Lompatan Gemilang Si Fahombo Batu

“Mau ke Nias? Wow.. lompat batu!”. Begitu terkenalnya lompat batu sehingga menjadi ingatan yang muncul dibenak bila menyebut Nias. Lompat batu yang unik itu, memang hanya ada di Nias. Nias memiliki kekayaan peninggalan budaya (tangible dan intangible) seperti rumah adat, berbagai artefak dan tradisi yang unik. Diantaranya yang paling terkenal adalah tradisi Lompat Batu atau Fahombo Batu.

Jejak tradisi
Fahombo Batu merupakan ritual budaya sebagai simbol kedewasaan pemuda Nias. Fahombo batu dilangsungkan sebagai inisiasi menguji ketangkasan fisik dan kesiapan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Batu yang harus dilompati berupa susunan batu megalit yang tersusun mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atasnya datar. Tingginya kurang lebih 2 (dua) meter dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Di depannya ada undukan batu kecil setinggi 30an cm, dimana tempat kaki dipijakkan sebelum melakukan lompatan. Dengan bentuk susunan batu tersebut maka fahombo batu tidak sekedar melompat batu. Melakukan fahombo batu memerlukan teknik khusus karena memiliki tingkat kesulitan tertentu. Di masa lampau bagian atas batu bahkan ditutupi dengan duri dan bambu runcing tajam. Para pelompat tidak hanya harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus mampu mendarat dengan posisi yang tepat. Untuk itu pelompat batu perlu menginjak batu undukan kecil sebagai teknik mendorong daya lompatan dan kemudian mendarat dengan tepat. Salah menginjakkan kaki pada batu undukan kecil, daya dorong kurang dan kekuatan melompat akan terbatas. Kesalahan teknis dalam hal ini akan dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang. Karena itu para pemuda melakukan latihan berulang-ulang. Bagi masyarakat Nias seorang pemuda dari satu keluarga yang sudah dapat melakukan fahombo batu dengan sempurna untuk pertama kalinya, merupakan satu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa. Untuk kegembiraan itu, keluarga lalu mengadakan syukuran. Bagi kalangan bangsawan bahkan mengadakan acara dengan menjamu para pemuda desanya.

Seorang pemuda yang mampu melakukan fahombo batu dengan sempurna dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya, memasuki pernikahan dan untuk menjadi prajurit desa jika ada perang antar desa atau konflik dengan warga desa lain. Ketangkasan melompat batu merupakan kebutuhan dan persiapan , baik untuk menyerang, bertahan, maupun untuk menyelamatkan diri. Dahulu kerap terjadi peperangan antar desa di Nias karena itu karena itu desa-desa di Nias selalu dikelilingi pagar dan berbagai bentuk rintangan sebagai pertahanan. Pagar dari batu, bambu atau batang pohon, dibangun mengelilingi desa setinggi kira-kira 1,5 – 2 meter. Banyak penyebab konflik dan perang antar kampung antara lain masalah perbatasan tanah, perempuan, ketersinggungan harga diri, dan masalah lainnya. Konon pula tradisi fahombo-batu ini dikaitan dengan kisah berburu kepala manusia (mangani binu) dalam legenda Awuwukha. Hal ini pula menjadi salah satu faktor terjadinya peperangan antar desa. Ketika para pemburu kepala manusia dikejar atau melarikan diri, maka mereka harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran supaya tidak terperangkap di daerah musuh. Ketangkasan dibutuhkan untuk melompati benteng pertahanan yang sulit dilewati. Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain atau menyelamatkan diri akan menjadi pahlawan di desanya.

