, Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias ”dinobatkan” sebagai kabupaten termiskin pertama dan kelima di Sumatera Utara.

Inilah yang menggiring nalar kita pada pertanyaan kritis, ”Siapa seh yang menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu ?”

Mari kita kembali telusuri perekonomian Nias untuk menemukan jawabnya. Berdasarkan data BPS di tahun 2005. Lebih dari 46 persen perekonomian Nias di topang oleh sektor pertanian; urutan kedua ditempati sektor perdagangan sebesar 21 %. Sektor jasa-jasa memberikan kontribusi sebesar 11 % dan berada di peringkat ketiga. Sedangkan peringkat keempat adalah sektor bangunan yang menyumbang 10 %.

Tapi yang terjadi adalah paradoks. Sektor pertanian malah menjadi penyumbang angka kemiskinan terbanyak. Artinya orang miskin di sini umumnya adalah petani. Kok bisa ?

Mari kita lihat kembali data BPS. Pada tahun 2004 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Nias adalah Rp.200.106.529.780,-. Dimana sektor pertanian menyumbang 41,09 persen. Dan sektor perdagangan hanya berkontribusi sebesar 21,78 persen .

Akan tetapi dari segi distribusi (penyebaran) terjadi kesenjangan yang besar. Petani yang berjumlah 341.130 jiwa hanya memperoleh bagian dari PDRB sebesar Rp.1.900.000,-/kapita. Sedangkan pedagang yang jumlahnya hanya 15.040 jiwa, meraup Rp.26.000.000,-/kapita. Artinya perbedaan PDRB perkapita antara petani dan pedagang sebesar 1 berbanding 13. Dan jurang antara si miskin dan si kaya di Nias semakin jauh terbentang.

Merujuk pada Gunawan Sumodiningrat dalam Pemberdayaan Sosial; Kajian Ringkas Pembangunan Manusia Indonesia (2007). Dia menyebut kesenjangan terjadi apabila 20 persen penduduk yang tergolong kaya meraih 50 persen atau lebih dari GNP (Gross National Product). Untuk tingkat kabupaten dari bisa lihat dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto).

Inilah yang menggiring kita pada pertanyaan lain, ”Bagaimana caranya 20 persen penduduk kaya itu mampu meraup lebih dari setengah perekonomian Nias ?”

Nias dalam Pusaran Hukum Pasar: M-C-M`
Bagian ini saya mulai dengan mengutip Noniwati Telaumbanua dalam Kepulauan Nias: Konsekuensi Sebuah Ketidakstabilan dan Ketidakpastian Kondisi Alam (Bagian II) (2007):

“Dunia bisnis berpusat di Gunungsitoli, Teluk Dalam dan Lahewa, namun tidak diimbangi dengan ketangguhan penduduk untuk menguasai sektor-sektor vital, melainkan dipegang oleh pendatang, baik sebagai badan tunggal maupun sebagai pemodal kuat. Wilayah ini menjadi bergantung sekali dengan fluktuasi pasaran yang ditetapkan secara otonom oleh penguasa pasar yang berada di tiga kota di atas…”

Dari paragraf ini saya menyimpulkan. Pertama, sektor bisnis di Pulau Nias terpusat pada tiga kota yaitu Gunungistoli, Teluk Dalam dan Lahewa. Kedua, sektor bisnis itu dikuasai oleh para pendatang sebagai pemilik modal (kapitalis). Ketiga, kelompok ini secara otonom menjadi “decision of price” (penentu tingkat harga-harga).

Nah, sebentar kita beralih ke teori-teori seputaran pertukaran (perdagangan). Karl Marx dalam buku babon nya Das Capital: A Critique of Political Economy Volume I (1954) pada bagian kedua The Transformation of Money into Capital. Menyebut bahwa pertukaran dalam masyarakat kapitalis mengambil rumus Money – Commodity – Money (M-C-M).

Menurut hukum ini, si kapitalis memulainya dengan uang (M) untuk membeli komoditi (C). Komoditi tersebut kemudian dijualnya untuk memperoleh uang lagi (M2). Marx menamakan tahap pertama ini (M – C) sebagai kapital pendahuluan (Advanced Capital), dan tahap kedua (C – M) sebagai kapital kerja (Relation of Capital).

Tetapi, Marx mengingatkan bahwa keseluruhan proses ini (M – C – M ), tidak ada maknanya, jika si kapitalis hanya mendapatkan uang sebesar uangnya semula. Misalnya, jika semua ia memiliki Rp. 1000,- (M), kemudian digunakannya untuk membeli atau memproduksi sepatu seharga Rp. 900.- (C), dan menjual sepatu itu dengan harga dasar Rp. 1.000,- (M).

Bagi Marx, pertukaran model ini bukanlah cara produksi kapitalis. Karena itu, Marx menuliskan kembali rumusnya ini menjadi M – C – M’, dimana M’ (M plus) mewakili jumlah yang lebih besar dari M atau M’ > M. Uang senilai Rp. 1000,- (M) yang digunakan untuk membeli atau memproduksi sepatu senilai Rp. 900,- (C). Sepatu itu kemudian dijual menjadi Rp. 1.100 (M’). Dari proses ini, si kapitalis mendapatkan tambahan uang senilai Rp. 100,- yang kemudian sirkuit ini terus berputar tanpa henti. M’ inilah yang nantinya disebut Marx sebagai “nilai lebih“.

Pada tahap M – C – M’, yang disebut Marx dengan istilah sirkuit uang, si kapitalis memproduksi komoditi bukan untuk konsumsi tapi, untuk dijual dengan tujuan semata-mata akumulasi nilai uang. Demikian pula, si konsumen membeli barang bukan semata-mata bertujuan memenuhi kebutuhannya. Proses M – C – M’ ini terjadi dalam situasi yang tidak pernah usai dan diam, sehingga terjadi apa yang disebut surplus product (kelebihan produksi).

Dalam konteks Pulau Nias, hukum inilah yang berlaku dalam dua fase. Fase pertama, pemilik modal menggunakan uangnya (M) untuk membeli komoditas (C) seperti karet, kopra, coklat dengan harga yang murah. Kemudian menjual kembali Komoditas itu dengan harga mahal (M2). Dari sana pemilik modal mendapat keuntungan. Tapi fase kedua adalah keuntungan yang dapat dari memasok barang-barang dari Sumatera daratan ke Nias dengan cara yang sama.

Inilah yang membuat kelompok pemilik modal seperti pedagang mampu menguasai lebih dari 50 persen perekonomian Nias.

Sampai disini, saya menyimpulkan bahwa kemiskinan di Pula Nias sangat dipengaruhi oleh sistem kapitalisme. Pemilik modal terlalu “berkuasa” dalam mendikte tingkat harga. Dan mereka seolah tidak terjamah oleh kekuatan apapun.

Tidak anehlah kalau Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menepatkan Pulau Nias sebagai daerah yang paling amburadul tata kelola ekonominya.

Sampai disinilah untuk sementara penelusuran kita tentang akar kemiskinan di Nias. Akan lebih menarik lagi, jika ada yang berminat untuk melakukan pendalaman. Menemukan siapa aktor-aktor yang terlibat dan bagaimana pola keberlangsungan sistem kapitalisme di Pulau Nias ini. Salam***

Erix Hutasoit, bekerja untuk salah satu lembaga sosial di Nias.

Leave a comment ?

115 Responses to Menelusuri Akar Kemiskinan Nias

  1. otomend says:

    Erix: Nah, sekarang Indonesia sudah merdeka, tapi kok Pulau Nias ngak banyak berkembang. Malah kalah dari daerah lain. Nah, dari titik itulah saya berangkat menganalisis untuk menulis artikel diatas.

    Artinya mas Erix bukan bicara soal kemiskinan Nias melainkan bergeser soal upaya pembangunan Nias, termasuk melihat TDE tidak menetes. Setelah gempa yang notabene menimbulkan kemiskinan natural, Nias dibangun sangat spesial, mengapa tidak masuk dalam konteks analisis Erix, bagaimana Nias setelah intervensi “pembangunan dari luar” paska gempa itu? Diskusi kita ternyata terkondisi berputar-putar…

  2. Pak Erix mungkin yang salah tafsir tentang buku tersebut, karena saya mengetahui persis bahwa buku tersebut di danai oleh WB dan BRR, saya juga tau kalau misalnya gramedia yang cetak selalu menuliskan :isi diluar tanggung jawab percetakan, itu berbebeda konteks pak. Penelitian ini kan didanai oleh WB dan BRR, bagaimana mungkin WB menyatakan segala obyek Penelitian diluar tanggung jawab WB, saya bukan mempermasalahkan siapa yang menulis atau dari lembaga mana yang menulis, tetapi sangatlah lucu dana dari WB, tetapi Obyek penelitiannya diluar tanggung jawabnya, sementara peneliti tesebut merupakan bagian dari kerjasama dengan WB. Untuk itu perlu saya tanyakan relevan nggak fakta tersebut? sementara WB saja tidak mengakui penelitiaannya. Terima Kasih.

    Salam,

    Agus Pierce Paterson Sarumaha

  3. Buat Pak Erix, saya perlu meluruskan diskusi yang berjudul : Menelusuri Akar Kemiskinan Nias, Karena pak paparkan berbagai referensi tentang kemiskinan di pulau nias, salah satu referensinya : Studi Pengembangan Ekonomi Nias (2006), dalam penelitian tersebut menyatakan 10 Fakta dan 10 Masalah tentang pulau nias yaitu :

    FAKTA :

    1. Nias yang terletak di lempengan tsunami dan episenter gempa dengan struktur tanah
    labil
    2. Nias yang kecil dengan ratusan pulau pulau kecil
    3. Nias yang terisolasi
    4. Nias yang sekarat
    5. Nias yang jauh
    6. Nias yang terabaikan
    7. Nias yang terlupakan
    8. Nias yang terbelakang
    9. Nias yang jadi rebutan
    10. Nias merupakan komponen negara

    MASALAH :
    1. Tsunami dan Gempa berikutnya yang pasti akan datang lagi secara mendadak dan
    semakin dasyat
    2. Nilai Ekonomi setiap produk semakin rendah
    3. Laut bukan penghubung tetapi pemisah;pendekatan regional terhambat
    4. Warisan budaya semakin musnah (StarWeekly 648, 31-5-58)
    5. Dari Pusat, baik geografik, politik dan birokratik, jauh
    6. Karena posisi tawar yang semakin rendah/lemah
    7. Peran dan Sumbangan Nias dimasa perjuangan kemerdekaan lenyap tertelan kala
    8. Tidak memiliki keunggulan komparatif apa lagi kompetitif
    9. Konflik kepentingan semakin tajam dan luas
    10. Nias terperangkap didalam sistem manajemen publik yang padat KKN.

    Penelitian diatas didanai oleh World Bank (WB) melalui BRR. Dalam penelitian serta penulisan jurnal ilmiah, saya mengetahui persis bagaimana WB mengkaji serta menguji ke valid-an suatu obyek yang diteliti, karena saya juga sudah pernah bekerjasama dalam mengerjakan pengembangan sistem untuk BPR (Bank Perkreditan Rakyat) dengan nama MFI-2000 (Microfinance Institution-2000) yang didanai World Bank melalui Deperindag (mohon maaf terpaksa saya harus sampaikan).
    Dari 10 Fakta dan 10 Masalah diatas WB bukanlah institusi yang bodoh, menerima begitu saja hasil penelitian tersebut tanpa didasari kajian yang konfrehensif, apalagi WB yang danai penelitiannya, yang akkhirnya WB menyampaikan: Segala penulisan dan hasil penelitian diluar tanggung jawab WB, Jadi logikanya sederhana, bahwa 10 fakta dan 10 masalah tersebut diatas, sangat abstrak dan masih mengawang-awang, belum dapat dipertanggung jawabkan. Saran saya pak erix tidak bisa semata-mata menuliskan 10 fakta dan 10 masalah tersebut sehingga bisa aja orang lain menafsirkan fakta dan masalah tersebut BENAR adanya . Salah satu contoh masalah diatas adalah no.1. saya tidak lihat peneliti tersebut melibatkan Badan Meteorology dan Geo Fisika(BMG) ikut serta dalam penelitiannya, kok bisa-bisanya membuat kesimpulan demikian?. Belum masalah-masalah yang lain. yang tidak perlu saya bahas lagi.
    Akhirnya saya perlu menyampikan satu kiasan : Pak erix dari medan menuju Nias (Gunung Sitoli) via darat dan laut, pak ke padang dulu terus lanjut menuju nias, bukankah ada yang lebih dekat ? yaitu dari sibolga menuju nias. selain jarak lebih pendek dan waktu tempuh lebih singkat, serta biaya lebih murah.
    Saya percaya bahwa kita semua dapat membedakan mana yang berupa : data/fakta, informasi, berita, gossip. Bukan kah demikian?

    Salam,

    Agus Pierce Paterson Sarumaha

  4. Sof Lase says:

    Bapak Erix Hutasoit, bapak bilang apa yg bapak tulis itu adalah “analogi”. Okelah… bapak ajukan sebuah analogi ttg eksploitasi, bapak tulis: Sederhananya si B tidak akan bisa kaya raya tanpa mengeksploitasi si A. Tapi saya lihat isi analogi itu sebagai: Sederhananya si B tidak akan bisa kaya raya tanpa monopoli. Disini beda kita. Analogi eksploitasi baru bermakna dalam analisis intrinsik perihal value (harga) karet si A sebagai komoditi yg menunjukkan nilai lebihnya harga karet si A itu ”hanya dimakan” si B. Nampaknya bapak kehilangan momentum menjelaskan ttg nilai lebih.

  5. debora says:

    Bang Erix Hutaosit bilang letak Nias yg jauh dr daratan Sumatera (terisolasi) memang natural… kan bisa diperpendek dng transportasi… tapi program utk itu yg gak ada makanya Nias semakin terisolasi karena kebijakan politik. Inilah kemiskinan stuktural… itu logika pertama abang. Waktu abang nanggapin Merry Z (Nias yang terletak di lempengan tsunami dan episenter gempa, dgn struktur tanah labil) abang bilang Merry guyon… kemiskinan stuktural yg dimaksud bukan soal kondisi geologis… itu logika kedua abang.

    Kondisi geologis (yg nimbulin bencana alam)… kan natural bang… kan bencana alam bs ditekan resikonya dgn mitigasi… tapi program utk itu yg gak ada… makanya Nias semakin terpuruk klo ada bencana alam karna ‘kebijakan politik’ (klo kearifan lokal sih ada contoh rumah adat yg tahan gempa itu)… Heheeheee… paralel neeh dgn logika pertama abang…

    Kayaknya lucu deh bang… klo kondisi geologis di logika kedua, abang negasi sebagai kemiskinan struktural (kayak perlakuan di logika pertama)… Utk jelasin struktural abang jangan diskriminasi n mempermainkan logika dong pada natural…!

  6. M. J. Daeli says:

    Erix dan para peserta diskusi,

    Saya ulangi. Topik diskusi : “Mencari Akar Kemiskinan di Nias”. Jelas : untuk mencari akar. Akar apa : akar kemiskinan. Kemiskinsnan di mana : di Nias.

    Erix BERPENDAPAT bahwa kemiskinan di Nias adalah kemiskinan struktural. OK. Jadi, kalau demikian, pencarian akar kemiskinan itu tentu melalui yang dimaksud “struktural” dalam konteks kemiskinan. SETUJU !

    Dari alur pikir demikian, kalau setuju dengan pemahaman saya mengenai kemiskinan struktural (lihat no. 43 dan 52, maka akar permasalahan kemiskinan di Nias dicari terutama pada: segi produk hukum yang melandasi kehidupan perekonomian dan sikap politik penentu kebijaksanaan. Karena ketentuan hukum dan sikap yang tidak menguntungkan petani, maka petani seharusnya untung-bahagia dengan hasil jerih-payahnya, malah menderita-miskin. Bukan dicari pada struktur lapisan tanah dan lapisan lainnya. Pengertian kemiskinan struktural ini yang sejak awal saya minta kepada Saudara Erix untuk menjelaskan pemahamannya.

    Kalau pengertian akar kemiskinan struktural yang dicari, maka data lapangan – AKIBAT dari produk hukum dan kebijakan yang tidak menguntungkan petani (seperti hasil penelitian para intelektual), hanya pendukung untuk usaha mencari akar. Data yang dikemukakan Eric adalah berfungsi untuk merintis menemukan akar dan BUKAN akar itu sendiri. Gambaran mencari dan akar itu sendiri belum jelas betul dari penjelasan-penjelasan yang disampaikan Erix.

    Bahwa Erix mengaitkan untuk pembenaran pemahaman Erix mengenai kemiskinan struktural dengan teori ekonomi dan filsafat Marx dan Engels, saya lihat inilah yang menyebabkan banyak penanggap ingin penjelasan lebih banyak. Mengapa ? Karena teori-teori itu kurang tepat untuk menemukan akar kemiskinan struktural dan juga karena (mungkin) sudah tidak relevan dikaitkan dengan kehidupan masyarakat abad ke-21. Ingat : akibat perubahan teknik dan teknologi yang pesat tergusur kerja manusia oleh kecerdasan mesin.Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama, yang dikatakan oleh Erich Fromm dalam bukunya The Sane Society memperlihatkan kebenarannya, bahwa, kalau pada abad ke – 19 masalah adalah Allah telah mati tetapi masalah di abad ke-20 (21) ialah manusia telah mati. Ro… bot !!!!!!!!!. Anggap intermezzo !

    Ajakan Erix supaya saya menulis, terus terang sangat simpatik. Akan tetapi saya tidak memiliki data mengenai hal ini seperti yang dimiliki Erix dari lapangan. Erix dan saya kebetulan memiliki talenta yang tidak sama. Sendainya saya memiliki data maka pasti saya akan menulis dan menjelaskan sebatas yang saya ketahui.

    Selama ini, saya selalu berusaha mempertanggungjawabkan tulisan-tulisan saya dari segi isi, alur pikir yang kosisten, dan konsekwensi dari tulisan itu. Bahwa saya tidak sempurna … yaaaa! Saya berusaha tidak menulis yang tidak saya memahami betul maknanya. Kalau ada sesuatu yang memang saya tidak saya memahami sungguh-sunguh tetapi ingin menulis, saya menulis dengan mengarahkan pada diskusi terbuka dangan harapan terjadi SUMBANG SADAP SARAN dan tidak berusaha mau menang sendiri.

    Selamat berdiskusi.

  7. Seperti yang telah dikemukakan oleh Redaksi, saya kira ada baiknya kita fokus terhadap penyebab akar kemiskinan di Nias.
    Dalam diskusi, mari kita kurangi menuliskan referensi menurut si A, si B, si C, karena ribuan peneliti yang telah menuliskan tentang kemiskinan , saya kira tidak perlu kita tuliskan seluruhnya dalam diskusi ini, karena yang menanggapi bisa saja terbawa arus oleh isi referensi tersebut (hehehe seperti saya ini), pada akhirnya kita berputar-putar terhadap teori-teori, seakan kita membedah sebuah buku, padahal esensi-nya tidak demikian, Saya setuju bahwa teori tersebut hanya sebagai pendukung kita dalam memajukan diskusi, Karena artikel tersebut sudah didukung teori, Menurut saya dalam berdiskusi tidak perlu memaparkan jawaban menurut teori si INI begini…, si ANU begono….. yang belum tentu ada relevansinya terhadap substansi yang di diskusikan (hehehe make it simple), Kemukakan menurut pendapat masing-masing fokus dengan apa yang didiskusikan, misalnya : Menurut apa yang saya amati : bla….bla…bla…. bla…. dan faktanya dilapangan bla…bla…..bla…..bla……..(supaya ada kemajuan gitu lo). 1000 kita memiliki referensi, orang lain memilikinya 1001 bahkan mungkin lebih banyak lagi, jadi nggak ada habisnya kalo kita SELALU mengemukakan teori-teori saja pada saat kita berdiskusi tanpa ada observasi di lapangan, Mari kita sintesiskan akar kemisikinan tersebut, Supaya kita dapat menawarkan alternatif solusi kepada seluruh pihak yang concern terhadap Nias.
    Saohagolo / Mauliate/Terima kasih.

    Salam,

    Agus Pierce Paterson Sarumaha

  8. Erix says:

    Hi,

    Nama saya Fredy. Kebetulan saya sedang mencari literature soal kemiskinan. Saya bertemu dengan situs ini lengkap dengan perdebatannya. Setelah saya baca, ada beberapa hal yang saya rasa sedikit ”aneh” dalam diskusi ini. Terlebih dibagian akhir..

    Misalnya komentar Bapak Agus Pierce Paterson Sarumaha. Beliau mengomentari soal data yang dipublikasikan World Bank. Setahu saya, funding atau lembaga donor memang tidak ikut bertanggung jawab dengan hasil-hasil penelitian yang didonori mereka. Biasanya penelitian itu menjadi tanggung jawab si peneliti. Kalau untuk kasus penelitian : Studi Pengembangan Ekonomi Nias, isinya menjadi tanggung jawab Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LD-UI) yang dipimpin Bpk. Suahasil Nazara, Ph.D. Begitu pula dengan penelitian : Analisis Pengeluaran Publik Nias 2007, isinya menjadi tanggung jawab Cut Dian Agustina dkk.

