Batu Yang Enggan Bercerita – Catatan Ringan Untuk Ama Robi Hia

Monday, June 2, 2008
By nias

E. Halawa*

Sebagai arkeolog, saya juga mencoba mendengarkan batu-batu yang bercerita kepada saya.” – J.A. Sonjaya (Ama Robi Hia)

Akhir-akhir ini Nias semakin ‘mendunia’ oleh sekurang-kurangnya 4 hal utama: bencana (banjir 2001, tsunami 2004, gempa 2005), maraknya blog/situs beratribut ‘Nias’ di dunia maya (baca artikel: Nias Meramaikan Dunia Maya), program RR Nias (lihat berbagai artikel di Diskusi Online II dan Rekonstruksi), dan makin ‘menjamurnya’ hasil karya para peneliti tentang Nias.

Ketiga hal utama yang menduniakan Nias yang disebut di depan telah banyak didiskusikan dan informasinya cukup tersedia di dalam berbagai topik di situs ini, dan tulisan singkat ini tidak bermaksud membahas hal ini.

***
Belum lama ini, sebuah buku baru tentang Nias berjudul: “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias” diluncurkan. Buku terbitan Kanisius, Yogyakarta, itu ditulis oleh J. A. Sonjaya, peneliti dan arkeolog dari Universitas Gajah Mada. Penulis artikel ini belum memiliki akses penuh ke buku “Melacak Batu…” ini, tetapi ‘cipratannya’ dapat penulis ikuti di blog J.A. Sonjaya (jasonjaya.blogspot.com). Selanjutnya melalui dua artikelnya yang menyangkut “Melacak Batu …” yakni: Melacak Mitos Siléwé Nazarata dan Kisah Awuwukha Pemburu Kepala, Victor Zebua menambah informasi penulis tentang buku tersebut.

Kesan pertama ketika membaca tulisan-tulisan J.A. Sonjaya tentang Nias di blognya adalah informasi yang mengalir, bahasa yang jelas, lugas, mudah dimengerti, dan terstruktur dengan baik. Hal ini tentu saja membuat berbagai kisah tentang Nias dalam paparan Sonjaya (sekurang-kurangnya dalam artikel-artikel di blog-nya) sangat mengasyikkan. Sekedar pembanding, penulis membutuhkan usaha ekstra keras untuk coba memahami jalan pikiran P. Johannes dalam berbagai karyanya.

Kesan kedua, Sonjaya sungguh-sungguh terjun ke lapangan, turun ke bawah, berinteraksi secara amat dekat dengan orang Nias, mondri ia ba zi mondri ira (ia mandi di tempat pemandian mereka), manga afo nibidira ia (ia makan sirih buatan mereka), bahkan sampai manga föfö göra ia (ia makan bagian dari makanan mereka). Dalam hal ini, barangkali tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa sejauh itu Sonjaya telah menerapkan metodologi yang mendekati sempurna ketika melakukan penelitiannya.

Keadaan ini barangkali tidak dialami / dinikmati sepenuhnya oleh P. Johannes yang – karena kedudukannya sebagai seorang imam Katolik – telah menempati posisi tertentu, telah memiliki citra tertentu, telah menggoreskan kesan tertentu di hati para informan yang membantunya dalam usahanya mengoleksi berbagai ‘serpihan-serpihan’ budaya Nias. P. Johannes mungkin juga mondri ba zi mondri para informannya, manga afo nibidira ia, dan tentu saja biasa manga föfö göra, tetapi P. Johannes tetaplah P. Johannes yang adalah seorang imam Katolik, seorang yang telah mendapat kedudukan khusus di hati para informannya, yang umumnya adalah umatnya, yang biasa memanggilnya Ama, Pater, Amada Fasitoro. P. Johannes bukanlah Sonjaya yang adalah Ama Robi Hia yang bisa diajak bersenda gurau, yang bisa duduk-duduk sambil bercanda di fale-fale lafo di harimbale, atau di dapur, atau di daerah-daerah lain dalam rumah orang Nias yang bagi P. Johannes ‘terlarang’.

Sejauh itu, kita salut kepada J.A. Sonjaya alias akhida Ama Robi.