Sekarang ini, jejak tradisi lama itu telah menjadi sebuah atraksi pariwisata yang unik, tiada duanya di dunia. Dalam sebuah pertunjukan, beberapa pemuda Nias berpakaian adat secara bergantian melakukan fahombo batu dalam atraksi ini. Bagi pelompat yang sudah mahir, fahombo batu dilengkapi dengan berbagai gaya lompatan yang menarik saat sedang mengudara. Ada yang dengan aksi menarik dan menghunus pedang, dan ada juga yang menjepit pedangnya dengan gigi, dan lain-lain. Sehingga fahombo batu kemudian bukan lagi berupa tradisi tetapi kemudian juga mejadi sebuah atraksi yang menarik dan kadang mencekam. Bila seorang pelompat melakukan atraksi lompatan dengan gemilang maka para penonton akan mengeluarkan decak kekaguman dan memberikan tepuk tangan pujian baginya. Atraksi yang berlatar belakang tradisi ini menjadi satu acara yang sangat diminati wisatawan yang datang ke Nias. Bahkan atraksi ketangkasan ini telah memperkenalkan Nias dan dijadikan sebagai ikon pariwisata dan gambarnya tercantum pada mata uang rupiah.

Lompatan gemilang
Fahombo batu dapat diselenggarakan sebagai upacara adat, pertunjukan seni atau atraksi dalam rangka penyambutan tamu. Walaupun atraksi ini kini telah dapat dilihat di banyak tempat melalui berbagai acara, namun ritual fahombo-batu yang sesungguhnya hanya dapat ditemui di desa asalnya yaitu di Bawömataluo (Bukit Matahari). Bawömataluo merupakan salah satu desa adat yang terbesar di kepulauan Nias dan berada di wilayah Nias Selatan. Memasuki desa yang unik ini, harus diawali dengan menapaki gerbang utama dengan 88 anak tangga menjulang ke atas dengan posisi kemiringan sekitar 45°. Inilah sebab mengapa desa itu disebut sebagai bukit matahari. Posisi desa diatas bukit sehingga dari ketinggian desa ini dapat dilihat wilayah di bawahnya bahkan laut yang berjarak jauh darinya. Di depan rumah raja di Bawömataluo ini terdapat peninggalan batu bersusun (hombo-batu) yang dikenal penggunaannya dalam tradisi fahombo batu. Disanalah, fahombo batu ini dilakukan dengan sempurna dan dapat dinikmati seutuhnya baik sebagai atraksi seni maupun tradisi budaya lengkap dengan penjelasan detail secara filosofis-historis. Pertengahan tahun lalu saat berkunjung ke desa ini, saya terkesima melihat sebuah aktifitas menarik siang itu. Sekelompok anak-anak kecil berlatih melompat batu. Menyejukkan hati saat menyaksikan bahwa tradisi ini masih diteruskan oleh ’prajurit-prajurit’ kecil. Mereka menggunakan kayu panjang atau tali sebagai batas tinggi lompatan, dan undukan pijakan dari dari bahan kayu. Sungguh sangat menarik memperhatikan arahan dalam latihan teknik ketepatan menginjakan kaki pada undukan kecil itu. Tanpa injakan yang tepat, tidak dihasilkan daya dorong untuk melompat. Untuk sebuah lompatan gemilang, tidak tergantung pada fisik si prajurit semata, tetapi lebih kepada hitungan kecepatan lari, ketepatan menginjak, daya dorong dan gerakan melompat, dan kemampuan mendaratkan kaki kembali dengan tepat dan indah. Sebuah harmonisasi sistem gerak yang meliputi kejelian, kepekaan, kekuatan dan konsistensi. Karena salah teknik, membuat salah seorang prajurit kecil terjatuh dan menangis, namun rasa sakit di kaki tidak mematikan semangat, ia bangkit dan kembali berlatih. Luar biasa, begitu rupanya sikap keprajuritan seorang ono Niha. Melalui fahombo batu ini, kita belajar sebuah kearifan dalam menciptakan lompatan gemilang.

