Batu Yang Enggan Bercerita – Catatan Ringan Untuk Ama Robi Hia

E. Halawa*

“Sebagai arkeolog, saya juga mencoba mendengarkan batu-batu yang bercerita kepada saya.” – J.A. Sonjaya (Ama Robi Hia)

Akhir-akhir ini Nias semakin ‘mendunia’ oleh sekurang-kurangnya 4 hal utama: bencana (banjir 2001, tsunami 2004, gempa 2005), maraknya blog/situs beratribut ‘Nias’ di dunia maya (baca artikel: Nias Meramaikan Dunia Maya), program RR Nias (lihat berbagai artikel di Diskusi Online II dan Rekonstruksi), dan makin ‘menjamurnya’ hasil karya para peneliti tentang Nias.

Ketiga hal utama yang menduniakan Nias yang disebut di depan telah banyak didiskusikan dan informasinya cukup tersedia di dalam berbagai topik di situs ini, dan tulisan singkat ini tidak bermaksud membahas hal ini.

***
Belum lama ini, sebuah buku baru tentang Nias berjudul: “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias” diluncurkan. Buku terbitan Kanisius, Yogyakarta, itu ditulis oleh J. A. Sonjaya, peneliti dan arkeolog dari Universitas Gajah Mada. Penulis artikel ini belum memiliki akses penuh ke buku “Melacak Batu…” ini, tetapi ‘cipratannya’ dapat penulis ikuti di blog J.A. Sonjaya (jasonjaya.blogspot.com). Selanjutnya melalui dua artikelnya yang menyangkut “Melacak Batu …” yakni: Melacak Mitos Siléwé Nazarata dan Kisah Awuwukha Pemburu Kepala, Victor Zebua menambah informasi penulis tentang buku tersebut.

Kesan pertama ketika membaca tulisan-tulisan J.A. Sonjaya tentang Nias di blognya adalah informasi yang mengalir, bahasa yang jelas, lugas, mudah dimengerti, dan terstruktur dengan baik. Hal ini tentu saja membuat berbagai kisah tentang Nias dalam paparan Sonjaya (sekurang-kurangnya dalam artikel-artikel di blog-nya) sangat mengasyikkan. Sekedar pembanding, penulis membutuhkan usaha ekstra keras untuk coba memahami jalan pikiran P. Johannes dalam berbagai karyanya.

Kesan kedua, Sonjaya sungguh-sungguh terjun ke lapangan, turun ke bawah, berinteraksi secara amat dekat dengan orang Nias, mondri ia ba zi mondri ira (ia mandi di tempat pemandian mereka), manga afo nibidira ia (ia makan sirih buatan mereka), bahkan sampai manga föfö göra ia (ia makan bagian dari makanan mereka). Dalam hal ini, barangkali tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa sejauh itu Sonjaya telah menerapkan metodologi yang mendekati sempurna ketika melakukan penelitiannya.

Keadaan ini barangkali tidak dialami / dinikmati sepenuhnya oleh P. Johannes yang – karena kedudukannya sebagai seorang imam Katolik – telah menempati posisi tertentu, telah memiliki citra tertentu, telah menggoreskan kesan tertentu di hati para informan yang membantunya dalam usahanya mengoleksi berbagai ‘serpihan-serpihan’ budaya Nias. P. Johannes mungkin juga mondri ba zi mondri para informannya, manga afo nibidira ia, dan tentu saja biasa manga föfö göra, tetapi P. Johannes tetaplah P. Johannes yang adalah seorang imam Katolik, seorang yang telah mendapat kedudukan khusus di hati para informannya, yang umumnya adalah umatnya, yang biasa memanggilnya Ama, Pater, Amada Fasitoro. P. Johannes bukanlah Sonjaya yang adalah Ama Robi Hia yang bisa diajak bersenda gurau, yang bisa duduk-duduk sambil bercanda di fale-fale lafo di harimbale, atau di dapur, atau di daerah-daerah lain dalam rumah orang Nias yang bagi P. Johannes ‘terlarang’.

Sejauh itu, kita salut kepada J.A. Sonjaya alias akhida Ama Robi.

***
Kalau ada sedikit kesan yang bernada agak kritis masuk dalam tulisan ini, tiada lain bermaksud mendorong Ama Robi untuk lebih giat lagi melahirkan karya-karya yang lebih baik dari jerih payah penelitiannya tentang Nias di masa lalu dan ke depan.

