Tipologi Orang Pintar

Oleh: Victor Zebua

Knowledge is power, kata Francis Bacon dalam Novum Organum (1620). Pengetahuan adalah kekuasaan. Bagi seorang teknokrat, kepintaran terhadap ilmu (science) dan pengetahuan (knowledge) adalah sumber kekuasaan yang bersifat strategis-politis. Teknokrat menjadikan ilmu-pengetahuan sebagai unsur politik (kebijakan) dalam upaya melakukan perubahan. Teknokrat mengandalkan keahlian ilmiah. Legalitas kekuasaan seorang teknokrat tidak hilang, sepanjang kepintaran menjalankan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masih tetap dimilikinya.

Teknokrat beda dengan politikus. Politikus tidak perlu berisi penuh ilmu-pengetahuan. Calon presiden tidak harus sarjana, cukup pendidikan menengah saja. Andalan politikus adalah legitimasi. Ketika dukungan konstituen surut, maka larut pula kekuasaan seorang politikus. Namun kepentingan utama keduanya, teknokrat dan politikus, sama-sama kekuasaan.

Apakah pemilikan ilmu-pengetahuan hanya untuk kekuasaan belaka? Julien Benda mengkritik orang pintar yang menyerah pada kepentingan politik penguasa. Kaum terpelajar mengkhianati fungsinya, karena tidak memberi tuntunan pada kesejahteraan umat manusia, mereka malah ikut mempertajam konflik antar bangsa dan memicu perang, kata Benda dalam The Betrayal of the Intellectuals (1927). Penguasa negara adidaya menggunakan kepintaran untuk menyerbu dan menjajah bangsa lain. Teroris memanfaatkan kepintaran merakit bom untuk diledakkan di tempat ramai. Teror dan kontra-teror terjadi di mana dan kapan saja. Ilmu-pengetahuan dipakai sebagai daya penghancur, bukan untuk melebur pertikaian menjadi perdamaian.

Sejatinya ilmu-pengetahuan bersifat netral. Pemilik ilmu-pengetahuan penentu apakah ilmu-pengetahuan merupakan berkat, untuk memberantas penyakit atau kemiskinan misalnya, atau menjadi malapetaka ketika mesin perang diproduksi. Ini berlatar-belakang tipologi orang pintar sang pemilik dan pengguna ilmu-pengetahuan.

Selain teknokrat, politikus, penguasa, teroris, para orang pintar lainnya menurut Ignas Kleden dalam Kaum Profesional dan Pembagian Kerja Intelektual (1986) adalah: ilmuwan, intelektual, teknikus, dan profesional.

Ilmuwan memiliki ilmu-pengetahuan secara disipliner. Dia bekerja dengan seperangkat teori. Ilmuwan berjuang menguji teori-teori dengan alat yang disebut metodologi. Hasilnya adalah ilmu yang dapat dipertanggung-jawabkan (valid), tidak palsu atau keliru. Pengakuan kewibawaan ilmuwan diperoleh dari masyarakat akademik. Ilmuwan adalah tokoh formal. Kata-kunci yang akrab dengan ilmuwan adalah “validitas dan obyektivitas”.

Intelektual memiliki ilmu-pengetahuan secara moral. Dia memanfaatkan ilmu-pengetahuan demi kebaikan. Dia mengawasi penggunaan ilmu-pengetahuan secara etis. Intelektual tidak melakukan uji metodologis, namun menerjemahkan ilmu-pengetahuan ke dalam nilai dasar (basic value) harkat dan martabat manusia. Dunianya adalah manusia. Pengakuan seorang intelektual didapat dari masyarakat umum. Dia adalah tokoh informal. Kata-kunci kaum intelektual adalah “etis dan integritas”.

Teknikus memiliki ilmu-pengetahuan secara operasional. Dia menerapkan ilmu-pengetahuan teknis-praktis. Dia memanfaatkan ilmu-pengetahuan secara efektif agar berfungsi produktif. Teknikus memberi nilai pakai ilmu-pengetahuan. Alatnya adalah teknologi. Dunianya adalah benda, dia hidup dalam unsur industri. Kata-kunci kaum teknikus adalah “efektif dan produktif”.

Profesional memberi nilai tukar kepada ilmu-pengetahuan. Dia merubah wujud ilmu-pengetahuan menjadi komoditas yang dipertukarkan dalam transaksi jual-beli. Dia menjabarkan ilmu-pengetahuan ke dalam unsur pasar. Pemanfaatan ilmu-pengetahuan oleh profesional bersifat ekonomis. Dia menukar profit dengan mutu barang maupun jasa pelayanan yang prima. Kata-kunci kaum profesional adalah “efisien dan kualitas”.

Di alam nyata tipologi orang pintar dapat bercampur-baur. Orang pintar mungkin berperan sebagai teknikus-intelektual, profesional-teknokrat, ilmuwan-profesional, atau kombinasi lainnya. Semua memiliki kepintaran berbasis ilmu-pengetahuan, bedanya dalam penggunaan ilmu-pengetahuan itu.