Karena posisi wisatawan biasanya berdiri di depan tumpukan batu untuk dapat melihat lompatan si fahombo batu, maka perihal undukan ini sering kurang mendapat perhatian. Padahal, undukan ini fungsinya penting dan memiliki pesan filosofis tersendiri. Undukan ini adalah perlambang fondasi (pijakan dasar) bagi keberhasilan sebuah lompatan gemilang. Ini membawa ingatan saya kepada logo dari Yayasan Tatuhini Nias Bangkit (YTNB) yang bergambar fahombo batu Nias. Penjelasan filosofis logo tersebut adalah harapan sebuah keberhasilan melakukan lompatan gemilang ke masa depan. Masa depan Nias adalah sumberdaya yang berkemampuan dalam mengelola sumberdaya alam dan menciptakan serta menggunakan sumberdaya buatan bagi kehidupannya. Untuk mencapai hal itu maka pemberdayaan masyarakat adalah strategi yaitu pemberdayaan masyarakat Nias yang yang berfokus pada manusia Nias dimana dalam proses pembaruan kehidupan Nias masyarakat terlibat sebagai subjek yang aktif (people driven), dan yang mampu mewadahi aspirasi dan tujuan hidup masyarakat sehingga mampu merencanakan dan menentukan masa depannya sendiri.

Relevansinya adalah mengingatkan kita kembali kepada fondasi dasar pembangunan Nias. Keberhasilan dan kinerja dari sebuah daerah ditunjukkan seberapa jauh memberdayakan masyarakatnya dan mensejahterakan wilayahnya. Diperlukan sistem yang efektif mengatur bagaimana tujuan luhur kehidupan masyarakat ini dapat dicapai. Perjuangan tanpa sistem akan sia-sia. Sistem yang dirancang dengan azas partisipatif dan musyawarah dan disepakati bersama akan mengarahkan langkah, mengatur dan bagaimana setiap fungsi dan hubungan didalamnya terkoordinasi secara harmonis dan tidak berjalan sendiri-sendiri atau sesuka hati. Menjadi bagian di dalamnya adalah program strategis berorientasi jangka panjang dan berkelanjutan ditetapkan sebagai visi dan arah tujuan daerah yang direncanakan dan dikomitmenkan sebagai payung dari program pembangunan tiap kurun waktu pilkada atau satu periode pemerintahan. Sistem yang baik akan menghasilkan kinerja yang baik, dengan penyelenggaraan tanggungjawab dan hak yang seimbang. Sistem yang buruk tidak akan kondusif menghasilkan sumberdaya masa depan Nias yang berkualitas.

Dalam konteks yang lebih luas, dalam membangun kehidupan bersama di era pemekaran, maka kinerja berkualitas dari kabupaten dan kota otonom adalah fondasi dasar sistem bersama, andai niatan pembentukan sebuah suprastuktur propinsi nanti akan dilembagakan. Dalam membangun rumah besar bersama, dibutuhkan sebuah sistem yang dikomitmenkan bersama. Dalam hal ini bukan hanya sekedar koordinasi, namun juga keselarasan, keseimbangan, keserasian, dinamis dan berkelanjutan dalam interaksi antar daerah yang ada di kepulauan ini. Perlu kesabaran, kesadaran dan kebersamaan sampai setiap daerah otonom ini menjadi kuat untuk dapat dijadikan pilar kokoh sebuah sistem bersama. Rumus alamnya, kekuatan dari sebuah sistem adalah pada matarantai terlemah. Walau kelima daerah otonom ini berada disatu wilayah geografis yang sama dan memiliki keterkaitan satu dengan yang lain, faktanya kelima daerah otonom pertumbuhannya masih timpang. Maka komitmen dibangun antar wilayah untuk saling mendukung kinerja daerah masing-masing, agar bermanfaat satu sama lain dan tidak saling merugikan. Langkah strategis adalah melalui upaya pengurangan secara konsisten kesenjangan vertikal antar lapisan masyarakat dan peningkatan secara signifikan kebersamaan horizontal antar daerah.