***
Kalau ada sedikit kesan yang bernada agak kritis masuk dalam tulisan ini, tiada lain bermaksud mendorong Ama Robi untuk lebih giat lagi melahirkan karya-karya yang lebih baik dari jerih payah penelitiannya tentang Nias di masa lalu dan ke depan.

Karena posisi Ama Robi Hia yang begitu lentur dalam berinteraksi dengan masyarakat Nias yang sedang diamatinya itu, tak mengherankan bahwa Ama Robi Hia (seharusnya) bisa mendulang berbagai informasi yang dibutuhkannya untuk penelitiannya; singkatnya, Ama Robi Hia seharusnya bisa mengajak batu bercerita dan ‘mendengar batu-batu itu bercerita’ kepadanya.

Sayangnya, sejauh yang kita tangkap dari pengantar buku ‘Menguak Mitos …’ dan tulisan-tulisan lain Ama Robi dalam blog-nya, cerita batu-batu itu tidak selalu gampang ditangkap dengan jernih oleh telinga Ama Robi. Berikut adalah beberapa catatan ringan untuk Ama Robi Hia.

Penguasaan Bahasa Lokal

Menggali informasi langsung dari sumber-sumber asli di Nias sana sedikit banyaknya mempersyaratkan kompetensi berbahasa Nias. Kita tidak tahu sejauh mana kompetensi Ama Robi berbahasa Nias, tetapi dari komunikasinya dengan Victor Zebua (Ama Angelin) di ruang komentar Situs ini, Ama Robi mengakui ‘keterbatasan dalam bahasa’ Nias. Hal itu juga terlihat dari beberapa ‘kesalahan tulis’ kata-kata Nias dalam berbagai tulisannya, yang tidak seharusnya terjadi. Kelemahan ini bukanlah kelemahan Ama Robi seorang, tetapi kelemahan hampir setiap orang yang berminat melakukan riset tentang Nias.

Setiap kali seorang mahasiswa Indonesia mempertimbangkan belajar di luar negeri, setiap kali dia harus bertanya kepada dirinya: “berapa skor TOEFL atau IELTS saya sekarang ?” Hal ini disebabkan karena belajar di luar negeri (yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar) mempersyaratkan kemampuan berbahasa Inggris secara ketat karena alasan yang sangat masuk akal: menggali pengetahuan memerlukan komunikasi dengan sumber-sumbernya: buku, jurnal, berbagai rekaman tertulis, dan sumber informasi hidup: manusia. Tanpa komunikasi yang baik (melalui penguasaan alat komunikasi yang baik), penggalian pengetahuan tidak akan berlangsung secara optimal.

Ada kecenderungan, dalam ilmu-ilmu sosial persyaratan ini diabaikan, dianggap bukan hal yang menjadi syarat utama. Berbekal minat, semangat yang membara dan keinginan berpetualang ke daerah-daerah yang tadinya tak pernah terlintas dalam pikiran, seseorang bisa saja tiba-tiba menjadi seorang ‘peneliti’. Para ‘peneliti’ – khususnya peneliti dari luar negeri – berlomba menghimpun data dengan metode penelitian seadanya lalu mengumumkan hasil-hasil ‘penelitian’ itu ke seluruh dunia. Berbekal penguasaan terbatas bahasa lokal dan dibantu oleh pengalih bahasa amatiran, para peneliti tadi mengoleksi data, memprosesnya sekedarnya lalu mempublikasikannya. Tidak heran, hasil penelitian semacam itu ibarat buah muda yang diperam, matang karena terpaksa.

Penelitian Butuh Kesabaran
Setiap kali ada orang Indonesia asli yang meneliti tentang Nias, selalu saja ada harapan yang lebih dari masyarakat Nias. Alasannya sederhana: para peneliti Indonesia tentulah lebih mudah ‘masuk’ ke dalam alam pikiran Ono Niha karena faktor kedekatan sosial kultural. Sayangnya, Ama Robi terkesan terburu-buru mempublikasikan data-data yang dikoleksinya tanpa terlebih dahulu melakukan pemrosesan yang wajar terhadap berbagai data itu sebagaimana dipersyaratkan dalam setiap penelitian.

