Menelusuri Akar Kemiskinan Nias

*Sebuah Pengantar

Oleh Erix Hutasoit

Kemiskinan di Pulau Nias adalah anomali. Tidak seharusnya kemiskinan ”berjangkit” di daerah yang kaya akan sumber daya alam. Pulau Nias punya keindahan alam, punya tanah yang produktif, punya laut yang kaya akan ikan dan hasil lainnya, punya orang-orang yang kuat bekerja. Jika kita mengunjungi desa-desa di puncak gunung di daerah Gomo sana. Kita akan berjumpa dengan orang asli Nias yang tenaga nya begitu kuat. Dan mereka pun rajin bekerja.

Dari titik ini lah saya menyimpulkan kemiskinan di Pulau Nias bukan kemiskinan natural. Melainkan kemiskinan struktural. Kemiskinan yang disebabkan sistem yang tidak beres dan tidak adil (injustice system).

Mari saya ajak Anda menelusuri sejenak jejak-jejak injustice system itu. Kita berangkat dari segi pertumbuhan ekonomi. Jika kita baca laporan Badan Pusat Statistik (BPS). Kita akan temui fakta spektakuler bahwa pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nias jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Sumatera Utara.

Fakta yang lebih fantastis terjadi di tahun 1998-1999. Di tahun 1998, perekonomian Nias ambruk ke angka sekitar minus 10 persen. Tapi kejatuhan ini dapat dimaklumi, karena pada tahun itu Indonesia sedang diguncang kekacauan ekonomi. Namun setahun kemudian, pertumbuhan ekonomi Nias melonjak sekitar 15 persen. Ini menunjukkan betapa produktif nya perekonomian Nias.

Jika kita ikuti teori pertumbuhan ekonomi. Harusnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu akan membawa dampak pada pemerataan kesejahteraan. Akan tetapi Trickle Down Effect yang diyakini dapat mendistribusikan kesejahteraan, ternyata tidak ”tiba” di Nias.

Pertumbuhan yang tinggi itu, malah berbanding terbalik dengan angka kemiskinan. Kemiskinan terus meningkat. Alhasil pada tahun 2004, Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias ”dinobatkan” sebagai kabupaten termiskin pertama dan kelima di Sumatera Utara.

Inilah yang menggiring nalar kita pada pertanyaan kritis, ”Siapa seh yang menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu ?”

Mari kita kembali telusuri perekonomian Nias untuk menemukan jawabnya. Berdasarkan data BPS di tahun 2005. Lebih dari 46 persen perekonomian Nias di topang oleh sektor pertanian; urutan kedua ditempati sektor perdagangan sebesar 21 %. Sektor jasa-jasa memberikan kontribusi sebesar 11 % dan berada di peringkat ketiga. Sedangkan peringkat keempat adalah sektor bangunan yang menyumbang 10 %.

Tapi yang terjadi adalah paradoks. Sektor pertanian malah menjadi penyumbang angka kemiskinan terbanyak. Artinya orang miskin di sini umumnya adalah petani. Kok bisa ?

Mari kita lihat kembali data BPS. Pada tahun 2004 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Nias adalah Rp.200.106.529.780,-. Dimana sektor pertanian menyumbang 41,09 persen. Dan sektor perdagangan hanya berkontribusi sebesar 21,78 persen .

Akan tetapi dari segi distribusi (penyebaran) terjadi kesenjangan yang besar. Petani yang berjumlah 341.130 jiwa hanya memperoleh bagian dari PDRB sebesar Rp.1.900.000,-/kapita. Sedangkan pedagang yang jumlahnya hanya 15.040 jiwa, meraup Rp.26.000.000,-/kapita. Artinya perbedaan PDRB perkapita antara petani dan pedagang sebesar 1 berbanding 13. Dan jurang antara si miskin dan si kaya di Nias semakin jauh terbentang.