Kesiapan dan kekuatan untuk melompat gemilang tergantung pada injakan yang tepat. Jadi, dalam hal ini yang dibutuhkan bukan sekedar aktivitas eforia politik yang rapuh atau hanya tergantung pada sosok tokoh. Kalau ini yang terjadi, maka gerakan hanya naik turun, maju mundur, timbul tenggelam, tidak akan pernah maju-maju. Akhirnya, layu sendiri sebelum berkembang. Belajar dari berbagai keterpurukan yang di alami wilayah ini berpuluh tahun, maka sangat bijak bila kita mengingat pepatah ini. Orang bodoh membangun rumah diatas pasir, ketika gelombang datang maka rubuhlah ia. Orang bijak membangun rumah diatas batu, maka kuatlah ia dan tak mudah rubuh dihantam gelombang. Saatnya Nias bangkit, saatnya melakukan lompatan gemilang dan raihlah kehidupan yang lebih baik ! /egnt

*) Esther GN Telaumbanua, Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit.

18 comments on “Lompatan Gemilang Si Fahombo Batu

  1. Lusia Telaumbanua

    Selamat siang,
    Membaca tulisan Ibu, jadi jelas sekarang makna di balik “Fahombo batu”. Andai boleh saya berpendapat, ada 3 hal yg patut dicatat, yakni undukan batu kecil, susunan batu setinggi hampir 2 m dan si Fahombo itu sendiri. Undakan kecil itu adalah masyarakat, wilayah alam dan segala tradisi yg ada didalam masyarakat ; batu setinggi 2 m adalah segala cita – cita dan impian kita ; sedangkan si fahombo adalah pemerintah atau setiap insan yg mempunyai hati untuk memajukan Nias. Ketiga hal ini sudah tentu harus atau bahkan diusahakan untuk tetap bersatu padu andai kita ingin melakukan lompatan yang indah, menggeliat dari berbagai keterpurukan selama ini.

    Semoga, impian indah itu, lambat tapi pasti akan berbuah nyata. Nias bangkit, Nias Jaya !!!

    Reply
  2. phoebe harefa

    To: Bu Ester GN Tel
    Jd sebelum menjadi SI FAHOMBO BATU, dia harus mempersiapkan diri dlm segala hal, memiliki strategi yg hebat dan tentunya sdh menguasai tantangan yg hrs dilewatinya, ketika dia bs melewati semunya mk layaklah dia disebut seorang PEMENANG SEJATI, tdk secara kebetulan ya YTNB memiliki LOG0 FAHOMBO BATU, sy berharap ada banyak anak-anak nias, yg memiliki hati seperti ibu Esther GN. Tel, msh mau memiliki hati utk memajukan nias, SUKSES YTNB( Yay. TATUHINI NIAS BANGKIT)Blessings

    Reply
  3. O'ö Zebua

    Batu undukan ‘pemekaran’ sudah ditancapkan tepat di depan batu lompatan ‘menuju masa depan’ yg sejahtera.

    Nias Bangkit…
    Ya, sdh saatnya Nias bangkit dari keterpurukan, setelah sekian lama terpinggirkan.

    Untuk bisa melompati batu dg gemilang dibutuhkan kekuatan, keseimbangan, semangat dan kerja sama dari semua elemen yg ada, dgn kesadaran penuh bahwa kita ada dari, oleh dan untuk Nias.

    Perbedaan-perbedaan yg ada hendaknya menjadi alasan pemersatu untuk membangun kekuatan besar menuju Nias Bangkit, bukan sebaliknya.
    Pemekaran merupakan peluang untuk bergerak lebih leluasa dalam pencapaian masyarakat Nias yg sejahtera.

    Aoha noro nilului wahea, aoha noro nilului waoso,
    alisi tafadaya-daya, hulu tafawaolo-waolo

    Nias Bangkit harus menjadi gerakan bersama !