Yang dikuatirkan dari proses yang terkesan terburu-buru adalah tersebar luasnya informasi ‘baru’ yang keliru dan terdistorsi, entah karena sengaja atau tidak sengaja melalui penafsiran seadanya, atau karena belum melalui proses ‘C & R’, cek dan ricek. Ini hanya memperpanjang rantai kesia-siaan dalam proses peneltian, yang seharusnya tidak terjadi. Kesia-siaan karena dibutuhkan usaha penelitian baru lagi hanya untuk meluruskan informasi yang sempat ‘bengkok’ itu.

Proses triangulasi yang disarankan Zebua justru ‘dihindari’ oleh Ama Robi, dengan alasan:
Dalam penelitian semacam ini tidak perlu menggunakan triangulasi karena yang dicari bukan kebenaran melainkan pemahaman pribadi saya pada apa yang saya amati.”

Penlitian seharusnya menggali kebenaran objektif
Pernyataan di depan agaknya mengandung ‘kontradiksi internal’. Penelitian dalam pemahaman yang umum dalam dunia ilmiah adalah usaha untuk menemukan kebenaran ‘objektif’, kebenaran yang diharapkan bebas dari unsur-unsur subjektif. Dalam ilmu-ilmu kealaman, unsur-unsur subjektif bisa dieliminasi atau diminimumkan dengan mempercayakan pengamatan kepada sensor-sensor mekanis. Sebaliknya, dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, unsur subjektivitas itu tidak bisa dihilangkan secara total, paling banter kita bisa menekan sekcil-kecilnya. Hal ini tidak gampang.

Dalam ilmu-ilmu kemanusian, sang subjek dan objek bisa subjektif, dan peneliti harus meminimalkan unsur-unsur subjektif baik pada pihak subjek (peneliti itu sendiri) maupun pada objek penelitian (yang adalah juga seorang subjek, ‘batu hidup’, bukan gowe yang ditancapkan di depan sebuah rumah di Nias sana). Kalau hal ini diabaikan, maka ‘batu hidup’ yang tadinya diharapkan bercerita ‘seadanya’ dan mengungkapkan dirinya seutuhnya, menjadi enggan bercerita, enggan membuka diri ‘seadanya’.

Tidak gampang melakukan penelitian yang melibatkan manusia sebagai ‘objek’ penelitian. Kalau dalam kelompok ilmu-ilmu kealaman ada sensor-sensor yang ‘meraba’ gejala secara cukup objektif dan secara berkala dikalibrasi, ‘sensor-sensor’ dalam kelompok ilmu-ilmu kemanusiaan tidak seandal yang disebutkan terdahulu. Lebih-lebih lagi kalau dalam upaya untuk bisa sedekat mungkin dengan ‘objek’, sang ‘subjek’ dan ‘objek’ membaur, berinteraksi menjadi sebuah ‘larutan subjek-objek’. Ketika subjek-objek telah ‘larut’, pengamatan oleh subjek tidak bisa lagi dilakukan secara sahih.

Bukankah pernyataan “pemahaman pribadi saya pada apa yang saya amati” merujuk pada kebenaran subjektif? Kalau mengikuti alur logika pernyataan ini, maka judul: “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur” benar adanya, tetapi ‘benar menurut pemahaman Ama Robi’, bukan benar sebagaimana ‘objek menampakkan diri secara seadanya’. Dan ramifikasinya adalah: tulisan-tulisan Ama Robi yang menyangkut ‘perburuan kepala di Nias’ atau penelusuran ‘identitas kemanusiaan kita dari masa prasejarah (megalitik) hingga masa kini’ tidak bisa menjadi rujukan pihak-pihak lain, karena kata mereka (pihak lain itu): ‘Itu kan menurut pemahaman pribadi Ama Robi, sebenarnya bukan seperti itu …’. Kalau demikian halnya, bagaimana kita memaknai sebuah buku tentang Nias yang ingin melacak dan menguak “makna budaya dan identitas” Nias tetapi yang larut dalam larutan pekat subjektivitas?

J. A Sonjaya putra Sunda telah menjadi Ama Robi Hia niha khöda melalui “perjumpaan kultural” yang tak disangka-sangka. Semoga catatan kecil ini (dan berbagai ‘catatan’ lain yang terkait dalam situs ini) dilihat dari sisi positif: meningkatkan kualitas produksi penelitian Ama Robi tentang Nias.