Merujuk pada Gunawan Sumodiningrat dalam Pemberdayaan Sosial; Kajian Ringkas Pembangunan Manusia Indonesia (2007). Dia menyebut kesenjangan terjadi apabila 20 persen penduduk yang tergolong kaya meraih 50 persen atau lebih dari GNP (Gross National Product). Untuk tingkat kabupaten dari bisa lihat dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto).

Inilah yang menggiring kita pada pertanyaan lain, ”Bagaimana caranya 20 persen penduduk kaya itu mampu meraup lebih dari setengah perekonomian Nias ?”

Nias dalam Pusaran Hukum Pasar: M-C-M`
Bagian ini saya mulai dengan mengutip Noniwati Telaumbanua dalam Kepulauan Nias: Konsekuensi Sebuah Ketidakstabilan dan Ketidakpastian Kondisi Alam (Bagian II) (2007):

“Dunia bisnis berpusat di Gunungsitoli, Teluk Dalam dan Lahewa, namun tidak diimbangi dengan ketangguhan penduduk untuk menguasai sektor-sektor vital, melainkan dipegang oleh pendatang, baik sebagai badan tunggal maupun sebagai pemodal kuat. Wilayah ini menjadi bergantung sekali dengan fluktuasi pasaran yang ditetapkan secara otonom oleh penguasa pasar yang berada di tiga kota di atas…”

Dari paragraf ini saya menyimpulkan. Pertama, sektor bisnis di Pulau Nias terpusat pada tiga kota yaitu Gunungistoli, Teluk Dalam dan Lahewa. Kedua, sektor bisnis itu dikuasai oleh para pendatang sebagai pemilik modal (kapitalis). Ketiga, kelompok ini secara otonom menjadi “decision of price” (penentu tingkat harga-harga).

Nah, sebentar kita beralih ke teori-teori seputaran pertukaran (perdagangan). Karl Marx dalam buku babon nya Das Capital: A Critique of Political Economy Volume I (1954) pada bagian kedua The Transformation of Money into Capital. Menyebut bahwa pertukaran dalam masyarakat kapitalis mengambil rumus Money – Commodity – Money (M-C-M).

Menurut hukum ini, si kapitalis memulainya dengan uang (M) untuk membeli komoditi (C). Komoditi tersebut kemudian dijualnya untuk memperoleh uang lagi (M2). Marx menamakan tahap pertama ini (M – C) sebagai kapital pendahuluan (Advanced Capital), dan tahap kedua (C – M) sebagai kapital kerja (Relation of Capital).

Tetapi, Marx mengingatkan bahwa keseluruhan proses ini (M – C – M ), tidak ada maknanya, jika si kapitalis hanya mendapatkan uang sebesar uangnya semula. Misalnya, jika semua ia memiliki Rp. 1000,- (M), kemudian digunakannya untuk membeli atau memproduksi sepatu seharga Rp. 900.- (C), dan menjual sepatu itu dengan harga dasar Rp. 1.000,- (M).

Bagi Marx, pertukaran model ini bukanlah cara produksi kapitalis. Karena itu, Marx menuliskan kembali rumusnya ini menjadi M – C – M’, dimana M’ (M plus) mewakili jumlah yang lebih besar dari M atau M’ > M. Uang senilai Rp. 1000,- (M) yang digunakan untuk membeli atau memproduksi sepatu senilai Rp. 900,- (C). Sepatu itu kemudian dijual menjadi Rp. 1.100 (M’). Dari proses ini, si kapitalis mendapatkan tambahan uang senilai Rp. 100,- yang kemudian sirkuit ini terus berputar tanpa henti. M’ inilah yang nantinya disebut Marx sebagai “nilai lebih“.

Pada tahap M – C – M’, yang disebut Marx dengan istilah sirkuit uang, si kapitalis memproduksi komoditi bukan untuk konsumsi tapi, untuk dijual dengan tujuan semata-mata akumulasi nilai uang. Demikian pula, si konsumen membeli barang bukan semata-mata bertujuan memenuhi kebutuhannya. Proses M – C – M’ ini terjadi dalam situasi yang tidak pernah usai dan diam, sehingga terjadi apa yang disebut surplus product (kelebihan produksi).

