Archive for September 21st, 2014 | Daily archive page

Dr Marwan Rosyadi – Peneliti Muda Indonesia Yang Sedang Berkiprah di Jepang

Sunday, September 21st, 2014

MRosyadiNIASONLINE – Tokyo. Kisah-kisah sukses mahasiswa/i dan para peneliti Indonesia di luar negeri seperti tiada habisnya, justru di tengah kegalauan dunia penelitian di tanah air. Sebut saja Ricky Elson yang beberapa waktu lalu digaet oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk mengembangkan mobil listrik di Indonesia. Kisah membanggakan bercampur mengharukan yang dialami Ricky boleh dikatakan merupakan kisah tipikal peneliti kita, yang pada awalnya memiliki idealisme tinggi tapi kemudian ‘terpelanting’ oleh situasi yang di luar kendali mereka sebagai peneliti.

Di sela-sela berlangsungnya Grand Renewable Energy 2014 International Conference and Exhibition di Tokyo dari 27 Juli – 2 Agustus 2014, Nias Online sempat ngobrol-ngobrol santai dengan salah seorang peneliti muda Indonesia yang sedang aktif meneliti di Jepang.

Dia adalah Dr Marwan Rosyadi, yang sejak tahun 2013 bekerja sebagai peneliti di Laboratory of Electric Machinery, Dept. of Electrical and Electronic Engineering, Kitami Institute of Technology, Hokkaido, Jepang. Bidang khusus yang menjadi minat Marwan adalah Analisis Dinamik dan Pengendalian Jejala Daya Skala Besar yang digandeng dengan sumber-sumber energi terbarukan (Dynamic Analysis and Control for Large Scale Power Grid Incorporating Renewable Energy Sources).

Ketertarikannya Marwan dengan dunia listrik dimulai sejak umur 6 tahun.

“Saat itu listrik baru masuk di kampung kelahiran saya di Taliwang, Sumbawa Barat. Ketika pertama kali melihat bolam listrik menyala saat saklar di-on-kan, decak heran dan kagum bercampur baur saat itu. Ada keinginan besar dalam diri saya untuk ingin tahu lebih dalam. Kerap kali saya membuat listrik di rumah saya konslet dan membuat skringnya bolak balik putus. Saya beberapa kali kena strum karena eksperimen konyol saya, Alhamdulillah saya tidak apa-apa karena rumah saya adalah rumah panggung dari kayu”, tuturnya kepada Nias Online.

Pada tahun 2013 Marwan mendapat gelar Doctor of Engineering (Dr. Eng) dari Kitami Institute of Technology, dalam bidang Cold Region Environmental and Energy Engineering. dengan topik riset “Stability augmentation of grid connected wind farm by using Permanent Magnet Synchronous Generator“.

Marwan, yang mendapat gelar Sarjana Teknik (ST) dari Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya pada tahun 2004 ini, memiliki kisah ketika bekerja di sebuah perusahaan asing sebagai Electrical Engineer yang menjadikannya tertarik dengan energi terbarukan.

“Saya sangat terkejut ketika pertama melihat lokasi tambang. Pepohonan yang katanya rindang dan besar menurut cerita guru SD saya sudah tidak terlihat lagi di tempat yang saya tuju, hanya ada bukit-bukit dan gunung-gunung yang sudah gundul, kadang-kadang berasap menandakan bahwa bukit/gunung itu kaya akan batu-bara.

Dalam hati saya berkata “gunung-gunungnya sudah gundul lalu batubara dibakar, jadi berapa ton CO2 yang akan mencemari bumi sementara pohon-pohon yang akan menyerapnya sudah berkurang”.”

Ironisnya lagi, tambah Marwan, masyarakat yang hidup di sekitar tambang kebanyakan hidup miskin dan tanpa listrik. Dia tidak habis berpikir bahwa kekayaan negeri ini hanya dinikmati oleh segelintir orang. Batinnya bergejolak, sebab apa yang sedang dia kerjakan tidak sesuai dengan idealismeya. Akhirnya Marwan memutuskan berhenti setelah bekerja 6 hanya (enam) bulan di perusahaan itu.

Sejak saat itu Marwan pun mulai berhasrat mempelajari dan mengembangkan energi terbarukan, karena dia sadar suatu saat nanti sumber-sumber energi fosil akan habis.

Pada Tahun 2006 Marwan mendapat gelar Magister Teknik (MT) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Jurusan Teknik Elektro dengan bidang studi: sistem tenaga. Topik riset yang diambilnya adalah Optimal Reactive Power Compensation on Jawa-Bali Grid System Using Artificial Immune System via Clonal Selection Algorithm (CSA).

Marwan berharap pemerintah Indonesia mulai lebih serius mengambil langkah kebijakan energi yang mendorong pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan.

“Hampir seluruh negara maju saat ini mulai mengembangkan technologi yang berorientasi pada RE. Uni Eropa, misalnya, bersepakat bahwa di tahun 2050 nanti 100% pasukan energi listrik mereka berasal dari sumber-sumber energy terbarukan. Jepang yang semula hanya memanfaatkan sebagian kecil saja energi terbarukan, kini sedang membangun renewable energy plants berupa wind farm (tenaga angin: red.) dan sistem fotovoltaik dalam sekala besar,” ujarnya.