18 Responses to “Batu Yang Enggan Bercerita – Catatan Ringan Untuk Ama Robi Hia”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    J. A. Sonjaya Says:

    Talifuso yang saya hormati, Ya’ahowu!

    Setelah dua tahun lebih sedikit saya merenungkan dan memutar otak atas saran Pak Halawa dan berbagai kritik kepada saya yang mengikuti saran tersebut, saya sekarang sudah menemukan sedikit titik terang jawaban. Ketika saya diam bukan berarti saya kebal dan menghindr dari kritik, justru ketika itu saya sedang berpikir, belajar, dan berusaha menemukan jawabannya. Saya tidak mau tergesa-gesa merepon karena saya memang belum menemukan jawabannya. Terima kasih atas saran Pak Halawa dan kritik saudara-saudara terhadap beberapa tulisan saya. Melalui media ini, izinkan saya memberikan respon.

    Pertama: Judul Buku saya adalah Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias. Jika Saudara-saudara membaca dan memahami keseluruhan isi buku itu dari awal sampai akhir, saya yakin Saudara-saudara mengerti akan maksud dan keterbatasan saya menulis Boronadu. Ketika saya pertama kali mengijakan kaki di Nias, yang saya dengar di Nias adalah lain kampung lain adat. Maka, saya memilih satu tempat yang dianggap sebagai cikal-bakal orang Nias. Atas saran tokoh-tokoh Nias dan berbagai referensi yang saya baca, maka jatuhlah pilihannya ke Boronadu. Orang Boronadu sangat kaget melihat kedatangan saya karena mereka tidak pernah kedatangan peneliti yang tinggal di sana lebih dari seminggu. Saya juga kaget bagaimana bisa suatu tempat yang dipercaya sebagai tempat turunnya manusia pertama dari langit dan banyak ditulisa dalam berbagai sumber di Nias tidak pernah diteliti secara mendalam. Untuk pertama kali saya tinggal di sana dua bulan, lalu berkunjung ke sana berkali-kali setiap ada libur. Datang bukan sebagai peneliti lagi, tapi sebagai anak Boronadu yang mengunjungi ayah dan saudara-saudaranya, sekedar untuk menghadiri pesta atau memberi nama adiknya yang lahir (sekarang saya di sana punya adik bernama Jason Hia), sekedar untuk menjalin ikatan keluarga karena saya merasa bahagia ketika berada di tengah mereka–suatu perasaan yang tak pernah saya dapatkan di tempat lain. Sungguh!

    Kedua, karena saya hanya punya waktu terbatas di Boronadu (total tinggal 48 hari dan menjalin hubungan melalui telepon 2 tahun, ini waktu yang sangat sedikit untuk sebuah penelitian), maka saya hanya ingin melihat Nias dari Boronadu sebagai jendelanya. Jadi, tidak benar jika ada orang yang mengatakan bahwa saya melakukan generalisasi secara nomotetik (mereka kemungkinan hanya membaca sepotong buku saya, atau hanya mengomentari komentar orang lain tentang buku saya). Dari awal saya mengatakan bahwa ini tentang Boronadu yang dianggap sebagai cikal bakal Nias. Jika ada yang ingin konfirmasi atas tafsir saya tentang Boronadu, saya mengundang Saudara datang ke kampung saya, bertemu dengan orang tua dan beberapa tetua yang kesulitan menyampaikan kisah sejarah pada generasi berikutnya karena orientasi kebudayaan mereka sudah berubah. Ini yang mendorong saya segera menerbitkan buku, agar makin banyak orang yang mau mengikuti jejak Pak Halawa, Pak Nataauli Duha, Pak Pastor Johanes, Pak Melkhior Duha, Pak Victor Zebua, dll, untuk peduli pada kebudayaan Nias. Tentu saja pilihan saya ini berdampak banyak, salah satunya saya terkesan buru-buru. Makanya saya membatasi buku saya dengan sub judul : PETUALANGAN ANTARBUDAYA DI NIAS. Sub judul ini yang tidak pernah dibahas secara mendalam oleh siapa pun setelah 2,5 tahun buku saya terbit. Padahal sub-judul itu, sebagaimana dibahas dalam pengantar dan ucapan terima kasih saya, berisi perspektif saya dalam melihat Nias. Seperti yang SOF LLASE katakan, bahwa saya memilih jalur IDEOGRAFIK dengan cara penafsiran REFLEKTIF-INTERPRETIF, jadi sifatnya subjektif (bahkan intersebjektif, di mana subjektifitas saya diletakkan pada subjektifitas orang Boronadu). Pilihan jalur ini bukan semata karena alasan akademis, karena tidak mungkin saya memilih ranah positivistik yang bersifat objektif, karena hanya orang Nias asli yang bisa melakukan itu. Saya memang melakukan kesalahan besar dengan meng-upload tulisan “Orang Nias: Mereka Memburu Kepala untuk Belak Kubur” di blog perkuliahan saya. Saya meng-upload itu semata-mata untuk bahan diskusi kuliah di kelas saya yang akan saya hapus setelah satu atau dua minggu (Blog itu saya sediakan khusus untuk menunjang perkuliahan). Saya tak menduga bahwa tulisan itu akan dibaca oleh banyak orang Nias. Memang akan sangat bahaya ketika mereka tidak mengkaitkan tulisan itu dengan buku Melacak Batu, karena tulisan itu menjadi lepas dari konteks. Saya sungguh minta maaf untuk keteledoran ini.

