*Sebuah Pengantar
Oleh Erix Hutasoit
Kemiskinan di Pulau Nias adalah anomali. Tidak seharusnya kemiskinan â€berjangkit†di daerah yang kaya akan sumber daya alam. Pulau Nias punya keindahan alam, punya tanah yang produktif, punya laut yang kaya akan ikan dan hasil lainnya, punya orang-orang yang kuat bekerja. Jika kita mengunjungi desa-desa di puncak gunung di daerah Gomo sana. Kita akan berjumpa dengan orang asli Nias yang tenaga nya begitu kuat. Dan mereka pun rajin bekerja.
Dari titik ini lah saya menyimpulkan kemiskinan di Pulau Nias bukan kemiskinan natural. Melainkan kemiskinan struktural. Kemiskinan yang disebabkan sistem yang tidak beres dan tidak adil (injustice system).
Mari saya ajak Anda menelusuri sejenak jejak-jejak injustice system itu. Kita berangkat dari segi pertumbuhan ekonomi. Jika kita baca laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Kita akan temui fakta spektakuler bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nias jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Sumatera Utara.
Fakta yang lebih fantastis terjadi di tahun 1998-1999. Di tahun 1998, perekonomian Nias ambruk ke angka sekitar minus 10 persen. Tapi kejatuhan ini dapat dimaklumi, karena pada tahun itu Indonesia sedang diguncang kekacauan ekonomi. Namun setahun kemudian, pertumbuhan ekonomi Nias melonjak sekitar 15 persen. Ini menunjukkan betapa produktif nya perekonomian Nias.
Jika kita ikuti teori pertumbuhan ekonomi. Harusnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu akan membawa dampak pada pemerataan kesejahteraan. Akan tetapi Trickle Down Effect yang diyakini dapat mendistribusikan kesejahteraan, ternyata tidak â€tiba†di Nias.
Pertumbuhan yang tinggi itu, malah berbanding terbalik dengan angka kemiskinan. Kemiskinan terus meningkat. Alhasil pada tahun 2004, Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias â€dinobatkan†sebagai kabupaten termiskin pertama dan kelima di Sumatera Utara.
Inilah yang menggiring nalar kita pada pertanyaan kritis, â€Siapa seh yang menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu ?â€
Mari kita kembali telusuri perekonomian Nias untuk menemukan jawabnya. Berdasarkan data BPS di tahun 2005. Lebih dari 46 persen perekonomian Nias di topang oleh sektor pertanian; urutan kedua ditempati sektor perdagangan sebesar 21 %. Sektor jasa-jasa memberikan kontribusi sebesar 11 % dan berada di peringkat ketiga. Sedangkan peringkat keempat adalah sektor bangunan yang menyumbang 10 %.
Tapi yang terjadi adalah paradoks. Sektor pertanian malah menjadi penyumbang angka kemiskinan terbanyak. Artinya orang miskin di sini umumnya adalah petani. Kok bisa ?
Mari kita lihat kembali data BPS. Pada tahun 2004 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Nias adalah Rp.200.106.529.780,-. Dimana sektor pertanian menyumbang 41,09 persen. Dan sektor perdagangan hanya berkontribusi sebesar 21,78 persen .
Akan tetapi dari segi distribusi (penyebaran) terjadi kesenjangan yang besar. Petani yang berjumlah 341.130 jiwa hanya memperoleh bagian dari PDRB sebesar Rp.1.900.000,-/kapita. Sedangkan pedagang yang jumlahnya hanya 15.040 jiwa, meraup Rp.26.000.000,-/kapita. Artinya perbedaan PDRB perkapita antara petani dan pedagang sebesar 1 berbanding 13. Dan jurang antara si miskin dan si kaya di Nias semakin jauh terbentang.
Merujuk pada Gunawan Sumodiningrat dalam Pemberdayaan Sosial; Kajian Ringkas Pembangunan Manusia Indonesia (2007). Dia menyebut kesenjangan terjadi apabila 20 persen penduduk yang tergolong kaya meraih 50 persen atau lebih dari GNP (Gross National Product). Untuk tingkat kabupaten dari bisa lihat dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto).
