Historis Demografisme

Friday, May 14, 2010
By susuwongi

Oleh : Daoed Joesoef

Mulai tanggal 1 hingga 31 Mei berlangsung Sensus Penduduk 2010. Pencatatan penduduk ini mengingatkan kita pada kisah Maria dan Josef pada zaman biblik. Konsekuensi keberadaan penduduk dalam kehidupan modern diingatkan oleh Thomas Robert Malthus di akhir abad XVIII. Bila dibiarkan berjalan secara alami, menurut dia, pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sedangkan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung. Berarti, makhluk manusia secara alami akan selalu menghadapi ancaman kekurangan pangan, sandang dan papan (perumahan).

Maka itu, pemerintahan Orba dahulu tidak lupa menciptakan aneka program “keluarga berencana” (KB) yang diterapkan secara intensif dan ekstensif di seluruh tanah air. Untuk keperluan itu, dikaitkan dengan usaha pembangunan nasional, diadakan pula sensus penduduk secara periodik.

Pantas disesalkan bahwa rezim reformasi tidak meneruskan program KB yang ketika itu di sana-sini sudah membuahkan hasil yang diharapkan. Padahal, kehidupan kolektif berbangsa menuntut adanya kontinuitas dari tindakan positif yang dilakukan oleh siapa saja alam proses pembangunan nasional. Inilah yang secara esensial dimaksudkan dengan sustained development—pembangunan berkesinambungan—bukan hanya dalam artian berinvestasi terus-menerus.

Era reformasi sekarang sedang menghadapi, sejujurnya, masalah penduduk yang akut. Bukalah mata dan pikiran kritis kita. Ada antrean pembagian zakat yang cukup panjang, saling desak, hingga berakhir dengan tewasnya puluhan orang. Ada perebutan tempat dalam alat transpor, saling dorong, hingga menimbulkan kecelakaan berdarah.

Orang-orang memadati jalan ke segala penjuru, saling salib, hingga berjatuhan korban, termasuk anak-anak balita dan perempuan yang sedang mengandung. Mereka saling tuding, saling menyalahkan tidak becus mengurus negara-bangsa, terutama di antara yang “muda” dan “tua”, di media massa. Ada yang berpesta silaturahmi secara berlimpah-ruah di gedung-gedung dan hotel mewah, ada yang mengais-ngais sisa makanan di tempat dan lokasi pembuangan sampah. Ada yang berperut buncit karena makan berlebihan, ada yang berperut busung karena kelaparan.

Ruang hidup bersama terasa semakin sumpek. Ribuan warga merantau ke negeri asing, ada yang nekat melalui jalur terlarang, mencari bekal hidup walaupun tahu di perantauan itu ada kalanya diperlakukan tidak manusiawi.

Guna mendapatkan akurasi data demografi yang diperlukan bagi pengambil keputusan ekonomi dan politik, pihak penguasa sekarang mengadakan sensus penduduk. Kali ini ia, menurut Kepala Biro Pusat Statistik, bertujuan bukan hanya menghitung jumlah penduduk, tetapi juga mendata aspek-aspek kependudukan lain seperti mortalitas, mobilitas, etnisitas dan gender. Jadi sebenarnya sama saja dengan tujuan dari sensus-sensus di zaman Orba.

Maka saya khawatir data demografi yang akan diperoleh sekarang, dengan menggunakan energi dan biaya yang cukup banyak, juga bakal dipakai untuk memecahkan masalah yang sama dengan yang dulu dipikirkan oleh teknokrat Orba, yang umumnya merupakan masalah-masalah ekonomi-politik, yaitu kekurangan pangan, sandang, kesehatan dan papan.

Sedangkan, masalah di kalangan penduduk akan tetap ada, walaupun mereka sudah relatif makmur dan mapan. Sudah tentu masalah itu bukan lagi dalam artian kemiskinan dan kerendahan kualitas hidup manusia, namun relatif lebih berpotensi mengganggu ketenteraman dan keamanan, yang secara alami ditimbulkan oleh pertumbuhan penduduk, yang membuat “faktor demografis” menjadi kekuatan penentu bagi jalannya kehidupan manusia. Maka faktor itu harus diantisipasi demi penanganannya yang efektif. Bukankah “to govern is to foresee”. Artinya, data kependudukan yang diperoleh melalui sensus harus dimanfaatkan pula untuk mendeteksi faktor yang berpotensi menimbulkan masalah lain lagi dari kependudukan.

Pendeteksian tersebut sulit berhasil bila melalui pendekatan tradisional ekonomi-politik atau ekstrapolasi ekonometrik. Ia kiranya perlu dilakukan dengan pemikiran “historis-demografisme”.

Dengan “demografisme” dimaksudkan kenyataan-kenyataan yang berhubungan dengan eksistensi, pertumbuhan dan aglomerasi penduduk serta psikologi khas yang mencerminkan cara evolusi dan penggolongan dari lingkungan kehidupan manusia tersebut, yang dalam dirinya merupakan suatu substratum elementer dinamis. Ke dalam pengertian ini dimasukkan pula sekaligus pikiran filosofis yang mempelajari sebab- akibat dari gejala-gejala demografis tadi.

