Jones Gultom

KERINDUAN pecinta film Sumatera Utara, khususnya yang tertarik pada warna lokal, perlahan mulai terobati, dengan kehadiran Ono Sitefuyu dan Anak Sasada. Kedua film yang diproduksi CZ Entertaiment ini, muncul pada saat publik film tengah berada di titik jenuh akibat dominasi film (sinetron) Jakarta yang menyuguhkan cerita seragam. Ono Sitefuyu kini sudah beredar di toko-toko film se-Indonesia mendahului Anak Sasada yang dilaunching akhir Juni 2011. Tulisan ini nantinya lebih jauh mengulas tentang Ono Sitefuyu.

Ono Sitefuyu, berarti Anak Sesat, berkisah tentang seorang pemuda Nias yang miskin, bernama Sanohugo, yang baru lulus dari bangku sekolah SMP. Dia memaksa orangtuanya untuk menyekolahkannya ke SMU Gunungsitoli. Dengan keadaan ekonomi yang serba kekurangan, kedua orangtua Sanohugo yang petani, berusaha dengan berbagai cara untuk membiaya Sanohugo. Akhirnya merekapun menjual ladang dan Sanohugo berangkat untuk melanjutkan sekolahnya di salah satu SMA di Gunungsitoli.

Di kota itu, Sanohugo mulai terpengaruh lingkungan dengan hidup berfoya-foya. Sehari-harinya dia sibuk berjudi serta mabuk-mabukkan. Dia juga terlibat perselisihan dengan sekelompok pemuda berandalan. Sudah bisa diduga, sekolahnya putus di tengah jalan.

Babak kedua Sanohugo pun dimulai. Untuk mempertahankan hidupnya, dia bekerja serabutan. Adik Sanohugo bernama Di’a, berparas dan berkepribadian lugu, tetap setia mendampingi kedua orangtua mereka di desa, hingga kematian menjemput kedua orangtuanya itu. Di’a tak henti merenungi nasib keluarganya dengan airmata yang selalu bercucuran. Konflik demi konflik terus bermunculan di sepanjang jalannya cerita. Inipula yang membuat film sepanjang 11 episode ini berhasil memancing rasa penasaran penonton.

Sosiopsikologis Nias

Sejak kemunculannya, Ono Sitefuyu yang berbahasa Nias dengan subtitle Indonesia ini, langsung mendapat sambutan dan apresiasi dari masyarakat. Dalam kurun waktu 2-3 bulan saja, film ini sudah terjual sebanyak 20 ribuan keping, di sejumlah daerah, khususnya Sumatera Utara. Padahal, penjualannya nyaris tanpa promosi. Manajemen pasarnya lebih memanfaatkan komunitas pertemanan, jejaring sosial, serta lewat obrolan para kru dengan teman-temannya. Maklum, film ini diproduksi dengan dana terbatas oleh produser muda yang merangkap sutradara, Ponti Gea.

Begitu apresiatifnya masyarakat, boleh jadi karena kualitasnya yang memang patut diacungi jempol. Menurut saya ada beberapa kelebihan yang menonjol. Pertama, kisahnya merupakan fenomena yang sejak dulu dialami masyarakat Nias, terutama yang tinggal di pinggiran kota. Sutradara sama sekali tidak memberikan sentuhan, baik konflik cerita, make-up sampai kostum. Semuanya tampak alami. Hal itu ikut memengaruhi keaslian akting para pemain.

Kedua, dengan memanfaatkan langsung proferti penduduk sebagai lokasi setting, baik rumah, ladang, warung sampai angkutan, sehingga mengesankan film ini sebagai milik bersama masyarakat Nias. Ini diakui Ponti. Menurutnya, masyarakat sangat kooperatif serta dengan tulus ikhlas ikut membantu kru, sehingga mempermudah proses penggarapannya.

Ketiga, instrument yang saling mendukung, baik kualitas dialog, musik, lirik lagu sampai dengan pepatah-pepatah yang cukup kuat menampilkan kearifan lokal masyarakat Nias. Dalam hal ini, apresiasi saya terhadap Sang Penulis Skenario, Yunus Gea, mahasiswa teknik informatika komputer, Unika St. Thomas, Medan, sekaligus abang kandung Marselina Oliria Gea, pemeran Di’a. Saya kira dia termasuk penulis cerita berbakat dari kelompok orang muda. Tak dapat dipungkiri, selain, aktingnya, kekuatan film ini juga terletak pada skenarionya. Melalui kekuatan bahasa, Ono Sitefuyu berhasil menghadirkan warna dengan kearifan lokal Nias, yang memang jarang disentuh.

Keempat, akting. Dari beberapa sumber yang saya mintai komentarnya, rata-rata memuji akting para pemain, terutama dua pemeran utama Sanohugo (Asokhiwa Gea) dan Di’a (Marselina Oliria Gea). Akting abang-beradik dalam film ini membuat jalannya cerita terasa nyata. Masing-masing mengusung peran Antagonis (Sanohugo) dan Protagonis (Di’a) yang kuat.