Karena posisi Ama Robi Hia yang begitu lentur dalam berinteraksi dengan masyarakat Nias yang sedang diamatinya itu, tak mengherankan bahwa Ama Robi Hia (seharusnya) bisa mendulang berbagai informasi yang dibutuhkannya untuk penelitiannya; singkatnya, Ama Robi Hia seharusnya bisa mengajak batu bercerita dan ‘mendengar batu-batu itu bercerita’ kepadanya.

Sayangnya, sejauh yang kita tangkap dari pengantar buku ‘Menguak Mitos …’ dan tulisan-tulisan lain Ama Robi dalam blog-nya, cerita batu-batu itu tidak selalu gampang ditangkap dengan jernih oleh telinga Ama Robi. Berikut adalah beberapa catatan ringan untuk Ama Robi Hia.

Penguasaan Bahasa Lokal

Menggali informasi langsung dari sumber-sumber asli di Nias sana sedikit banyaknya mempersyaratkan kompetensi berbahasa Nias. Kita tidak tahu sejauh mana kompetensi Ama Robi berbahasa Nias, tetapi dari komunikasinya dengan Victor Zebua (Ama Angelin) di ruang komentar Situs ini, Ama Robi mengakui ‘keterbatasan dalam bahasa’ Nias. Hal itu juga terlihat dari beberapa ‘kesalahan tulis’ kata-kata Nias dalam berbagai tulisannya, yang tidak seharusnya terjadi. Kelemahan ini bukanlah kelemahan Ama Robi seorang, tetapi kelemahan hampir setiap orang yang berminat melakukan riset tentang Nias.

Setiap kali seorang mahasiswa Indonesia mempertimbangkan belajar di luar negeri, setiap kali dia harus bertanya kepada dirinya: “berapa skor TOEFL atau IELTS saya sekarang ?” Hal ini disebabkan karena belajar di luar negeri (yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar) mempersyaratkan kemampuan berbahasa Inggris secara ketat karena alasan yang sangat masuk akal: menggali pengetahuan memerlukan komunikasi dengan sumber-sumbernya: buku, jurnal, berbagai rekaman tertulis, dan sumber informasi hidup: manusia. Tanpa komunikasi yang baik (melalui penguasaan alat komunikasi yang baik), penggalian pengetahuan tidak akan berlangsung secara optimal.

Ada kecenderungan, dalam ilmu-ilmu sosial persyaratan ini diabaikan, dianggap bukan hal yang menjadi syarat utama. Berbekal minat, semangat yang membara dan keinginan berpetualang ke daerah-daerah yang tadinya tak pernah terlintas dalam pikiran, seseorang bisa saja tiba-tiba menjadi seorang ‘peneliti’. Para ‘peneliti’ – khususnya peneliti dari luar negeri – berlomba menghimpun data dengan metode penelitian seadanya lalu mengumumkan hasil-hasil ‘penelitian’ itu ke seluruh dunia. Berbekal penguasaan terbatas bahasa lokal dan dibantu oleh pengalih bahasa amatiran, para peneliti tadi mengoleksi data, memprosesnya sekedarnya lalu mempublikasikannya. Tidak heran, hasil penelitian semacam itu ibarat buah muda yang diperam, matang karena terpaksa.

Penelitian Butuh Kesabaran
Setiap kali ada orang Indonesia asli yang meneliti tentang Nias, selalu saja ada harapan yang lebih dari masyarakat Nias. Alasannya sederhana: para peneliti Indonesia tentulah lebih mudah ‘masuk’ ke dalam alam pikiran Ono Niha karena faktor kedekatan sosial kultural. Sayangnya, Ama Robi terkesan terburu-buru mempublikasikan data-data yang dikoleksinya tanpa terlebih dahulu melakukan pemrosesan yang wajar terhadap berbagai data itu sebagaimana dipersyaratkan dalam setiap penelitian.

Yang dikuatirkan dari proses yang terkesan terburu-buru adalah tersebar luasnya informasi ‘baru’ yang keliru dan terdistorsi, entah karena sengaja atau tidak sengaja melalui penafsiran seadanya, atau karena belum melalui proses ‘C & R’, cek dan ricek. Ini hanya memperpanjang rantai kesia-siaan dalam proses peneltian, yang seharusnya tidak terjadi. Kesia-siaan karena dibutuhkan usaha penelitian baru lagi hanya untuk meluruskan informasi yang sempat ‘bengkok’ itu.

Proses triangulasi yang disarankan Zebua justru ‘dihindari’ oleh Ama Robi, dengan alasan:
“Dalam penelitian semacam ini tidak perlu menggunakan triangulasi karena yang dicari bukan kebenaran melainkan pemahaman pribadi saya pada apa yang saya amati.”