Dalam konteks Pulau Nias, hukum inilah yang berlaku dalam dua fase. Fase pertama, pemilik modal menggunakan uangnya (M) untuk membeli komoditas (C) seperti karet, kopra, coklat dengan harga yang murah. Kemudian menjual kembali Komoditas itu dengan harga mahal (M2). Dari sana pemilik modal mendapat keuntungan. Tapi fase kedua adalah keuntungan yang dapat dari memasok barang-barang dari Sumatera daratan ke Nias dengan cara yang sama.

Inilah yang membuat kelompok pemilik modal seperti pedagang mampu menguasai lebih dari 50 persen perekonomian Nias.

Sampai disini, saya menyimpulkan bahwa kemiskinan di Pula Nias sangat dipengaruhi oleh sistem kapitalisme. Pemilik modal terlalu “berkuasa” dalam mendikte tingkat harga. Dan mereka seolah tidak terjamah oleh kekuatan apapun.

Tidak anehlah kalau Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) menepatkan Pulau Nias sebagai daerah yang paling amburadul tata kelola ekonominya.

Sampai disinilah untuk sementara penelusuran kita tentang akar kemiskinan di Nias. Akan lebih menarik lagi, jika ada yang berminat untuk melakukan pendalaman. Menemukan siapa aktor-aktor yang terlibat dan bagaimana pola keberlangsungan sistem kapitalisme di Pulau Nias ini. Salam***

Erix Hutasoit, bekerja untuk salah satu lembaga sosial di Nias.

Leave a comment ?

115 Responses to Menelusuri Akar Kemiskinan Nias

  1. Berkat Jaya Lase says:

    pak Erix…

    Bagaimana kalau kita semua mencari para investor untuk menanamkan modalnya di pulau nias untuk menampung hasil komoditi yang di hasilkan para petani dengan harga yang bersaing dan harga yang sama2 menguntungkan untuk menyaingi para pengusaha atau para pelaku2 bisnis sehingga dengan adanya persaingan dapat menciptakan harga yang bersaing.Selama ini mereka ( penguasa pasar ) di nias yang berkuasa dan seakan2 tidak ada lagi yang menyaingi.Saya ambil contoh : Harga karet.Di beli di level yang rendah truss di jual di harga yang paling Tinggi, tentunya mendapatkan Untung yang besar,Coba kalau banyak Toke atau para pedagang Karet banyak pasti harganya semakin tinggi di beli dari Petani,akhirnya Petani dapat bernafas.Akhir2 ini aja harga karet naik di kisaran Rp.12.000.Coba kita lihat di tahun2 1990 ke atas, harga karet minta ampun rendah sementara kebutuhan semakin Tinggi.begitu juga dengan komoditi yang lain.Saya sich berharap semoga suatu saat ada yang tergerak hati untuk berinvestasi di nias.

  2. Berton says:

    Pak Daeli,

    Relevan itu relatif lho. Tergantung siapa dan dimana teori itu dipakai. Butuh pengujian dan dukungan data-data.Dan kadang, sekalipun sudah diuji dan didukung data, toh masih ada kok ruang untuk menyangsikannya.

    Walau begitu, saya tidak bisa menjustifikasi kalau teori yang bapak kutip itu tidak revelan lagi. Tidak serta merta karena sudah ditulis 36 tahun yang lalu, analisis itu langsung dianggap usang. Apalagi, saya tak punya data yang kuat untuk menyangkal teori itu..

    Begitu juga dengan tulisan pak erix itu. Walau saya masih penasaran dengan beberapa statementnya, tapi tak etis lah langsung saya cap tak relevan. Apalagi ikut-ikut meragukan data-data yang dikutipnya berdasarkan penelitian ilmiah.

    Begitu lho pak..

  3. Syharial P. says:

    Bapa Erix (komen 79, paragraf 6): “Ternyata bukan saya saja yang susah setengah mati mendapatkan data-data yang bisa mengambarkan kondisi Pulau Nias sebelum gempa terjadi. Kebanyakan data-data yang ada dibuat pasca gempa. Namanya juga data emergency, tentu akurasinya juga tidak begitu kuat. Jadi bapak bisa bayangkan, bagaimana rumitnya untuk melihat seperti apa gambaran kemiskinan di Pulau ini.”

