Diplomat Pejuang Itu Telah Tiada

Friday, December 12, 2008
By susuwongi

[JAKARTA] Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas (76), Kamis (11/12) sekitar pukul 07.30, meninggal dunia di RS Mount Elizabeth Singapura, setelah menjalani perawatan sekitar dua pekan akibat sakit yang dideritanya. Menurut rencana, jenazah Ketua Dewan Pertimbangan Presiden tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, pada Jumat (12/12), setelah dibawa dari Singapura Kamis siang.

Juru bicara Departemen Luar Negeri RI Teuku Faizasyah, Kamis pagi, mengatakan Deplu bersama pihak keluarga, perihal pemulangan jenazah ke Jakarta.

Anggota Komisi I DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN), Djoko Susilo, mengakui Ali Alatas adalah sosok diplomat pejuang yang gigih memperjuangkan kepentingan nasional. Meskipun menjadi diplomat senior, Ali Alatas sangat perhatian terhadap orang-orang muda. “Beliau senantiasa bersedia menyimak saran dan masukan dari kami yang muda-muda,” kata Djoko.

Komitmen almarhum untuk memperjuangkan kepentingan nasional, salah satunya tampak ketika ia diundang menghadiri Rapat Dengar Pendapat di Komisi I DPR, yang tengah membahas Piagam ASEAN. “Meskipun Piagam ASEAN masih mengandung beberapa kelemahan, almarhum tetap meyakinkan bahwa Piagam ASEAN yang ada saat ini merupakan format yang terbaik,” ungkap Djoko.

Ali Alatas, menurutnya, juga terus mendorong Pemerintah Indonesia agar berkontribusi semaksimal mungkin untuk menyelesaikan isu Myanmar.

Meskipun lahir dengan nama Ali Alatas, lelaki kelahiran Jakarta 4 November 1932 itu justru akrab dipanggil Alex. Setelah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia pada 1956, suami Junisa dan ayah tiga anak itu memulai karier diplomatnya di Bangkok, Thailand.

Keandalannya sebagai diplomat ulung, menyebabkan semua presiden di masa reformasi ini mempercayainya sebagai penasihat untuk urusan internasional. Mulai dari BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan sekarang Susilo Bambang Yudhoyono.

Pengalamannya menghadapi laga diplomasi internasional, membawa Alex dipercaya menjadi ujung tombak Indonesia meredam kemarahan internasional atas insiden Santa Cruz, Dili, Timor Timur, 12 November 1991, yang menewaskan puluhan orang. Satu peristiwa yang dinilai sejumlah pihak membawa kesedihan sangat dalam bagi Alex, adalah saat Presiden BJ Habibie memberikan opsi merdeka bagi Timor Timur (Timtim) tanpa berkonsultasi padanya pada 1999. Kekecewaan itu terlihat jelas dari sorot matanya setelah referendum yang memastikan lepasnya Timtim dari Indonesia. [E-9/B-14]

Sumber: Suara Pembaruan

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2008
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031