    Ketiga, untuk Pak Halawa, tentang belajar Bahasa Nias. Masukan Bapak sudah memperkuat ide kami untuk mengembangkan kursus bahasa daerah di UGM yang ditujukan bagi para peneliti yang hendak terjun ke daerah dengan latar bahasa dan budaya yang berbeda. Sebenarnya, sebelum saya terjun ke Nias pertama kali, saya didorong untuk belajar Bahasa Nias selama 3 bulan di Yogya. Tapi saya tidak bisa memanfaatkan ini dengan baik karena saya sibuk mengajar dan urusan penelitian di tenmpat lain. Hanya mahasiswa S-2 yang saya dampingi di Boronadu yang bisa belajar bahas Nias di Yogya dengan cukup baik. Terus terang, saya sangat malu ketika bertemu Pak Pastor Johanes. Beliau sangat fasih bicara bahasa Nias, sedangkan saya waktu itu baru bisa mengucapkan ya’ahowu! Lucunya lagi, apa yang saya pelajari di Yogya ternyata sangat beda dengan yang saya dengar di Gomo, sebab yang mengajari saya bahasa Nias waktu di Yogya adalah orang Gunungsitoli, misalnya tentang perbedaan ono alawe dan si alawe. Terima kasih Pak Halawa, tentang bahasa ini memang menjadi salah satu penentu dalam penelitian kebudayaan.

    Keempat, Saya mohon maaf, jika tulisan saya ternyata menyinggung orang Nias. 2,5 tahun ini, saya melakukan refleksi dari saran dan komentar saudara-saudara. Bahkan saya seringkali sulit tidur karenanya. Memang, sangat tidak adil melihat seseorang dan masyarakat tertentu dari ukuran-ukuran kita sendiri. Makanya, dari awal buku sudah saya tegaskan bahwa buku Melacak Batu Menguak Mitos: Petualangan Antarbudaya di Nias berisi dongeng tentang saya yang belum tahu apa-apa tentang Nias. Sayangnya kalimat itu tidak dicetak tebal oleh penerbit, karena, tulisan-tulisan tentang Nias yang objektif dan orisinil hanya bisa lahir dari orang-orang Nias Asli, bukan dari orang-orang seperti saya yang hanya sekejap tinggal di sana. Dari buku-buku itulah orang seperti saya yang mencintai Nias tapi belum tahu apa-apa tentang Nias bisa belajar.
    Ni

    Saya masih ingin terus menjalin hubungan dengan orang Boronadu dan terus berkarya bersama mereka. Lain kampung lain adat, maka mari kita ungkap keberagaman Nias agar kita bisa belajar lebih dalam tentang siapa kita dan untuk apa kita ada.

    Ya’ahowu!!