    (salut buat bu Esther dan YTNB)

    Reply
  4. nurzengkyibrahim@yahoo.co.id

    waw, tulis ibuku ester ini bagus sekali
    “Lompatan gemilang
    Fahombo batu dapat diselenggarakan sebagai upacara adat, pertunjukan seni atau atraksi dalam rangka penyambutan tamu. Walaupun atraksi ini kini telah dapat dilihat di banyak tempat melalui berbagai acara, namun ritual fahombo-batu yang sesungguhnya hanya dapat ditemui di desa asalnya yaitu di Bawömataluo (Bukit Matahari). Bawömataluo merupakan salah satu desa adat yang terbesar di kepulauan Nias dan berada di wilayah Nias Selatan. Memasuki desa yang unik ini, harus diawali dengan menapaki gerbang utama dengan 88 anak tangga menjulang ke atas dengan posisi kemiringan sekitar 45°. Inilah sebab mengapa desa itu disebut sebagai bukit matahari. Posisi desa diatas bukit sehingga dari ketinggian desa ini dapat dilihat wilayah di bawahnya bahkan laut yang berjarak jauh darinya. Di depan rumah raja di Bawömataluo ini terdapat peninggalan batu bersusun (hombo-batu) yang dikenal penggunaannya dalam tradisi fahombo batu. Disanalah, fahombo batu ini dilakukan dengan sempurna dan dapat dinikmati seutuhnya baik sebagai atraksi seni maupun tradisi budaya lengkap dengan penjelasan detail secara filosofis-historis. Pertengahan tahun lalu saat berkunjung ke desa ini, saya terkesima melihat sebuah aktifitas menarik siang itu. Sekelompok anak-anak kecil berlatih melompat batu. Menyejukkan hati saat menyaksikan bahwa tradisi ini masih diteruskan oleh ’prajurit-prajurit’ kecil. Mereka menggunakan kayu panjang atau tali sebagai batas tinggi lompatan,”

    Reply
  5. nurzengkyibrahim@yahoo.co.id

    ibuku ester yang baik hati, sungguh luar biasa info ini sanagat baik sekali, ketimbang kita mendengar dan memberitakan berita picisisan, tau bu generasis ini dijadikan sarat akan baik , dia kuat, dia perkasa, dan mamapu menjadi kota atau daerah maritim yang dipandang, baravo buaat ibuku *) Esther GN Telaumbanua, Ketua Yayasan Tatuhini Nias Bangkit.

    Reply
  6. nurzengkyibrahim@yahoo.co.id

    wahai saudara di nias atau diluar nias (perantauan) , maka baca berulang kali tulisan lompat batu ini, maka anda akan kuat, maka anda akan dipandang nias itu hebat, sekali baca berkali kali tulisan ibu kita yang baik hati ini, tulisan ini mengandung kulialitas prima , sebagai kutuur original, siapa yang tak kenal budaya maka hancur, tau jepang dia kena ombak tapi cinta budaya, nah tehnologinya mengandung unsur budaya, bongsai (dikecilkan sampai usia tua) misal mobil besar dikecilin jadi carry, radio besar dikecilin jadi compo atau walkman, wolkitolki besar jadi HP setelah dikecilin (sonyericson paduan jepang dengan hongaria apa norwegia ya pusat HP terbesar di eropa tepatnya kota nokia) haha lupa saking semangatnya pokoknya jadikan kekuatan nias dengan lompat batu gitulah seperti yang ditulis ibuku ester ini, dia sahabatku yang baik hati punya kualitas ibunegeri nias yang baik, trim ibu ester atas tulisan ini, ini merupakan gugahan buat orang nias, dan aku sendiri sebagai kelompok peduli nias sebagai kebhinekaan di indonesia dan global dunia manapun

    Reply
  7. Lumono Wa'u

    Tulisan ini sangat bagus, saya senang sekali membacanya, selain tulisan-tulisannya yang lain. Cuma tentang lompat batu ini, ada sedikit yang membuatku bertanya-tanya dan juga selama ini sudah menjadi asumsi umum yaitu:

    “Seorang pemuda yang mampu melakukan fahombo batu dengan sempurna dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya, memasuki pernikahan dan untuk menjadi prajurit desa jika ada perang antar desa atau konflik dengan warga desa lain. Ketangkasan melompat batu merupakan kebutuhan dan persiapan , baik untuk menyerang, bertahan, maupun untuk menyelamatkan diri.” terus terang ketika saya masih kecil, kami senang sekali melompat…di depan halaman rumahku dulu kami tancapkan bambu-bambu dan batu kecil sebagai injakkan. Sungguh senang memang tinggal di kampung itu, banyak sekali permainan tradisional yang kami lakukan.