Lalu, koruptor masuk tipologi mana? Koruptor pasti orang pintar dong! Minimal dia pintar menyiasati hukum positif. Dia adalah teknokrat, politikus atau penguasa, karena punya kekuasaan. Tapi seorang koruptor adalah non-profesional karena nilai-tukarnya bukan mutu. Dia juga non-intelektual karena punya moral setipis sutera.

Bagaimana pula dengan peneliti? Peneliti pasti orang pintar juga, idealnya dia berperan sebagai ilmuwan-intelektual. Bila hasil penelitiannya divalidasi dan diakui oleh masyarakat akademik yang kompeten, dia adalah ilmuwan. Bila dalam penelitiannya dia menghargai harkat dan martabat manusia, dia adalah intelektual yang mendapat legitimasi dari masyarakat umum. Namun bila dia menyiasati hukum positif yang baku dan berkaitan dengan penelitiannya, melanggar aturan ijin penelitian misalnya, maka dia hanya beda-beda tipis saja dengan koruptor.

Orang pintar minum ”tolak angin”, rayu seorang bintang iklan cantik di televisi nasional. Orang pintar yang lagi ”masuk angin”, kemudian minum ”tolak angin”, tentu akan ”buang angin”. Namun hati-hati, jangan membuang angin di sembarang tempat. Manai Sophiaan mengingatkan fenomena ini lewat buku “Siapa Menabur Angin Dia Menuai Badai”. Nama Manai Sophiaan berakar pada sophia, kata yang bermakna “kearifan”. Perlu kearifan dalam mengelola ilmu-pengetahuan, agar manusia tidak terombang-ambing diterpa angin dan diterjang badai kehidupan.

Leave a comment ?

13 Responses to Tipologi Orang Pintar

  1. sinumana says:

    Mengapa beberapa kalangan orang Nias berpandangan bahwa orang Eropah lebih pintar dari orang Nias? Pandangan itu sulit berubah meskipun banyak orang Nias yg pintar. Ternyata ada latar-belakang ceritanya, yaitu legenda Tödö Hia.

    Menurut legenda itu, penghuni pertama pulau Nias adalah Hia. Sebelum mati, Hia berpesan kepada para anaknya agar setelah mati Hatinya disimpan dalam botol lalu digantung di langit-langit rumah. Konon Hati Hia itu dapat bicara, menasehati dan meramal. Bisa memberitahu bila: tamu datang, hujan tiba, ada bahaya, ada rejeki, ada anaknya yg berbuat jahat. Pagi-pagi sang Hati meraung-raung memberitahu matahari sudah terbit, menyuruh para anaknya bekerja.

    Salah seorang menantu perempuan Hia bernama Sonowöli merasa bosan mendengar nasehat dan perintah sang Hati. Pada suatu hari ketika hujan lebat dan banjir datang, Sonowöli mengambil botol Hati itu, mencampakkan ke bandar cucuran atap, lalu botol itu dibawa banjir ke samudera raya. Untunglah botol Hati itu terdampar di daratan Eropah. Itulah sebabnya mengapa orang Eropah lebih pintar dari orang Nias, karena semua hikmat dari Hati Nenek Moyang mereka telah berpindah kepada orang Eropah 🙂

    Legenda ini diceritakan Ina Dalimböwö Hia di Sifalago Börö Nadu, Gomo, tahun 1971 (Bambowo Laiya, “Solidaritas Kekeluargaan Dalam Salah Satu Masyarakat Desa Di Nias – Indonesia” hlm. 54).

  2. Laso says:

    Menarik sekali tradisi lisan Tödö Hia. Menurut Ama Rafisa Giawa asal Balöhili Gomo, Tödö Hia pergi menemui anaknya di Negeri Belanda. Imane Tödö Hia: “Da möi ndra’o misefo khö nakhiu, khö Zilahörö Ndrawa.” Helemina döinia si sambua, kata Ama Rafisa (Johanes Hammerle, Hikaya Nadu hal 172). Zilahörö Ndrawa anak Tödö Hia itu rupanya Ratu Wilhelmina dari Negeri Belanda. Hebat juga… orang Nias ternyata punya jalur kekerabatan nenek-moyang dgn orang Belanda… Tradisi lisan ini perlu jadi acuan riset DNA untuk membuktikan bahwa orang Nias berasal dari Nederland… heheheee… 🙂

  3. saras says:

    Pantas aja adat Nias masih tetap berlaku gulden (firö hulöndra), karena menurut tradisi Ama Rafisa ternyata orang Nias berasal dari sono…

  4. Ka'uo says:

    Soal orang pintar? Sebenarnya tidak juga sih. Orang Nias sudah pintar sejak dulu. Dengan demikian orang Nias lepas dari “istilah bodoh”. Hanya saja, orang Nias dulu mempunyai “kebodohan relatif” yakni kebodohan karena tidak tahu. Setelah orang lain masuk ke Nias, maksud saya bukan hanya dari Eropa, tetapi juga dari banyak daerah dan negara, orang Nias menjadi banyak tahu hal yang baru dan itulah yang membuat orang Nias menjadi lebih tahu.
    Jadi soal pintar, menurut saya relatif aja koq. Proses dari tidak tahu menjadi tahu. Dari dulunya “tidak tahu” berarti belum pintar…. hehehehe…. Sekarang sudah pintar berarti sudah tahu….. Ia nggak?