    J. A. Sonjaya (Ama Robi Hia)

  2. 12
    esther gn telaumbanua Says:

    Andai ada sebuah referensi lain yang mengatakan pusat peradaban Nias bukan bermula di Boronadu, mungkin kesanalah orang merujuk memulai pengenalan itu. Adakah tulisan asli dari orang Nias asli dan dengan perspektifnya sebagai orang Nias tentang mite-mite, sejarah dan budayanya yang lebih utuh dari referensi yang ada?

    Sangat minim dan tidak mudah bagi saya menemukan referensi pemikiran orang Nias asli dengan utuh. Lebih banyak referensi itu saya temukan melalui hasil upaya dan karya orang non-Nias dan orang dari luar Nias. Karena keterbatasan diri saya (sebagai orang Nias) padahal kerinduan mengenal Nias dan dimensi kehidupannya sangat kuat pada diri saya, saya mulai dengan mencoba memahami karya yang ada dan walaupun dengan perspektif orang lain yang terbatas. Tak ada soal bagi saya, yang utama adalah saya mendapatkan informasi dan mengambil bagian yang positif darinya, dan dijadikan pintu untuk mengenal lenih dalam. Sebagai manusia saya selalu menyadari bahwa belum tentu saya mampu mengenal dan menggambarkan tentang diri saya secara utuh dan benar, karena itu perlu juga mendapat pandangan dari orang lain.

    Sejarah adalah dimensi kehidupan yang sangat jujur, karena ia bercerita apa adanya tentang apa yang telah terjadi. Dalam menguak sejarahpun kita harus jujur bahwa ada bagian yang baik dan indah, namun ada sisi-sisi yang mungkin kelabu. Karena itu, membaca cerita ‘seram’ kisah Awuwukha, misalnya, tidak akan mengurangi rasa hormat saya terhadap Nias, kalau itu memang bagian dari dimensi kehidupannya. Kekuatiran yang berlebihan tentang dimensi dalam sejarah, terutama untuk tujuan penelitian, akan membatasi kita untuk mengenal Nias dengan utuh. Orang Batak pernah dicap ‘kanibal’ ketika misionaris terbunuh di tanah itu, tetapi bagian sejarah ini justru mendorong semangat membaharui diri dan kehidupan yang lebih maju di tanah itu di kemudian hari. Bagi saya, cerita bahwa ada peneliti yang tewas di wilayah penelitiannya di era Nias yang lebih maju seperti saat ini merupakan sebuah sejarah yang lebih menyeramkan dari kisah Awuwukha.

    Sungguh tidak mudah untuk menguak seluruh dimensi kehidupan Nias dalam waktu dan ruang yang terbatas apalagi oleh orang yang non-Nias, namun menurut saya langkah awal ini baik. Oleh orang Nias sendiripun hal itu sangat tidak mudah dilakukan, dan kalaupun mudah belum tentu mau melakukannya. Karena penulis buku adalah non-Nias walaupun metode yang digunakan sempurna, tentu ada warna lain dan ini sangat wajar. Andai ada orang Nias yang bersedia memfasilitasi dan bersedia mendampinginya meneliti dalam keberadaan wilayah Boronadu yang ada pada waktu itu, mungkin Ama Robi Hia akan lebih terbantu berkarya dengan lebih sempurna sesuai kemauan orang Nias. Di bagian ini, saya menghargai Bapak JA Sonjaya (Ama Robi) atas niat baiknya melakukan penelitian di Nias dan menuangkannya dalam buku. Saya sudah membaca “Melacak Batu Menguak Mitos’. Dengan segala keterbatasan yang mungkin ada (seperti yang disebut para pemberi respon), saya pribadi terkesan dan berterima kasih untuk adanya buku itu.

    Bila ada kelemahan dalam buku karya Ama Robi, saya mendorong orang Nias, kita, untuk menghadirkan buku baru yang menceritakan Nias dan dimensi kehidupannya dengan lebih benar dan utuh, sebagai ‘protes’ ilmiah yang objektif dan lebih bertanggungjawab terhadap buku Ama Robi ini. Ya’awohu.