    Kalau sudah sedemikian rumitnya, seperti pengakuan Bapa Erix, mestinya Bapa Erix juga tidak harus bertahan dengan pandangan “struktural” itu donk. Itu masalah sebenarnya. Semakin Bapa Erix bertahan dengan pendapat itu, semakin kuat kesan bahwa Bapak Erix menabukan kritik. Saya pribadi, terprovokasi masuk ke dalam diskusi (walau saya tak pernah ke Nias) karena saya merasa ada sesuatu yang tak beres pada berbagai tanggapan balik Bapa Erix.

    Bapa Erix (komen 79, paragraf 1): “Tentulah saya bukan Galileo yang terkenal itu. Saya tidak secerdas dan seterkenal Galileo. Saya hanya seorang pekerja NGO yang kebetulan bekerja di Pulau Nias. Tidak ada yang special dengan latar belakang saya..” Itulah pernyataan rendah hati seorang Bapa Erix kepada Bapak MJ Daeli (dan mudah-mudahan juga kepada saya lewat diskusi di artikel “Nelson Mandela ….”).

    Akhirnya pernyataan yang rendah hati melegakan semacam itu keluar juga. Diskusi ini tadinya bisa maju lebih cepat selangkah apabila Bapa Erix tidak ‘memprovokasi’ kita dengan paragraf yang menyebut ‘Galileo’ itu 🙂

    Bapa Erix (komen 79, paragraf 10): “Pikiran saya sederhana aja, suatu hari akan ada orang yang akan meneliti tentang Pulau Nias, tulisan saya ini setidaknya akan memberikan dia alternatif untuk memulai penelitiannya. Sehingga orang-orang kelak, tidak akan sesusah saya dulu.”

    Bisa jadi, peneliti yang datang sesudah Bapak Erix akan membaca artikel yang sedang ditulis ini. Tetapi saya ragu, apakah dia atau mereka akan memanfaatkannya untuk bahan penelitiannya supaya dia atau mereka “tidak sesusah saya dulu”.

    Masalahnya begini. Tulisan itu, saya ragukan kadar ilmiahnya. Saya menekankan hal ini karena Bapa Erix dalam berbagai pernyataan mengkaslifikasi artikel itu sebagai artikel ilmiah.

    Sebagai contoh, Bapa Erix menulis dalam artikelnya:

    “Fakta yang lebih fantastis terjadi di tahun 1998-1999. Di tahun 1998, perekonomian Nias ambruk ke angka sekitar minus 10 persen. Tapi kejatuhan ini dapat dimaklumi, karena pada tahun itu Indonesia sedang diguncang kekacauan ekonomi. Namun setahun kemudian, pertumbuhan ekonomi Nias melonjak sekitar 15 persen. Ini menunjukkan betapa produktif nya perekonomian Nias.”

    Bapa Erix mengutip data-data di atas dari BPS. Itu sih tak masalah. Tetapi itu lho, pernyataan: “Ini menunjukkan betapa produktif nya perekonomian Nias.”

    Goncangan ekonomi di masa abnormal seperti itu pasti akan memunculkan angka-angka yang fluktuasinya sangat tinggi. Jadi angka 15 persen sesudah puncak kekacauan ekonomi itu hanya menunjukkan bahwa perekonomian memang membaik, kembali ke arah normal, dan yang 15 persen itu dihitung dari garis referensi pada posisi minus 10 persen tadi. Jadi angka 15% sesudah masa krisis itu tidak harus menunjukkan “betapa produktifnya perekonomian Nias.” Yang lebih serius lagi, Bapa Erix hanya mengutip dua angka di masa krisis (- 10 % dan 15 %) tetapi tidak mendiskusikan angka-angka pada tahun-tahun sebelum dan sesudahnya.