    Cuma sepanjang pengetahuanku, tak pernah kami dengar kaitan orang lompat batu dengan pernikahan dari orang-orang tua kami, tidak juga di masa-masa mereka, karena tidak semua orang Nias bisa melompat batu. Hanya saja, saat itu menurut cerita mereka bahwa bisa diikutkan/terlibat dalam menjaga kampung ketika perang terjadi.

    Sungguh, saya pikir ada kesalahpahaman yang terjadi belakangan ini, bahwa ada gurauan/canda yang muncul ketika latihan melompat. Karena begitu serunya, dan mendebarkan, teman-teman yang tersandung atau belum lewat dengan sempurna dikata-in dengan kalimat “ah, kamu belum cukup umur”, “belum dewasa”, “kalau ga lewat ga bisa kawin” apalagi kalau sudah beberapa kali mencoba tapi tetap tersandung.

    Tapi hal ini terutama buat anak-anak kecil, untuk menyemangati saja dan melepaskan ketegangan. Jadi itu hanya candaan/gurauan, bukan makna sebenarnya. Tapi sering orang luar menangkap itu dan terciptalah makna baru karena diceritakan berulang-ulang, “kalau tidak lewat lompat batu, tidak bisa kawin, atau dengan kata lain, kalau bisa melompat batu, berarti sudah bisa menikah.”

    Mungkin saja ada netter yang menganggap hal ini sangat sepele yang tidak perlu dikomentari, saya sependapat dengan itu dalam konteks tertentu. Namun karena artikel di atas sangat penting dalam diseminasi nilai-nilai dan makna budaya kita, maka tetap saya asumsikan berguna untuk dipertimbangkan. Pertama ada implikasi yang kurang baik terutama dalam mereduksi nilai spirit lompat batu itu melalui kesalahan interpretasi. Kedua, mungkin kita bisa menjadi bagian dari pencegahan legitimasi maskulinitas melalui lompat batu, dan ketiga, tentu kurang nyaman, jika setiap pemuda Nias yang merantau ditanyain, “apakah kamu bisa melompat batu” sambil menduga-duga apakah dia sudah kawin atau belum kawin.

    Sekali lagi, tulisan Ibu Esther di atas sangat menarik, apalagi ditarik makna filosofinya dengan aspek kehidupan kontemporer. Saohagölö!

    Reply
  8. Benny Lase

    Saya termasuk orang yang ‘gerah’ membaca makna hombo batu seperti yang diuraikan dalam tulisan ini. Singkatnya, penulisnya terkesan mengambil makna hombo batu dari informasi dari mulut ke mulut orang yang bukan Ono Niha yang kini berseliweran di internet. Artinya, penulisnya sendiri tidak memahami makna hombo batu yang sesungguhnya.

    Kesalahan terbesar penulis semacam ini ada tiga: (1) tidak melakukan penelelusuran yang seksama ke sumbernya, (2) gampangnya mengambil informasi yang tak akurat tanpa menguji keabsahannya, dan (3) menjadi corong pembenar informasi yang tak akurat itu ke dunia luar.

    Dengan keadaan seperti itu, artikel ini, alih-alih menjadi pencerah pembaca khususnya yang bukan Ono Niha, malah sebaliknya menjadi pengeruh, apalagi datangnya dari seorang penulis Ono Niha.

    Saya sangat menghargai komentar Bapak Lumono Wa’u yang secara simpatik tetapi kritis menanggapi makna hombo batu dalam tulisan di atas.