    /Esther Telaumbanua

  3. 13
    J. A. Sonjaya Says:

    Terima kasih Kak Esther,
    Komentarnya sangat menyejukkan saya. Apabila kita bisa membacanya dengan cara berpikir mereka waktu itu, kisah tentang Awuwukha bagi saya bukan sejarah kelam, karena itulah salah satu cara orang Nias bertahan hidup, membangun masyarakatnya, dan menjunjung harga diri. Justru saya bangga pada orang Boronadu yang mau secara jujur mengakui adanya itu.

    Saya sepaham dengan Kak Esther untuk mencari cikal bakal Nias di tempat lain, selain Boronadu, mengingat, dating (pertanggalan menggunakan C-14) yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Medan di Borondau hasilnya ternyata tidak terlalu tua. Apalagi saya juga mendengar ada beberapa versi mitos asal-usul manusia di Nias. Mari kita lacak bersama.

    Tentang tulisan-tulisan orang Nias, menurut pemahaman saya, sampai zendeling datang pada awal abad ke-19 di Nias, orang Nias belum memiliki tradisi menulis. Hanya tulisan-tulisan terbatas yang terkait dengan bahasa pasar. Karenanya, menelusuri sejarah Nias sejatinya kita mulai dari tradisi tutur. Saya mengkoleksi tulisan-tulisan tentang Nias. Tulisan orang Nias Asli yang tertua yang saya miliki baru dari pertengahan abad ke-20. Jika ada yang memiliki lebih tua dari itu, saya sangat berharap bisa mengkopi dan membacanya.

    Ya’ahowu!

    J. A. Sonjaya

  4. 14
    E. Halawa Says:

    Talifusõgu Ama Robi Hia,

    Saya membutuhkan beberapa hari untuk membaca dengan baik komentar Anda (no. 11) yang merupakan tanggapan atas tulisan saya di depan.

    Tidak berlebihan kalau kini saya mengatakan: J.A. Sonjaya alias Ama Robi Hia adalah seorang peneliti yang rendah hati, peneliti yang menganggap ‘catatan-catatan’ atau bahkan ‘kritik yang pedas’ terhadap hasil penelitiannya merupakan hal yang positif, yang menyambutnya dengan baik, dengan segala kerendahan hati. Alih-alih Anda menutup mata dan memalingkan wajah dari tulisan saya, Anda malah menghabiskan waktu cukup lama untuk mencoba menanggapinya dan melihat unsur-unsur konstruktif dari padanya.

    Dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengadakan permenungan. Saya salut, Anda ternyata serius menggeluti bidang Anda, dan karenanya mau meluangkan waktu untuk berefleksi dan akhirnya memberikan tanggapan positif, melakukan langkah-langkah perbaikan atau menindaklanjutinya dengan usaha-usaha nyata sebagaimana Anda beberkan di depan.

    Dari pihak saya, tulisan saya yang Anda komentari ini adalah sebentuk ungkapan rasa terima kasih saya kepada Anda yang bersusah payah menggali sesuatu dari alam Nias sana untuk konsumsi publik.

    Sebenarnya saya bisa saja mengambil jalan pintas, aman dan memberikan kenyamanan kepada semua pihak – kepada saya pribadi, kepada Anda, dan kepada pemerhati budaya Nias.

    Supaya saya dicap ‘santun’ kepada pihak tamu (baca: Anda) dan terkesan menghargai karya yang keluar dari pemikiran Anda, maka sepotong kalimat berikut cukup bagi saya untuk menyenangkan dan menyejukkan semua pihak: Ama Robi Hia, kami – orang Nias – sangat berterima kasih kepada Anda, yang telah bersusah payah menghasilkan sebuah karya tentang Nias; semoga kiranya ke depan Anda menghasilkan karya-karya lain tentang Nias.

    Membaca kalimat di atas memang menyejukkan dan membesarkan hati, akan tetapi saya yakin Anda sependapat dengan saya, bahwa kalimat semacam ini bermakna nihil.

    Banyak pihak yang masih merasa terganggu dengan sorotan kritis atas karya-karya mereka dan bahkan melihat catatan-catatan kritis sebagai sebuah bentuk kecemburuan, rasa iri atau bahkan kebencian terhadap mereka dan karya yang mereka hasilkan. Sebenarnya kepada mereka ini pesan saya adalah: sebaiknya berhenti berkarya, karena karya yang hanya ingin disanjung tidak memiliki tempat yang layak dalam dunia penelitian.