    Bagaimana bisa Bapa Erix menyimpulkan “Ini menunjukkan betapa produktif nya perekonomian Nias.” dari dua angka statistik di masa krisis ? Rasanya itu hanya bisa melalui ektrapolasi, dan extrapolasi sebagaimana kita tahu mengandung berbagai ‘bahaya’ sebagai alat prediksi.

    Itu baru sebuah contoh kasus mengapa saya (dan beberapa Bapa / Ibu yang lain) agak ‘keras’ sampai mengatakan tulisan Bapa Erix ‘dangkal’. Bapa Erix tak seharusnya merasa ‘aneh’ dengan pelabelan macam itu. Itu semacam ‘cercaan’ bersifat ilmiah. Kosa-kata lain adalah: tak berdasar, terlalu lemah, inkonsisten, tak logis, dst. Dan semua label ‘keras’ itu dengan sendirinya akan tanggal apabila Bapa Erix bisa buktikan sebaliknya.

    Satu lagilah. Dalam jawabannya kepada Bapa MJ Daeli (komen 48) Bapa Erix menulis:
    “Perlu dicatat bahwa saya bukanlah orang yang pertama yang menditeksi kemiskinan struktural di Pulau Nias ini. Jauh sebelum saya sudah ada orang-orang yang melakukan hal itu.”

    Nah, baru ketahuan … Bapa Erix sebenarnya cuman ‘membonceng’ pendapat sebelumnya yang sudah ada (Nazara, Cut Dian, dst). Kenapa kok ini gak masuk dalam referensi artikel Bapa Erix? Mengapa referensi-refensi itu baru keluar sesudah dicecar? Nah kalau, para peneliti terdahulu sudah mengidentifikasi faktor ‘struktural’ sebagai salah satu penyebab kemiskinan di Nias, mengapa peneliti berikutnya (baca: Bapa Erix) seakan melupakan rujukan-rujukan itu pada artikelnya? Atau jangan-jangan baru dibaca setelah cecaran itu terjadi … Dan kalau memang ini benar, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa metode penelitian yang Bapa Erix pakai sudah OK ?

    “… saya bukanlah orang pertama yang mendeteksi …”

    Pernyataan ini terkesan ‘dahsyat’, sebab orang yang mengatakannya haruslah punya alasan kuat untuk melakukan ‘deteksi lanjutan’. Apa alasan Bapa Erix ikut ‘mendeteksi’? Adakah kekurangan dari analisis mereka (baca: para peneliti sebelumnya?) atau adakah hal yang baru yang Bapa Erix ketengahkan pada artikel itu? Bolak balik saya membaca, saya tidak menemukan hal yang baru itu, atau hal yang ‘tidak familiar di Indonesia’ itu.

    Bapa Erix (komen 79, paragraf 13): “Sialnya, beberapa komentar itu, datang dari orang-orang yang belum pernah tinggal di pulau nias ini. Saya jadi ragu untuk menjawab.”Ini cuma jadi debat kusir saja,” kata saya dalam hati…”

    Saya harus menanggapi ini, karena saya kebetulan tak pernah ke Nias. Jadi Bapa Erix beranggapan, hanya orang yang pernah ke Nias yang bisa berbicara tentang kemiskinan di Pulau Nias. Secara sepintas, ini pernyataan yang sangat sahih.

    Tapi tunggu dulu, pernyataan itu juga menyiratkan bahwa kemiskinan di Nias adalah unik, khas, khusus, kemiskinan yang memiliki karakteristik yang berbeda dari daerah lain. Kalau itu benar, saya angkat tangan, dan mulai saat ini saya akan berhenti menanggapi. Tetapi sebelum melakukan hal itu, saya bertanya: benarkah kemiskinan di Nias memiliki keunikan, kekhasan, kekhususan ? Bapa Erix (yang sedang mengabdi di Nias) tentulah bisa memberikan pencerahan.

    Syarial P.

