Pengantar Redaksi: Wawancara Nias Portal dengan P. Johannes Hammerel OFMCap. berikut ditayangkan di Nias Portal tagl 15 Desember 2003, namun isinya masih tetap aktual. Pewawancara: R. Laia, Webmaster dan Pemimpin Redaksi Nias Portal yang dulu beralamat di: http://nias-portal.org.

Penelitian etnologis-antropologis tentang Nias telah berumur lebih 100 tahun. Tetapi sejak seratus tahun pula tidak banyak lagi yang terjadi. Kini Johannes Hämmerle ikut meramaikan dunia penelitian etnologis-antropologis tentang Nias tsb. dengan publikasi yang patut mendapat pujian.

Berikut ini adalah wawancara dengan ilmuan autodidak ini, yang dilakukan per email. Pertanyaan diajukan oleh Sdr. Raymond Laia dari Nias Portal. Tema adalah tese ilmiah baru tentang asal-usul orang Nias. Selamat menikmati.

***
Dengan buku “Asal-Usul Masyarakat Nias. Suatu Interpretasi” (2001), Pater Johannes telah meramaikan dunia ilmiah dengan tese baru. Apakah tese tsb.?

Tese tsb. hanya mau mengatakan, bahwa menurut keyakinan saya, orang Nias merupakan satu masyarakat yang multi-etnis. Tempo hari ada teman yang hendak mengoreksi judul buku saya menjadi “Asal usul suku Nias”. Tentu saja kutolak koreksi itu. Justru itu yang hendak dikatakan: Tiada satu suku Nias yang homogen. Yang menghuni pulau Nias sekarang ialah satu masyarakat yang terdiri dari sekian banyak suku atau etnis.

Jadi orang Nias yang sekarang bukanlah penghuni pertama Pulau Nias?

Bukan! Untuk sementara tak seorang pun mengetahui tempat tinggal penghuni Nias yang pertama pada zaman purbakala. Tiada pula orang yang mengetahui ciri khas penghuni pertama dan dari mana etnis pertama itu. Besar kemungkinan, bahwa keturunan dari penghuni pertama kini masih ditemukan di Nias, tetapi pasti tidak lagi sebagai satu suku yang hidup terpisah dari suku lain, melainkan sudah membaur dengan etnis-etnis lain yang kemudian memasuki pulau Nias.

Kemungkinan alternatif lain adalah:
» penghuni pertama tsb. telah meninggalkan Pulau Nias dan melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau lain, atau
» telah musnah oleh wabah, atau
» telah dimusnahkan oleh suku-suku lain yang memerangi mereka.

Pater juga mengansumsikan, bahwa yang biasa disebut “Suku Nias” itu, sebenarnya terdiri dari beberapa “etnis”?

Menurut asumsi saya, Pulau Nias ini tak pernah terisolir 100%. Karena itu diandaikan, bahwa Pulau Nias telah berkontak dengan dunia luar. Adalah kenyataan, bahwa sepanjang tahun arus lautan di antara deretan pulau-pulau di sebelah Barat Daya Sumatera dan Pulau Sumatera sendiri mengarah ke arah Tenggara. Tak heran, kayu balok dari Singkil di Sumatra Utara sering terdampar di Nias. Kalau kayu balok bisa terdampar di Nias, mengapa perahu-perahu layar tidak dapat terdampar di situ pula?

Tidak tertutup kemungkinan, bahwa pada zaman glasial terakhir terdapat juga orang yang memasuki Nias dengan berjalan kaki. Karena pada zaman glasial belum ada Pulau Nias. Yang ada pada waktu itu adalah daratan Nias yang menyatu dengan daratan Sumatera dan seterusnya sampai Malaysia. Besar kemungkinan, bahwa dari waktu ke waktu ada pendatang baru di Nias, dan asal usul mereka sering dari etnis yang berbeda.

Bagaimana kisahnya Pater sampai pada ide, bahwa “bela” kemungkinan penghuni pertama Pulau Nias?