    Dan itulah keunggulan Orang Nias. Lebih cepat menangkap ilmu-ilmu baru, meskipun tidak semua orang Nias demikian.

  5. firman says:

    menurutku sih… orang Nias “pintar bercerita”. banyak banget versi ceritanya sampe orang yg baca pun dibikin bingung… dah gak tau lagi mana yang beneran… mana pula yang koyok-koyok… hehehe…

  6. Martua & Ginoto ( Smansa Gusit ) says:

    Semua orang seh sebenarnya pintar, hanya saja orang kita nias saja yang tidak mau berusaha untuk mendapat ilmu pengetahuan.
    Orang Jakarta saja makan nasi,kita juga makan nasi kan……????
    jadi apa bedanya kita dengan mereka….!!!!
    Yang penting keinginan dan keyakinan yang terpenting untuk ditanamkan dalam diri masing- masing.
    Kita gak usah menjelek – jelekkan suku sendiri yang gank,yang terpenting adalah urus diri anda sendiri dan jangan pernah menganggap diri anda itu hebat.
    DUNIAMU TAK SELEBAR DAUN KELOR,MASIH LEBAR KOK !!!!!!!

  7. Orang Kita says:

    Bingung: (1) hilang akal (tidak tahu harus dibuat), (2) tidak tahu arah (mana yang barat, timur, dsb), (3) gugup tidak keruan, (4) … cari sendiri dalam KBBI.

    Kebingungan bisa berasal dari diri sendiri (internal), bisa juga berasal dari luar (eksternal). Kedua jenis kebingungan bisa dihindari dengan membiasakan diri ‘membaca’ gejala dan kenyataan. ‘Membaca’ tidak hanya berarti mampu merangkaikan huruf-huruf menjadi kata, merangkai kata-kata menjadi kalimat, dan seterusnya.

    ‘Membaca’ menuntut lebih dari itu: melatih diri melihat, meropong, mereka-reka. Tanpa latihan kita tidak bisa menjadi piawai dalam hal apapun.

    Mari kita berlatih sehingga ‘bacaan-bacaan” yang tak mudah kita cerna selama ini menjadi santapan intelektualitas kita, dan tidak menganggapnya justru ‘koyok-koyok’ atau semacamnya, istilah yang hanya bisa keluar dari insan-insan yang suka menyerah … dan tak mau atau malas berlatih.

    Orang Kita

  8. Linda says:

    ahh… ternyata temen-temen di sini pada pintar-pintar…! selamat berlatih ajah… salam spesial buat temen-temen di Smansa Gusit… 🙂

    Linda – Bogor

  9. Amandaya says:

    PINTAR juga. Artikel ini berhasil memancing orang-orang pintar untuk keluar dari persembunyian dan memberi komentar ! Heeeeeeee, ha wude-wude. Hanya masih saya/kita tunggu protes dari orang, yang oleh sebagian masyarakat Indonesia ditakuti dan disebut “orang pintar” seperti para : dukun, pemburu hantu, dan sebagainya. Mereka ini tidak memiliki tempat dalam pengertian orang pintar dalam artikel ini. Kita menunggu tanggapan yang serius sesuai anjuran no.7.

    Ehhhhh, saya sedikit memberi yang serius tentang artikel ini. Bukankah kepintaran tidak perlu legalitas (bahasa hukum) ? Hal ini terkait dengan kalimat ” Legalitas kepintaran seseorang tidak hilang …dstnya”. Kemudian hal lain adalah mengenai ” Calon Presiden tidak harus berpendidikan sarjana, cukup sekolah menegah saja”. Saya berpendapat seharusnya bukan kata CUKUP melainkan DAPAT.

    Ini dulu. Selamat berdiskusi.

  10. Kiki says:

    Dukun (juga dukun beranak dan dukun pijat), pemburu hantu, paranormal, peramal, dsb… termsuk orang pintar juga. Mereka tergolong intelektual, tak melakukan uji metodologis… namun dapat legitimasi dari publik… mereka tak perlu legalitas kayak teknokrat. Kalau pengetahuannya mereka gunakan untuk menyantet orang misalnya, mereka jadi teroris. Kalau pngetahuannya jadi komoditas dipertukarkan dalam transaksi jual-beli, mereka profesional, misalkan Mak Erot kan profesional juga. Kalau mereka menelusuri seluk-beluk dunia jin… mereka jadi intelektual peneliti. .. hehehehhh… 🙂

Reply to Laso ¬
Cancel reply

NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>