  4. Berton says:

    To Mr. Syahrial

    Allow me help you.For your information:

    “Sejak 1994 sampai 2004, misalnya, rata-rata pertumbuhan Kabupaten Nias sebesar 4,71 persen per tahun. Angka ini lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan Sumatera Utara (4,36%) dan Indonesia (3,49%),” (Study Ekonomi Nias, LD-UI, Hal.44)

    Hopefully can useful..

    Thanks,

  5. erix says:

    Pak Syahrial P

    Secara teori kemiskinan bisa saja didefenisikan secara general. Kemiskinan bisa saja punya kesamaan-kesaman. Tapi secara praktek, tiap-tiap daerah punya keunikan tersediri. Keunikan itu bisa dilihat dari segi sejarah budaya, sistem kekuasaan lokal, aktor-aktor, letak geografis dll.

    Saya kasih contoh. George Junus Aditjondro dalam Konsultasi Regional KKJD (Kelompok Kerja Jaringan Demokrasi) Sulawesi di Palu, 17-18 Juli 2006, menulis sebuah kajian tentang analisis ekonomi-politik Pulau Sulawesi. Dalam makalah yang berjudul DINAMIKA POLITIK dan MODAL di SULAWESI (2006) itu, dia menulis : ,” ada lima faktor yang sangat berpengaruh terhadap dinamika ekonomi-politik di Sulawesi, yakni: (a). dominasi Partai Golkar dan satelit-satelitnya di hampir semua provinsi di Sulawesi; (b). ekspansi modal dari Jakarta dan mancanegara untuk mengeksploitasi sumber-sumber daya alam di pulau ini; (c). dominasi korporasi-korporasi milik keluarga dan konco-konco Wakil Presiden Jusuf Kalla dan korporasi-korporasi yang dekat dengan tokoh politik nasional yang lain di pulau ini; (d). keragaman etno-linguistik yang tinggi di pulau ini, yang sering tumpang-tindih dengan keragaman agama, sehingga konflik-konflik ekonomi politik berbasis kelas dengan mudah dapat ditransformasikan menjadi konflik-konflik komunal atau sektarian; (e). siasat faksi-faksi militer untuk mengawetkan konflik-konflik komunal untuk menghancurkan resistensi penduduk setempat bagi masuknya modal besar di bidang pertambangan, perkebunan, kehutanan, serta pembangunan proyek-proyek infrastruktur besar seperti PLTA.”

    Dari contoh itu kita bisa lihat, ditingkatan lokal, karakteristik kemiskinan sangat berkaitan dengan kondisi ekonomi-politik yang terjadi. Dan kondisi ekonomi-politik itu sangat khas dimasing-masing daerah..

    Kalau di Pulau Nias, konflik seperi di Sulawesi itukan ngak ada. Jadi jelas pola-pola penyebab kemiskinan itu berbeda ditiap-tiap daerah.

    Walau begitu pak, jangan berhenti untuk berkomentar. Setidaknya, bapak sudah ikut memberikan warna dalam diskusi ini.

    Salam,

    Erix

  6. Ya'ahowu says:

    Saudaraku Erix,

    Tentu Erix memahami betul yang ditulis oleh Erix. Saya mau tanya yang dimaksud oleh Erix dengan :

    1. teori kemiskinan
    2. keunikan kemiskinan
    3. pola-pola penyebab kemiskinan
    4. hubungan akar kemiskinan dengan analisa George Junus Aditjondro

    Pertanyaan itu saya mulai dari pemahaman bahwa kemiskinan itu adalah suatu hal mengenai miskin.

    Terima kasih !

  7. Redaksi says:

    Buat para penanggap artikel Sdr. Erix, mohon diperhatikan: penulisan nama Sdr. “Erix” dengan “x”, bukan “Eric”. Redaksi telah berusaha memperbaiki berbagai kesalahan penulisan pada komentar terdahulu. Untuk ke depan, mohon lebih cermat.