    Akhigu Ama Robi, teruskanlah karya Anda di bidang penelitian.

    Ya’ahowu

    E. Halawa
    PS: Kalau Anda ke Nias lagi, jangan lupa menjumpai seorang imam Katolik asal Jerman yang sudah lanjut usia, Amada Pastor Anselmus. Beliau ini sangat fasih berbahasa Nias (varietas tengah. Sekedar ilustrasi: apabila Anda orang Nias seperti saya, lalu belum melihat wajah beliau, tetapi Anda mendengar suaranya, maka Anda akan berpikir, beliau ini Ono Niha, melalui logat kentalnya dan istilah-istilah yang barangkali hanya Anda bisa dengar lewat obrolan di warung kopi atau di harimbale. Beliau ini memfokuskan diri dalam karya kerasulan saja.

  5. 15
    J. A. Sonjaya Says:

    Pak Halawa yang baik, ya’ahowu!

    Terima kasih atas responnya. Saya senang Ama bisa memahami maksud saya.

    Saya memang mengangkat persoalan di Nias (Gomo-red) secara apa adanya dengan perspektif interpretif-reflektif. Saya menyimpan bukti-bukti penting dalam bentuk rekaman video, seperti tentang boli niha, mangai binu, dll. Saya menyimpannya baik-baik siapa tahu kelak ada yang membutuhkan dan mau mendiskusikannya.

    Mengangkat Nias apa adanya bukan berarti ingin membuka “aib” Nias. Memamng ini bukan hal mudah karena mungkin akan berbenturan dengan mereke-mereka yang tidak sependapat dan tidak menemukan fakta itu di kampung halamannya. Untunglah Pak Agus Mendrofa dan Pak Melkhior Duha selalu membesarkan hati saya untuk menulis Nias apa adanya. Sebenarnya, jika kita meletakkannya pada ruang dan waktu yang tepat (kontekstual), saya rasa akan banyak pembaca/pemerhati Nias (semoga orang Nias sendiri)yang bisa belajar dari Nias, belajar bahwa ada yang berbeda di antara anak-anak negeri ini yang secara kenegaraan dan kebangsaan diseragamkan (seragam baju sekolahnya, seragam makanannya, seragam sinetronnya, dan banyak lagi). Dari Nias, sesungguhnya, saya sedang mengkampanyekan pentingnya multikulturalsime, sebuah faham yang mendudukkan perbedaan dalam kesederajatan. Karenanya, saya sangat berterima kasih pada sahabat-sahabat dan keluarga di Nias yang telah membukakan pintu untuk saya untuk melihat keberagaman Indonesia.

    Terima kasih atas sarannya. Saya sudah sangat ingin ke Nias. Semoga saya bisa bertemu beliau Amada Pastor Anselmus. Tapi, di mana saya bisa menemui beliau?

    Ya’ahowu!

    J. A. Sonjaya (Ama Robi)

  6. 16
    E. Halawa Says:

    Ama Robia,

    Saya tidak tahu dimana Amada Anselmus bertugas sekarang. Silahkan tanyakan kepada P. Johannes Hammerle.

    Ya’ahowu,
    E. Halawa

  7. 17
    J. A. Sonjaya Says:

    Baik, Ama. Terima aksih informasinya. Saya akan coba bertanya ke Pastor atau ke Pak Natauli Duhi jika hendak ke Nias nanti.

    Ya’ahowu!

    Ama Robi

  8. 18
    Eirene Telaumbanua Says:

    Ya’ahowu pak…
    saya sudah membaca bukunya bapk, saya sebg Pelajar sekaligus perempuan Nias yang senang membhas mengenai Nias dan adatnya sangat menikmati hasil penelitian Pak A.Robi yang ditumpahkan kedalam sebuah tulisan.
    saya sebagai pembaca, dapat merssakan kesungguhan dan antusisme bapak melalui tulisan-tulisan itu.
    Semoga saya dapat meneladani semngat bapak dalam menghayati Nias, dan juga kepiawaiannya dalam merangkai kata-kata..

    Terimaksih,,,

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

June 2008
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30