James T Riady, Kunci Utama Pembangunan Nias Berada di Tangan Pemerintah

Friday, January 18, 2008
By susuwongi

Oleh Etis Nehe
Nias, Investor Daily — Pendiri Yayasan Pelita Harapan (YPH) James T. Riady mengungkapkan, kunci utama pembangunan Pulau Nias agar keluar dari ketertinggalan berada di tangan pemerintah, terutama pemerintah pusat. Dengan adanya pembangunan infastruktur akan membantu masuknya investasi dari luar ke Nias.“Kita tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam satu malam. Ujung-ujungnya adalah tetap kunci utamanya di tangan pemerintah. Pemerintah pusat semestinya lebih memperhatikan tempat-tempat seperti ini,” jelas James pada pertemuan dengan para pemimpin gereja, dan dinas pendidikan di Gunungsitoli, Kabupaten Nias, Selasa (14/1).
 
Dalam pertemuan tersebut hadir antara lain mantan Duta Besar Indonesia di Australia Sabam Siagian yang juga wartawan senior Suara Pembaruan dan Rektor Universitas Pelita Harapan Jonathan Parapak.
 
Menurut James, investasi di bidang infrastruktur akan mengangkat Pulau Nias dari ketertinggalan, khususnya pembangunan jalan dan listrik. Dia mengatakan, kalau infrastruktur jalan tidak memadai dan mengalami banyak kerusakan, investor akan berpikir panjang untuk investasi. “Mengenai listrik, bagaimana orang mau memulai usaha kalau listriknya saja tidak memadai,” jelas James.
 
Dia mencontohkan dengan kurangnya daya listrik pada Rumah Sakit Umum Gunungsitoli yang dibangun dengan fasilitas modern oleh berbagai lembaga dari negara asing. Beberapa peralatan pada RSU tersebut tidak dapat dioperasikan karena keterbatasan daya listrik.
 
 Dia mengatakan, Pulau Nias akan sulit keluar dari ketertinggalan bila kurang diperhatikan pemerintah pusat. “Karena itu, unsur-unsur masyarakat dan politik juga harus memberi pressure lebih kepada pusat agar meningkatkan anggaran infrastruktur,” kata dia.
 
Dia menegaskan, harus ada tekad dan kerja keras dari semua pihak untuk memanfaatkan aset yang ada untuk digunakan sebagai modal. Dia mencontohkan, sikap warga di Republik Rakyat Tiongkok yang bermukim di beberapa provinsi terpencil dan tertinggal.
 
“Semuanya disana tidak kehilangan harapan, tidak bicara negatif meskipun kondisi yang mereka alami negatif. Mereka berusaha menjalin kerjasama yang lebih giat, lebih bersemangat lagi,” papar dia.
 
Nias Termarjinalkan
 
Sementara itu, Sabam mengatakan, Pulau Nias merupakan bagian dari daerah-daerah yang termarjinalkan di Indonesia. Menurut dia, daerah-daerah marjinal tersebut seringkali tidak mendapat perhatian pemerintah pusat.
 
Namun kata dia, yang paling penting adalah daya tahan masyarakat menghadapi ketertinggalan tersebut. Karena itu, peran Gereja dan lembaga terkait lainnya sangat penting untuk mencari solusi atas ketertinggalan. Dia mengusulkan agar pemerintah daerah mendapatkan data mengenai situasi akurat kondisi pendidikan di Pulau Nias dan apa yang harus dilakukan, misalnya tiga tahun ke depan.
 
“Selanjutnya minta pendapat ahli pendidikan melalui workshop yang intensif sesuai kondisi social ekonomi Nias sehingga dapat dipetakan apa yang ada sekarang dan apa yang harus diperbaiki,” jelas dia.
 
Sementara itu, Bupati Kabupaten Nias Binahati B. Baeha membenarkan, Kabupaten Nias masih berada dalam jajaran daerah tertinggal di Indonesia dan salah satu daerah dari enam daerah tertinggal di Sumatera Utara. “Pulau Nias tertinggal dalam hal ekonomi, infrastruktur, sarana prasarana kesehatan dan juga pendidikan.
 
Kondisi tersebut diperparah oleh tsunami pada 2004 dan gempa tektonik pada 2005 yang merenggut nyawa sekitar 1.000 orang. Kedua bencana alam tersebut, menurut dia, telah merusak seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat Nias
 
Walau pun ada perhatian pemerintah pusat melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) namun kondisi Pulau Nias tetap masih jauh tertinggal dibanding daerah-daerah lainnya. “Kami baru merasakan jalan hotmix 62 tahun setelah Indonesia merdeka. Selain itu, hanya sekitar 4% yang lulus SLTA yang dapat melanjut ke perguruan tinggi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Itu artinya 96 % lulusan SLTA terpaksa menganggur,” papar dia.
 
Kondisi tersebut diperburuk dengan masih rendahnya pendapatan daerah yang hingga saat ini baru mencapai Rp 16,5 miliar sementara kebutuhan pembangunan mencapai sekitar Rp 500 miliar. “Angka pendapatan daerah tersebut telah meningkat sejak tujuh tahun lalu. Saat itu, pada 2001, jumlah pendapatan daerah hanya Rp 1,5 miliar per tahun,” papar dia.
 
Karena itu, kata dia, Pemerintah Kabupaten Nias telah menetapkan tiga pilar utama pembangunan sejak 2001. ketiga pilar itu adalah memajukan pendidikan, memacu pembangunan infrastruktur dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. (*)
 
Sumber: http://www.investorindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=48411

Komentari

Kalender Berita

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031