    Saya berharap ada budayawan dari Nias Selatan, yang lebih tahu tentang tradisi hombo batu bisa meluruskan makna hombo batu yang disajikan dalam tulisan di atas. Ini penting karena biasanya komentar kritis macam ini tidak sempat disimak oleh para pembaca sehingga makna hombo batu versi ‘internet’ atau versi ‘mulut ke mulut’ yang ‘dipatri’ dalam tulisan di atas yang nanti menjadi ‘pengetahuan umum’.

    Oh satu lagi, di Nias Utara saya tak pernah dengar istilah ‘mangani binu’, tetapi ‘mangai binu’. Bagaimana di Nias Selatan?

    Catatan ini hendaknya tidak menyurutkan semangat penulisnya (Ibu Esther Telaumbanua) untuk menulis tentang budaya Nias tetapi ke depan diharapkan lebih cermat.

    Benny Lase

    Reply
  9. diandra

    Saya salah seorang yang selalu senang menghayati ketika saya membaca tulisan bu Esther ini. Menurut sy tulisannya selalu “menyentak” jiwa. Kenapa sy katakan begitu? Karena dua hal: 1. Pikirannya maju dan berorientasi kini. Saya yakin bu Esther ini (sy simak dr tulisan-tulisannya) sangat mencintai budaya Nias dan ingin mengangkat pentingnya budaya bagi generasi saat ini. Bahasa dan cara penyampaiannya sangat menunjukkan hal ini. Kalau kita baca tulisannya seperti aliran yang semakin deras dari sebuah penghayatan diri, proses pemaknaan dan apresasinya tentang apa yang dihayatinya dari nilai budaya itu.
    2. Banyak sekali hal2 yg tidak terpikirkan dikuaknya dengan gamblang dan dengan kemampuannya dapat membuat kita ikut berfikir dan merasakan apa yng ingin dikatakannya.

    Bagi saya pribadi hal ini sangat menarik dan ada rasa takjub juga. Pola pikir yg maju dan sangat “khas” ini sangat menarik disimak. Belum saya temukan dari penulis lain atau budayawan lain.Ia seorang perempuan dan caranya menulis ini sangat memiliki ciri. Saya lihat ia menjiwai dan ia berusaha menuliskan penjiwaannya terhadap materi budaya dan mentransformasikan kepada masa kini dan berhasil.
    Buktinya respon2 yang ada sangat menunjukkan ada jiwa yang terusik dan memberi tanggapan.
    Kalau tak salah ibu Esther ini tdk hidup di Nias (betul ya bu?) tp sejak membaca tulisan2 beliau, saya terus mengamati aktivitasnya ternyata banyak sekali di Nias dan telah memberi kesan bagi banyak orang.
    Saya sangat salut untuk keunikan dan cara berfikir ibu ini. Untuk sebuah daerah yang selama ini jauh dari jangkauan orang luar (dan saya juga lho) ibu ini telah memberi makna tersendiri di benak banyak orang dan saya yakin sekarang banyak yang semakin cinta pada budayanya dan budaya Nias.
    Kalau ada materi yang belum sempurna itu artinya ibu ini telah berhasil menyentak mata dan hati yang selama ini “merem” tentang budayanya yang kian meredup dimakan zaman. Pasti beliau sudah berkunjung ke lokasi dan memperlajarinya sebelum menulis.

    Teruskan bu Esther, saya menanti tulisan ibu selanjutnya!

    Saya mau ikut dalam barisan “lompatan gemilang” dan memberi dua jempol diatas buat ibu!

    Salam bu.

    Reply
  10. meli duha

    Yaahowu bu

    Untuk pertama kali saya buka situs ini dan sy menemukan tulisan ini.
    Trima kasih atas tulisan ini,membuat saya mengingat masa kecil di sana. Saya jadi rindu pada kampung halaman. Untuk penulis, terima kasih ya bu Delau. Mari kita bangkitkan dan majukan kampung kita.
    Tano Niha maju dan jaya !!!!!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *