LKP Tolak Bergabung Dengan Prov. Tapanuli

Saturday, December 9, 2006
By nias

Medan, WASPADA Online

Lembaga Kebudayaan Pakpak (LPK) Kota Medan sekitarnya dengan tegas menolak masuknya wilayah Tanah Ulayat Pakpak bergabung dengan Prov. Tapanuli. “Kami tetap akan bergabung dengan Prov. Sumutera Utara.”
Demikian disampaikan Ketua Umum LPK Medan, Drs. Malik Manik dan Sekretaris Umum, R. Maibang, BA kepada Waspada di Medan, Kamis (7/12).

Alasan penolakan sebut mereka, ditinjau dari segi geografi Kab. Dairi maupun Pakpak Bharat jarak tempuh ke Kota Medan lebih dekat daripada ke Tarutung atau Sibolga. Dari segi ekonomi, hubungan ke Medan lebih menguntungkan dimana arus barang, jasa dan informasi lebih lancar dan murah, karena sarana dan prasarana lebih kondusif.

Ditinjau dari sejarah, adanya Kab. Dairi merupakan pemisah dari Tapanuli Utara karena pada saat penjajahan Belanda, Belandalah yang menentukan/membuat susunan pemerintah demikian. Hal ini terjadi karena paksaan yang dilakukan Belanda waktu itu dan tidak pernah dirumuskan dengan tokoh-tokoh masyarakat Pakpak.

Menurut Meibang, sampai sekarang Pakpak Klasen masih terbagi dua dan masuk ke daerah lain. Pakpak dan Parlilitan masuk ke Tapanuli Utara sekarang menjadi Kab. Humbang Hasundutan, sedangkan Manduamas dan Barus masuk Tapteng. Yang menyakitkan lagi, Singkil dan Boang dimasukkan ke daerah Istimewa Aceh sekarang menjadi Kab. Aceh Singkil.

Selain itu, ditinjau dari segi adat istiadat maupun budaya, pemberian kain (Oles) dalam pesta adat istiadat kawin mawin di Tapanuli diberikan oleh Kulakula kepada Anak Berrunya. Sedangkan Tanah Pakpak Anak Berrulah yang memberikan Oles kepada Kulakulanya.

Perjambaren di tanah Pakpak yang menerima Jambar Kepala adalah Sukut (yang berpesta), sedangkan saudara sepupunya menerima Ekor. Artinya saudara sepupu sebagai pendukung dalam pesta tersebut. Sebaliknya di Tapanuli, ekor adalah jambar sukut (yang berpesta). Dalam hal ini prinsip atau benang merah adat itu sangat bertentangan dan sama sekali tidak mungkin disatukan.

Ditinjau dari segi demografi lanjut Maibang, warga maupun keluarga Pakpak Silima Suak yakni, Singkil, Boang, Simsim, Klasen, Peppas dan Pegagan sudah banyak di Prov. Sumut yang berdomisili di Kota Medan dan sekitarnya. “Perlu kami jelaskan, seluruh masyarakat yang berdomisili di Tanah Ulayat Pakpak pada masa lampau pernah terjadi perang saudara (perang suku) dalam bahasa Pakpak disebut Graha.”

Kami pengurus LBP Kota Medan jelas Maibang, mengimbau seluruh masyarakat yang berdomisili di Wilayah Tanah Ulayat Pakpak agar jangan sampai hal itu terulang kembali. “Berhati-hatilah membuat pernyataan, statmen maupun sejenisnya, jangan sampai terjadi pelecehan budaya, hak ulayat yang memungkinkan mengundang SARA.” (m39) (sn)
WIB

Note: Sumber: Harian Waspada Online, 7 Desember 2006

Leave a Reply

Comment spam protected by SpamBam

Kalender Berita

December 2006
M T W T F S S
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031