Inilah yang menggiring kita pada pertanyaan lain, â€Bagaimana caranya 20 persen penduduk kaya itu mampu meraup lebih dari setengah perekonomian Nias ?â€
Nias dalam Pusaran Hukum Pasar: M-C-M`
Bagian ini saya mulai dengan mengutip Noniwati Telaumbanua dalam Kepulauan Nias: Konsekuensi Sebuah Ketidakstabilan dan Ketidakpastian Kondisi Alam (Bagian II) (2007):
“Dunia bisnis berpusat di Gunungsitoli, Teluk Dalam dan Lahewa, namun tidak diimbangi dengan ketangguhan penduduk untuk menguasai sektor-sektor vital, melainkan dipegang oleh pendatang, baik sebagai badan tunggal maupun sebagai pemodal kuat. Wilayah ini menjadi bergantung sekali dengan fluktuasi pasaran yang ditetapkan secara otonom oleh penguasa pasar yang berada di tiga kota di atas…â€
Dari paragraf ini saya menyimpulkan. Pertama, sektor bisnis di Pulau Nias terpusat pada tiga kota yaitu Gunungistoli, Teluk Dalam dan Lahewa. Kedua, sektor bisnis itu dikuasai oleh para pendatang sebagai pemilik modal (kapitalis). Ketiga, kelompok ini secara otonom menjadi “decision of price†(penentu tingkat harga-harga).
Nah, sebentar kita beralih ke teori-teori seputaran pertukaran (perdagangan). Karl Marx dalam buku babon nya Das Capital: A Critique of Political Economy Volume I (1954) pada bagian kedua The Transformation of Money into Capital. Menyebut bahwa pertukaran dalam masyarakat kapitalis mengambil rumus Money – Commodity – Money (M-C-M).
Menurut hukum ini, si kapitalis memulainya dengan uang (M) untuk membeli komoditi (C). Komoditi tersebut kemudian dijualnya untuk memperoleh uang lagi (M2). Marx menamakan tahap pertama ini (M – C) sebagai kapital pendahuluan (Advanced Capital), dan tahap kedua (C – M) sebagai kapital kerja (Relation of Capital).
Tetapi, Marx mengingatkan bahwa keseluruhan proses ini (M – C – M ), tidak ada maknanya, jika si kapitalis hanya mendapatkan uang sebesar uangnya semula. Misalnya, jika semua ia memiliki Rp. 1000,- (M), kemudian digunakannya untuk membeli atau memproduksi sepatu seharga Rp. 900.- (C), dan menjual sepatu itu dengan harga dasar Rp. 1.000,- (M).
Bagi Marx, pertukaran model ini bukanlah cara produksi kapitalis. Karena itu, Marx menuliskan kembali rumusnya ini menjadi M – C – M’, dimana M’ (M plus) mewakili jumlah yang lebih besar dari M atau M’ > M. Uang senilai Rp. 1000,- (M) yang digunakan untuk membeli atau memproduksi sepatu senilai Rp. 900,- (C). Sepatu itu kemudian dijual menjadi Rp. 1.100 (M’). Dari proses ini, si kapitalis mendapatkan tambahan uang senilai Rp. 100,- yang kemudian sirkuit ini terus berputar tanpa henti. M’ inilah yang nantinya disebut Marx sebagai “nilai lebih“.
Pada tahap M – C – M’, yang disebut Marx dengan istilah sirkuit uang, si kapitalis memproduksi komoditi bukan untuk konsumsi tapi, untuk dijual dengan tujuan semata-mata akumulasi nilai uang. Demikian pula, si konsumen membeli barang bukan semata-mata bertujuan memenuhi kebutuhannya. Proses M – C – M’ ini terjadi dalam situasi yang tidak pernah usai dan diam, sehingga terjadi apa yang disebut surplus product (kelebihan produksi).
Dalam konteks Pulau Nias, hukum inilah yang berlaku dalam dua fase. Fase pertama, pemilik modal menggunakan uangnya (M) untuk membeli komoditas (C) seperti karet, kopra, coklat dengan harga yang murah. Kemudian menjual kembali Komoditas itu dengan harga mahal (M2). Dari sana pemilik modal mendapat keuntungan. Tapi fase kedua adalah keuntungan yang dapat dari memasok barang-barang dari Sumatera daratan ke Nias dengan cara yang sama.
Inilah yang membuat kelompok pemilik modal seperti pedagang mampu menguasai lebih dari 50 persen perekonomian Nias.