Penlitian seharusnya menggali kebenaran objektif
Pernyataan di depan agaknya mengandung ‘kontradiksi internal’. Penelitian dalam pemahaman yang umum dalam dunia ilmiah adalah usaha untuk menemukan kebenaran ‘objektif’, kebenaran yang diharapkan bebas dari unsur-unsur subjektif. Dalam ilmu-ilmu kealaman, unsur-unsur subjektif bisa dieliminasi atau diminimumkan dengan mempercayakan pengamatan kepada sensor-sensor mekanis. Sebaliknya, dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, unsur subjektivitas itu tidak bisa dihilangkan secara total, paling banter kita bisa menekan sekcil-kecilnya. Hal ini tidak gampang.

Dalam ilmu-ilmu kemanusian, sang subjek dan objek bisa subjektif, dan peneliti harus meminimalkan unsur-unsur subjektif baik pada pihak subjek (peneliti itu sendiri) maupun pada objek penelitian (yang adalah juga seorang subjek, ‘batu hidup’, bukan gowe yang ditancapkan di depan sebuah rumah di Nias sana). Kalau hal ini diabaikan, maka ‘batu hidup’ yang tadinya diharapkan bercerita ‘seadanya’ dan mengungkapkan dirinya seutuhnya, menjadi enggan bercerita, enggan membuka diri ‘seadanya’.

Tidak gampang melakukan penelitian yang melibatkan manusia sebagai ‘objek’ penelitian. Kalau dalam kelompok ilmu-ilmu kealaman ada sensor-sensor yang ‘meraba’ gejala secara cukup objektif dan secara berkala dikalibrasi, ‘sensor-sensor’ dalam kelompok ilmu-ilmu kemanusiaan tidak seandal yang disebutkan terdahulu. Lebih-lebih lagi kalau dalam upaya untuk bisa sedekat mungkin dengan ‘objek’, sang ‘subjek’ dan ‘objek’ membaur, berinteraksi menjadi sebuah ‘larutan subjek-objek’. Ketika subjek-objek telah ‘larut’, pengamatan oleh subjek tidak bisa lagi dilakukan secara sahih.

Bukankah pernyataan “pemahaman pribadi saya pada apa yang saya amati” merujuk pada kebenaran subjektif? Kalau mengikuti alur logika pernyataan ini, maka judul: “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur” benar adanya, tetapi ‘benar menurut pemahaman Ama Robi’, bukan benar sebagaimana ‘objek menampakkan diri secara seadanya’. Dan ramifikasinya adalah: tulisan-tulisan Ama Robi yang menyangkut ‘perburuan kepala di Nias’ atau penelusuran ‘identitas kemanusiaan kita dari masa prasejarah (megalitik) hingga masa kini’ tidak bisa menjadi rujukan pihak-pihak lain, karena kata mereka (pihak lain itu): ‘Itu kan menurut pemahaman pribadi Ama Robi, sebenarnya bukan seperti itu …’. Kalau demikian halnya, bagaimana kita memaknai sebuah buku tentang Nias yang ingin melacak dan menguak “makna budaya dan identitas” Nias tetapi yang larut dalam larutan pekat subjektivitas?

J. A Sonjaya putra Sunda telah menjadi Ama Robi Hia niha khöda melalui “perjumpaan kultural” yang tak disangka-sangka. Semoga catatan kecil ini (dan berbagai ‘catatan’ lain yang terkait dalam situs ini) dilihat dari sisi positif: meningkatkan kualitas produksi penelitian Ama Robi tentang Nias.

Leave a comment ?

18 Responses to Batu Yang Enggan Bercerita – Catatan Ringan Untuk Ama Robi Hia

  1. Nata says:

    Saya sangat salut atas saran-saran dan ide-idenya pak E. Halawa. Mengikuti alur pemikiran melalui komentar-komentar beliau, saya sebagai putra Nias yang tidak banyak tahu tentang berbagai hal dan dunia ini terkagum-kagum dan dengan jujur mengatakan bahwa seharusnya beliaulah yang menjadi peniti, penulis dan pelaku segala sesuatu mengenai berbagai hal di Nias. Saya belum menemukan sosok orang Nias yang mengetahui segala bidang displin ilmu seperti beliau. Karena itu saya masih mimpi membaca karya besar beliau lewat penelitian tentang Nias, sehingga kami yang memiliki minat besar untuk belajar memiliki referensi dan rangsangan dasar inspirasi. Mungkin saja komentar ini dianggap sangat berlebihan, tapi itulah ungkapan yang jujur dari saya.
    Namun demikian, berbagai karya dari orang lain yang sudah ada sekarang ini juga sangat membantu para penggemar Nias untuk mulai belajar. Dari kesalahan para peneliti itu juga muncul ide-ide yang cemerlang. Kita tinggal mengkritisi yang sudah ada. Bisakah kita mengkritik dan memperbaiki yang belum ada?
    Salam buat Pak E. Halawa. Kami menanti karya Bapak. Trims.
    Nata Duha

