Iman yang Andal

Saturday, November 10, 2007
By nias

Oleh Pdt. BAMBANG PRATOMO

Aku mau berdiri di tempat pengintaianku dan berdiri tegak di menara, aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku. Lalu Tuhan menjawab aku, demikian, “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh-loh, supaya orang sambil lalu dapat membacanya. Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” (Habakuk 2:1, 2, dan 4).

PERKEMBANGAN dunia pada zaman modern ini membuat manusia hidup dalam ruang lingkup globalisasi yang serbadekat. Orang sangat diuntungkan dalam hubungannya dengan orang yang lain lewat media informasi dan elektronik. Namun, seiring dengan kemudahan itu, ternyata orang makin tak mampu menjawab tantangan dan persoalan hidup pada masa kini, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, pendidikan, maupun kebudayaan.

Artinya, banyak masalah hidup manusia yang tak teratasi, sehingga manusia berada dalam kebingungan dan sering mengambil jalan-jalan pintas yang tak terpuji. Di dalam kepanikan itu, orang tak peduli lagi terhadap sesamanya yang menderita, mengabaikan ketentuan hukum yang dirasakan sebagai penghalang untuk mewujudkan hasrat dan keinginannya, lalu kebenaran dan kesalahan pun menjadi rancu karena orang memutarbalikkannya.

Kemudian muncul mereka yang merasa punya kekuasaan untuk menentukan jalannya kehidupan di sebuah negara, kendati mereka sebenarnya mengusahakannya demi keuntungan mereka. Ada saja orang-orang yang menganggap diri mereka sebagai pahlawan dan menawarkan diri dapat menjawab semua persoalan hidup orang pada masa kini, bahkan menjadi nabi baru yang tampil di tengah masyarakatnya. Padahal, mereka sebenarnya sedang mengail ikan di air keruh.

Untuk mengatasi permasalahan semacam ini, diperlukan landasan yang kuat terutama di bidang kerohanian. Itulah sebabnya, Nabi Habakuk — yang berarti memeluk — berdiri di tempat pengintaian dan menara untuk menerima wahyu apa yang akan disampaikan Allah kepadanya. Nabi Habakuk tampil di tengah umat Allah ketika umat ini berada dalam ancaman bangsa Babel, menjelang kejatuhan kerajaan Yehuda. Nabi Habakuk merasa heran mengapa Allah membiarkan saja umat-Nya dan tidak melepaskan mereka dari cengkeraman bangsa Babel itu. Ia mengadukan keheranannya itu kepada Allah dan menantikan jawaban-Nya. Oleh karenanya, ia dengan tekun menantikan wahyu Allah itu dengan cara naik ke menara pengintaian.

Pada akhirnya Nabi Habakuk mendapat wahyu Tuhan Allah dalam firman-Nya yang cukup jelas, “Sesungguhnya orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar akan hidup oleh percayanya.” Sikap membusungkan dada atau sombong itulah yang menjadi ciri umat Allah pada masa itu. Mereka mengabaikan pesan dan perintah Allah dengan sikap mendurhaka kepada-Nya, hati mereka pun tidak lurus. Lalu Allah menggunakan tangan bangsa Babel untuk menindas mereka sebagai bentuk hukuman Allah terhadap umat-Nya.

Berdasarkan wahyu dari Allah itu makin jelas bagi Nabi Habakuk tentang sebab-sebab dan latar belakang tindakan Allah tersebut. Itulah sebabnya sang nabi tidak mengajak umat Allah untuk meninggalkan Dia dengan mencari kekuatan kepada alamat pemujaan yang lain. Ia tetap memandu umat Allah untuk berjalan pada jalan yang benar, sehingga mereka tidak tersesat. Sampai di sana benar-benar Nabi Habakuk memerankan diri selaku nabi Allah bagi umat-Nya.

Hal kedua yang diungkapkan kepada Nabi Habakuk adalah bahwa di tengah umat Allah yang tidak setia itu pasti ada orang-orang yang tetap percaya kepada Allah. Oleh karenanya, orang yang benar akan hidup oleh percayanya. Artinya, para orang yang benar yakni mereka yang tidak melakukan pelanggaran dan pendurhakaan kepada perintah Allah tetap berada di dalam tuntunan dan penyertaan-Nya. Bagi Nabi Habakuk kini tampak jelas keadilan dan kebijaksanaan Allah itu. Ternyata Allah tidak bertindak semena-mena, melainkan mendudukkan permasalahan umat-Nya secara benar.

Pengakuan ini adalah bentuk iman yang andal, sehingga peranan Nabi Habakuk menjadi tumpuan umat Allah untuk bertanya tentang apa yang harus mereka lakukan dalam kehidupan yang berat ini. Itulah hidup dalam percayanya kepada Allah. Sikap itu berarti bahwa umat Allah selalu mengakui kehadiran dan kuasa Allah.

Mereka semua diminta berserah diri kepada Allah dalam menjalani kehidupan ini, kendati terasa amat berat. Sesuai dengan nama Habakuk, ia dan seluruh umat Allah memeluk tangan Allah dan memohon pertolongan-Nya.

Sikap ini tentu tidak mudah, sebab pada satu sisi kenyataan hidup itu nyaris tak tertanggung, namun pada sisi lain pengharapan masih ada. Hal itu menunjukkan makna percaya sebagai iman yang andal dan menjadi landasan hidup umat Allah selanjutnya.

Belajar dari pengalaman hidup umat Allah pada masa lalu, kita dapat merenungkan sejauh mana peranan iman yang andal dalam kehidupan kita masing-masing selaku umat beragama pada masa kini. Khusus di tengah arus globalisasi yang begitu deras, tantangan hidup yang amat berat, daya tarik yang sangat kuat, dan ketidakberdayaan kita, disampaikanlah satu-satunya pengharapan lewat iman yang andal itu.

Oleh karenanya, kendati kita terpuruk, namun kita dapat menengadah ke atas seraya menantikan saat dinyatakan kuasa Tuhan Allah itu. Lantas, kita pun memperoleh keselamatan yang berasal dari Dia.

Sungguh, merupakan penghiburan yang berharga bagi kita, sebab tanpa pertolongan-Nya pasti kita tak mampu berdiri, baik sebagai pribadi, keluarga, maupun bangsa. Iman yang andal memang benar-benar kita butuhkan agar kita mampu menghadapi tantangan apa pun dalam hidup kita. Hidup ini masih berlanjut, jika generasi tua telah habis, akan menyusul generasi muda dan generasi selanjutnya. Begitu seterusnya, silih berganti hingga waktu berabad-abad pun berlalu.

Estafet regenerasi berjalan terus, melintasi kurun waktu yang panjang. Tanpa pertolongan Allah, niscaya tak mungkin generasi kita selaku manusia berlanjut. Oleh sebab itu, hiduplah dengan iman yang andal, sehingga kita mampu memasuki masa hidup kita masing-masing.

Mudah-mudahan selaku umat beragama, kita dapat mengatasi semua tantangan itu dengan tabah dan tekun. Lantas, kita pun memetik buahnya dan menyerahkannya kepada generasi sesudah kita untuk mereka nikmati dalam kehidupan berikutnya. Kesemuanya hanya mungkin kita capai, jika kita memiliki iman yang andal. Amin. ***

Penulis, pendeta Gereja Kristen Jawa Kiaracondong Bandung.

Sumber: Pikiran Rakyat, 10 November 2007

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

November 2007
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930