Kata sifat “historis” yang dengan sadar diletakkan di muka perkataan “demografisme” bermaksud menegaskan bahwa pengertian demografisme yang hendak dipakai sebagai alat analisis ini, dalam mensintetisasikan realitas demografis yang ada memperhitungkan dengan sepenuhnya fakta-fakta yang dibawa oleh arus sejarah ke dalam lingkungan kehidupan manusia.

Sampai saat ini doktrin-doktrin yang ada membahas dunia, abad, zaman dan lembaga-lembaga kehidupan manusia melalui “ekonomi, “etnologi”, “antropologi” atau “geografi”. Pengertian “historis demografisme” sebagai alat analisis berusaha menginterpretasikan gejala-gejala peradaban melalui faktor psiko-demografis.

Pada tingkat terakhir “historis demografisme” merupakan satu kajian tentang lingkungan kehidupan manusia atau kelompok natural demografis, yaitu: umur penduduk, generasi, kekaryaan (profession) dan ikatan organisatoris (association) dan bukan satu “population study” yang menyorot persoalan penduduk semata-mata dari sudut jumlahnya, jender dan strukturnya (lapisan-lapisan umur).

Menurut Marxisme sejarah tidak lain adalah hasil dari suatu perjuangan kelas, antara kelas yang punya dan kelas yang tidak punya, antara pemilik alat produksi dan pekerja yang hanya memiliki badan dan tangan.
Menurut historis demografisme yang sebenarnya menggerakkan kajian bukanlah pertentangan kelas, tetapi pertentangan ikatan (association), yaitu pertentangan antarsekte, antarkelompok (factions), antargolongan (group) militer, politik, kultural, produktif, dan sebagainya, yang bertujuan merebut kedudukan kepemimpinan (direksi) dan kendali pendidikan (edukasi) di masyarakat. Dalam proses pertentangan/pertarungan itu ikatan-ikatan tadi menjalankan fungsi-fungsi fundamental jasmaniah (militer), mental (intelektual-birokratis), dan ekonomis (produsen).

Dalam kesatuan hidup yang primitif, sekalipun, di mana berlaku pemilikan bersama terhadap benda, ternak, bahkan perempuan, sudah ada di situ pembagian kelompok berupa: prajurit (militer), pendeta (intelektual), dan petani-pertukangan (produsen). Maka pertarungan kekaryaan telah menandai fase-fase pokok sejarah yang pada hakikatnya adalah “pertarungan demografis”, bukan “pertentangan kelas” seperti yang disimpulkan oleh analisis Marxist.

Dari kancah pertarungan antara kekaryaan semasa Abad Kuno, yang kadang-kadang bersifat politis, kelompok militer keluar sebagai “pemenang” karena kekaryaannyalah yang benar-benar mewakili kebutuhan yang paling penting dari struktur demografis ketika itu, atau paling terasa kegunaannya dalam rangka pembagian kerja demografis di abad tersebut.

Di abad pertengahan, sewaktu soal survival fisik sudah berkurang, kekuasaan militer mulai memberikan konsesi kepada kekuasaan spiritual. Mulai zaman renaissance kekuasaan militer diganti oleh kekuasaan ekonomi (kekuatan produsen) dan kekuatan rasionalis (intelektual).
Kelompok ekonomis-produktivis memegang tampuk pimpinan sepenuhnya sejak revolusi industri, segera setelah lingkungan kehidupan manusia berkembang biak dalam volume dan menjadi padat begitu rupa hingga merupakan satu kenyataan demografis-urban.

Kenyataan ini memerlukan “means of action” yang baru agar bisa menghidupi dan mempertahankan kehidupan lapisan-lapisan penduduk yang telah berlipat ganda itu. Lama kelamaan realitas demografis-urban menimbulkan kelompok baru, yaitu kelompok intlektual-administratif (birokrat/teknokrat). Kelompok ini pada gilirannya berusaha mengambil-alih pimpinan masyarakat dari tangan kelompok ekonomis-produktivis.

Kelompok yang terakhir ini pasti akan tersisih dari tampuk pimpinan lingkungan kehidupan, seperti yang pernah terjadi pada kelompok militer dalam fase sebelumnya, apabila kelompok profesional ekonomis-produktivis memang ternyata tidak sesuai lagi dengan hakikat keadaan dan kebutuhan organis peradaban dalam fase kesatuan hidup dewasa ini.

Yang berpotensi menyisihkan adalah kelompok intelektual dan politis, berdasarkan ide kebebasan dan demokrasi, ada kalanya saling baku-hantam dengan bersenjatakan “pena” dan “kekuatan pertanian”.
Demikianlah, setiap perkembangan kepadatan, kuantitas dan kualitas penduduk menimbulkan kebutuhan-kebutuhan yang khas, tidak hanya sekadar pangan, sandang, kesehatan dan papan.

Aristokrasi militer, aristrokrasi religio-spiritual, oligarsi ekonomis dan otoritas intelektual-administratif atau intelektual-teknokratis adalah lembaga-lembaga masyarakat yang bersesuaian dengan bentuk-bentuk pemusatan penduduk dan yang ditimbulkan oleh tekanan-tekanan psiko-sosial yang erat hubungannya dengan bentuk-bentuk tersebut.

Penulis adalah alumnus Universite Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne

Sumber: Suara Pembaruan

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

May 2010
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31