Sampai disini, saya menyimpulkan bahwa kemiskinan di Pula Nias sangat dipengaruhi oleh sistem kapitalisme. Pemilik modal terlalu “berkuasa†dalam mendikte tingkat harga. Dan mereka seolah tidak terjamah oleh kekuatan apapun.
Tidak anehlah kalau Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menepatkan Pulau Nias sebagai daerah yang paling amburadul tata kelola ekonominya.
Sampai disinilah untuk sementara penelusuran kita tentang akar kemiskinan di Nias. Akan lebih menarik lagi, jika ada yang berminat untuk melakukan pendalaman. Menemukan siapa aktor-aktor yang terlibat dan bagaimana pola keberlangsungan sistem kapitalisme di Pulau Nias ini. Salam***
Erix Hutasoit, bekerja untuk salah satu lembaga sosial di Nias.
Untuk Informasi buat bapak erix, salah satu referensinya adalah Analisis Pengeluaran Publik Nias 2007, The World Bank dan BRR, 2007, coba pak diteliti lagi dengan saksama pada cover book halaman 2, catatan dari worldbank didalam buku tersebut : segala penulisan dan hasil penelitian diluar tanggung jawab worldbank. Keraguan saya menjadi timbul, apakah 10 fakta dan 10 masalah tentang Pulau Nias tersebut relevan ? sementara si worldbanknya aja membuat statement pada tulisan seperti yang telah dikemukakan diatas.
Salam,
Agus Pierce Paterson Sarumaha
Saudara Erix,
Memang, ketika membaca judul artikel Erix menimbulkan pertanyaan bagi saya: Apa yang tersirat dalam hati pembuat artikel ini ? Apakah sadar ? Meskipun kemudian menurut Redaksi: telah dikoreksi.
Kemudian saya membaca uraian teori-teori yang tidak jelas hubungannya dengan permasalahan yang disorot. Karena itu, sebagai sesama terpelajar, saya meminta penjelasan sehingga sumbang saran dapat berlangsung efektif. Tetapi yang diharapkan tidak terjadi dan malah menimbulkan seperti komentar Saudara Syharial P. pada no. 50.
Erix sudah mengetahui kemiskinan di Nias bersifat struktural. Kemukakan data informasi pendukung yang Erix miliki (bukankah Erix sudah terjun ke lapangan ?), sehingga segala faktor yang relevan dapat di analisis guna menemukan masalah yang sebenarnya yang harus dipecahkan. Tidak perlu repot-repot (guyonan Gus Dur) berteori. Apalagi kalau teori itu telah out of date dalam masyarakat kontemporer.
Berbicara mengenai “kemiskinan struktural†maka adalah lebih tepat dianalisa terutama dari segi: politik kenegaraan, teori kekuasaan, teori pembuatan undang-undang, management, antropologi budaya (hanya kalau perlu).
Semoga komentar saya pada no. 43 bermanfaat.
M.J. Daeli
Bang Erix pengen jelasin beda kemiskinan struktural n natural… malah jadinya agak kabur… referensi di no. 48 gak kontras soal kemiskinan struktural… misal tulisan Suahasil dan Noni terkandung jg ttg isolasi n kondisi alam Nias… kan ini natural Bang… Mereka-mereka bicara soal kemiskinan di Nias… bukan khusus struktural.
Bahasan abang deduksi struktural orba Indonesia… jadi relevan neeh komen salah satu peserta: kemiskinan di Nias sejak kapan…? Bang Erix Hutaosit, coba deh dibalik lihat secara induksi… naaah mungkin bs ketahuan ntar kemiskinan di Nias itu… multikausal.
Kaka Deborah, sudah lama ya gak nongol. Saya selalu mengikuti diskusi di situs ini, cuman baru kali ini berani nulis. Kayaknya bener juga Bang Erix, Suahasil emang bicara soal kemiskinan struktural kok, lihat kutipan berikut dari kutipan yang dilakukan Bang Erix atas tulisan Suahasil Nazara:
“(1) Nias yang terletak di lempengan tsunami dan episenter gempa, dgn struktur tanah labil.”
Merry Z
Pak Syahrial yang baik,
Redaksi menanggapi komentar Anda (komentar no. #50 – 4 September 2008). Berdasarkan catatan kami, kami menerima artikel Pak Erix Hutasoit tanggal 11 Agustus 2008, dan sehari kemudian (12 Agustus 2008) kami menayangkannya dalam situs Yaahowu.
Menambah penjelasan kami sebelumnya (komentar #27, 19 Agustus 2008), pada suratnya ke Redaksi, Pak Erix Hutasoit juga menulis kalimat berikut:
“… sebagai penulis pula saya punya tanggung jawab moral untuk memperbaiki (menyempurnakan) tulisan saya jika ada yang salah.”
Kita menghargai kerendahan hati Pak Erix untuk ‘memperbaiki (menyempurnakan)’ tulisannya, dalam hal ini judul artikel tersebut.
Tanpa bermaksud membela Pak Erix, penjelasan beliau dalam kalimat yang kami kutip di atas menunjukkan beliau tidaklah “melemparkan kesalahan kepada para penanggapnya” sebagaimana kesan Anda.
Salam,
Redaksi
Putri Syanti Dewi rupanya jadi murid Ouw Yan Hui yg berjuluk Bu-eng-kwi (Iblis Tanpa Bayangan) di sebuah pulau yg terdapat ular-ular kecil berwarna kuning emas, makanya disebut pulau Kim-coa-to (pulau Ular Emas). Bu-eng-kwi ini seorang janda kaya-raya, membangun istana kecil, di sana banyak pelayan yg cantik-cantik… dan karna wanita ini selain punya kecantikan luar biasa juga memiliki ilmu silat yg hebat, maka mana ada orang dunia kang-ouw atau pedagang monopoli berani lancang mendekati pulau itu, kecuali kalau hendak berkunjung dengan keperluan penting. Pulau itu jauh dari lempengan tsunami dan episenter gempa dengan struktur tanah labil, jadi… tak ada kemiskinan struktural di sana… Nhah… sembari ngikutin diskusi ini saya nerusin baca fiksi ’Suling emas dan naga siluman’… 🙂
Dalam salah satu perjalanan lapangannya ketika pelukis Belanda, Rudolf Bonnet, menyertainya, Kunts merasa miris ketika ia terpaksa mendengar seorang misionaris Jerman di pulau Nias memimpin paduan suara orang pribumi Kristen yang menyanyikan empat bagian karya Bach. Ketika selesai, akhirnya ia menyatakan bahwa ia tidak tahu siapa yang patut dikasihani: Johan Sebastian Bach yang mengibakan atau penduduk Nias yang miskin.
Kutipan di atas dari ‘Dutch Culture Overseas: Colonial in the Netherland Indies 1900-1942’ karya Frances Gouda (1995). Sedang Gouda merujuk ‘De inheemsche muziek en de zending’ karya Jaap Kunst (1947). Intinya, sejak kolonial pun penduduk Nias sudah miskin, bukan hanya mulai semasa rezim orba seperti kata mas Erix. Atau… bagaimana menurut Anda?
Redaksi Yth.
Harapan kita semua agar diskusi dalam situs ini, tidak seperti diskusi pada situs-situs yang lain tertentu tanpa unjung alias mengambang. Setidaknya : materi yang disampaikan tidak terlalu menyimpanglah. Sayang energi yang dikeluarkan. Hanya saran.
Terima kasih.-
Dear All,
Kebetulan dalam masa cuti saya punya urusan sejenak dengan internet, jadi saya sempatkan menilik diskusi kita.
Saya coba jawab secara cepat ya :
(1) Bapak Sof Lase, apa yang saya tulis itu adalah “analogiâ€. Saya Cuma menunjukkan logikanya saja. Kalau bapak tinggal di Pulau Nias bapak bisa melakukan penelitian lebih dalam untuk menemukan jawaban atas pertanyaan bapak. Toh, saya sudah tulis diakhir artikel saya bahwa akan menarik jika ada yang melakukan pendalaman dan penelurusan tentang pola dan aktor-aktor.
(2) Bapak Syahrial P. Inti Pertanyaan bapak sudah dijawab dengan baik oleh redaksi. Tapi ada beberapa catatan untuk Bapak :
Pertama : Saya sarankan bapak untuk hati-hati dalam mengutip tulisan. Kutipan bapak mengenai adat nias dan batak sangat melenceng. Bapak harusnya berpikir dulu tentang konsekuensinya sebelum mengutip. Bapak boleh memprovokasi pemikiran tapi saya sarankan agar bapak tidak memprovokasi kebencian. Memprovokasi pikiran membuat orang lain untuk berusaha mengeluarkan argumemtasi yang paling logis. Artinya anda membuat orang lain untuk berusaha memberikan jawaban-jawaban yang baik. Tapi memprovokasi kebencian, bapak hanya akan menciptakan permusuhan. Seorang intelectual seperti bapak, tidak lah pantas melakukan hal itu.
Buat Bapak saya kutip ulang jawaban saya. Ini pak yang saya tulis,†Bukan hanya orang Nias yang punya budaya pernikahan seperti itu. Orang Batak juga punya sistem yang hampir sama. Ada nilai prestisius jika seseorang (batak) bisa memberikan â€sinamot†(dalam istilah Nias yaitu jujuran) yang besar kepada calon mertua nya.
Tapi tidak serta-merta sistem ini dianggap menyebabkan orang Batak menjadi miskin. Karena dalam pelaksanaan adat itu ada â€fleksibilitas, terutama dalam menentukan besaran sinamot. Disanalah kearifan budaya (wisdom of culture) berperan. Komunikasi dan dialog yang santun mampu mengatasi masalah itu. Dan saya pikir orang Nias juga punya wisdom of culture itu.â€
Dalam tanggapan bapak diatas, bapak menghilangkan kalimat terakhir dari kutipan itu, yaitu : â€Dan saya pikir orang Nias juga punya wisdom of culture itu.â€
Saya yakin bapak bisa membaca dengan baik konteks dari kalimat yang saya tulis itu. Karena teks itu jelas memberikan pemahaman bahwa : orang Nias sama seperti orang Batak, mereka akan mampu menyelesaikan masalahnya. Karena kedua budaya itu (baik Batak maupun Nias) punya kearifan budaya atau bahasa inggrisnya wisdom of culture.
Saya akan senang kalau tanggapan bapak lebih â€membumi/berfakta†dari pada sekadar memprovokasi.
Kedua, Apa yang salah dengan data-data World Bank ?? Susan George seorang sosalis pengkritik kapitalisme juga menggunakan data-data WB. Argumentasi bapak terlalu “subjektif†ketimbang sebuah argumentasi ilmiah. Mungkin bapak jarang berdiskusi dengan peneliti-penelitu “marxis†sehingga bapak tidak tahu soal itu.
(3) Bapak Bapak Sarumaha. Bapak benar tentang itu. Saya sudah baca itu sebelumnya. Memang bukan WB yang bertanggung jawab, tapi kan ada penulisnya. Ini seperti buku yang dicetak pada sebuah percetakan. Kan percetakan tidak bertanggung jawab atas isi estacan. Tapi tidak lantas hal itu membuat data-data (fakta-fakta) yang ada dalam buku tidak bisa digunakan.Toh data-data bisa diolah dan dikembangkan. Jika bapak pernah belajar tentang metode penelitian, pasti tahu soal itu.
Kedua, 10 Fakta dan 10 Masalah, itu bukan WB pak yang memamaparkan. Bapak keliru tentang itu. Yang memaparkan itu team peneliti dari Lembaga Demografi UI. Saya tulis kok diatas. Jadi mohon dibaca lagi. Jika bapak ragu dengan hasil penelitian mereka (LD-UI), silahkan bapak untuk membuat penelitian tandingan.
(4) Bapak M.J Daeli. Apa yang saya paparkan itu adalah data-data/fakta-fakta lapangan (field fact) baik dalam bentuk angak maupun narative. Jadi bapak salah jika mengatakan bahwa apa yang saya paparkan adalah teori. Jika bapak merasa saya salah dalam pemaparan saya, silahkan untuk membuat artikel tandingan dengan memaparkan data-data yang bapak punya. Itu akan lebih sehat dan berguna dalam diskusi kita ini. Setuju pak ?
(5) Buat Debora. Apanya yang natural ? letaknya nya kah ? Kalau letaknya yang jauh dari daratan sumatera itu memang natural. Tapi apakah karena itu Pulau Nias harus terus-terusan terisoalasi. Soal jarak kan bisa diperpendek dengan transportasi, dengan cara penyediaan infrastruktur untuk itu. Tapi program untuk itu yang tidak ada maka nya Nias semakin terisolasi karena kebijakan politik..