Adegan menarik yang ditunjukkan Di’a misalnya, ketika tetangganya datang untuk menagih utang. Saat itu Di‘a sedang mobogö gae (memanggang pisang). Ibunya juga sedang sakit berat. Penagih utang itu memaksa agar segera membayar Ömöra (utang mereka). Karena Di‘a dan Ibunya tidak memiliki kefe (uang) ba wobu‘a Ömöra tersebut, penagih utang dengan nada menantang berkata; “He Ina Wanohu! Börö metebai mibai gömömi andrö, ma‘andrö khöu ena‘ö toröi ba khöma nakhigu Di‘a. Ena‘ö mohalöwö ia khöma. Akhigu Di‘a ufangörö-ngörö dania bada‘a” (Ina Wanohu! Karena kalian tidak bisa membayar utang, kami meminta agar Di‘a tinggal di rumah kami untuk bekerja. Di‘a akan sering saya kirim ke sini untuk bertemu dengan Ibu). Dengan lantang, Di’a berkata; “Saya tidak ingin berpisah dengan Ibu. Saya ingin menjaga Ibu. Biarkanlah mereka mengambil rumah ini untuk melunasi utang tersebut”.

Sedang kelemahan paling menonjol di film ini, yakni secara teknis pengemasan. Kepingan CD yang memuat 11 episode, (sekitar 8 keping) saya kira terlalu banyak. Sebagai film berseri, jumlah ini cukup menyurutkan niat calon penonton. Seandainya bisa dipadatkan menjadi 3 atau 4 keping, misalnya mungkin akan lebih efisien dan efektif.

Dukung Film Lokal

Sukes dengan Ono Sitefuyu, Ponti Gea bekerjasama dengan Pimpinan Pusat Latihan Opera Batak (PLOt), Thompson Hs dan sejumlah mahasiswa, termasuk para pekerja seni dari berbagai latarbelakang profesi dan suku, memproduksi Anak Sasada. Diharapkan kehadiran Anak Sasada semakin memperkuat industri perfilman lokal, khususnya di Sumut sekaligus menciptakan iklim yang kondusif bagi kebangkitan industri film Sumut, yang sempat jaya di tahun-tahun 1970-an. Sama dengan Ono Sitefuyu, Anak Sasada menggunakan bahasa lokal (Batak Toba) dengan subtitle Indonesia. Dikatakan Ponti, “Anak Sasada” tidak kalah menarik dengan “Ono Sitefuyu”, masing-masing memiliki ciri khas, keunggulan dan kelemahannya sendiri. Kedua film ini kita harapkan membangkitkan gairah bagi insan film untuk lebih berani menghasilkan film-film yang bercirikan lokal daerahnya, kata Ponti.

Memang dunia perfilman di Sumut, khususnya Medan, di era-era tahun 70-an, sempat jaya. Meski tidak menggunakan bahasa daerah secara keseluruhan, banyak film Medan yang sempat booming di kancah nasional, antara lain; Musang Berjanggut, Buaya Deli, Batas Impian, Butet, Setulus Hatimu, Seputih Hatinya Semerah Bibirnya dan sebagainya. Bahkan di dekade itu, Medan menjadi magnet bagi aktor/aktris film tanah air. Banyak bintang film dari luar Medan (Jakarta) justru terlibat dalam film-film yang digarap oleh orang Medan, misalnya, Camelia Malik WD. Mochtar, Tatik Tito (Batas Impian) Nurhafni, Rizaldi Siagian (Butet) Roy Marten, Sukarno M. Noor (Musang Berjanggut) Selain itu, Medan juga pernah menjadi tuan rumah Festival Film Indonesia, yakni pada 1975 dan 1983. Di masa-masa ini, tersebutlah beberapa nama insan film Medan yang sempat berjaya. Umumnya mereka juga merangkap sebagai jurnalis yang memokuskan diri pada dunia perfilman. Sebut saja, Abdul Aziz Harahap, Arif Husin “King” Siregar, Ibrahim Sinik, Ali Soekardi, Idris Pasaribu, Taguan Hardjo, Boy Hardjo, M. Yusuf Suif Lubis, Yoseano Waas, Zainuddin A, A. Rahim Qahar, Naswan Effendi, Dahri Uhum Nasution, Darwis D Rivai Harahap.

Zaman keemasan itu tak lama. Menjamurnya televisi sekaligus dominasi Jakarta, membuat film lokal Sumut, tenggelam. Terlebih untuk produksi izin harus ada izin dari Parfi Pusat, KTF Pusat dan Deppen Pusat. Karenanya kehadiran Ono Sitefuyu dan Anak Sasada, mesti diapresiasi, setidaknya karena telah berupaya membangkitan gairah serta optimisme terhadap film-film dengan warna lokal itu.

Penulis: pekerja seni, media dan budaya

Sumber: Analisadaily

Facebook Comments