    Salam,

    Redaksi

  8. Fidel Dapati Giawa says:

    Salut buat Bapak, Ibu dan Para Sahabat yang terlibat dalam majelis diskusi ini. Dari pada kita ngomelin para legislator kita yang seharusnya berkewajiban mengulas masalah kemiskinan rakyat, lebih baik kita buka forum dan wacana sendiri, ya… kan….?
    Makasih buat redaksi dan Bung Erix yang telah mencoba memprovokasi para peserta diskusi. Saluut buat Anda sekalian. Provokasi Bung Erix patut kita hargai karena provokasinya sejauh ini tlah membangun diskusi yang konstruktif.
    Oh ya…. buat para mailer yang sudah terlebih dahulu nimbrung dalam forum ini sy mohon maaf. Berhubung saya baru ikut nimbrung, tentunya ga bisa komentar semendalam teori dan argumntasi yang sudah pada dikemukakan di sini. Maklum, saya cuma melakukan scanning review atas seluruh argumentasi dan komentar yang telah tertuang. Saya cuma sempat sesapuan tatapan mata. Any way, saya liat semua memberi kontribusi positif terhadap persoalan kemiskinan.
    Sebagai komentar pendahuluan, saya tujukan pada Bung Sin Liong. Bung, anda cukup berbeda di forum ini, penampilan Anda nyentrik, cuek, santai, tapi rupanya Anda cukp menyimak dan menyampaikan hal mendasar dan mengena. Sapuan mata saya pada seluruh komentar yang tertuang di halaman ini, selalu berhenti di komentar Anda.
    Baiklah, para anggota majlis diskusi yang budiman. Saya ingin menyampaikan tiga hal berkaitan dengan celetukan Bung Liong:
    Pertama, Dengan merekfleksikan kisah Negeri Buthan yang disampaikan Bung Liong, bagaimana hubungan antara komunitas si miskin dengan dunia luarnya dapat menjadi faktor pemiskinan. Apakah ini dapat dilihat dalam tataran teori kemiskinan struktural?
    Kedua, masih terinspirasi paparan Tuan Kho Ping Ho, apakah variabel-variabel lokalitas dapat dipadukan dengan teori-teori ekonomi makro yang umum (spt GNP, GDP, dst)untuk menjastifikasi tingkas kemiskinan sebuah kelompok masyarakat? Sangat menarik, celetukan Bung Liong yang memancing kita mensitesakan cerita fiksi negeri Buthan dengan kisah ilmiah yang ia kutip dari Geertz tentang negeri yang sama.
    Yang Ketiga, apakah gejala-gejala alam menjadi faktor pemiskinan juaga dan bagaimana hubungannya dengan teori kemiskinan struktural? (Bandingkan, Nias yang di atas episentrum Gempa dengan Buthan yang jauh dari TItik episentrum gempa, ha…) Tentunya kita tidak hanya bicara tentang gempa melainkan gejala alam lainnya.

    Baiklah,
    para peserta majlis diskusi semoga wacana kita dapat terus berlanjut.

    Special thank’s kepada Bung Liong. U really inspired me.

    Ya’ahowu

  9. Ramlan says:

    Bung Erix,

    Wah baru kali saya tahu ada nama orang seperti itu pakai “X”.

    Saya sama seperti bung, pernah mencari gambaran kemiskinan di Pulau Nias ini sebelum gempa. Dan saya tidak menemukannya. Terima kasih buat artikel pendek bung provokatif ini. Artikel ini setidaknya bisa membantu saya untuk memahami soal kemiskinan di Pulau Ononiha ini..

    Pak Yahoo`wu, kemiskinan itu seperti kata bung Erix secara teori punya kesamaan. Namun secara praktis, dia punya perbedaan dan keunikan yang dipengaruhi geopolitik daerah itu. Misalnya, Pulau Bali dan Pulau Nias, sama-sama Pulau. Tapi letak geopolitik membuat keadaan (situasi) kedua pulau ini berbeda. Baik secara struktur ekonomi, tingkat pendidikan dan lain-lain.Itu yang saya ketahui pak..

  10. Fatoni Z says:

    kalo sebelum gempa gak ada kemiskina, terus pascagempa timbul pulak gambaran kemiskinan… itu namanya kemiskinan natural… karna faktor gejala alam!