Saya tak pernah mengatakan secara definitif, bahwa “bela” adalah penghuni pertama. Tetapi “bela” kemungkinan tergolong di antara penghuni pertama Pulau Nias. Saya sampai pada ide, bahwa “bela” dapat diperhitungkan sebagai salah satu suku penghuni pertama Nias, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut:
a. Ada kemungkinan, bahwa anggapan “bela” sama dengan “albino” (suatu penyakit kekurangan pigmen, yang terdapat di seluruh dunia) merupakan salah pengertian. Jadi “bela” sebagai suku jauh berbeda dengan “albino”.
b. Di Sumatera Utara terdapat juga satu suku “primitif” yang disebut “belah” (bahasa Nias tidak pakai konsonan penutup). Siapa tahu, ada kaitannya dengan “bela” di Nias?
c. Sumber-sumber teks otentik, mulai dari Sulaiman (th. 851) s/d. Ibn Al-Wardi (th. 1340) bicara tentang banyaknya kaum di Nias yang berbeda-beda.
d. Ciri khas orang “bela”, mereka hidup di atas pohon, berkulit putih dan elok badannya.

Adakah tradisi lisan, mitos, atau sejenisnya yang memperkuat tese ini?

Tradisi lisan sangat mendukung tese ini. Saya paling dibantu dalam hal ini oleh Ama Rafisa Giawa dari desa Orahili di hulu sungai Gomo, tetapi juga oleh nara sumber lainnya di Nias Tengah. Menurut tradisi lisan, keenam putra dari ibu Sirici diturunkan di tempat yang berbeda-beda. Mungkin hal ini merupakan petunjuk, bahwa cara hidup ke-6 keturunan ini berbeda pula. Seorang di antara mereka jatuh di atas pohon, artinya kelompok tsb. hidup di atas pohon. Petunjuk lainnya adalah adanya dua silsilah keturunan di Nias (zwei Stammbäume), seperti telah didengar oleh para misionaris 130 tahun yang lalu. Silsilah pertama secara global dan sangat singkat melukiskan suku-suku yang telah mendiami Pulau Nias, mungkin sejak ribuan tahun. Sedangkan silsilah kedua mengandaikan manusia (“Niha”), yang baru ratusan tahun yang lalu memasuki Pulau Nias.

Apakah ada juga bukti ilmiah tentang hal ini?

Temuan ilmiah di bidang arkeologi berikut bisa dijadikan sebagai bukti ilmiah: Dalam buku Gua Tögi Ndrawa, Hunian Mesolitik di Pulau Nias. Berita Penelitian Arkeologi. No 8 – Balai Arkeologi Medan, 2002, Ketut Wiradyana menguraikan hasil penelitian arkeologis di Nias. Antara lain dikatakan: Pada garis besarnya, situs Gua Tögi Ndrawa dapat disebut sebagai bentuk hunian tertutup masa mesolitik. Tetapi penemuan arkeologis lain di sungai Muzöi digolongkan dalam paleolitik akhir atau awal mesolitik. (hlm. 68).

Petunjuk ke arah bukti ilmiah lain bisa diharapkan dari ilmu linguistik. Umpamanya Ibu Dr. Lea Brown dari Australia sudah banyak menaruh perhatian pada penelitian tata bahasa di Nias Selatan.

Bukti ilmiah lainnya kita diharapkan keluar dari hasil dari penelitian DNA, yang saat ini sedang berlangsung. Prof. Dr. med. Ingo Kennerknecht dari Westfälische-Wilhelms-Universität, Münster, Jerman, dengan bekerja sama dengan Museum Pusaka Nias, Gunungsitoli, telah mengumpulkan sampel DNA dari 785 orang Nias. Karena jumlah penduduk Nias sekitar 700.000 orang, itu berarti per 1.000 orang Nias sudah terdapat satu sampel DNA. Saat ini sedang dipersiapkan Bank Data DNA orang Nias. Penelitian DNA seterusnya di institut khusus di Berlin, Leipzig atau Köln masih menyusul. Penelitiannya berjalan lambat, karena biaya mahal. Biaya penelitian satu sampel DNA adalah 500 EURO. Bukan main!