(Catatan: Dari pengamatan NO selama berlangsungnya konferensi, bencana nuklir Fukushima tahun 2011 masih menyisakan trauma bagi rakyat Jepang, dan ini mau tak mau memaksa pemerintah Jepang untuk mengembangkan sumber-sumber energi alternatif terutama energi terbarukan, sebagai pengganti energi nuklir. )

Di Hokkaido, tempat Marwan melakukan riset saat ini, akan dibangun wind farm dengan kapasitas 400 MW. Di lepas pantai Fukushima juga akan dibangun floating wind farm dengan kapasitas yang cukup besar sebagai pengganti pembangkit nuklir yang hancur saat tsunami 2011. Projek ini akan berlanjut sampai dengan tahun 2050.

Marwan kuatir, Indonesia akan ketinggalan dalam percaturan tingkat global di bidang energi kalau kelak lahir kebijakan internasional yang mengikat semua negara untuk membatasi pembangkitan energi dengan menggunakan bahan bakan fossil. Juga, menurut Marwan, teknologi energi nuklir sampai saat ini belum mampu menjamin tidak terulangnya berbagai bencana dari penggunaan energi nuklir.

“Saya berharap Indonesia bisa memaksimalkan pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan yang ada, dan tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh negara-negara maju terutama digunakannya tenaga nuklir, mumpung kita masih dalam tahap negara berkembang,” kata Marwan.

Setelah menyelesaikan program riset pasca doktoralnya, Marwan berencana kembali ke tanah air dan menyumbangkan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya di bidang energi terbarukan untuk ikut membangun Indonesia (brk/*).

Nias Butuh Pemimpin Yang Berkarakter

Sunday, September 21st, 2014

Jakarta  – Dewan Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Kepulauan Nias (DPP GPKN) mengadakan diskusi panel di Jakarta, bertempat di Hotel MegaPro (20-09-2014) dengan Thema Peluang dan Tantangan Pemuda Dalam Pembangunan Provinsi Kepulauan Nias, menghadirkan narasumber KombesPol (Purn) Drs. Asli Manao dan Drs. Saroziduhu Zebua, MM serta moderator Apolonius Lase

Pemateri KombesPol (Purn) Drs. Asli Manao menyampaikan pengalaman saat pulang ke nias belum lama ini, bahwa kepulauan nias butuh pemimpin yang punya karakter dan berhati melayani dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi.  Perananan semua tokoh, rohaniawan harus turut serta dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat supaya sadar bahwa kita sudah tertinggal jauh dengan daerah lain.

Salah satu contohnya rata-rata kebutuhan pokok masyarakat nias mulai dari sayur mayur selalu di datangkan dari luar nias, padahal nias punya potensi untuk hal ini akan tetapi kurangnya pemberdayaan masyarakat oleh pemimpin nias di kepulauan nias saat ini, lanjut Asli Manao dalam pemaparannya.

Asli Manao menambahkan, Peranan pemuda dibutuhkan untuk bisa ambil bagian, terlebih dalam menyongsong pemilukada yang rencana akan di gelar tahun 2015 untuk bersama-sama memberikan pencerahan kepada masyarakat nias supaya memilih pemimpin yang punya kakter, punya hati untuk membangun, mau memberdayakan ekonomi kreatif masyarakat sehingga kebutuhan tadi tidak lagi di datangkan dari luar pulau nias.

Sedangkan pemateri Drs. Saroziduhu Zebua, MM yang juga sebagai Ketua Badan Persiapan Pemekaran Provinsi Kepulauan Nias (BPP-PKN) Jakarta menyampaikan proses perjuangan provinsi kepulauan nias yang dimulai dengan deklarasi 02 Pebruari 2009 dan di lanjutkan dengan pembentukan BPP-PKN Jakarta pada tanggal 18 Pebruari 2012.

Saroziduhu Zebua mengatakan bahwa pencapaian pembentukan provinsi Kepulauan Nias yang sebentar lagi akan di sahkan oleh DPR RI pada sidang paripurna 25 September 2014 semuanya itu karna kasih karunia Tuhan. Proses perjuangan selama ini selalu menuai pro dan kontra, ada yang pesimis bahwa Kepulauan Nias mustahil menjadi sebuah provinsi dilihat dari SDM dan SDA yang ada, walaupun sebenarnya kalau kita melihat nias sangat kaya akan potensi SDA jika dikelola dengan baik mulai dari hasil bumi, pariwisata dan budaya.

Sementara Tobias Duha, Ketua Umum DPP – GPKN mengatakan tujuan diskusi panel kali ini untuk memberikan pencerahan serta mengajak pemuda nias untuk bersama-sama memberikan buah pemikiran dalam menyongsong provinsi Kepulauan Nias yang sebentar lagi akan disahkan oleh DPR RI. Pemuda sebagai agen perubahan tentunya punya peranan penting dalam mengawal provinsi kepulauan nias, GPKN sebagai ormas kepemudaan siap mengawal serta memberikan pencerahan kepada masyarakat khususnya pemuda untuk tidak lagi salah dalam memilih pemimpin.

Ketua Panitia, Wardaniman Larosa memberikan apresiasi kepada para pemuda yang hadir pada diskusi panel GPKN, kehadiran pemuda yang berasal dari berbagai kampus merupakan bukti bahwa pemuda nias sangat rindu untuk punya wadah dalam menyampaikan ide dan gagasan untuk ikut bagian dalam mengisi pembangunan di Kepulauan Nias.

Dimikian rilis berita yang diterima Redaksi NO dari DPP GPKN (brk/*)