Feb. 7 (Bloomberg) — Perdagangan karbon kemungkinan akan diterapkan pertama kalinya untuk menolong desa-desa di Indonesia untuk melestarikan hutan sebagai bagian dari usaha global untuk menghentikan deforestasi yang mempercepat perubahan iklim.

Dalam suatu rencana yang akan diumumkan hari ini (Kamis, 7 Februari) untuk menyelamatkan hutan Ulu Masen di Provinsi Aceh, Indonesia, sekitar $26 juta pendapatan dari penjualan kredit karbon akan diberikan pada desa-desa untuk menghentikan penebangan pohon-pohon. Usulan tersebut bergantung pada penjualan kredit-kredit kepada perusahaan-perusahaan dan perorangan yang ingin mengofset emisi dan memperbaiki reputasi lingkungan mereka. Kredit-kredit itu berharga $4 hingga $8 untuk setiap ton pengurangan pencemaran.

Belum ada kesepakatan internasional untuk menghargai negara-negara berkembang dalam usaha mereka menghentikan pembakaran hutan yang menyumbangkan sekitar 20 persen terhadap emisi pemanasan global, kata John-O Niles, pejabat kebijakan dan ilmiah untuk Carbon Conservation, sponsor dari projek itu. Projek Ulu Maen ini, yang akan mengurangi emisi sebesar 100 juta ton selama 30 tahun, mungkin bisa meyakinkan para pengkritik bahwa menyelamatkan hutan bisa memperlambat pemanasan global, kata Niles.

“Ada manfaat yang besar bagi komunitas global dan atmosfir untuk mempertahankan hutan yang ada,” kata Halldor Thorgeirsson, kepala perdagangan emsisi UN FCCC (UN Framework Convention on Climate Change) dalam suatu wawancara. “Adalah penting bahwa nilai usaha itu ditransfer kepada orang-orang yang membuat keputusan di lapangan.”

Rencana pelestarian Ulu Masen akan mengurangi emisi setara dengan keluaran gas rumah kaca Meksiko, kata Niles. Ini merupakan projek pertama yang menghindari deforestasi yang memenuhi standar yang ditetapkan oleh Arlington, yaitu Aliansi Keaneragaman Hayati, Komunitas dan Iklim yang berpangkalan di Virginia, untuk menjamin kerdit-kredit karbon yang dapat diperdagangkan.

Konversi Energi
Pohon-pohon menyimpan karbon dioksida yang digunakan untuk mengubah energi cahaya menjadi energi kimia. Menurut PBB, deforestasi merupakan sumber emisi karbon terbesar ketiga setelah pemakaian bahan bakar fosil dan operasi industri.

Mengurangi emisi dengan menyelamatkan hutan merupakan sebuah prioritas pada konferensi Bali bulan Desember 2007. Bank Dunia telah meluncurkan program pendanaan untuk menolong negara-negara berkembang memantau pengurangan emisi dan memasarkan emisi itu, kata Werner Kornexl, spesialis teknis senior Bank Dunia.

“Yang kami ingin lakukan dalam kemitraan ini adalah mematok langkah-langkah untuk permintaan pasar yang lebih besar,” kata Kornexl. “Ada minat luas untuk ini.”

Minat terhadap kredit dari projek seperti Ulun Masen ini tergantung pada standar-standar yang “menjamin bahwa aksi sungguh-sungguh nyata,” kata Elliot Diringer, direktur strategis internasional pada Pew Center on Global Climate Change, yang berpusat di Virginia.

‘Aksi Lebih Nyata’
“Hutan merupakan sumber besar emisi dan ada hasrat negara-negara yang memiliki hutna tropis untuk melakukan aksi yang lebih nyata,” kata Diringer.

Projek Ulu Masen disertifikasi oleh Climate, Community & Biodiversity Alliance yang melibatkan NGO seperti The Nature Conservancy dan the Rainforest Alliance, dan perusahaan seperti Weyerhaeuser Co. Sertifikasi ini mengisyaratkan bahwa projek tersebut “sangat mungkin” menghasilkan kredit-kredit mulai pada tahun 2009, kata Niles.

Para sponsor berharap mengurangi logging sebesar 85% di Ulu Masen, yang akan menghasilkan kredit 3.3 juta ton karbon per tahun, kata Niles. Pada harga projeksi sebesar $5 per ton, kredit akan menghasilkan $16.5 juta.

Desa-desa lokal akan menerima pembayaran kalau mereka bisa membuktikan bahwa pohon-pohon mereka belum ditebang. Kemajuan akan dipantau di lapangan oleh penjaga hutan dan dari udara melalui citra satelit. Pembayaran akan mencapai $26 juta selama lima tahun pertama.

Risiko Investor
“Pembayaran ini didasarkan atas capaian,” kata Durbin. Sertifikasi pada standar-standar aliansi juga menjamin keuntungan komunitas dan keanekaragaman hayati, seperti menjaga habitat binatang liar dan pasokan air besih, kata Duncan Marsh, direktur kebijakan iklim internasional pada the Arlington-based Nature Conservancy. Hutan Ulu Masen merupakan tempat tinggal gajah Sumatra, harimau sumatera, orang hutam, dan clouded leopard.

“Aspek masyarakat dan keanekaragaman hayati merupakan daya tarik penting pagi para investor,” kata Masrh.

Investor akan fokus pada risiko, kata Marsh. Kredit-kredit untuk menghentikan deforestasi tidak bisa digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk memenuhi target polusi di bawah program gas rumah kacan Uni Eropa atau oleh negara-negara di bawah Protokol Kyoto, persetujuan internasional untuk membatasi gas-gas pemasanan global.

‘Tidak Ada Jaminan’
“Jika modal yang mereka tanam sekarang cocok untuk kredit dalam peraturan kepatuhan yang disepakati di masa depan, maka kredit-kredit akan lebih berharga lagi,” kata Marsh. “Tidak ada jaminan hal itu akan terjadi dan kredit-kredit itu mungkin akan terus memiliki nilai yang ditentukan oleh pasar bebas.”

Kredit-kredit karbon dari lahan energi angin dan energi surya yang diterima dalam program Eropa dan di bawah pakta Kyoto berharga 14.25 euro ($21.09) pada tanggal 5 Februari di pasar saham Nord Pool ASA di Lysaker, Norwegia. Perdagangan kredit dari projek-projek seperti Ulu Masen masih kecil, kata Jason Patrick, direktur pelayanan gas rumah kaca untuk broker kredit Evolution Market.

“Kita melihat evolusi lambat dari pandangan bahwa deforestasi tidak mungkin dihindari ke pandangan bahwa penghindaran deforestasi bisa menjadi bagian dari sistem kepatuhan,” kata Patrick. Kini kita menyaksikan “aktivitas spekulatif dalam projek-projek yang melibatkan pengihindaran deforestasi dengan harapan bahwa di masa depan akan ada semacam sistem kepatuhan yang harus diikuti.” (Situs Blooberg.com – Jim Efstathiou Jr.)

Facebook Comments