  2. ehalawa says:

    Pak Nata Duha yang baik,

    Terima kasih atas komentar Anda tentang berbagai tulisan saya di situs ini. Senang, karena Anda peduli tentang Nias melalui berbagai karya Anda di YPN.

    Untuk saat ini, saya khusus menanggapi komentar Anda mengenai ‘karya’ saya. Dengan segala kerendahan hati, saya mengatakan karya tulis saya tentang Nias barulah tulisan-tulisan lepas yang dapat Anda baca dalam berbagai topik di situs ini.

    Ada rencana kami untuk membukukan tulisan-tulisan lepas yang ada di situs ini, khususnya yang menyangkut budaya dan bahasa Nias, termasuk di dalamnya berbagai diskusi yang cukup hangat beberapa waktu yang lalu di situs ini tentang tafsiran Pater Johannes tentang “Teteholi Ana’a”. Tujuannya tentu untuk memancing diskusi selanjutnya dari para pembaca.

    Saya pribadi sangat senang mendapat masukan dan kritik atas tulisan-tulisan tersebut, sebagai cara saya untuk lebih memahami bahasa dan budaya Nias.

    Salah satu alternatif penerbitan adalah melalui Yayasan Pusaka Nias. Kalau berkenan, tolong didiskusikan dengan Pater Johannes. Soal biaya nanti kita akan rembukkan bersama.

    Salam buat Pater Johannes dan mohon tanggapan atas usul penerbitan ini.

    Salam,

    ehalawa

  3. Mathias J. Daeli says:

    Memang, apa yang telah dilakukan Saudara J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia) di Boronadu, tidak semua orang dapat melakukan. Tetapi setelah membaca tulisan “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur”, saya menjadi bertanya : Apa yang menjadi tujuan penelitian/pengamatan Saudara Sonjaya di Boronadu ? Sadarkah Saudara J.A. Sonjaya bahwa orang Nias tidak dapat dilihat dan dinilai hanya dari Boronadu saja ? Sadarkah J.A. Sonjaya bahwa hasil penelitian budaya harus dimengerti dan difahami karena dihayati oleh kelompok masyarakat yang ditelitinya ? Alangkah tidak benarnya, kalau, karena saya melihat di Garut permainan adu domba(domba benaran, bukan arti kiasan) langsung saya tarik kesimpulan Sunda senang adu domba.

    Sekali lagi harapan kita, termasuk Saudara J.A. Sonjaya, komentar-komentar yang disampaikan terhadap tulisan Saudara Sonjaya menjadi bahan perenungan.

  4. Yo'el Hia says:

    Pada prinsipnya kita senang budaya Nias digali, sehingga menjadi salah satu modal untuk memajukan Nias sejajar dengan daerah-daerah lain melalui budayanya. Tetapi mohon kepada saudara-saudara peneliti jangan melihat Nias dengan hanya satu sisi,karena bisa saja muncul persepsi yang salah bagi orang lain.
    Harapan saya mohon budaya Nias ini diangkat untuk menambah informasi bagi orang lain tentang Nias.
    Terima kasih

  5. Nata says:

    Ya’ahowu kembali Pak Halawa dan bapak/ibu/sdra/i yang selalu berdiskusi dalam website ini.
    Saohagölö pak Halawa, kapan ke Nias lagi?

    Ya, tentu saja kita sangat terbuka untuk berbagai hal ril yang sifatnya untuk Nias tanpa melihat batas-batas teritorial Nias itu sendiri.

    Justru saya melihat bahwa sesungguhnya kita punya banyak potensi, tapi kita belum mengeksplor potensi itu.

    Misalnya, saya mimpi dan ingin sekali jika para pakar yang berkomentar di Web ini melakukan penelitian langsung ke lapangan. Dari hasil itu, orang atau publik bisa juga belajar bagaimana hasil penelitian yang berkualitas sebagaimana kita selalu kritik.

