Tipologi Orang Pintar

Tuesday, November 27, 2007
By Moyo

Oleh: Victor Zebua

Knowledge is power, kata Francis Bacon dalam Novum Organum (1620). Pengetahuan adalah kekuasaan. Bagi seorang teknokrat, kepintaran terhadap ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge) adalah sumber kekuasaan yang bersifat strategis-politis. Teknokrat menjadikan ilmu-pengetahuan sebagai unsur politik (kebijakan) dalam upaya melakukan perubahan. Teknokrat mengandalkan keahlian ilmiah. Legalitas kekuasaan seorang teknokrat tidak hilang, sepanjang kepintaran menjalankan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masih tetap dimilikinya.

Teknokrat beda dengan politikus. Politikus tidak perlu berisi penuh ilmu-pengetahuan. Calon presiden tidak harus sarjana, cukup pendidikan menengah saja. Andalan politikus adalah legitimasi. Ketika dukungan konstituen surut, maka larut pula kekuasaan seorang politikus. Namun kepentingan utama keduanya, teknokrat dan politikus, sama-sama kekuasaan.

Apakah pemilikan ilmu-pengetahuan hanya untuk kekuasaan belaka? Julien Benda mengkritik orang pintar yang menyerah pada kepentingan politik penguasa. Kaum terpelajar mengkhianati fungsinya, karena tidak memberi tuntunan pada kesejahteraan umat manusia, mereka malah ikut mempertajam konflik antar bangsa dan memicu perang, kata Benda dalam The Betrayal of the Intellectuals (1927). Penguasa negara adidaya menggunakan kepintaran untuk menyerbu dan menjajah bangsa lain. Teroris memanfaatkan kepintaran merakit bom untuk diledakkan di tempat ramai. Teror dan kontra-teror terjadi di mana dan kapan saja. Ilmu-pengetahuan dipakai sebagai daya penghancur, bukan untuk melebur pertikaian menjadi perdamaian.

Sejatinya ilmu-pengetahuan bersifat netral. Pemilik ilmu-pengetahuan penentu apakah ilmu-pengetahuan merupakan berkat, untuk memberantas penyakit atau kemiskinan misalnya, atau menjadi malapetaka ketika mesin perang diproduksi. Ini berlatar-belakang tipologi orang pintar sang pemilik dan pengguna ilmu-pengetahuan.

Selain teknokrat, politikus, penguasa, teroris, para orang pintar lainnya menurut Ignas Kleden dalam Kaum Profesional dan Pembagian Kerja Intelektual (1986) adalah: ilmuwan, intelektual, teknikus, dan profesional.

Ilmuwan memiliki ilmu-pengetahuan secara disipliner. Dia bekerja dengan seperangkat teori. Ilmuwan berjuang menguji teori-teori dengan alat yang disebut metodologi. Hasilnya adalah ilmu yang dapat dipertanggung-jawabkan (valid), tidak palsu atau keliru. Pengakuan kewibawaan ilmuwan diperoleh dari masyarakat akademik. Ilmuwan adalah tokoh formal. Kata-kunci yang akrab dengan ilmuwan adalah “validitas dan obyektivitas”.

Intelektual memiliki ilmu-pengetahuan secara moral. Dia memanfaatkan ilmu-pengetahuan demi kebaikan. Dia mengawasi penggunaan ilmu-pengetahuan secara etis. Intelektual tidak melakukan uji metodologis, namun menerjemahkan ilmu-pengetahuan ke dalam nilai dasar (basic value) harkat dan martabat manusia. Dunianya adalah manusia. Pengakuan seorang intelektual didapat dari masyarakat umum. Dia adalah tokoh informal. Kata-kunci kaum intelektual adalah “etis dan integritas”.

Teknikus memiliki ilmu-pengetahuan secara operasional. Dia menerapkan ilmu-pengetahuan teknis-praktis. Dia memanfaatkan ilmu-pengetahuan secara efektif agar berfungsi produktif. Teknikus memberi nilai pakai ilmu-pengetahuan. Alatnya adalah teknologi. Dunianya adalah benda, dia hidup dalam unsur industri. Kata-kunci kaum teknikus adalah “efektif dan produktif”.