(6) Buat Merry Z, hehhehehehehe….terima kasih buat guyonannya. Tapi struktur yang dimaksud itu bukan soal kondisi geologis. Silahkan kutip tulisan diatas, tapi pahami dulu konteksnya ya. Ayo semangat..
(7) Buat redaksi. Terima kasih buat penjelasannya..
(8) Buat Sin Liong, silahkan teruskan membaca buku nya. Mudah-mudahan yang fiksi bisa buat jadi kenyataan ..
(9) Buat Bapak Otomed. Pulau Jawa yang kita anggap paling maju se Indonesia juga pada masa sebelum kolonial juga miskin kok (setidaknya dimata Belanda). Tapi masa itu belum ada sebuah negara yang bernama Republik Indonesia. Negara yang punya mimpi mensejahterakan rakyatnya. Nah, sekarang Indonesia sudah merdeka, tapi kok Pulau Nias ngak banyak berkembang. Malah kalah dari daerah lain. Nah, dari titik itulah saya berangkat menganalisis untuk menulis artikel diatas. Bagaimana Pak Otomed, setuju kah ?
(10) Buat Ononiha. Saya juga berharap seperti Anda. Diskusi ini tidak berkutat-kutat ditataran teoritis tapi lebih pada fakta-fakta lapangan. Lalu menghasilkam sesuatu. Tapi kita harus lebih bersabar, karena banyak kawan-kawan yang ikutan berdiskusi tidak tinggal di Nias atau pernah tinggal disini. Jadi gambaran real tentang Nias agak sedikit sulit untuk dicerna. Tapi itulah diskusi, kita tidak perlu memaksa orang lain untuk sepakat..
Well, terima kasih ..
Salam Cuti,
Erix
Pengunjung Situs Yaahowu khususnya peserta diskusi spontan atas tulisan Sdr. Erix Hutasoit,
Terima kasih atas partisipasi Anda dalam diskusi ini, sejauh ini. Redaksi masih mengharapkan tanggapan lanjut.
Kepada Sdr. Erix Redaksi menyampaikan penghargaan atas waktu yang dia berikan menjawab tanggapan-tanggapan dari para pembaca tulisannya.
Kepada para komentator, Redaksi juga menyampaikan penghargaan atas berbagai sumbangan pemikiran. Tanpa komentar anda semua, diskusi ini menjadi ‘kering’ dan terasa hambar.
Sejauh ini, Redaksi memiliki kesan – peserta diskusi cukup berkepala dingin, memahami persoalan (baca: hal yang didiskusikan), dan karenanya memberikan kontribusi yang menurut hemat kami sangat positif.
Catatan khusus kami sampaikan kepada komentar yang ditulis oleh Sdr. “Ononiha”. Diskusi seperti ini, menurut hemat kami, tidak harus sampai kepada pemecahan masalah. Materi bahasan diskusi (“Kemiskinan”) merupakan hal yang sangat kompleks sifatnya – yang merupakan salah satu masalah global sepanjang zaman.
Terlalu ‘ambisius’ kiranya kita kalau mengharapkan jawaban atas masalah itu dalam diskusi ini. Kita tidak bisa mengharapkan ‘berlebihan’ dari sebuah diskusi yang hanya diikuti oleh sekitar 10 orang (menurut pengamatan Redaksi).
Yang dapat kita harapkan adalah bahwa diskusi ini membuka mata kita akan berbagai informasi yang selama ini tak pernah kita peroleh, melalui kontribusi para komentator. Memang, bagi yang sudah mengenal berbagai informasi itu sebelumnya, informasi yang muncul dalam diskusi ini mungkin tidak relevan bagi mereka. Tetapi situs ini tidak hanya dibaca oleh orang-orang yang telah ‘well-informed’ itu.
***
Redaksi berencana membuat rangkuman dari diskusi ini; namun harus dimaklumi keterbatasan sumberdaya kami.
Sambil menunggu rangkuman itu, silahkan meneruskan diskusi dalam suasana bersahabat, berkepala dingin, kritis, rasional dan agak terfokus.
Salam,
Redaksi