    Berangkat dari situ, saya pikir tidak ada yang salah dengan argumentasi Bpk. Erix. Apalagi tahun publikasi penelitian itu masih baru (masih up to date). Saya pikir wajar kalau Bpk. Erix menggunakan data-data dalam informasi itu. Selama belum ada penelitian terbaru sebagai counter-research, yang bisa membuktikan kesalahan penelitian yang dikutip Bpk. Erix. Maka tidak ada alasan untuk menganggap argumentasi Bpk. Erix tidak valid…

    Mengenai penggunaan teori-teori. Saya pikir itu hal yang lumrah. Teori digunakan untuk mempertajam argumentasi. Argumentasi yang kuat adalah gabungan antara fakta lapangan dengan teori yang relevan. Teori digunakan untuk menyimpulkan, dan fakta digunakan untuk mendeskripsikan. Itu yang saya ketahui..

    Saya pikir tawaran Bpk. Erix untuk Bpk. Agus Sarumaha sudah tepat. Kalau Bpk. Sarumaha tidak setuju dengan hasil penelitian diatas. Sebaiknya bapak membuat penelitian baru. Penelitian dilawan dengan penelitian…

    Setidaknya, dengan begitu bapak sudah membudayakan riset (penelitian) di masyarakat kita. Sebuah budaya ilmiah yang masih jarang dilakukan oleh bangsa ini..

    Salam,

    Fredy

  9. Fredy says:

    Maaf..

    Komentar saya tadi menggunakan nick name Bpk.Erix. Kebetulan saya menggunakan PC yang baru digunakan bapak Erix di warung internet yang sama. Jadi saya lupa merubah nama nick name..

    Perkenalkan nama saya Fredy Simangungsong, Mahasiswa FISIP di Universitas Medan Area (Medan).

    Mudah-mudahan Bpk. Erix bisa memaklumi.

    Terima kasih

    Fredy

  10. Fredy says:

    Hi,

    Nama saya Fredy. Kebetulan saya sedang mencari literature soal kemiskinan. Saya bertemu dengan situs ini lengkap dengan perdebatannya. Setelah saya baca, ada beberapa hal yang saya rasa sedikit ”aneh” dalam diskusi ini. Terlebih dibagian akhir..

    Misalnya komentar Bapak Agus Pierce Paterson Sarumaha. Beliau mengomentari soal data yang dipublikasikan World Bank. Setahu saya, funding atau lembaga donor memang tidak ikut bertanggung jawab dengan hasil-hasil penelitian yang didonori mereka. Biasanya penelitian itu menjadi tanggung jawab si peneliti. Kalau untuk kasus penelitian : Studi Pengembangan Ekonomi Nias, isinya menjadi tanggung jawab Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LD-UI) yang dipimpin Bpk. Suahasil Nazara, Ph.D. Begitu pula dengan penelitian : Analisis Pengeluaran Publik Nias 2007, isinya menjadi tanggung jawab Cut Dian Agustina dkk.

    Berangkat dari situ, saya pikir tidak ada yang salah dengan argumentasi Bpk. Erix. Apalagi tahun publikasi penelitian itu masih baru (masih up to date). Saya pikir wajar kalau Bpk. Erix menggunakan data-data dalam informasi itu. Selama belum ada penelitian terbaru sebagai counter-research, yang bisa membuktikan kesalahan penelitian yang dikutip Bpk. Erix. Maka tidak ada alasan untuk menganggap argumentasi Bpk. Erix tidak valid…

    Mengenai penggunaan teori-teori. Saya pikir itu hal yang lumrah. Teori digunakan untuk mempertajam argumentasi. Argumentasi yang kuat adalah gabungan antara fakta lapangan dengan teori yang relevan. Teori digunakan untuk menyimpulkan, dan fakta digunakan untuk mendeskripsikan. Itu yang saya ketahui..

    Saya pikir tawaran Bpk. Erix untuk Bpk. Agus Sarumaha sudah tepat. Kalau Bpk. Sarumaha tidak setuju dengan hasil penelitian diatas. Sebaiknya bapak membuat penelitian baru. Penelitian dilawan dengan penelitian…

    Setidaknya, dengan begitu bapak sudah membudayakan riset (penelitian) di masyarakat kita. Sebuah budaya ilmiah yang masih jarang dilakukan oleh bangsa ini..

    Salam,

    Fredy