    Saya punya keyakinan bahwa sejago apa pun hasil penelitian sosial dan budaya pasti ada kelemahannya dan ketidak-objektifannya. Keyakinan saya itu, bisa bubar, jika suatu saat ada suatu hasil penelitian yang sempurna dan tidak pernah berakhir kebenarannya/keberlakuannya yang ditentukan oleh publik.

    Nah, tentang penelitian Sonjaya, saya pikir pasti juga banyak kelemahannya. Tapi, Adakah di antara kita yang bisa melakukan penelitian yang lebih baik dari beliau? Saya tunggu dan siap membantu. Kalau boleh, jangan hanya penelitian literatur, atau menganalisa pendapatnya/kayanya orang.
    Kita boleh tidak setuju kalau Pak Sonjaya melakukan penelitian di Börönadu, lalu mengambil kesimpulan bahwa begitulah Nias. Saya rasa Pak Sonjaya juga berpikir demikian.

    Namun, kita tidak boleh juga mengklaim bahwa penelitian yang hanya meliputi Börönada atau skop wilayah yang terbatas, tidak benar dan tidak boleh mengatasnamakan Nias. Bahkan jika hanya di satu dusunpun, masih tetap Nias.

    Salam, Saohagölö.

    Mari kita dorong dan bantu orang-orang yang mau meneliti Nias. Dari sana, pasti ada secuil yang baik, positif dan berguna.

  6. roni says:

    Seseorang seringkali merasa hati curiga & takut terhadap kritik. Tak ia hiraukan lagi tentang apa isi kritik yg ditujukan padanya. Malahan ia bertanya-tanya pada rumput yg bergoyang: kenapa aku dikritik?; kenapa orang lain tak mendorong & membantuku?; kenapa orang-orang tega mencerca karyaku habis-habisan?… Karna bertanya-tanya terus langkahnya terhenti, ia berputar-putar di alam pikirnya sendiri, parno, frustasi, sampai menutup diri dari dunia yg indah ini… Reaksi yg elegan & rasional menghadapi kritik bukanlah “bertanya”… tapi “menjawab” atas hal-hal apa yg dikritik… disitu pasti ada secuil langkah maju… Saya mimpi ilmu-pengetahuan menyangkut Nias senantiasa didorong oleh adanya kritik, karna saya tau ilmu-pengetahuan tumbuh & berkembang subur karna indahnya tradisi kritik. 🙂

  7. Mathias J. Daeli says:

    Kritik itu indah bagi yang berpikir tenang. Sebab dengan demikian dia memperoleh bahan gratis untuk pengembangan.

    Kalau tidak ada penelitian maka ilmu pengetahuan berjalan di tempat. Penelitian mengenai Nias, baik malah sangat baik demi pengembangan dunia kehidupan di Nias sendiri khususnya dan umat manusia pada umumnya. Karena itu marilah kita mendorong para peneliti untuk melakukan penelitian di Nias, baik dari luar Ono Niha dan Ono Niha yang memiliki kesempatan.

    Dihindari penelitian yang hanya bertujuan : ilmu demi ilmu, kebanggaan peribadi sang peneliti, dan yang hasilnya hanya dicocok-cocokkan sehingga tidak dimengerti oleh orang Nias sendiri. Penarikan kesimpulan penelitian hendaklah rasional terkait dengan Nias.

    Saohagolo. Ya’ahowu !

    Ama Ugi Daeli

  8. Sof Lase says:

    Jajang A. Sonjaya meneliti Boronadu dgn manhaj al-fikr (paradigma) interpretif. Penelitian INTERPRETIF bersifat IDEOGRAFIS. Penafsiran data dan kesimpulan di penelitian jenis ini berlaku partikularistik Boronadu. Wilayah penelitian Boronadu tak bisa direpresentasikan begitu saja dgn seluruh wilayah GEOGRAFIS Nias. Jadi mengherankan kalau Sonjaya menarik induksi dan kesimpulan NOMOTETIS mengatas-namakan Nias.

  9. t. ganumba says:

    Peneliti kebdayaan Nias perlulah kehati-hatian sebab Nias yg terlihat sekarng adalh budaya bersifat kronologis -tak terjadi bersamaan. Jangan serampangan digabung-gabungkan produk masa lalu -masa lalu itu eranya berbeda-beda- utk dipahami kt semua.

  10. dian hulu says:

    Sy bs ikuti isi diskusi ini.. asyiek n mencerahkan. silahkah lanjutkan berdiskusi.

Reply to Sof Lase ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>