Profesional memberi nilai tukar kepada ilmu-pengetahuan. Dia merubah wujud ilmu-pengetahuan menjadi komoditas yang dipertukarkan dalam transaksi jual-beli. Dia menjabarkan ilmu-pengetahuan ke dalam unsur pasar. Pemanfaatan ilmu-pengetahuan oleh profesional bersifat ekonomis. Dia menukar profit dengan mutu barang maupun jasa pelayanan yang prima. Kata-kunci kaum profesional adalah “efisien dan kualitas”.

Di alam nyata tipologi orang pintar dapat bercampur-baur. Orang pintar mungkin berperan sebagai teknikus-intelektual, profesional-teknokrat, ilmuwan-profesional, atau kombinasi lainnya. Semua memiliki kepintaran berbasis ilmu-pengetahuan, bedanya dalam penggunaan ilmu-pengetahuan itu.

Lalu, koruptor masuk tipologi mana? Koruptor pasti orang pintar dong! Minimal dia pintar menyiasati hukum positif. Dia adalah teknokrat, politikus atau penguasa, karena punya kekuasaan. Tapi seorang koruptor adalah non-profesional karena nilai-tukarnya bukan mutu. Dia juga non-intelektual karena punya moral setipis sutera.

Bagaimana pula dengan peneliti? Peneliti pasti orang pintar juga, idealnya dia berperan sebagai ilmuwan-intelektual. Bila hasil penelitiannya divalidasi dan diakui oleh masyarakat akademik yang kompeten, dia adalah ilmuwan. Bila dalam penelitiannya dia menghargai harkat dan martabat manusia, dia adalah intelektual yang mendapat legitimasi dari masyarakat umum. Namun bila dia menyiasati hukum positif yang baku dan berkaitan dengan penelitiannya, melanggar aturan ijin penelitian misalnya, maka dia hanya beda-beda tipis saja dengan koruptor.

Orang pintar minum ”tolak angin”, rayu seorang bintang iklan cantik di televisi nasional. Orang pintar yang lagi ”masuk angin”, kemudian minum ”tolak angin”, tentu akan ”buang angin”. Namun hati-hati, jangan membuang angin di sembarang tempat. Manai Sophiaan mengingatkan fenomena ini lewat buku “Siapa Menabur Angin Dia Menuai Badai”. Nama Manai Sophiaan berakar pada sophia, kata yang bermakna “kearifan”. Perlu kearifan dalam mengelola ilmu-pengetahuan, agar manusia tidak terombang-ambing diterpa angin dan diterjang badai kehidupan.

13 Responses to “Tipologi Orang Pintar”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. 11
    Amandaya Says:

    Ada-ada saja Bung Kiki, ini.

    Teruskanlah diskusi , biar tujuan Situs ini dapat kita wujudkan bersama.

  2. 12
    Jaka Lelo Says:

    Laso #2: Imane Tödö Hia: “Da möi ndra’o misefo khö nakhiu, khö Zilahörö Ndrawa.” Helemina döinia si sambua, kata Ama Rafisa (Johanes Hammerle, Hikaya Nadu hal 172). Zilahörö Ndrawa anak Tödö Hia itu rupanya Ratu Wilhelmina dari Negeri Belanda.

    Wilhelmina Helena Pauline van Orange-Nassau adalah anak tunggal Raja Willem III dan Ratu Emma. Wilhelmina lahir 31 Agustus 1880, jadi Ratu Belanda (1890-1948) dan Ibu Suri (1948-1962). Beliau wafat 28 November 1962, dimakamkan di Nieuwe Kerk, Delft.

    Bilamana Wilhelmina hidup 4-5 generasi yang lalu, apatah mungkin
    beliau anak dari Tuada Hia yang hidup sekitar 40 generasi yang
    silam?

    Orang Pintar Tahu yang Benar… 🙂

  3. 13
    agnes s Says:

    artikel ini menarik… jg diunduh-tayang mis. tik-sdntilote.blogspot.com (Gorontalo) & zhorix.blogspot.com (Magetan)… publik situs Nias Online ternyata gak eksklusif cmn org Nias aja ya. pf deh Bung Red…

Pages: « 1 [2] Show All

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

November 2007
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930